Kehidupan masyarakat urban dan modern sering terasa melelahkan. Kita bekerja tanpa henti karena jika tidak, dapur tak akan ngebul, kebutuhan harian tak terpenuhi, dan lebih buruknya lagi, kita bisa dicap “tertinggal” hanya karena tidak mengikuti arus kehidupan yang dianggap wajar bagi manusia modern.
Tak jarang, akhirnya kita merasa lelah. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin. Tidur pun kadang tak mampu meredakan pikiran yang kusut. Bayangan tentang kegagalan dan kekhawatiran masa depan terus memenuhi relung hati dan pikiran. Ajaran agama dan tumpukan buku self-improvement sudah kita lahap, menumpuk di meja kerja atau kontrakan yang tak seberapa luas, namun dampaknya tak juga terasa signifikan.
Pada akhirnya, kunci untuk meredakan kecemasan dan kegelisahan terletak pada kehadiran. Apa maksudnya? Kehadiran di sini merujuk pada kemampuan kita untuk benar-benar hadir. Hadir yang menyertakan sepenuhnya kesadaran akan “sekarang” dan “di sini.” Mari kita simak beberapa contoh di bawah ini.
Alih-alih memusingkan masa depannya, Witno--mahasiswa semester enam yang tengah magang sebagai desainer--memilih untuk benar-benar menghadirkan dirinya di lingkungan tempat ia bekerja. Ia menjalaninya dengan suka cita, meski tak jarang juga ada dukanya. Namun, dalam setiap aktivitas magang yang ia lakukan, pikirannya hadir utuh. Ia menahan diri untuk tidak larut dalam bayangan tentang apa yang harus dilakukan setelah magang nanti, karena hal itu belum terjadi. Begitu pula urusan pasca-kelulusan, masih jauh di depan sana. Untuk saat ini, ia memilih fokus pada "sekarang" dan "di sini," dalam dunia kecil yang sedang ia bangun.
Alih-alih gelisah melihat teman-teman seangkatannya di SMA yang sudah menikah atau memiliki pekerjaan dengan gaji bagus, Asiyah--seorang penjual street food ala Jepang--memilih berkonsentrasi pada usahanya. Ia menyusun strategi agar dagangannya laris setiap hari, mengotak-atik menu, lokasi, dan cara melayani. Ia tidak membiarkan pikirannya bercabang memikirkan hidup orang lain lalu membandingkannya. Ia pun fokus pada "sekarang" dan "di sini," dalam ritme hidup yang ia pilih sendiri.
Fokus seperti inilah yang ingin dikenalkan penulis kepada pembaca: konsep mindfulness, atau kesadaran penuh. Menurut Ellen J. Langer dan Mihnea Moldoveanu dalam Journal of Social Issues (Vol. 56, No. 1, 2000, hlm. 129–139) berjudul “Mindfulness Research and the Future”, konsep ini secara implisit adalah proses aktif memperhatikan konteks, mencatat perbedaan baru, mempertimbangkan berbagai perspektif, dan menyadari ketidakpastian dalam informasi, sehingga seseorang menjadi lebih fleksibel, kreatif, dan tidak mudah terjebak dalam pola pikir otomatis (mindlessness).
Secara sederhana, mindfulness bisa dipahami sebagai kemampuan untuk benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri. Kita hadir dengan pikiran yang jernih, tidak mengembara ke masa depan yang belum terjadi atau tenggelam dalam perbandingan yang melelahkan. Konsep ini membantu kita dalam membangun sikap memperhatikan apa yang sedang berlangsung di sekitar kita, melihat detail kecil yang biasanya terlewat, dan menyadari bahwa segala sesuatu bisa dipahami dari banyak sudut pandang. Intinya, kita tidak larut dalam memikirkan hal-hal yang di luar kuasa kita.
Mindfulness dalam Islam
Jika kita mencermati kembali konsep di atas, tampak bahwa ia memiliki kemiripan dengan gagasan-gagasan yang telah lama dibahas oleh para ulama. Mindfulness—yang wujudnya adalah hadirnya kesadaran penuh dalam setiap aktivitas, mirip dengan konsep khusyuk yang dianjurkan Rasulullah dan dijelaskan para ulama, terutama dalam konteks shalat. Imam al-Qusyairi menukilkan pemahaman tentang khusyuk sebagai berikut:
وسئل بعضم عن الخشوع، فقال: الخشوع: قيام القلب بين يدي الحق، سبحانه، بهم مجموع. وقال: من علامات الخشوع للعبد: أنه إذا أغضب أو خولف، أو رد عليه أن يستقبل ذلك بالقبول. وقال بعضهم: خشوع القلب: قيد العيون عن النظر.
Artinya, “Seseorang pernah ditanya tentang khusyuk. Ia menjawab, 'Khusyuk adalah hadirnya hati di hadapan Allah Yang Maha Benar, dengan perhatian yang sepenuhnya tertuju kepada-Nya.' Ia juga berkata, 'Di antara tanda-tanda kekhusyukan seseorang adalah: ketika ia dibuat marah, diselisihi, atau dibantah, ia menyambutnya dengan sikap menerima.' Sebagian ulama lain mengatakan, 'Khusyuknya hati adalah kendali bagi mata agar tidak memandang sembarangan'.” (Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, [Beirut: Darul Kutub al-'Ilmiyyah, 2018], hlm. 182)
Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa khusyuk bukanlah sesuatu yang terbatas pada shalat saja. Ia justru hadir dalam keseharian, ketika hati seorang hamba senantiasa sadar akan keberadaan Allah dalam setiap keadaan. Pada tingkat yang lebih dalam, seseorang yang telah mencapai kekhusyukan bahkan saat ditimpa musibah tidak akan mudah tersulut marah. Ia cenderung menerima dengan lapang dada, karena ia “sadar sepenuhnya” bahwa segala ketentuan berasal dari Allah.
Di sisi lain, penjelasan tadi juga menegaskan bahwa orang yang khusyuk tidak akan sembarangan dalam memandang. “Memandang” di sini bisa kita pahami secara literal maupun metaforis.
Secara literal, seseorang menjaga pandangannya agar tidak menatap apa yang tidak semestinya, misalnya aurat yang tampak di ruang publik. Secara metaforis, “cara pandang” yang ia miliki pun terjaga; ia tidak mudah menghakimi, merendahkan, atau menyimpulkan buruk tentang orang lain hanya dari sekali pandang.
Selain mirip dengan konsep khusyuk dalam literatur tasawuf, mindfulness atau kesadaran penuh juga hampir serupa dengan konsep muraqabah, kesadaran diri bawah pengawasan Allah senantiasa hadir.
Dalam tasawuf, muraqabah lahir dari penghayatan mendalam terhadap makna sabda Nabi, yaitu “Fa in lam takun tarahu fa innahu yaraka,”, yang artinya “Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Hadits di atas konteksnya di dalam shalat agar senantiasa khusyuk dan pikiran tidak ke mana-mana. Inilah keadaan seorang hamba yang benar-benar menyadari bahwa Allah senantiasa memperhatikan dirinya, mengetahui gerak hatinya, mendengar setiap ucapannya, dan menyaksikan seluruh amalnya .
Para sufi menggambarkan muraqabah sebagai fondasi semua kebaikan. Sebagaimana seorang pelayan yang selalu peka terhadap gerak isyarat tuannya, apalagi jika mengetahui bahwa tuannya sedang memperhatikannya, demikian pula seharusnya seorang hamba bersikap di hadapan Tuhannya (Risalah Qusairiyyah, hlm. 225).
Baik khusyuk maupun muraqabah sama-sama menekankan kesadaran akan kehadiran Allah. Artinya, fokus perhatian dan pengendalian diri diarahkan kepada Allah secara penuh. Kesadaran ini bersifat teosentris, berpusat pada Tuhan, bukan pada ego, keinginan duniawi, atau gangguan-gangguan batin lainnya.
Namun, meskipun keduanya memiliki kemiripan dengan mindfulness, terdapat perbedaan mendasar yang tidak bisa disamakan begitu saja. Mindfulness dalam tradisi psikologi modern umumnya bersifat netral secara spiritual; fokusnya adalah membawa perhatian kembali ke momen kini, menyadari sensasi, pikiran, dan emosi tanpa mengaitkannya dengan kehadiran Yang Transenden.
Sementara itu, khusyuk dan muraqabah bukan sekadar latihan perhatian, tetapi kesadaran spiritual yang berporos pada hubungan hamba dengan Allah. Tujuannya bukan hanya menenangkan batin atau meningkatkan kejernihan pikiran, tetapi menumbuhkan ketundukan, rasa diawasi, dan kedekatan rohani dengan Tuhan.
Bagaimana cara mencapai kesadaran penuh?
Mencapai kesadaran penuh bukan sesuatu yang lahir begitu saja, tetapi tumbuh melalui latihan yang konsisten dan kesediaan untuk hadir sepenuhnya dalam setiap momen.
Dalam tradisi spiritual maupun psikologi modern, langkah pertama yang selalu ditekankan adalah memperlambat diri: memberi ruang bagi pikiran untuk menyadari apa yang sedang terjadi, bukan hanya mengikuti arus reaksi otomatis. Kesadaran penuh dimulai dari keberanian untuk berhenti sejenak, mengambil napas, dan mengamati apa yang sedang dirasakan, baik di tubuh maupun di hati.
Kesadaran semacam ini juga membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri. Kita perlu menerima berbagai pikiran dan emosi yang muncul tanpa tergesa menolaknya. Bukan untuk larut di dalamnya, tetapi untuk melihatnya apa adanya.
Dalam posisi inilah seseorang dapat membedakan antara apa yang ia rasakan, apa yang ia pikirkan, dan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Proses ini menuntut kelembutan, bukan paksaan.
Selain itu, latihan kesadaran penuh menuntut konsistensi dalam hal-hal kecil. Hadir ketika sedang berbicara dengan orang lain, benar-benar menyimak tanpa sibuk merencanakan jawaban.
Hadir atau mindfulness saat makan, merasakan setiap suapan tanpa dikejar distraksi, tanpa diiringi dengan bermain gadget. Hadir ketika beribadah, memfokuskan hati pada makna doa, bukan hanya gerakan lahiriah. Semua praktik kecil ini membangun fondasi bagi kesadaran yang lebih stabil dan mendalam.
Pada akhirnya, ketika kesadaran senantiasa hadir di seluruh aktivitas dan telah terlatih, kita akan menemukan bahwa hidup menjadi lebih terang, lebih lapang, dan lebih bermakna. Kesibukan tetap ada, masalah tidak hilang, tetapi cara kita menghadapinya berubah menjadi lebih tenang, lebih waspada, dan lebih bertanggung jawab. Wallahu a'lam.
Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin Universitas PTIQ Jakarta
