Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Jejak Keindahan Perilaku Nabi Muhammad

Jejak Keindahan Perilaku Nabi Muhammad
Jejak Keindahan Perilaku Nabi Muhammad
Jejak Keindahan Perilaku Nabi Muhammad

Islam sebagai agama paripurna tidak hanya fokus ritual ibadah saja. Lebih dari itu, Islam juga mengatur segala aspek kehidupan, mulai dari ibadah, transaksi (muamalah), dan sosialisasi dengan sesama. Islam setidaknya mengandung tiga aspek: (1) syariat, memiliki fungsi untuk menilai perilaku manusia; (2) aqidah, memiliki fungsi untuk menilai keyakinan-keyakinan manusia; dan (3) akhlak, memiliki fungsi untuk menilai budi pekerti manusia dengan sesamanya. Pada pembahasan ini, penulis akan fokus membahas poin terakhir, yaitu akhlak. Pembahasan akan difokuskan pada jejak akhlak Rasulullah saw.
 

Pembahasan tentang akhlak tidak lepas dari pembahasan perihal perkembangan Islam pada awal mula didakwahkan oleh Rasulullah kepada umat manusia. Saat itu, Islam datang dengan membawa spirit revolusi menuju peradaban yang menjunjung tinggi moralitas dan nilai kemanusiaan. Akhlak menjadi salah satu fondasi paling solid yang menjadikan Islam sebagai agama yang bermartabat.
 

Rasulullah sendiri membawa misi untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana sabdanya:
 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ


Artinya, “Sesungguhnya, aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak” (HR Ahmad).
 

Hadits di atas menjadi salah satu bukti otentik bahwa Nabi Muhammad lahir sebagai pembawa Islam yang penuh rahmat dan perbaikan akhlak. Peradaban itu terus berkembang sehingga manjadikan Islam sebagai agama yang diminati dan digemari. Perkembangannya sangat pesat, diterima oleh mayoritas kalangan. Kalaupun ada yang menolak, hal itu bukan atas dasar ketidaksenangan mereka kepada akhlak Rasulullah, akan tetapi atas dasar fanatisme pada keyakinan sebelumnya, kepentingan yang terusik, atau faktor lain.
 

Dengan bermodalkan akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur, keberadaan Rasulullah menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Arab. Dengannya, penyebaran Islam menjadi lebih mudah dan lebih gampang untuk disampaikan kepada orang lain, pun orang lain tidak akan merasa canggung dan takut untuk mengatakan bahwa dirinya akan masuk Islam. Oleh karenanya, Allah swt memuji Rasulullah dalam Al-Qur’an disebabkan akhlaknya yang mulia dan budi pekertinya yang luhur. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
 

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ


Artinya, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS Al-Qalam: 4).
 

Dari dua dalil di atas, dapat kita pahami bahwa Rasulullah saw sebagai teladan umat Islam adalah pribadi yang sangat agung. Akhlaknya yang mulia memadukan antara pemenuhan terhadap hak-hak Allah swt dan penghargaannya kepada sesama manusia. Karena itulah beliau tidak hanya mendapatkan pujian dari Allah swt sebagaimana yang telah disebutkan, akan tetapi semua masyarakat Arab saat itu mempercayainya sebagai orang yang sangat sopan dan jujur.
 

Bagaimanakah potret akhlak mulia Rasulullah? Berikut di antara beberapa riwayat yang menyebutkan pribadi Rasulullah yang mulia, yaitu riwayat dari Sayyidah Siti Aisyah,
 

سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ خُلُقِ رَسُوْلِ اللهِ فَقَالَتْ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَلَا صَخَّابًا فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَجْزِي بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ، وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَصْفَحُ


Artinya, “Aku (Abdullah al-Jadali) bertanya kepada Sayyidah Aisyah perihal akhlak Rasulullah, maka Siti Aisyah menjawab, Rasulullah bukanlah pribadi yang keji dan berbuat keji. Ia tidak pernah berteriak di pasar, ia (juga) tidak membalas keburukan dengan keburukan, akan tetapi memaafkan dan berlapang dada.” (HR Tirmidzi).
 

Keindahan akhlak dan budi pekertinya yang luhur tidak hanya dirasakan oleh keluarganya, masyarakat Arab juga merasakan demikian, tepatnya ketika pemugaran Ka’bah dan pembangunan sudah dimulai. Ketika pembangunan sampai pada posisi Hajar Aswad, terjadilah pertikaian antarmereka tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad pada posisi semula.
 

Menurut Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri, semua kabilah memiliki keinginan guna menjadi perwakilan sebagai peletak Hajar Aswad pada posisi semula. Pertentangan terus terjadi dan semakin membesar hingga nyaris terjadi pertumpahan darah di Masjidil Haram. Namun akhirnya, Abu Umayyah bin al-Mughirah menawarkan usulan agar keputusannya diserahkan kepada orang pertama yang masuk masjid dari pintu Masjidil Haram.
 

Dalam kitab Rahiqul Makhtum dijelaskan, ternyata Allah swt menghendaki sosok pertama itu adalah Rasulullah Muhammad saw,
 

وَشَاءَ اللهُ أَنْ يَكُوْنَ ذَلِكَ رَسُوْلُ اللهِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ هَتَفُوْا هَذَا الْأَمِيْنُ، رَضِيْنَاهُ هَذَا مُحَمَّدٌ


Artinya, “Atas kehendak Allah, ternyata orang yang pertama masuk adalah Rasulullah. Mereka segara berseru, itu al-amin (dapat dipercaya), kami rela (dia yang meletakkan), dia adalah Muhammad” (Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfury, Rahiqul Makhtum, [Wazaratul Auqaf: Qatar, 2007], h. 62).
 

Dari kisah ini bisa diambil pelajaran bahwa akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur dapat menjadikan pertikaian yang hampir menjadi penyebab pertumpahan darah sirna begitu saja. Bahkan, kabilah-kabilah Arab yang sebelumya sudah siap untuk menjadi perwakilan dalam meletakkan Hajar Aswad pada posisi semula langsung ridha jika Nabi Muhammad sebagai perwakilan dari mereka semua.
 

Akhlak Mulia Kunci Keberhasilan Dakwah Nabi

Keindahan akhlak dan budi pekerti Rasulullah sebagaimana yang telah disebutkan, seharusnya menjadi teladan dan jejak langkah yang harus ditiru oleh umat Islam dalam menyampaikan dakwah Islam. Harus disadari, bahwa Islam sangat menjunjung tinggi moralitas. Moralitas dalam konteks ini merupakan representasi dari adanya firman Allah swt, bahwa diutusnya Nabi Muhammad tidak lain kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta,
 

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ


Artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS Al-Anbiya’: 107).
 

Rahmat dalam konteks ini adalah tidak menjadikan ilmu pengetahuan perihal agama Islam sebagai media pemecah belah umat, sebab persatuan merupakan salah satu sendi-sendi Islam dan kekuatan paling solid sebagai agama yang menjunjung nilai-nilai persaudaraan. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Jabir bin Musa bin Abu Bakar al-Jazairi dalam kitab tafsirnya, bahwa tidak sepatutnya ilmu pengetahuan dijadikan sebuah legitimasi propaganda dan perpecahan,
 

فَلَا يَنْبَغِي أَنْ يَكُوْنَ الْعِلْمُ وَالْمَعْرِفَةُ بِشَرَائِعِ اللهِ سَبَباً فِيْ الفُرْقَةِ وَالْخِلَافِ


Artinya, “Maka tidak sepatutnya, ilmu dan pengetahuan perihal syariat-syariat Allah, dijadikan sebagai media propaganda dan perpecahan” (Al-Jazairi, Aisarut Tafasir li Kalamil Kabir, [Maktabah Ulum wal Hikmah, cetekan empat: 2003], juz 1, h. 357).
 

Menyebarkan ajaran Islam dengan cara tidak terjadi perpecahan dan propaganda di mana-mana tidak ada cara lain selain menerapkan ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan dan penuh rahmat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sebab, di balik kesuksesan dakwah Rasulullah pada priode pertama penyebaran Islam ada akhlak mulia dan budi pekerti luhur yang berperan penting. Sehingga, dengan cara tersebut banyak masyarakat tertarik dengan risalah yang dibawanya.


Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan.



Konten ini hasil kerja sama NU Online dan Biro Humas, Data, dan Informasi Kementerian Agama RI



Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya