NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Kekuatan Terima Kasih: Detoks Pikiran Menuju Kecerdasan Mental dan Spiritual

NU Online·
Kekuatan Terima Kasih: Detoks Pikiran Menuju Kecerdasan Mental dan Spiritual
Kekuatan Terima Kasih (Freepik)
Bagikan:

Salah satu kata ajaib yang mampu membawa kedamaian adalah ucapan terimakasih. Selain sebagai simbol penerimaan yang tulus, ucapan terimakasih juga merupakan afirmasi positif dalam mengembangkan interaksi personal yang membahagiakan.


Bila disertai dengan ekspresi yang tepat dan suasana hati yang ceria, ucapan terimakasih bisa menetralkan pikiran dan melejitkan kecerdasan mental di saat obat farmasi untuk kedua hal tersebut masih belum ada.

Bagaimana pandangan Islam terhadap ungkapan terimakasih sebagai bagian dari akhlak mulia? Apakah ucapan terimakasih juga merupakan representasi atas rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala? Apa dampak berterimakasih terhadap kesehatan, khususnya kepada detoksifikasi pikiran, kecerdasan, dan mental yang relevan dengan kehidupan di masa sekarang?

Berterimakasih merupakan salah satu akhlak mulia yang sekaligus menjadi cabang keimanan seorang muslim. Dalam Kitab Qomi’ut Tughyan, dinyatakan bahwa sebagian ulama memaparkan tanda-tanda budi pekerti yang baik yaitu banyak berterimakasih atau bersyukur. Budi pekerti yang baik merupakan cabang iman yang kelima puluh tujuh (Syekh Nawawi bin Umar Al-Jawi,  Qami’ut Tughyan, (Surabaya, Mutiara Ilmu Surabaya, tt), halaman 87).

Sebagai manifestasi dari keimanan, budi pekerti luhur yang ditunjukkan dengan keterampilan berterimakasih akan mengarahkan pada syukurnya seorang hamba kepada Allah. 

Dalam hadits, keterampilan berterimakasih kepada sesama manusia erat kaitannya dengan rasa syukur kepada Allah. Nabi bersabda;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Muhammad], telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Mubarak], telah menceritakan kepada kami [Ar Rabi' bin Muslim], telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ziyad] dari [Abu Hurairah] ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." (HR Imam Tirmidzi). Abu Isa berkata: Ini adalah hadits hasan shahih.

Detoks Pikiran, Kecerdasan Mental, dan Kesehatan Otak

Lebih lanjut, kemampuan untuk mensyukuri nikmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berterimakasih kepada sesama manusia dapat meningkatkan kecerdasan pikiran dan mental. Hal ini bisa terjadi karena ketika seseorang berterimakasih atau bersyukur maka akan mengurangi stress dan menetralkan pikiran. Ketika seseorang lebih tenang, maka kemampuan kecerdasan seseorang akan meningkat.

Penelitian menunjukkan bahwa membiasakan mencatat ucapan terimakasih selama 14 hari dapat meningkatkan kesejahteraan mental. Kebiasaan menulis ucapan terimakasih dalam buku catatan dapat memberikan efek pencegahan dan perlindungan dari efek buruk keruwetan pikiran seseorang (Toprak dan Sari, 2023, The effects of a 2-week gratitude journaling intervention to reduce parental stress and enhance well-being: a pilot study among preschool parents, Discover Psychology 3: 38).

Pemeliharaan sistem syaraf yang merupakan perangkat utama dalam berpikir dan mengondisikan perilaku melalui penjagaan kesejahteraan mental sangat penting untuk kesehatan otak. Bagian dari sistem syaraf terkecil yang haru dipelihara adalah sel syaraf yang disebut sebagai neuron. Satu sel syaraf memiliki rangkaian neurit, sinapsis, dan dendrit yang bersambung dengan sel syaraf lainnya dalam kumpulan miliaran neuron otak manusia.

Neuron dan sinapsis adalah bagian dari sel syaraf yang menyambungkan informasi agar bisa berpikir dengan cepat. Makin banyak neuron yang terhubung dengan baik melewati sinapsis, maka makin cepat kemampuan seseorang untuk berpikir. Perpindahan dan penjalaran rangsangan pada syaraf yang sangat cepat untuk mengolah informasi di otak manusia disebut sebagai transmisi.

Kecepatan transmisi di otak manusia kira-kira 400 km/jam sehingga seseorang dapat mengingat dengan baik memori masa lalunya dan memanfaatkannya untuk mengantisipasi perubahan dalam kehidupan inilah yang disebut dengan cerdas.


Faktor genetik hanya mempengaruhi 40% dari kecerdasan seseorang, faktor lainnya adalah nutrisi dari makanan dan faktor lainnya. Bahan makanan yang mengandung omega-3 dan asam lemak seperti ikan dapat meningkatkan kapasitas kemampuan kecerdasan otak.

Meskipun nutrisi otak tercukupi, tetapi tidak ada jaminan seseorang dapat mengendalikan dan menetralkan pikirannya saat menghadapi masalah. Kemampuan untuk mengelola emosi, pola asuh, pendapat yang dihargai, termasuk keterampilan menyampaikan terimakasih akan menyeimbangkan perilaku sehingga kecerdasan otak seseorang makin terarah.

Manusia diciptakan oleh Allah ketika usia 120 hari dengan ditiupkan ruh pada jasad. Oleh karena otak adalah bagian dari jasad, maka sebetulnya ketika lahir di dunia manusia tidak hanya terdiri dari jasad tetapi juga ruh. Demikian juga ketika ingin cerdas, maka ada aspek ruhiyah dan nafsu di dalam hati manusia yang perlu diseimbangkan.

Oleh karena itu, kecerdasan manusia yang paripurna salah satunya juga bergantung pada ruh. Anak-anak perlu diajari untuk mensyukuri berbagai hal dalam kehidupannya sejak dini agar makin cerdas. Seiring dengan meningkatnya usia, masalah kehidupan akan makin kompleks sehingga bila tidak diimbangi dengan rasa syukur dan latihan yang terus menerus untuk mengekspresikan terimakasih, maka ada potensi menurunnya kemampuan berpikir.

Proses penuaan terjadi bila beberapa neuron sinapsisnya berkurang sehingga proses berpikirnya lambat. Namun, pada orang tua yang mampu membiasakan dirinya untuk mengekspresikan rasa terimakasih dan bersyukur maka proses berpikirnya masih terjaga dengan baik. Meskipun usia sudah tua, kemampuan berpikir cepat tetap terpelihara sehingga bermanfaat untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Cara meningkatkan rasa syukur sebagaimana yang direkomendasikan oleh penelitian di atas adalah dengan menuliskan kebaikan orang lain yang diterima oleh seseorang selama 14 hari. Intervensi itu ternyata mampu meningkatkan kebahagiaan 3x lipat dan menurunkan tingkat stress hingga 60%. Kadar hormon-hormon kebahagiaan manusia seperti dopamin, beta endorfin dan oxytosin yang meningkat dapat meningkatkan gelombang alfa di otak. 

Gelombang alfa berkaitan dengan fungsi detoksifikasi dan pemulihan otak. Di antara efek yang muncul adalah mengurangi stres atau detoksifikasi mental. Hal itu terjadi karena peningkatan gelombang alfa membantu mengurangi kortisol (hormon stres) dan kecemasan, yang penting untuk mencegah peradangan otak.

Efek lain dari gelombang alfa adalah meningkatkan fokus dan relaksasi. Gelombang alfa menyeimbangkan otak dari aktivitas tinggi (Beta), memungkinkan otak beristirahat sejenak, mengurangi "kegaduhan" mental.


Efek ini akan menghubungkan ke tidur nyenyak karena munculnya gelombang alfa sering menjadi tahap transisi sebelum memasuki tidur lelap (gelombang theta/delta), di mana sistem glimfatik membersihkan limbah, termasuk protein amiloid-β, secara efisien. Saat itulah, terjadi pembuangan racun-racun dari sel-sel syaraf di otak sehingga lebih sehat.

Dengan manfaat berterimakasih sebagaimana yang telah diuraikan di atas, selayaknya setiap muslim menjadikannya sebagai kebiasaan. Selain mengarah pada akhlaqul karimah, manfaat kesehatan dari berterima kasih sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini yang rentan dengan problem mental bagi manusia. Wallahu a’lam bis shawab.

--------
Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti farmasi*

Artikel Terkait