Ancaman Hukuman Mati Ferdy Sambo: HAM vs Pandangan Fiqih Ulama NU
NU Online ยท Rabu, 10 Agustus 2022 | 09:00 WIB
Bagaimana hukum fiqih Islam memandang hukuman mati terhadap kasus pembunuhan Brigadir J oleh Ferdy Sambo? (Foto: ilustrasi)
Ahmad Muntaha AM
Penulis
Kasus pembunuhan yang menewaskan Brigadir J mulai menemukan titik terang. Akhirnya Irjen Pol Ferdy Sambo mantan Kadiv Propam Polri ditetapkan sebagai tersangka dan terancam hukuman mati. Penyidik Bareskrim Polri menetapkan Ferdy Sambo sebagai tersangka yang berperan menyuruh melakukan dan menskenario peristiwa seolah-olah terjadi peristiwa tembak-menembak di rumah dinasnya di Kompleks Polri Duren Sawit. Penyidik menerapkan Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati, penjara seumur hidup, atau penjara selama-lamanya 20 tahun.
Lalu bagaimana pandangan fiqih ulama NU pada ancaman hukuman mati seperti ini? Apakah tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM)?
Hukuman Mati dalam Pandangan Fiqih Ulama NU
Ulama NU telah membahas ancaman hukuman mati dalam Muktamar NU Ke-33 di Jombang pada 1-6 Agustus 2015. Sebagaimana diketahui, Islam secara tegas mensyariatkan hukuman mati yang atas tindak kejahatan pembunuhan, dan tindak kejahatan berat tertentu. Hukuman mati atas kejahatan berat yang menimbulkan kerusakan besar di tengah masyarakat luas.
Beberapa negara ternyata menerapkan hukuman mati untuk tindakan tertentu yang membahayakan dengan berbagai tujuan. Namun, banyak pula negara yang menolaknya dengan dalih hukuman mati bagian dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Hukuman mati bagi masyarakat dunia sampai sekarang masih menjadi perdebatan yang tidak berujung dan tetap menjadi kontroversi.
Merespons pertanyaan dalam Muktamar NU Ke-33: โApakah hukuman mati tidak bertentangan dengan Hak Asasi Manusia (HAM)?โ, ulama yang tergabung dalam Komisi Bahtsul Masail Maudhuโiyah menghasilkan keputusan sebagaimana berikut.
Islam sangat menghargai kemanusian. Dalam Islam, hak-hak manusia yang paling asasi disimpulkan dalam apa yang dikenal dengan istilah ad-dharuriyyat al-khams (lima prinsip pokok), yaituย hifzh ad-dinย (menjaga agama),ย hifzh al-โaqlย (menjaga akal),ย hifzh an-nafsย (menjaga jiwa),ย hifzh mal (menjaga harta), danย hifzh nasl/hifzh al-โirdhย (menjaga keturunan/martabat) Jadi hak hidup dan perlindungan terhadap jiwa manusia merupakan salah satu persoalan yang urgen dalam Islam. Setiap upaya yang bertujuan melindungi keselamatan jiwa harus didukung; dan setiap tindakan yang mengarah pada terancamnya keselamatan jiwa harus dicegah.
Alangkah kejam tindakan pidana pembunuhan sehingga di dalam al-Qurโan, orang yang membunuh satu jiwa saja digambarkan seolah-olah membunuh manusia seluruhnya.
ู ููู ููุชููู ููููุณูุง ุจูุบูููุฑู ููููุณู ุฃููู ููุณูุงุฏู ููู ุงููุฃูุฑูุถู ููููุฃููููู ูุง ููุชููู ุงููููุงุณู ุฌูู ููุนูุง
Artinya, โOrang yang membunuh orang lain tanpa sebab pembunuhan atau berbuat kerusakan di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia.โ (Al-Maidah: 32)
Akan tetapi dalam waktu yang sama, al-Qurโan mengabaikan perlindungan terhadap keselamatan jiwa orang yang melakukan pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan, sehingga al-Qurโan membolehkan, bahkan mewajibkan membunuh orang tersebut sebagai hukuman pembalasan (qishash). Hikmahnya dapat kita pahami dari pernyataan al-Qurโan berikut:
ููููููู ู ููู ุงููููุตูุงุตู ุญูููุงุฉู
Artinya, โDalam qishash terdapat kehidupan bagi kalian.โ (Al-Baqarah: 179)
Bahwa di balik hukum qishash, pada hakikatnya, di situ ada kehidupan. Sebab, apabila orang tahu bahwa kalau membunuh akan dibunuh, ia tidak akan melakukan pembunuhan tersebut sehingga terjagalah kehidupan.
Al-Qurโan juga mengabaikan perlindungan terhadap orang yang melakukan kerusakan di atas bumi karena kerusakan yang dia ciptakan merugikan kemaslahatan publik, sementara pembunuhan terhadap dirinya bersifat privat.
Di kalangan Fuqahaโ dan Ushuliyyin terjadi perbincangan tentang skala prioritas atau urut-urutan hierarkis menyangkut lima pokok dasar di atas (ad-dharuriyyat al-khams). Misalnya, ada pertanyaan manakah yang harus diprioritaskan bila terjadi taโarudh (pertentangan) antara hifzh ad-din dan hifzh an-nafs? Pertanyaan ini terjawab dengan pernyataan al-Qurโan:
ููุงููููุชูููุฉู ุฃูููุจูุฑู ู ููู ุงููููุชููู
Artinya, โFitnah lebih besar dosanya daripada pembunuhan.โ (QS. al-Baqarah: 217)
Ini berarti bahwa pembunuhan (hukuman mati, pen) bisa dilakukan dalam rangka menghindarkan diri dari fitnah, yaitu setiap perbuatan yang mengancam dan merugikan Islam dan kaum Muslimin. (Wahbah az-Zuhaili, at-Tafsirul Munir, juz II, halaman 257).
Pertanyaan juga muncul ketika terjadi pertentangan antara hifzh an-nafs dengan hifzh an-nasl, mana yang dimenangkan?
Pertanyaan ini meski tidak bersifat mutlak terjawab dengan disyariatkannya hukuman rajam atas pelaku zina muhshan (yang pernah punya pasangan; pen). Artinya pembunuhan dengan cara rajam yang dapat menciptakan efek jera dikenakan kepada pelaku zina muhshan.
Pertanyaannya, mengapa pembunuhan (hukuman mati, pen) semacam itu harus dilakukan? Jawabannya, karena kerugian dan mafsadah yang ditimbulkannya bersifat individual, sedangkan mafsadah yang timbul dari zina muhshan bersifat sosial serta bau busuknya diwariskan sampai anak cucu, dan itu bertentangan dengan karamah insaniyyah sebagai anugerah Allah paling besar kepada bani Adam, sebagaimana difirmankan:
ููููููุฏู ููุฑููู ูููุง ุจูููู ุขุฏูู ู
Artinya, โDan benar-benar kami muliakan anak Adam.โ (Al-Isra`: 70).
Maka sesungguhnya kehidupan jiwa yang harus dilindungi adalah kehidupan yang memiliki karamah insaniyyah.
Dari keterangan tersebut, pertanyaan di atas bisa dijawab, bahwa hak-hak asasi manusia, termasuk di dalamnya perlindungan terhadap hak hidup, merupakan prinsip yang sangat mendasar dalam syariat Islam. Dan ajaran Islam dalam hal ini telah hadir lebih seribu tahun sebelum Declaration of The Human Rights yang digelar PBB pada 10 Desember 1948. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa Islam menutup ruang untuk diterapkannya hukuman mati.
Hukuman mati bisa diterapkan terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yang merusak harkat dan martabat manusia dengan beberapa syarat yang ketat, di antaranya dibuktikan dengan alat bukti yang kuat dan meyakinkan. Dan hal ini tidak dianggap bertentangan dengan HAM dan konsep Islam.
Demikian pandangan ulama NU tentang hukuman mati yang dinilai tidak bertentangan dengan HAM. Secara lebih lengkap pandangan ulama NU tentang hukuman mati dapat dibaca di buku Ahkamul Fuqaha Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatulย Ulama halaman 1113-1120. Wallรขhuย aโlam.
Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online.
Terpopuler
1
Hukum Suami Memanggil Istri dengan Sebutan Mamah atau Ummi
2
Menkeu Suahasil: Keuangan Negara Harus Bisa Jalankan Program Prioritas Pemerintah
3
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
4
Presiden Prabowo Tiba di India untuk Hadiri KTT Ke-18 BRICS
5
Prabowo Bicara Ketahanan di BRICS, Rakyat Indonesia Masih Menghirup Asap Karhutla
6
BGN Sebut 240 Ribu Satuan Pendidikan Belum Terima MBG
Terkini
Lihat Semua