IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib Menolak Ditunjuk Menjadi Khalifah

Rabu 24 April 2019 9:0 WIB
Share:
Ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib Menolak Ditunjuk Menjadi Khalifah
Jabatan kerap kali membutakan mata dan hati seseorang. Berbagai macam upaya akan dilakukan asal kekuasaan bisa digenggam. Entah itu menghabisi lawan atau saingannya. Menipu. Berbuat curang. Ataupun mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun demikian, sifat, sikap, dan ambisi seperti itu tidak ada dalam diri Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib memegang erat sabda Nabi Muhammad saw. yang melarang untuk meminta-minta jabatan. Titah inilah yang membuat Sayyidina Ali bin Abi Thalib menolak ketika para sahabat memintanya untuk menjadi Khalifah keempat, menggantikan Sayyidina Utsman bin Affan yang wafat akibat pemberontakan.

Merujuk buku Ali bin Abi Thalib, sampai kepada Hasan dan Husain (Ali Audah, 2015), Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahkan menolak beberapa kali ketika ditujuk menjadi Khalifah keempat. Dikisahkan, sesaat setelah Sayyidina Utsman bin Affan terbunuh para sahabat senior Nabi Muhammad saw. dari kalangan Muhajirin dan Anshar seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan lainnya mendatangai rumah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Mereka meyakinkan bahwa yang paling pantas dan berhak menjadi Khalifah keempat adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Mereka mendesak Sayyidina Ali bin Abi Thalbi agar bersedia dibaiat. Umat tidak boleh terlalu lama tanpa pemimpin. Terlebih setelah terjadi pemberontakan terhadap Khalifah Utsman bin Affan, Khalifah ketiga, di beberapa wilayah kekuasaan Islam. Sayyidina Ali dipilih karena kedudukan dan hubungannya yang begitu dekat dengan Nabi Muhammad saw. Di samping dia termasuk golongan pertama yang masuk Islam (assabiqunal awwalun). Namun pada saat itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menolak untuk dibaiat. 

“Jangan! Lebih baik saya menjadi wazir daripada amir,” kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengelak. 

Penolakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib malah membuat umat Islam dari berbagai penjuru wilayah kekuasaan Islam –tidak hanya dari Madinah- datang ke rumahnya. Mereka keukeuh mendesak agar Sayyidina Ali bin Abi Thalib bersedia dibaiat menjadi Khalifah keempat. Mereka tidak hanya datang ke rumah Sayyidina Ali bin Abi Thalib sekali atau dua kali, tapi beberapa kali. 

“Biarkan saya, carilah yang lain,” lagi-lagi Sayyidina Ali bin Abi Thalib menolak.

“Kami tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum Anda kami baiat,” balas mereka. 

Desakan yang begitu kuat dan dorongan yang begitu deras membuat Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak bisa mengelak lagi. Akhirnya dia bersedia dibaiat untuk menjadi Khalifah keempat. Ia meminta tempat pembaiatannya dilakukan di Masjid Nabawi secara terbuka dan diikuti oleh umat Islam. 

Maka pada Senin 21 Zulhijjah 25 H/20 Juni 656 M, Sayyidina Ali pergi ke masjid untuk dibaiat. Orang pertama yang membaiatnya adalah Thalhah bin Ubaidillah, kemudian disusul Zubair bin Awwam. Riwayat lain menyebutkan bahwa yang pertama kali membaiat adalah para pemuka yang menentang pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan. Sementara Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam baru bersedia membaiat Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah ada kejelasan tentang penyelesaian kasus pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Wallahu ‘Alam. (Muchlishon)
Share:
Rabu 24 April 2019 15:0 WIB
Mimpi Raja Yaman tentang Nabi Muhammad Dua Abad Sebelum Kelahirannya
Mimpi Raja Yaman tentang Nabi Muhammad Dua Abad Sebelum Kelahirannya
Kisah ini tentang tanda-tanda kenabian (dala’il al-nubuwwah) Nabi Muhammad jauh sebelum beliau dilahirkan. Tanda-tanda kenabian tidak hanya muncul ketika seorang nabi telah terpilih. Salah satunya adalah mimpi seorang Raja Yaman, Rabi’ah bin Nashr. Dalam al-Sirah al-Nabawiyyah li Ibn Hisyam diriwayatkan:

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: وَكَانَ رَبِيعَةُ بْنُ نَصْرٍ مَلِكُ الْيَمَنِ بَيْنَ أَضْعَافِ مُلُوكِ التَّبَابِعَةِ فَرَأَى رُؤْيَا هَالَتْهُ وَفَظِعَ بِهَا فَلَمْ يَدَعْ كَاهِنًا، وَلَا سَاحِرًا، وَلَا عَائِفًا وَلَا مُنَجِّمًا مِنْ أَهْلِ مَمْلَكَتِهِ إلَّا جَمَعَهُ إلَيْهِ، فَقَالَ لَهُمْ: إنِّي قَدْ رَأَيْتُ رُؤْيَا هَالَتْنِي، وَفَظِعْتُ بِهَا، فَأَخْبِرُونِي بِهَا وَبِتَأْوِيلِهَا، قَالُوا لَهُ: اُقْصُصْهَا عَلَيْنَا نُخْبِرْكَ بِتَأْوِيلِهَا، قَالَ: إنِّي إنْ أَخْبَرْتُكُمْ بِهَا لَمْ أَطْمَئِنَّ إلَى خَبَرِكُمْ عَنْ تَأْوِيلِهَا، فَإِنَّهُ لَا يَعْرِفُ تَأْوِيلَهَا إلَّا مَنْ عَرَفَهَا قَبْلَ أَنْ أَخْبُرَهُ بِهَا. فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْهُمْ: فَإِنْ كَانَ الْمَلِكُ يُرِيدُ هَذَا فَلْيَبْعَثْ إلَى سَطِيحٍ وَشِقٍّ، فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ أَعْلَمَ مِنْهُمَا، فَهُمَا يُخْبِرَانِهِ بِمَا سَأَلَ عَنْهُ

Imam Ibnu Ishaq berkata: Rabi’ah bin Nasr, seorang Raja Yaman di antara sekian banyak raja-raja al-Tababi’ah bermimpi melihat hal yang menakutkan, kemudian dia memanggil semua dukun, tukang sihir, tukang ramal, ahli nujum dari kerajaannya, setelah berkumpul dia berkata kepada mereka: ‘Sesungguhnya aku bermimpi melihat hal yang menakutkanku, aku pun merasa ngeri dibuatnya. Oleh karena itu, jelaskan takwil mimpi itu kepadaku.’ Mereka menjawab: ‘Ceritakanlah kepada kami mimpi Baginda, maka kami akan menjelaskan takwil di balik mimpi Baginda.’ Rabi’ah bin Nashr berkata: ‘Sesungguhnya jika kuceritakan terlebih dahulu mimpiku kepada kalian, aku tidak akan merasa puas dengan penjelaskan kalian, karena sesungguhnya arti mimpiku tidak akan dimengerti selain oleh orang yang mengetahuinya terlebih dahulu sebelum aku menceritakannya.’ Kemudian berkata salah seorang di antara mereka: ‘Jika itu yang dikehendaki Baginda, seharusnya Baginda mengutus seseorang untuk memanggil Sathih dan Syiq, karena tidak ada seorang pun yang lebih berpengetahuan mengenai hal ini dibandingkan mereka berdua, keduanya akan menjelaskan apa yang baginda tanyakan’.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, ed. Umar Abdul Salam Tadmuri, Dar al-Kutub al-‘Arab, 1990, juz 1, h. 31-32)

Setelah mengalami mimpi itu, ia mengutus seseorang untuk mengundang Syathih dan Syiqq. Syathih datang lebih dulu dan langsung menghadap Raja Rabi’ah bin Nashr. Sang raja berkata kepada Syathih:

إنِّي رَأَيْتُ رُؤْيَا هَالَتْنِي وَفَظِعْتُ بِهَا، فَأَخْبِرْنِي بِهَا، فَإِنَّكَ إنْ أَصَبْتَهَا أَصَبْتَ تَأْوِيلَهَا

Sesungguhnya aku mengalami mimpi yang mengerikan, jelaskanlah arti mimpi itu kepadaku. Jika kau berhasil mengetahui mimpi menakutkan itu, kau pasti mampu memberikan takwilnya.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 31-32)

Dengan tenang Syathih memprediksi mimpi menakutkan yang dialami Raja Rabi’ah bin Nashr. Ia mengatakan: 

أَفْعَلُ، رَأَيْتُ حُمَمَةَ خَرَجَتْ مِنْ ظُلْمَةِ فَوَقَعَتْ بِأَرْضِ تَهَمَةِ فَأَكَلَتْ مِنْهَا كُلَّ ذَاتِ جُمْجُمَةِ 

Akan kulakukan, aku melihat sebuah gumpalan hitam (arang) yang keluar dari tempat gelap yang kemudian jatuh ke tanah yang datar dan melahap semua makhluk hidup.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 32)

Dalam riwayat lain, kalimat “kulla dzâti jumjumah” dibaca “kullu dzâti jumjumah”, menjadi fa’il dengan memembaca rafa’kullu”, maka artinya berubah “semua makhluk hidup memakannya.” Menurut sebagian ulama, membaca nashab dipandang lebih tepat dalam sudut pandang riwayat dan maknanya. Argumentasi yang mereka ajukan adalah, “li-anna al-humamah nâr, fahiya ta’kul lâ tu’kal (karena humamah adalah api, maka [sifat]nya adalah melahap, bukan dilahap).” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 62)

Raja Rabi’ah bin Nashr membenarkan tebakan Syathih, lalu ia bertanya: “fa mâ ‘indâka fî ta’wîlihâ (apa takwil mimpi itu menurutmu)?” Syathih menjawab:

أَحْلِفُ بِمَا بَيْنَ الْحَرَّتَيْنِ مِنْ حَنَشٍ، لَتَهْبِطَنَّ أَرْضَكُمْ الْحَبَشُ، فَلَتَمْلِكَنَّ مَا بَيْنَ أَبْيَنَ إلَى جُرَشَ

Aku bersumpah demi siang dan malam, bahwa orang-orang Habsyi pasti menginjak negeri kalian, mereka pasti menguasai daerah antara Abyan sampai Juras.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)

Rabi’ah bin Nashr terkejut sembari berkata: “inna hadza lanâ laghâ’idh mûji’, fa matâ huwa kâ’inun? afî zamânî hadza am ba’dahu? (sungguh hal ini sangat menyakitkan kita semua, kapan itu akan terjadi? Pada masaku atau setelahku?)” Syathih menjawab: “lâ, bal ba’dahu bi hîn, akstara min sittîna aw sab’îna (tidak di masa Baginda, tapi setelahnya, enam puluh atau tujuh puluh tahun yang akan datang).” Rabi’ah kembali bertanya: “Apakah daerah tersebut berada dalam kekuasaan mereka selama-lamanya?” Syathih menjawab: “Tidak. Daerah tersebut berada dalam kekuasaan mereka sekitar tujuh puluh tahun lebih, setelah itu mereka dibunuh dan lari dengan terbirit-birit.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)

“Siapa yang membunuh dan mengusir mereka?” tanya Rabi’ah bin Nashr. Syathih menjawab:

يَلِيهِ إرَمُ ذِي يَزَنَ، يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ مِنْ عَدَنَ، فَلَا يَتْرُكُ أَحَدًا مِنْهُمْ بِالْيَمَنِ

“Orang itu adalah Iram Dzi Yazan, dia mendatangi mereka dari Adn dan tidak meninggalkan seorang pun dari mereka di Yaman.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)

Rabi’ah bin Nashr melanjutkan pertanyaannya: “afayadumu dzalika min sulthanihi am yanqati’u? (apakah daerah-daerah tersebut berada dalam kekuasaannya atau tidak?)” Syathih menjawab: “Tidak.” Rabi’ah bin Nashr kembali terkejut sambil bertanya: “man yaqtha’uhu?” (siapa orang yang mengakhirinya?). Syathih berkata:

نَبِيٌّ زَكِيٌّ، يَأْتِيهِ الْوَحْيُ مِنْ قِبَلِ الْعَلِيِّ، قَالَ: وَمِمَّنْ هَذَا النَّبِيُّ؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنْ وَلَدِ غَالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ، يَكُونُ الْمُلْكُ فِي قَوْمِهِ إلَى آخِرِ الدَّهْرِ. قَالَ: وَهَلْ لِلدَّهْرِ مِنْ آخِرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، يَوْمٌ يُجْمَعُ فِيهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ يَسْعَدُ فِيهِ الْمُحْسِنُونَ وَيَشْقَى فِيهِ الْمُسِيئُونَ قَالَ: أَحَقٌّ مَا تُخْبِرُنِي؟ قَالَ: نَعَمْ، وَالشَّفَقِ وَالْغَسَقِ، وَالْفَلَقِ إذَا اتَّسَقَ إنَّ مَا أَنْبَأْتُكَ بِهِ لَحَقٌّ.

Seorang nabi yang suci, yang memperoleh wahyu dari Dzat Yang Maha Tinggi. Rabi’ah bin Nashr bertanya: ‘Dari mana nabi itu berasal?’ Syathih menjawab: ‘Ia merupakan salah seorang keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadlr, kekuasaan berada dalam genggaman kaumnya sampai dunia berakhir.’ Rabi’ah berkata: ‘Apakah dunia memiliki akhir?’ Syathih menjawab: ‘Iya, sebuah hari di mana manusia generasi pertama sampai generasi terakhir dikumpulkan di dalamnya. Pada hari itu, orang-orang yang selalu berbuat baik akan bahagia dan orang-orang yang jahat akan celaka.’ Rabi’ah bertanya lagi: ‘Apakah benar apa yang kau jelaskan kepadaku?’ Syathih menjawab: ‘Ya, demi sinar merah ketika matahari tenggelam, demi malam yang gelap gulita, demi subuh jika fajar telah menyingsing. Sesungguhnya apa yang kuceritakan kepadamu merupakan kebenaran sejati’.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 33)
Setelah Syathih mohon diri pulang, Rabi’ah bin Nashr meminta Syiqq untuk menghadap. Ia menanyakan hal yang sama kepada Syiqq dengan tujuan untuk mengetahui apakah jawaban keduanya sama atau tidak (li yandhura ayattafiqani am yakhtalifâni). Jawaban Syiqq pun hampir sama dengan Syathih. Perbedaannya hanya dalam pemilihan kata dan penyebutan daerah, seperti nama Najran yang berbeda dengan Juras dalam perkataan Syathih. Untuk contoh pemilihan kata yang berbeda adalah ketika Rabi’ah bin Nashr bertanya: “afayadumu sulthanuhu aw yanqathi’u? (apakah kekuasaannya akan bertahan selamanya atau tidak?)” Syiqq menjawab:

بَلْ يَنْقَطِعُ بِرَسُولِ مُرْسَلٍ يَأْتِي بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ، بَيْنَ أَهْلِ الدِّينِ وَالْفَضْلِ، يَكُونُ الْمُلْكُ فِي قَوْمِهِ إلَى يَوْمِ الْفَصْلِ

Kekuasaannya akan dihentikan oleh seorang Rasul yang diutus dengan membawa kebenaran dan keadilan, di antara orang-orang beragama dan orang-orang mulia, kekuasaan akan berada di genggaman kaumnya sampai hari pengadilan (yaum al-fashl).” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 34)

Dari segi tata bahasa, Syiqq memiliki kemampuan berbahasa yang jauh lebih indah dari Syathih, seperti penjelasannya yang sangat indah ketika menjawab pertanyaan Rabi’ah bin Nashr: “ma yaum al-fashl? (apa hari pengadilan itu?).” Dengan indah Syiqq mengatakan:

يَوْمٌ تُجْزَى فِيهِ الْوُلَاةُ، وَيُدْعَى فِيهِ مِنْ السَّمَاءِ بِدَعَوَاتِ، يَسْمَعُ مِنْهَا الْأَحْيَاءُ وَالْأَمْوَاتُ، وَيُجْمَعُ فِيهِ بَيْنَ النَّاسِ لِلْمِيقَاتِ، يَكُونُ فِيهِ لِمَنْ اتَّقَى الْفَوْزُ وَالْخَيْرَاتُ

Hari Pengadilan adalah hari di mana para penguasa mendapatkan balasan perbuatannya, hari di mana seruan dikumandangkan dari langit, hari di mana seruan terdengar oleh seluruh makhluk hidup dan yang telah mati, hari di mana manusia dikumpulkan untuk waktu yang telah ditetapkan, hari di mana keberuntungan dan kebaikan menjadi milik orang-orang yang bertakwa.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 34)

Setelah mendengar takwil Syathih dan Syiqq, Rabi’ah bin Nashr terus memikirkannya, takut jika semuanya benar-benar terjadi. Syathih dan Syiqq adalah kâhin (peramal/dukun) yang sangat terkenal kesaktiannya. Kata-kata mereka tidak bisa dipandang remeh. Imam Wahb bin Munabbih meriwayatkan bahwa Syathih pernah ditanya:

أنَّي لك هذا العلم؟ فقال: لي صاحبٌ من الْجِنّ استمع أخبار السّماء من طور سيْنَاءَ حين كلّم الله تعالي منه موسي فهو يُؤَدّي إليَّ من ذلك ما يُؤَدّيه

Dari mana kau (mendapatkan) pengetahuan ini?” Syathih menjawab: “Aku memiliki teman dari (golongan) jin yang ikut mendengarkan kabar-kabar langit di gunung Tursina di saat Allah berbicara kepada Musa. Dia (jin) menyampaikan kabar-kabar langit itu kepadaku (seperti) yang disampaikan Allah kepada Musa.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf, juz 1, h. 60-61)

Dengan pertimbangan masak, Raja Rabi’ah bin Nashr memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Irak agar terhindar dari kehancuran yang akan didatangkan oleh orang-orang Habsyi. Imam Ibnu Hisyam menulis:

فَوَقع في نفس رَبيْعةَ بْنِ نَصرٍ ما قَالَا فَجَهَّز بَنِيْه وَأهلَ بَيْتهِ إلي الْعِراق بِما يُصلِحهم وكتب لهم إلي ملِكٍ مِن مُلُوكِ فَارِسَ يُقال له: سَابُور بن خُرّزَاذ فَأسكنهم الحيرةَ

Ucapan Syathih dan Syiqq mempengaruhi diri Rabi’ah bin Nashr, maka ia siapkan anak-anak dan keluarganya (pindah) ke Irak demi kebaikan mereka. Ia menulis surat untuk mereka (berikan) kepada raja dari kerajaan Persia, bernama Sabur bin Hurrazad, kemudian keluarganya menetap di Hirah (sekarang Kufah).” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, juz 1, h. 35)

Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan

Selasa 23 April 2019 20:0 WIB
Kisah di Balik Pengalihan Kiblat ke Makkah (Lagi)
Kisah di Balik Pengalihan Kiblat ke Makkah (Lagi)
“Sungguh Kami (sering) melihat wajahmu menengadah ke langit maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya…” (QS. Al-Baqarah: 144)

Turunnya ayat di atas pada tahun ke-2 Hijriyah menjadi penanda bagi Nabi Muhammad saw. dan umat Islam untuk mengalihkan kiblat ke Masjidil Haram yang ada di Makkah. Memang, ketika masih di Makkah atau sebelum hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad saw. dan umat Islam berkiblat ke Ka’bah ketika shalat. Riwayat lain menyebutkan, ketika di Makkah pun Nabi Muhammad saw. menghadap ke Baitul Maqdis Palestina, namun tidak membelakangi Ka’bah karena beliau berada di Hajar Aswad dan Rukun Yamani ketika shalat. 

Namun setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad saw., baik atas inisiatif sendiri atau petunjuk Allah, mengubah kiblat shalat umat Islam ke Baitul Maqdis yang berada di Palestina. Tidak lagi menghadap ke Ka’bah di Makkah. Kejadian ini berlangsung selama 16 bulan lamanya. Riwayat lain menyebut 17 atau 18 bulan. 

Lantas, apa yang menyebabkan Nabi Muhammad saw. mengubah kiblat shalat bagi umat Islam ke Baitul Maqdis ketika beliau berada di Madinah? Mengapa tidak menetapkan kiblat umat Islam tetap ke Ka’bah, ke Masjidil Haram di Makkah? 

Dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018) disebutkan, ternyata Nabi Muhammad saw. memiliki ‘maksud tertentu’ ketika mengubah kiblat ke Baitul Maqdis di Palestina. Maksudnya, ketika di Madinah –di mana banyak orang Yahudi bermukim- Nabi Muhammad saw. ingin menunjukkan kepada mereka bahwa Islam datang bukan untuk menghilangkan ajaran-ajaran yang pernah diajarkan oleh para rasul dan nabi terdahulu, termasuk Nabi Musa. 

Oleh karenanya, Nabi Muhammad saw., baik atas inisiatif sendiri ataupun perintah Allah, akhirnya ketika shalat menghadap ke Baitul Maqdis yang merupakan kiblatnya orang-orang Yahudi. Nabi Muhammad saw. berharap, langkah itu bisa menarik orang-orang Yahudi untuk menerima Islam. Namun ternyata, kebijakan itu tidak membuahkan hasil. Orang-orang Yahudi tetap saja tidak mau menerima Islam, bahkan memusuhi Nabi Muhammad saw. dan umat Islam.

Setelah 16 bulan berlalu, Nabi Muhammad saw. merasa bahwa lebih baik menghadap ke Ka’bah ketika shalat. Alasannya, Ka’bah merupakan rumah peribadatan pertama bagi umat manusia. Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim as. tentu jauh lebih tua dibandingkan Baitul Maqdis yang dibangun Nabi Sulaiman as. Di samping itu, dipilhkan Ka’bah sebagai kiblat umat Islam juga karena posisi Makkah yang merupakan pusat bumi.

Keinginan Nabi Muhammad saw. untuk mengalihkan kiblat ke Ka’bah di Makkah semakin besar. Beliau kerapkali menengadahkan wajahnya ke langit dan berharap turun wahyu dari Allah tentang perintah agar mengalihkan kiblat ke Ka’bah. Harapan Nabi Muhammad saw. itu dijawab Allah pada pertengahan bulan Rajab –riwayat lain pertengahan Sya’ban- tahun ke-2 Hijriyah, ketika Nabi Muhammad saw. melaksanakan shalat Dzuhur –riwayat lain shalat Ashar. Allah menurunkan QS. Al-Baqarah ayat 144 yang isinya perintah untuk berkiblat ke Masjidil Haram.

Ketika ayat tersebut turun, Nabi Muhammad saw. menghentikan shalatnya sebentar, kemudian beliau berputar 180 derajat dan menghadap ke Makkah. Para jamaah yang berada di belakang Nabi Muhammad saw. terpaksa jalan memutar dan tetap berada di belakangnya. Masjid dimana Nabi Muhammad saw. mengalihkan arah kiblat –dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram- ketika shalat ini kemudian dikenal dengan nama Masjid Qiblatain (masjid dua kiblat). (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 23 April 2019 15:0 WIB
Waraqah bin Naufal, Nasrani yang Mengimani Nabi Muhammad
Waraqah bin Naufal, Nasrani yang Mengimani Nabi Muhammad
Ketika Rasulullah menerima wahyu di awal-awal kenabiannya, beliau ragu dengan apa yang terjadi. Sayyidah Khadijah mengajaknya menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya. Waraqah bin Naufal adalah orang yang menguasai kitab-kitab suci terdahulu, khususnya Yahudi dan Kristen. Waraqah termasuk orang langka. Di saat mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia mempercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala. Ia mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah). Hal ini tercatat dalam Nawâdir al-Mahthûthât yang mengatakan:

وكانت فيهم الملة الحنيفية الإسلامية، والشريعة الإبراهيمية، ومن أهلها كان قس بن ساعدة الإيادي، ورقة بن نوفل الأسدي، وزيد بن عمرو من بني عدي، وقتلته الروم لذلك

Di dalamnya terdapat (pencari/penganut) agama lurus yang islamiyyah dan syariat Nabi Ibrahim, sebagian dari mereka adalah Quss bin Sâ’idah al-Iyâdî (w. 23 SH), Waraqah bin Naufal al-Asadî, Zaid bin ‘Amr dari Bani ‘Adi yang terbunuh oleh orang Romawi karena melakukan pencarian.” (Syekh Abdussalam Muhammad Harun, Nawâdir al-Mahthûthât, Kairo: Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1973, juz 1, h. 327)

Nasab Waraqah dari pihak ayah adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, sedang dari pihak ibu adalah Hindun binti Abu Kabir bin ‘Abd bin Qushay. Waraqah bin Naufal merupakan penganut agama Nasrani. Imam Ibnu Ishaq berkata: “kâna nashrâniyyan qad tatabba’a al-kutub—Ia seorang Nasrani yang benar-benar mengikuti kitab-kitab.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 361-364). Ia menentang penyembahan berhala yang dilakukan masyarakatnya. Salah satu riwayat yang menunjukkan keyakinannya adalah perkataannya terhadap teman-temannya:

أتعلمون والله ما قومكم على دين، ولقد أخطأوا الحجة، وتركوا دين إبراهيم

Apakah kalian mengetahui, demi Allah kaum kalian tidak berada dalam agama (yang benar). Cara pandang mereka salah. Mereka telah meninggalkan agama Ibrahim.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 3, h. 424)

Dari berbagai riwayat, Waraqah bin Naufal adalah orang yang haus dengan kebenaran. Ia berkelana ke sana-kemari mencarinya, melintasi berbagai negeri dan kota. Dalam salah satu riwayat diceritakan:

أن زيد بن عمرو وورقة بن نوفل خرجا يلتمسان الدين حتي انتهيا إلي راهب بالموصل فقال لزيد بن عمرو: من أين أقبلت يا صاحب البعير؟ فقال: من بنية إبراهيم، قال: وما تلتمس؟ قال: ألتمس الدين، قال: ارجع فإنك يوشك أن يظهر في أرضك، قال: فأما ورقة فتنصّر وأما أنا فعدمت علي النصرانية فلم يوافقني، فرجع

Sesungguhnya Zaid bin Amr dan Waraqah bin Naufal keduanya berkelana mencari agama (yang benar) hingga keduanya sampai kepada seorang pendeta di Mosul. Pendeta itu berkata kepada Zaid bin ‘Amr: ‘Dari mana kau berasal, wahai penunggang unta?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Dari rumah Ibrahim (Ka’bah/Makkah).’ Pendeta itu berkata: ‘Apa yang sedang kau cari?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Aku sedang mencari agama (yang benar).’ Pendeta itu berkata: ‘Kembalilah, sesungguhnya kau telah dekat dengan kemunculan (agama yang benar) di tanahmu (daerahmu).’ Zaid bin Amr berkata: ‘Adapun Waraqah menjadi seorang Nasrani, tapi aku kehilangan (ketertarikan) terhadap agama Nasrani, karenanya Waraqah tidak sependapat denganku. Kemudian Zaid bin Amr kembali (ke Makkah).” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 19, h. 500)
Waraqah belajar pada banyak guru, dan menguasai kitab-kitab terdahulu. Ia juga menyalin Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab. Ia memahami betul isi kitab-kitab suci terdahulu, terutama dalam tradisi Ibrahim. Sebagai saudara sepupunya, Sayyidah Khadijah mengetahui keahlian Waraqah bin Naufal. Karena itu, ia membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya, dan menanyakan peristiwa yang dialami suaminya. Setelah diceritakan secara mendetail, Waraqah bin Naufal mengatakan:

أَبْشِرْ، ثُمَّ أَبْشِرْ، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّكَ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ ابْنُ مَرْيَمَ، وَأَنَّكَ عَلَى مِثْلِ نَامُوسِ مُوسَى، وَأَنَّكَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَأَنَّكَ سَوْفَ تُؤْمَرُ بِالْجِهَادِ بَعْدَ يَوْمِكَ هَذَا، وَلَئِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ لَأُجَاهِدَنَّ مَعَكَ

“Berbahagialah, kemudian berbahagialah. Aku bersaksi bahwa kau adalah orang yang (dijanjikan) membawa kabar gembira oleh (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya kau (didatangi malaikat) seperti Namus (Jibril) untuk Musa. Sesungguhnya kau adalah nabi yang diutus. Sesungguhnya kau akan diperintahkan untuk berjihad setelah harimu (diangkat menjadi nabi) ini, dan andai aku masih bertemu masa itu, sungguh, aku akan berjihad bersamamu.” (Imam Abu Bakr al-Baihaqi, Dalâ’il al-Nubuwwah, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1988, juz 2, hlm 158-159)

Dalam riwayat lain dikatakan, pertama kali Sayyidah Khadijah menemui Waraqah adalah ketika ia mendengar cerita pembantunya, Maisarah, tentang perkataan Rahib yang melihat Muhammad dilindungi oleh dua malaikat. Dalam riwayat itu dikatakan:

قال إبن إسحاق: وكانت خديجة بنت خويلد قد ذكرتْ لورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّي—وكان ابن عمّها، وكان نصرانيّا قد تتبّع الكتب، وعلم من علم النّاس—ما ذكر لها غلامها ميسرة من قول الرّاهب، وما كان يري منه إذ كان الملكان يظلّانه، فقال ورقة: لئن كان هذا حقا يا خديجة، إنّ محمّدا لنبيّ هذه الأمة، وقد عرفْت أنه كائن لهذه الأمة نبيّ ينتظر، هذا زمانه

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza—ia adalah anak pamannya, seorang Nasrani yang bersungguh-sungguh mengikuti kitab-kitab, dan orang yang berilmu di (kalangan) manusia—apa yang diceritakan pembantunya, Maisarah, kepadanya tentang perkataan seorang pendeta, bahwa ia melihat Muhammad selalu dinaungi oleh dua malaikat. Waraqah bin Naufal berkata: ‘Jika (ceritamu) ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada nabi yang dinantikan untuk umat ini, dan inilah waktunya’.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 364)

Waraqah bin Naufal diperkirakan wafat sekitar tahun 610 M, tidak lama setelah Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya. Soal kedudukannya di akhirat, banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Waraqah adalah ahli surga. Berikut beberapa riwayat yang menjelaskan tentang itu:

فمات ورقة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رأيت القس في الجنة عليه ثياب خضر

Kemudian Waraqah meninggal (tak lama setelah meyakini kenabian Muhammad), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat sang pendeta (Waraqah bin Naufal) di surga mengenakan baju hijau.” (Imam Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, Beirut: Darul Qiblah lil-Tsaqafah al-Islamiyyah, 2006, juz 20, h. 233)

Imam Abu al-Qasim al-Suhaili (508-581 H) dalam al-Raudl al-Unuf menulis satu paragraf khusus membahas kedudukan Waraqah bin Naufal di akhirat. Beliau menulis:

وهو أحد من آمن بالنّبي قبل البعث، وروي الترمذي أن رسول الله قال: (رَأَيْتُه في الْمَنام وعليه ثِيَابٌ بيضٌ، ولو كان مِن أهلِ النّارِ لَمْ يَكنْ عليه ثيابٌ بيضٌ)، وهو حديث في إسناده ضعفٌ، لأنّه يدُور علي عثمان بن عبد الرحمن ولكنْ يُقَوّيه ما يأْتي بعد هذا من قوله صلي الله عليه وسلم: (رأيتُ القسّ-يعني ورقة-وعليه ثيابٌ حَرِيرٌ لِأَنَّهُ أوَّل مَنْ آمن بي وصدّقنِي) ـ

Waraqah adalah seseorang yang beriman kepada nabi sebelum masa diutus, al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Aku melihat Waraqah bin Naufal dalam mimpi, dia mengenakan baju putih. Jika dia termasuk ahli neraka, dia tidak akan mengenakan baju putih). Hadits ini lemah dalam isnadnya karena ada Utsman bin Abdurrahman, tetapi hadits tersebut dikuatkan dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini: (Aku melihat pendeta—maksudnya Waraqah—dia mengenakan baju sutera, karena dia adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan membenarkanku).” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362)

Dengan dasar beberapa riwayat di atas, bisa dikatakan bahwa Waraqah bin Naufal termasuk ahli surga seperti yang dikatakan oleh Rasulullah. Salah satu alasan kenapa Waraqah termasuk ahli surga, Imam Abu al-Qasim al-Suhaili mengatakan: “wa kâna yadzkurullaha fî safarihi fîl jâhiliyyah wa yusabbihuhu—(karena) Waraqah bin Naufal (selalu) mengingat Allah dalam (setiap) perjalanannya di masa jahiliyah dan (selalu) bertasbih kepada-Nya.” Sebagai bukti, potongan syair Waraqah bin Naufal perlu ditampilkan:

لَقدْ نَصَحْت لأقوام وقلت لهم: أنا النذير فلا يغرُرْكم أحَدٌ, لَا تَعْبُدنّ إلَهًا غيرَ خالِقِكم 

Sungguh telah kunasihati orang-orang, kukatakan pada mereka: aku adalah pengingat, agar kau tak mudah terbujuk orang. Jangan pernah kau sembah tuhan yang bukan penciptamu.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362)

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen