IMG-LOGO
Ilmu Hadits
MUSTHALAH HADITS

Posisi Hadits dalam Hukum Islam

Rabu 13 Desember 2017 22:1 WIB
Share:
Posisi Hadits dalam Hukum Islam
Hadits dalam hukum Islam dianggap sebagai mashdarun tsanin (sumber kedua) setelah Al-Quran. Ia berfungsi sebagai penjelas dan penyempurna ajaran-ajaran Islam yang disebutkan secara global dalam Al-Quran. Bisa dikatakan bahwa kebutuhan Al-Quran terhadap hadits sebenarnya jauh lebih besar ketimbang kebutuhan hadits terhadap Al-Quran.

Kendati demikian, seorang Muslim tidak dibenarkan untuk mengambil salah satu dan membuang yang lainnya karena keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Untuk mengeluarkan hukum Islam, pertama kali para ulama harus menelitinya di dalam Al-Quran. Kemudian setelah itu, baru mencari bandingan dan penjelasannya di dalam hadits-hadits Nabi karena pada dasarnya tidak satupun ayat yang ada dalam Al-Quran kecuali dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi.

Dengan sinergi beberapa ayat dan hadits tersebut, seorang ulama bisa memutuskan hukum-hukum agama sesuai dengan persoalan yang dihadapi, tentunya dengan dukungan ilmu dan perangkat pengetahuan yang mumpuni terhadap kedua sumber tersebut.

Menurut Abdul Wahab Khallaf, seorang ahli hukum Islam berkebangsaan Mesir, hadits mempunyai paling tidak tiga fungsi utama dalam kaitannya dengan Al-Quran :

Pertama, hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat segala hukum yang ada dalam Al-Quran seperti perintah shalat, puasa, zakat dan haji. Abdul Wahab Khallaf mengatakan,

إما أن تكون سنة مقررة ومؤكدة حكما جاء في القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penegas dan penguat terhadap hukum yang ada dalam Al-Quran.”

Kedua, hadits juga berfungsi sebagai penjelas dan penafsir segala hukum yang bersifat global dalam Al-Quran, seperti menjelaskan tatacara shalat, puasa, zakat dan haji.

إما أن تكون سنة مفصلِّة ومفسِّرة لما جاء في القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penjelas dan penafsir terhadap hukum global/umum yang disebutkan dalam Al-Quran.”

Ketiga, hadits juga berfungsi sebagai pembuat serta memproduksi hukum yang belum dijelaskan oleh Al-Quran seperti hukum mempoligami seorang perempuan sekaligus dengan bibinya, hukum memakan hewan yang bertaring, burung yang berkuku tajam dan lain sebagainya. Khallaf kembali mengatakan sebagai berikut.

وإما أن تكون سنة مثبِتَة ومنشِئَة حُكما سكت عنه القرآن

Artinya, “Adakalanya hadits berfungsi sebagai penetap dan pencipta hukum baru yang belum disebutkan oleh Al-Quran.”

Dengan demikian, karena begitu pentingnya posisi hadits dalam konsepsi hukum Islam, maka seseorang yang akan berkecimpung di dalamnya diharuskan untuk mengenal istilah dasar dalam ilmu hadits, menguasai kaidah-kaidah takhrij dan kajian sanadnya, serta mengetahui seluk beluk dan tatacara memahami redaksinya.

Pembacaan yang tidak paripurna serta serampangan terhadap hadits akan membuat seseorang keliru dan bahkan juga membuat keliru orang lain. Wallahu a’lam. (Yunal Isra)

Share:
Selasa 12 Desember 2017 11:2 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Sanad-Sanad yang Sahih dan Lemah dalam Hadits
Ini Sanad-Sanad yang Sahih dan Lemah dalam Hadits
Salah satu komponen dalam kesahihan sebuah hadits adalah sanadnya, baik secara ketersambungan antara satu perawi dan yang lain maupun kualitas dari perawi-perawi yang ada dalam sanad tersebut.

Namun penelitian sebuah sanad tentu tidak semudah membalikkan tangan karena biasanya membutuhkan kemampuan khusus dan waktu yang cukup lama. Para ulama dan peneliti hadits yang terbiasa meneliti sanad akan hafal dan menandai sanad mana saja yang sudah bisa dipastikan kesahihannya dan sanad mana saja yang sudah bisa dipastikan kedhaifannya bahkan kebohongannya.

Para ulama hadits membaginya menjadi dua kategori, yakni silsilatudz dzahab dan silsilatul kadzib.

Adapun silsilah dzahab atau silsilah emas, yang disebut Mahmud Thahan dalam Taysir Musthalah Hadits sebagai ashahhul asanid (sanad-sanad yang paling sahih) adalah sebagai berikut.

Pertama, silsilah sanad sahih yang paling tinggi derajatnya adalah sanad Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Silsilah sanad inilah yang disebut para ulama sebagai silsilatudz dzahab karena kualitas perawi dan ketersambungannya tidak dapat diragukan lagi.

Kedua, silsilah sanad sahih yang kualitasnya di bawah silsilah dzahab di atas, yaitu riwayat Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bin Malik.

Ketiga, yang merupakan silsilah sanad sahih yang kualitasnya di bawah kedua silsilah sanad di atas adalah riwayat Suhail bin Abi Shalih dari Ayahnya (Abi Shalih) dari Abu Hurairah RA.

Seperti halnya hadits shahih yang memiliki sanad paling shahih di dalamnya (ashahhul asanid), hadits dhaif juga memiliki sanad paling lemah (auha’ul asanid).

Imam Al-Hakim An-Nisabury menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ma’rifah fi Ulumil Hadits bahwa ada banyak sekali sanad-sanad yang dianggap paling lemah, baik dalam kategori tingkatan sahabat ataupun dari segi negara (tempat tinggal seorang rawi). Imam As-Suyuthi telah menjelaskannya secara lengkap dalam kitabnya Tadribur Rawi fi syarhi taqrib An-Nawawi.

Berikut tiga di antara banyaknya sanad lemah yang disebutkan As-Suyuthi sesuai ringkasan yang diberikan oleh Mahmud Thahan berdasarkan sahabat dan negara.

Pertama, sanad yang paling lemah yang dinisbatkan kepada sahabat Abu Bakar RA adalah Shadaqah bin Musa Ad-Dakiki dari Farqad As-Sabahiy dari Murrah bin Thayyab dari Abu Bakar RA.

Kedua, sanad paling lemah yang dinisbatkan pada ahli Syam adalah Muhammad bin Qais Al-Maslub dari Ubaidillah bin Zahr dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim dari Abi Umamah.

Ketiga, sanad paling lemah yang dinisbatkan pada sahabat Ibnu Abbas, yaitu As-Sudy As-Saghir Muhammad bin Marwan dari Al-Kalbiy dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas. Bahkan As-Syeikhul Islam mengatakan bahwa ini adalah silsilah kadzib bukan silsilah dzahab.

Beberapa sanad sahih dan lemah yang telah kami paparkan di atas adalah hanya kilas singkat pengetahuan agar mempermudah pembaca meneliti hadits dari susunan perawinya. Tetapi karena hadits jumlahnya ratusan ribu dan sanadnya juga sangat kaya, maka kami sarankan untuk lebih mendalami pembahasan terkait sanad dalam ilmu Musthalah Hadits. Wallahu a‘lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)

Kamis 7 Desember 2017 4:5 WIB
Pandangan Ulama terkait Kualitas Hadits Bendera Rasulullah
Pandangan Ulama terkait Kualitas Hadits Bendera Rasulullah
Bendera hitam atau putih bertuliskan kalimat tauhid selalu diidentikkan oleh sebagian kelompok sebagai bendera Islam atau bendera Rasulullah. Dengan anggapan ini, kalau ada bendera lain yang tidak serupa dengan bendera Rasulullah, dianggap bukan Islam dan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah.

Kelompok yang mengindetikkan bendera hitam atau putih bertulis kalimat tauhid ini sebagai bendera Rasulullah merujuk pada hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam beberapa kitab hadits. Ibnu Abbas berkata.

كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

Artinya, “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah,’”(HR At-Thabarani).

Merujuk pada penelitian yang dilakukan tim el-Bukhari Institute dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadits Kaum Jihadis, hadits tentang bendera Rasulullah di atas terdapat dalam beberapa kitab, di antaranya, Mu’jamul Awsath karya At-Thabarani dan Akhlaqun Nabi wa Adabuhu karya Abus Syekh Al-Ashbihani.

Secara umum, kualitas hadits bendera hitam bertulis "La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah" adalah dhaif (lemah), baik riwayat At-Thabarani ataupun Abu Syekh. Hadits bendera hitam juga dikategorikan dhaif oleh Ibn ‘Adi dan termasuk salah satu dari sekian banyak hadits dhaif yang terdapat dalam kitab Al-Kamil fi Dhu’afa’ir Rijal.

Riwayat At-Thabarani dihukumi lemah karena di dalam rangkaian sanadnya terdapat rawi bermasalah, yaitu Ahmad Ibn Risydin. Menurut An-Nasa’i, Ibn Risydin adalah seorang pembohong kadzdzab (pembohong). Adz-Dzahabi menyebut Ibn Risydin sebagai pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i). Ibn ‘Adi mengakui bahwa Ibn Risydin salah satu orang yang paling banyak meriwayatkan hadits, namun sangat disayangkan kebanyakan periwayatannya munkar dan palsu. Sementara menurut Ibnu Yunus, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnul Qaththan, dan Ibnul Qasim, Ibn Risydin diterima haditsnya karena dia kredibel (tsiqah) dan penghafal hadits (huffazhul hadits).

Ketika dihadapkan pada dua simpulan yang bertolak-belakang ini, maka penilaian negatif (jarh) lebih diprioritaskan daripada penilaian positif (ta’dil). Simpulan ini merujuk pada kaidah umum dalam jarh wa al-ta’dil, “Apabila bertentangan antara jarh dan ta’dil, maka jarh lebih didahulukan bila dijelaskan argumentasinya secara spesifik.” Dengan demikian, riwayat Ibn Risydin tidak dapat diterima karena pembohong (muttaham bil kidzbi) dan dianggap pemalsu hadits (muttaham bil wadh’i) meskipun riwayat dan haditsnya banyak didokumentasikan.

Adapun riwayat Abu Syekh berasal ari dua jalur, yaitu Abu Hurairah dan Ibnu Abbas. Riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah dihukumi lemah karena ada Muhammad Ibn Abu Humaid dalam silsilah sanadnya. Sebagian besar kritikus hadits berpendapat bahwa Abu Humaid adalah dhaif dan termasuk munkarul hadits. Sedangkan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dihukumi hasan dan tidak sampai pada tingkatan shahih.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kualitas hadits bendera hitam yang diriwayatkan oleh At-Thabarani dan riwayat Abu Syekh yang bersumber dari Abu Hurairah adalah lemah atau dapat disebut juga hadits munkar. Sementara riwayat Abu Syekh yang berasal dari Ibnu Abbas termasuk hadits hasan dan tidak mencapai derajat shahih.

Bagaimana Pengamalannya?
Setelah mengetahui kualitas hadits, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana pengamalannya, apakah hadits tersebut wajib diamalkan atau tidak. Dalam bahasa lain, apakah hadits bendera Rasulullah itu bermuatan syariat atau tidak. Kalau dipahami sebagai bagian dari syariat berarti wajib diamalkan. Sementara kalau bukan bagian dari syariat, tidak wajib diamalkan.

Menurut KH Ali Mustafa Yaqub, ada dua indikator yang dapat digunakan untuk membedakan syariat dan bukan syariat, atau budaya, di dalam memahami hadits Nabi. Pertama, apabila amalan tersebut hanya dilakukan oleh umat Islam dan tidak dilakukan agama lain berarti amalan itu bagian dari syariat. Kedua, jika sebuah perbuatan dikerjakan oleh semua orang, baik Muslim maupun non-Muslim, dan sudah ada sejak sebelum kedatangan Islam, maka perbuatan tersebut bukan syariat dan termasuk budaya.

Berdasarkan dua indikator ini dan sekaligus merujuk pada fakta sejarah, bendera bukanlah bagian dari syariat karena sudah ada sebelum kedatangan Islam dan digunakan oleh semua pasukan perang baik Muslim ataupun non-Muslim. Bahkan dalam pandangan Ibnu Khaldun, memperbanyak bendera, memberi warna dan memanjangkannya, hanya semata-mata untuk menakuti musuh dan kepentingan politik suatu pemerintahan.

Kendati Rasulullah menggunakan warna dan bentuk bendera tertentu, bukan berati model bendera Rasulullah ini mesti diikuti oleh setiap umat Islam sehingga negara yang tidak sesuai warna benderanya dengan bendera Rasulullah dianggap tidak mengikuti sunah Nabi. Karena pada hakikatnya, persoalan warna dan bentuk bendera bukan bagian dari agama yang bersifat ibadah (ta’abbudi), seperti halnya shalat, puasa, dan ibadah mahdhah lainnya, tetapi termasuk urusan muamalah yang identik dengan perubahan dan perkembangan. Wallahu a’lam. (M Khalimi-Hengki Ferdiansyah)

Selasa 5 Desember 2017 18:4 WIB
MUSTHALAH HADITS
Cara Mengenal Hadits Dhaif
Cara Mengenal Hadits Dhaif
Dalam membaca kitab hadits, sering kali kita menemukan beberapa istilah. Salah satunya adalah hadits dhaif. Lalu apa sebenarnya hadits dhaif tersebut? Dalam kesempatan kali ini, kami akan membahas hadits dhaif.

Pengertian hadits dhaif secara etimologi adalah lawan kata dari "qawiyun" (kuat) yaitu lemah. Lemah yang dimaksud dalam konteks ini adalah lemah yang ma’nawy. Menurut Mahmud Thahan dalam Taisyiru Muthalahil Hadits, lemah itu ada dua; yaitu lemah hissiy dan ma’nawy.

Secara terminologi, seperti yang disampaikan Ibnus Shalah yang dikutip oleh Imam As-Suyuthi dalam Tadribur Rawi adalah ma lam yajma’ sifat as-shahih wal hasan, yaitu yang tidak terkumpul sifat-sifat shahih dan sifat-sifat hasan.

Definisi ini dikritisi oleh Ibnu Daqiq. Menurutnya, telah dianggap cukup definisi tentang hadits dhaif dengan hanya menyebutkan yang kedua sebagaimana ungkapan Ibnus Shalah (ma lam yajma’ sifat hasan).

Pendapat Ibnu Daqiq ini didukung oleh Imam Al-Bayquni dalam bait syairnya yang menyebutkan:

وكل ما عن رتبة الحسن قصر # وهو الضاعف وهو أقسما كثر

Dengan kata lain, tidak jauh beda dengan pendapat Ibnu Daqiq akan tetapi Al-Bayquni menjelaskan bahwa yang dimaksud kehilangan syarat-syarat hasan adalah terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu hilang syarat hadits hasan.

Hadits dhaif juga memiliki sifat-sifat yang berbeda tergantung parahnya kedhaifan riwayatnya dan kelemahannya seperti halnya hadits shahih, yaitu dhaif, dhaif jiddan, al-wahiy, mungkar dan bagian yang paling rendah adalah maudhu’.

Di bawah ini adalah contoh hadits dhaif yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari jalan sanad Hakim Al-Astram, yang di-jarh atau divonis dhaif oleh para ulama.

من أتي حائضا أو إمرأة أو كاهنا فقد كفر بما أنزل علي محمد

Artinya, “Barangsiapa yang mendatangi seorang haid, atau perempuan atau seorang dukun, maka ia telah kufur atas hal yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.”

Setelah meriwayatkan hadits di atas Imam At-Tirmidzi pun menjelaskan lebih rinci dalam syarahnya bahwa ia tidak mengetahui hadits tersebut kecuali dari sanad Hakim Al-Astram dari Abi Tamimah Al-Hujaimy dari Abi Hurairah. Bahkan Imam Bukhari pun mengatakan bahwa hadits ini dhaif dari segi sanadnya. Hal ini memang terbukti karena dalam sanadnya ada Hakim Al-Atsram yang telah didhaifkan oleh para ulama.

Lalu bagaimana caranya kita mengetahui bahwa seorang rawi tersebut dhaif atau tidak. Pertama, meneliti apakah semua perawi memiliki riwayat yang sambung, yakni dengan cara meneliti riwayat guru-murid dari kitab tarajum seperti Tadzhibul Kamal karya Al-Mizi atau Lisanul Mizan karya Ibnu Hajar dan lain sebagainya.

Kedua, mencari apakah perawi tersebut adil dan dhabit atau tidak, dengan melihat kritik dari para ulama terhadap para rawi tersebut, apakah ia divonis tsiqah (terpercaya), katsirul khata’ (banyak salah), dhaif (lemah) dan lain sebagainya. Ketiga, meneliti apakah terdapat illat, yaitu secara kasat mata terlihat sahih tapi ketika diteliti kembali banyak kerancuan. Salah satu ulama yang ahli dalam ilmu ini adalah Imam At-Tirmidzi. Keempat, membandingkan dengan periwayatan rawi yang lebih tsiqah, apakah terjadi perbedaan matan atau tidak, jika berbeda maka periwayatan perawi yang lebih tsiqah tersebut yang lebih dipilih (mahfudz), sedangkan periwayatan rawi yang kurang tsiqah disebut syadz.

Lalu bagaimana selanjutnya ketika sudah diketahui bahwa hadits tersebut dhaif. Para ulama berbeda pendapat dalam menyikapi hadits dhaif ini.

Ajaj Al-Khatib dalam Ushul Hadits menjelaskan tiga perbedaan pendapat terkait status kehujahan hadits dhaif.

Pendapat pertama, hadits dhaif tersebut dapat diamalkan secara mutlak, yakni baik yang berkaitan dengan masalah halal, haram, maupun kewajiban, dengan syarat tidak ada hadits lain yang menerangkannya. Pendapat ini disampaikan oleh beberapa imam, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Daud dan sebagainya.

Pendapat kedua, dipandang baik mengamalkan hadits dhaif dalam fadhailul amal, baik yang berkaitan dengan hal-hal yang dianjurkan maupun hal-hal yang dilarang.

Pendapat ketiga, hadits dhaif sama sekali tidak dapat diamalkan, baik yang berkaitan dengan fadailul amal maupun halal haram. Pendapat ini dinisbatkan kepada Qadi Abu Bakar Ibnu Arabi.

Di antara tiga pendapat di atas, pendapat kedua ini yang dipilih jumhurul ulama. Tetapi pendapat itu harus memenuhi beberapa syarat yang dipaparkan Imam Ibnu Hajar. Pertama, kedhaifan hadits tersebut tidak termasuk syadid. Kedua, termasuk hadits yang bisa diamalkan. Ketiga, ketika mengamalkan, tidak meyakini ketetapan hadits tersebut akan tetapi dengan ihtiyat (hati-hati). Wallahu a’lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)