IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Turunnya Lailatul Qadar di Negara yang Masih Siang

Rabu 22 Mei 2019 19:0 WIB
Share:
Turunnya Lailatul Qadar di Negara yang Masih Siang
Salah satu keistimewaan Ramadhan yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya adalah turunnya lailatul qadar pada salah satu malam dari beberapa malam yang ada di dalamnya. Malam lailatul qadar merupakan malam yang sangat spesial dan dinanti-nantikan oleh segenap umat Islam, sebab melaksanakan ibadah pada malam ini lebih utama jika dibandingkan dengan seribu bulan. Hal ini seperti dijelaskan dalam firman Allah:

اِنَّا اَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا اَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ. سَلَامٌ هِىَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya aku telah menurunkan Al-Qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah kamu, apa itu lailatul qadar? Lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun para malaikat dan ruh (malaikat jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadar: 1-5)

Dalam beberapa hadits dijelaskan bahwa malam lailatul qadar ini kemungkinan besar terdapat pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. Hal ini berdasarkan perintah Nabi: 

تَحَرَّوْا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

“Bersungguh-sungguhlah (mencari) Lailatul Qadar pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. ” (HR. Bukhari Muslim)

Baca juga:
Arti dan Makna Malam Lailatul Qadar
Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar
Apakah Malam Lailatul Qadar Hanya di Bulan Ramadhan?
Dalam hadits lain dijelaskan lebih khusus lagi bahwa malam lailatul qadar kemungkinan terdapat pada malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِالْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Bersungguh-sungguhlah mencari malam lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan)” (HR. Bukhari)

Ketika lailatul qadar sudah secara spesifik dijelaskan bahwa kemungkinan berada di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, terutama pada malam yang ganjil, lalu bagaimana menanggapi beberapa pertanyaan yang berkembang tentang waktu turunnya lailatul qadar. Ketika lailatul qadar turun di Indonesia, misalnya pada malam ke-23, lalu bagaimana dengan wilayah yang selisih waktunya jauh dengan Indonesia yang masih belum beranjak malam, seperti di Amerika? Apakah lailatul qadar di Amerika turun pada waktu yang sama persis dengan di Indonesia, meskipun di wilayah tersebut masih siang hari, atau justru turunnya lailatul qadar di dua negara tersebut turun pada waktu yang berbeda dengan menyesuaikan waktu malam pada masing-masing negara? 

Dalam menjawab kemusykilan demikian, para ulama sebenarnya telah memikirkan kemusykilan tersebut dalam berbagai kitab turats, hingga akhirnya jawaban yang dipilih adalah bahwa lailatul qadar turun dengan menyesuaikan waktu malam pada masing-masing wilayah. Sehingga ketika lailatul qadar turun pada malam ke-23 di Indonesia, maka negara yang masih berada pada waktu siang tanggal 22 Ramadhan belum mendapatkan fadhilah keutamaan lailatul qadar, sampai ketika tiba di tempat mereka malam ke-23. 

Ketentuan bahwa turunnya lailatul qadar disesuaikan dengan waktu malam pada masing-masing wilayah, didasarkan pada ketentuan waktu terkabulnya doa di hari Jumat pada saat duduknya khatib yang juga disesuaikan dengan pelaksanaan khutbah pada masing-masing tempat yang cenderung berbeda-beda. Sehingga waktu ijabah pada hari Jumat antara satu masjid dengan masjid yang lain sudah berbeda. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah al-Muhtaj:

ـ (قوله إلى أنها ليلة الحادي والعشرين إلخ) ثم يحتمل أنها تكون عند كل قوم بحسب ليلهم ، فإذا كانت ليلة القدر عندنا نهارا لغيرنا تأخرت الإجابة والثواب إلى أن يدخل الليل عندهم ، ويحتمل لزومها لوقت واحد وإن كان نهارا بالنسبة لقوم وليلا بالنسبة لآخرين والظاهر الأول لينطبق عليه مسمى الليل عند كل منهما أخذا مما قيل في ساعة الإجابة في يوم الجمعة أنها تختلف باختلاف أوقات الخطب

“Lalu masih terdapat kemungkinan bahwa lailatul qadar didasarkan pada waktu malam di setiap kaum. Jika lailatul qadar pada waktu malam di wilayah kita, namun siang di tempat lain, maka waktu ijabah dan pahala lailatul qadar mundur bagi mereka sampai tiba waktu malam. Kemungkinan lain, waktu lailatul qadar hanya berlaku satu waktu saja, meskipun waktu tersebut saat siang jika dinisbatkan pada sebagian kaum dan malam jika dinisbatkan pada sebagian kaum yang lain. Pendapat yang dzahir (jelas) adalah kemungkinan yang pertama (didasarkan pada waktu malam di setiap tempat) supaya cocok dengan penamaan waktu malam pada setiap dua tempat (yang berbeda). Hal ini diambil dari ketentuan waktu ijabah pada hari Jumat yang berbeda sesuai dengan waktu khutbah” (Syekh Syamsuddin ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 10, hal. 40)

Walhasil, turunnya lailatul qadar menurut pandangan para ulama hanya terjadi pada saat malam hari, hal ini dikarenakan arti dari lailatul qadar sendiri adalah malam kemuliaan. Sehingga malam kemuliaan tidak mungkin jatuh di siang hari, karena siang dan malam adalah penamaan waktu yang berbeda. Maka dapat disimpulkan bahwa setiap wilayah memiliki lailatul qadarnya masing-masing yang turun pada waktu malam pada masing-masing wilayah, namun meski begitu, lailatul qadar tetap terjadi pada tanggal yang sama ketika dinisbatkan pada masing-masing tempat. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 

Tags:
Share:
Rabu 22 Mei 2019 13:30 WIB
Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar
Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar

Nuzulul Quran adalah waktu di mana Al-Qur’an pertama kali diturunkan. Di Indonesia lazim diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, umumnya di malam hari. Hampir di seluruh tempat di Nusantara mengadakan seremoni layaknya memperingati Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan hari besar lainnya. Banyak cara masyarakat mengisi acara Nuzulul Quran, mulai dari tumpengan, pengajian, istighotsah, tahlil, khataman Al-Qur’an, dan sebagainya. 

Sementara Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar (Surat al-Qadar ayat 1), yaitu malam paling spesial di bulan suci, malam yang sangat diharapkan seluruh umat Muhammad, ia lebih baik dari pada seribu bulan. Pendapat yang paling populer bahwa Lailatul Qadar terjadi di sepuluh akhir bulan Ramadhan, salah satu indikasinya Nabi sangat menekankan I’tikaf dan ibadah lainnya di waktu-waktu tersebut.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana korelasi antara dua narasi di atas? Mengapa bisa berbeda antara peringatan Nuzulul Quran dan diturunkannya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar?

Beberapa pakar tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan dua kali proses. Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wahidah). Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman). Sebelum diterima Nabi di bumi, Allah terlebih dahulu menurunkannya secara menyeluruh di langit dunia, dikumpulkan jadi satu di Baitul Izzah. Selanjutnya malaikat Jibril menurunkannya kepada Nabi di bumi secara berangsur, ayat demi ayat, di waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan selama dua puluh tahun, pendapat lain dua puluh satu tahun.

Pakar tafsir terkemuka, Syekh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi menegaskan:

وَلَا خِلَافَ أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ كَانَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ بِهِ نَجْمًا نَجْمًا فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْأَسْبَابِ، وَذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً.

“Tidak ada perbedaan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan seperti penjelasan kami. Maka Al-Qur’an terlebih dahulu diletakan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur tentang perintah, larangan dan sebab-sebab lainnya. Demikian itu terjadi selama 20 tahun.”

 وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُنْزِلَ الْقُرْآنَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى الْكَتَبَةِ فِي سَمَاءِ الدنيا، ثم نزل بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نُجُومًا- يَعْنِي الْآيَةَ وَالْآيَتَيْنِ- فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ سَنَةً

“Sahabat Ibnu Abbas berkata, Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh secara menyeluruh kepada para malaikat pencatat wahyu di langit dunia, kemudian Jibril turun membawanya secara berangsur, satu dan dua ayat, di waktu yang berbeda-beda selama 21 tahun.” (Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an/Tafsir al-Qurthubi, juz 2, hal. 297).

Proses turunnya Al-Qur’an secara total ini terjadi di bulan malam Lailatul Qadar, tepatnya malam 24 Ramadhan. Pendapat ini sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ibnu Abbas dan Watsilah bin al-Asqa’.

Imamul Mufassirin (pemimpin para pakar tafsir), Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari menyampaikan riwayat tersebut dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:

كَمَا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ أَبِي الْأَشْرَسِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً مِنَ الذِّكْرِ فِي لَيْلَةِ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ، فَجُعِلَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ

“Sebagaimana bercerita kepadaku Abu Kuraib, beliau berkata, bercerita kepadaku Abu Bakr bin ‘Ayyasy dari al-A’masy dari Hassan bin Abi al-Asyras dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas beliau berkata; Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan pada malam 24 dari bulan Ramadhan, kemudian diletakan di Baitul Izzah.” 

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَجَاءٍ، قَالَ: ثنا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ، " عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَزَلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ

“Bercerita kepadaku Ahmad bin Manshur, ia berkata, bercerita kepadaku Abdullah bin Raja’, ia berkata, bercerita kepadaku Imran al-Qatthan dari Qatadah dari Ibnu Abil Malih dari Watsilah dari Nabi, beliau bersabda; lembaran-lembaran Nabi Ibrahim turun pada awal bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada 13 Ramadhan, Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran/ Tafsir al-Thabari, juz 3, hal. 188).

Dalam proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap, wahyu pertama yang diterima Nabi adalah Surat al-‘Alaq dari ayat satu sampai lima. Saat Nabi mencapai usia 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta, mengeluarkan mereka dari sesatnya kebodohan menuju terangnya pengetahuan. Tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, Nabi menerima wahyu untuk pertama kalinya.

Pakar sejarah Nabi, Syekh Muhammad al-Khudlari Bik menegaskan:

ـ )بَدْءُ الْوَحْيِ (لَمَّا بَلَغَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سِنَّ الْكَمَالِ وَهِيَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً أَرْسَلَهُ اللهُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا لِيُخْرِجَهُمْ مِنَ ظُلُمَاتِ الْجَهَالَةِ إِلَى نُوْرِ الْعِلْمِ وَكَانَ ذَلِكَ فِيْ أَوَّلِ فَبْرَايِرْ سَنَةَ ٦١٠ مِنَ الْمِيْلَادِ كَمَا أَوْضَحَهُ الْمَرْحُوْمُ مَحْمُوْدْ بَاشَا اَلْفَلَكِيُّ، تَبَيَّنَ بَعْدَ دِقَّةِ الْبَحْثِ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ فِيْ 17 رَمَضَانَ سَنَةَ 13 قَبْلَ الْهِجْرَةِ وَذَلِكَ يُوَافِقُ يُوْلِيُوْ سَنَةَ ٦١٠

“(Fasal Pertama kali wahyu turun). Saat Nabi menginjak usia matang, yaitu 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta seraya menggembirakan dan memperingatkan, untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Demikian itu terjadi di awal bulan Februari tahun 610 Masehi seperti yang dijelaskan Syekh Mahmud Basya sang pakar astronomi. (Namun) setelah penelitian yang cermat, telah jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi.” (Syekh Muhammad al-Khudlari Bik, Nur al-Yaqin Fi Sirati Sayyid al-Mursalin, hal. 19).

Dari referensi di atas dapat dipahami bahwa peringatan Nuzulul Quran yang populer di Indonesia mengacu pada sejarah pertama kali turunnya Al-Qur’an dalam proses kedua, yaitu dari Baitul Izzah kepada Nabi di bumi.

Perbedaan pendapat mengenai kapan wahyu pertama turun memang tidak bisa dihindari. Selain tanggal 17 Ramadhan ada pula yang berpendapat terjadi tanggal 7, 8, dan 21 Ramadhan. Bahkan beberapa pendapat ada yang menyebut bukan di bulan Ramadhan.

Namun, perayaan Nuzulul Quran di setiap tanggal 17 Ramadhan yang telah turun-temurun terlaksana tanpa ada pengingkaran dari para ulama, setidaknya memiliki pembenaran dari sudut pandang sejarah menurut satu versi. Oleh karenanya, tidak perlu fanatik secara berlebihan dengan menyalahkan pihak yang berbeda dengan pendapat yang diyakini. Siapa pun boleh merayakan Nuzulul Quran di selain tanggal 17 Ramadhan dengan tetap menghormati pendapat lain yang berbeda.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.


Selasa 21 Mei 2019 17:0 WIB
Shalat Witir pada Ramadhan, Sebaiknya Berjamaah atau Sendirian?
Shalat Witir pada Ramadhan, Sebaiknya Berjamaah atau Sendirian?
Ilustrasi (info-islam.ru)
Shalat sunnah secara umum terbagi menjadi dua, yakni yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah dan yang tidak dianjurkan untuk dilakukan secara berjamaah, melainkan lebih baik dilaksanakan secara sendirian. Contoh untuk jenis pertama adalah shalat Id, shalat gerhana matahari dan bulan, shalat istisqa’, dan shalat tarawih. Selain lima shalat sunnah tersebut, seseorang disarankan lebih baik melaknakannya sendirian.
 
Pembagian shalat sunnah terhadap dua bagian ini secara ringkas dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab:

قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح على الأصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح وهو ما سوى ذلك

“Shalat Sunnah dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Shalat yang disunnahkan berjamaah yaitu shalat sunnah ‘ied, shalat gerhana, dan shalat istisqa’, begitu juga shalat tarawih menurut qaul ashah. Kedua, shalat yang tidak disunnahkan berjamaah, tapi jika dilaksanakan dengan cara jamaah, maka shalat tersebut tetap sah. Yaitu shalat selain dari bagian pertama diatas.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 5)

Berdasarkan referensi di atas, bisa dipastikan bahwa shalat witir secara hukum asalnya termasuk dalam kategori shalat yang tidak dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Meski demikian, para ulama memberi pengecualian tatkala shalat witir dilaksanakan di bulan Ramadhan.

Menurut para ulama Syafi’iyah shalat witir pada malam bulan suci ini sunnah dilakukan secara berjamaah. Pendapat yang sama juga diungkapkan dalam mazhab Hanabilah dan satu pernyataan dalam mazhab Hanafiyah. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam referensi berikut:

والجماعة في صلاة الوتر سنة في شهر رمضان عند الحنابلة ، ومستحبة عند الشافعية وفي قول عند الحنفية

“Berjamaah pada shalat witir adalah hal yang sunnah di bulan Ramadhan menurut Madzhab Hanabilah dan Syafi’iyyah serta satu qaul dari Madzhab Hanafiyah.” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan Kuwait, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 27, hal. 168)

Meski shalat witir disunnahkan dilakukan secara berjamaah di bulan Ramadhan, namun hukum ini tidak berlaku bagi orang yang akan melaksanakan tahajud di malam hari dan yakin akan terbangun di akhir malam, maka dalam keadaan demikian yang lebih utama baginya adalah mengakhirkan shalat witirnya di akhir malam. Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili:

وتندب الجماعة في الوتر عقب التراويح جماعة، إلا إن وثق باستيقاظه آخر الليل،فالتأخير أفضل، لخبر مسلم: «من خاف ألا يقوم من آخر الليل، فليوتر أوله، ومن طمع أن يقوم آخره، فليوتر آخر الليل، فإن صلاة آخر الليل مشهودة» أي تشهدها ملائكة الليل والنهار

“Disunnahkan berjamaah dalam melaksanakan shalat witir setelah melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, kecuali ketika seseorang yakin akan bangun di akhir malam, maka mengakhirkan shalat witir baginya adalah lebih utama. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan Imam Muslim: “Barang siapa yang khawatir tidak bangun di akhir malam maka hendaknya ia melaksanakan witir di awal malam. Dan barang siapa yang mengharap bangun di akhir malam, maka hendaknya melaksanakan shalat witir di akhir malam, sebab shalat di akhir malam itu disaksikan” maksudnya disaksikan oleh malaikat (yang bertugas) di malam hari dan siang hari.”  (Syekh Wahbah az-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 2, hal. 240)

Bahkan meskipun ketika shalat witir dilaksanakan di akhir malam pada bulan Ramadhan, akan menyebabkan shalat witir ini tidak dilaksanakan secara berjamaah, tetap yang lebih utama adalah mengakhirkannya meski dilaksanakan sendirian daripada melaksanakannya di awal malam dengan berjamaah, hal ini tak lain karena fungsi utama shalat witir yang merupakan penutup shalat di malam hari. Ketentuan ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Syarah al-Bahjah al-Wardiyah:

ـ (و) حيث يصليه (بعد نفل الليل) إن كان له تنفل أي : تهجد (فهو أفضل) من صلاته قبل نفل الليل. (قوله : فهو أفضل) ، وإن لزم على تأخيره فوات صلاة الجماعة فيه في رمضان

“Sekiranya seseorang melaksanakan shalat witir setelah shalat tahajud maka hal tersebut lebih utama daripada shalat witir sebelum tahajud. Meskipun dengan mengakhirkan witir akan menyebabkan tidak terlaksananya shalat witir dengan cara jamaah di bulan Ramadhan” (Syekh Zakaria al-Anshari, Syarah al-Bahjah al-Wardiyah, Juz 4, Hal. 140)

Namun seandainya ketika seseorang yang memiliki niatan untuk shalat tahajud di malam hari merasa tidak enak kepada para jamaah tatkala meninggalkan tempat shalat setelah melaksanakan tarawih, maka ia tetap dapat melaksanakan shalat bersama mereka namun dengan niat shalat sunnah mutlak, bukan dengan niat shalat witir. Sebab hal yang disunnahkan adalah mengakhirkan keseluruhan shalat witir setelah melaksanakan shalat tahajud. Hal ini sesuai dengan fatwa yang disampaikan oleh Imam Ar-Ramli Kabir:

أفتى الوالد رحمه الله تعالى فيمن يصلي بعض وتر رمضان جماعة ويكمله بعد تهجده بأن الأفضل تأخير كله ، فقد قالوا : إن من له تهجد لم يوتر مع الجماعة بل يؤخره إلى الليل ، فإن أراد الصلاة معهم صلى نافلة مطلقة وأوتر آخر الليل

“Al-Walid (Imam Ramli Kabir) berfatwa tentang orang yang shalat witir dilaksanakan sebagian saja dengan berjamaah di bulan Ramadhan, lalu ia menyempurnakan shalat witirnya setelah shalat tahajud. Bahwa yang lebih utama (baginya) adalah mengakhirkan keseluruhan shalat witir. Para ulama berkata: “Orang yang hendak melaksanakan tahajud maka sebaiknya ia tidak melaksanakan shalat witir dengan berjamaah, tapi mengakhirkannya sampai (akhir) malam. Jika ia ingin shalat bersama para jamaah, maka ia hendaknya shalat sunnah muthlaq dan (tetap) melaksanakan witir di akhir malam” (Syekh Syihabuddin ar-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 5, hal. 319) 

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melaksanakan shalat witir dengan berjamaah di bulan Ramadhan adalah hal yang disunnahkan selama seseorang tidak memiliki niatan untuk melaksanakan shalat tahajud di malam hari. Jika ia memiliki niatan untuk shalat tahajud dan yakin akan terbangun di akhir malam, maka disunnahkan untuk mengakhirkan shalat witir di akhir malam, meskipun tidak dilakukan dengan cara berjamaah. 

Namun patut diperhatikan bahwa dalam mengamalkan shalat witir ini tetap mempertimbangkan terhadap tradisi dan penilaian masyarakat setempat. Hal ini misalnya dengan cara tidak beranjak pulang langsung setelah tarawih, ketika seseorang memiliki niatan untuk melaksanakan shalat witir di akhir malam, tapi tetap mengikuti prosesi shalat witir yang dilakukan oleh imam namun dengan niat shalat sunnah mutlak, dengan demikian ia mendapatkan keutamaan mengakhirkan keseluruhan shalat witir dan melestarikan syiar Islam yang sudah berkembang secara luas di masyarakat berupa melaksanakan shalat witir secara berjamaah. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
 

Selasa 21 Mei 2019 12:30 WIB
Shalat Tarawih Bermakmum kepada Imam Shalat Witir
Shalat Tarawih Bermakmum kepada Imam Shalat Witir
Ilustrasi (Reuters)
Idealnya shalatnya imam dan makmum merupakan jenis shalat yang sama. Isya’ dengan Isya’, Subuh dengan subuh, tarawih dengan tarawih dan lain sebagainya. Namun karena satu dan beberapa hal terkadang menuntut shalatnya imam dan makmum menjadi berbeda, misalnya dalam kasus shalat tarawih dan witir. 

Sebagian makmum yang tertinggal satu atau beberapa salam tarawih melanjutkan rakaat tarawihnya saat imam shalat witir dengan tetap niat berjamaah. Hal itu dianggap lebih tepat dari pada menyempurnakan tarawih setelah jamaah shalat witir, karena witir merupakan penutup shalat di malam hari. Menurut kacamata fiqih, bagaimana hukum makmum melaksanakan shalat tarawih dengan imam shalat witir? Sahkah shalatnya?

Salah satu syarat sah pelaksanaan shalat jamaah adalah cocoknya rangkaian shalat imam dan makmum. Yang dimaksud kecocokan di sini adalah keserasian shalat imam dan makmum dalam gerakan-gerakan yang tampak seperti ruku, sujud, berdiri, duduk di antara dua sujud dan lain-lain. Tidak disyaratkan sama dalam jumlah rakaatnya, bacaan shalatnya, status fardhu dan sunahnya, serta ada’ (shalat yang dilakukan di dalam waktunya) dan qadlanya (shalat yang dilakukan di luar waktunya). Maka menjadi sah melakukan shalat qadla zhuhur dengan imam shalat Ashar, shalat fardu Isya dengan imam shalat tarawih, shalat tarawih dengan imam shalat witir, shalat qadla subuh dengan imam shalat Idul Fitri dan lain-lain.

Hukumnya menjadi berbeda bila rangkain gerakan shalatnya berbeda, seperti melakukan shalat fardhu maghrib dengan imam shalat gerhana bulan atau makmum shalat zhuhur dengan imam shalat gerhana matahari atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan gerakan yang tajam antara shalatnya imam dan makmum. Seperti diketahui shalat gerhana bulan dan matahari memiliki tata cara yang berbeda dengan shalat lainnya dengan dua kali berdiri, dua kali berdiri, dua kali membaca al-Fatihah, dua kali ruku’ dan dua kali I’tidal di setiap rakaatnnya.

Dengan demikian hukumnya sah shalat tarawih dilakukan dengan cara bermakmum di belakang imam shalat witir, sebab tidak ada perbedaan yang mecolok di dalam rangkaian gerakan-gerakan kedua shalat tersebut. Perbedaan niat shalat antara imam dan makmum tidak menjadi soal, sebab tergolong minim dan tidak tajam.

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menegaskan:

وتاسعها أن يتوافق نظم صلاتهما أي نهجها الواضح في الأفعال الظاهرة وإن اختلفا عددا فلا يصح الاقتداء مع اختلافه كمكتوبة خلف كسوف وبالعكس لتعذر المتابعة

“Syarat ke Sembilan, cocoknya rangkaian shalat imam dan makmum, maksudnya rangkaian shalat yang jelas dalam gerakan-gerakan yang tampak, meski berbeda jumlah rakaatnya. Maka tidak sah berjamaah ketika berbeda rangkaian gerakan shalatnya seperti shalat maktubah di belakang shalat gerhana matahari dan sebaliknya, sebab sulitnya mengikuti”.

ولا يضر اختلاف نية الإمام والمأموم لعدم فحش المخالفة فيهما فيصح اقتداء المفترض بالمتنفل والمؤدي بالقاضي وفي طويلة بقصيرة كظهر بصبح وبالعكوس 

“Dan tidak bermasalah perbedaan niatnya imam dan makmum, sebab ketiadaan perbedaan yang parah di dalamnya, maka sah bermakmumnya orang yang shalat fardlu dengan imam shalat sunah, shalat ada’ bermakum dengan imam shalat qadla’, shalat yang lebih panjang rakaatnya dengan imam yang lebih pendek rakaatnya seperti zhuhur dengan Subuh dan sebaliknya”. (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah al-Saja, hal. 182).

Meski shalatnya sah, namun hukumnya makruh. Namun demikian, keutamaan jamaah (pahala 27 kali lipat melebihi shalat sendiri) tetap bisa didapat. Al-Imam al-Suwaifi sebagaimana dikutip Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani menegaskan bahwa kemakruhan dalam hal ini tidak menghilangkan keutamaan dan pahala jamaah, karena kemakruhan dan fadlilah jamaah sudah berbeda sudut pandangnya, seperti shalat di tempat ghasaban, hukumnya sah, namun haram. Sah dari sudut pandang shalatnya, haram dari sisi menggunakan tempat orang lain tanpa seizinnya. Demikian pula dalam persoalan ini, makruh dari sisi perbedaan jenis shalat imam dan makmum, mendapat keutamaan dari sisi jamaahnya.

Dalam lanjutan referensi di atas, sang maha guru para ulama nusantara tersebut berkata:

لكنه مكروه ومع ذلك تحصل فضيلة الجماعة. قال السويفي: والكراهة لا تنفي الفضيلة والثواب لاختلاف الجهة بل الحرمة لا تنفي الفضيلة كالصلاة في أرض مغصوبة

“Namun hal tersebut (berbedanya niat shalat imam dan makmum) makruh. Meski demikian, keutamaan jamaah tetap bisa dihasilkan. Al-Imam al-Suwaifi berkata, kemakruhan tidak menafikan keutamaan dan pahala jamaah, sebab berbedanya sudut pandang, bahkan keharaman tidak menafikan keutamaan, seperti shalat di tanah ghasaban”. (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah al-Saja, hal.182).

Demikian penjelasan mengenai hukum melaksanakan shalat tarawih bermakmum dengan imam shalat witir. Sebisa mungkin jamaah shalat tarawih yang dilakukan diminimalisir kecacatannya, semisal mengupayakan hadir tepat waktu agar tidak tertinggal  dari imam. Semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pesantren Raudlatul Qur’an, Geyongan Arjawinangun Cirebon Jawa Barat.