IMG-LOGO
Shalat

Shalat dengan Sisa Rasa Pedas di Lidah, Apakah Sah?

Sabtu 12 Januari 2019 9:0 WIB
Share:
Shalat dengan Sisa Rasa Pedas di Lidah, Apakah Sah?
Salah satu hal yang membatalkan dalam shalat adalah mengonsumsi makanan atau minuman saat shalat sedang berlangsung. Maksudnya, shalat yang sedang dilakukan seseorang akan menjadi batal ketika adanya benda (‘ain) yang masuk dalam salah satu lubang yang berpangkal pada organ bagian dalam—yang dalam istilah fiqih biasa disebut dengan jauf, seperti mulut, telinga, hidung. 

Lubang jauf ini terdapat batas awal yang mana ketika benda melewati batas ini maka shalat seseorang menjadi batal, namun ketika belum melewati batas ini maka shalatnya tidak batal. Dalam hidung, batas awalnya adalah bagian yang disebut dengan muntaha khaysum (pangkal insang) yang sejajar dengan mata; dalam telinga batas awalnya adalah bagian dalam yang sekiranya tidak telihat oleh mata; sedangkan dalam mulut, batas awalnya adalah tenggorokan yang biasa disebut dengan hulqum.

Ketentuan ini sama persis seperti halnya perkara yang membatalkan puasa karena masuknya benda di dalam lubang-lubang dalam tubuh. Shalat atau puasa seseorang menjadi batal ketika terdapat air, makanan atau zat kebendaan lain yang masuk dalam lubang jauf tersebut. 

Hal yang sering terjadi dan masih berkaitan dengan permasalahan ini adalah terkait sisa-sisa rasa pedas yang menetap di lidah ketika setelah mengonsumsi makanan yang pedas. Apakah sisa-sisa rasa tersebut dapat menyebabkan shalat yang dilakukan seseorang menjadi batal? 

Sisa-sisa rasa pedas yang terdapat di lidah, jika memang tidak ada wujud zat kebendaan yang menetap di lidah dan tidak mengubah terhadap warna dan rasa dari air liur maka sisa rasa  pedas ini tidak membatalkan shalat, sebab hal itu hanyalah sebuah atsar (bekas) yang tidak berpengaruh dalam keabsahan shalat seseorang. 

Namun jika sisa rasa pedas yang melekat di lidah terdapat zat kebendaan (‘ain), seperti terdapat potongan dari cabai yang melekat di sela-sela mulut, maka shalat menjadi batal ketika potongan cabai tersebut ditelan dan melewati tenggorokan. Berbeda halnya ketika potongan cabai hanya menetap di bagian mulut saja, maka hal ini tidak membatalkan shalat karena tidak melewati batas awal jauf  dalam mulut yakni tenggorokan.

Sedangkan ketika rasa pedas tidak terkandung zat kebendaan, namun nyatanya dapat mengubah rasa dari air liur menjadi ikut pedas, dan air liur tersebut tertelan, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama’. Sebagian berpendapat bahwa menelan air liur tersebut dapat membatalkan shalat, karena perubahan rasa menunjukkan adanya zat kebendaan yang melekat dalam air liur. Sedangkan ulama yang lain berpandangan bahwa menelannya tidak membatalkan shalat, karena dalam hal ini perubahan rasa hanya sebatas hal yang mengiringi (mujawir) air liur, bukan hal yang bercampur dengan air liur. 

Perincian di atas seperti yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ala Syarh al-Manhaj:

أَمَّا مُجَرَّدُ الطَّعْمِ الْبَاقِي مِنْ أَثَرِ الطَّعَامِ فَلا أَثَرَ لَهُ لانْتِفَاءِ وُصُولِ الْعَيْنِ إلَى جَوْفِهِ وَلَيْسَ مِثْلُ ذَلِكَ الأَثَرُ الْبَاقِي بَعْدَ الْقَهْوَةِ مِمَّا يُغَيِّرُ لَوْنَهُ أَوْ طَعْمَهُ فَيَضُرُّ ابْتِلَاعُهُ لأَنَّ تَغَيُّرَ لَوْنِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ بِهِ عَيْنًا وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ بِعَدَمِ الضَّرَرِ لأَنَّ مُجَرَّدَ اللَّوْنِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اكْتَسَبَهُ الرِّيقُ مِنْ مُجَاوَرَتِهِ لِلأَسْوَدِ مَثَلا وَهَذَا هُوَ الأَقْرَبُ أُخِذَ مِمَّا قَالُوهُ فِي طَهَارَةِ الْمَاءِ إذَا تَغَيَّرَ بِمُجَاوِرٍ اهـ

“Rasa yang tersisa dari bekas makanan tidak membatalkan shalat, sebab tidak adanya zat kebendaan (‘ain)  pada organ dalam seseorang yang sedang shalat. Dan tidak sama dengan hal tersebut yaitu bekas yang tersisa setelah meminum kopi berupa sesuatu yang dapat mengubah warna air liur atau mengubah rasa dari air liur, maka menelan air liur ini dapat membahayakan shalat (membatalkan shalat) , sebab perubahan warna air liur menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat zat kebendaan. 

Dan masalah ini juga bisa saja dikatakan tidak membahayakan shalat, sebab berubahnya warna bisa saja disebabkan karena upaya air liur yang bersanding dengan warna hitam yang ada di dalam kopi misalnya. Pendapat demikian justru yang mendekati kebenaran, berdasarkan keterangan yang disebutkan oleh para ulama’ tentang sucinya air ketika berubah disebabkan hal yang menyandinginya.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ala Syarh al-Manhaj, juz 1, hal. 436)

Rasa pedas yang dicontohkan di atas bukanlah sebuah hal yang paten. Sehingga perincian hukum seperti di atas  juga berlaku pada rasa-rasa lain yang biasa melekat setelah mengonsumsi sebuah makanan, seperti rasa masam, manis dan rasa-rasa lainnya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Sabtu 12 Januari 2019 17:0 WIB
Posisi Shaf Shalat Perempuan Sejajar dengan Laki-Laki, Salahkah?
Posisi Shaf Shalat Perempuan Sejajar dengan Laki-Laki, Salahkah?
Ilustrasi (Reuters)
Sebagaimana yang umum tercantum dalam literatur fiqih, konsep penataan shaf yang dianjurkan dalam shalat berjamaah adalah berurutan mulai dari laki-laki dewasa, anak kecil, dan shaf terakhir ditempati oleh perempuan. Sehingga, ketika ketentuan penataan shaf dengan formasi demikian dilanggar, maka dihukumi makruh yang akan berpengaruh dalam hal hilangnya fadilah jamaah dari ritual shalat berjamaah yang dilakukan.

Penjelasan tentang perempuan menempati posisi shaf paling belakang berdasarkan hadits:

خير صفوف الرجال أولها وشرها آخرها وخير صفوف النساء آخرها وشرها أولها (رواه مسلم) ـ

“Shaf yang paling baik bagi laki-laki adalah shaf yang paling awal, sedangkan shaf yang paling buruk bagi mereka adalah shaf yang paling akhir. Dan shaf yang paling baik bagi wanita adalah shaf yang paling akhir, sedangkan shaf yang paling buruk bagi mereka adalah shaf yang paling awal.” (HR. Muslim)

Maksud dari redaksi “shaf yang paling buruk” dalam hadits di atas adalah bahwa menempati shaf tersebut mendapatkan pahala yang paling sedikit dan dianggap menjauhi anjuran syara’.

Namun hal yang layak untuk cermati lebih dalam, apakah makna dari hadits di atas adalah umum dan meyeluruh pada seluruh shaf yang berlaku dalam shalat berjamaah? Atau hanya bermakna khusus, karena ada illat (penyebab atau alasan dasar) tertentu yang mendasari wanita dianjurkan berada di shaf paling belakang? Mengingat realitas yang sering terlaku di masyarakat, posisi shaf wanita berada di bagian kanan atau kiri jamaah laki-laki yang menempati ruang berbeda atau dipisah dengan satir (penghalang) antara jamaah wanita dan jamaah laki-laki,sehingga para jamaah wanita ini sejajar dengan shaf jamaah laki-laki dalam shalat berjamaah.

Setelah ditelaah secara mendalam, ternyata hal yang mendasari penempatan shaf wanita berada di akhir adalah dikarenakan konteks penempatan shalat berjamaah dalam hadits di atas yaitu ketika antara laki-laki dan wanita berada di satu tempat yang sama (ikhtilath). Sehingga ketika wanita berada di shaf awal, secara otomatis mereka bersanding dengan jamaah laki-laki dan hal ini jelas dianggap tidak pantas. Oleh sebab itu, wanita dianjurkan untuk menjauh dari jamaah laki-laki dengan menempati shaf yang paling belakang agar dapat terhindar dari fitnah serta larangan percampuran antara laki-laki dan perempuan dalam satu ruangan.

Sehingga ketika wanita dalam shalat berjamaahnya berada di ruangan tersendiri atau dipisah dengan penghalang yang mencegah pandangan jamaah laki-laki dari jamaah wanita, maka dalam keadaan demikian, posisi shaf yang paling utama bagi wanita adalah shaf yang paling awal, sebab illat (alasan yang mendasari sebuah hukum) kesunnahan menempati shaf paling belakang bagi wanita yang berupa menghindari fitnah dan percampuran dengan laki-laki dalam satu tempat, dalam keadaan ini illat tersebut sudah tidak wujud, sehingga hukum yang dihasilkan menjadi berbeda. Ketentuan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab Tafsir Ruh al-Bayan:

خير صفوف الرجال أولها وشرها آخرها وخير صفوف النساء آخرها وشرها أولها قال في فتح القريب هذا ليس على عمومه بل محمول على ما إذا اختلطن بالرجال فإذا صلين متميزات لا مع الرجال فهن كالرجال ومن صلى منهن في جانب بعيد عن الرجال فأول صفوفهن خير لزوال العلة والمراد بشر الصفوف في الرجال والنساء كونها أقل ثواباً وفضلاً وأبعدها عن مطلوب الشرع وخيرها بعكسه

“Shaf yang paling baik bagi laki-laki adalah shaf yang paling awal, sedangkan shaf yang paling buruk bagi mereka adalah shaf yang paling akhir. Dan shaf yang paling baik bagi wanita adalah shaf yang paling akhir, sedangkan shaf yang paling buruk bagi mereka adalah shaf yang paling awal. Dalam kitab Fath al-Qarib dijelaskan bahwa hadits ini tidaklah bermakna seperti halnya keumumannya akan tetapi diarahkan ketika wanita berkumpul bersama dengan laki-laki (dalam shalat berjamaah). Ketika para wanita shalat secara terpisah, tidak bersama dengan laki-laki, maka dalam hal ini mereka seperti laki-laki (dalam hal shaf yang paling utama adalah shaf yang di depan).

Wanita yang shalat di tempat yang jauh dari jangkauan jamaah laki-laki maka awal shaf bagi wanita tersebut adalah shaf yang paling baik, dikarenakan hilangnya illah (alasan yang mendasari sebuah hukum). maksud dari “seburuk-buruknya shaf bagi laki-laki dan wanita” bahwa menempati shaf tersebut mendapatkan pahala yang paling sedikit dan dianggap menjauhi anjuran syara’, sedangkan hal yang paling baik adalah kebalikannya.” (Syekh Isma’il Haqi bin Mushtafa al-Hanafi, Tafsir Ruh al-Bayan, juz 4, hal. 303)

Berdasarkan referensi tersebut maka tradisi yang sering terlaku di masyarakat berupa penempatan shaf wanita yang berada di awal shaf shalat berjamaah merupakan hal yang sudah benar dan tidak perlu disalahkan, bahkan merupakan hal yang dianjurkan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa asalnya shaf jamaah wanita dalam shalat berjamaah menempati posisi shaf yang paling akhir, sesuai dengan penjelasan yang terdapat dalam hadits. Namun anjuran tersebut hanya berlaku ketika laki-laki dan perempuan berada dalam satu tempat tanpa adanya pemisah. Sehingga ketika jamaah wanita berada di tempat yang berbeda dan terpisah dari jamaah laki-laki, maka shaf awal adalah shaf yang paling dianjurkan bagi mereka, seperti halnya ketentuan shaf yang dianjurkan bagi laki-laki. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Jumat 11 Januari 2019 15:0 WIB
Posisi Shaf Anak Kecil dalam Shalat Berjamaah
Posisi Shaf Anak Kecil dalam Shalat Berjamaah
Ilustrasi (deshebideshe.com)
Dalam menggapai kesempurnaan, pelaksanaan shalat berjamaah harus sesuai dengan berbagai ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’. Sebab, jika terdapat salah satu hal yang dimakruhkan dalam shalat berjamaah, maka akan berpengaruh terhadap fadhilah (keutamaan) shalat berjamaah.

Salah satu ketentuan yang harus diperhatikan dalam shalat berjamaah adalah tentang pengaturan shaf anak kecil dalam shalat berjamaah. Sebab jika anjuran ini tidak diperhatikan maka akan berakibat pada hilangnya fadhilah shaf pada shalat jamaah, bahkan menurut sebagian pendapat fadhilah shalat berjamaah menjadi hilang.

Sebelum menjelaskan tentang posisi shaf anak kecil dalam shalat berjamaah, patut diketahui bahwa anjuran syara’ dalam hal penempatan para makmum secara umum dalam shalat berjamaah adalah dengan cara menempatkan makmum laki-laki yang dewasa (sudah baligh) pada barisan paling depan (shaf awal) lalu ketika shaf awal tidak cukup maka dilanjutkan pada shaf selanjutnya, lalu di belakang barisan laki-laki dewasa ditempati oleh anak kecil laki-laki yang belum baligh, lalu shaf selanjutnya ditempati oleh khuntsa (orang berkelamin ganda), lalu shaf selanjutnya ditempati oleh para wanita. Ketentuan seperti inilah yang dianjurkan oleh syara’ agar pelaksanaan shalat berjamaah menjadi sempurna. 

Berdasarkan ketentuan di atas, sebaiknya anak kecil tidak menempati shaf-shaf awal selama masih ada laki-laki dewasa yang akan menempatinya. Karena tempat shaf bagi mereka adalah di belakang laki-laki dewasa. Barulah ketika shaf awal tidak penuh, anak kecil boleh untuk menempati shaf-shaf awal yang sejajar dengan laki-laki yang dewasa dalam rangka menyempurnakan shaf. 

Ketentuan tidak bolehnya anak kecil menempati shaf paling depan dalam penjelasan di atas mengecualikan ketika anak kecil memang datang terlebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang yang telah baligh, maka dalam hal ini anak kecil diperkenankan untuk menempati shaf depan, dan tidak perlu disingkirkan pada shaf di belakangnya, sebab mereka masih dianggap satu jenis dengan laki-laki yang telah baligh. ketentuan di atas tercantum dalam kitab Mauhibah dzi al-Fadhal:

ـ (ويقف) ندبا فيما إذا تعددت أصناف المأمومين (خلفه الرجال) صفا (ثم) بعد الرجال إن كمل صفهم (الصبيان) صفا ثانيا وان تميزوا عن البالغين بعلم ونحوه هذا (إن لم يسبقوا) أي الصبيان (إلى الصف الأول فان سبقوا) إليه (فهم أحق به) من الرجال فلا ينحون عنه لهم لأنهم من الجنس بخلاف الخناثى والنساء ثم بعد الصبيان وان لم يكمل صفهم الخناثى 

“Lelaki (dewasa) disunnahkan untuk berdiri di shaf belakang imam (shaf pertama) ketika banyak makmum yang ikut berjamaah. Lalu setelah shaf lelaki penuh maka selanjutnya shaf yang di isi oleh anak-anak kecil. Termasuk dari anak kecil ini adalah anak (yang belum baligh) yang dapat dibedakan dari lelaki yang telah baligh dengan cara diketahui atau yang lainnya. Ketentuan ini ketika mereka (anak kecil) tidak mendahului mendapatkan shaf awal. Jika mereka mendahului pada shaf awal (dari orang baligh) maka mereka lebih berhak untuk menempati shaf awal dari lelaki yang telah baligh. Maka mereka tidak boleh diusir dari shaf awal karena mereka masih satu jenis (laki-laki). Berbeda halnya bagi khuntsa (orang yang berkelamin ganda) atau perempuan.” 

ـ (ثم بعدهم وان لم يكمل صفهم النساء) للخبر الصحيح ليلينى منكم أولوا الاحلام والنهى اى البالغون العاقلون ثم الذين يلونهم ثلاثا ومتى خولفا لترتيب المذكور كره وكذا كل مندوب يتعلق بالموقف فإنه يكره مخالفته وتفوت به فضيلة الجماعة كما قدمته فى كثير من ذلك

“Lalu yang menempati shaf dibelakang anak kecil laki-laki, meskipun shaf mereka tidak penuh, adalah khuntsa, lalu setelah khuntsa adalah orang perempuan, mekipun shafnya khuntsa tidak penuh. Hal ini berdasarkan hadis shahih “hendaknya mengiring-ngiringi barisan kalian (imam) orang-orang yang telah baligh, lalu setelah itu orang-orang yang mengiringi kalian” (kata-kata ini diucapkan tiga kali oleh Rasulullah). Ketika ketentuan tertibnya shaf di atas dilanggar maka hukumnya makruh. Begitu juga kemakruhan ini juga berlaku pada melanggar segala kesunnahan yang berhubungan dengan tempat berdiri. Kemakruhan ini dapat menghilangkan fadhilah jama’ah, seperti yang telah saya (Mushannif) jelaskan dalam berbagai keterangan yang berkaitan dengan hal ini.” (Syekh Mahfudz at-Turmusi, Mauhibah dzi al-Fadhal Hasyiyah at-Turmusi, Juz 3, Hal. 59-62)

Maksud dari “anak kecil” dalam pembahasan shaf tersebut bermakna umum, sehingga mencakup seluruh anak yang masih belum baligh, baik itu sudah tamyiz (bisa membedakan hal yang baik dan buruk bagi dirinya) ataupun belum tamyiz (belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk bagi dirinya). 

Namun ketentuan penempatan shaf di atas berubah ketika keadaan anak kecil sangat agresif dan hanya dapat shalat dengan tenang ketika bersanding dengan orang tuanya atau orang lain yang ditakutinya. Yakni, sekiranya anak kecil itu shalat berada jauh dari pengawasan mereka maka ia akan berpotensi ramai sendiri atau mengganggu (tasywis) terhadap jamaah lain. Dalam keadaan demikian sebaiknya ia ditempatkan di samping orang tuanya atau orang yang ditakutinya. 

Pengecualian lain juga berlaku ketika keadaan anak kecil masih belum tamyiz dan butuh pendampingan, seperti anak yang masih berumur sekitar dua atau tiga tahun yang masih belum berani jauh dari jangkauan orang tuanya. Hal yang paling maslahat dalam hal ini adalah menyandingkan anak kecil tersebut dengan orang tua atau orang lain yang biasa menjadi tumpuannya, agar anak kecil tidak merasa khawatir ketika jauh dari orang tuanya. Lebih maslahat lagi ketika orang tua dari dua anak kecil dari kategori di atas agar mengalah untuk menempati posisi shaf di belakang laki-aki dewasa, dengan begitu ia dapat mengontrol anaknya sekaligus menjalankan anjuran penempatan shaf bagi anak kecil secara benar. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa posisi shaf yang benar bagi anak kecil adalah berada di belakang laki-laki dewasa, sekiranya laki-laki dewasa diprioritaskan agar menempati shaf yang berada di depan dan shaf-shaf yang mengiringinya. Baru setelah itu anak kecil ditempatkan pada shaf di belakangnya atau sejajar dengan shaf laki-laki dewasa ketika memang isi shaf tidak penuh. Ketentuan demikian dapat berubah ketika keadaan anak kecil akan ramai atau masih butuh pendampingan orang lain maka baiknya adalah bersanding dengan orang yang menjadi tumpuannya. 

Bagi para takmir masjid hendaknya memperhatikan dan mengamalkan ketentuan ini, agar shalat berjamaah para makmum yang shalat berjamaah di masjid benar-benar mendapat fadhilah shaf sekaligus fadhilah shalat berjamaah secara sempurna. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Rabu 9 Januari 2019 19:0 WIB
Hindari Gunjingan, Bolehkah Bermakmum pada Imam yang Rusak Bacaannya?
Hindari Gunjingan, Bolehkah Bermakmum pada Imam yang Rusak Bacaannya?
Salah satu ketentuan yang dianjurkan dalam shalat berjamaah adalah imam shalat merupakan orang yang paling fasih bacaan Al-Qur’annya. Sehingga hal yang dijadikan pijakan dalam shalat jamaah bukanlah kealiman seseorang dalam bidang agama, bukan pula usianya tapi adalah kefasihan bacaannya. Anjuran ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ:

لِيُؤَذِّنْ لَكُمْ خِيَارُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ قُرَّاؤُكُمْ


“Hendaknya yang melaksanakan azan adalah orang terpilih di antara kalian dan yang menjadi imam orang paling fasih bacaannya di antara kalian.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Namun ironisnya, banyak masjid atau mushala yang tersebar di pemukiman penduduk, kurang memperhatikan anjuran ini. Dalam menentukan figur yang menjadi imam shalat berjamaah, seringkali ditentukan dari orang yang dipandang paling tua atau pemangku masjid karena dianggap lebih istiqamah dan sesuai dengan tradisi yang berlaku di masjid tersebut.

Hal ini meskipun berseberangan dengan pemilihan imam shalat jamaah yang dianjurkan oleh syara’, tapi dalam hal keabsahan shalat para makmum tetap tidak berpengaruh, kecuali memang bacaan Al-Qur’an imam yang mengimami shalat jamaah bermasalah. Seperti tidak sesuai standar tajwid karena faktor lisan yang cedal dan sampai mengubah susunan huruf bahkan mengubah terhadap makna dari bacaan wajib dalam shalat. Maka dalam keadaan demikian, tidak boleh bagi orang yang bacaan Al-Qur’annya benar untuk bermakmum pada imam yang bacaannya dalam kategori tersebut. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:

وَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْتَدِيَ بِمَنْ لَا يُحْسِنُ الْقِرَاءَةَ وَالْمُرَادُ بِعَدَمِ إِحْسَانِ الْقِرَاءَةِ الَّذِي الْكَلَامُ فِيهِ أَنْ يَكُونَ يُبَدِّلُ حَرْفًا بِآخَرَ أَوْ يَلْحَنُ لَحْنًا يُغَيِّرُ الْمَعْنَى أَمَّا غَيْرُ ذَلِكَ فَلَا يَمْنَعُ الْوُجُوبَ.

“Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk berjamaah dengan imam yang tidak baik bacaan Al-Qur’annya. Yang dimaksud dengan ‘Tidak baik bacaan Al-Qur’annya’ dalam pembahasan ini adalah sekiranya ia mengganti suatu huruf dengan huruf yang lain, atau ia membaca lahn (keliru) yang mengubah terhadap makna kata. Adapun selain ketentuan di atas, maka tetap tidak mencegah terhadap wajibnya (berjamaah shalat jum’at)” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 152)

Ironisnya, keadaan masjid yang bacaan imamnya banyak yang keliru, sering ditemukan di banyak tempat. Bagi orang yang mengerti tentang ketentuan hukum ini, bermakmum pada imam tersebut adalah sebuah masalah tersendiri. 

Permasalahan muncul ketika orang yang mengerti tentang hukum ini tinggal di sekitar masjid yang diimami oleh orang yang bacaan Al-Qur’annya tidak benar. Ia merasa dilematis mengingat bermakmum pada imam yang bacaannya tidak benar adalah tidak diperbolehkan oleh syara’, sedangkan jika ia tidak pernah ikut shalat berjamaah di masjid tersebut, ia akan menjadi bahan gunjingan masyarakat sekitar karena dianggap sebagai orang yang tidak respek pada shalat jamaah di masjid. Dalam hal ini apakah yang harus ia lakukan? Apakah boleh baginya shalat di masjid dengan pertimbangan di atas, atau yang lebih utama baginya adalah shalat berjamaah di rumah dengan keluarganya?

Dalam hal ini, tindakan yang paling maslahat baginya adalah tetap mengikuti shalat di masjid dengan imam yang bacaannya keliru, namun shalatnya ia niati shalat sendirian, bukan niat berjamaah pada imam yang bacaannya keliru tersebut. Hal ini terus ia lakukan sambil berkompromi dengan pihak takmir masjid agar mengupayakan figur yang menjadi imam masjid bisa diganti dengan orang lain yang bacaan Al-Qur’annya benar, sehingga shalat para makmum yang shalat di masjid menjadi sah secara syara’.

Praktik shalat sendirian tanpa niat berjamaah namun tetap menyesuaikan gerakan imam, atau yang biasa disebut iqtida’ shuratan adalah hal yang dipandang tetap mengabsahkan shalat ketika memang terdapat faktor seperti menghindari gunjingan atau cercaan masyarakat terhadap dirinya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami ala al-Manhaj:

ـ (فلو تركها) أي هذه النية (أو شك) فيها (وتابع في فعل أو سلام بعد انتظار كثير) للمتابعة بطلت صلاته لأنه وقفها على صلاة غيره بلا رابط بينهما فلو تابعه اتفاقا أو بعد انتظار يسير أو انتظره كثيرا بلا متابعة لم يضر
 
“Jika seseorang meninggalkan niat jamaah atau ragu dalam niat jamaah dan ia tetap mengikuti imam dalam gerakannya atau dalam salam setelah menunggu jeda waktu yang lama dengan tujuan untuk mengikuti imam, maka shalatnya batal sebab ia menggantungkan shalatnya pada shalat orang lain tanpa adanya penyambung (rabith) di antara keduanya. Jika ia mengikuti imam karena faktor kebetulan gerakannya sama atau menunggu gerakan shalat imam dalam jeda waktu sebentar atau jeda yang lama tanpa ada tujuan mengikuti gerakan imam maka hal ini tidak membahayakan shalatnya (shalatnya tidak batal).”

)قوله: فلو تابعه اتفاقا) –إلى أن قال- ولم يذكر محترز قوله للمتابعة ومحترزه ما لو انتظره كثيرا لأجل غيرها كدفع لوم الناس عليه كأن كان لا يحب الاقتداء بالإمام لغرض ويخاف لو انفرد عنه حسا صولة الإمام أو لوم الناس عليه لاتهامه بالرغبة عن الجماعة فإذا انتظر الإمام كثيرا لدفع هذه الريبة فإنه لا يضر كما قرره شيخنا ح ف

“Mushannif (pengarang) tidak menampilkan pengecualian dari diksi “lil Mutaba’ah” (bertujuan mengikuti gerakan imam) sedangkan pengecualiannya adalah ketika seseorang menunggu gerakan imam dalam jeda yang lama dengan tujuan selain mengikuti gerakan imam seperti bertujuan mencegah cercaan orang lain padanya. Misalnya seperti halnya ketika ia tidak senang shalat dengan imam karena suatu hal dan ia khawatir jika ia shalat sendirian dari imam akan diserang oleh imam. Atau ketika ia shalat sendirian khawatir akan di cerca oleh orang lain karena akan dianggap ia tidak senang shalat berjamaah. Maka ketika ia menunggu imam dalam jeda yang lama (dan mengikuti gerakan-gerakan imam, padahal ia tidak niat berjamaah dengan imam) Karena bertujuan mencegah terjadinya kekhawatiran di atas maka shalatnya tidak bermasalah (tetap sah) seperti halnya ketentuan yang telah ditetapkan oleh guruku al-Hafni” (Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Manhaj, juz 1, hal. 331)

Jika memang shalat di masjid dengan cara di atas dianggap sudah dapat membuatnya terhindar dari gunjingan masyarakat setempat, maka untuk shalat-shalat selanjutnya boleh baginya untuk secara bergantian shalat berjamaah di rumah dan di waktu yang lain melaksanakan shalat dengan cara yang yang sama di masjid yang ada di sekitarnya. Sekiranya ia dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menghindari gunjingan dan cercaan masyarakat adalah hal yang patut untuk dihindari agar seseorang dapat berinteraksi dengan masyarakat secara baik, terlebih bagi tokoh masyarakat atau orang yang diproyeksikan nantinya akan menuntun masyarakat. Bahkan menghindari cercaan masyarakat ini merupakan hal yang dapat tetap mengabsahkan shalat iqtida’ shuratan (mengikuti imam hanya dalam gerakannya saja tanpa niat berjamaah dengannya). Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)