IMG-LOGO
Trending Now:
Zakat

Hikmah di Balik Zakat Fitrah

Senin 3 Juni 2019 13:45 WIB
Share:
Hikmah di Balik Zakat Fitrah
Zakat fitri atau zakat fitrah merupakan sedekah wajib berupa makanan pokok dengan takaran tertentu yang diberikan kepada mereka yang berhak. Zakat fitrah dikeluarkan wajib di awal bulan Syawal, tetapi boleh dikeluarkan di awal Ramadhan menurut Mazhab Syafi‘i.

Zakat fitrah merupakan penutup ibadah puasa Ramadhan yang dapat menutupi kekurangan-kekurangan mereka yang berpuasa dalam menjalankan ibadah selama sebulan penuh.

Zakat fitrah dengan bentuknya berupa makanan pokok, pada mazhab Hanafi dapat dinominalkan, memiliki dimensi sosial sehingga ibadah zakat juga memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu memiliki hubungan horizontal.

Hal ini disinggung dalam hadits riwayat berikut ini:

عن ابن عباس: فرض رسول الله صلّى الله عليه وسلم زكاة الفطر طُهْرةً للصائم من اللغو والرَّفَث، وطُعْمةً للمساكين، فمَنْ أدَّاها قبل الصلاة فهي زكاةٌ مقبولةٌ، ومَنْ أدَّاها بعد الصلاة فهي صدقةٌ من الصَّدَقات رواه أبو داود وابن ماجة وصححه الحاكم

Artinya, “Dari sahabat Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji, dan sebagai sarana memberikan makanan bagi orang miskin. Siapa saja yang membayarnya sebelum shalat Id, maka ia adalah zakat yang diterima. Tetapi siapa saja yang membayarnya setelah shalat Id, maka ia terhidup sedekah sunnah biasa,” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah). Hadist ini shahih menurut Imam Al-Hakim.

Zakat fitrah merupakan salah satu kebaikan yang nilai faidahnya dapat menutupi kekurangan-kekurangan dalam bentuk dosa kecil seperti tersurat dalam Surat Hud ayat 114. Zakat fitrah menjadi penting untuk mencukupi kebutuhan mereka yang membutuhkan selama hari Id berlangsung.

زكاة الفطر حسنة من الحسنات تكفر السيئات قال تعالى إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ. وإخراج زكاة الفطر قبل الصلاة أفضل. والحكمة في ذلك أن لا يشتغل الفقير بالسؤال عن الصلاة

Artinya, “Zakat fitrah merupakan salah satu bentuk kebaikan yang dapat menghapus dosa. Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 114, ‘Sungguh, kebaikan itu dapat menghilangkan keburukan.’ Pembayaran zakat fitrah sebelum shalat Id lebih utama. Hikmah di balik itu bertujuan agar orang fakir yang menerimanya tidak melalaikan shalat Id karena sibuk mengemis untuk mencukupi kebutuhannya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 253).

Zakat fitrah dan zakat secara umum mendidik manusia dalam rangka mengikis salah satu penyakit batin, yaitu kebakhilan.

Dengan demikian, zakat fitrah merupakan ibadah yang sangat istimewa karena menyimpan hikmah yang mencakup dimensi lahiriah-batiniyah dan vertikal-horizontal/sosial.

فرض الرسول زكاة الفطر من صوم رمضان طهرة للصائم من اللغو والفحش الذي يقع منه أثناء الصوم فهي جابرة للخلل الواقع في الصيام كما يجبر سجود السهو الخلل الواقع في الصلاة وأنها في ذلك اليوم غنى للفقراء عن السؤال وإشعار لهم بسرور العيد والسعادة والعزة الإسلامية وكرامة الإجتماع والشعور بالإنسانية والهناء والحبور

Artinya, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri sebagai penyucian bagi orang yang berpuasa dari ucapan sia-sia dan ucapan keji yang terlontar di tengah ibadah puasa. Ia menjadi penambal (penyempurna/penggenap) kekurangan ibadah puasa sebagaimana sujud sahwi yang menggenapi kekurangan ibadah shalat. Ia juga menjadi penggenap kebutuhan orang miskin dari tindakan mengemis di samping syiar untuk mereka atas kebahagiaan hari Id, kegembiraan, kemuliaan Islam, kehormatan semangat kebersamaan dan rasa kemanusiaan, yang menyenangkan dan suka cita,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 249).

Takaran zakat fitrah memang tidak seberapa. Waktu zakat fitrah juga terbatas dan singkat. Tetapi ibadah ini mengandung hikmah dan semangat berbagi luar biasa yang dapat ditarik nilai-nilainya untuk dikontribusikan dalam kehidupan sosial dan berkelanjutan dalam bentuk donasi dan filantropi untuk kemanusiaan. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Share:
Ahad 2 Juni 2019 22:45 WIB
Dalam Kondisi Ini Orang Miskin Wajib Zakat Fitrah
Dalam Kondisi Ini Orang Miskin Wajib Zakat Fitrah
Zakat fitrah wajib ditunaikan umat Islam, yang bisa dilakukan dalam rentang waktu mulai 1 Ramadhan hingga sebelum terbenamnya matahari 1 Syawal. Kewajiban ini bersifat mengikat bagi umat Islam yang mampu menunaikan zakat fitrah, baik itu bagi anak kecil ataupun dewasa, bagi laki-laki ataupun perempuan. Hal ini ditegaskan dalam salah satu hadits:

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitrah berupa satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum atas budak dan orang yang merdeka, laki-laki dan perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari golongan umat Muslim” (HR. Bukhari)

Lantas sebenarnya bagaimanakah standar “orang yang mampu” dalam membayar zakat fitrah ini? Apakah orang yang miskin tidak wajib menunaikan zakat fitrah, atau tetap wajib bagi mereka?

Hukum Islam memberikan ketentuan bahwa zakat fitrah hanya wajib bagi orang yang mampu menunaikan zakat fitrah. Maksud dari “mampu” di sini adalah orang yang pada saat malam hari raya Id dan hari raya Id memilki harta yang mencukupi untuk kebutuhan hidupnya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi (keluarga, pembantu, dll). 

Kebutuhan tersebut meliputi makanan pokok, pakaian, rumah, dan terbebas dari utang yang melilitnya. Jika harta yang ia miliki tidak mencukupi untuk memenuhi salah satu dari kebutuhan tersebut pada saat malam hari raya Id, maka menunaikan zakat fitrah baginya adalah hal yang tidak wajib.

Ketentuan demikian seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Wahhab bi Syarh al-Manhaj at-Thullab:

ـ (ولا فطرة على معسروهو من لم يفضل عن قوته وقوت ممونه يومه وليلته و) عن (ما يليق بهما من ملبس ومسكن وخادم يحتاجها ابتداءا وعن دينه ما يخرجه) في الفطرة، بخلاف من فضل عنه ذلك

“Tidak wajib zakat fitrah bagi orang yang tidak mampu, yakni orang yang tidak memiliki harta yang lebih untuk memenuhi kebutuhan makanan pokok dirinya dan orang yang wajib ia nafkahi pada saat malam id dan hari raya id, dan untuk memiliki pakaian dan rumah yang layak untuknya serta pelayan yang ia butuhkan dan (melunasi) hutang yang ia miliki, (tidak memiliki harta yang lebih) untuk mengeluarkan zakat fitrah. Berbeda ketika orang tersebut memiliki harta yang lebih untuk zakat fitrah setelah tercukupi kebutuhan di atas (maka wajib baginya zakat fitrah)” (Syekh Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab bi Syarh al-Manhaj at-Thullab, juz 1 hal. 200).

Berdasarkan referensi di atas dapat dipahami bahwa standar “tidak mampu” yang menggugurkan kewajiban zakat fitrah adalah bersifat nisbi, tergantung pada sedikit-banyaknya kebutuhan seseorang dan orang yang wajib ia nafkahi pada saat malam hari raya Id dan pada saat hari raya Id. Orang yang memilki harta banyak, namun kebutuhan keluarganya terlampau banyak pada saat malam hari raya Id, maka tidak wajib baginya untuk membayar zakat fitrah. Sebaliknya, orang yang hanya memiliki harta sedikit tetap wajib menunaikan zakat fitrah ketika uang tersebut dapat mencukupi bahkan melebihi terhadap kebutuhan dirinya dan keluarganya pada saat malam Id.

Lantas bagaimana dengan orang yang miskin? Dalam menjawab tentang wajib tidaknya orang yang miskin membayar zakat fitrah, tinggal dikembalikan pada ketentuan di atas. Ketika pada malam Id ia memiliki harta yang melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya maka ia tetap wajib zakat fitrah, meskipun di hari-hari yang lain kebutuhannya tidak tercukupi dengan harta yang ia miliki. Kondisi tersebut sangat mungkin terjadi, misalnya, ketika si miskin menerima limpahan zakat fitrah dari sejumlah orang yang membuatnya hari itu punya bahan pokok lebih dari cukup.

Sedangkan pengertian orang yang miskin ketika merujuk pada kategori orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat) adalah orang yang memiliki uang atau pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhannya tapi tidak mencukupi kebutuhan tersebut. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

والمسكين: من قدر على مال أو كسب يقع موقعا من حاجته ولا يكفيه كمن يحتاج لعشرة وعنده ثمانية

“Orang miskin adalah orang yang mampu atas harta atau pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhannya tapi tidak mencukupi kebutuhan tersebut. Seperti orang yang butuh sepuluh uang (setiap hari) tapi ia hanya memiliki delapan” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 2, hal. 213)

Maka dapat disimpulkan bahwa wajib tidaknya zakat ditentukan oleh harta yang seseorang miliki pada saat malam Id. Ketika harta tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan orang-orang yang wajib ia nafkahi, maka tidak wajib baginya menunaikan zakat fitrah. Sebaliknya, jika harta yang dimilikinya melebihi kebutuhan dirinya dan keluarganya maka wajib baginya untuk menunaikan zakat fitrah. Wallahu a’lam.  


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Penulis adalah pengajar di Pon. Pes. Annuriyah Kaliwining, Rambipuji, Jember

Ahad 2 Juni 2019 13:30 WIB
Ini Nama-nama Zakat Fitrah
Ini Nama-nama Zakat Fitrah
Zakat fitrah merupakan perintah Allah kepada setiap individu berupa sedekah wajib dengan takaran yang telah ditentukan. Kewajiban zakat fitrah didasarkan pada hadits riwayat sebagai berikut: 

وخبر أبي سعيد: كنا نخرج زكاة الفطر إذ كان فينا رسول الله صلّى الله عليه وسلم صاعاً من طعام، أو صاعاً من تمر، أو صاعاً من شعير، أو صاعاً من زبيب، أو صاعاً من أَقِط، فلا أزال أخرجه كما كنت أخرجه ما عشت

Artinya, “Hadits riwayat Abu Said Al-Khudri menyebutkan, ‘Kami membayar zakat fitrah sebesar satu sha‘ makanan, satu sha‘ kurma, satu sha‘ gandum, satu sha‘ kismis, atau satu sha‘ susu kering ketika Rasulullah SAW masih berada di tengah kami dahulu. Kini selama hidup, aku selalu membayar zakat fitrah satu sha‘ sebanyak dulu pembayaran zakatku,’” (HR Jamaah).

Zakat fitrah memiliki banyak sebutan yang berkembang di masyarakat. Istilah yang ramai digunakan masyarakat adalah “zakat fitrah”, “fitrah”, “zakat badan”, atau “zakat kepala” sebagaimana keterangan berikut ini:

زكاة الفطر أضيفت الزكاة إلى الفطر لكونها تجب بالفطر من رمضان. وتسمى بعدة أسماء: زكاة رمضان، زكاة الصوم، صدقة الفطر، زكاة الأبدان، صدقة الرؤوس. وأما قول العوام الفطرة فمولّد

Artinya, “Zakat fitri, sebuah istilah di mana zakat dilekatkan pada kata ‘fitri’ karena zakat ini wajib lantaran fitri atau berbuka dari Ramadhan. Zakat fitri memiliki beberapa nama, yaitu zakat Ramadhan, zakat puasa, sedekah fitri, zakat badan, dan sedekah kepala. Adapun sebutan orang awam ‘fitrah atau zakat fitrah’ adalah turunan darinya,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 249).

Adapun sha sendiri merupakan ukuran takaran, bukan timbangan atau ukuran berat. Takaran sha berlaku di zaman Nabi Muhammad SAW, yakni takaran masyarakat Madinah.

Satu sha setara dengan empat mud. Sedangkan satu mud adalah besar cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa pada umumnya. Dengan demikian, satu sha memuat empat kali cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa.

Zakat fitrah merupakan sedekah wajib berupa makanan pokok yang awet disimpan sebanyak satu sha. Masyarakat Indonesia umumnya menggunakan beras sebagai zakat fitrah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 2 Juni 2019 3:0 WIB
Orang Perantauan, Menunaikan Zakat Fitrah di Mana?
Orang Perantauan, Menunaikan Zakat Fitrah di Mana?
Bagi orang-orang perantauan, pulang ke kampung halaman adalah hal yang paling diharapkan dalam rangka melepas rasa kangen terhadap keluarga, kerabat, dan teman-teman semasa kecilnya. Khususnya ketika pada momen lebaran Idul Fitri, mudik bisa disebut sebagai “kewajiban” tahunan yang tidak ingin mereka lewatkan. 

Namun, tak jarang pula, terdapat sebagian orang yang dikejar oleh target dan lemburan di tempat kerjanya, sehingga mereka harus merelakan untuk merayakan hari raya Idul Fitri di tempat di mana mereka bekerja. Melihat realitas demikian, terdapat salah satu kewajiban yang perlu diperhatikan, yakni tentang kewajiban pembayaran zakat fitrah bagi mereka. Sebenarnya di manakah tempat pembayaran zakat fitrah yang dianjurkan oleh syara’ bagi orang-orang yang masih berada di tempat perantauan? Apakah sebaiknya mereka membayar zakat fitrah di tanah rantau atau lebih baik di kampung halamannya?

Para ulama Syafi’iyah memberikan ketentuan tentang tempat pendistribusian zakat fitrah dengan mengacu pada tempat di mana seseorang berada pada saat terbenamnya matahari di hari akhir bulan Ramadhan atau malam hari raya Id. Maka bagi orang yang masih berada di tanah rantau pada saat malam hari raya Id, wajib baginya untuk membayar zakat fitrah di tanah rantaunya. Ketentuan ini salah satunya dijelaskan dalam kitab Ghayah Talkhish al-Murad:

ـ (مسألة): تجب زكاة الفطر في الموضع الذي كان الشخص فيه عند الغروب، فيصرفها لمن كان هناك من المستحقين، وإلا نقلها إلى أقرب موضع إلى ذلك المكان

“Zakat fitrah wajib (ditunaikan) di tempat di mana seseorang berada pada saat matahari (di hari akhir Ramadhan) tenggelam. Maka ia memberikan zakat fitrah pada orang yang berhak menerima zakat yang berada di tempat tersebut, jika tidak ditemukan, maka ia berikan di tempat terdekat dari tempatnya” (Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi, Ghayah Talkhish al-Murad, hal. 43).

Berdasarkan referensi di atas, menunaikan zakat fitrah yang benar adalah di tempat di mana seseorang berada. Ketika seseorang masih berada di tanah rantau pada saat malam hari raya, maka ia harus menunaikan zakat pada orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq zakat) yang ada di tempat tersebut. Jika ia berada di kampung halamannya, maka zakat fitrahnya diberikan pada orang-orang yang berhak menerima zakat di kampung halamannya.

Sedangkan ketika ketentuan demikian tidak dilaksanakan, misalnya orang yang berada di perantauan pada saat malam hari raya, mewakilkan kepada keluarganya di kampung halaman agar membayarkan zakat fitrah atas dirinya dan dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerima zakat di kampung halamannya, maka dalam hal ini terjadi perbedaan pendapat di antara ulama tentang masalah naql az-zakat (memindahkan pengalokasian harta zakat). Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

قال أصحابنا إذا كان في وقت وجوب زكاة الفطر في بلد وماله فيه وجب صرفها فيه فإن نقلها عنه كان كنقل باقي الزكوات ففيه الخلاف والتفصيل السابق

“Para Ashab (ulama Syafi’iyah) berkata: ‘Ketika seseorang pada saat wajibnya zakat fitrah berada di suatu daerah, dan hartanya juga berada di daerah tersebut, maka wajib untuk menunaikan zakat di daerah tersebut. Jika ia memindahkan pembagian zakatnya (ke tempat yang lain) maka hukumnya seperti halnya hukum memindahkan pembagian zakat yang terdapat perbedaan di antara ulama dan terdapat perincian yang telah dijelaskan.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 225) 

Sedangkan perbedaan pendapat dalam menyikapi naql az-zakat dalam mazhab Syafi’i, yakni menurut pendapat yang unggul (rajih), memindah pengalokasian harta zakat adalah hal yang tidak diperbolehkan, sedangkan menurut sekelompok ulama yang lain, seperti Ibnu ‘Ujail dan Ibnu Shalah memperbolehkan naql az-Zakat (Syekh Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hal. 217).

Maka dapat disimpulkan bahwa wajib bagi orang yang berada di perantauan agar menunaikan zakat fitrah di tempat di mana ia berada pada saat malam hari raya. Kebiasaan menunaikan zakat fitrah di kampung halaman bagi orang yang masih berada di perantauan tidak bisa dibenarkan, kecuali menurut sebagian ulama yang memperbolehkan naql az-zakat. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember