IMG-LOGO
Shalat

Hukum Shalat Rebo Wekasan dalam Islam

Senin 5 November 2018 20:30 WIB
Share:
Hukum Shalat Rebo Wekasan dalam Islam
Ilustrasi (iStock)
Isu mengenai Rabu terakhir di bulan Shafar atau lebih dikenal dengan istilah Rebo wekasan bukan merupakan hal yang baru. Banyak perbincangan dan kajian berkaitan dengan isu tersebut. Mulai dari sejarah, ritual-ritual atau musibah-musibah yang diasumsikan pada hari tersebut. Termasuk yang sering ramai diperbincangkan adalah ritual shalat Rebo wekasan. Sebagian menerima, sebagian yang lain menolaknya. Sebenarnya bagaimana pandangan fiqih Islam mengenai hukum shalat Rebo wekasan?

Pada dasarnya, tidak ada nash sharih yang menjelaskan anjuran shalat Rebo wekasan. Oleh karenanya, bila shalat Rebo wekasan diniati secara khusus, misalkan “aku niat shalat Shafar”, “aku niat shalat Rebo wekasan”, maka tidak sah dan haram. Hal ini sesuai dengan prinsip kaidah fiqih:

والأصل في العبادة أنها إذا لم تطلب لم تصح

“Hukum asal dalam ibadah apabila tidak dianjurkan, maka tidak sah.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib Hasyiyah ‘ala al-Iqna’, juz 2, hal. 60).

Atas pertimbangan tersebut, ulama mengharamkan shalat Raghaib di awal Jumat bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban, shalat Asyura’ dan shalat kafarat di akhir bulan Ramadhan, sebab shalat-shalat tersebut tidak memiliki dasar hadits yang kuat.

Ditegaskan dalam kitab I’anah al-Thalibin:

قال المؤلف في إرشاد العباد ومن البدع المذمومة التي يأثم فاعلها ويجب على ولاة الأمر منع فاعلها صلاة الرغائب اثنتا عشرة ركعة بين العشاءين ليلة أول جمعة من رجب وصلاة ليلة نصف شعبان مائة ركعة وصلاة آخر جمعة من رمضان سبعة عشر ركعة بنية قضاء الصلوات الخمس التي لم يقضها وصلاة يوم عاشوراء أربع ركعات أو أكثر وصلاة الأسبوع أما أحاديثها فموضوعة باطلة ولا تغتر بمن ذكرها اه

“Sang pengarang (syekh Zainuddin al-Malibari) berkata dalam kitab Irsyad al-‘Ibad, termasuk bid’ah yang tercela, pelakunya berdosa dan wajib bagi pemerintah mencegahnya, adalah shalat Raghaib, 12 Rakaat di antara maghrib dan Isya’ di malam Jumat pertama bulan Rajab, shalat nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, shalat di akhir jumat bulan Ramadhan sebanyak 17 rakaat dengan niat mengganti shalat lima waktu yang ditinggalkan, shalat hari Asyura sebanyak 4 rakaat atau lebih dan shalat ushbu’. Adapun hadits-hadits shalat tersebut adalah palsu dan batal, jangan terbujuk oleh orang yang menyebutkannya.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 1, hal. 270).

Hanya saja, bila shalat Rebo wekasan diniati shalat sunah mutlak, dalam titik ini, ulama berbeda pandangan. Menurut Hadlratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari haram. Dalam pandangan beliau, anjuran shalat sunah mutlak yang ditetapkan berdasarkan hadits shahih tidak berlaku untuk shalat Rebo wekasan, sebab anjuran tersebut hanya berlaku untuk shalat-shalat yang disyariatkan.

Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan dalam tulisan bahasa Jawa pegon:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة

“Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rebo Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syariat. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyariatkan.” (KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur).

Sedangkan menurut Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki hukumnya boleh. Menurut beliau, solusi untuk membolehkan shalat-shalat yang ditegaskan haram dalam nashnya para fuqaha’ adalah dengan cara meniatkan shalat-shalat tersebut dengan niat shalat sunah mutlak. Beliau menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

“Aku berpendapat, termasuk yang diharmkan adalah shalat Shafar (Rebo wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya.” (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22).

Shalat Rebo wekasan sendiri dijelaskan secara rinci meliputi tata cara dan doanya oleh Syekh Abdul Hamid Quds dalam Kanz al-Najah wa al-Surur. Demikian pula disebutkan oleh Syekh Ibnu Khatiruddin al-Athar dalam kitab al-Jawahir al-Khams. Shalat Rebo wekasan umum dilakukan di beberapa daerah, ada yang melakukannya secara berjamaah, ada dengan sendiri-sendiri.

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat Rebo wekasan. Ikhtilaf ulama sebagaimana di jelaskan di atas adalah hal yang sudah biasa dalam fiqih, masing-masing memiliki argumen yang dapat dipertanggung jawabkan, perbedaan tersebut tidak untuk dipertentangkan atau ajang saling bully, namun sebagai rahmat bagi umat, membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk menjalankan ritual agama tanpa keluar dari batas syariat. Wallahu a’lam. (M. Mubasysyarum Bih)

Share:
Senin 5 November 2018 15:30 WIB
Biasakanlah Anak Kecil ke Masjid! Bagaimana jika Berisik?
Biasakanlah Anak Kecil ke Masjid! Bagaimana jika Berisik?
Ilustrasi (Telegraph)
Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter serta kepribadian seseorang. Membiasakan anak kecil dengan perilaku yang positif akan mengajarkannya untuk senantiasa berperilaku baik serta menyaring hal-hal yang tidak baik bagi dirinya sendiri. Pada masa kanak-kanak inilah segala hal yang diajarkan oleh orang tua akan mudah terserap oleh anak. Salah satu wujud membiasakan hal positif pada anak adalah membiasakan mereka untuk selalu berkunjung ke masjid.

Hukum asal mengajak anak kecil ke masjid menurut Mazhab Syafi’iyah sendiri adalah diperbolehkan selama dengan hadirnya anak kecil tersebut tidak menimbulkan kegaduhan yang mengganggu aktivitas kegiatan yang ada di masjid, seperti menajiskan masjid, mengganggu kekhusyukan orang yang shalat di masjid, dan lain-lain. Selain itu, diperbolehkannya mengajak anak kecil ke masjid ini juga dibatasi sekiranya dengan mengajak anak-anak kecil menuju masjid tidak sampai menjadikan  masjid bagi mereka sebagai tempat bermain. Mereka tetap diperkenankan untuk bercanda dan bermain di masjid dengan sewajarnya saja dan tetap dalam koridor batasan-batasan dan ketentuan di atas. 

Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Fiqhu alâ Madzâhib al-Arba’ah:

الشافعية قالوا: يجوز إدخال الصبي الذي لا يميز والمجانين المسجد إن أمن تلويثه وإلحاق ضرر بمن فيه وكشف عورته  وأما الصبي المميز فيجوز إدخاله فيه إن لم يتخذه ملعبا وإلّا حرم.

“Mazhab Syafi’iyah berpandangan bahwa boleh mengajak anak kecil yang belum tamyiz dan orang gila ke masjid ketika mereka aman dari perbuatan menajiskan masjid,  menimbulkan kemudaratan pada orang yang berada di masjid dan membuka aurat anak kecil tersebut di masjid. Sedangkan anak kecil yang sudah tamyiz, maka boleh mengajak mereka ke masjid selama tidak menjadikan masjid sebagai tempat bermain, jika ketentuan tersebut tidak terpenuhi maka haram mengajak mereka ke masjid” (Syekh Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqhu alâ Madzâhib al-Arba’ah, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006, juz 1 hal. 150)

Namun demikian, rasanya sulit untuk menghindari ketentuan-ketentuan yang telah dijelaskan di atas secara keseluruhan, terutama pada poin “mengganggu kekhusyukan orang yang shalat di masjid”. Sebab hal ini merupakan hal yang umum kita temukan, terlebih saat anak kecil yang ada di masjid terbilang cukup banyak. Lalu bagaimanakah kita menyikapi hal ini? Apakah kita lebih memilih langkah kehati-hatian dengan melarang secara mutlak pada anak kecil untuk masuk ke masjid?

Dalam menyikapi realitas ini penting ditekankan berbagai mudarat yang ada ketika anak kecil dilarang untuk masuk ke masjid, berupa jauhnya mereka dari nilai-nilai kebaikan yang akan mereka  dapatkan dari aktivitas yang ada di masjid. Sebab kemudaratan yang ditimbulkan, jika dikalkulasikan dengan kemanfaatan yang kembali pada anak kecil sangatlah tidak sebanding, terlebih ketika orang tua khawatir seandainya anak kecil dilarang berangkat ke masjid, sang anak akan lebih mengalokasikan waktunya untuk hal-hal yang negatif seperti semakin kecanduan bermain game, bermain di tempat yang salah atau terjerumus dalam pergaulan yang salah. 

Meski berbagai pertimbangan tersebut bersinggungan dengan hukum asal (berupa haramnya masuk masjid bagi anak kecil ketika akan mengganggu kekhusyukan orang yang shalat), namun membiarkan anak kecil ke masjid dalam keadaan ini pada akhirnya tetap dapat dibenarkan, bahkan merupakan hal yang dianjurkan dalam tinjauan fiqhu ad-da’wah, wujud pengajaran pada anak kecil agar membiasakan diri pada hal-hal yang bernilai positif secara bertahap (Al-Ghazali, Ihya’ Ulûmid Dîn, Beirut, Darul Ma’rifat juz 3 hal. 62).  

Maka penting kiranya bagi para jamaah masjid, khususnya takmir masjid untuk mempertimbangkan hal ini dengan menjadikan masjid sebagai “masjid yang ramah anak” serta menanggulangi kemudaratan yang dilakukan oleh anak kecil dengan berbagai kebijakan yang dapat mencegah atau setidaknya meminimalisasi terwujudnya kemudaratan ini.

Demikian sekilas penjelasan tentang hukum serta anjuran membiasakan anak kecil ke masjid. Secara umum dapat disimpulkan bahwa membiasakan anak kecil ke masjid adalah hal yang dianjurkan sebab akan menunjang anak-anak kecil ini untuk terbiasa melakukan hal-hal yang positif, sedangkan kemudaratan yang terjadi tidak sebanding dengan kemaslahatan yang ada dalam pembentukan karakter yang diwujudkan lewat berbagai aktivitas ibadah yang ada di masjid serta dapat diminimalisasi dengan berbagai kebijakan yang diterapkan dalam masjid. Wallahu A’lam. (M. Ali Zainal Abidin)
Jumat 2 November 2018 18:0 WIB
Hukum Makmum Membarengi Gerakan Imam dalam Shalat
Hukum Makmum Membarengi Gerakan Imam dalam Shalat
Ilustrasi (via pinterest)
Shalat berjamaah adalah salah satu simbol perekat sosial antarumat Islam yang terwujud dalam Ibadah. Dengan dilaksanakannya shalat berjamaah di setiap sudut wilayah dan berbagai tempat baik di pedesaan ataupun perkotaan, secara tidak langsung akan memunculkan keharmonisan sosial yang kuat antara satu sama lain. 

Nilai ibadah yang terkandung dalam Shalat berjamaah juga melampaui shalat yang dilakukan sendirian dengan selisih 27 derajat. Besarnya nilai pahala dalam ibadah shalat berjamaah ini merupakan salah satu hal yang menjadikan kesemangatan umat Islam dalam melaksanakan shalat berjamaah.

Dalam shalat berjamaah ini banyak hal yang perlu diperhatikan agar ibadah dapat dilaksanakan secara sempurna. Salah satunya adalah dalam hal gerakan imam dan makmum. Seperti yang umum diketahui bahwa makmum tidak diperkenankan mendahului gerakan imam dalam rukun apa pun, sebab merupakan kewajiban bagi makmum untuk mengikuti gerakan imam seperti yang dijelaskan dalam hadits:

إنما جعل الإمام ليؤتم به فلا تختلفوا عليه فإذا كبّر فكبّروا وإذا ركع فاركعوا

“Imam itu dijadikan hanya untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihi imam. Jika imam telah takbir maka takbirlah kalian, jika imam telah ruku’ maka ruku’lah kalian” (HR. Bukhari Muslim)

Lalu bagaimana jika makmum membarengi gerakan imam? Apakah memiliki hukum yang sama dengan mendahului gerakan imam?

Dalam menjawab pertanyaan di atas, secara umum para ulama mengelompokkan hukum makmum membarengi gerakan imam dalam lima perincian. Pertama, haram sekaligus menyebabkan tidak sahnya shalat yang ia lakukan. Hal ini ketika makmum membarengi imam dalam takbiratul ihram.

Kedua, sunnah yaitu ketika makmum membarengi imam dalam membaca âmîn setelah imam selesai membaca Surat Al-Fatihah. Ketiga, makruh sekaligus menghilangkan fadhilah (keutamaan) jamaah bagi makmum. Hal ini ketika makmum membarengi imam dalam gerakan yang terdapat dalam shalat secara sengaja, begitu juga saat makmum membarengi imam dalam mengucapkan salam.

Keempat, wajib. Hal ini terdapat dalam satu kasus yaitu saat makmum tahu bahwa jika ia tidak membaca Surat Al-Fatihah bersamaan dengan bacaan imam maka ia tidak akan dapat menyelesaikan bacaan Al-Fatihahnya secara sempurna, maka dalam keadaan ini ia wajib untuk membaca fatihah bersamaan dengan bacaan imam. Kelima, Mubah yaitu membarengi imam dalam selain permasalahan yang telah dijelaskan di atas, seperti membarengi imam dalam bacaan Tasbih ketika ruku’ dan sujud, membarengi imam dalam bacaan iftitah dll.

Kelima perincian di atas, secara tegas disampaikan oleh Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi:

فائدة: المقارنة على خمسة أقسام: حرام مانعة من الإنعقاد وهي المقارنة في تكبيرة الإحرام. ومندوبة وهي المقارنة في التأمين. ومكروهة مفوّتة لفضيلة الجماعة فيما قارن فيه مع العمد وهي المقارنة في الأفعال وفي السلام. وواجبة إذا علم أنه إن لم يقرأ الفاتحة مع الإمام لم يدركها.  ومباحة فيما عدا ذلك 

“Faidah: Membarengi gerakan imam terbagi menjadi lima bagian. Haram dan mencegah keabsahan shalat berjamaah, yaitu membarengi imam dalam takbiratul ihram. Sunnah yaitu membarengi imam dalam membaca âmîn setelah selesai membaca Surat Al-Fatihah. Makruh yang sampai menghilangkan Fadhilah Jamaah dalam gerakan yang bebarengan ketika dilakukan dengan sengaja, yaitu ketika membarengi imam dalam hal gerakan dan salam. Wajib yaitu membarengi bacaan Al-Fatihah imam, ketika makmum tahu bahwa jika ia tidak membaca Surat Al-Fatihah bersamaan dengan bacaan imam maka ia tidak dapat menyelesaikan bacaan Al-Fatihahnya. Kelima, Mubah yaitu membarengi imam dalam selain hal-hal yang dijelaskan di atas” (Syekh Muhammad Amin Al-Kurdi, Tanwir al-Qulub, hal. 169).

Berdasarkan referensi di atas dapat dipahami bahwa membarengi gerakan imam terdapat berbagai klasifikasi lima hukum. Namun yang perlu diperhatikan adalah perihal membarengi imam yang dihukumi makruh yang sekaligus dapat menghilangkan fadhilah jamaah, sebab hal ini seringkali terjadi dalam ritual shalat berjamaah. 

Maksud dari hilangnya fadhilah jamaah ini adalah hilangnya keutamaan 27 derajat yg terdapat dalam shalat berjamaah pada rukun yg terdapat kemakruhannya saja, tidak sampai menghilangkan fadhilah 27 derajat pada seluruh shalat. Seperti penjelasan dalam kitab I’anah Al-Thalibin:

وصرحوا بأن كل مكروه من حيث الجماعة يكون مبطلا لفضيلتها، أي التي هي سبع وعشرون درجة –إلى أن قال- ولا تغفل عما سبق من أن المراد فوات ذلك الجزء الذي حصل فيه ذلك المكروه لا في كل صلاة

“Ulama menegaskan bahwa sesungguhnya setiap kemakruhan yang ada dalam shalat berjamaah akan menghilangkan fadhilah jamaah yang berupa keutamaan 27 derajat. Dan janganlah melupakan penjelasan yang telah lewat bahwa yang dimaksud dengan  hilangnya fadhilah jamaah adalah hilangnya fadhilah tersebut pada juz (rukun) yang dilakukan kemakruhan saja bukan pada fadhilah jamaah dalam seluruh shalat.” (Sayyid Abu Bakar Syatho’ Al-Dimyathi, Hasyiyah I’anah Al-Thalibin juz. 2 hal. 25)

Demikian penjelasan tentang makmum yang membarengi imam, secara umum dapat disimpulkan bahwa hukum membarengi imam tidak sama dengan mendahului gerakan imam yang secara mutlak diharamkan ketika terdapat kesengajaan, sebab dalam membarengi imam terdapat berbagai perincian hukum seperti yang telah dijelaskan di atas. Semoga dengan penjelasan ini kita dapat semakin hati-hati dan menjaga dalam pelaksanaan shalat berjamaah sehingga kita mendapatkan fadhilah shalat berjamaah dengan sempurna. Amin. (M. Ali Zainal Abidin)

Kamis 1 November 2018 4:0 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Tahiyyatul Masjid
Ini Lafal Niat Shalat Tahiyyatul Masjid
(Foto: prayerinislam.com)
Setiap kali masuk ke dalam masjid, kita dianjurkan untuk melakukan shalat sunnah dua rakaat. Shalat ini dinamai shalat sunnah tahiyyatul masjid atau shalat menghormati masjid.

Kesunnahan shalat ini tidak gugur meski kita terlanjur duduk dalam pandangan Madzhab Syafi’i. Sementara sebagian ulama menyatakan gugur kesunahan shalat tahiyyatul masjid sebab duduk.

Di antara dalil yang digunakan sebagai dasar pandangan Madzhab Syafi’i adalah hadits riwayat Muslim berikut ini: 

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ النَّاسِ قَالَ فَجَلَسْتُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تَجْلِسَ قَالَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُكَ جَالِسًا وَالنَّاسُ جُلُوسٌ قَالَ فَإِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يَرْكَعَ رَكْعَتَيْنِ 

Artinya, “Abu Qatadah RA berkata, ‘Aku masuk ke dalam masjid sedangkan Rasulullah SAW duduk di tengah orang banyak.’ Abi Qatadah RA lantas melanjutkan ceritanya, ‘Lantas aku pun langsung duduk, kemudian Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Apa alasan yang menghalangimu untuk melakukan shalat dua rakaat sebelum duduk?’ Aku pun menjawab, ‘Wahai Rasulullah, aku melihatmu duduk sedangkan orang-orang juga duduk.’ Rasulullah SAW kemudian bersabda, ‘Ketika salah satu di antara kali masuk masjid, maka jangan duduk sebelum shalat dua rakaat,’” (HR Muslim).

Adapun berikut ini adalah lafal niat yang diucapkan sebelum takbiratul ihram.

أُصَلِّيْ سُنَّةَ تَحِيَّةِ المَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ أَدَاءًا لِلهِ تَعَالَى

Ushallī sunnata tahiyyatil masjidi rak‘ataini adā’an lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja shalat sunnah tahiyatul masjid (menghormati masjid) dua rakaat tunai karena Allah SWT.”

Kesunnahan shalat sunnah tahiyyatul masjid ini berlaku setiap kali kita masuk ke dalam masjid meski keluar area masjid hanya sebentar. Kesunnahan itu terus berulang seiring keluar-masuknya kita ke dalam masjid.

Selain shalan sunnah dua rakaat, kita juga dianjurkan untuk beri‘itikaf di dalam masjid yang diawali dengan niat i‘tikaf. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)