IMG-LOGO
Thaharah

Cara Berwudhu Anggota Badan yang Diperban

Rabu 12 Juni 2019 17:30 WIB
Share:
Cara Berwudhu Anggota Badan yang Diperban
Foto: Ilustrasi

Dalam aktivitas sehari-hari, seringkali kita menemui atau malah mengalami musibah-musibah yang tidak diinginkan. Musibah itu bisa berupa kecelakaan atau penyakit-penyakit yang menyulitkan. Tentu saja kita senantiasa berlindung dan berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan dalam setiap aktivitas kita.

Tapi jika memang kecelakaan atau penyakit tersebut tiba-tiba menimpa kita, selain tetap berikhtiar dan memohon kesembuhan, tentu ada hal-hal yang membuat kita berpikir, seperti “Bagaimana ya semisal kecelakaan atau penyakit ini menyebabkan luka yang tidak boleh terkena air sehingga menimbulkan halangan untuk wudhu?” Atau, misal pada suatu waktu, ada perawatan dan pengobatan oleh dokter yang tidak menyarankan terkena air. Bagaimana menindaklanjutinya untuk ibadah?

Fiqih Islam memberikan jalan keluar bagi yang memiliki uzur untuk melakukan wudhu, disebabkan oleh luka maupun penyakit yang menyebabkannya diperban, yang dilarang terkena air dulu agar segera sembuh.

Dalam kitab Fathul Qaribil Mujib yang merupakan syarah dari kitab Taqrib karangan Syekh Abu Syuja’ disebutkan bahwa ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat berwudhu bagi shahibul jaba’ir, orang-orang yang diperban.

1. Bagian anggota wudhu yang masih sehat, dibasuh terlebih dahulu dengan wudhu sebagaimana biasanya. Semisal di bagian yang diperban itu tidak menutupi seluruh bagian anggota wudhu yang wajib dibasuh, maka ia sebisa mungkin dibasuh terlebih dahulu.

2. Mengusap di atas bagian anggota wudhu yang diperban. Mengusapnya tidak perlu sampai basah, hanya sekadar di atas perban tersebut. Jika luka itu tidak diperban, maka tidak perlu diusap.

3. Mengganti wudhu yang basuhannya tidak sempurna pada anggota wudhu yang diperban itu dengan melakukan tayamum. Tayamum yang dilakukan sama seperti tayamum biasanya, yaitu dengan debu mengusap wajah dan kedua tangan.

Bagaimana semisal hendak melakukan shalat lagi? Semisal seseorang belum batal wudhunya, tapi sudah masuk waktu shalat fardlu yang lain, maka ia hanya melakukan tayamum lagi. Patut diketahui bahwa tayamum itu diperbarui di setiap shalat fardlu. Sedangkan untuk shalat sunah, maka sekiranya belum batal wudhunya, ia tetap sah dilakukan tanpa memperbarui tayamum.

Selanjutnya, keringanan ini dilakukan tanpa ada batasan waktu tertentu. Seorang yang terkena uzur ini, baik dengan perban maupun tidak, tetap boleh melakukan tatacara di atas sampai sekiranya lukanya sembuh dan sudah diperkenankan terkena air lagi. Wallahu alam. (Iqbal Syauqi)

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Sabtu, 29 Juli 2017 pukul 06:03 . Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Share:
Rabu 12 Juni 2019 20:30 WIB
Ini Salah Satu Keutamaan Bersuci
Ini Salah Satu Keutamaan Bersuci
Foto: Ilustrasi

Setiap hari, kesibukan kita sangat menyita pikiran. Berbagai masalah, konflik, perseteruan baik dalam diri sendiri ataupun dengan orang lain akan menjadikan diri terasa susah dan resah.

Untuk menghilangkan kesusahan, ulama mengajarkan kepada umat Muslim untuk tetap berusaha, disertai semakin menyadari akan besarnya kuasa Allah. Ulama, melalui amalan yang disarikan dari Al-Quran dan Hadits serta para ulama pendahulu menyampaikan bahwa ada perbuatan-perbuatan sederhana yang bisa menjadi salah satu cara untuk mengurangi perasaan susah.

Salah satu metode yang disebutkan ulama terdahulu untuk mengurangi intensitas amarah serta keresahan adalah anjuran untuk bersuci, dalam hal ini bisa dengan mensucikan diri, baik dengan berwudhu atau dengan membersihkan badan lewat mandi.

Dalam Abwabul Faraj karya Syekh Muhammad bin Alwi Al-Maliki disebutkan bahwa membersihkan diri bisa menjadi satu metode untuk mengurangi dan mencegah kesusahan dan rasa letih sehari-hari. Dikutip dari Imam Umar bin Saqqaf As-Saqqaf bahwa hal yang dapat melapangkan batin, menolak rasa susah, dan juga menyehatkan badan, adalah memerhatikan kebersihan diri.

Selain itu, dianjurkan pula untuk menunaikan sunah-sunah Rasul karena itu dapat mencegah keraguan dan rasa waswas buruk yang bisa jadi berasal dari setan, dan melakukan shalat untuk mencegah hal-hal yang menyibukkan hati dengan perkara yang tidak perlu.

Dalam sebuah hadits, ketika Nabi sedang susah, beliau segera berwudhu dan mendirikan shalat. “Aku beristirahat (dari kesusahan) dengan shalat, wahai Bilal,” terang Rasulullah dalam salah satu riwayat. Hendaknya saat berwudhu, dihilangkan segala perasaan ragu dan was-was yang tidak beralasan.

Imam As-Sya’rani menyebutkan bahwa rasa hadirnya hati dalam shalat dan ibadah, itu juga bisa dilihat bagaimana keadaan hadirnya hati saat melakukan wudhu. Menurutnya, melanggengkan wudhu bisa menyebabkan lapangnya hati, mudahnya rezeki, serta menjaga diri dari keburukan yang bisa meresahkan hati. Dalam keterangan lain, disebutkan pula memperbarui wudhu setelah shalat bisa menjadi wasilah cerahnya hati.

Dari banyak keterangan di atas, dapat kita ketahui bahwa badan yang bersih, salah satunya lewat wudhu itu memiliki keutamaan yang bisa membantu untuk mengurangi beban kesusahan. Ditambah dengan shalat, banyak keterangan yang menyebutkan bahwa melalui ajaran agama dan ritual disertai berdoa, bisa menenangkan batin dan menambah optimisme. Terlebih badan yang segar dan bersih seusai wudhu bisa menjadi nilai tambah tersendiri. Semoga kita dijadikan hamba yang senantiasa menyucikan diri, lahir dan batin, sebagaimana dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang senantiasa bertobat dan mencintai pula orang-orang yang mensucikan diri.” Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)


Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Selasa, 18 Juli 2017 pukul 08:05 Redaksi mengunggahnya dengan sedikit penyuntingan.

Rabu 12 Juni 2019 19:30 WIB
Niat, Cara, dan Adab Mandi Wajib atau Mandi Junub
Niat, Cara, dan Adab Mandi Wajib atau Mandi Junub

Salah satu pokok dalam praktik bersuci yang wajib adalah mandi janabah atau dalam masyarakat secara praktis disebut mandi junub untuk menghilangkan hadats besar. Mandi janabah diperuntukkan bagi mereka yang dalam keadaan junub. Disebut junub ketika seseorang mengalami salah satu dari dua hal.

Pertama, keluarnya mani dari alat kelamin laki-laki atau perempuan, baik karena mimpi basah, mempermainkannya, ataupun gairah yang ditimbulkan penglihatan atau pikiran. Kedua, jimak atau berhubungan seksual, meskipun tidak mengeluarkan mani.

Persoalan mandi janabah penting karena ia berkaitan dengan ibadah-ibadah lain, baik yang fardhu maupun sunnah. Orang yang dalam keadaan junub dilarang, antara lain melaksanakan shalat, berdiam diri atau duduk di masjid, thawaf atau mengelilingi Ka'bah, melafalkan ayat Al-Qur'an, dan menyentuh mushaf.

Lantas bagaimana cara mandi janabah yang benar? Dalam mandi janabah seseorang wajib melaksanakan dua rukun. Pertama, niat. Yakni kesengajaan yang diungkapkan dalam hati. Bila ia mampu melafalkan juga secara lisan, hal ini lebih utama. Contoh lafal niat tersebut adalah:

نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ اْلحَدَثِ اْلأَكْبَرِ مِنَ اْلِجنَابَةِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَى

"Aku niat mandi untuk menghilangkan hadats besar dari janabah, fardhu karena Allah ta'ala."

Dalam madzhab Syafi'i, niat harus dilakukan bersamaan dengan saat air pertama kali disiramkan ke tubuh.

Kedua, mengguyur seluruh bagian luar badan, tak terkecuali rambut dan bulu-bulunya. Untuk bagian tubuh yang berambut atau berbulu, air harus bisa mengalir sampai ke kulit dalam dan pangkal rambut/bulu. Tubuh diasumsikan sudah tidak mengandung najis.

Selain hal-hal yang wajib itu, ada juga sejumlah kesunnahan dalam mandi janabah. Imam al-Ghazali dalam Bidâyatul Hidâyah secara teknis menjelaskan adab mandi janabah dengan cukup rinci mulai dari awal masuk kamar mandi hingga keluar lagi.

Pertama, saat masuk ke kamar mandi ambilah air lalu basuhlah tangan terlebih dahulu hingga tiga kali.

Kedua, bersihkan segala kotoran atau najis yang masih menempel di badan.

Ketiga, berwudhu sebagaimana saat wudhu hendak shalat termasuk doa-doanya. Lalu pungkasi dengan menyiram kedua kaki.

Keempat
, mulailah mandi janabah dengan mengguyur kepala sampai tiga kali--bersamaan dengan itu berniatlah menghilangkan hadats dari janabah.

Berikutnya, guyur bagian badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian bagian badan sebelah kiri juga hingga tiga kali. Jangan lupa menggosok-gosok tubuh, depan maupun belakang, sebanyak tiga kali; juga menyela-nyela rambut dan jenggot (bila punya). Pastikan air mengalir ke lipatan-lipatan kulit dan pangkal rambut. Sebaiknya hindarkan tangan dari menyentuh kemaluan--kalaupun tersentuh, berwudhulah lagi.

Di antara seluruh praktik tersebut yang wajib hanyalah niat, membersihkan najis (bila ada), dan menyiramkan air ke seluruh badan. Selebihnya adalah sunnah muakkadah dengan keutamaan-keutamaan yang tak boleh diremehkan. Orang yang mengabaikan kesunnahan ini, kata Imam al-Ghazali, merugi karena sejatinya amalan-amalan sunnah tersebut menambal kekurangan pada amalan fardhu. Wallahu a'lam. (Mahbib)

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada Rabu, 26 Juli 2017 pukul 16:00 . Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Selasa 16 April 2019 18:30 WIB
Hukum Bersuci dengan Air Daur Ulang Limbah
Hukum Bersuci dengan Air Daur Ulang Limbah
Ilustrasi (litbang.pu.go.id)
Air merupakan material pokok dalam bersuci, baik bersuci dari hadats kecil atau besar maupun bersuci dari najis. Sebagaimana yang sudah maklum, air yang digunakan untuk bersuci harus berupa air mutlak, yaitu air yang mempunyai kualitas suci dan menyucikan. Suci untuk dirinya sendiri dan bisa menyucikan benda lain. Air mutlak dapat diartikan sebagai air netral. 

Netral di sini mempunyai maksud bahwa air tidak terpaku dengan satu nama khusus. Contohnya adalah air bening. Apabila air bening dituangkan di dalam gelas, orang-orang akan mudah mengatakan itu sebagai air gelas. Jika air tersebut dimasukkan ke dalam teko, masyarakat akan menyebutnya sebagai air teko. Begitu pula seumpama air itu dipindah ke dalam kulah, sumur dan lain sebagainya, ia akan netral menyesuaikan nama tempat di mana ia berlabuh. Intinya, di mana ada air masih bisa berubah sesuai tempat di mana air tersebut bertempat, maka air yang seperti demikian dinamakan sebagai air mutlak atau suci menyucikan. 

Berbeda misalnya dengan air kelapa muda. Air kelapa muda apabila dituangkan ke dalam tempat yang berbeda-beda, ia tidak akan bisa berubah nama sesuai tempatnya. Nama air kelapa muda sudah melekat erat. Hal yang sama berlaku juga untuk air netral yang sudah dicampur dengan daun teh dan kemudian berubah menjadi wedang teh. Ketika sudah menjadi wedang teh, dipindah ke wadah apa pun, orang akan menyebutnya sebagai air wedang teh. Air yang sudah mempunyai ciri-ciri nama melekat seperti ini tidak lagi dinamakan sebagai air mutlak (air netral). 

Bagaimana dengan status hukum air limbah yang kembali berubah menjadi bening? 

Pada dasarnya, air limbah yang tampak kotor atau berubah salah satu dari tiga sifat air disebabkan karena bercampur dengan najis, ulama sepakat bahwa hukum air tersebut menjadi mutanajjis (terkena najis).
 
أجمع العلماء على أن الماء إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت أحد أوصافه: لونه أو طعمه أو ريحه فهو نجس

Artinya: “Para ulama sepakat jika ada air tercampur dengan najis kemudian salah satu sifat-sifatnya berubah baik warna, rasa atau pun baunya, air tersebut hukumnya najis.” (Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Hasan Sulaiman Al-Nuri, Ibânatul Ahkâm, [Al-Bidayah, 2018], juz 1, halaman 21) 

Apabila air yang telah berubah menjadi najis tersebut kembali pulih menjadi air netral sehingga bening lagi dan orang-orang tidak bisa membedakan ini air bekas limbah dan yang satunya tidak dari limbah, maka hukum air yang seperti demikian hukumnya kembali menjadi suci dengan catatan jumlah volume air minimal sebanyak dua kulah (setara dengan 216 liter atau air penuh dalam kubus ukuran rusuk 60 cm). Jika sudah pernah melewati dua kulah dalam satu waktu, setelah itu kembali kurang dari dua kulah, maka hukum air sudah suci menyucikan selamanya. 

ـ (فَإِنْ زَالَ تَغَيُّرُهُ بِنَفْسِهِ) بِأَنْ لَمْ يَنْضَمَّ إلَيْهِ شَيْءٌ كَأَنْ طَالَ مُكْثُهُ (أَوْ بِمَاءٍ) انْضَمَّ إلَيْهِ وَلَوْ مُتَنَجِّسًا، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ وَالْبَاقِي كَثِيرٌ بِأَنْ كَانَ الْإِنَاءُ مُنْخَنِقًا بِهِ فَزَالَ انْخِنَاقُهُ وَدَخَلَهُ الرِّيحُ وَقَصَرَهُ أَوْ بِمُجَاوِرٍ وَقَعَ فِيهِ أَيْ أَوْ بِمُخَالِطٍ تَرَوَّحَ بِهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ مِمَّا يَأْتِي فِي نَحْوِ زَعْفَرَانٍ لَا طَعْمَ وَلَا رِيحَ (طَهُرَ) لِزَوَالِ سَبَبِ التَّنَجُّسِ

Artinya: “Jika air yang berubah tersebut kembali netral, bisa jadi karena diam dalam tempo lama, tidak ada benda atau zat yang dimasukkan, atau dengan cara ditambah air yang banyak walaupun dengan air najis, atau juga ada bagian air yang diambil sedangkan sisanya masih banyak seperti air yang ditaruh diwadah tertutup, setelah itu tutupnya dibuka lalu kemasukan angin, atau sebab benda yang jatuh kemudian berdampingan dengan air, atau bisa jadi karena tercampur dengan benda yang bisa menyegarkan seperti minyak za’faran yang tidak mempunyai rasa dan bau, maka hukumnya suci sebab sebab najisnya sudah hilang.” (Ibnu Hajar Al-Haitami. Tuhfatul Muhtâj, [al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra, Mesir, 1983], juz 1, halaman 85). 

Pada salah satu pengelolaan air limbah adalah Andrich Tech System di yang pernah diujicobakan di Jakarta. Teknologi ini dinilai dapat mengembalikan limbah septic tank yang bercampur antara tinja dengan air, bisa memisahkannya kembali menjadi 95 persen air bersih. Secara dasar, cara kerja teknologi Andrich yang pertama adalah memisahkan kotoran tinja manusia yang besar dari air dengan penyaring besar. Kedua, menyaring air berulang kali sehingga yang tersisa pada air adalah air dengan campuran kotoran tinja yang lembut atau ringan. Ketiga, memberikan zat kimiawi yang berfungsi mengelompokkan kotoran ringan yang masih terapung menjadi berat secara beban dan kemudian mengkristal sehingga kotoran yang mengapung tersebut bisa mengendap ke bawah. Air yang tersisa di atas menjadi bening kembali. 

Perlu diketahui, tinja adalah benda najis yang tidak bisa menjadi suci lagi, namun air limbah atau air yang diambil dari septic tank tidak murni dari unsur tinja 100 %. Septic tank yang berisi tinja, terdapat kadar air yang dibuat menyiram kloset dengan komposisi air sekian persen. Artinya, apabila air yang bercampur najis tersebut dapat dipisahkan kembali dari najisnya dan air bisa bersih seperti sedia kala, maka air bisa kembali suci dengan bagaimana pun caranya. Menurut Imam Nawawi, yang membuat najis itu perubahan sifatnya. Apabila perubahan sifat sudah hilang, maka kembali menjadi suci. 

لِأَنَّ سَبَبَ النَّجَاسَةِ التَّغَيُّرُ، فَإِذَا زَالَ طَهُرَ

Artinya: “Karena sebabnya najis adalah perubahan (sifat air). Apabila hilang perubahannya, hukumnya kembali suci.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, [Dârul Fikr], juz I, halaman 132)

Pada prinsipnya, menurut Imam Nawawi, air yang berubah sifatnya kemudian kembali netral itu dibagi menjadi lima. Empat di antaranya disepakati oleh ulama, itu pasti suci. Dan yang satu terdapat perbedaan pendapat. 

Dalam referensi yang sama dijelaskan:

وَيَطْهُرُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا وَخَامِسٍ مُخْتَلَفٌ فِيهِ فَذَكَرَ زَوَالَهُ بِنَفْسِهِ وَبِمَا يُضَافُ إلَيْهِ أَوْ يَنْبَعُ فِيهِ أَوْ يُؤْخَذُ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ وَالْمُخْتَلَفُ فِيهِ أَنْ يَزُولَ بِالتُّرَابِ فَقَوْلَانِ

Artinya: “Air bisa menjadi suci dengan empat hal. Yang empat disepakati ulama, sedangkan yang kelima terjadi perbedaan pendapat ulama. Pertama, perubahan air hilang dengan sendirinya. Kedua, sebab dimasuki benda baru. Ketiga, perubahan air hilang karena ada benda yang tumbuh di dalam air tersebut. Misalnya lumut atau ganggang yang kemudian bisa menyerap perubahan air sehingga air menjadi bening kembali. Ketiga, sebab ada hal yang diambil dari air. Contohnya ada air yang berubah warnanya karena kejatuhan bangkai tikus. Bangkainya diambil lalu menjadikan air bening kembali. Seperti ini ulama sepakat air menjadi suci menyucikan. Kelima, air berubah lalu diberi tanah, ini ulama berbeda pendapat. Menurut qaul ashah, air berubah yang diberi tanah sifatnya tidak kembali netral, namun perubahannya tertutup dengan tanah.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, I:134) 

Baca juga:
Air Bercampur Kaporit, Bisakah Digunakan Bersuci?
Air Liur dan Ingus Najis Hanya bila Dalam Kondisi Ini
Imam Nawawi memandang netralitas air tersebut dengan kata kunci “yang penting kembali netral dan jumlah volume air lebih dari kulah”, maka sucilah air tersebut. Kalau perubahan najisnya hilang karena rekayasa ditimpa oleh sifat sejenis maka tidak bisa suci. Misalkan ada air berbau busuk, kemudian airnya disiram parfum menjadi wangi, atau pula warna air keruh sebab najis lalu dikasih pewarna makanan, konsep rekayasa yang seperti demikian tidak bisa menjadikan suci menyucikan. Berbeda apabila airnya direkayasa menjadi netral dan bening kembali, maka menjadi suci menyucikan. 

Kesimpulannya, air limbah atau air apapun yang mengalami perubahan sifat, apabila suatu saat bisa kembali netral atau bening kembali dan volumenye lebih dari dua kulah, maka air tersebut suci menyucikan karena yang menyebabkan najis sudah hilang. Wallahu a’lam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang