IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Mimpi Imam Hamzah az-Zayyat tentang Kemuliaan Ahlul Qur’an

Ahad 24 Maret 2019 20:0 WIB
Share:
Mimpi Imam Hamzah az-Zayyat tentang Kemuliaan Ahlul Qur’an
Ilustrasi (via Pixabay)
Imam al-Syatibi mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah sebaik-baiknya teman duduk (khairu jalîsin). Keagungan dan kemuliaannya mampu memberikan syafaat dan manfaat kepada pembacanya dan penghafalnya, apalagi diimplementasikan kandungan artinya dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan yang didapatkan oleh para pembaca dan penghafal Al-Qur’an jauh melebihi yang didapatkan oleh yang lain. Hal ini dibuktikan langsung oleh Imam Hamzah melalui mimpinya ketika berkomunikasi dengan Tuhannya.

Kisah pertama diriwayatkan oleh Imam Khalaf bin Hisyam al-Bazzar. Imam Sulaim bin ‘Isa berkisah bahwa suatu hari ia berkunjung kepada gurunya, Imam Hamzah bin Habib az-Zayyat. Saat menemuinya, tampak sang guru sedang membolak-balikkan kedua pipinya ke tanah dan menangis. Sontak Sulaim pun berdoa, “Semoga Allah melindungimu.”

Imam Hamzah kaget, “Hai, kamu meminta pelindungan untuk apa?”

Imam Hamzah lantas bercerita bahwa dirinya kemarin bermimpi seakan-akan kiamat telah terjadi dan para qari’ Al-Qur'an dipanggil. Ia termasuk orang yang menghadiri panggilan itu. Lalu Imam Hamzah mendengar suara berkata dengan ucapan yang enak didengar, “Tidak bisa masuk menghadap kepada saya kecuali orang-orang yang mengamalkan Al-Qur'an”. 

“Saya pun kembali tanpa menoleh ke belakang (karena saya merasa bukan termasuk orang yang mengamalkan Al-Qur'an),” kisahnya.

Saat dirinya kembali, tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya, “Di mana Hamzah bin Habib az-Zayyat?” 

Imam Hamzah pun menyambut penggilan itu. Malaikat segera mendatanginya sambil berkata, “Katakanlah, 'saya sambut panggilan-Mu, ya Allah'!” Lalu Imam Hamzah mengatakan apa yang disampaikan malaikat kepadanya. Seketika itu, Imam Hamzah baru sadar bahwa yang memanggilnya adalah Allah, Tuhan semesta alam.

Kemudian Imam Hamzah dimasukkan ke suatu tempat yang di dalamnya terdengar suara gemuruh Al-Qur'an. Ia pun berhenti dengan tubuh gemetar, hingga terdengarlah ucapan, “Jangan khawatir, naiklah dan bacalah Al-Qur'an!”

Wajah Imam Hamzah seketika bersinar. Saat itu ia sudah berada di depan mimbar yang terbuat dari batu mutiara putih. Kedua sisinya terbuat dari yaqut berwarna kuning. Tangganya terbuat dari batu zabarjad berwarna hijau. Lalu dikatakan kepadanya, “Naiklah dan bacalah Al-Qur'an!”

Ia pun naik, lalu dikatakan kepadanya lagi, “Bacalah surat al-An‘am!”

Imam Hamzah pun membacanya dan ia tidak tahu kepada siapa ia membaca hingga enam puluh ayat. Ketika sampai pada ayat (وهو القاهر فوق عباده), ia ditanya, “Wahai Hamzah, bukankah Aku penguasa tertinggi di atas seluruh hamba-hamb-Ku?”

“Ya.”

“Kamu benar, lanjutkan baca!”

Imam Hamzah pun membaca sampai akhir surat.

“Bacalah terus!”

Imam Hamzah lalu membaca Surat al-A‘raf hingga akhir surat. Sampai di akhir surat, saat ia hendak melakukan sujud Tilawah, Dia berkata, “Cukuplah, apa yang telah kamu lakukan (sujud) di dunia, janganlah bersujud, wahai Hamzah.”

Kemudian Dia bertanya, “Siapa yang mengajarkan bacaan ini?”

“Sulaiman.”

Dia menimpali sambil bertanya kembali, “Kamu benar, siapa yang mengajari Sulaiman?”

“Yahya.”

“Yahya benar. Kepada siapa Yahya belajar?” tanya Allah lagi.

“Kepada Abu ‘Abdurrahman al-Sullami.”

“Abu `Abdurrahman al-Sullami benar. Siapa yang mengajari Abu `Abdurrahman al-Sullami?”

“Anak paman Nabi-Mu, yaitu ‘Ali bin Abi Thalib,” jawab Imam Hamzah lagi.

“Ali benar. Siapa yang mengajari ‘Ali?” 

“Dia belajar kepada Nabi-Mu, Muhammad ﷺ.”

“Siapa yang mengajari Nabi-Ku?” 

“Jibril.”

“Siapa yang mengajari Jibril?”

Imam Hamzah pun diam.

“Wahai Hamzah, katakanlah “Engkau (ya Allah).”

“Saya tidak berani untuk mengatakan “Engkau” (karena malu mengucapkan kata itu di hadapan-Nya).”

Dia menyuruh lagi, “Wahai Hamzah, katakanlah “Engkau”.

Imam Hamzah pun menjawab, “Engkaulah yang mengajari Jibril, wahai Tuhanku.” 

Kemudian Dia berkata, “Kamu benar wahai Hamzah. Demi kebenaran Al-Qur'an, sungguh Aku sangat memuliakan ahlul qur’an (secara bahasa: keluarga Al-Qur'an), lebih-lebih jika mereka mengamalkannya. Wahai Hamzah, Al-Qur'an adalah Kalam-ku dan Aku tidak mencintai seorang pun seperti kecintaan-Ku kepada ahlul qur’an. Wahai Hamzah, mendekatlah!”

Imam Hamzah pun mendekat, lalu Dia mencelupkan “tangan”-Nya ke dalam minyak wangi kemudian mengoleskan kepadanya seraya berkata, “Aku tidak hanya melakukan ini kepadamu saja. Sebenarnya Aku melakukannya kepada orang-orang yang sama sepertimu dari orang sebelum dan sesudahmu, dan orang yang mengajarkan Al-Qur'an sepertimu tidak akan datang (di hari kiamat) kecuali kepada-Ku. Wahai Hamzah, sesuatu di sisi-Ku yang Aku sembunyikan darimu masih lebih banyak. Maka kabarkan dan sampaikan kepada sahabat-sahabatmu tentang kecintaan-Ku kepada ahlul qur’an dan apa yang Aku lakukan (berikan) kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang dipilih di antara orang-orang yang pilihan.”

“Wahai Hamzah, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh Aku tidak akan menyiksa (mereka) yang lisannya tidak pernah letih untuk membaca Al-Qur'an, dengan api neraka, (tidak menyiksa meraka) yang hatinya selalu dipenuhi oleh Al-Qur'an, (tidak menyiksa meraka) yang telinganya tidak pernah bosan mendengarkan Al-Qur'an dan mata yang tidak pernah lelah melihat Al-Qur'an.” 

Imam Hamzah pun berkata, “Maha-Suci Engkau, Maha-Suci Engkau, wahai Tuhanku.”

Lalu Dia bertanya, “Wahai Hamzah, di mana orang-orang yang membaca Al-Qur'an dengan mushaf?”

“Wahai Tuhanku, apa yang Engkau maksud mereka para penghafal/penjaga mushaf?” 

“Bukan, akan tetapi Aku-lah yang akan menjaga mereka hingga hari kiamat, tatkala mereka (penghafal Al-Qur’an) datang kepada-Ku, niscaya Aku angkat derajat mereka setiap satu ayat satu derajat.” 

Kemudian Hamzah menoleh kepada muridnya, Sulaim, seraya berkata, “Apakah kamu masih mencela saya, Wahai Sulaim, tatkala kau lihat saya menangis dan berguling-guling di atas debu.” 

Kisah pertama ini bisa dijumpai dalam kitab Tahdzib al-Kamal fi Asma al-Rijal karya Al-Kalabi (juz VII, Beirut, Muassasah al-Risalah, 1980, hal. 319).

Kisah kedua diriwayatkan oleh Imam Maja’ah bin al-Zubair. Satu kali ia mendatangi Imam Hamzah dan mendapatinya sedang menangis.

“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Imam Maja’ah.

“Bagaimana saya tidak menangis, saya telah bermimpi bertemu Tuhan-ku dan seakan-akan saya menyetor bacaan Al-Qur'an kepada-Nya. Kemudian Dia berkata. ‘Wahai Hamzah, bacalah sebagaimana Aku ajarkan kepadamu’. Saya pun melompat sambil berdiri. Kemudian Dia berkata lagi, ‘Duduklah, sesungguhnya Aku mencintai ahlul qur'an’.

Dalam kisah itu, Allah pun berkata lagi kepada Imam Hamzah, “Bacalah!”

Imam Hamzah lalu membaca hingga sampai pada surat Thaha. Kemudian saya membaca:

ـ...... طُوىً [١٢] وَأَنَا اخْتَرْناَك ....  [١٣]ـ

Kemudian Allah berkata, “Jelaskan bacaannya!”

Imam Hamzah pun mengikuti perintahnya dengan menjelaskan bacaan itu.

“Bacalah!”

Imam Hamzah lantas membacanya hingga sampai pada Surat Yasin. Saat hendak membaca (تنزيلُ العزيز الرحيم) (dhammah lam-nya), Allah berkata lagi, “Bacalah (تنزيلَ العزيز الرحيم) (fathah lam-nya), wahai Hamzah. Demikian Aku membaca dan ajarkan kepada para malaikat pemikul Arsy, begitu pula para qari’ Al-Qur’an membaca.” 

Kemudian Dia memberinya gelang dan memakaikannya, seraya berkata, “Ini adalah balasan atas bacaan Al-Qur’anmu.”

Lalu Dia memeberinya sabuk dan memakaikannya. Dia berkata, “Ini adalah balasan atas puasamu di siang hari.”

Kemudian Dia menganugerahkan mahkota dan memakaikannya. Dia berkata, “Ini adalah balasan atas pengajaranmu kepada murid-muridmu. Wahai Hamzah, jangan pernah kau tinggalkan Al-Qur'an, karena sesungguhnya Aku benar-benar menurunkannya.” 

Kemudian Imam Hamzah berkata kepada Imam Maja’ah, “Apakah kamu masih mencela saya karena menangis?”

Kisah ketiga diriwayatkan oleh Ismail bin Ziyad yang menceritakan ulang kisah dari Imam Hamzah.

Suatu hari Imam Hamzah bermimpi bertemu Nabi, lalu ia katakan, “Wahai Rasul, saya telah meriwayatkan seribu hadits dengan sanad bersambung kepadamu, saya hendak membacakannya kepadamu.” Nabi menjawab, “Silakan.” Imam Hamzah pun melakukannya. 

Yang membuat heran, Nabi menganggap semua hadits yang dibacakan itu palsu kecuali empat hadits. “Saya tidak meriwayatkan hadits-hadits itu,” kata Nabi.

Imam Hamzah lantas meminta izin untuk membacakan Al-Qur’an yang ia hafal. Nabi mempersilakan. Di hadapan beliau, Imam Hamzah membaca Al-Qur’an dari awal sampai akhir, kemudian Nabi membenarkan semua bacaannya seraya berkata mengulang dua kali, “Begitulah Al-Qur’an itu diturunkan kepada saya, begitulah Al-Qur’an itu diturunkan kepada saya.” 

Menurut Ibnu Ghalbun, kisah tersebut menunjukkan kesahihan qira’at Imam Hamzah. Sesungguhnya Imam Hamzah mengikuti bacaan dari guru yang sanadnya bersambung kepada Nabi ﷺ. Dengan demikian, barangsiapa yang menolak bacaannya, sama artinya ia menolak bacaan orang yang mengajarkan kepadanya dan bacaan Nabi Muhammad ﷺ.

Kisah kedua dan ketiga ini bisa dibaca dalam karya Aminuddin Abdul Wahab al-Sallar, Kitab Thabaqat al-Qurra’ al-Sab’ah wa Dzikri Manaqibihim wa Qira’atihim (Beirut, Al-Maktabah Al-Ashriyah, 2003, hal. 168-170).


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 



Share:
Jumat 22 Maret 2019 13:50 WIB
Pendekatan Makna Taklif Versi Ahlussunnah dalam Surat Al-Anfal
Pendekatan Makna Taklif Versi Ahlussunnah dalam Surat Al-Anfal
Ilustrasi Al-Qur'an (via Pixabay)
Dalam satu ayat ini --saja--, 

وما رميت --أي خلقا-- إذ رميت --أي كسبا-- ولكن الله رمى --أي خلقا--

"Dan engkau --wahai Muhammad-- tidak lah mampu menciptakan perbuatan melempar pada saat engkau melempar (melakukan perbuatan melempar). Akan tetapi Allah lah yang menciptakan engkau mampu melempar." 

Cukup menjadi bukti bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah satu-satunya golongan yang selamat. Yang memahami Al-Qur’an sebagai mana mestinya, secara benar dan purna. 

Para ulama Ahlussunnah menyebutkan, 

النفي هو نفي باعتبار 
والإثبات هو إثبات باعتبار ءاخر 
النفي والإثبات لا يجتمعان باعتبار واحد  

Nafi (negasi) harus ditempatkan sebagai nafi sesuai dengan porsi kedudukannya. Sebagaimana Nabi yang berstatus hanya sebagai makhluk; bukan pencipta/khaliq, tidaklah mampu menciptakan perbuatan apapun. Menciptakan yang merupakan perbuatan Allah harus dinafikan dari siapapun --termasuk Nabi--(وما رميت). 

Sedangkan perbuatan Nabi berupa melempar yang merupakan bagian dari pekerjaan makhluk (كسب ) juga wajib kita tetapkan (itsbat) sebagaimana Al-Qur’an juga menetapkan (إذ رميت ). Dan di sinilah letak taklif. 

Karenanya, atas anugerah Allah, Nabi mendapatkan pahala atas semua kebaikan yang dilakukannya karena ada kasb atau ikhtiar yang beliau lakukan. 
 
Nafi dan itsbat harus didudukkan secara tepat. Harus ditempatkan sesuai dengan porsinya. Jika tidak, maka bisa dipastikan pemahaman yang muncul bukan lah pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah, Tapi Ahlul Bid'ah Adl Dlolalah wal Furqoh walaupun sama-sama membaca dan menggunakan Al-Qur'an sebagai dalil. 

Yang tidak menetapkan perbuatan Allah berupa kholq (menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada) maka akan beresiko terjerumus pada paham Qodariyyah. Yang salah satu diantara sekte yang ada di dalamnya meyakini bahwa seorang hamba mampu menciptakan perbuatannya sendiri. 

Di sisi lain, jika kita tidak menetapkan perbuatan hamba (itsbat) sebagaimana Al Quran juga menetapkan atau tidak menempatkan itsbat sesuai dengan tempat nya, misal nya tidak meyakini bahwa seorang hamba juga mempunyai kehendak --walaupun ia meyakini bahwa Allah mempunyai kehendak--, maka beresiko jatuh pada pemahaman menyimpang yang diyakini Kaum Jabariyah. 

Jalan tengah tentu hanya milik Ahlussunnah. Ada jargon yang sangat terkenal di kalangan mereka, 

أنا أريد وانت تريد والله يفعل ما يريد 

Aku berkehendak, Anda juga berkehendak 

Namun Allah pasti melakukan yang Ia kehendaki. Kehendak saya dan Anda tidak akan terjadi (nafi/negasi) kecuali apa yang menjadi kehendak Nya untuk terjadi (itsbat). 


Abdul Haq, Direktur Aswaja Center PCNU Brebes, Jawa Tengah
Selasa 19 Maret 2019 8:30 WIB
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an
Kajian Demokrasi dan Syirik dalam Al-Qur’an
Kita sudah mengetahui bersama bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai negara Islam dan bukan berdasarkan sistem pemerintahan Islam, melainkan menggunakan sistem demokrasi.

Akhir-akhir ini, ada sebagian kelompok yang menganggap bahwa menjalankan hukum dan sistem pemerintahan dengan hukum dan sistem lain selain hukum Allah SWT juga termasuk syirik, seperti sistem demokrasi di Indonesia.

Bahkan penerapan hukum di luar hukum disebut sebagai syirik akbar. Sedangkan para penganut syirik akbar ini dianggap batal syahadatnya, bahkan sudah disebut kafir.

Salah satu ayat yang digunakan adalah Surat Al-Kahfi ayat 26.

وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Artinya, “Dan Allah tidak menyekutukan dalam ‘hukum’-Nya pada seorang pun.”

Ayat ini menjadi pegangan oleh salah satu terpidana terorisme yang telah dijatuhi hukuman mati, Aman Abdurrahman, untuk melakukan kekerasan dan terorisme.

Ayat di atas dipahami oleh kelompok mereka bahwa setiap orang yang menyekutukan hukum Allah SWT, yakni menganut hukum yang tidak dibuat oleh Allah SWT, maka mereka termasuk golongan orang yang musyrik.

Golongan musyrik ini mencakup orang-orang yang membuat peraturan perundang-undangan melalui lembaga kenegaraan seperti parlemen (DPR/MPR), para pembuat kebijakan yang tidak merujuk kepada Al-Qur’an sebagai representasi hukum Allah SWT, orang yang membuat dan mengikuti hukum positif, para pelaksana hukum positif seperti hakim, pengacara, jaksa, dan polisi.

Menurut mereka, para pembuat dan pelaksana hukum positif telah merebut hak membuat peraturan yang hanya dimiliki oleh Allah SWT. Mereka menyekutukan Allah dalam pembuatan hukum atau peraturan.

Lalu, benarkah demikian? Benarkah seluruh orang yang mengakui sistem demokrasi, sekaligus pelaksananya berhak menyandang status musyrik dan kafir hanya karena divonis menyekutukan hukum Allah SWT? Benarkah ayat tersebut berkaitan dengan hal itu?

Namun sebelum kita membahas lebih jauh maksud dan pendapat para ahli tafsir terkait ayat tersebut, ada baiknya jika kita membaca ayat tersebut secara utuh.

قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

Artinya, “Katakanlah, ‘Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan,’” (Surat Al-Kahfi ayat 26).

Secara utuh, ayat tersebut sebenarnya mengisahkan bagaimana Allah SWT menengahi perdebatan terkait waktu lamanya para ashabul kahfi menetap di dalam gua. Dan tentunya, ayat ini tidak boleh dipisahkan dari ayat sebelumnya, yaitu Surat Al-Kahfi ayat 25:

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

Artinya, “Mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi),” (Surat Al-Kahfi ayat 25).

Inti dalam ayat tersebut adalah bahwa kita tidak perlu memperdebatkan berapa lama ashabul kahfi tinggal di dalam gua. Berapa lama pun mereka tinggal di dalam gua, semua itu adalah ketentuan Allah SWT.

Yang perlu diyakini adalah Allah SWT mampu membuat ashabul kahfi tertidur dalam waktu yang cukup lama. Semua adalah ketentuan Allah. Allah mampu membuat mereka tertidur sangat lama tanpa mengalami kerusakan jasad.

Allah mampu membangkitkan mereka kembali setelah sekian lama. Allah menentukan semua itu. Dia tidak perlu meminta pendapat pada orang lain dalam membuat ketentuan. Dia juga tidak perlu bantuan orang lain dalam mewujudkan kehendak dan keputusan-Nya.

Kata “hukum” dalam Surat Al-Kahfi ayat 26 berarti ketentuan Allah terhadap ashabul kahfi, jumlah mereka, berapa lama mereka tertidur, dan bagaimana mereka kembali terbangun. Allah tidak membagi kekuasaan-Nya pada orang lain mengatur semua kisah ajaib yang terjadi pada ashabul kahfi.

Kata “hukum” pada ayat ini bukan hukum dalam artian peraturan atau sistem yang digunakan dalam sebuah negara. Itulah mengapa diksi yang dipilih oleh Kementrian Agama dalam menerjemahkan kata “hukum” pada ayat ini dengan kata “ketentuan.”

Hal ini diperkuat dengan pendapat para mufassir yang menyebutkan bahwa kata “hukum” dalam ayat tersebut berkaitan dengan masa atau waktu tidur ashabul kahfi. Al-Baghawi (wafat pada 516 H) mengatakan bahwa maksud “hukum” dalam Surat Al-Kahfi ayat 26 adalah pengetahuan tentang perkara gaib seperti detail cerita ashabul kahfi yang ajaib.

Kata “hukum” dalam konteks ini adalah ilmu gaib, yang maksudnya bahwa Allah SWT tidak bersekutu dengan seorang pun dalam mengetahui perkara gaib, (Lihat Al-Baghāwī, Ma’ālimut Tanzīl, [Beirut, Dārul Kutub: 1995 M], juz III, halaman 188).

Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani dalam Tafsir Marāḥ Labīd, ayat tersebut menunjukkan bahwa kita tidak boleh bertanya kepada seorang pun tentang apa yang sudah diberitahukan Allah SWT terkait jumlah ashabul kahfi serta lamanya mereka tertidur dalam gua.

Kita, kata Syekh Nawawi Al-Bantani, memang diperbolehkan untuk mendiskusikan kisah ashabul kahfi di dalam gua, tapi harus dibatasi pada keputusan Allah SWT. Kita tidak diperbolehkan untuk menyekutukannya terkait pengetahuan atas peristiwa ini, (Lihat Syekh Nawawi Al-Bantani, Tafsir Marāḥ Labīd, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1417 H], juz I, halaman 647).

Namun, ada juga ulama tafsir yang menafsirkan hukum dalam ayat tersebut sebagai undang-undang. Sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Amin As-Syinqithi dalam Tafsir Adwā’ul Bayān:

“Dengan teks-teks langit yang telah kami sebutkan tampak jelas bahwa orang-orang yang mengikuti hukum positif yang disyariatkan setan melalui lisan para pengikutnya adalah bertentangan dengan syariat Allah yang disampaikan para rasul-Nya. Bahwa tidak ragu kekafiran dan kemusyrikan mereka kecuali orang yang Allah butakan batinnya,” (Lihat Muhammad Amin As-Syinqithi, Tafsir Adhwa’ul Bayan, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M], juz III, halaman 259).

Terkait penafsiran As-Syinqithi yang berbeda dengan penafsiran para ulama tafsir ini sebenarnya telah dijawab sendiri oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an sendiri mengajarkan untuk melakukan beberapa hal yang pada dasarnya sesuai dengan prinsip demokrasi.

Pertama, Al-Qur’an mengajarkan untuk bermusyawarah. Hal ini tercantum jelas dalam Surat Al-Syu’ara ayat 38.

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya, “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Jika memang benar bahwa Allah SWT menolak hukum yang dibuat oleh manusia, maka Allah SWT tidak mungkin memerintahkan manusia untuk bermusyawarah yang tujuannya adalah membuat keputusan atau produk hukum.

Di sisi lain, Al-Qur’an juga mengajarkan untuk selalu menepati perjanjian yang dilakukan. Bahkan Rasulullah sendiri melakukan beberapa perjanjian, di antaranya perjanjian Hudaibiyah, perjanjian Fathu Makkah, dan Piagam Madinah.

Jika hukum manusia adalah syirik, maka tentu hasil dari perjanjian-perjanjian Rasulullah SAW tersebut akan ditentang oleh Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 177:

وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ

Artinya, “Orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji,” (Surat Al-Baqarah ayat 177).

Oleh karena itu, syirik dalam konteks Surat Al-Kahfi di atas, sebenarnya bukan dalam konteks syirik pemerintahan atau sistem hukum yang diberlakukan di masyarakat, melainkan termasuk syirik dalam hal yang berkaitan dengan hal gaib, termasuk berapa lamanya waktu tidur ashabul kahfi sebagai bagian dari kekuasaan Allah SWT. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Kamis 14 Maret 2019 15:30 WIB
Imam Khalaf dan Imam Khallad, Perawi Qira’at Imam Hamzah
Imam Khalaf dan Imam Khallad, Perawi Qira’at Imam Hamzah
Ilustrasi (via mawdoo3.com)
Imam Hamzah adalah salah satu imam qira’at sab’ah yang memiliki gelar al-Habr Al-Qur’an (tinta Al-Qur’an). Salah satu murid Imam Hamzah yang melanjutkan qira’atnya adalah Imam Sulaim. Ia adalah satu diantara murid Imam Hamzah yang paling menonjol dalam soal bacaan Imam Hamzah, darinya lahirlah dua generasi yang terbaik, yaitu Imam Khalaf dan Khallad. Kedua murid Imam Sulaim inilah kemudian menjadi perawi qira’at Imam Hamzah.

1. Imam Khalaf

Namanya Khalaf bin Hisyam bin Tsa’lab bin Khalaf al-Asadi al-Baghdadi al-Bazzar, kuniyahnya Abu Muhammad. Beliau salah satu perawi Imam Hamzah dari jalur Imam Sulaim. Selain sebagai perawi Imam Hamzah, beliau juga berstatus sebagai imam qira’at ke sepuluh yang memiliki (pilihan) bacaan sendiri, yang berbeda dengan Imam Hamzah. 

Imam Khalaf memiliki kedudukan dan posisi yang berbeda; sebagai perwai dari Imam Hamzah sekaligus sebagai imam qira’at. Meskipun ia memiliki kedudukan dan posisi yang berbeda, tidak sedikit ulama yang memuji keilmuannya, bahkan tak ayal kalau beliau disebut sebagai orang yang sangat tsiqah dalam soal periwayatan. Selain gelar tsiqah, Imam Khalaf juga dikenal sebagai orang yang hidup sederhana (zahid) alim dan ahli ibadah.

Beliau dilahirkan pada tahun 150 H di kota Baghdad.

Perjalanan Intelektualnya

Sejak kecil, Imam Khalaf telah menghafal Al-Qur’an di tanah kelahirannya, dan pada saat berumur 10 tahun beliau sukses menyelesaikan hafalan tersebut dengan baik dan lancar.

Ketika menginjak umur 13 tahun, beliau mengawali perjalanan intelektualnya menuntut ilmu kepada para ulama.

Imam Khalaf bercerata kepada muridnya, Imam Idris Abdul Karim: “Saya hafal Al-Qur’an saat berumur 10 tahun, kemudian ketika saya menginjak umur 13 tahun saya mengawali menuntut ilmu”.

Dalam waktu yang sangat lama, beliau memperdalam Al-Qur’an dan qira’atnya hingga kemudian dikenal oleh para ulama sebagai “Ahli Al-Qur’an”. Selain memperdalam Al-Qur’an dan qira’atnya, beliau tidak lupa diri untuk memperdalam ilmu-ilmu keislaman lainnya, utamanya ilmu hadits hingga kemudian dikenal sebagai “ahli hadits”. Maka tak ayal, sebagian ulama mengatakan, bahwa Imam Khalaf pada mulanya, dikenal dengan “ahli Al-Qur’an”, namun kemudian ia juga dikenal sebagai ahli hadits.

Para ulama qira’at banyak menyatakan bahwa guru utama Imam Khalaf dalam meriwayatkan qira’at Imam Hamzah adalah Imam Sulaim bin Isa. Darinya Imam Khalaf banyak ber-istifadah tentang qira’at Hamzah hingga menempatkannya sebagai perawi dari Imam Hamzah.

Imam Khalaf berkata: “Saya membaca (setoran) Al-Qur’an kepada Sulaim berulangkali. Pada suatu ketika saya khatam, saya bertanya kepada Sulaim: “Apakah yang Anda ajarkan kepada saya adalah qira’at Hamzah?. beliau menjawab: “Iya”. 

Selain mahir dalam soal ilmu Al-Qur’an dan qira’atnya, Imam Khalaf juga dikenal sebagai mahir dalam ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti gramatikal bahasa Arab.

Dalam bidang hadits, Imam Khalaf belajar kepada para masyakhik (guru-guru) yang dikenal dengan ke-tsiqah-annya, seperti Hammad bin Zaid, Wahab bin Jarir bin Hazim, Sufyan bin Uyainah, Yazid bin Harun, Abi ‘Awanah, Abi Usamah, Khalid bin Abdullah al-Wasithi, Jarir al-Dhabbi dan Sallam al-Thawil.

Hadits-haditsnya banyak disebut dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Sahih Muslim, dan Abu Daud dalam kitabnya, Sunan Abu Daud. Di samping itu, banyak ulama yang mengutip hadits-hadits selain di dua kitab di atas, seperti Abu Zur’ah, Abu Hatim, Musa bin Harun, Abu Ya’la al-Mushili, Abu al-Qasim al-Baghawi, Muhammadn bin Ibrahim bin Abban, dan putranya, Muhammad bin Khalaf.

Dalam belajar, jika ada kemusykilan atau kejanggalan yang dihadapi oleh Imam Khallaf, beliau menginfakkan sebagian hartanya sehingga kemusykilan tersebut menjadi terbuka dan mudah.

Beliau berkata: “Saya menemui kejanggalan dalam bab nahwu (gramatikal bahasa Arab), kemudian saya menginfakkan harta sebesar 80000 dirham, sehingga dengan itu kejanggalan saya terbuka dan saya mahir dalam soal nahwu.

Guru-guru Imam Khalaf dan Transmisi Riwayatnya

Dalam memperluas bacaan qira’at Al-Qur’an, Imam Khalaf memiliki dua metode; membaca secara langsung di hadapan guru sampai khatam (Ardh) dan mendengarkan riwayat yang disampaikan oleh sang guru tanpa membaca (sima’an).

Untuk metode pertama, Imam Khalaf setoran Al-Qur’an secara langsung kepada Imam Sulaim bin Isa, Abdurrahman bin Hammad bin Hamzah, Abi Zaid Said bin Aus al-Ansari dari al-Mufaddhal al-Dhobi. 

Di samping itu, Imam Khalaf meriwayatkan sebagian huruf (bacaan) dari Ishaq al-Musayyibi, Ismail bin Ja’far, Yahya bin Adam.

Sedangkan untuk metode yang kedua, Imam Khalaf mendengar qira’at Imam Ali al-Kisa’I sampai khatam tanpa membaca langsung kepadanya. Meskipun tanpa membaca di hadapannya, ia telah kuasai secara dhabt.

Selain belajar kepada para imam-imam di atas, Imam Khalaf di tengarai belajar kepada Imam Syu’bah namun tidak jadi sebab kalimat yang disampaikan Syu’bah kepadanya saat awal perjumpaannya menyinggung prasaannya. Sehingga beliau enggan melanjutkan belajar kepada Imam Syu’bah namun belajar kepada Yahya bin Adam, murid Imam Syu’bah.

Imam Khalaf adalah salah satu orang yang mengimplementasikan firman Allah tentang memulyakannya anak keturunan manusia, sebagaimana ia memulyakan dirinya sendiri, dan para penghafal Al-Qur’an. Hal tersebut dibuktikan dari cerita yang disampaikan Ahmad bin Ibrahim Warraqah yang mendengar langsung dari Imam Khalaf. Beliau berkata: “Saya datang ke Kufah menemui Sulaim. Kemudian ia berkata: “Apa yang akan aku lakukan untukmu?. 

Saya berkata: “Saya mau membaca Al-Qur’an kepada Abu Bakar bin Ayyasy (Imam Syu’bah, murid Imam Ashim), kemudian Sulaim memanggil anaknya, dan menulis sepucuk surat untuk disampaikan kepada Imam Syu’bah, saya tidak tahu apa yang ditulisnya. Kemudian kami mendatanginya dan ia membaca surat tersebut dan pandangannya tertuju ke mulut saya. Kemudian berkata: “Kamu Khalaf ?. Saya jawab: iya. Kemudian ia berkata: “Tidak ada seorang pun yang akan menggantikan posisimu orang yang membaca kepadamu (tidak ada generasi yang akan melanjutkan qira’at bacaannya). Kemudian saya diam. Maka ia pun menyuruh saya untuk duduk dan membaca kepadanya. Bacalah…!!! Saya pun kaget sambil bertanya. Membaca kepada Anda?, Ia pun menjawab: Iya. Saya menjawab dengan tegas: “Tidak, demi Allah saya tidak akan membaca kepada orang yang merendahkan seorang dari kalangan penghafal Al-Qur’an. Kemduian saya keluar dan kembali ke Imam Sulaim. Kemudian Sulaim menanyakannya namun saya enggan menjawabnya. Kemudian beliau menyesal dan berhujjah dan mencatat dalam transmisi sanadnya bahwa beliau belajar kepada Imam Yahya bin Adam dari Ashim.

Antara Imam Khalaf dan Sulaim

Imam Khalaf secara intens belajar dan membaca secara langsung tentang Al-Qur’an dan qira’atnya kepada Imam Sulaim. Sebab keistiqamahan itulah Imam Khalaf mendapatkan posisi sebagai perawi sekaligus imam qira’at kesepuluh, yang kemudian dikenal dengan “qira’at Imam Khalaf al-'asyir”.

Awal perjumpaannya dengan Imam Sulaim telah memberikan kesan yang mendalam bagi gurunya.

Imam Khalaf bercerita: “Saya mendatangi Sulaim untuk belajar Al-Qur’an kepadanya. Namun di hadapannya banyak santri-santri memngelilinginya, saya menyangka kalau mereka adalah murid-murid yang mendahului saya (senior). Ketika saya duduk, beliau bertanya: Siapa Anda?. Saya menjawab: “Saya Khalaf”. Kemudian beliau berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa kamu mencari sanad yang tinggi dalam soal qira’at. Saya tidak akan memungut apapun dari mu. 

Imam Khalaf berkata: “Saya, saat itu, datang dan mendengarkan bacaannya, namun ia tidak mengambil sesuatu apapun dari saya. Saya datang pagi-pagi buta kemudian beliau keluar dan berkata:  Saya yang datang duluan, maka saya maju di hadapannya, saya memulai bacaan surat Yusuf, surat ini termasuk surat yang sulit I’rabnya. Kemudian beliau bertanya : Siapa Anda, saya tidak pernah mendengar bacaan yang sebagus Anda. Saya jawab: Saya Khalaf. Kemudian beliau berkata: Saya tidak boleh melarang kamu membaca kepadaku. Bacalah…pada suatu hari saya sampai pada kata (وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا), beliau menangis, kemudian berkata: hai Khalaf, tahukah kamu, sungguh mulyanya orang mukmin menurut Allah, dia tidur, para malaikat mendoakan ampunan untuknya.

Imam Umar bin Qaid al-Adami berkata: Saya mendengar Khalaf berkata: “Saya membaca Al-Qur’an kepada Sulaimdalam sehari dari awal Al-Qur’an sampai surat al-Munafiqun, beliau tidak menegurku sama sekali hingga sampai pada kalimat (ولكن المنافقين لا يعلمون) kemudian beliau mengangkat kepalanya sembari berkata: “Demi Allah, Engkau orang yang hafidz, namun butuh sedikit pemahaman. Kemudian saya membaca (وَلكِنَّ الْمُنافِقِينَ لا يَفْقَهُونَ). Ini menunjukkan bahwa Imam Khalaf orang yang sangat lancar hafalannya, namun sedikit kesalahan yang dilakukannya membuatkan menegur agar lebih memperhatikan pada unsur-unsur ayat yang mirip.

Komentor Ulama

Imam Khalaf salah satu dari sekian imam qira’at yang memiliki dua posisi yang berbeda dalam bidang qira’at Al-Qur’an. Dengan ketekunannya mempelajari qira’at Al-Qur’an, tak ayal banyak ulama yang mengapresiasi dan memujinya, baik dalam hal keilmuannya maupun pribadinya.

Imam Yahya bin Main, al-Nasa’I dan ulama-ulama yang lain menyatakan bahwa Imam Khalaf adalah orang yang tsiqah.

Imam al-Daruqutni menyatakan bahwa beliau adalah abid yang utama.

Imam al-Husain bin Fahm berkata: “Saya tidak menemukan seseorang yang lebih bagus (bacaannya) daripada Khalaf. Ia mengawali karirnya sebagai ahli Al-Qur’an kemudian menjadi muhadditsin, ia membacakan lima puluh hadits Abi ‘Awanah kepada kami. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau melakukan puasa setiap hari (saum al-dahr).

Murid-murid Imam Khalaf

Selain meriwayatkan qira’at Imam Hamzah, beliau memiliki qira’at sendiri yang berbeda dengan qira’at Imam Hamzah. Maka wajar apabila banyak dari kalangan penuntut ilmu yang belajar kepada Imam Khalaf, salah satunya adalah Ahmad bin Ibrahim Warraqah, saudaranya, Ishaq bin Ibrahim, Ibrahim bin Ali al-Qassar, Ahmad bin Yazid al-Hulwani, Idris bin Abdul Karim al-Haddad, Muhammad bin Ishaq, guru Ibnu Syanbudz.

Ibnu Asytah berkata: “Imam Khalaf mengambil dan mendalami madzhab Hamzah keculai 120 huruf (bacaan) yang berbeda, yang dipakai sebagai pilihan bacaannya sendiri. 

Imam Ibnu al-Jazari telah melakukan penelitian bahwa qira’a Imam Khalaf tidak keluar dari qira’at Imam Hamzah, Ali al-Kisa’I dan Syu’bah kecuali pada surat al-Anbiya ayat 95, ia membacanya seperti riwayat Hafs.

Setelah mendarma-baktikan diri kepada kalam-Nya, beliau wafat pada tahun 229 pada bulan Jumadal Akhirah.

2. Imam Khallad

Nama lengkapnya adalah Khallad bin Khalid al-Syaibani al-Sairafi al-Hukufi, kuniyahnya Abu Isa.

Beliau adalah salah satu murid dari Imam Sulaim yang paling bagus bacaannya dan paling dhabt serta diakui kapasitas keilmuannya. Banyak gelar dan predikat yang disematkan kepadanya; tsiqah (terpercaya), muhaqqqi (peneliti), ustadz (spesialisasi), dan arif.

Dilahirkan pada tahun 129 ada sebagian riwayat menyatakan 130 H.

Perjalanan Intelektual Imam Khallad

Dalam bidang Al-Qur’an dan qira’atnya, Imam Khallad belajar dan membaca secara langsung kepada Imam Sulaim. Beliau termasuk murid yang paling dhabit dan kompeten dalam meriwayatkan bacaan Imam Sulaim. Maka tak ayal, Imam al-Dzahabi mengapresiasinya dengan beberapa pujian, yaitu: tsiqah, arif, muhaqqiq dan arif.

Selain membaca secara langsung kepada Imam Sulaim, beliau juga meriwayatkan qira’at dari Imam Husain al-Ju’fi, dan Muhammad bin al-Hasan al-Ruasi.


Dalam bidang hadits, Imam Khallad belajar kepada Zuhair bin Mu’awanah, al-Hasan bin Shalih bin Hay.

Hadits-haditsnya dikutip dan diriwayatkan oleh Abu Zur’an dan Abu Hatim, bahkan keduanya mengapresiasinya sebagai orang yang sangat jujur.

Murid-murid Imam Khallad

Setelah melakukan pengembaraan intelektual kepada para imam yang berkompeten dalam bidangnya, kemudian beliau mengaplikasikan ilmunya di tengah-tengah masyarakatnya dengan meriwayatkan qira’at imam Hamzah dari jalur Imam Sulaim dalam waktu yang sangat lamai. Maka tak ayal, banyak para penuntut ilmu yang belajar kepadanya, salah satunya adalah: Ahmad bin Yazid al-Hulwani, Ibrahim bin Ali al-Qassar, Ali bin Husain al-Thabari, Ibrahim bin Nashr al-Razi, al-Qasim bin Yazid al-Wazan, termasuk murid yang paling bagus, Muhammad bin al-Fadhl, Muhammad bin Said al-Bazzaz, Muhammad bin Syadzan al-Jauhari, termasuk murid yang paling dhabit, Muhammad bin Isa al-Ashbahani, Muhammad bin al-Haitsam Qadi Akbiran, termasuk murid yang paling mulya.

Setelah mengabdikan diri kepada kalam Rab-nya, Allah memanggilnya kepangkuan-Nya pada tahun 220 H.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 


(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin. Jilid I, [Bairut: Dar al-Jayl], 1992; Kitab “Siyar ‘A’lamin Nubala’ [Kairo: Dar al-Hadits, 2006, dan Kitab “Makrifatul Qurra’ Al-Kibar ‘alat Thabaqat wal A’shar” [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1997, karya Imam Ad-Dzahab, dan kitab “Thabaqat al-Qurra’ al-Sab’ah wa Dzikru Manaqibihim wa qira’atihim” .[Beirut: al-Maktabah al-Ashriyah, 2003].