IMG-LOGO
Jumat

Apakah Narapidana Berkewajiban Shalat Jumat?

Jumat 31 Agustus 2018 7:0 WIB
Share:
Apakah Narapidana Berkewajiban Shalat Jumat?
Ilustrasi (via aclu-in.org)
Shalat Jumat diwajibkan untuk setiap Muslim laki-laki yang memenuhi kriteria wajib shalat Jumat. Orang yang meninggalkannya mendapat ancaman serius sebagaimana ditegaskan dalam beberapa hadits. Namun saat mengalami uzur, diperbolehkan bagi seorang Muslim untuk meninggalkan shalat Jumat (lalu menggantinya dengan shalat zuhur, red), seperti sakit, bepergian, menjaga pos keamanan, dan lain sebagainya. 

Bicara tentang uzur Jumat, kita jadi ingat nasib para narapidana yang tengah menjalankan hukumannya di dalam jeruji besi. Kondisi serbasulit yang menimpa mereka, mengakibatkan ruang gerak mereka terbatasi, termasuk dalam hal pelaksanaan Jumat. Pertanyaannya adalah, apakah mereka berkewajiban melaksanakan shalat Jumat?

Narapidana yang tidak diizinkan keluar dari jeruji besinya di hari Jumat, ulama berbeda pendapat mengenai kewajiban shalat Jumat bagi mereka. Menurut Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-Fatawa al-Kubra hukumnya wajib bila terpenuhi syarat-syarat wajib dan keabsahan Jumat, serta tidak khawatir menimbulkan gejolak ketika mereka mendirikan Jumat di penjara. 

Bila di dalam penjara ditemukan 40 Muslim laki-laki yang dapat mengesahkan pelaksanaan Jumat, maka wajib bagi mereka untuk melakukannya. Jamaah shalat Jumat yang wajib dan menjadikan sah shalat Jumat adalah Muslim yang baligh, berakal, merdeka, berjenis kelamin laki-laki, tidak mengalami ‘udzur yang membolehkannya meninggalkan Jumat dan merupakan penduduk yang bertempat tinggal tetap (muqim mustauthin). Jika tidak terpenuhi syarat wajib dan keabsahan Jumat tersebut, maka mereka tidak wajib melaksanakan Jumat di dalam penjara.

Berpijak dari pendapat ini, apabila syarat kewajiban dan keabsahan Jumat terpenuhi, maka diperbolehkan untuk melaksanakan Jumat di penjara, meskipun di daerah tersebut juga dilaksanakan Jumat di luar penjara. Kondisi narapidana di dalam jeruji besi menjadi salah satu uzur yang membolehkan berbilangnya pelaksanaan Jumat menurut pendapat ini.

Sedangkan menurut ulama lain, hukumnya tidak wajib secara mutlak. Bahkan menurut Imam al-Subuki, tidak diperbolehkan bagi narapidana melaksanakan Jumat di dalam penjara, karena uzur yang menimpa mereka.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

وسئل نفع الله به هل يلزم المحبوسين إقامة الجمعة في الحبس فأجاب بقوله القياس أنه يلزمهم ذلك إذا وجدت شروط وجوب الجمعة وشروط صحتها ولم يخش من إقامتها في الحبس فتنة لكن أفتى غير واحد بأنها لا تلزمهم مطلقا وقد بالغ السبكي فقال لا يجوز لهم إقامتها وإن جاز تعددها وهو بعيد جدا وإن أطال الكلام فيه في فتاويه

“Syekh Ibnu Hajar ditanya, apakah para narapidana wajib melaksanakan Jumat di dalam penjara?. Beliau menjawab, sesuai hukum qiyas, wajib bagi mereka menjalankannya apabila terpenuhi syarat sah dan syarat wajib Jumat serta tidak menimbulkan fitnah saat melaksanakan Jumat di dalam penjara. Akan tetapi lebih dari satu orang ulama berfatwa tidak wajib secara mutlak. Al-Imam al-Subuki melebih-lebihkan dalam persoalan ini, beliau mengatakan, tidak diperbolehkan bagi mereka untuk melaksanakan Jumat meski boleh Jumat dilakukan secara berbilangan. Ini pendapat yang sangat jauh dari kebenaran, meski beliau panjang lebar menjelaskan argumennya di beberapa fatwanya.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 259).

Berkaitan dengan kebolehan ta’addud al-Jumat bagi para narapidana, beliau menegaskan:

فإن قلت إن أقاموها قبل جمعة البلد أفسدوها على أهلها أو بعدها لم تنعقد لهم  قلت ممنوع فيهما بل عذر الحبس لا يبعد أنه يجوز التعدد فيفعلونها متى شاءوا قبل أو بعد ولا حرج عليهم حينئذ

“Jika kamu bertanya, apabila para narapidana mendirikan Jumat di dalam penjara sebelum Jumatnya warga setempat, bukankah hal tersebut berdampak pada batalnya jumat warga? Bila para narapidana melakukannya setelah pelaksanaan Jumatnya warga, bukankah Jumat nya para napi yang tidak sah?. Aku jawab, dua anggapan tersebut tidak dapat diterima. Bahkan, uzur penahanan tidak cenderung membolehkan berbilangnya pelaksanaan Jumat, maka para narapidana bebas melaksanakannya, sebelum atau setelah Jumatnya warga setempat, tidak ada masalah bagi mereka”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 259).

Perbedaan pendapat di atas berlaku bila narapidana tidak memungkinkan melaksanakan Jumat di luar penjara. Bila memungkinkan, misalkan diberi izin dan fasilitas oleh pihak yang berwajib untuk menjalankan shalat Jumat di tempat tertentu, maka hukumnya adalah wajib asalkan terpenuhi syarat keabsahan Jumat. Sebab, dalam kondisi demikian tidak ada alasan yang mendesak bagi para narapidana untuk meninggalkan Jumat.

Demikian penjelasan mengenai kedudukan wajib Jumat bagi para narapidana. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Jumat 24 Agustus 2018 15:0 WIB
Perbedaan Qaryah, Balad dan Mishr dalam Fiqih Shalat Jumat
Perbedaan Qaryah, Balad dan Mishr dalam Fiqih Shalat Jumat
Ilustrasi (wordpress)
Tiga istilah yang tidak bisa dilepaskan dalam fiqh shalat Jumat, yaitu qaryah, balad dan mishr. Ketiganya adalah istilah untuk kawasan pelaksanaan Jumat dengan ciri dan ketentuan berbeda antara satu dengan yang lain. Dalam mazhab Syafi’i, shalat Jumat sah dilakukan baik di qaryah, balad atau mishr. Sementara dalam mazhab Hanafi, shalat Jumat hanya sah dilakukan di Mishr, tidak sah dilakukan di qaryah atau balad. Apa perbedaan dari ketiganya?

Qaryah adalah kawasan pemukiman warga yang tidak ada fasilitas kepolisian, kehakiman dan pasar di dalamnya. Sedangkan mishr adalah tempat pemukiman warga yang lengkap dengan tiga fasilitas tersebut, kepolisian, kehakiman dan pasar. Sementara balad adalah daerah yang absen dari salah satu tiga fasilitas tersebut.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengatakan:

أن المصر ما كان فيها حاكم شرعي وشرطي وسوق والبلد ما خلت عن بعض ذلك والقرية ما خلت عن الجميع

“Mishr adalah tempat yang di dalamnya terdapat departemen kehakiman, kepolisian dan pasar. Balad adalah tempat yang sunyi dari salah satu tiga hal tersebut. Sementara qaryah adalah tempat yang sunyi dari ketiganya.” (Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah a-Bujairimi ‘ala al-Manhaj, juz 1, hal. 350)

Dalam konteks geografis di Indonesia, sebagian kalangan menganggap bahwa mishr adalah kabupaten, balad adalah kecamatan, qaryah adalah desa. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Karena prinsip dari sebutan qaryah, balad dan mishr adalah ketersediaan fasilitas sebagaimana yang dijelaskan di atas. Bisa jadi di sebuah desa ditemukan tiga fasilitas di atas atau sebagiannya, hal ini tentu akan mempengaruhi status penamaannya. Pada prinsipnya, apa pun namanya, untuk disebut qaryah, balad dan mishr tolak ukurnya adalah ketersediaan tiga fasilitas di atas, bukan penyebutan desa, kecamatan, kabupaten atau nama lainnya.

Dalam perspektif fiqih mazhab Syafi’i, setiap kelompok pemukiman warga yang dibedakan dengan nama tertentu dan menurut pandangan umum dianggap kelompok pemukiman yang berbeda dengan yang lain, maka dihukumi daerah yang terpisah, masing-masing memiliki hukum sendiri-sendiri dalam hal pelaksanaan Jumat. Misalkan kampung A berbeda nama dengan kampung B, dan ‘urf menganggapnya sudah daerah yang berbeda, maka A dan B adalah tempat yang terpisah, melaksanakan Jumat di dua tempat tersebut bukan tergolong ta’addud al-Jum’at (berbilangnya pelaksanaan Jumat dalam satu daerah).

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

قال ابن عجيل ولو تعددت مواضع متقاربة وتميز كل باسم فلكل حكمه .ا هـ .وإنما يتجه إن عد كل مع ذلك قرية مستقلة عرفا

“Syekh Ibnu ‘Ujail berkata, jika beberapa tempat berdekatan dan masing-masing berbeda nama, maka memiliki hukum sendiri-sendiri. Pendapat Ibnu Ujail ini kuat apabila selain perbedaan nama, menurut ‘urf tempat-tempat tersebut sudah dianggap daerah yang berdiri sendiri.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 342)

Demikianlah perbedaan qaryah, balad dan Mishr. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Senin 13 Agustus 2018 16:30 WIB
Dalil Anjuran Membaca Surat Yasin di Malam Jumat
Dalil Anjuran Membaca Surat Yasin di Malam Jumat
Bacaan yang populer di masyarakat saat mengisi kegiatan keagamaan di malam Jumat adalah Surat Yasin. Surat ini dibaca di banyak majelis. Ada yang menjadikannya sebagai rangkaian bacaan tahlil, sebagian lagi membacanya untuk mengawali pengajian, ada pula yang menjadikan bacaan Yasin sebagai acara inti yang biasa kita kenal dengan sebutan jamaah Yasinan, atau sebatas rutinitas individu yang dibaca di setiap malam Jumat.

Sebagian kalangan menganggap bahwa membaca Surat Yasin di malam Jumat bertentangan dengan ajaran syari’at. Mereka menganggap kegiatan tersebut tidak ada dalilnya. Sebenarnya, adakah dalil yang menjelaskan anjuran dan keutamaan membaca Surat Yasin di malam Jumat?

Memang betul, yang paling umum diterangkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits adalah anjuran  dan keutamaan membaca Surat al-Kahfi, baik di hari atau malam Jumat. Keutamaan membaca Surat al-Kahfi berlandaskan dalil hadits yang cukup banyak, bahkan beberapa di antaranya mencapai derajat hadits shahih. Jarang kita temukan dalam kitab fiqih atau hadits anjuran membaca selain Surat al-Kahfi pada saat malam Jumat, termasuk anjuran atau keutamaan Surat Yasin.
Namun demikian, hal tersebut tidak cukup untuk menjadi landasan untuk menyimpulkan bacaan selain Surat al-Kahfi tidak ada dalilnya. Syekh Abdur Raul al-Manawi menegaskan bahwa anggapan bahwa hanya Surat al-Kahfi yang dianjurkan saat malam dan hari Jumat merupakan kekeliruan.

Ditemukan anjuran membaca selain Surat al-Kahfi dalam beberapa hadits, meski kualitas sanadnya tidak sebaik anjuran membaca Surat al-Kahfi. Al-Manawi menyebut beberapa surat yang diterangkan keutamaannya dalam sebuah hadits, yaitu Surat al-Baqarah, Ali Imran, al-Shaffat, Yasin, dan surat-surat yang menyebutkan ihwal Ali Imran.

Keutamaan membaca Surat Yasin sendiri ditegaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud sebagai berikut:

من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله

“Barangsiapa membaca surat Yasin dan al-Shaffat di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya.” (HR Abu Daud dari al-Habr)

Al-Manawi menegaskan bahwa hadits ini tergolong hadits yang sanadnya terputus.

Berikut ini bunyi statemen al-Manawi dalam kitabnya yang fenomenal, Faydl al-Qadir, komentar atas kitab al-Jami’ al-Shaghir:

واعلم أن المتبادر إلى أكثر الأذهان أنه ليس المطلوب قراءته ليلة الجمعة ويومها إلا الكهف وعليه العمل في الزوايا والمدارس وليس كذلك فقد وردت أحاديث في قراءة غيرها يومها وليلتها ، منها ما رواه التيمي في الترغيب من قرأ سورة البقرة وآل عمران في ليلة الجمعة كان له من الأجر كما بين البيداء أي الأرض السابعة وعروبا أي السماء السابعة وهو غريب ضعيف جدا …الى أن قال...وخبر أبي داود عن الحبر من قرأ سورة يس والصافات ليلة الجمعة أعطاه الله سؤله وفيه انقطاع

“Ketahuilah bahwa yang terlintas di pikiran banyak orang, bahwa tidak ada bacaan yang dianjurkan di malam Jumat kecuali Surat al-Kahfi, membacanya sudah menjadi amaliah di beberapa surau dan madrasah. Anggapan demikian tidak benar. Sesungguhnya terdapat beberapa hadits tentang anjuran membaca surat selain al-Kahfi di malam dan hari Jumat. Di antaranya hadits riwayat al-Taimi dalam kitab al-Targhib, barangsiapa membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran di malam Jumat, ia mendapat pahala sebesar sesuatu di antara bumi ketujuh dan langit ketujuh. Ini adalah hadits yang aneh dan sangat lemah. Dan hadits Imam Abu Daud dari al-Habr, barangsiapa membaca Surat Yasin di malam Jumat, Allah mengabulkan permintaannya, di dalam hadits ini terdapat sanad yang terputus.” (Abdul Ra’uf al-Manawi, Faydl al-Qadir, juz 6, hal. 258)
Meskipun kualitas sanad hadits tentang keutamaan bacaan Surat Yasin ini tergolong lemah, namun tetap dianjurkan dan dapat diamalkan isi kandungannya. Sebagaimana ditegaskan oleh ulama bahwa hadits-hadits lemah boleh diamalkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan amal asalkan bukan tergolong hadits maudlu’ (palsu).

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

وقد تقرر أن الحديث الضعيف والمرسل والمنقطع والمعضل والموقوف يعمل بها في فضائل الأعمال إجماعا


“Dan merupakan ketetapan bahwa hadits dla’if, mursal, munqathi’, mu’dlal dan mauquf dapat dipakai untuk keutamaan amal menurut kesepakatan ulama.” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatâwâ al-Kubrâ al-Fiqhiyyah, Beirut, Dar al-Fikr, 1983 M, juz 2, hal. 53).

Demikianlah dalil keutamaan membaca Surat Yasin di malam Jumat, mari kita budayakan untuk tidak mudah memvonis salah atau bid’ah, karena bisa jadi kita yang belum mengetahui sudut pandang pembenaran ilmiyahnya. Semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Ahad 12 Agustus 2018 15:0 WIB
Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (II-Habis)
Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (II-Habis)
Di tulisan sebelumnya telah kami sampaikan bahwa syarat sah pelaksanaan khutbah Jumat ada 12. Pada tulisan tersebut, telah kami jelaskan enam syarat. Pada tulisan ini akan kami lanjutkan syarat berikutnya hingga syarat ke dua belas. Berikut ini penjelasannya.

Baca: Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)
Syarat ketujuh, khutbah harus dilakukan dengan berdiri.

Khutbah Jumat harus dilakukan dengan berdiri bagi orang yang mampu. Tidak sah dilakukan dengan duduk. Bila tidak mampu berdiri, misalkan karena sakit atau faktor usia, maka boleh dilakukan dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, maka boleh dengan cara tidur miring.

Bagi khatib yang tidak mampu berdiri, tetap sah bertindak sebagai khatib meski ditemukan orang lain yang mampu melaksanakan khutbah dengan berdiri. Namun yang lebih utama adalah digantikan orang lain yang mampu berdiri.

Syekh Nawawi Banten mengatakan:

 وقيام قادر ) فيهما جميعا فإن عجز عنه خطب جالسا ولو مع وجود القادر والأولى للعاجز الاستنابة

“Dan disyaratkan berdiri bagi yang mampu di keseluruhan kedua khutbah, jika tidak mampu berdiri, maka cukup berkhutbah dengan duduk, meski ditemukan orang yang mampu berdiri. Dan yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menggantikannya dengan orang yang mampu berdiri”. (Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain, juz 1 hal. 141).

Syekh Habin Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

فإن عجز خطب جالسا فإن عجز اضطجع والأولى له الاستخلاف

“Jika tidak mampu berdiri, maka cukup berkhutbah dengan duduk, jika tidak mampu duduk, maka berkhutbah dengan posisi tidur miring. Yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menggantikan dirinya dengan orang yang mampu berdiri”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 241).

Syarat kedelapan, disertai duduk di antara dua khutbah.

Khutbah jumat yang dilaksanakan sebanyak dua kali, di antara kedua khutbahnya harus dipisah dengan duduk. Standar minimal duduk di antara dua khutbah adalah kadar minimal thuma’ninah dalam shalat, yaitu diam sekira cukup untuk membaca subhanallah.

Bagi khatib yang tidak mampu berdiri, memisah dua khutbah baginya adalah dengan cara diam sejenak melebihi durasi diam untuk mengambil nafas dan tersengal-sengal. Demikian pula bagi khatib yang mampu berdiri, namun tidak mampu duduk untuk memisah di antara dua khutbahnya.

Disunnahkan kadar pemisah di antara dua khutbah, sekiranya cukup membaca surat al-Ikhlash. Demikian pula dianjurkan bagi khatib membacanya saat duduk atau berhenti sejenak (bagi yang tidak mampu) untuk memisah dua khutbah jumat.

Syekh Nawawi Banten mengatakan:

 وجلوس بينهما ) بطمأنينة في جلوسه وجوبا ومن خطب قاعدا لعذر أو قائما وعجز عن الجلوس أو مضطجعا للعجز فصل بينهما بسكتة وجوبا فوق سكتة التنفس والعي ويسن أن تكون الجلسة أو السكوت بقدر سورة الإخلاص وأن يقرأها في ذلك

“Dan disyaratkan duduk di antara dua khutbah disertai thumaininah. Orang yang berkhutbah duduk karena uzur, atau mampu berdiri namun tidak mampu duduk, atau berkhutbah dalam posisi tidur miring karena tidak mampu, ia memisah di antara dua khutbahnya dengan diam sejenak melebihi durasi diam untuk mengambil nafas dan tersengal-sengal. Disunnahkan duduk atau diam sejenak tersebut dengan kadar durasi membaca surat al-ikhlas dan bagi khatib disunnahkan membacanya saat kondisi tersebut”. (Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain juz 1 hal. 141).

Syarat kesembilan, terus-menerus di antara rukun-rukun khutbah.

Rukun-rukun khutbah harus dibaca secara berkesinambungan, tidak boleh ada jeda atau pemisah berupa pembicaraan lain yang menyimpang dari isi khutbah. Tidak termasuk pemisah yang merusak keabsahan khutbah, materi yang masih berkaitan dengan khutbah, meski panjang dan lama, karena hal tersebut tergolong kemashlahatannya khutbah.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengatakan:

  وولاء ) بينهما وبين أركانهما وبينهما وبين الصلاة
 قوله وبين أركانهما ) ولا يقطعها الوعظ وإن طال لأنه من مصالح الخطبة فالخطبة الطويلة صحيحة كما قرره شيخنا

“Dan disyaratkan terus menerus di antara dua khutbah, di antara rukun-rukunnya dan di antara dua khutbah dan shalat jumat. Ucapan di antara rukun-rukunnya, maksudnya tidak dapat memutus syarat berkesinambungan, mauizhah khutbah meski panjang karena termasuk kemashlahatan khutbah, maka khutbah yang panjang hukumnya sah sebagaimana ditegaskan oleh guru kami”. (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairami ‘ala Fath al-Wahhab, juz 4, hal. 94).

Syarat kesepuluh, terus menerus antara khutbah dan shalat Jumat

Yang dimaksud terus menerus di sini adalah jarak antara khutbah dan shalat Jumat tidak boleh terlalu lama, sekiranya setelah khutbah kedua selesai, takbiratul ihramnya shalat jumat dilakukan sebelum melewati masa yang cukup untuk melakukan shalat dua rakaat dengan standar umum yang paling ringan (tidak terlalu panjang dan lama). 

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

والموالاة بينهما وبين الصلاة بأن يحرم بالصلاة قبل أن يمضي بعد انتهاء الثانية ما يسع ركعتين بأخف ممكن 

“Dan disyaratkan terus menerus antara kedua khutbah dan shalat jumat, dengan sekira takbiratul ihram shalat jumat dilaksanakan sebelum melewati masa yang cukup untuk melakukan dua rakaat shalat dengan standar umum yang paling ringan”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 242).

Syarat kesebelas, khutbah harus berbahasa Arab.

Yang dimaksud dengan syarat berbahas Arab di sini adalah hanya rukun-rukun khutbah saja, meliputi bacaan hamdalah, shalawat, pesan bertakwa, bacaan ayat suci al-Quran dan bacaan doa untuk kaum muslimin muslimat.

Sedangkan untuk selainnya, diperbolehkan menggunakan bahasa non Arab, seperti yang terlaku di Negara kita, penjelasan isi khutbah biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut diperbolehkan dan tidak termasuk memutus kewajiban muwalah (terus menerus) di antara rukun-rukun khutbah.

Al-Syaikh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

  و ) شرط فيهما ( عربية ) لاتباع السلف والخلف
 ( قوله وشرط فيهما ) أي في الخطبتين والمراد أركانهما كما في التحفة الى أن قال وكتب سم ما نصه قوله دون ما عداها يفيد أن كون ما عدا الأركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة اه قال ع ش ويفرق بينه وبين السكوت بأن في السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربي فإن فيه وعظا في الجملة فلا يخرج بذلك عن كونه في الخطبة اه

“Disyaratkan dalam dua khutbah memakai bahasa Arab, maksudnya hanya rukun-rukunnya saja seperti keterangan dalam kitab al-Tuhfah, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf. Syaikh Ibnu Qasim menulis, kewajiban memakai bahasa Arab terbatas untuk rukun-rukun khutbah memberi kesimpulan bahwa selain rukun-rukun khutbah yaitu beberapa materi yang masih berkaitan dengan khutbah yang diucapkan dengan selain bahasa Arab tidak dapat mencegah kewajiban muwalah di antara rukun-rukun khutbah. Syaikh Ali Syibramalisi mengatakan, Hal ini dibedakan dengan diam yang lama yang dapat memutus muwalah karena di dalamnya terdapat unsur berpaling dari khutbah secara keseluruhan. Berbeda dengan isi khutbah dengan selain bahasa Arab yang di dalamnya terdapat sisi mau’izhah secara umum, sehingga tidak mengeluarkannya dari bagian khutbah”. (Syaikh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 117, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan ketiga, tahun 2007).

Syarat keduabelas, khutbah dilakukan di waktu zhuhur.

Khutbah harus dilaksanakan di waktu zhuhur, sebagaimana keberadaan shalat jumat sendiri. Karena posisinya khutbah menempati tempatnya dua rakaat shalat.

Demikian penjelasan terkait syarat sah pelaksanaan khutbah Jumat. Semoga bermanfaat dan dipahami dengan baik. Kami terbuka untuk menerima saran dan kritik. (M. Mubasysyarum Bih)