IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Hadits

Makna Lapang Rezeki dan Panjang Umur dalam Hadits Silaturahim

Selasa 11 Juni 2019 18:30 WIB
Share:
Makna Lapang Rezeki dan Panjang Umur dalam Hadits Silaturahim
Ilustrasi (Youtube)
Banyak sekali hadits yang menjelaskan tentang keutamaan silaturahim. Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan al-Bukhari, Muslim dan lainnya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia bersilaturahim.”

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud “dilapangkan rezekinya” adalah diluaskan dan dijadikan banyak hartanya, dan menurut pendapat yang lain, artinya adalah diberi keberkahan harta (meskipun secara lahiriah, harta tidak bertambah banyak).

Sedangkan penangguhan ajal seperti yang disebutkan dalam hadits tersebut, apakah tidak bertentangan dengan ayat:

فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ 

... Apabila ajal mereka telah tiba, maka mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesat pun” (Q.S. al-A’raf: 34 dan an-Nahl: 61)? Bukankah rezeki dan ajal telah ditakdirkan oleh Allah, sehingga tidak dapat dimajukan dan ditunda serta tidak dapat bertambah dan berkurang?. Bukankah apa yang telah ditakdirkan oleh Allah, tiada siapa pun yang dapat mengubahnya karena takdir Allah adalah kepastian dan tidak bisa berubah?.

Ada beberapa jawaban yang dikemukakan oleh para ulama untuk memadukan antara hadits dan ayat tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari dan al-Hafizh an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Di antaranya:

Pertama, penambahan umur (penangguhan ajal) yang dimaksud dalam hadits adalah kinayah (kiasan) mengenai berkahnya usia. Artinya, dengan sebab silaturahim, seseorang akan diberi kemampuan berbuat ketaatan, dan diberi kemudahan untuk dapat melalui masa hidupnya dengan hal-hal yang memberikan manfaat kepadanya kelak di akhirat, sekaligus ia dijaga dari tindakan menyianyiakan umurnya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadi silaturahim menjadi sebab bagi seseorang untuk memperoleh taufiq (kemampuan berbuat taat) dan menjadi sebab terjaga dari maksiat. Dengan demikian, keharuman namanya akan tetap terjaga meski ia telah meninggal. Di antara yang ia peroleh dengan sebab taufiq yang Allah berikan kepadanya adalah ilmu yang bermanfaat sepeninggalnya, shadaqah jariyah dan keturunan yang shalih.

Kedua, penambahan usia seperti yang disebut dalam hadits di atas, maknanya adalah hakiki (arti sebenarnya), bukan kiasan. Namun yang dimaksud penambahan usia dalam maknanya yang hakiki itu adalah yang terkait dengan ilmu dan pengetahuan malaikat yang ditugasi oleh Allah mengurusi umur. Adapun yang dijelaskan ayat bahwa ajal tidak dapat dimajukan maupun ditunda, maksudnya adalah yang terkait dengan ilmu Allah. 

Dikatakan kepada malaikat, misalkan, bahwa usia Fulan seratus tahun jika ia bersilaturahim, dan jika memutus silaturahim usianya hanya enam puluh tahun. Sedangkan Allah telah mengetahui dan menentukan pada azal (keberadaan yang tidak bermula) bahwa Fulan itu akan bersilaturahim ataukah akan memutuskan silaturahim, dan usianya akan mencapai seratus tahun ataukah hanya enam puluh tahun. Semuanya telah diketahui dan ditakdirkan oleh Allah. Dan tentu saja, takdir dan ketentuan Allah tidak akan berubah sebagaimana dijelaskan dan disepakati oleh para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah.

Jadi apa yang dalam ilmu Allah tidak berubah. Sedangkan yang mungkin menerima penambahan maupun pengurangan adalah yang ada dalam ilmu malaikat. Hal ini diisyaratkan oleh firman Allah:

يَمْحُوا اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan pada-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)” (ar-Ra’d: 39)

Penetapan dan penghapusan terkait dengan apa yang ada dalam ilmu malaikat. Inilah yg disebut Qadla’ Mu’allaq. Dan apa yang ada dalam Ummul Kitab, hal itulah yang ada dalam ilmu Allah dan tidak ada penghapusan sama sekali. Inilah yg disebut Qadla’ Mubram.

Semoga bermanfaat.


Ustadz Nur Rohmad, Peneliti Bidang Aqidah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Tags:
Share:
Kamis 30 Mei 2019 13:50 WIB
Ini Sumber-sumber Asbab Wurud Hadits
Ini Sumber-sumber Asbab Wurud Hadits
(Foto: @pinterest)
Surat dan ayat Al-Qur’an memiliki sebab-sebab turunnya, atau biasa disebut asbab nuzulil ayat. Demikian juga dengan hadits yang biasa disebut asbab wurudil hadits. Tetapi tidak semua hadits bisa dengan mudah ditemukan asbabul wurudnya. As-Suyuthi menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi sumber asbabul wurud. (Lihat As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutb: 1984 M], halaman 18).

Pertama, Ayat Al-Qur’an.
Ayat Al-Qur’an juga bisa menjadi sumber asbabul wurud sebuah hadits. Salah satu contoh yang paling sering kita dengar dan mungkin diketahui oleh para pegiat kajian hadits adalah terkait penafsiran dari ayat yang menjelaskan bahwa kezaliman adalah perbuatan yang paling besar siksanya, yaitu Surat Al-Anʽam ayat 82.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Ayat tersebut oleh para sahabat dipertanyakan, khususnya pada kata zalim. Karena mereka semua tidak bisa terlepas dari kezaliman, yakni kezaliman yang dimaksud para sahabat adalah tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya. Kemudian Rasul SAW menjelaskan bahwa yang dimaksud kezaliman dalam ayat tersebut adalah syirik, dengan menyebutkan Surat Lukman ayat 144.

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Artinya, “Sungguh mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”

Asbabul wurud dalam konteks hadits ini adalah berfungsi untuk takḥṣīṣhul ʽam. Atau bisa juga berupa menjelaskan hal yang masih musykil sebagaimana hadits Aisyah tentang hisab di atas.

Kedua, Hadits.
Selain Asbabul wurud bersumber dari Al-Qur’an, juga bisa bersumber dari hadits, baik dari hadits yang masih satu redaksi atau satu riwayat atau hadits lain yang masih setema.

Misalnya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Ḥākim dalam Al-Mustadrak-nya bahwa malaikat yang ada di bumi akan berbicara dengan bahasa manusia.

إن لله ملائكة تنطق على ألسنة بني آدم بما في المرء من الخير والشر.

Artinya, “Sungguh Allah SWT memiliki malaikat yang berbicara dengan bahasa manusia atas hal yang baik dan buruk.”

Hadits ini bagi para ulama tentu musykil, bagaimana bisa seorang malaikat berbicara dengan bahasa manusia? Ternyata dalam riwayat yang lebih lengkap, Rasul SAW mendoakan dua jenazah dengan doa yang berbeda.

Jenazah yang pertama didoakan agar selamat sedangkan jenazah yang kedua sebaliknya. Namun Rasul SAW hanya menggunakan kata “wajabat” saja, (Lihat Al-Ḥākim, Al-Mustadrak, [Beirut, Dārul Marifah: tanpa tahun], juz II, halaman 118).

Maka dari itu, yang dimaksud berbicara dengan bahasa manusia adalah bahasa “wajabat” yang diucapkan Rasul untuk mendoakan dua jenazah yang berbeda tersebut dapat ditangkap oleh malaikat walau hanya diucapkan sepotong.

Ketiga, Pendapat atau Kisah dari Sahabat.
Hal ini bisa dilihat dari kaul sahabat yang berkaitan dengan hadits tersebut, seperti hadits yang menunjukkan tentang keutamaan melakukan shalat di Masjidil Haram Makkah.

صلاة في هذه المسجد أفضل من مائة ألف صلاة فيما سواه من المسجد.

Artinya, “Melakukan salat di masjid ini lebih utama daripada seratus ribu salat yang dilakukan di masjid yang lain.” (Lihat Abdur Razzāq, Muṣannaf Abdir Razzāq, [Beirut, Muasasatur Risālah: tanpa tahun], juz II, halaman 139).

Munculnya hadits ini bukan dari ruang kosong. Suatu hari, seorang sahabat bernama As-Sarīd datang kepada Nabi SAW dan menceritakan nazarnya, yaitu jika Fatḥu Makkah terjadi ia akan melakukan salat di Baitul Maqdis. Nabi mencegahnya dengan mengatakan bahwa shalat di masjid ini lebih pantas dan lebih layak. Rasul kemudian mengucapkan hadits di atas. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits
Selasa 28 Mei 2019 17:0 WIB
Ini Enam Fungsi Asbabul Wurud Hadits
Ini Enam Fungsi Asbabul Wurud Hadits
(Foto: @via at-thahawi.com)
Untuk memahami konteks yang tersimpan dalam sebuah hadits, seseorang membutuhkan pengetahuan akan kehidupan Nabi SAW secara mendetail, khususnya kejadian-kejadian yang berkaitan dengan munculnya sebuah hadits. Hal ini oleh para ulama disebut sebagai asbabul wurud hadits.

Ilmu asbabul wurud memiliki beberapa fungsi. Secara umum, fungsi-fungsi dari asbabul wurud ini telah tergambar dalam definisi asbabul wurud menurut As-Suyuthi, yaitu:

ما يكون طريقا لتحديد المراد من الحديث من عموم أو خصوص أو إطلاق أوتقييد أو نسخ أو نحو ذالك.

Artinya, “Setiap hal yang menjadi metode untuk membatasi makna hadits, baik dari makna umum, khusus, mutlak-muqayyad, atau naskh, dan semacamnya.”

Atau dalam bahasa yang lebih mudah, As-Suyūṭī menyebutnya dengan:

ما ورد الحديث أيام وقوعه

Artinya, “Suatu kejadian yang mengiringi sebuah hadits pada masa terjadinya kejadian tersebut,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 11).

Dalam definisinya di atas, As-Suyūṭī menjelaskan enam fungsi asbabul wurud.

Pertama, Takhshīsul ʽAmm
Salah satu contoh dari faedah ini adalah hadits yang menjelaskan bahwa pahala orang yang shalat dengan duduk adalah setengah dari pahala orang yang shalat dengan berdiri.

صلاة القاعد على النصف من صلاة القائم

Artinya, “(Pahala) shalat orang yang duduk adalah setengah dari pahala shalat dengan berdiri.”

Hadits di atas sebenarnya bukan untuk semua orang yang shalat dengan duduk, melainkan hanya untuk orang yang shalat dengan duduk dalam keadaan tertentu. Hadits di atas mungkin secara sekilas kelihatan masih umum. Tapi jika kita runut asbabul wurudnya, hadits tersebut ditujukan kepada orang-orang di Madinah saat itu yang shalat dengan duduk.

Pada saat itu nabi mengetahui, Nabi pun bertanya kepada Abdullāh bin Umar terkait alasan mereka shalat duduk. Mereka menjawab bahwa mereka shalat duduk karena mereka terkena wabah penyakit panas. Kemudian Rasul bersabda hadits di atas. Para sahabat yang masih mampu berdiri pun lebih memilih berdiri daripada duduk, (Lihat At-Ṭhabrānī, Musnadus Syamīyyīn, [Beirut, Muassasatur Risālah: 1984 M], juz I, halaman 370).

As-Suyūṭī pun menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pahala setengah dari orang yang berdiri adalah untuk orang-orang yang masih kuat dan mampu untuk berdiri tetapi ia lebih memilih duduk.

Dalam hadits lain riwayat Muslim juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak meninggal hingga beliau shalat dengan duduk.

عن جابر بن سمرة أن النبي ﷺ لم يمت حتى صلى قاعدا.

Artinya, “Dari Jābir bin Samurah bahwa Rasulullah SAW tidak meninggal dunia hingga beliau shalat dengan duduk,” (Lihat Muslim, Ṣhaḥīḥ Muslim, [Beirut, Dāru Jil: tanpa catatan tahun], juz II, halaman 165).

Ini menunjukkan bahwa Rasul SAW selalu dengan sekuat tenaga berusaha berdiri hingga beliau sakit parah yang menyebabkan kewafatannya. Artinya, Rasul hanya shalat dengan duduk ketika ia sakit parah yang menyebabkan ia meninggal dunia, (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 11).

Kedua, Taqyīdul Muṭhlāq
Yang dimaksud dengan taqyīd al-muṭlāq adalah pembatasan kata yang masih terlalu umum. Salah satu contohnya adalah hadits tentang balasan bagi orang yang berbuat baik kemudian banyak orang yang menirunya. Orang yang berbuat baik tersebut akan mendapatkan pahala orang-orang yang telah meniru perbuatannya tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang-orang tersebut.

من سن سنة حسنة عمل بها بعده كان له مثل أجر من عمل بها من غير ان ينقص من أجره شيء ومن سن سنة سيئة كان عليه مثل وزر من عمل بها من غير ان ينقص من أوزارهم شيء

Artinya, “Siapa pun orang yang mencontohkan suatu sunnah (perbuatan) yang baik  yang diamalkan oleh orang lain setelahnya maka ia mendapat pahala sebanyak pahala orang lain yang telah melakukan perbuatan baik tersebut tanpa mengurangi pahala orang-orang yang telah melakukannya. Siapun orang yang mencontohkan suatu perbuatan yang jelek maka maka ia mendapat dosa sebanyak dosa orang lain yang telah melakukan perbuatan jelek tersebut tanpa mengurangi dosa orang-orang yang telah melakukannya,” (Lihat Abdullāh Abū Muḥammad Ad-Dārimī, Sunan Ad-Dārimī, [Beirut, Dārul Kutub: 1407 H], juz I, halaman 60).

Dalam hadits di atas, kata sunnah hasanah terlihat masih umum, ditandai dengan tanda nakirah, yaitu tanwīn (ـً). Ini tentu menimbulkan pertanyaan, perbuatan baik seperti apa? Apakah perbuatan baik yang terdapat unsur dalilnya dalam naṣ agama atau boleh juga perbutan baik yang tidak ada naṣ agamanya?

Menurut As-Suyūṭī, yang dimaksud sunnah hasanah dalam hal ini adalah perbuatan baik yang terdapat dalam naṣ agama. As-Suyūṭī kemudian menyebutkan redaksi hadits yang lebih lengkap, bahwa suatu hari Rasul SAW berkhotbah dan berpesan untuk bertakwa, kemudian para sahabat datang membawa beberapa barang untuk disedekahkan, mulai baju, uang, perhiasan, makanan pokok, hingga ada seseorang Ansor yang datang dengan bungkusan yang sangat berat dan membuatnya tak bisa mengangkatnya, hingga wajah Rasul SAW terlihat semringah. Kemudian Rasul bersabda hadits di atas. (Lihat Al-Bazzār, Musnad Al-Bazzār, [Madinah, Maktabah Ulūm wal Hukm: 2009 M], juz X, halaman 145).

Dari redaksi hadits yang disebutkan secara lengkap di atas, As-Suyūṭi berkesimpulan bahwa yang dimaksud sunnah ḥasanah atau perbuatan baik dalam hadits di atas, adalah perbuatan baik yang telah diajarkan Rasul dalam naṣ agama, baik dalam Al-Qur’an maupun hadits.

Ketiga, Tafṣīlul Mujmal
Yang dimaksud dengan tafṣīlul mujmal adalah memperinci sesuatu yang masih global. Contoh dari faedah ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Mālik tentang Rasulullah SAW yang memerintahkan Biāl untuk menggenapkan kalimat azan dan mengganjilkan kalimat iqamah.

أمر بلال أن يشفع الأذان ويوتر الإقامة

Artinya, “Bilāl diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan (dua-dua) dan mengganjilkan kalimat iqamah (satu-satu).”

Namun hadits ini seolah bertentangan dengan pendapat jumhūr ulama yang menyebutkan bahwa kalimat takbir dalam adzan itu tidak hanya dua kali, tapi empat kali (tarbīʽ). Sedangkan kalimat takbir dalam iqamah adalah dua kali.

Yang dimaksud mengganjilkan dalam hadits di atas adalah empat kali. Hal ini bisa dilihat dari asbabul wurud hadits tersebut yang menjelaskan sejarah kalimat adzan, yaitu melalui proses mimpi Abdullāh bin Zaid. Kemudian Abdullāh datang kepada Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya, yaitu menyebutkan kalimat takbīr empat kali saat adzan dan dua kali saat iqamah. Baru kemudian Rasul SAW meminta Abdullāh mengajarkan kalimat itu kepada Bilāl, (Lihat Ibnu Ḥibbān, Ṣaḥīḥ Ibnu Ḥibbān, [Beirut, Muassasatur Risālah: 1993 M], juz IV, halaman 572).

Inilah yang dimaksud oleh As-Suyūṭī bahwa asbabul wurud hadits di atas, yang berupa penjelasan Abdullāh bin Zaid tentang kalimat lengkap adzan menjelaskan hal-hal yang masih global dalam kalimat menggenapkan dan mengganjilkan.

Keempat, Membatasi hadits yang menjadi nāsikh (penghapus) dan menjelaskan nāsikh dan mansūkh.
Seperti contoh dalam sebuah hadits yang menjelaskan bahwa orang yang berbekam dan orang yang membekam puasanya batal.

أفطر الحاجم والمحجوم

Artinya, “Batal puasanya orang yang membekam dan dibekam,” (HR Ahmad).

Namun dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang berbekam tidak batal, karena Rasulullah SAW juga pernah berbekam dalam keadaan sedang puasa dan sedang berihram.

إحتجم النبي ﷺ وهو صائم محرم

Artinya, “Rasulullah Saw berbekam dan beliau dalam keadaan sedang puasa dan berihram (menggunakan pakaian ihram),” (HR Ibnu Mājjah).

Juga dalam hadits lain riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa orang yang mimpi basah, muntah, dan berbekam tidak membatalkan puasa.

لا يفطر من قاء ولا من احتلم ولا من احتجم

Artinya, “Tidak batal puasa orang yang mutah (tidak disengaja), mimpi basah, dan berbekam,” (HR Abu Dawud).

Secara sekilas kelihatan bahwa hadits yang pertama dinasakh. As-Suyuṭī menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat terkait hadits mana yang menasakh dan dinasakh. Imam Alī bin Al-Madīnī dan Ibnu Mundzīr berpendapat bahwa yang menasakh adalah hadits yang pertama. Sedangkan Imam As-Syafi’i berpendapat bahwa yang menasakh adalah hadits yang kedua, (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 15).

Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan bahwa sebab Rasul bersabda tentang batalnya puasa dua orang yang sedang berbekam, baik dari orang yang membekam maupun dibekam adalah kerena keduanya juga melakukan ghibah.

مر رسول الله صلى الله عليه وسلم على رجل بين يدي حجام وذلك في رمضان وهما يغتابان رجلا فقال افطر الحجام والمحجوم

Artinya, “Rasulullah SAW berjalan di antara dua orang yang sedang melakukan bekam. Dan hal itu terjadi pada bulan Ramadhan, keduanya sedang menggunjing orang lain. Kemudian Rasul SAW bersabda, telah batal puasanya orang yang membekam dan dibekam,” (Lihat Al-Baihāqī, Syuʽābul Īmān, [Beirut, Darul Fikr: 1410 H], juz V, halaman 307).

Ini menunjukkan bahwa sebenarnya tidak ada pertantangan dan nasikh mansukh antara satu hadits di atas dengan yang lain. Hanya saja hadits yang pertama perlu dicari asbābul wurūdnya untuk mengurai dan menjelaskan apakah ada nasakh dan mansukh.

Kelima, Menjelaskan illat suatu hukum
Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Rasul SAW pernah melarang seorang untuk minum langsung dari mulut sebuah wadah air (kendi). Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa ada seseorang yang minum dari mulut sebuah kendi kemudian perutnya sakit.

Inilah yang dimaksud oleh As-Suyūṭī, bahwa asbabul wurud bisa digunakan untuk melihat illat suatu hukum. Dalam kasus minum air ini, illatnya adalah dapat membuat sakit perut, tersedak, dan lain sebagainya, (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Lummāʽ fi Asbābil Ḥadīts, [Beirut, Dārul Kutub: 1984 M], halaman 17).

Keenam, Menjelaskan hal yang masih musykil (sulit dipahami)
Contohnya ketika Rasul SAW bersabda bahwa orang yang diperdebatkan hisabnya, dia akan diazab. Lalu Aisyah bertanya bukankah hisab akan dipermudah. Kemudian Rasul menjawab, yang dimaksud hisab itu adalah hanya diperlihatkan (عرض). Sedangkan orang yang diperdebatkan hisabnya dia akan hancur.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Imam Al-Bukhari.

أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ لَا تَسْمَعُ شَيْئًا لَا تَعْرِفُهُ إِلَّا رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى ( فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا ) قَالَتْ فَقَالَ إِنَّمَا ذَلِكِ الْعَرْضُ وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ

Artinya, “Sungguh Aisyah istri Nabi SAW tidaklah mendengar sesuatu yang tidak dia mengerti kecuali menanyakannya kepada Nabi SAW sampai dia mengerti, dan Nabi SAW pernah bersabda, ‘Siapa yang dihisab berarti dia disiksa’ Aisyah berkata, maka aku bertanya kepada Nabi, ‘Bukankah Allah SWT berfirman, ‘Kelak dia akan dihisab dengan hisab yang ringan.’’ Aisyah berkata, maka Nabi SAW bersabda, ‘Sungguh yang dimaksud itu adalah pemaparan (amalan). Akan tetapi barang siapa yang didebat hisabnya pasti celaka,’" (Lihat Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, [Beirut, Dāru Ṭūqin Najāt: 1422 H], juz I, halaman 32).

Hadits di atas menunjukkan bahwa sababu wurūdil hadits bisa digunakan sebagai penjelas atas hal yang masih musykil. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.
Senin 20 Mei 2019 16:0 WIB
Jika ada Hadits yang Berbeda, Apakah Secara Otomatis Bertentangan?
Jika ada Hadits yang Berbeda, Apakah Secara Otomatis Bertentangan?
Suatu hari, seorang sahabat menghadap kepada Nabi Muhammad SAW. Ia ingin meminta pendapat dan pengajaran nabi terkait hal apa yang paling utama. Rasulullah SAW menjawab dan memberikan saran bahwa hal yang paling utama adalah jangan marah.

Di lain hari, ketika ada seorang sahabat lain bertanya kepada nabi terkait hal yang paling utama, nabi bukan lagi menjawabnya dengan “jangan marah.” Tetapi dengan hal lain yang berbeda. Lantas, apakah jawaban nabi yang berbeda ini secara otomatis bertentangan?

Kiai Ali Mustafa Yaqub (wafat 2016) menyebutkan bahwa walaupun teks hadits dalam satu tema sangat beragam, namun ia memiliki kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. (Lihat Ali Mustafa Yaqub, At-Ṭuruqus Ṣhaḥīḥah fi Fahmis Sunnatin Nabawīyah, [Ciputat, Maktabah Darus Sunnah: 2016 H], halaman 131).

Kiai Ali Mustafa Yaqub meyakini bahwa hadits pada mulanya bermuara pada satu sumber, yaitu Rasulullah SAW. Terkadang Rasul menyampaikan suatu teks hadits yang tidak disampaikan kepada sahabat yang lain. Selain itu, kadang kala sebuah hadits dalam jalur riwayat yang satu berbeda dengan jalur riwayat lain. 

Hal ini bisa jadi karena Rasul menyampaikan hal yang berbeda dalam dua riwayat tersebut, karena Rasul melihat suatu kebaikan dalam riwayat yang pertama, tetapi tidak melihat kebaikan dalam riwayat lain.

Hal ini juga ditegaskan oleh Yusuf Al-Qaradhawi bahwa perbedaan riwayat dalam suatu hadits bukan berarti secara otomatis bertentangan. (Lihat Yusuf Al-Qaradhawi, Kaifa Nataʽāmal maʽas Sunnatin Nabawīyyah, [Kairo, Darus Syuruq: 2002 M], halaman 133).

Hal ini, sebagaimana diungkapkan oleh Kiai Ali Mustafa, bisa juga berhubungan dengan siapa yang dihadapi oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa kasus, Rasulullah menjawab pertanyaan yang disampaikan kepada beliau dengan jawaban yang berbeda, walaupun pertanyaan yang disampaikan sama.

Misalnya, dalam pertanyaan di atas, “Siapakah orang yang paling mulia.” Dalam satu kasus Nabi SAW mewasiatkan agar tidak marah, di kasus lain, Rasul memerintahkan untuk bersedekah dan lain sebagainya. Itu adalah salah satu contoh bagaimana perbedaan hadits itu dipengaruhi oleh siapa periwayatnya dan siapa mukhattabnya.

Selain itu, terkadang sumber perbedaan ini muncul dari kalangan sahabat atau tabiin yang meriwayatkan matan hadits. Inti matannya satu dari Rasulullah SAW, namun penyampaian redaksinya dari rawi yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh kebolehan menyampaikan atau meriwayatkan hadits dengan bil maʽnā (menyampaikan hadits dengan maknanya). Terkadang juga hadits dari Rasulullah dalam suatu riwayat disampaikan dengan lebar dan dalam riwayat lain disampaikan dengan ringkas. (Lihat Ali Mustafa Yaqub, At-Ṭuruqus Ṣhaḥīḥah fi Fahmis Sunnatin Nabawīyah, [Ciputat, Maktabah Darus Sunnah: 2016 H], halaman 131).

Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 242 H) mengungkapkan bahwa jika tidak mengumpulkan seluruh jalur periwayatan hadits, maka kita tidak akan bisa memahaminya. Menurut Imam Ahmad, hadits yang satu dan yang lainnya itu saling menafsirkan. Hal ini juga ditegaskan oleh Qadhi Iyadh bahwa hadits yang jelas pengertiannya akan menjelaskan hadits lain yang musykil. (Lihat Al-Khaṭib Al-Baghdadi, Al-Jāmīʽ li Akhlāqir Rāwī wa Adabis Sāmīʽ, [Beirut, Maktabah Al-Maʽarif: 1989 M], juz IV, halaman 388).

Hal ini juga menunjukkan bahwa harus ada pemahaman penuh terhadap konteks situasi dan kondisi sosial pada saat Rasul SAW menyampaikan hadits saat itu. Analisis konteks sosio-historis sendiri penting untuk memahami bagaimana lahirnya suatu teks hadits.

Untuk memahami konteks ini, seseorang membutuhkan pengetahuan akan kehidupan Nabi SAW secara mendetail baik di Mekkah maupun Madinah; iklim sosial, ekonomi, politik dan hukum;  norma, hukum, adat, kebiasaan, institusi dan nilai yang berlaku di wilayah tersebut. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits.