Dunia bergerak amat cepat, bertransformasi berkat teknologi. Akibatnya, setiap hari kita dibombardir dengan informasi, target, dan perbandingan yang tak berkesudahan. Media sosial kian memperparah, mengubah hidup menjadi perlombaan untuk menunjukkan siapa yang lebih sukses, lebih bahagia, dan lebih sempurna. Tak terhindarkan, ada sebagian orang yang merasa cemas dan kehilangan arah.
Di antara akar dari semua kegelisahan dan distraksi ini adalah kurangnya keikhlasan. Jika qana'ah (menerima dengan ikhlas) adalah cara berdamai dengan keadaan, maka Ikhlas adalah kunci utamanya. Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan kemampuan melepaskan keterikatan hati pada hasil dan pandangan manusia, sehingga kita bisa fokus pada esensi aktivitas dan kerja keras itu sendiri. Inilah jalan sejati untuk menemukan kedamaian batin di tengah hiruk pikuk modernitas.
Makna Ikhlas
Secara etimologi, ikhlas berarti meninggalkan riyā' (pamer) dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan. Sementara menurut terminologi, ikhlas adalah membersihkan hati dari setiap kotoran atau hal yang mengeruhkan kemurniannya. Simak penjelasan berikut:
الإخلاص: في اللغة ترك الرياء في الطاعات، وفي الاصطلاح: تخليص القلب عن شائبة الشوب المكدر لصفاته
Artinya: “Secara bahasa, ikhlas berarti meninggalkan riyā' (pamer) dalam melaksanakan ibadah dan ketaatan. Adapun secara istilah, ikhlas adalah membersihkan hati dari setiap kotoran atau hal yang mengeruhkan kemurniannya.” (Syekh Ali bin Muhammad Al-Jurjani, At-Ta’rifat, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1403 H], hlm. 13).
Dalam tayangan Shihab & Shihab, Prof. Quraish Shihab, sang mufassir Nusantara, menyebutkan bahwa ikhlas adalah upaya memurnikan hati. Kata Ikhlas sendiri berasal dari kata ‘khalis’ yang bermakna bersih. Menurutnya, makna 'bersih' di sini mengisyaratkan bahwa sesuatu itu awalnya kotor atau tercampur dengan hal yang tidak seharusnya ada.
Beliau lalu memberikan perumpamaan tentang gelas berisi air murni. Jika air itu tercampur zat lain, maka ia tidak lagi murni. “Maka, mengeluarkan kotoran untuk membersihkan itulah yang dinamai ikhlas dalam Islam,” tegas mufasir tersebut.
Dari kedua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa secara sederhana, ikhlas adalah upaya total untuk memurnikan niat dan hati. Sebagaimana ditekankan oleh Prof. Quraish Shihab, kata Ikhlas berasal dari kata 'khalis' yang berarti bersih. Intinya, ikhlas adalah aksi pemurnian agar segala ibadah dan ketaatan kita benar-benar tulus hanya ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada pujian atau pandangan manusia.
Belajar Ikhlas di Tengah Modernitas
Untuk mengatasi keterasingan jiwa dan menjaga integritas pribadi terhadap distraksi dunia modern, Tasawuf mengajarkan pemokusan diri melalui konsep ikhlas. Ikhlas adalah cara melatih diri agar hati kita murni dan fokus total melakukan sesuatu, tanpa memikirkan penilaian orang lain (pujian atau celaan). Sebab, pikiran yang terpecah karena pandangan orang lain bisa mengganggu fokus dan menghambat produktivitas kerja.
Simak penjelasan Dzun Nun al-Mishri berikut:
وَقَالَ ذو النون: ثَلاث من علامات الإخلاص استواء المدح والذم من العامة ونسيان رؤية الأعمال فِي الأعمال ونسيان اقتضاء ثواب العمل فِي الآخرة
Artinya: “Dzun Nun al-Mishri berkata: “Ada tiga tanda dari ikhlas (keikhlasan sejati), yakni sama saja baginya pujian atau celaan dari masyarakat umum, melupakan pandangan (memamerkan) amal ketika sedang beramal, dan melupakan tuntutan pahala dari amal tersebut di akhirat.” (Abu Qasim al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, [Surabaya, Al-Haramain, tt], hlm. 208).
Dari kutipan Dzun Nun al-Mishri di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa inti dari mencapai sikap ikhlas dalam menghadapi berbagai macam distraksi dunia modern, bukanlah teori yang rumit, melainkan penerapan tiga langkah praktis yang berpusat pada pemurnian niat dan tindakan.
Pertama, kita harus belajar dan melatih diri agar sepenuhnya kebal terhadap pengaruh eksternal. Ini berarti tidak terpengaruh sedikit pun oleh pandangan, penilaian, atau komentar dari orang lain, baik ketika kita dipuji maupun ketika dicela. Ketika berhasil melepaskan ketergantungan emosional pada reaksi orang lain, energi kita akan terbebaskan dari distraksi.
Kedua, mengarahkan fokus secara total pada aktivitas yang sedang dikerjakan. Aktivitas tersebut harus menjadi tujuan utama, dilakukan semata-mata karena kewajiban atau dorongan spiritual, dan yang paling penting, tanpa sedikit pun keinginan tersembunyi untuk pamer (riya') atau mencari validasi dari manusia.
Ketiga, ini adalah puncak dari keikhlasan, adalah melepaskan harapan pada imbalan tertentu. Kita harus berbuat tanpa mengharapkan balasan di dunia, bahkan tanpa terlalu terikat pada harapan pasti akan balasan pahala di akhirat. Perbuatan tersebut dilakukan sebagai pemenuhan cinta dan ketaatan kepada Tuhan, sehingga fokus niat kita hanya tertuju pada-Nya, bukan pada hasil materiil atau spiritual yang akan didapatkan.
Dampak Positif Ikhlas
Sikap ikhlas punya dampak positif pada konsentrasi seseorang. Ketika seseorang ikhlas, ia tidak akan mudah terdistraksi oleh penilaian orang lain, entah itu pujian atau celaan. Hal ini sangat penting, karena distraksi semacam itu seringkali menghambat kemampuan menyelesaikan tugas dan menurunkan produktivitas kerja.
Syekh Musthafa Al-Ghalaini (seorang pujangga dan ulama modernis asal Mesir) dalam karyanya yang berjudul, ‘Idzotun Nasyi’in memberikan gambaran akibat dari sikap tidak ikhlas. Simak penjelasan beliau berikut:
كم رأينا قوما يعملون، غير أننا لم نر أثرا صالحا لعملهم، وكثير منهم لم يوفق فيما قصد اليه، فظل في شاطئه او خاض منه ضحضاحا ولم يستطع ان يصل الى الغمر فنكص على عقبيه خسر النصب والذهب. وليس لهذا الامر من سبب الا ان الاخلاص لم يكن رائد هذه الفئة لأنها لم تعمل الا لجر مغنم مذموم او كسب شرف موهوم
Artinya: “Betapa sering kita melihat suatu kelompok/komunitas yang berjuang, tetapi kita belum melihat kesan baik (manfaat) dari usaha perjungan mereka, bahkan sebagian besar mereka gagal, tidak dapat mencapai apa yang mereka cita-citakan. Ibarat orang masuk ke laut, dia hanya sampai di tepinya. Kalaupun sudap dapat masuk ke airnya, hal itu hanyalah sampai di tempat terdangkal. Dia belum sampai berhasil memasuki dasar lautan itu, lalu mundur, kembali dengan hampa, rugi tenaga dan harta. Persoalan kegagalan di atas, disebabkan keikhlasan tidak mereka jadikan landasan dalam perjuangan. Mereka berjuang hanya untuk mencari keuntungan sementara, yang tidak terpuji dan kehormatan palsu.” (Syekh Musthafa Al-Ghalaini, ‘Idzotun Nasyi’in, [Surabaya, Penerbit Al-Miftah: tt], hlm. 12)
Jadi, siapa pun yang beraktivitas dan berjuang tanpa didasari oleh niat yang ikhlas, hampir pasti akan gagal mencapai tujuannya. Hal ini terjadi karena niat mereka mudah goyah dan hanya mengejar keuntungan sesaat, yaitu pujian, popularitas, atau kehormatan yang palsu.
Dari penjelasan Syekh Musthafa, dapat ketahui bahwa sikap ikhlas bukanlah sekadar urusan ritual atau spiritual semata, melainkan memiliki dampak praktis yang sangat besar dan langsung pada keberhasilan kita di dunia modern ini. Benefit utamanya adalah terjaminnya keberhasilan dalam setiap aktivitas yang kita jalankan.
Kunci dari keberhasilan ini terletak pada mekanisme internal yang diciptakan oleh keikhlasan. Orang yang bersikap ikhlas akan mencapai tingkat fokus yang maksimal dan penuh pada pekerjaannya. Mengapa? Karena ia telah melepaskan ketergantungan dan kekhawatiran terhadap pandangan atau penilaian eksternal, seperti pujian, popularitas, atau celaan dari orang lain.
Dengan fokus yang tidak terpecah oleh distraksi pandangan manusia, seluruh energi dan pikiran orang tersebut akan tercurah sepenuhnya pada penyelesaian tugas dengan kualitas terbaik. Ketika fokus dan dedikasi mencapai titik tertinggi tanpa gangguan, maka secara otomatis tujuan dan target dari aktivitas atau pekerjaan yang ia lakukan akan jauh lebih mudah dan cepat tercapai. Singkatnya, ikhlas adalah jalan menuju produktivitas tinggi yang berujung pada keberhasilan hakiki.
Walhasil, dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ikhlas adalah kunci keberhasilan dalam beraktivitas. Hal ini karena orang yang ikhlas fokusnya tidak terpecah oleh komentar orang lain, sehingga tujuannya mudah terwujud. Ikhlas adalah energi sejati yang membuat aktivitas dan kerja keras kita berkualitas.
Prinsip ikhlas akan membawa kita pada ketenangan batin, jalan untuk berdamai dengan diri sendiri, menerima keadaan dan keterbatasan tanpa kehilangan semangat untuk terus tumbuh dan berkembang. Wallahu a’lam.
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman, Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
