IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Adab Umat Islam terhadap Pemerintah Kata Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad

Sabtu 20 April 2019 10:30 WIB
Share:
Adab Umat Islam terhadap Pemerintah Kata Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
(Foto: boston.com)
Umat Islam dituntut untuk menjaga adab. Salah satunya adab dalam menyampaikan aspirasi, masukan, dan juga kritik terhadap pemerintah yang menjadi hak warga negara. Umat Islam sebagai warga negara juga berhak mendapat layanan publik, fasilitas sosial, dan fasilitas umum yang disediakan pemerintah.

Selain hak itu, umat Islam seperti warga negara Indonesia yang lain juga dituntut menjaga adab, yaitu kewajiban untuk mematuhi segala peraturan yang berlaku di Indonesia sebagaimana ditetapkan parlemen dan pemerintah. Mereka juga berkewajiban untuk membayar pajak sebagai salah satu sumber pendapatan negara.

Warga negara dan pemerintah wajib bekerja sama untuk menciptakan kemaslahatan umum. Keduanya perlu bahu membahu dalam rangka menjaga persatuan di tengah keberagaman dan mengatur pemerataan sumber daya sehingga tidak menjadi monopoli sekelompok orang.

Warga negara dan pemerintah wajib saling mendukung dalam membangun kekuatan untuk menjaga kedaulatan negara, dan menciptakan suasana kondusif agar aktivitas ekonomi, politik, sosial, budaya, dan agama berjalan lancar.

Selain itu semua, umat Islam sebagai warga negara berkewajiban untuk mendoakan pemerintah agar diberikan kemudahan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya jika pemerintah bersikap adil dan menjalankan tugasnya dengan profesional.

Adapun ketika pemerintah bersikap zalim, otoriter, korup, dan menjalankan tugasnya tidak dengan profesional, umat Islam juga berkewajiban untuk berdoa agar Allah meluruskan pemerintah dan mengembalikannya ke jalan keadilan dan profesionalitas.

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berpesan agar umat Islam jangan mencaci maki, mengumpat, mendoakan yang buruk, memfitnah, dan melontarkan ujaran kebencian terhadap pemerintah yang zalim, korup, dan tidak profesional.

Pasalnya, semua itu hanya membuat pemerintah zalim, otoriter, korup, dan tidak profesional yang imbasnya juga berpulang kepada semua warga negara, termasuk umat Islam itu sendiri.

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berpesan agar umat Islam berdoa agar Allah menjaga lahir dan batin pemerintah untuk bersikap adil, istiqamah, ramah, dan professional dalam menjalankan tugasnya sebagai pengabdi dan pengayom bagi warga negara.

مهما كان الوالي مصلحا حسن الرعاية جميل السيرة كان على الرعية أن يعينوه بالدعاء له والثناء عليه بالخير، ومهما كان مفسدا مخالطا كان عليهم أن يدعوا له بالصلاح والتوفيق للاستقامة وأن لا يشتغلوا ألسنتهم بذمه والدعاء عليه فإن ذلك يزيد في فساده واعوجاجه ويعود وبال ذلك عليهم

Artinya, “Jika pemimpin mendatangkan kemaslahatan untuk masyarakat, memerhatikan rakyat dengan baik, rekam jejak yang baik, maka rakyat membantunya dengan doa dan sebutan yang baik-baik/pujian. Tetapi pemimpin yang mendatangkan mafsadat dan mencampurkan yang hak dan batil, maka mereka wajib mendoakannya agar ia diberikan kebaikan dan bimbingan untuk konsisten pada jalan yang hak. Mereka tidak boleh mencaci-makinya dan mendoakan keburukan untuknya karena itu akan menambah kerusakan dan penyelewengan kekuasaannya dan semua akibatnya akan kembali kepada mereka sendiri,” (Lihat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Ad-Dakwatut Tammah wat Tadzkiratul Ammah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 32).

Peran pemerintah cukup menentukan bagi perkembangan nasib masyarakat. Peran pemerintah yang profesional dapat terasa dan terlihat oleh masyarakat. Oleh karena itu, selain upaya dukungan, masukan, krtitik terhadap pemerintah, doa warga negara untuk kebaikan lahir dan batin pemerintah cukup penting sebagaimana perkataan Imam Fudhail bin Iyadh, salah seorang ulama di era tabi’it tabiin.

قال الفضيل رحمه الله لو كانت لي دعوة مستجابة لم أجعلها إلا للإمام لأن الله إذا أصلح الإمام أمن العباد والبلاد

Artinya, “Imam Fudhail RA mengatakan, ‘Kalau aku punya satu kesempatan doa yang makbul, niscaya kujadikan kesempatan itu untuk mendoakan pemimpin karena jika Allah membimbing kebaikan seorang pemimpin, maka rakyat dan negeri akan selamat,” (Lihat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Ad-Dakwatut Tammah wat Tadzkiratul Ammah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 32).

Inayah Allah terhadap pemerintah akan berdampak pada keselamatan dan kesejahteraan negara dan warga negaranya. Inayah Allah ini dapat diupayakan melalui doa segenap warga negara Indonesia, termasuk umat Islam itu sendiri.

Adapun caci maki, fitnah, doa keburukan, dan ujaran kebencian warga negara untuk pemerintah selain membuat pemerintah menjadi keras kepala, zalim, dan korup, juga merupakan tindakan provokasi dan kriminal yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam tahanan.

Dengan demikian tidak dapat kita mengambinghitamkan pemerintah melalui istilah “kriminalisasi ulama” ketika sebagian dai tersandung kasus kriminal ujaran kebencian atau kasus provokasi. Walhasil, semua itu merugikan umat Islam itu sendiri akibat tindakan diri sendiri sebagaimana pesan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Rabu 27 Maret 2019 9:45 WIB
Tata Cara Hindari Ghibah dalam Hati
Tata Cara Hindari Ghibah dalam Hati
(Foto: @pixabay)
Salah satu kemampuan makhluk Allah, khususnya manusia adalah mampu bisa berbicara dengan dirinya sendiri. Pembicaraan atas diri orang lain meski dalam hati disebut ghibah. Semua orang tidak bisa terlepas dari hal ini, baik saat sendiri maupun saat berkumpul dengan banyak orang.

Tiba-tiba saat kita bertemu dengan orang, entah kenapa hati kita tiba-tiba berbicara tentang orang yang kita temui, termasuk keburukannya (ghibah).

Lalu bagaimana hukumnya hal tersebut, apakah diperbolehkan? Mengingat Islam juga telah melarang kita ghibah. 

Menjawab hal ini, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ghibah di dalam hati hukumnya diampuni (ma’fu) asalkan tidak dilanjutkan dan hanya sekilas.

فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء ، لانه لا اختيار له في وقوعه ، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه.

Artinya, “Adapun sesuatu yang terbesit dalam pikiran kita atau pembicaraan kita dengan diri sendiri jika tidak tetap dan tidak dilanjutkan oleh orang tersebut maka hukumnya diampuni (tidak masalah) berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena sesungguhnya hal tersebut tidak bisa dihindari dan juga tidak ada cara untuk mencegah hal itu,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkārun Nawāwī, [Beirut, Dārul Kutub: 2004 M), halaman 498).

Misalnya saat berjalan kita bertemu orang yang gemuk badannya, tiba-tiba terlintas di pikiran kita atau hati kita, “eh orang itu kok gendut banget, ya?!” Nah hal yang seperti ini diampuni atau dimaafkan. Namun jika hal itu dilanjutkan, seperti mulai berpikir-pikir tentang makannya apa, dan sebab apa yang menjadikan orang itu gendut. Maka hal yang semacam ini bisa termasuk dalam dosa.

Alasan mengenai dimaafkannya pikiran yang terlintas begitu saja tersebut, karena hal itu tidak bisa dihindari. Sedangkan melanjutkan pikiran yang terbesit itu dilarang karena hal itu bisa dihindari.

Namun yang perlu diperhatikan adalah pikiran-pikiran sekilas terhadap orang lain tersebut berpotensi untuk membuat kita terjatuh dalam dosa ghibah dan maksiat.

وسبب العفو ما ذكرناه من تعذر اجتنابه ، وإنما الممكن اجتناب الاستمرار عليه فلهذا كان الاستمرار وعقد القلب حراما ومهما عرض لك هذا الخاطر بالغيبة وغيرها من المعاصي ، وجب عليك دفعه بالاعراض عنه وذكر التأويلات الصارفة له عن ظاهره.

Artinya, “Sebab dimaafkannya hal tersebut karena sulit menghindarinya. Sedangkan yang mungkin dan bisa dihindari adalah melanjutkan pikiran-pikiran yang sekilas tersebut. Oleh karena itu, melanjutkan pikiran-pikiran atas orang lain tersebut dan memantapkan hati atas pikiran tersebut bisa mendorong kamu pada perbuatan ghibah dan perbuatan maksiat semacamnya. Maka wajib bagimu untuk mencegahnya dengan mengalihkan pikiran tersebut kepada hal lain dan memikirkan hal (potensi) lain yang berbeda dengan lahirnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkārun Nawāwī, [Beirut, Dārul Kutub: 2004 M], halaman 498).

Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin memberikan tips untuk mengenali pikiran negatif agar terhindar dari perbuatan tersebut.

إذا وقع في قلبك ظن السوء ، فهو من وسوسة الشيطان يلقيه إليك ، فينبغي أن تكذبه فإنه أفسق الفساق ، وقد قال الله تعالى : (إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين) [ الحجرات : 7 ] فلا يجوز تصديق إبليس ، فإن كان هناك قرينة تدل على فساد ، واحتمل خلافه ، لم تجز إساءة الظن ، ومن علامة إساءة الظن أن يتغير قلبك معه عما كان عليه

Artinya, “Jika hatimu tiba-tiba (terbesit) pikiran negatif, maka hal itu dari bisikan setan yang dibisikkan kepadamu. Maka seyogianya kamu mendustakan (bisikan setan) itu. Karena sesungguhnya setan adalah makhluk yang paling fasik dan para fasik yang lain. Allah SWT berfirman, ‘Jika datang kepadamu seorang fasik, maka lakukanlah tabayyun terlebih dahulu agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.’ Dan tidak diperbolehkan untuk membenarkan Iblis, karena hal itu adalah salah satu media yang mengarah pada kerusakan, dan seolah mentolerir perbuatan menyimpangnya. Maka dilarang berpikiran negatif. Salah satu tanda bahwa kamu berpikiran negatif kepada seseorang adalah ketika hatimu berubah menilai seseorang karena sesuatu yang telah ia lakukan,” (Lihat Abū Ḥāmid Al-Ghazali, Iḥyā’ ʽUlūmiddin, [Beirut, Dārul Maʽrifah: tanpa catatan tahun), juz III, halaman 150). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).
Selasa 19 Maret 2019 6:30 WIB
Benarkah Rasulullah Melarang Umatnya Banyak Bertanya?
Benarkah Rasulullah Melarang Umatnya Banyak Bertanya?
Benarkah Rasulullah Melarang Umatnya Banyak Bertanya?
Tidak ada manusia yang mengetahui segala hal. Hidup manusia selalu berproses. Semakin banyak manusia belajar, maka pengetahuannya pun semakin luas. Salah satu cara untuk menambah pengetahuan adalah dengan bertanya kepada yang orang yang pandai dan lebih tahu tentang materi pertanyaan.

Al-Qur’an menyebutkan sebagai berikut:

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

Artinya, “Bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan bila kalian tidak mengetahui,” (Surat Al-Nahl ayat 43).

Kendati bertanya dianjurkan dalam Islam, tapi konon terlalu banyak bertanya juga tidak dibolehkan dalam Islam, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak penting. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah berkata:

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِيْنَ مَنْ قَبْلَكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلاَفُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyak bertanya dan berselisih dengan para nabi,” (HR Bukhari dan Muslim).

Lalu bagaimana sebaiknya? Apakah sering bertanya atau tidak bertanya sama sekali? Dalam ayat di atas dianjurkan untuk bertanya, sementara hadits di bawahnya melarang banyak bertanya.

Untuk memahami kedua dalil ini agar tidak bertolak-belakang atau kontradiktif, Imam An-Nawawi dalam Syarah Matan Arba’in menjelaskan ada tiga macam bentuk pertanyaan. Ia mengatakan:

اعلم أن السؤال على أقسام: القسم الأول: سؤال الجاهل عن فرائض الدين كالوضوء والصلاة والصوم وعن أحكام المعاملة ونحو ذلك.....والقسم الثاني، السؤال عن التفقة في الدين لا للعمل وحده مثل القضاء والفتوى، وهذا فرض الكفاية....والقسم الثالث، أن يسأل عن شيء لم يجبه الله عليه ولا على   غيره وعلى هذا حمل الحديث        

Artinya, “Pertanyaan ada beberapa macam: pertama, pertanyaan orang awam tentang kewajiban agama, semisal wudhu, shalat, puasa, hukum muamalah, dan lain-lain…Bentuk kedua adalah pertanyaan tafaqquh fid din (pendalaman agama) yang tidak hanya diamalkan untuk diri sendiri, seperti qadha’ dan fatwa, menanyakan hal yang berkaitan dengan persoalan ini adalah fardhu kifayah…Bentuk ketiga adalah bertanya tentang sesuatu yang tidak diwajibkan Allah, baik untuk diri sendiri maupun orang lain, inilah yang dimaksud dalam hadits di atas.”

Imam An-Nawawi menjelaskan ada tiga macam pertanyaan: pertama, ada pertanyaan yang penting, khususnya yang berkaitan dengan cara ibadah wajib, maka hal seperti ini wajib ditanyakan kepada orang yang lebih mengetahui agar kita bisa menjalankan ibadah dengan benar dan sempurna.

Kedua, pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan orang banyak, misalnya minta fatwa kepada seorang mufti terkait permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat.

Ketiga, bertanya tentang sesuatu yang tidak penting, yang kalau hal ini ditanyakan bisa jadi akan memberatkan.

Larangan bertanya dalam hadits di atas sebetulnya, menurut Imam An-Nawawi, merespon orang yang banyak bertanya tentang sesuatu yang didiamkan dalam syariat.

Konteks hadits ini adalah ketika Allah SWT menurunkan ayat yang berkaitan dengan kewajiban haji, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Apakah haji itu tiap tahun wahai Rasulullah?”

Rasulullah diam dan tidak menjawab sampai sahabat itu bertanya untuk yang ketiga kalinya.

Rasulullah mengatakan, “Kalau aku jawab iya, niscaya akan memberatkan kalian. Tinggalkanlah (jangan bertanya) terhadap sesuatu yang aku biarkan.”

Dalam riwayat lain Rasulullah mengatakan, “Diamnya (syariat) adalah rahmat bagi kalian, maka janganlah bertanya.”

Dengan demikian, tidak semua pertanyaan itu dilarang dan dicela dalam Islam. Pertanyaan yang memberikan manfaat terhadap diri sendiri dan orang lain tetap dianjurkan dalam Islam, bahkan hukumnya wajib bila itu berkaitan dengan ibadah wajib.

Tetapi kami menyarankan untuk menahan diri dari menanyakan hal-hal yang tidak penting karena jawaban dari pertanyaan itu bisa jadi akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain. Wallahu a’lam.


(Ustadz Hengki Ferdiansyah, pegiat kajian hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Rabu 13 Maret 2019 20:15 WIB
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (4)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (4)
Ilustrasi (Tebuireng Online)
Kesepuluh, tertib mengambil giliran

Dalam penggunaan fasilitas umum atau hak milik bersama, pelajar harus tertib mengambil giliran, ia tidak boleh mendahului hak orang lain yang datang lebih awal tanpa kerelaan darinya. KH Muhammad Hasyim Asy’ari selanjutnya meriwayatkan sebuah hadits tentang kewajiban antri mengambil giliran.

Bahwa salah seorang sahabat Anshar mendatangi Nabi untuk menanyakan sebuah persoalan, lalu datang seorang pria dari daerah Tsaqif juga bermaksud untuk berkonsultasi kepada Nabi. Karena sahabat Anshar datang lebih dahulu, Nabi menertibkan giliran dua orang tersebut, beliau bersabda: “Wahai saudara dari Tsaqif, sesungguhnya orang Anshar telah mendahuluimu bertanya, maka duduklah, agar kami selesaikan dulu kebutuhannya sebelum keperluanmu.”

Baca juga:
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (1)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
13 Adab Pelajar terhadap Pelajarannya Menurut KH Hasyim Asy’ari (3)
Syekh al-Khathib al-Baghdadi berkata “disunnahkan bagi orang yang datang awal, mendahulukan orang asing, karena sangat kuat kemuliannya. Demikian pula bila orang yang datang akhir memiliki kebutuhan mendesak, dianjurkan untuk mendahulukannya atau sang guru memberi isyarat untuk mendahulukan orang yang datang lebih akhir karena sebuah hal yang menurutnya mashlahat.”

Bisa dianggap mendapat giliran lebih dulu dengan datang lebih awal di majlisnya guru atau kediamannya. Hak mendapat terdepan tidak menjadi gugur dengan beranjak sejenak untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak seperti membuang hajat, memperbarui wudlu dan lain sebagainya. 

Bila dua orang datang dahulu dan mereka berselisih, maka untuk menentukan siapa yang lebih layak didahulukan adalah dengan cara diundi atau kebijakan guru dengan kerelaan dari salah satu pihak atau keduanya.

Kesebelas, duduk di depan guru dengan penuh adab

Duduknya pelajar di depan guru hendaknya yang sopan sebagaimana keterangan yang telah dijelaskan oleh KHM. Hasyim Asy’ari dalam fasal “Etika murid kepada gurunya.”

Seorang murid hendaknya membawa kitab yang ia pelajari dari sang guru, hendaknya kitab tidak diletakan di lantai dalam keadaan terbuka saat membacanya, akan tetapi diangkat dan dipegang dengan tangan.

Pelajar hendaknya tidak memulai membaca sebelum dipersilakan guru. Jangan membaca atau berkonsultasi dengan guru ketika beliau sedang sibuk, bosan atau marah.

Bila dipersilakan membaca, maka mulailah dengan bacaan ta’awwudz, basmalah, hamdalah dan membaca shalawat kepada Nabi beserta keluarga dan para sahabatnya. Lalu mendoakan untuk guru, kedua orang tua, masyayikh, diri sendiri dan segenap kaum muslimin.

KH Muhammad Hasyim Asy’ari menganjurkan untuk mendoakan tarahhum (Memohon limpahan rahmat) untuk pengarang kitab ketika namanya disebut. Semisal “telah berkata Imam al-Ghazali Rahimahullah”, “menurut pendapat al-Imam al-Nawawi Rahimahullah demikian”, “Syekh Abdul Qadir al-Jailani Rahimahullah adalah wali Allah yang agung.”

Hadratussyekh juga memberi contoh redaksi mendoakan guru saat membaca kitab di hadapannya, semisal “Radliya Allahu ‘Ankum, semoga Allah meridhai engkau”, “Radliya Allahu ‘an Syaikhina, semoga Allah meridhai guru kami”, “Radliya Allahu ‘an Imamina, semoga Allah meridhai imam kita.” Redaksi-redaksi doa tersebut diniati dan ditujukan untuk sang guru.

Ketika telah selesai belajar, dianjurkan pula untuk mendoakan sang guru. Bagi sang guru sendiri, bila beberapa etika di atas tidak dilakukan oleh murid, semisal karena lupa atau bodoh, hendaknya diingatkan dan diajarkan, sebab hal tersebut termasuk etika yang sangat penting.

Demikian pentingnya seorang murid mendoakan gurunya, karena salah satu kunci kesuksesan para ulama salaf adalah dengan mendoakan guru-gurunya. Penekanan Hadratussyekh mengenai hal ini senada dengan sikap para ulama salaf terhadap guru-guru mereka. Contohnya sebagaimana teladan yang dilakukan oleh al-Imam al-Nawawi, pembesar ulama mazhab Syafi’i yang memiliki banyak karya. 

Saat masih menimba ilmu, al-Nawawi muda rajin untuk mendoakan gurunya. Setiap kali beliau hendak datang ke majelis guru untuk menimba ilmu, beliau bersedekah di tengah jalan yang pahalanya ditujukan untuk gurunya. Kisah ini sebagaimana ditegaskan oleh al-Habib Zain bin Smith sebagai berikut:

وَكَانَ رضي الله عنه إِذَا خَرَجَ لِلدَّرْسِ لِيَقْرَأَ عَلَى شَيْخِهِ يَتَصَدَّقُ عَنْهُ فِي الطَّرِيْقِ بِمَا تَيَسَّرَ وَيَقُوْلُ اللهم اسْتُرْ عَنِّيْ عَيْبَ مُعَلِّمِيْ حَتَّى لَا تَقَعَ عَيْنِيْ لَهُ عَلَى نَقِيْصَةٍ وَلَا يُبَلِّغُنِيْ ذَلِكَ عَنْهُ أَحَدٌ، رضي الله عنه

“Al-Imam al-Nawawi setiap kali keluar untuk belajar di hadapan gurunya, beliau bersedekah untuk gurunya di jalan dengan nominal yang beliau mampu, dan beliau berdoa, ya Allah tutupilah dariku aib guruku, hingga mataku tidak melihat kekurangannya dan janganlah engkau sampaikan kepadaku informasi tentang aib guruku dari siapapun. Semoga Allah meridloi al-Imam al-Nawawi.” (al-Habib Zain bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 220)

Keduabelas, konsisten belajar hingga meyelesaikan pendidikan

Pelajar tidak boleh setengah-setengah, begitu ia masuk pada sebuah materi atau kelas tertentu, harus sampai selesai. Jangan sampai meninggalkan kitab di bagian tengah atau akhir menjadi bolong-bolong, tanpa ada keterangan. Demikian pula tidak berpindah kepada disiplin ilmu sebelum menyelesaikan fan ilmu sebelumnya, tidak pula berpindah-pindah dari satu institusi pendidikan menuju institusi yang lain tanpa kebutuhan mendesak. Sebab hal demikian dapat menyibukan pikiran dan menyia-nyiakan waktu.

Pelajar hendaknya bertawakal kepada Allah dalam urusan rezeki, pikirannya jangan sampai terganggu oleh urusan ekonomi.

Pelajar juga jangan suka mencari musuh atau hobi mendebat orang lain, sebab hal tersebut menyia-nyiakan waktu dan menyebabkan permusuhan.

KH Muhammad Hasyim Asy’ari juga menekankan kepada pelajar untuk menjauhkan diri dari lingkungan dan pergaulan yang buruk, seperti bergumul dengan orang fasik, pemalas dan orang yang banyak bicara. Sebab lingkungan akan mempengaruhi baik dan buruknya seseorang.

Mengenai pengaruh lingkungan terhadap kepribadian pealajar ini senada dengan keterangan yang disampaikan oleh al-Imam al-Mawardi berikut ini:

وَقَالَ عَدِيُّ بْنُ زَيْدٍ

Dan berkata ‘Adi bin Zaid:

عَنْ الْمَرْءِ لَا تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِينِهِ    *    فَكُلُّ قَرِيــــنٍ بِالْمُقَارَنِ يَقْتَدِي

“Janganlah bertanya tentang perilaku seseorang, tanyalah perilaku temannya. Maka seorang teman akan mengikuti perilaku sahabat karib yang ditemani.”

إذَا كُنْت فِي قَوْمٍ فَصَاحِبْ خِيَارَهُمْ     *    وَلَا تَصْحَبْ الْأَرْدَى فَتَرْدَى مَعَ الرَّدِي

“Bila engkau berada dalam komunitas, maka bersahabatlah dengan orang baik dari mereka. Janganlah bersahabat dengan orang rendah (perilakunya), maka engkau akan rendah beserta orang yang rendah.”

فَلَزِمَ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ أَيْضًا أَنْ يَتَحَرَّزَ مِنْ دُخَلَاءِ السُّوءِ، وَيُجَانِبَ أَهْلَ الرِّيَبِ، لِيَكُونَ مَوْفُورَ الْعَرْضِ سَلِيمَ الْعَيْبِ، فَلَا يُلَامُ بِمَلَامَةِ غَيْرِهِ

“Maka konsekuensi dari sudut pandang ini, agar menjauhi bergumul dengan orang-orang buruk (perilakunya), agar sempurna (terjaga) harga dirinya dan selamat dari aib, sehingga ia tidak tercela disebabkan tercelanya perilaku orang lain.” (Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Mawardi, Adab al-Dunia wa al-Din, hal.160)

Saat duduk, hendaknya menghadap qiblat, sebisa mungkin untuk menjalankan kesunnahan-kesunnahan yang diajarkan Nabi. Pelajar juga dianjurkan untuk mencari sebanyak-banyaknya doanya orang shaleh dan menjauhi doanya orang yang terzalimi. Pelajar juga dianjurkan untuk memperbanyak shalat, serta melaksanakan shalat dengan khusyu’.

Ketigabelas, memberi pengaruh positif terhadap pelajar lain

Pelajar hendaknya menjadi contoh yang baik untuk teman-temannya, bukan justru menjadi provokator untuk perilaku tidak terpuji. Hendaknya pelajar menyemangati rekan-rekannya untuk giat belajar, menunjukan kepada mereka tips-tips untuk rajin menuntut ilmu, memalingkan dari mereka hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar.

Pelajar hendaknya ringan tangan, mudah dimintai bantuan oleh teman-temannya. Juga harus pro aktif menyampaikan penjelasan atau keterangan yang bagus dengan dibuat metode diskusi atau memberi masukan. Dengan hal demikian, hatinya akan terang bersinar, berkah ilmunya dan besar pahalanya. Pelajar yang kikir, enggan untuk berbagi ilmu, ia tidak akan mendapatkan apa-apa, andai mendapat ilmu, maka tidak akan produktif ilmunya. Hal demikian telah diuji coba oleh sekelompok ulama salaf.

Pelajar jangan sombong kepada temannya karena kecerdasan akalnya, akan tetapi memujilah kepada Allah dan mintalah tambahan ilmu dengan senantiasa bersyukur.

Pelajar hendaknya memuliakan teman-temannya dengan mengucapkan salam, menampakkan kecintaan, menjaga hak-hak pertemanan dan persaudaraan seagama. Hendaknya mudah untuk memaafkan dan memaklumi kesalahan-kesalahan mereka, menutupi keburukan mereka serta berterima kasih atas kebaikan mereka.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat