IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Kenapa Nabi Muhammad Baru Haji pada Tahun Ke-10 Hijriyah?

Rabu 17 Juli 2019 6:0 WIB
Share:
Kenapa Nabi Muhammad Baru Haji pada Tahun Ke-10 Hijriyah?
Selama sembilan tahun tinggal di Madinah, Nabi Muhammad tidak pernah melaksanakan ibadah haji di Makkah. Beliau baru mengumumkan kepada para sahabatnya akan melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah. Para sahabat menyambut pengumuman Nabi Muhammad itu dengan begitu antusias. Mereka beramai-ramai mempersiapkan diri untuk ikut haji bersama Nabi Muhammad.

Maka jadilah tahun itu, tahun ke-10 H, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya melaksanakan ibadah haji. Haji yang dilakukan Nabi Muhammad itu kemudian dikenal dengan haji wada’, haji pertama dan terakhir yang pernah dilakukan Nabi sepanjang hidupnya. Karena pada musim haji berikutnya, Nabi Muhammad sudah tiada.

Lalu, apa yang membuat Nabi Muhammad baru melaksanakan ibadah haji pada tahun ke-10 Hijriyah? Mengapa beliau tidak menunaikan rukun Islam kelima itu pada tahun-tahun sebelumnya?

Sebetulnya keinginan Nabi Muhammad untuk berhaji sudah sejak tahun ke-9 H. Saat itu, setelah kembali ke Madinah dari pertempuran Tabuk pada bulan Ramadhan tahun ke-9 H, Nabi Muhammad mengungkapkan keinginannya untuk melaksanakan ibadah haji. Namun, beliau kemudian mengurungkan niatnya karena pada saat itu masih ada orang musyrik yang tawaf di Ka’bah dalam keadaan telanjang. Nabi Muhammad dengan tegas menyatakan bahwa selama praktik itu masih ada, maka dirinya tidak akan menunaikan ibadah haji.

“Orang-orang musyrik melakukan tawaf dalam keadaan telanjang. Sungguh aku tidak akan melakukan ibadah haji sampai tidak ada lagi hal seperti itu,” kata Nabi Muhammad, seperti dikutip dari buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017).

Di samping itu, bacaan dan doa yang mereka lafalkan dalam ibadah haji mengandung kemusyrikan yang nyata. Misalnya ketika membaca talbiyah, mereka mengucapkan ‘Huwa laka tamlikuhu wama malaka labbaika la syarika laka’. Artinya,  Kuperkenankan panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu kecuali milik-Mu yang Engkau miliki dan dia (sekutu itu) tidak memiliki kuasa. 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), situasi dan kondisi yang belum kondusif seperti itulah yang membuat Nabi Muhammad enggan melaksanakan ibadah haji. Di samping itu, menurut pendapat sementara ulama, Nabi Muhammad baru haji pada tahun ke-10 H karena baru tahun itulah turun kewajiban melaksanakan haji. 

Namun demikian, keadaan semacam itu tidak membuat Nabi Muhammad melarang para sahabatnya berhaji. Pada tahun ke-9 itu, beliau mengutus Sayyidina Abu Bakar menjadi Amir al-Hajj, memimpin rombongan umat Islam dari Madinah ke Makkah untuk melaksanakan haji. Setelah Sayyidina Abu Bakar dan rombongan berangkat, Nabi Muhammad menerima wahyu QS at-Taubah yang berkaitan dengan pembatalan perjanjian antara dirinya dengan kaum musyrik Makkah.

Nabi Muhammad lantas mengutus Sayyidina Ali bin Abi Thalib pergi ke Makkah. Misinya adalah untuk mengumumkan pembatalan perjanjian Nabi Muhammad, sesuai wahyu yang baru saja turun, kepada semua pihak, terutama kepada kaum musyrik Makkah. Sayyidina Ali bertemu dengan rombongan Sayyidina Abu Bakar di sebuah wilayah bernama Dzy al-Halifah. Mereka kemudian menuju ke Makkah secara bersama-sama. Sayyidina Abu Bakar masih tetap sebagai Amir al-Hajj, sementara Sayyidina Ali berposisi sebagai utusan khusus Nabi yang bertugas menyampaikan wahyu yang baru saja turun itu.

Pada tanggal 9 atau 10 Dzul Hijjah tahun ke-9 H, Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyampaikan pesan Nabi Muhammad kepada para kaum musyrik yang tengah melaksanakan haji di Ka’bah. Atas nama Nabi Muhammad, Sayyidina Ali menegaskan bahwa orang musyrik tidak boleh lagi melaksanakan haji pada tahun berikutnya. Mereka juga tidak diperkenankan lagi melaksanakan tawaf dalam keadaan telanjang. Dia juga menyatakan, siapapun yang menjalin perjanjian dengan Nabi Muhammad maka itu sudah berakhir. 

“Ditetapkan empat bulan sejak saat ini bagi semua orang untuk kembali ke kampung halamannya dan memperoleh jaminan keamanan, setelah masa itu berlalu, maka tidak ada lagi perjanjian dan tidak ada lagi jaminan keamanan, kecuali bagi siapa yang mempunyai ikatan perjanjian dengan Nabi yang berlaku sampai masanya,” kata Sayyidina Ali.

Setelah mendengar pengumuman dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kaum Muslim melanjutkan ibadah haji sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Sementara kaum musyrik melakukan haji sesuai dengan adat kebiasaannya. Mereka kemudian kembali ke tempat asalnya setelah selesai melaksanakan haji. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Senin 15 Juli 2019 6:0 WIB
Yang Membuat Nabi Muhammad Menangis
Yang Membuat Nabi Muhammad Menangis
Sama seperti manusia pada umumnya, Nabi Muhammad juga menangis. Tidak hanya sekali atau dua kali, beliau menangis berkali-kali. Bahkan dalam beberapa keadaan tertentu, tangisan Nabi Muhammad pecah hingga air matanya mengalir deras dan dadanya bergetar. 

Lantas apa yang membuat Nabi Muhammad sampai menangis? Apakah penyebabnya sama seperti manusia umumnya? Atau ada hal-hal tertentu? Setidaknya ada beberapa hal yang membuat Nabi Muhammad sampai menangis –bahkan hingga tersedu-sedu. Pertama, orang yang dikasihi meninggal dunia. Ketika anak-anaknya wafat, Nabi Muhammad tidak kuasa menahan diri sehingga menangis tersedu-sedu.

Dikisahkan, ketika Abdullah wafat misalnya, air mata Nabi Muhammad bercucuran di pipinya hingga membasahi janggutnya. Hatinya begitu sedih. Namun demikian, Nabi Muhammad sadar batasan-batasannya sehingga dirinya tidak sampai larut pada kesedihan itu. Karena bagaimanapun, semua itu adalah kehendak Allah. 

“Air mata mengalir, bercucuran tidak menetap di mata. Hatipun bersedih. Namun, kami tidak pernah durhaka kepada Allah,” kata Nabi Muhammad saat ada seorang sahabat yang bertanya ‘Apakah Nabi Muhammad menangis’ ketika Abdullah meninggal dunia, seperti keterangan dalam buku Tertawa Bersama Al-Qur’an, Menangis Bersama Al-Qur’an (Hasan Tasleden, 2014).

Hal yang sama juga terjadi ketika anak Nabi Muhammad yang lainnya, Ibrahim, wafat. Saat itu, Nabi Muhammad meratapi kepergian Ibrahim. Air mata Nabi Muhammad mengalir deras hingga membasahi wajahnya. Melihat hal itu, sahabat Abdurrahman bin Auf bertanya 'Kau menangis Rasulullah? Bukankan kau sendiri melarang menangisi kematian seseorang?'. 

“Ibnu Auf, aku tidak melarang menangis. Yang ku larang adalah dua teriakan dosa; nyanyian yang tak bermakna dan dan melalaikan serta ratapan histeris saat tertimpa musibah dengan menampari wajah dan merobek-robek pakaian. Sedang yang terjadi padaku ini adalah ungkapan kasih sayang,” jawab Nabi Muhammad, merujuk buku Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (Nizar Abazah, 2011).

Nabi Muhammad juga menangis ketika ada sahabatnya meninggal dalam peperangan. Saat Hamzah meninggal ketika perang Uhud misalnya, beliau menangis tersedu-sedu ketika mendengar kabar kepergian pamannya itu. Tangisan Nabi kembali pecah saat melihat jenazah Hamzah. Begitu pun ketika Ja’far, Ibnu Ruwahah, dan Zaid bin Haritsah yang wafat dalam perang Mu’tah, kedua mata Nabi mencucurkan air mata kesedihan.  

Kedua, membaca atau mendengar ‘ayat-ayat tertentu.’ Hati Nabi Muhammad begitu lembut=, sehingga ketika beliau membaca atau ada seorang sahabat yang membaca ‘ayat-ayat tertentu’, maka air mata Nabi bercucuran.

Diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membaca sebagian ayat Al-Qur’an. Lantas Abdullah bin Mas’ud membaca Surat an-Nisa’. Ketika sampai pada ayat 41 (Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir), jika Kami datangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkanmu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka), tiba-tiba Nabi Muhammad meminta Abdullah bin Mas’ud berhenti. Cukup, kata Nabi Muhammad. Abdullah bin Mas’ud kemudian menoleh ke arah Nabi. Ia mendapati kalau pada saat itu Nabi Muhammad tengah menangis dan air matanya bercucuran.

Al-Qur'an Surat an-Nisa ayat 41 menjelaskan tentang posisi Nabi Muhammad yang di akhirat nanti menjadi saksi bagi umatnya yang durhaka. Tangisan Nabi menjadi penanda bahwa hati beliau yang begitu lembut hingga tak sampai hati kalau-kalau umatnya nanti menerima penderitaan—meski akibat ulah mereka sendiri.

Ketiga, rindu kampung halamannya. Saat itu Aban bin Said baru saja datang dari Makkah. Sesampai di Madinah, dia menemui Nabi Muhammad. Nabi kemudian bertanya tentang keadaan Makkah saat ini. Kata Aban bin Said, saat dirinya meninggalkan Makkah, hujan sedang turun, rumput izhir tumbuh, dan jewawut liat baru saja berdaun. Mendengar hal itu, mata Nabi Muhammad tiba-tiba digayuti air mata.

Di samping itu, Nabi Muhammad juga menangis setelah ‘menceramahi’ kaum Anshar. Alkisah, setelah perang Hunani, Nabi Muhammad membagikan harta rampasan perang kepada kaum Muhajirin dan mualaf. Kaum Anshar yang tidak menerima rampasan perang marah dan kesal dengan kebijakan Nabi Muhammad tersebut. 

Nabi kemudian mengumpulkan kaum Anshar dan menceramahi mereka. Kepada kaum Anshar, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa harta rampasan dari perang Hunain sengaja dibagikan kepada kaum Muhajirin dan mualaf agar mereka semakin kuat keimanan dan keislamannya. Nabi berdalih, kaum Anshar tidak diberi rampasan perang karena mereka sudah kokoh imannya. Setelah mendengar ceramah Nabi, kaum Anshar menangis tersedu-sedu. Begitu pun dengan Nabi Muhammad. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 14 Juli 2019 17:0 WIB
Kesaksian Raja Oman Atas Sosok Nabi Muhammad
Kesaksian Raja Oman Atas Sosok Nabi Muhammad
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak,” kata Nabi Muhammad. 

Seorang sahabat pernah mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia terbaik, baik secara lahiriah (khalq), maupun batiniyah (khuluq). Dalam artian, perawakan Nabi Muhammad begitu sempurna; wajahnya bercahaya, tubuh tinggi sedang, kulit terang, hidung mancung, gigi putih tersusun rapi, mata hitam, mulut sedang, dan lainnya. 

Di samping itu, akhlak Nabi Muhammad juga begitu luhur dan agung. Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad menegaskan bahwa dirinya diutus Allah ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ungkapan yang disampaikan Nabi Muhammad ini penuh dengan akhlak. Iya, kata yang digunakan adalah menyempurnakan, bukan mengoreksi, menghakimi apalagi menyalahkan akhlak yang dipraktikkan umat manusia sebelumnya.

Dikatakan Sayyidah Aisyah bahwa akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an. Mengapa demikian? Karena yang menjadi sumber utama akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an. Perbuatan dan perkataan Nabi Muhammad adalah cerminan Al-Qur’an. Maka tidak salah jika Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an yang berjalan di atas bumi ini. 

Yang menarik adalah sifat akhlak Nabi Muhammad yang serasi dan integral. Maksudnya, satu sisi dari akhlaknya tidak mengalahkan sisi yang lainnya. Misalnya, kesabaran Nabi Muhammad tidak mengalahkan keberaniannya, kejujurannya sama dengan kesantunannya, amanahnya sama dengan kedermawanannya, dan seterusnya.

Maka tidak heran banyak orang yang terpesona dengan akhlak yang ditampilkan Nabi Muhammad. Bahkan banyak dari mereka yang akhirnya memeluk Islam setelah mengetahui akhlak Nabi Muhammad. Diantara orang yang kagum dan memuji akhlak Nabi Muhammad yang begitu luhur adalah al-Julandi, Raja Oman yang sezaman dengan Nabi. 

Dalam buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011) disebutkan, al-Julandi menyatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang bukan hanya memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu, melainkan dirinya juga melakukannya. Juga melarang meninggalkan sesuatu, kecuali dirinya menjauhinya. Dikatakan pula bahwa Nabi Muhammad adalah orang sangat memegang teguh perjanjian.

“Demi Allah. Nabi yang ummi (buta huruf) ini tidaklah memerintahkan sesuatu, kecuali ia pasti yang pertama kali melakukannya. Dan tidaklah ia melarang sesuatu kecuali ia yang pertama kali meninggalkannya,” kata al-Julandi.


“Sesungguhnya jika ia menang, ia tidak merendahkan dan jika ia kalah, ia tidak gelisah. Ia penuhi semua perjanjian dan ia lakukan semua yang dijanjikan, dan aku mengakui bahwa ia adalah seorang nabi,” lanjutnya.


Ketika kedudukan umat Islam yang bermarkas di Madinah semakin kokoh, Nabi Muhammad mengirimkan surat kepada para raja di sekitar jazirah Arab. Mulai dari Raja Romawi Timur, Heraklius, hingga Raja Persia, Kisra. Termasuk Raja Oman saat itu, al-Julandi. Adalah Amru bin al-Ash yang diutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan surat kepada al-Julandi. 

Melalui surat-surat tersebut, Nabi Muhammad mengajak mereka untuk memeluk Islam. Ada raja yang menolak ajakan Nabi Muhammad. Ada juga yang menerimanya, Raja Oman al-Julandi misalnya. Al-Julandi tidak ragu mengakui Muhammad sebagai seorang nabi. Ia juga tidak segan-segan memberikan pujian atas sosok Nabi Muhammad yang akhlaknya begitu mulia. (Muchlishon)
Kamis 11 Juli 2019 13:0 WIB
Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah
Kecintaan Nabi Muhammad pada Cucu Perempuannya, Umamah
“Rasulullah saw. pernah shalat dengan Umamah binti Amr bin al-Ash di pundaknya. Beliau meletakkan ketika rukuk dan mengangkatnya kembali ketika beliau berdiri,” kata Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah dalam sebuah riwayat.

Nabi Muhammad begitu sayang kepada cucu-cucunya. Beliau kerap kali membawa mereka di atas punggungnya. Memeluk, membelai, dan mencium mereka dengan penuh kasih sayang. Bahkan, Nabi Muhammad beberapa kali memosisikan dirinya ‘seperti kuda’, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya. Kasih sayang dan perlakuan seperti itu tidak hanya ditujukan Nabi Muhammad kepada Hasan dan Husain, tapi juga dengan cucu perempuannya, Umamah. 

Umamah adalah anak dari Sayyidah Zainab, putri sulung Nabi Muhammad dengan Sayyidah Khadijah. Sementara bapaknya adalah Amr bin al-Ash bin Rabi’, biasanya dikenal Abul Ash bin Rabi’. Seorang yang masih kerabat dengan Nabi Muhammad. Abul Ash adalah anak dari Halah binti Khuwailid, saudara perempuan dari Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Sebagaimana riwayat Abdullah bin Harits bin Naufal dan Abu Qatadah, Nabi Muhammad juga pernah mengajak Umamah ketika sedang shalat; beliau menggendong Umamah di pundaknya, meletakkannya ketika rukuk, dan mengangkatnya lagi saat berdiri. Persis ketika Nabi Muhammad mengajak Hasan dan Husain ketika shalat.

Tidak hanya itu, kecintaan Nabi Muhammad kepada cucu perempuannya itu juga terlihat ketika beliau memberikan hadiah kepada Umamah. Dalam buku Purnama Madinah: 600 Sahabat Wanita Rasulullah saw. yang Menyemarakkan Kota Nabi (Ibn Sa’ad, 1997) dikisahkan, suatu ketika Negus memberikan perhiasan kepada Nabi Muhammad, termasuk sebuah cincin emas. Setelah menerima hadiah itu, Nabi Muhammad kemudian memberikannya kepada cucunya, Umamah.

“Hiasilah dirimu dengan ini, gadis kecil,” kata Nabi Muhammad kepada Umamah.

Pada kesempatan lain, sebagaimana riwayat Ali bin Zaid bon Jid’an, Nabi Muhammad pulang ke rumah dengan membawa sebuah kalung batu onyx. Kepada para anak dan istrinya, Nabi mengatakan bahwa dirinya akan memberikan kalung batu onyx tersebut kepada orang yang paling dicintainya. 

Mendengar hal itu, para keluarga Nabi semula menyangka bahwa kalung tersebut akan diberikan kepada Sayyidah Aisyah. Namun dugaan mereka meleset. Nabi Muhammad malah memanggil Umamah dan meletakkan kalung itu di tangannya, bukan Sayyidah Aisyah. Pada saat itu, Nabi yang melihat ada kotoran di mata Umamah langsung membersihkannya dengan tangannya.

Sikap Nabi Muhammad terhadap Umamah dan cucu-cucunya yang lain tentu ‘aneh’ bagi masyarakat Makkah pada saat itu. Mengapa? Karena pada saat itu hubungan seorang kakek dengan cucunya sangat lah kaku dan keras, tidak luwes sebagai sikap yang ditunjukkan Nabi Muhammad; mencium, membelai, bermain-main bersama dengan cucu-cucunya.

Umamah adalah anak kedua –anak terakhir- dari Abul Ash dan Sayyidah Zainab. Kakaknya, Ali meninggal saat masih kecil. Nantinya, Umamah dipersunting oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Sayyidah Fathimah az-Zahra. (A Muchlishon Rochmat)