IMG-LOGO
Hikmah

Cara Imam Bakr al-Muzani Menilai Orang Lain

Senin 8 April 2019 21:45 WIB
Share:
Cara Imam Bakr al-Muzani Menilai Orang Lain
Ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. (Ilustrasi: freepik)
Dalam kitab Shifat al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi mencatat sebuah riwayat tentang Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani. Berikut riwayatnya:

عن كنانة بن جبلة السلمي قال: قال بكر بن عبد الله: إذا رأيت من هو أكبر منك فقل: هذا سبقني بالإيمان والعملي الصالح فهو خير منّي, وإذا رأيت من هو أصغر منك فقل: سبقتُه إلي الذنوب والمعاصي فهو خير منّي, وإذا رأيت إخوانك يكرمونك ويعظّمونك فقل: هذا فضل أخذوا به, وإذا رأيت منهم تقصيرا فقل: هذا ذنب أحدثتُه

Dari Kinanah bin Jablah al-Sulami, ia berkata: Imam Bakr bin Abdullah berkata: “Ketika kau melihat orang yang lebih tua darimu, katakanlah (pada dirimu sendiri): ‘Orang ini telah mendahuluiku dengan iman dan amal shalih, maka dia lebih baik dariku.’ Ketika kau melihat orang yang lebih muda darimu, katakanlah: ‘Aku telah mendahuluinya melakukan dosa dan maksiat, maka dia lebih baik dariku.’ Ketika kau melihat teman-temanmu memuliakan dan menghormatimu, katakanlah: ‘Ini (karena) kualitas kebajikan yang mereka miliki.’ Ketika kau melihat mereka kurang (memuliakanmu), katakan: ‘Ini (karena) dosa yang telah kulakukan.” (Imam Ibnu Jauzi, Shifat al-Shafwah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1985, juz 3, h. 248)

****

Sebagai pintu masuk memahami ungkapan di atas, kita harus membaca terlebih dahulu hadits nabi yang menjelaskan tentang dosa. Beliau Saw bersabda (HR Imam Muslim):

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

“Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Andai kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang mereka akan berbuat dosa, kemudian mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.”

Hadits di atas perlu dipahami dengan cermat, karena bisa dianggap seolah-olah berdosa itu tidak masalah. Padahal titik beratnya bukan di situ. Dari kandungan maknanya, kita bisa temukan dua titik penting; pertama, pentingnya memohon ampunan kepada Allah, dan kedua, pengingat bahwa tidak ada manusia yang suci dari dosa, siapa pun orangnya kecuali para nabi.

Artinya, hadits tersebut adalah pengingat bagi manusia untuk tidak merasa “sok suci” dan “sok tidak memiliki dosa.” Di sinilah hikmah adanya dosa, sebagai penyeimbang dari pahala. Menurut para ulama, merasa berdosa lebih utama daripada merasa berpahala. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) mengomentari hadits di atas dengan mengatakan:

وهذا أحبّ إلى الله من فعل كثيرٍ من الطاعات فإنّ دوام الطاعات قد توجب لصاحبها العجب

“Ini (merasa berdosa) lebih disukai Allah daripada melakukan banyak ketaatan, karena tetapnya ketaatan terkadang membuat ujub pelakunya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li-Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999, h. 57)

Apalagi jika ujubnya sudah sampai membuatnya menilai orang lain dengan buruk. Sebab, penilaian buruk terhadap orang lain, baik disadari atau tidak, berasal dari anggapan bahwa dirinya sudah baik, sehingga itu dijadikan ukuran dalam menilai orang lain. Karenanya sebagian ulama mengatakan: “Dzanbun aftaqiru bihi ilaihi ahabbu ilayya min thâ’atin adillu bihâ ‘alaihi—dosa yang membuatku butuh akan (ampunan)Nya lebih kusukai daripada ketaatan yang membuatku memamerkannya.” (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathâ’if al-Ma’ârif fî mâ li-Mawâsim al-‘Âm min al-Wadhâ’if, 1999, h. 57-58)

Prasangka baik harus kita dahulukan dalam menilai seseorang, sejahat apapun orang tersebut. Andai kita melihat ada hal-hal yang perlu diperbaiki dari orang tersebut, lakukanlah dengan ma’ruf. Apalagi jika orang yang kita nilai adalah orang yang kita kenal atau dikenal berilmu. Kita harus lebih berhati-hati. Maka, penting bagi kita untuk menjadikan nasihat Imam Bakr bin Abdullah al-Muzani (w. 108 H) sebagai pegangan sekaligus pengingat diri.

Baca juga:
Lima Jurus Imam al-Ghazali agar Terhindar dari Ujub
Ketika Pengarang Alfiyah Dihinggapi Rasa Ujub
Imam Bakr al-Muzani menghendaki manusia untuk melihat dirinya sendiri sebelum menilai orang lain. Bisa jadi yang menilai tidak lebih baik dari yang dinilai. Ia memahami betul bahwa tidak mungkin manusia mengenal sepenuhnya orang yang hendak dinilainya. Mereka tidak selalu bersama-sama selama 24 jam, hanya melihat sebagiannya saja. Karena itu, sangat penting menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Lagi pula menilai diri sendiri adalah perbuatan terpuji.

Persoalan lain yang ditimbulkan dari kegemaran menilai orang lain adalah lupa untuk menilai diri sendiri, padahal itu sangat penting. Kenapa penting? Karena untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai manusia yang penuh dosa. Dengan menilai diri sendiri (muhasabah) kita bisa meraba-raba semua dosa kita, lalu memohon ampun kepada Allah. Kebanyakan manusia membaca istighfar tanpa merasakan dosanya, atau tanpa menyadari bahwa ia sedang memohon ampunan. Ia hanya tahu bahwa istighfar adalah penghapus dosa, tapi lupa akan ingatan dosa-dosanya. Hal ini terjadi, salah satunya, karena kelalaian manusia dalam membaca dirinya, apalagi jika sudah disibukkan dengan membaca yang lainnya.

Dengan mengikuti nasihat Imam Bakr al-Muzani, kita bisa memperoleh dua hal sekaligus; intropeksi diri (muhasabah) dan berbaik sangka (husnudhan). Keduanya merupakan jalan pembuka pendewasaan spiritual, dan di waktu yang sama menghadiai kita dengan pahala. Intinya, jangan anggap pahala sebagai tabungan, karena bisa membuat kita merasa lebih kaya dari yang lainnya. Anggaplah pahala sebagai bahan bakar yang membuat kita selalu berusaha berada di jalan-Nya.

Sebagai penutup, ada satu nasihat luar biasa dari seorang tabi’in, murid Sayyidina Anas bin Malik (10-93 H), Imam Abû Qilâbah (w. 104 H) yang mengatakan:

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له العذر جهدك, فإن لم تجد له عذرا فقل في نفسك لعل لأخي عذرا لا أعلمه

“Jika sampai kepadamu informasi tentang perbuatan saudaramu yang kau benci, carikan alasan (berbaik sangka) untuknya semampumu. Jika kau tidak menemukannya, maka katakan pada dirimu sendiri: “Mungkin saudaraku mempunyai alasan yang tidak aku ketahui.” (al-Hafidz Abu Nu’aim al-Asfahani, Hilyah al-Auliyâ’ wa Thabaqât al-Asyfiyâ’, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988, juz 3, hlm 285)

Maka, berhati-hatilah menilai sesamamu, siapa tahu ia memiliki amal yang lebih banyak darimu. Allâhumma sallimnâ min fitnati hâdzihiz zaman. Amin.

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.
Share:
Ahad 7 April 2019 15:30 WIB
Kisah Ahmad bin Hanbal dan Perempuan Penenun
Kisah Ahmad bin Hanbal dan Perempuan Penenun
Dalam kitab Shifah al-Shafwah, Imam Ibnu Jauzi (w. 597 H) mencatat sebuah riwayat perjumpaan Imam Ahmad bin Hanbal dengan seorang wanita pekerja tenun. Berikut riwayatnya:

عبد الله بن أحمد بن حنبل قال: كنت مع أبي يوما من الأيام في المنزل، فدق داق الباب. قال لي: اخرج فانظر من بالباب؟ فخرجت فإذا امرأة. فقالت لي: استأذن لي على أبي عبد الله. قال: فاستأذنته. فقال: أخلها. قال: فدخلت فسلمت عليه. وقالت له: يا أبا عبد الله، أنا امرأة أغزل بالليل في السراج، فربما طفىء السراج، فأغزل في القمر، فعليّ أن أبيّن غزل القمر من غزل السراج؟ قال: فقال لها: إن كان عندك بينهما فرق فعليك أن تبيني ذلك. قال: قالت: يا أبا عبد الله أنين المريض شكوى؟ قال: أرجو ألّا يكون شكوى، ولكنه اشتكاء إلى الله عز وجل. قال: فودعته وخرجت. فقال لي: يا بني ما سمعت قط إنسانًا يسأل عن مثل هذا، اتبع هذه المرأة فانظر أين تدخل؟ قال: فاتبعتها فإذا قد دخلت إلى بيت بشر بن الحارث، واذا هي أخته. قال: فرجعت فقلت له. فقال: محال أن تكون مثل هذه إلا أختَ بشْر

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Suatu hari aku bersama ayahku di rumah, kemudian ada seseorang yang mengetuk pintu.” Ayahku berkata: “Keluarlah dan lihat siapa yang ada di pintu.” Aku keluar, ternyata (yang mengetuk pintu) adalah seorang wanita. Ia berkata kepadaku: “Mintakan izin agar aku bisa menemui Abu Abdullah (panggilan Imam Ahmad bin Hanbal).” Maka aku memintakan izin kepadanya, dan beliau mengizinkannya.

Wanita itu masuk dan mengucapkan salam kepada ayahku, lalu ia bertanya: “Wahai Abu Abdullah, aku seorang wanita yang sering menenun di malam hari, seringkali lampunya padam, maka aku menenun di bawah cahaya rembulan. Apakah aku harus menjelaskan (mana yang hasil) tenunan dengan cahaya rembulan dan (mana yang hasil) tenunan dengan cahaya lampu?”

Ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal) berkata kepadanya: “Jika menurutmu ada perbedaan di antara keduanya, kau harus menjelaskannya.” Wanita itu bertanya lagi: “Wahai Abu Abdullah, apakah rengekan orang sakit termasuk bentuk keluhan (yang dilarang)?” Ayahku menjawab: “Aku harap tidak (bukan keluhan yang dilarang), tapi hanya pengaduan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Ketika wanita itu sudah pulang, ayahku berkata kepadaku: “Anakku, aku tidak pernah mendengar seorang pun bertanya seperti ini. Ikutliah wanita tadi, lihatlah ke mana ia masuk.” Maka aku mengikutinya, kemudian ia masuk ke rumah Bisyri bin al-Harits. Ternyata ia saudara perempuannya. Setelah sampai di rumah, kuceritakan hal itu kepada ayahku. Ia berkata: “Rasanya hampir tidak mungkin ada seorang wanita sepertinya kecuali ia saudara perempuan Bisyri (al-Hafi).” (Imam Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1985, juz 2, hlm 525)

****

Kita sering mendengar kata “hati-hati”. Kita sering diminta berhati-hati oleh orang-orang terdekat kita. Pertanyaannya, apakah kita pernah sekali saja melakukannya? Atau mengingat permintaan itu, minimal sekali saja? Jangan-jangan anggukan kita sekadar basa-basi saja, meski kemungkinan besar pemintanya pun sama. Lalu kaitannya apa dengan kisah di atas?

Begini, jika hati-hati dalam konteks keseharian saja kita lalai, bagaimana bisa kita memahami kehati-hatian dalam konteks agama sebagai sesuatu yang harus dicapai, bukan datang dengan sendirinya. Bahasa agamanya adalah wara’. Imam Ibrahim bin Adham (w. 165 H) mendefinisikan wara’ sebagai berikut:

ترك كل شبهة وترك ما لا يعنيك

“Meninggalkan segala sesuatu yang syubhat (meragukan) dan meninggalkan sesuatu yang tidak berguna untukmu.” (Imam al-Qusyairi, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Dar al-Ma’arif, tt, juz 1, hlm 233)

Wanita tukang tenun dalam kisah di atas takut hasil tenunannya masuk ke dalam wilayah syubhat. Sebab, dalam proses penenunannya ia memanfaatkan dua cahaya berbeda, yang satu berbayar dan satunya gratis. Artinya ada perbedaan modal dalam proses produksinya. Logika hukumnya begini: jika persentasi zakat pertanian dibedakan berdasarkan sumber pengairannya, maka hasil tenunnya pun memiliki konsekuensi hukum yang sama. 

Karena itu, ia menanyakan persoalan ini kepada Imam Ahmad bin Hanbal, dan dijawab dengan sangat ringkas: “Jika menurutmu ada perbedaan di antara keduanya, kau harus menjelaskannya.” Imam Ahmad menggunakan kata “’indaki—menurutmu” dalam jawabannya, artinya ia tahu bahwa wanita di depannya ini bukan orang sembarangan. Bisa jadi wanita itu sudah tahu jawabannya, ia bertanya hanya untuk menguatkan pendapatnya.

Buktinya, Imam Ahmad langsung menyuruh anaknya untuk mengikuti wanita tersebut. Ia terkejut karena belum pernah mendengar pertanyaan semacam itu sepanjang hidupnya. Biasanya orang akan bertanya kepadanya tentang apa yang membatalkan shalat, apa syarat-syarat tayamum dan lain sebagainya. Tapi untuk pertama kalinya ada seseorang yang bertanya di luar perkiraannya. Ternyata, wanita itu adalah saudara perempuan Imam Bisyri al-Hafi (w. 227 H). Disebut al-Hafi karena ia tak pernah memakai sandal. Imam Ahmad sangat menghormati Imam Bisyri. Ketika ada seseorang yang bertanya kepadanya tentang wara’, ia tidak berani menjawabnya dan menyuruh orang tersebut bertanya kepada Imam Bisyri al-Hafi.

Setelah tahu siapa wanita itu, Imam Ahmad berujar, “Rasanya hampir tidak mungkin ada seorang wanita sepertinya kecuali ia saudara perempuan Bisyri.” Menurut Imam Ibnu Jauzi, perempuan itu bernama Mukhah. Dalam riwayat Ghailan al-Qashâidî, Imam Bisyri bin al-Hârits al-Hafi berkata:

تعلّمت الورع من أختي فإنها كانت تجتهد ألا تأكل ما للمخلوق فيه صنع

“Aku belajar wara’ dari saudara perempuanku, ia berusaha (berjuang) untuk tidak memakan apa-apa yang dibuat oleh makhluk.” (Imam Ibnu Jauzi, Shifah al-Shafwah, 1985, juz 2, hlm 524)

Kehati-hatian Sayyidah Mukhah dalam menghindari syubhat membuatnya berusaha untuk memakan apa-apa yang tidak dibuat oleh makhluk. Hal ini memang sukar dilakukan, dan bisa dikatakan mustahil. Karena itu kata yang dipakai adalah “tajtahidu—berusaha/berjuang”. Jadi, bukan tidak memakannya sama sekali, tapi berusaha memakan yang jelas berkah dan kehalalannya. Dengan demikian, ketika ia temui perbedaan proses tenun yang menggunakan dua sumber cahaya berbeda tadi, ia melakukan pemilahan. Inilah poin pentingnya, bukan soal “mungkin” atau “tidak mungkin” berusaha tidak memakan buatan makhluk.

Sederhananya begini, keteguhan Sayyidah Mukhah menggenggam kewara’annya, yaitu berusaha untuk tidak memakan apa-apa yang dibuat oleh makhluk, meluaskan cakrawala pemikirannya. Bagi orang biasa seperti kita, pertanyaan yang diajukan Sayyidah Mukhah pada Imam Ahmad bin Hanbal tidak akan melintas sama sekali, apalagi terpikirkan. Karena tangan kita masih terbuka, belum berusaha menggenggam sesuatu. Jadi, kita jangan dulu bicara jauh soal genggaman, karena apa yang hendak digenggam saja kita masih meraba-raba. Dengan kata lain, kita masih harus belajar banyak sebelum mengepalkan tangan kita untuk menggenggam sesuatu.

Sebelum diakhiri, kita perlu merenungkan kalimat ini, “Terkadang apa yang kita pandang tampak membatasi, sebenarnya membebaskan, dan apa yang kita pandang tampak membebaskan, sebenarnya membatasi.” Memang, praktik wara’ yang dilakukan Sayyidah Mukhah secara kasat mata tampak membatasi dan mustahil, tapi, di sisi lain, itulah yang meluaskan cakrawala kecerdasannya. Artinya, jika kita hendak mencari kebaikan, kita akan menemukannya. Karena Tuhan menciptakan kebaikan di mana-mana, di berbagai benda mati dan benda hidup, hanya bagaimana cara kita memandangnya.

Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 6 April 2019 15:0 WIB
Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli
Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli
Dalam kitab al-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibânî (164-241 H) ada dua riwayat yang menceritakan Nabi Nuh as disakiti kaumnya:

حدثنا عبد الله حدثنا عبد الرحمن عن سفيان عن الأعمش عن مجاهد عن عبيد بن عمير قال: كان قوم نوح يضربونه حتي يغشي عليه فإذا أفاق قال: اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون.

Diceritakan oleh Abdullah, diceritakan oleh Abdurrahman, dari Sufyan, dari al-A’masy, dari Mujahid, dari Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: “Kaum Nabi Nuh memukulinya hingga ia tidak sadarkan diri. Ketika Nabi Nuh siuman, ia berdoa: 

“Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, hlm 66)

عن مجاهد عن عبيد بن عمير قال: إن كان الرجل من قوم نوح ليلقاه فيخنقه حتي يخر مغيشا عليه, قال: فيفيق حين يفيق وهو يقول: رب اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون.

Dari Mujahid, dari ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: “Jika seseorang dari kaum Nuh bertemu dengannya, maka ia akan mencekiknya hingga Nuh jatuh pingsan.” Kemudian ia sadarkan diri, ketika itu ia berdoa: 

“Tuhan, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, hlm 66)

****

Cara paling mudah untuk menakar kedalaman manusia adalah ketika ia sedang tersakiti (dilukai). Akal sehat manusia cenderung menyusut di saat itu terjadi. Luka menimbulkan kemarahan. Kemarahan menghadirkan kehendak membalas. Kehendak membalas memunculkan dendam.

Bagi orang yang belum menguasai dirinya, ia akan membalas perilaku buruk orang lain dengan balasan yang terkadang jauh lebih kejam. Manusia yang tersinggung, kehendak buasnya meningkat. Balasan setara tidak lagi menjadi pilihan. Sebab, pembalasan selalu berkaitan erat dengan kepuasan. Melampiaskan sakit hati tanpa kepuasan, dalam struktur kejiwaan manusia, tidak bisa memenuhi fantasi kepuasan yang diharapkan.

Apa yang dilakukan Nabi Nuh dalam kisah di atas paling tidak menggambarkan dua hal, pertama, memaafkan segala perilaku buruk kaumnya dengan dasar “mereka tidak mengetahui.” Kedua, melepaskan beban yang memberatkan hatinya dengan cara mendoakan mereka.

Penjelasannya begini, untuk yang pertama, memaafkan dalam kerangka kisah di atas adalah mewajari. Perilaku buruk kaummnya, mencekik dan memukul, dipandang oleh Nabi Nuh berasal dari ketidaktahuan mereka. Tentu saja dalam strata hubungan normal antara non-nabi perlakuannya akan berbeda. Keseimbangan sangat diperlukan di sini. Itulah sebabnya Allah membincangkan hukum-hukum-Nya melalui para nabi. Hukum yang diturunkan untuk menjaga keseimbangan di antara manusia, selain dengan Tuhannya. Tapi, jika ada seseorang yang mampu bersikap seperti Nabi Nuh, ia adalah manusia luar biasa.

Yang kedua, maksud “melepaskan beban” adalah rasa bersalah. Maksudnya begini, jika Nabi Nuh tidak berdoa memohonkan ampunan untuk mereka, artinya ia menjadi penyebab dosa-dosa mereka. Penyebab di sini bukan penyebab dalam arti muasal, tapi pengantar. Gara-gara menyakiti Nabi Nuh mereka menanggung dosa. Artinya ada dosa yang tercatat di buku amal mereka karena menyakiti Nabi Nuh. Bagi seorang nabi yang membawa misi kenabian, ia akan berusaha menghindarinya. Tugasnya adalah membawa manusia mendekat kepada Allah agar selamat dunia-akhirat, bukan mengantar mereka ke pintu neraka.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, apakah mungkin dua poin penting kisah di atas bisa dilakukan manusia biasa? Tentu saja bisa, meski dalam batas-batas tertentu. Sebab, semua perilaku nabi dan hikmahnya dijadikan Allah sebagai standar keteladanan atau ukuran ideal untuk manusia. Memang, ukuran ideal cenderung tidak bisa diraih, tapi setidaknya menjadi garis finis yang dituju. 

Dalam konteks kebaikan dan akhlak, ada dua pendekatan menarik. Pertama, ukuran ideal yang harus mengawang-awang. Tujuannya agar pelaku kebaikan tidak pernah merasa puas dengan kebaikannya. Tanpa ukuran ideal yang mengawang-awang itu, pelakunya akan merasa sudah berhasil dan telah mencapai garis finis. Akibatnya kebaikan memiliki batas dan mengenal kata “sampai”. Seharusnya kebaikan terbebas dari semua itu, agar pelakunya selalu meningkatkan perbuatan baiknya dan tidak pernah merasa ‘sampai’. Namun, tetap harus ada standar dan ukuran idealnya, meski hampir mustahil untuk dicapai.

Kedua, andaipun kebaikan mengenal “perbatasan”, manusia harus menyadari bahwa mengulangi perjalanan adalah hal baik. Tantangannya pun tak kalah besarnya dari skema kebaikan yang pertama. Karena pengulangan sangat dekat dengan kebosanan. Pengulangan yang dilakukan terus-menerus membuka peluang kebosanan yang lebih besar. Maka, dibutuhkan perjuangan luar biasa untuk menjadi pengulang yang baik.

Di sini Nabi Nuh memberi contoh untuk kita semua, bahwa menjadi pemaaf tidak melulu berarti pengecut; tidak membalas tidak selalu berarti takut. Ia juga menunjukkan cara memaafkan yang paling baik, dengan cara mendoakan ampunan untuk mereka. Ya, memang sulit dilakukan, tapi setidaknya “sudahkan kita mencobanya?”

Wallahu a'lam

Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Sabtu 6 April 2019 12:0 WIB
Gus Baha’: Kekuatan Militer atau Kekuatan Masyarakat?
Gus Baha’: Kekuatan Militer atau Kekuatan Masyarakat?
KH Bahaudin Nur Salim atau Gus Baha' (galeri.mahally.ac.id)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diajarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberikan kisah-kisah nabi terdahulu supaya Nabi Muhammad mendapatkan pelajaran tentang bagaimana bersikap dan mempelajari sejarah. Dengan begitu, jalur pemikiran dan sikap Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain selalu sama. Kesamaan metodologi berpikir yang diajarkan Al-Qur’an dengan mengisahkan nabi terdahulu kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu bentuk pertalian sanad yang menyambung. Nabi satu dengan nabi yang lain menyambung secara gagasan dan sikap. 

KH Bahaudin Nur Salim, asal Rembang, Jawa Tengah, atau yang akrab disapa Gus Baha’ memaparkan sebuah bukti melalui contoh sikap kiai alumni-alumni pesantren. Sejak ia jadi santri sudah mendapat contoh perilaku kiai di atasnya. Bagaimana kiai tersebut menyikapi satu masalah, akan ditiru santrinya bahkan sampai santrinya tersebut menjadi kiai.

Sebagai contoh, seorang kiai pada saat melihat ada orang mabuk di pinggir jalan. Sekeras apa pun pandangan kiai NU, jika melihat orang mabuk di pinggir jalan, kiainya hanya membaca istighfar atau mendoakan, bukan bereaksi dengan cara memukul orang yang sedang mabuk. Tradisi tersebut kemudian menjadi turun-menurun kepada santri, santrinya kepada santri di bawahnya. Santrinya kelak saat jadi kiai, akan meniru sikap kiainya. Inilah yang disebut dengan pertalian sanad. 

Dahulu saat zaman Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, perbedaan identitas antara “orang hijau” (Islam taat) dan “orang abangan” sangat tampak, namun tidak ada catatan sejarah Mbah Hasyim memukul atau menyerang orang mabuk. Kita ditradisikan oleh guru-guru kita dalam memberantas kemungkaran itu dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Kita lebih memilih tradisi doa:
 
اللهم اهد قومي فانهم لا يعلمون

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau beri petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak tahu.” 

Kiai-kiai bijak itu, sebagai orang alim, bukan tidak mengerti bahwa kemungkaran harus diberantas. Namun, menurut sanad perilaku memang metodologinya tidak dengan cara keras. Mungkin ini berbeda dari kebanyakan orang Arab. Saat melihat kemungkaran, mereka bereaksi dengan cara keras seketika. Jangankan kepada peminum, kepada sesama Muslim yang tidak sealiran saja bisa saling bunuh. Yang terjadi, orang Sunni menghalalkan darahnya orang Syi’ah, begitu pula sebaliknya. Kitab-kitab fiqih klasik pesantren justru banyak mengomentari tentang kehalalan darah orang yang berbeda aliran, tapi di Indonesia tidak dijalankan sebab tidak mempunyai tradisi atau sanad menjalankan keterangan tersebut.

Baca juga:
Kenapa Kiai Cenderung ‘Menghindari’ Bab Jihad? Ini Kata Gus Baha’
Perbedaan Kiai Kecil dan Kiai Besar Menurut Gus Baha’
Gus Baha’ bercerita, “Kami kalau sedang bertahajud, mengirim fatihah kepada para wali seperti Wali Songo dan lain sebagainya. Kami ingat bahwa Islam mempunyai sumber utama Al-Qur’an dan hadits. Namun kenyataan di lapangan tetap berimprovisasi atau berkembang sesuai karakter siapa yang mendakwahkan Islam di satu tempat di mana Islam itu berkembang.” 

Di India pernah terjadi bentrok besar-besaran pada masa Abu al-A’la al-Maududi di bawah kepemimpinan Muhammad Iqbal sehingga India pisah dengan Pakistan dan selanjutnya Pakistan menjadi negara Islam. Hal ini berawal karena konseptor negara Pakistan adalah orang-orang yang tidak setuju dengan negara sekuler yang memisahkan diri dari India. Di kemudian hari, akhirnya memang Pakistan menjadi negara Islam. Islam menjadi ideologi negara.

Di negara-negara Timur Tengah, formalisasi Islam ke dalam negara lebih banyak menimbulkan kekacauan. Banyak orang Iran yang berideologi Syiah menganggap darah orang Sunni halal. Begitu pula sebaliknya di Irak. Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husain, banyak orang Syiah dan suku Kurdi dibantai. Era Saddam kalah, kelompoknya pun menjadi target sasaran balik. Arab Saudi saat ingin menjadikan Wahabi sebagai ideologi negara, secara besar-besaran mereka membuang orang Sunni. Begitu pula yang terjadi di Sudan, Khortum, Dalfur, hingga Sayyid Qutub sebagai tokoh muslim populer, dan meninggalnya bagaimana saja tidak jelas, padahal mereka ini Islam semua. Berbeda mazhab bisa menjadikan saling bunuh. Masyarakat Indonesia paling tinggi kelasnya, hanya berhenti sampai pada level polemik soal pendapat saja, tidak lebih.

Kita harus bersyukur karena mempunyai tradisi konflik terbaik di dunia. Badan Koordinasi Stabilitas Nasional (Bakorstanas) di Indonesia harusnya berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada para ulama kita yang tidak sampai mentradisikan perang. Kalau kita lihat peran Ikhwanul Muslimin di Mesir, mereka bisa memicu kekacauan yang luar biasa. Sebagai orang pesantren, kita tahu banyak sejarah perselisihan pendapat, misalnya antara Kiai Imam dengan Kiai Zubair, Kiai Maemun dengan kiai lain. Walaupun mereka berbeda pandangan, paling keras hanya sampai pada level adu statemen dengan tamu-tamu yang datang saja, tidak sampai ada pertumpahan darah. Itulah kenapa kita menjadi punya “tradisi konflik” terbaik di dunia. 

Kita lihat bagaimana orang NU marah pada saat Gus Dur dilengserkan dari presiden. Tensi marah tertingginya orang NU, tidak sampai menumpahkan darah. Dalam forum seminar mereka sudah duduk bersama lagi dengan orang-orang yang dulu menggulingkan Gus Dur. Kita mendapati satu sejarah bagaimana Ahmad Hasan berbeda dengan tokoh-tokoh NU, bagaimana pula bedanya Gus Dur dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin tentang asas tunggal Pancasila. Kita saksikan mereka menyelesaikan masalah dengan beradab dibanding cara-cara penyelesaian konflik seperti di Irak. 

Dengan menjalin persaudaraan di bawah payung Islam, orang-orang akan menjadi damai hatinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan: 

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا 

Artinya: “Dan ingatlah kalian atas nikmat Allah yang atas kalian saat kalian bermusuhan kemudian Allah mempersatukan hatimu sehingga kalian menjadi bersaudara.” (QS Ali Imran: 103) 

Ayat di atas menunjukkan, atas barakahnya Islam, suku Auz dan Khazraj yang semula bermusuhan bisa berubah menjadi bersaudara. Berbeda jika umat Islam masih saja perang atau konflik dalam tubuhnya sendiri, akan mudah dicampurtangani oleh pihak luar, contohnya adalah Perang Irak. Di sana orang Muslim Sunni dan Syiah bertempur, akhirnya Amerika, Rusia ikut campur tangan. 

Gus Baha’ kembali melanjutkan, “Di Indonesia juga muncul kelompok-kelompok kecil yang sangat banyak. Namun seumpama Allah bertanya kepada saya, saya jawab bahwa saya memilih NU. Bukan karena saya oportunis. Namun, saya memilih yang paling besar ini supaya jika ada konflik, pemetaannya mudah. Apabila setiap orang yang merasa benar sendiri kemudian membuat kelompok sendiri-sendiri, maka tidak akan ada selesainya.” Oleh karena itu, Rasulullah bersabda: 

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Artinya: “Kamu harus selalu bersama kelompok besarnya orang-orang Muslim dan imamnya.” (Muttafaq 'alaih

Setiap orang perlu berkelompok dengan mainstream. Melawan arus utama bisa berakibat konflik atau tidak bersaudara (ikhwânâ). Mengapa Iran tidak mudah diintervensi atau diserang Amerika? Karena mereka cenderung seragam (homogen), kompak, dengan basis identitas dominan Syiah. Bagi musuh, melawan sebuah kekompakan itu merupakan perkara sulit. Arab Saudi, walaupun awalnya bentrok dengan Sunni, tidak mudah diadu pihak luar karena mereka seragam dengan Wahabi sebagai identitas Islamnya. Terlepas aqidah mereka apa. Kenapa Indonesia itu aman? Karena ada NU dan Muhammadiyah yang masih bersatu. Platform besar seperti ini lebih mudah kompak daripada lahir faksi-faksi kecil baru yang sulit bersatunya.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak disebabkan alat perangnya yang canggih, tapi masyarakatnya yang tidak bentrok (kompak). Seumpama Jawa yang mayoritas Muslim ingin mendirikan negara Islam, orang NTT akan tersinggung, dan wajar jika mereka ingin memisahkan diri dari Indonesia. Begitu pula Papua, Maluku, Ambon, dan lain sebagainya. Apakah militer bisa mengatasi hal tersebut? Tidak bisa. 

Dengan penjelasan Gus Baha’ di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa persatuan merupakan hal yang sangat penting sehingga siapa saja yang ingin mengoyak Indonesia akan dapat dikalahkan dengan persatuan masyarakatnya. 

(Ahmad Mundzir)