IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Ini 15 Musuh Iblis dari Kalangan Umat Nabi Muhammad

Selasa 11 Desember 2018 6:30 WIB
Share:
Ini 15 Musuh Iblis dari Kalangan Umat Nabi Muhammad
Peringatan atas bahaya godaan Iblis dan setan dapat ditemukan di banyak ayat Al-Qur’an. Peringatan atas segala jenis tipu daya Iblis dan setan dengan antara lain disebutkan di Surat Fathir ayat 5-6 berikut ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ. إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Artinya, “Hai manusia, sungguh janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah penipu ulung memperdayakan kamu tentang Allah. Sungguh setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh,” (Surat Fathir ayat 5-6).

Surat Fathir ayat 5-6 mengingatkan manusia untuk mengambil posisi dan sikap yang jelas terhadap Iblis dan setan. Sikap bermusuhan dengan Iblis dan setan tidak mudah karena tipu daya keduanya sering kali tampak halus.

Pada ayat lain, Allah mengaingatkan bahwa Iblis dan setan mendorong anak Adam secara nyata ke arah perbuatan jahat dan keji sebagaimana Surat Al-Baqarah ayat 168-169 berikut ini:

وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ * إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan karena sungguh ia adalah musuh yang nyata bagimu. Sungguh setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui,” (Surat Al-Baqarah ayat 168-169).

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes mencatat dialog Iblis dan Nabi Muhammad SAW perihal umatnya yang menjadi musuh Iblis. Pada dialog itu, Iblis menyebut lima belas macam orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang menjadi musuhnya.

أمر الله تعالى إبليس أن يأتي صلى الله عليه وسلم ويجيبه عن كل ما يسأله

Artinya, “Suatu hari Allah memerintahkan Iblis untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan olehnya,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 280).

“Untuk apa kau datang?” kata Nabi Muhammad SAW.

“Allah memerintahkanku untuk mendatangi dan menjawab semua pertanyaan yang kaujaukan kepadaku,” jawab Iblis.

“Ok, wahai makhluk yang dikutuk oleh Allah, berapa musuhmu dari kalangan umaktu?” tanya Nabi Muhammad SAW.

“Lima belas,” kata Iblis segera menyebutkan rincian lima belas itu.

Pertama, Kamu (Nabi Muhammad SAW).

Kedua, pemimpin yang adil.

Ketiga, orang kaya yang rendah hati.

Keempat, pengusaha yang jujur.

Kelima, orang alim yang berusaha khusyuk.

Keenam, orang beriman yang ikhlas.

Ketujuh, orang beriman yang berhati penyayang.

Kedelapan, orang tobat yang istiqamah.

Kesembilan, orang yang berhati-hati (wara‘) dari barang haram.

Kesepuluh, orang beriman yang menjaga wudhu.

Kesebelas, orang beriman yang banyak sedekah.

Kedua belas, orang beriman yang baik budi dalam interaksi dengan orang lain.

Ketiga belas, orang beriman yang berguna bagi orang lain.

Keempat belas, penghafal Al-Qur’an yang selalu melafalkannya.

Kelima belas, mereka yang tahajud di saat orang lain ternyenyak.

Ayat Al-Quran dan riwayat ini mendorong kita untuk waspada terhadap godaan Iblis dan setan. Semoga Allah menjadikan kita menjadi salah satu dari 15 jenis umat Nabi Muhammad SAW yang menjadi musuh Iblis dan setan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Senin 10 Desember 2018 18:0 WIB
Saat Abu Hanifah Tolak Tawaran Berteduh
Saat Abu Hanifah Tolak Tawaran Berteduh
Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsâbit (80-150 H) adalah salah satu imam mazhab empat yang hidup pada periode tabi’in. Ia mendapati sahabat Anas bin Malik dan beberapa sahabat peserta perang badar.

Kealimannya di bidang fiqih diakui khalayak. Para ulama sudah bersepakat. Karena kredibilitas dan kapabilitasnya, Abu Hanifah layak menyandang level mujtahid mutlak. Artinya, ia sudah boleh menggali hukum agama dari Al-Qur’an hadits dan sebagainya secara mandiri tanpa bergantung pada pendapat orang lain.

Abu Hanifah selain masyhur sebagai punggawa kajian fiqih ternyata dia pelaku fiqih murni yang seolah hanya membicarakan sisi hitam-putih, namun ia juga memadukannya dengan ilmu-ilmu yang lain. Di antara ramuan fiqihnya, Abu Hanifah memadukan fiqihnya yang hebat dengan tashawufnya yang matang.

Dalam dunia tasawuf, dikenal sebuah kutipan, “Barang siapa mendalami aspek fiqih saja seraya meninggalkan amaliyah tashawwuf, ia sangat berpotensi terjerumus pada tindakan fâsiq. Barang siapa hanya bertashawwuf saja namun tidak dibarengi dengan fiqih yang tepat, ia bisa menjadi zindiq (imannya hanya berpura-pura saja). Dan barang siapa yang bisa menggabungkan keduanya, berarti ia sudah pada derajat tahqiq (beragama dengan sesungguhnya).” Demikian perkataan Imam Malik yang sangat terkenal itu dikutip dalam Kitab Al-Futûhât Al-Ilâhiyyah halaman 64.

Menelisik sisi kehati-hatian Abu Hanifah salah satunya adalah sebuah cerita dari Imam As-Sya’rani yang bersumber dari Syaqîq Al-Balkhi sebagai berikut.

Satu ketika, Imam Hanifah itu tidak berkenan duduk atau berteduh di terasnya orang yang sedang mempunyai utang kepada Abu Hanifah. Sebab apa? Alasan Abu Hanifah tidak mau berteduh adalah:

اِنَّ عِنْدَهُ لِيْ قَرْضًا وَكُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبًا. وَجُلُوْسِيْ فِيْ ظِلِّ جِدَارِهِ اِنْتِفَاعٌ بِهِ

Artinya, “Sesunggunya dia mempunyai hutang kepadaku. Padahal aturannya, setiap hutang-piutang yang menarik sebuah keuntungan di salah satu pihak, itu termasuk riba. Nah, dudukku berteduh di bawah naungan orang tersebut berarti saya mengambil sisi manfaat darinya,” (Lihat Muhammad bin Salim Bâ Bashîl, Is’adur Rafîq, [Al-Haramain], juz I, halaman 143).

Demikianlah kelembutan dan kejernihan hati Abu Hanifah. Jadi, pijakan hukumnya begitu mendalam. Kalau kita cermati pada aturan dasar hukum fiqih, jika ada orang berhutang, tidak boleh ada bunganya (atau manfaat sejenis), namun larangannya selama aturan bunga disepakati dalam majelis transaksi.

Misalkan Ahmad berhutang kepada Abdullah sebanyak Rp. 100.000,-. Selama transaksi berlangsung mereka berdua tidak ada kesepakatan nanti saat mengembalikan uangnya harus lebih dari jumlah nominal hutang.

Tapi apabila dalam transaksi tanpa ada kesepakatan riba, namu besok lusa ternyata Abdullah ketemu dengan Ahmad dan kemudian ia menyusuli aturan “Besok kalau mengembalikan ditambah Rp. 20.000,- ya!.” Sekali lagi, secara aturan standar fiqih, demikian tidak ada masalah. Karena sudah tidak dalam satu transaksi pertama tadi.

Di sinilah letak tashawwuf dijalankan. Imam Abu Hanifah saat transaksi tidak melakukan riba. Namun lebih dari itu, bahkan sampai sudah pisah pun, ia tidak berkenan mengambil keuntungan padahal hanya sekedar berteduh di emperan orang yang mempunyai hutang kepadnya. Inilah contoh sikap wira’i Abu Hanifah yang patut kita contoh.

Dengan demikian, dapat kita ambil kesimpulan, berusaha merawat hati itu sangat penting. Kalau ada orang hatinya bersih, pribadinya akan timbul kehati-hatian dari makan harta haram, tidak sombong, suka mencela orang lain dan sebagainya. Tidak heran, jika dalam Kitab Lathâiful Ma’ârif karya Ibnu Abi Rajab Al-Hanbali disebutkan: 

الإشتغال بتطهير القلوب أفضل من الإستكثار من الصوم والصلاة مع غش القلوب

Artinya, “Sibuk membersihkan hati itu lebih utama daripada memperbanyak puasa, shalat, namun dengan hati yang tercemar.” Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)
Kamis 6 Desember 2018 19:0 WIB
Ini Alasan Allah Mencintai Masjid dan Membenci Pasar
Ini Alasan Allah Mencintai Masjid dan Membenci Pasar
(Foto: @slideshare)
Sejarah menyebutkan Nabi membangun komunitas masyarakat Madinah dengan masjid sebagai porosnya. Umat Islam masa awal banyak berinteraksi dengan Nabi dan sesama umat muslimin di masjid Nabawi.

Tapi Nabi bukan orang yang hanya berdiam di masjid, sibuk dengan ibadah sendiri. Surah Al-Furqan ayat 20 menyebutkan:

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ...

Artinya, “Kami tidak mengutus sebelummu para rasul, melainkan sesungguhnya mereka sungguh memakan makanan (seperti kalian) dan berjalan di pasar...”

Secara eksplisit ayat tersebut menunjukkan perilaku Nabi sebagaimana manusia umumnya: makan dan minum seperti biasa, juga berinteraksi dan berniaga di pasar. Di masa mudanya Nabi Muhammad pun berdagang-yang dalam prosesnya mempertemukan beliau dengan sosok Khadijah binti Khuwailid.

Nabi pernah menyebutkan dalam hadits tentang kemuliaan masjid dan keburukan pasar. Salah satu hadits yang sering dikutip adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا»

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda, ‘Negeri (tempat) yang paling dicintai Allah adalah pada masjid-masjidnya, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya,’” (HR Muslim).

Keramaian pasar, dengan segala ingar-bingar, kekumuhan, kerusuhan, dan kongkalikong di dalamnya dipandang sebagai tempat yang buruk dan bahkan, dimurkai Allah. Padahal, perekonomian kita hidup di pasar–terlebih pasar-pasar tradisional.

Lantas apakah jika kita bekerja atau berniaga di pasar, hal itu membuat Allah murka kepada kita?

Terkesan bertentangan antara keterangan ayat di awal artikel ini, dengan hadits di bawahnya. Bagaimana bisa Nabi beraktivitas di tempat yang dimurkai Allah? 

Perlu pemahaman yang lebih bijak tentang maksud, “Pasar adalah tempat yang dimurkai Allah.” Hemat penulis, tidak ada yang salah dengan aktivitas niaga di pasar. Mengenai keutamaan masjid dibanding pasar tersebut, Imam An-Nawawi memaparkan dalam Syarah Shahih Muslim berikut:

قَوْلُهُ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا لِأَنَّهَا بُيُوتُ الطَّاعَاتِ وَأَسَاسُهَا عَلَى التَّقْوَى قَوْلُهُ وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا لِأَنَّهَا مَحَلُّ الْغِشِّ وَالْخِدَاعِ وَالرِّبَا وَالْأَيْمَانِ الْكَاذِبَةِ وَإِخْلَافِ الْوَعْدِ وَالْإِعْرَاضِ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا فِي مَعْنَاهُ 

Artinya, “Nabi bersabda, ‘tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid’ karena masjid merupakan tempat ketaatan, dan didirikan atas dasar ketakwaan. Sedangkan kalimat ‘tempat yang paling Allah benci adalah pasar’, karena di pasar adalah tempat tipu-tipu, riba, janji-janji palsu, dan mengabaikan Allah, serta hal serupa lainnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Syarah An-Nawawi ‘ala Sahih Muslim, [Beirut, Daru Ihyait Turats Al-Arabi: 1392 H).

Melalui keterangan Imam An-Nawawi di atas, dapat dipahami bahwa masjid itu mulia karena perilaku orang di dalamnya, demikian halnya di pasar, ia menjadi tempat yang tidak disukai Allah karena hal yang dilakukan di sana.

Menurut Imam As-Suyuthi, sebagaimana dikutip Syekh Ali bin Muhammad bin ‘Illan dalam Dalilul Falihin li Thuruq Riyadhus Shalihin hadits di atas adalah bentuk ungkapan tempat dengan disifati atas hal yang dilakukan di dalamnya (majaz washfil makan bi shifati ma yaqa’u fiihi).

Sederhananya, masjid itu mulia bukan sebab ‘dirinya sendiri’ atau memang secara dzat-nya sudah mulia, melainkan karena perilaku kebajikan di dalamnya seperti zikir, membaca Al-Quran, shalawat, majelis ilmu maupun aksi sosial.

Demikian pula Allah membenci pasar, karena keburukan yang dilakukan di dalam pasar, baik dari segi perniagaan maupun komunikasi antarsesama. ‘Ala kulli hal, tidak ada yang salah dengan aktivitas niaga kita di pasar atau pusat perbelanjaan lain, selama menjaga diri dari tindakan yang dapat merugikan sesama, alih-alih memicu konflik.

Begitupun di masjid, mestinya diisi dengan kegiatan yang baik, bukan dengan hal-hal buruk yang dianggap lumrah di pasar. Caci maki, tipu-tipu, agaknya akan mencederai kemuliaan masjid. Ingat, kemuliaan orang yang ada di masjid bukan semata-mata karena berdiam di sana, tapi tergantung apa yang dilakukan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)
Ahad 2 Desember 2018 20:30 WIB
Ini Tiga Pendusta Agama
Ini Tiga Pendusta Agama
(Foto: @isqw.us)
Kata “pendusta agama” dapat ditemukan di Al-Quran pada awal Surat Al-Ma‘un. Kata ini masuk ke dalam kalimat pertanyaan yang segera dijawab pada ayat selanjutnya. Pendusta agama pada ayat ini bukan ia yang abai dengan simbol-simbol formal agama, tetapi ia yang tidak berjiwa sosial. Surat ini mengingatkan kita yang cenderung beragama lebih secara formal.

Kata “pendusta agama” pada ayat ini dikaitkan dengan ketidakpedulian seseorang yang mengaku beragama terhadap masyarakat yang terbelakang secara ekonomi dan unsur masyarakat yang terlantar.

Berikut ini adalah tiga ayat pertama Surat Al-Ma‘un.

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ.فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ.وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Artinya, “Tahukah kau (wahai Muhammad) siapa orang yang mendustakan agama? Dia adalah orang yang menghardik anak yatim, tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin,” (Surat Al-Ma‘un ayat 1-3).

Sementara Imam Hatim bin Ulwan Al-Asham juga mengaitkan bukti pengakuan cinta agama seseorang dan perilaku keseharian yang bersangkutan. Pasalnya, banyak orang yang mengaku cinta Allah, cinta Rasulullah SAW, dan cinta surga memiliki perilaku yang berjauhan dengan semangat agama itu sendiri.

وقال حاتم بن علوان قدس سره من ادعى ثلاثا بغير ثلاث فهو كذاب: من ادعى حب الله تعالى من غير ورع عن محارمه فهو كذاب، ومن ادعى محبة النبي من غير محبة الفقر فهو كذاب ومن ادعى حب الجنة من غير إنفاق ماله فهو كذاب.

Artinya, “Hatim bin Ulwan Al-Asham mengatakan, ‘Siapa saja yang mengaku tiga hal tanpa disertai tiga hal, maka ia pendusta. Pertama, siapa saja yang mengaku cinta Allah tanpa sikap wara’ dari yang diharamkan, maka ia pendusta. Kedua, siapa saja yang mengaku cinta Nabi Muhammad SAW tanpa sikap ‘mencintai’ kefakiran, maka ia pendusta. Ketiga, siapa saja yang mengaku cinta surga tanpa menginfakkan hartanya, maka ia pendusta,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten dalam Syarah Qami'ut Thughyan, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 5).

Agama Islam memiliki tuntutan formal yaitu shalat, zakat, puasa, haji, muamalah, perkawinan, dan sebagainya. Tanggung jawab umat Islam tidak selesai hanya dengan menunaikan tuntutan formal tersebut. Agama Islam juga memiliki tuntutan sosial yang sama wajibnya dengan tuntutan formal.

Adapun orang yang mencintai Nabi Muhammad SAW secara formal bisa dibuktikan dengan jumlah bacaan shalawat. Tetapi cinta kepada Nabi Muhammad SAW dapat dibuktikan dengan kepedulian terhadap anak yatim dan fakir miskin.

Mereka yang menderita kefakiran diharuskan tetap menjaga sunnah nabi, yaitu pergi ke pasar untuk berikhtiar, tidak bersikap pasif, dan tidak berbuat kalap karena kefakirannya.

Sebagaimana diketahui Imam Abu Abdirrahman Hatim bin Ulwan yang wafat pada tahun 237 H dijuluki Imam Hatim Al-Asham. Secara harfiah Imam Hatim Al-Asham berarti Syekh Hatim yang tuli karena pernah berpura-pura tuli karena menyelamatkan muka tamunya.

Ia merupakan seorang ulama yang menjadi kiblat masyarakat Khurasan di zamannya karena keilmuan dan kezuhudannya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)