IMG-LOGO
Thaharah

Hukum Bersuci dengan Air Daur Ulang Limbah

Selasa 16 April 2019 18:30 WIB
Share:
Hukum Bersuci dengan Air Daur Ulang Limbah
Ilustrasi (litbang.pu.go.id)
Air merupakan material pokok dalam bersuci, baik bersuci dari hadats kecil atau besar maupun bersuci dari najis. Sebagaimana yang sudah maklum, air yang digunakan untuk bersuci harus berupa air mutlak, yaitu air yang mempunyai kualitas suci dan menyucikan. Suci untuk dirinya sendiri dan bisa menyucikan benda lain. Air mutlak dapat diartikan sebagai air netral. 

Netral di sini mempunyai maksud bahwa air tidak terpaku dengan satu nama khusus. Contohnya adalah air bening. Apabila air bening dituangkan di dalam gelas, orang-orang akan mudah mengatakan itu sebagai air gelas. Jika air tersebut dimasukkan ke dalam teko, masyarakat akan menyebutnya sebagai air teko. Begitu pula seumpama air itu dipindah ke dalam kulah, sumur dan lain sebagainya, ia akan netral menyesuaikan nama tempat di mana ia berlabuh. Intinya, di mana ada air masih bisa berubah sesuai tempat di mana air tersebut bertempat, maka air yang seperti demikian dinamakan sebagai air mutlak atau suci menyucikan. 

Berbeda misalnya dengan air kelapa muda. Air kelapa muda apabila dituangkan ke dalam tempat yang berbeda-beda, ia tidak akan bisa berubah nama sesuai tempatnya. Nama air kelapa muda sudah melekat erat. Hal yang sama berlaku juga untuk air netral yang sudah dicampur dengan daun teh dan kemudian berubah menjadi wedang teh. Ketika sudah menjadi wedang teh, dipindah ke wadah apa pun, orang akan menyebutnya sebagai air wedang teh. Air yang sudah mempunyai ciri-ciri nama melekat seperti ini tidak lagi dinamakan sebagai air mutlak (air netral). 

Bagaimana dengan status hukum air limbah yang kembali berubah menjadi bening? 

Pada dasarnya, air limbah yang tampak kotor atau berubah salah satu dari tiga sifat air disebabkan karena bercampur dengan najis, ulama sepakat bahwa hukum air tersebut menjadi mutanajjis (terkena najis).
 
أجمع العلماء على أن الماء إذا وقعت فيه نجاسة فغيرت أحد أوصافه: لونه أو طعمه أو ريحه فهو نجس

Artinya: “Para ulama sepakat jika ada air tercampur dengan najis kemudian salah satu sifat-sifatnya berubah baik warna, rasa atau pun baunya, air tersebut hukumnya najis.” (Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Hasan Sulaiman Al-Nuri, Ibânatul Ahkâm, [Al-Bidayah, 2018], juz 1, halaman 21) 

Apabila air yang telah berubah menjadi najis tersebut kembali pulih menjadi air netral sehingga bening lagi dan orang-orang tidak bisa membedakan ini air bekas limbah dan yang satunya tidak dari limbah, maka hukum air yang seperti demikian hukumnya kembali menjadi suci dengan catatan jumlah volume air minimal sebanyak dua kulah (setara dengan 216 liter atau air penuh dalam kubus ukuran rusuk 60 cm). Jika sudah pernah melewati dua kulah dalam satu waktu, setelah itu kembali kurang dari dua kulah, maka hukum air sudah suci menyucikan selamanya. 

ـ (فَإِنْ زَالَ تَغَيُّرُهُ بِنَفْسِهِ) بِأَنْ لَمْ يَنْضَمَّ إلَيْهِ شَيْءٌ كَأَنْ طَالَ مُكْثُهُ (أَوْ بِمَاءٍ) انْضَمَّ إلَيْهِ وَلَوْ مُتَنَجِّسًا، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ وَالْبَاقِي كَثِيرٌ بِأَنْ كَانَ الْإِنَاءُ مُنْخَنِقًا بِهِ فَزَالَ انْخِنَاقُهُ وَدَخَلَهُ الرِّيحُ وَقَصَرَهُ أَوْ بِمُجَاوِرٍ وَقَعَ فِيهِ أَيْ أَوْ بِمُخَالِطٍ تَرَوَّحَ بِهِ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ مِمَّا يَأْتِي فِي نَحْوِ زَعْفَرَانٍ لَا طَعْمَ وَلَا رِيحَ (طَهُرَ) لِزَوَالِ سَبَبِ التَّنَجُّسِ

Artinya: “Jika air yang berubah tersebut kembali netral, bisa jadi karena diam dalam tempo lama, tidak ada benda atau zat yang dimasukkan, atau dengan cara ditambah air yang banyak walaupun dengan air najis, atau juga ada bagian air yang diambil sedangkan sisanya masih banyak seperti air yang ditaruh diwadah tertutup, setelah itu tutupnya dibuka lalu kemasukan angin, atau sebab benda yang jatuh kemudian berdampingan dengan air, atau bisa jadi karena tercampur dengan benda yang bisa menyegarkan seperti minyak za’faran yang tidak mempunyai rasa dan bau, maka hukumnya suci sebab sebab najisnya sudah hilang.” (Ibnu Hajar Al-Haitami. Tuhfatul Muhtâj, [al-Maktabah Al-Tijariyah Al-Kubra, Mesir, 1983], juz 1, halaman 85). 

Pada salah satu pengelolaan air limbah adalah Andrich Tech System di yang pernah diujicobakan di Jakarta. Teknologi ini dinilai dapat mengembalikan limbah septic tank yang bercampur antara tinja dengan air, bisa memisahkannya kembali menjadi 95 persen air bersih. Secara dasar, cara kerja teknologi Andrich yang pertama adalah memisahkan kotoran tinja manusia yang besar dari air dengan penyaring besar. Kedua, menyaring air berulang kali sehingga yang tersisa pada air adalah air dengan campuran kotoran tinja yang lembut atau ringan. Ketiga, memberikan zat kimiawi yang berfungsi mengelompokkan kotoran ringan yang masih terapung menjadi berat secara beban dan kemudian mengkristal sehingga kotoran yang mengapung tersebut bisa mengendap ke bawah. Air yang tersisa di atas menjadi bening kembali. 

Perlu diketahui, tinja adalah benda najis yang tidak bisa menjadi suci lagi, namun air limbah atau air yang diambil dari septic tank tidak murni dari unsur tinja 100 %. Septic tank yang berisi tinja, terdapat kadar air yang dibuat menyiram kloset dengan komposisi air sekian persen. Artinya, apabila air yang bercampur najis tersebut dapat dipisahkan kembali dari najisnya dan air bisa bersih seperti sedia kala, maka air bisa kembali suci dengan bagaimana pun caranya. Menurut Imam Nawawi, yang membuat najis itu perubahan sifatnya. Apabila perubahan sifat sudah hilang, maka kembali menjadi suci. 

لِأَنَّ سَبَبَ النَّجَاسَةِ التَّغَيُّرُ، فَإِذَا زَالَ طَهُرَ

Artinya: “Karena sebabnya najis adalah perubahan (sifat air). Apabila hilang perubahannya, hukumnya kembali suci.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, [Dârul Fikr], juz I, halaman 132)

Pada prinsipnya, menurut Imam Nawawi, air yang berubah sifatnya kemudian kembali netral itu dibagi menjadi lima. Empat di antaranya disepakati oleh ulama, itu pasti suci. Dan yang satu terdapat perbedaan pendapat. 

Dalam referensi yang sama dijelaskan:

وَيَطْهُرُ بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا وَخَامِسٍ مُخْتَلَفٌ فِيهِ فَذَكَرَ زَوَالَهُ بِنَفْسِهِ وَبِمَا يُضَافُ إلَيْهِ أَوْ يَنْبَعُ فِيهِ أَوْ يُؤْخَذُ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ وَالْمُخْتَلَفُ فِيهِ أَنْ يَزُولَ بِالتُّرَابِ فَقَوْلَانِ

Artinya: “Air bisa menjadi suci dengan empat hal. Yang empat disepakati ulama, sedangkan yang kelima terjadi perbedaan pendapat ulama. Pertama, perubahan air hilang dengan sendirinya. Kedua, sebab dimasuki benda baru. Ketiga, perubahan air hilang karena ada benda yang tumbuh di dalam air tersebut. Misalnya lumut atau ganggang yang kemudian bisa menyerap perubahan air sehingga air menjadi bening kembali. Ketiga, sebab ada hal yang diambil dari air. Contohnya ada air yang berubah warnanya karena kejatuhan bangkai tikus. Bangkainya diambil lalu menjadikan air bening kembali. Seperti ini ulama sepakat air menjadi suci menyucikan. Kelima, air berubah lalu diberi tanah, ini ulama berbeda pendapat. Menurut qaul ashah, air berubah yang diberi tanah sifatnya tidak kembali netral, namun perubahannya tertutup dengan tanah.” (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab, I:134) 

Baca juga:
Air Bercampur Kaporit, Bisakah Digunakan Bersuci?
Air Liur dan Ingus Najis Hanya bila Dalam Kondisi Ini
Imam Nawawi memandang netralitas air tersebut dengan kata kunci “yang penting kembali netral dan jumlah volume air lebih dari kulah”, maka sucilah air tersebut. Kalau perubahan najisnya hilang karena rekayasa ditimpa oleh sifat sejenis maka tidak bisa suci. Misalkan ada air berbau busuk, kemudian airnya disiram parfum menjadi wangi, atau pula warna air keruh sebab najis lalu dikasih pewarna makanan, konsep rekayasa yang seperti demikian tidak bisa menjadikan suci menyucikan. Berbeda apabila airnya direkayasa menjadi netral dan bening kembali, maka menjadi suci menyucikan. 

Kesimpulannya, air limbah atau air apapun yang mengalami perubahan sifat, apabila suatu saat bisa kembali netral atau bening kembali dan volumenye lebih dari dua kulah, maka air tersebut suci menyucikan karena yang menyebabkan najis sudah hilang. Wallahu a’lam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
 

Share:
Kamis 21 Maret 2019 8:0 WIB
Air Bercampur Kaporit, Bisakah Digunakan Bersuci?
Air Bercampur Kaporit, Bisakah Digunakan Bersuci?
Ilustrasi (via fpstx.com)
Sudah maklum, air yang sah digunakan untuk bersuci bisa berasal salah satu dari tujuh macam air yang meliputi air sungai, hujan, air laut, air sumur, air yang bersumber dari dalam tanah (mata air), air salju, dan air dari hasil hujan es. Masing-masing air tersebut dinamakan sebagai air suci menyucikan (thâhir muthahhir). Artinya, air tersebut suci pada dirinya sendiri, juga bisa menyucikan benda lain dari najis atau hadats. 

Contoh air suci namun tidak menyucikan adalah air kelapa muda. Ia suci pada dirinya sendiri, sehingga bisa kita minum. Namun tidak menyucikan, sehingga seumpama digunakan menyiram ke tempat yang terkena najis kotoran cicak, walaupun secara lahiriah najisnya hilang, tapi pada hakikatnya tempat tersebut masih belum dikatakan suci. 

Secara mendasar, air itu tidak bisa berubah menjadi mutanajjis (terkena najis) sebab benda apa pun. Hal ini berdasar sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Artinya: “Sesungguhnya air itu suci dan menyucikan, tidak ada benda lain yang bisa menjadikan air tersebut terkontaminasi najis.” (HR Abu Dawud [66], An-Nasa’i [174], At-Tirmidziy [66]) 

Namun jika kita lihat hadits di atas secara tekstual begitu saja, niscaya kita hanya akan meyakini, walaupun ada air kemasukan benda najis, tidak akan membuatnya menjadi najis. Akan tetapi hadits di atas ternyata tidak sendirian. Ada hadits-hadits lain yang juga memuat konten hampir sama dengan sedikit perinciannya masing-masing. Hadits-hadits seputar air dapat disimak di antaranya sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

إنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ، إِلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ، وَلَوْنِهِ

Artinya: “Sesungguhnya air itu tidak akan menjadi terkontaminasi najis kecuali bau, rasa dan warnanya terdegradasi.” (HR Ibnu Majah: 521) 

Hadits yang lain menyebutkan: 

إِذَا كَانَ الْمَاءُ قُلَّتَيْنِ لَمْ يَحْمِلْ الْخَبَثَ

Artinya: “Jika air mencapai dua kulah, maka tidak bisa memikul najis.” (Shahih Abu Dawud: 63)

Para ulama kemudian memadukan beberapa hadits di atas dengan hadits-hadits yang lain sehingga muncul produk kesepakatan, air dengan volume banyak yang mencapai dua kulah (174,58 liter hasil konversi ijtihad KH M Ma’sum Ali) atau lebih, kemudian kemasukan najis sedangkan salah satu dari tiga sifat air (bau, rasa, warna) berubah secara signifikan, maka air tersebut menjadi mutanajjis (terkena najis). 
Bagaimana jika yang mencampuri air tersebut berupa kaporit? 

Kaporit atau kalsium hipoklorit adalah salah satu jenis desinfektan berbentuk bubuk putih yang biasa digunakan di air PDAM atau kolam renang untuk menjernihkan dan membunuh bakteri-bakteri patogen yang tersebar pada air PDAM atau kolam renang. Kaporit akan terpecah di dalam air sehingga menghasilkan oksigen dan gas klorin yang berbau menyengat dan sifatnya melebur menjadi satu dengan air. 

Penggunaan kaporit harus disesuaikan dengan konsentrasi yang dibutuhkan dan batas aman yang telah ditetapkan oleh badan regulasi. Konsentrasi kaporit yang kurang dapat menyebabkan bakteri patogen yang ada di kolam renang tidak terbabat habis sehingga bisa menyebabkan penyebaran penyakit menular. Sedangkan konsentrasi kaporit yang berlebihan akan menyebabkan bahaya bagi kesehatan karena gas klorin yang tersisa pada air kolam renang. Jadi takarannya harus tepat. 

Sebagaimana pembahasan di atas, kita tahu bahwa yang bisa membuat najis air adalah benda najis atau benda yang terkena najis kemudian tercampur dengan air sehingga membuat perubahan netralitas air. Di sini, karena kaporit bukan berasal dari benda najis, setidaknya dapat disepakati bahwa air yang tercampur dengan kaporit tidak akan menjadi mutanajjis dalam arti air yanag tercampur dengan kaporit hukumnya tetap suci. Lalu air kaporit apakah tetap bisa menyucikan? Ini yang perlu kita telaah lebih lanjut. Mari kita teliti di kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i: 

وَإِذَا وَقَعَ فِي الْمَاءِ شَيْءٌ حَلَالٌ فَغَيَّرَ لَهُ رِيحًا أَوْ طَعْمًا، وَلَمْ يَكُنْ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ فَلَا بَأْسَ أَنْ يَتَوَضَّأَ بِهِ وَذَلِكَ أَنْ يَقَعَ فِيهِ الْبَانُ أَوْ الْقَطْرَانُ فَيَظْهَرُ رِيحُهُ أَوْ مَا أَشْبَهَهُ. وَإِنْ أَخَذَ مَاءً فَشِيبَ بِهِ لَبَنٌ أَوْ سَوِيقٌ أَوْ عَسَلٌ فَصَارَ الْمَاءُ مُسْتَهْلَكًا فِيهِ لَمْ يُتَوَضَّأْ بِهِ؛ لِأَنَّ الْمَاءَ مُسْتَهْلَكٌ فِيهِ إنَّمَا يُقَالُ لِهَذَا مَاءُ سَوِيقٍ وَلَبَنٍ وَعَسَلٍ مَشُوبٌ

Artinya: “Jika ada air kemasukan benda halal (suci) kemudian mengubah bau dan rasanya sedangkan antara benda yang membuat berubah dan air tidak melebur jadi satu, maka wudhu menggunakan air yang seperti ini hukumnya sah. Misalnya ada air kemasukan kayu atau pelangkin (tir/ter) kemudian baunya menyengat atau sejenisnya. 

Jika ada orang mengambil air, lalu dicampuri dengan susu, tepung atau madu sehingga airnya larut menjadi satu, maka wudhu dengan air seperti ini hukumnya tidak sah. Karena air larut bersama benda dan mengubah netralitas nama air, bisa menjadikan namanya berubah menjadi air tepung, air susu, air madu yang tercampur. (Muhammad bin Idris As-Syâfi’i, Al-Umm, [Dârul Ma’rifah, Beirut, 1990], juz 1, halaman 20)

Imam Syafi’i di atas memandang antara air dan benda yang menyebabkan perubahan itu semata berpengaruh saja atau sampai larut dan berpengaruh?

Kalau hanya berpengaruh namun tidak larut, misalnya ada kolam kejatuhan dauh-daun pepohonan di sampingnya lalu mengubah bau air, maka tidak ada masalah. Karena antara dau dan air tidak larut. Berbeda jika kaporit. Kaporit itu selain menimbulkan bau, bendanya juga larut menjadi satu pada air. Maka, jika dampak percampuran tersebut tidak mempengaruhi nama dasar air, tidak masalah. Berbeda jika sampai orang-orang berubah melabeli air tersebut sebagai air kaporit. Maka hal ini yang mengubah netralitas air.

Ulama-ulama klasik sering mengidentikkan perubahan air dengan perubahan warna, atau semula bening menjadi keruh. Mungkin di era itu belum ditemukan hal sebaliknya: obat kimiawi yang bila dicampur malah bisa mengubah air keruh menjadi bening. Dengan kemajuan itu, Syekh Ismail bin Zen mempunyai pandangan sedikit lebih detail yang mungkin pada era Imam Syafii belum ada. Syekh Ismail berpandangan obat yang membikin bening jika dicampurkan di air, asalkan tidak dalam rangka merekayasa yang semula mutanajjis atau ghairu muthahhir, maka tidak ada masalah.  

Kaporit digunakan PDAM atau kolam renang tidak bertujuan ingin mengubah status air yang semula terkontaminasi najis sampai berubah warna, lalu direkayasa kimiawi supaya bening, bukan. Kaporit lebih mempunyai tujuan pengobatan dari kuman dan penjernihan murni. Berikut komentar Syekh Ismail Bin Zain:

أَنَّ تَغَيُّرَ اْلمَاءِ بِالْكَدُوْرَاتِ وَنَحْوِهَا مِنَ اْلأَشْيَاءِ الطَّاهِرَةِ لاَ يَسْلُبُ طَهُوْرِيَّتَهُ وَإِنْ تَغَيَّرَ رِيْحُهُ فَيَبْقَى طَاهِرًا مُطَهِّرًا عَلَى اْلأَصْلِ وَإِذَا عُوْلِجَ بِمَا ذُكِرَ فِي السُؤَالِ مِنَ اْلأَدْوِيَّةِ لِتَصْفِيَّتِهِ كَانَ ذَلِكَ نَوْعَ تَرَفُّهٍ ِلأجْلِ التَنْظِيْفِ لاَ ِلأَجْلِ التَّطْهِيْرِ بِشَرْطِ أَنْ تَكُوْنَ تِلْكَ اْلأَدْوِيَةُ غَيْرَ نَجِسَةٍ وَحِيْنَئِذٍ فَيَصِحُّ الْوُضُوْءُ وَسَائِرُ أَنْوَاعِ الطَّهَارَةِ بِالْمَاءِ الْمَذْكُوْرِ قَبْلَ الْمُعَالَجَةِ أَوْ بَعَدَهَا اه

Artinya: “Sesungguhnya perubahan air dengan benda keruh dan sejenisnya dari barang-barang yang suci tidak bisa merusak kesucian air meskipun baunya sampai berubah. Dengan demikian, status air masih tetap suci menyucikan sebagaimana aslinya. Jika barang yang dicampur ke air tersebut dengan tujuan mengobati air sebagaimana dalam pertanyaan supaya menjadi bening maka hal itu termasuk kategori kemewahan saja (bukan hal primer) untuk tujuan membersihkan air, bukan dalam rangka mengubah air yang semula tidak suci kemudian direkayasa menjadi suci dengan syarat obat atau kimiawi yang dipakai untuk hal tersebut bersumber dari benda yang tidak najis. Maka wudhu beserta macam-macamnya bersuci sah menggunakan air tersebut baik sebelum diobati atau pun sesudahnya.” (Isma’il bin Zain, Qurratul Ain bi Fatawa Isma’il Az-Zain, halaman 47)

Dengan ulasan dua ulama di atas, setidaknya bisa kita terapkan pada masalah air yang tercampur dengan kaporit sebagai berikut: 

Pertama, kaporit adalah benda suci yang dicampurkan ke dalam air bukan dalam rangka mengubah status air yang semula tidak suci menyucikan, atau suci namun tidak menyucikan kemudian ingin dinetralkan melalui perantara obat. 

Kedua, perubahan air yang dimasuki kaporit ada dua kemungkinan. Jika terlalu banyak sehingga masyarakat pengguna sampai melabeli sebagai air kaporit, tidak menyebutnya sebagai air PDAM lagi, maka air PDAM yang tercampur kaporit tersebut hukumnya suci namun tidak menyucikan. Boleh dikonsumsi, dibuat mencuci baju yang tidak terkena najis dan lain sebagainya. 

Apabila air PDAM atau kolam renang yang tercampur tersebut masih dalam batas wajar, sehingga masyarakat tidak melabelinya sebagai air kaporit, maka air dihukumi suci menyucikan. Wallahu a’lam.


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 

Senin 11 Maret 2019 14:30 WIB
Bagaimana jika Tersisa Bau Deterjen pada Pakaian yang Dibilas dari Najis?
Bagaimana jika Tersisa Bau Deterjen pada Pakaian yang Dibilas dari Najis?
(Foto: @dreamers.id)
Kebersihan adalah hal yang sangat diperhatikan oleh Islam. Salah satunya adalah dengan adanya pensyariatan izalatun najasah (menghilangkan najis). Pakaian yang hendak digunakan untuk shalat, harus suci dari najis.

Sudah menjadi hal yang sangat lumrah di masyarakat ketika mencuci pakaian, menggunakan deterjen/sabun cuci. Demikian pula saat menghilangkan najis dari pakaian, tidak bisa dilepaskan dari deterjen.

Praktik yang umum terjadi adalah setelah menghilangkan bentuk najis dan sifat-sifatnya, masih menyisakan bau deterjen yang digunakan untuk menghilangkan bentuk najis dan sifat-sifatnya. Bagaiamana fikih menyikapi hal yang demikian?

Sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, tata cara menghilangkan najis adalah terlebih dahulu menghilangkan bentuk najis dan sifat-sifatnya, meliputi warna, rasa, dan bau. Setelah semuanya hilang, pakaian dalam konteks ini baru dibilas menggunakan air yang jernih.

Lalu bagaimana jika setelah dibilas, masih menyisakan bau deterjen?

Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat Syekh Al-Thabalawi, hukumnya suci. Menurutnya, yang menjadi tolak ukur adalah hilangnya najis dan sifat-sifatnya sehingga sisa bau deterjen tidak memberikan pengaruh apapun. Berpijak dari pendapat ini, pakaian dan air menjadi suci dan sudah dianggap mencukupi dalam menghilangkan najis.

Sementara menurut pandangan Syekh Muhammad Al-Ramli, status pakaian itu tetap najis. Menurutnya, dalam kondisi demikian, najis telah bercampur dan melebur menjadi satu dengan deterjen.

Ar-Ramli menganalogikan permasalahan ini dengan kasus pakaian yang disablon dengan pewarna yang najis. Menurut Al-Ramli, pakaian tersebut tidak bisa menjadi suci sampai bau deterjen hilang sehingga air pembilasnya menjadi betul-betul jernih. Namun demikian, menurutnya hukumnya ma’fu (dimaafkan) untuk kadar yang sulit dihilangkan dari bau deterjen.

Syekh Ali bin Ahmad Bashabrin Al-Hadhrami menegaskan:

قوله (مسألة) لو زالت النجاسة بالاستعانة بالصابون وبقي ريح الصابون طهر قاله الطبلاوي وقال (م ر) لا تطهر حتى تصفو الغسالة إهـ

Artinya, “Sebuah permasalahan. Jika najis hilang dengan sabun dan masih tersisa bau sabun, maka ia suci. Hal ini dikatakan oleh Syekh At-Thabalawi. Sedangkan Imam Ar-Ramli berkata, tidak suci sampai basuhan pembilasnya menjadi jernih,” (Lihat Syekh Ali bin Ahmad Bashabrin Al-Hadhrami, Itsmidul ‘Ainain fi Ba’dhi Ikhtilafis Syaikhaini, halaman 12).

Dalam referensi lain disebutkan:

قوله (فرع) إذا غسل ثوبا متنجسا بالصابون حتى زالت عين النجاسة قال م ر جوابا بالسؤال على الفور يصير لأثر الصابون حكم الصبغ فلا يطهر حتى تصفو الغسالة من لون الصابون مع عدم الزيادة ثم قال ينبغي أن المقدار الذي يشق استقصاؤه يكون معفوا عنه فليتأمل إهـ سم

Artinya, “Cabangan permasalahan. Jika seseorang membasuh pakaian najis dengan sabun hingga bentuk najis menjadi hilang, Imam Ar-Ramli menjawab pertanyaan tersebut dengan cepat bahwa sisa sabun memiliki hukum yang sama dengan permasalahan pewarna, maka tidak suci sampai basuhan pembilasnya jernih dari warna sabun serta tidak bertambah kadarnya. Kemudian ia berkata, seyogianya kadar (sisa sabun) yang sulit diusahakan hilang hukumnya dimaafkan,” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyatul Jamal ‘ala Fathil Wahhab, juz I, halaman 193).

Demikian penjelasan tentang problematika ini. Walhasil, dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Kita diperbolehkan untuk mengikuti masing-masing dari kedua pendapat tersebut, dengan tetap saling menghormati dan menghargai pihak lain.

Hanya saja, sebaiknya saat mencuci pakaian najis dengan deterjen, menggunakan tata cara yang disepakati oleh ulama. Sebab keluar dari ikhtilaf ulama hukumnya sunah.

Tata cara yang paling ideal dan disepakati oleh para ulama adalah setelah bentuk dan sifat-sifat najis hilang dengan deterjen, pakaian diperas dan dibilas dengan air jernih sampai bau deterjen hilang. Setelah bau deterjen hilang, baru dibilas untuk yang terakhir kalinya dengan air jernih. Wallahu a’lam.


Ustadz M Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.
Senin 25 Februari 2019 12:0 WIB
Memakai Plester Luka, Wajibkah Melepasnya saat Wudhu?
Memakai Plester Luka, Wajibkah Melepasnya saat Wudhu?
Ilustrasi (via eyeni.biz)
Luka di tubuh bisa memunculkan sejumlah persoalan, termasuk dalam konteks keabsahan ritual bersuci seperti wudhu dan mandi wajib. Jika hanya sebatas luka ringan dan ia tidak membalutnya dengan plester perekat luka atau perban, maka dalam hal ini cara bersucinya sama persis seperti cara bersuci biasanya yakni membasuh seluruh bagian tubuh yang wajib dibasuh, termasuk membasuh luka itu. 

Namun jika luka ringan tersebut dibalut dengan plester perekat luka dengan tujuan agar luka ringannya cepat sembuh, maka dalam hal ini wajib baginya untuk mencopot plester tersebut serta membersihkan sisa-sisa kotoran perekat plester yang biasa melekat pada kulit. Tujuannya, agar air dapat sampai pada kulit yang wajib dibasuh, pada kulit di sekitar bagian luka bila memang luka tidak boleh terkena air. Umumnya, luka yang dibalut plester hanyalah luka ringan yang tak membahayakan kulit atau anggota tubuh seandainya plester dilepas. Ketentuan demikian seperti dijelaskan dalam kitab al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i:

فإذا وضع الجبيرة، ثم أراد الغسل أو الوضوء، فإن كان لا يخاف من نزعها ضررً نزعها وغسل ما يقدر عليه من ذلك، وتيمم عما لا يقدر عليه

“Ketika melekatkan perban, lalu ia hendak melaksanakan mandi wajib atau wudhu, maka jika ia tidak khawatir adanya bahaya (ketika perban dilepas) maka wajib untuk melepas perban tersebut dan wajib pula membasuh bagian yang dapat dibasuh dari luka tersebut dan wajib tayammum atas bagian yang tidak dapat dibasuh.” (Syekh Yahya bin Abi al-Khair bin Salim al-Yamani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i, juz 1, hal. 331)

Baca juga:
Cara Berwudhu Anggota Badan yang Diperban
Kapan Orang dengan Luka Diperban Wajib Mengulang Shalatnya?
Bagaimana Sujud Shalat Orang yang Dahinya Diperban?

Sedangkan jenis luka yang selain menggunakan pembalut luka (plester), seperti luka berat yang biasa diperban atau dipasang gips, maka tidak wajib untuk melepasnya ketika memang khawatir akan terjadi bahaya pada dirinya. Batasan khawatir terjadinya bahaya (dlarar) pada permasalahan ini adalah sekiranya ketika perban atau gips dilepas, akan terjadi bahaya (1) hilangnya nyawa, (2) hilangnya fungsi anggota tubuh, (3) sembuhnya luka semakin lama, atau (4) bertambah sakitnya luka. Hal demikian seperti yang dijelaskan dalam lanjutan referensi di atas:

وإن خاف من نزعها تلف النفس، أو تلف عضو، أو إبطاء البرء أو الزيادة في الألم إذا قلنا: إنه كخوف التلف.. لم يلزمه حلها، ولزمه غسل ما جاوز موضع الشد، والمسح على الجبيرة

Namun jika perban tersebut dilepas ia khawatir salah satu dari rusaknya tubuh (hilangnya nyawa) atau anggota tubuh atau kesembuhan yang lama atau bertambah parahnya luka -ketika kita berpijak  pada pendapat bahwa hal tersebut sama seperti khawatir rusaknya tubuh- maka tidak wajib untuk melepas perban, namun tetap wajib membasuh anggota tubuh  di luar ikatan perban dan mengusap dengan air pada perban tersebut” (Syekh Yahya bin Abi al-Khair bin Salim al-Yamani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam as-Syafi’i, Juz 1, Hal. 331)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melepas plester perekat luka adalah hal yang wajib dilakukan ketika hendak melakukan wudhu atau mandi wajib, sebab tidak tergolong sebagai luka yang membahayakan ketika plester dilepas. Sedangkan dalam hal wajib tidaknya membasuhkan air pada luka tersebut, maka diperinci: seandainya luka tidak bahaya jika terkena air maka wajib untuk dibasuh; namun jika akan terjadi bahaya maka tidak wajib membasuh luka tersebut dengan air, namun diganti dengan tayammum. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri