NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Uzlah: Cara Sehat Menenangkan Jiwa di Zaman Modern

NU Online·
Uzlah: Cara Sehat Menenangkan Jiwa di Zaman Modern
uzlah dan ketenangan jiwa (NUO)
Bagikan:

Dinamika kehidupan modern membuat manusia merasa cepat lelah. Terutama anak muda yang acap kali merasa jenuh dengan rutinitas, tuntutan pekerjaan, dan tekanan atas standar sosial dari media digital. Waktu dan energi mereka pun seakan habis sebab mengejar sesuatu yang tidak pernah cukup. Akibatnya banyak yang merasa cemas, mudah marah, dan kehilangan semangat dalam menjalani hidup sehari-hari.

Akan tetapi, Islam sebagai agama yang paripurna, selalu hadir memberikan pedoman solusi dari setiap masalah. Dalam menghadapi ujian labilitas mental, dalam Islam terdapat metode untuk menemukan ketenangan, yakni ialah dengan 'uzlah.

Cara ini sering kali digunakan oleh umat terdahulu untuk menemukan ketenangan, termasuk oleg para nabi dan orang-orang saleh, sebagaimana praktik 'uzlah pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan bahkan Ashabul Kahfi.

Dalam Al-Qur’an diabadikan, Ashabul Kahfi diperintahkan untuk 'uzlah di gua, agar terhindar dari masalah yang mengintai pada zaman itu.

وَاِذِ اعْتَزَلْتُمُوْهُمْ وَمَا يَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ فَأْوٗٓا اِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِّنْ رَّحْمَتِهٖ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِّنْ اَمْرِكُمْ مِّرْفَقًا

Artinya: “Karena kamu juga telah meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka berlindunglah ke dalam gua itu. (Dengan demikian,) niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan bagimu sesuatu yang berguna bagi urusanmu.” (QS. Al-Kahfi[18]: 16)

Nabi Muhammad Saw juga secara langsung menjelaskan, orang yang gemar 'uzlah merupakan manusia terbaik,  setara dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah menggunakan diri dan harta bendanya. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Bukhari, disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللّٰهِ، أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: رَجُلٌ جَاهَدَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، وَرَجُلٌ فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَعْبُدُ رَبَّهُ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ

Artinya: “Dari Abu Sa‘id al-Khudri, ia berkata: 'Seorang Arab Badui datang kepada Nabi Saw, lalu bertanya, “'Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?'Beliau menjawab, '(Yaitu) orang yang berjihad dengan jiwa dan hartanya, serta orang yang berada di salah satu lembah ('uzlah), beribadah kepada Tuhannya dan menjauhkan manusia dari kejahatannya.”  (HR. Al-Bukhari).

Tidak berhenti sampai di sana, salah seorang Sahabat karib Nabi saw pun ikut serta menegaskan, 'uzlah merupakan anjuran langsung dari Allah swt kepada para hamba-Nya, sebagaimana dikutip dari Ibnu Wahb:

أن عمرو بن العاص قال: قد قال الله لأولي الألباب أن يعتزلوا

Artinya: “Dari Amr bin al-Ash, ia berkata: 'Sungguh Allah (seakan-akan) telah berfirman kepada orang-orang yang berakal agar supaya mereka 'uzlah (menjauh, menepi sejenak dari hiruk pikuk dunia).” (Ibnu Wahb, Al-Jami’ fil Hadits, [Riyadh, Darul Ibnu Jauzi: 1995], halaman 523).

Namun menimbang dari semua penjelasan, timbul pertanyaan, apa sebenarnya esensi 'uzlah? Apa manfaat 'uzlah di zaman modern? Untuk menjawabnya, simak tulisan ini sampai selesai.

Apa itu 'Uzlah?

'Uzlah adalah pengasingan diri yang dilakukan secara sadar untuk menjaga hati dan fokus dari kesibukan dunia. Melalui 'uzlah, seseorang berusaha membatasi interaksi bersama orang lain yang tidak perlu, dengan tujuan agar pikirannya tenang. Dijelaskan oleh Aj-Jurjani:

‌العزلة: ‌هي الخروج عن مخاطبة الخلق بالانزواء والانقطاع

Artinya: “'Uzlah adalah menjauh dari berinteraksi dengan manusia melalui menyendiri dan memisahkan diri.” (At-Ta’rifat, [Beirut, Darul Kutub al-‘Ilmiyah: 1983], halaman 150).

Dari definisi yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa 'uzlah merupakan upaya menjauh dari kesibukan duniawi dengan cara menepi dan memisahkan diri. Namun, 'uzlah bukan bentuk pengasingan, tetapi sarana pengendalian diri agar tidak terlalu larut dalam urusan sosial yang dapat mengganggu ketenangan.

Sayydina Umar bin Khattab mengatakan, 'uzlah merupakan upaya mencari ketenangan dengan cara menarik diri dari pergaulan yang kurang baik.

أن عمر بن الخطاب قال: وإن العزلة راحة من خلاط السوء

Artinya: “Umar bin Khattab berkata: Uzlah adalah istirahat atau pencarian ketenangan dari pergaulan yang buruk (tidak sehat)." (Ibnu Wahb, 526)

Manfaat 'Uzlah 

Dalam menjelaskan manfaat 'uzlah, Imam Al-Ghazali memaparkan, 'uzlah memiliki banyak manfaat, baik dari sisi agama maupun dari sisi kehidupan dunia.

Pertama, dalam aspek keagamaan 'uzlah memberi ruang bagi orang untuk memperbanyak ibadah, memperdalam ilmu, dan melakukan perenungan tanpa distraksi. Dengan menyendiri, orang lebih mudah menjaga diri dari dosa yang sering muncul dalam pergaulan, seperti riya', ghibah, atau lalai dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Selain itu, 'uzlah membantu seseorang terhindar dari pengaruh buruk teman yang bisa menanamkan sifat dan kebiasaan yang tercela.

Kedua, dari sisi duniawi 'uzlah membawa manfaat praktis. Dalam kesendirian, seseorang dapat lebih fokus menekuni profesi atau keterampilannya tanpa gangguan. Selain itu, Ia juga terlindungi dari berbagai risiko sosial seperti godaan dunia yang berlebihan, ambisi terhadap manusia, dan keinginan untuk dipuji atau diakui.

'Uzlah dapat membantu menjaga kehormatan diri, menghindar dari konflik sosial, serta menenangkan pikiran dari kelelahan akibat pergaulan yang tidak sehat. (Ihya’ ‘Ulumuddin, [Beirut, Darul Mu’arrafah: tt.] jilid II, halaman 226).

Untuk lebih mudah mengingat, Al-Ghazali merangkum manfaat 'uzlah ini dengan membaginya menjadi 6 poin penting, yakni:

وإلى هذا ترجع مجامع فوائد العزلة فلنحصرها في ست فوائد: الفائدة الأولى التفرّغ للعبادة والفكر والإستئناس بمناجاة الله. الفائدة الثانية التخلص بالعزلة عن المعاصي التي يتعرض الإنسان لها. الفائدة الثالثة الخلاص من الفتن والخصومات وصيانة الدين والنفس عن الخوض فيها. الفائدة الرابعة الخلاص من شر الناس. الفائدة الخامسة أن ينقطع طمع الناس عنك وينقطع طمعك عن الناس. الفائدة السادسة الخلاص من مشاهدة الثقلاء والحمقى ومقاساة حمقهم

Artinya: “(Al-Ghazali) Kepada hal inilah kembali seluruh pokok manfaat dari uzlah, kami meringkasnya menjadi enam manfaat, yakni: 1) dapat mengosongkan diri untuk beribadah, berfikir, dan bermunajat kepada Allah dengan tenang; 2) menjauhkan diri dari berbagai maksiat yang sering menjadi kecenderungan manusia; 3) membebaskan diri dari fitnah dan pertengkaran, sekaligus menjaga agama dan diri agar tidak terlibat di dalamnya; 4) melindungi diri dari kejahatan dan keburukan manusia; 5) memutus harapan manusia terhadap kita dan memutus ketergantungan kita terhadap manusia; serta 6) menghindarkan diri dari pergaulan dengan orang-orang yang bodoh atau menyulitkan, agar tidak terbebani oleh kebodohan dan perilaku mereka." (Al-Ghazali, II/226-235).

Cara Praktis 'Uzlah di Zaman Modern

Di zaman ini, dalam melakukan 'uzlah tidak perlu harus sama persis dengan cara umat atau para nabi terdahulu. Yakni dengan menyendiri di gua, naik gunung selama berbulan-bulan dan sebagainya. Akan tetapi, yang terpenting adalah melakukan 'detoksifikasi' segala hal buruk dalam diri. Penulis, merangkum beberapa cara praktis untuk melakukan 'uzlah di zaman modern ini. Di antaranya: 

  1. Membatasi Interaksi Digital. Salah satu bentuk 'uzlah yang paling relevan saat ini adalah digital detox atau berpuasa dari media sosial. 

    Sebab banyak orang merasa kehilangan ketenangan karena terus-menerus terpapar informasi, komentar, dan perbandingan hidup di dunia maya. Dengan mengurangi intensitas penggunaan gawai, terutama media sosial, seseorang dapat menata kembali pikirannya dan mengembalikan fokus kepada hal-hal yang lebih hakiki. 

    Tidak perlu menyusun cara-cara yang merepotkan. Gunakan cara yang sederhana saja. Misalnya, menetapkan hari tertentu tanpa internet, atau hanya membuka media sosial setelah ibadah dan pekerjaan utama selesai.
     
  2. Menyisihkan waktu muhasabah sendirian. 'Uzlah modern ini, juga dapat kita lakukan dengan mengalokasikan waktu khusus untuk tenang dan mengintropeksi. 

    Misalnya, satu atau dua hari dalam sebulan menghabiskan waktu sendirian di tempat yang tenang, seperti masjid, taman, atau bahkan kamar pribadi tanpa gangguan percakapan dengan orang lain atau sibuk dengan merespon notifikasi. 

    Dalam waktu itu, kita bisa memaksimalkannya juga dengan membaca Al-Qur’an, merenung, menulis refleksi diri, atau berdzikir. Rasulullah saw sendiri memiliki kebiasaan menyendiri di Gua Hira sebelum masa kenabian, untuk bertafakkur dan mencari makna hidup.
     
  3. Bergaul dengan orang-orang baik. Sebab, secara esensial 'uzlah tidak berarti memutus hubungan sosial, melainkan menata ulang prioritas dalam bergaul. 

    Dalam kehidupan modern, banyak interaksi yang hanya bersifat formalitas dan melelahkan secara emosional. Oleh sebab itu, memilih lingkungan pertemanan yang positif dan membatasi percakapan yang tidak bermanfaat termasuk bentuk 'uzlah hati.

'Uzlah menjadi cara sehat untuk menenangkan jiwa di zaman modern. Sebuah metode yang telah teruji oleh banyak orang hebat lintas masa. Mulai dari orang-orang shaeh, hingga para nabi, termasuk Rasulullah saw. 

Karena itu, 'uzlah layak diamalkan agar kesehatan mental, jasmani, dan rohani berada dalam standar kenormalan, sehingga tetap nyaman digunakan untuk beraktivitas dalam hal-hal positif dan beribadah kepada Allah. Wallahu a’lam.

Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman

Artikel Terkait