IMG-LOGO
Ubudiyah

Lafal Takbir Hari Raya, Diucapkan Tiga Kali atau Dua Kali?

Rabu 14 Agustus 2019 12:30 WIB
Share:
Lafal Takbir Hari Raya, Diucapkan Tiga Kali atau Dua Kali?
Ilustrasi
Melafalkan kalimat takbir merupakan hal yang dianjurkan oleh syariat dalam memperingati hari raya, baik pada Idul Fitri ataupun Idul Adha. Khusus dalam menyambut datangnya Idul Adha, kesunnahan membaca takbir dimulai sejak setelah shalat subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai setelah shalat ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah) (lihat: Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib al-Mujib, hal. 84)
 
Baca juga:
 
Namun, seringkali polemik muncul di masyarakat terkait pelafalan kalimat takbir ini. Sebagian melafalkan takbir “Allâhu akbar” sebanyak dua kali, sedangkan kelompok yang lain melafalkan “Allâhu akbar” sampai tiga kali.
 
Kelompok yang berpandangan bahwa lafal takbir hanya diucapkan dua kali, umumnya berpijak pada hadits-hadits mauquf berikut:

كَانَ سَلْمَانُ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ يُعَلِّمُنَا التَّكْبِيرَ يَقُولُ : كَبِّرُوا اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا 
 
“Salman mengajari kami lafal takbir, ia berkata: ‘BertakbirlahAllâhu akbar Allâhu akbar, sungguh maha besar” (HR. Al-Baihaqi).

أَنَّ عُمَرَ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلَاهِ الْغَدَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ إلَي صَلَاةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ يُكَبِّرُ فِي الْعَصْرِ يَقُوْلُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أكْبَرُ الله أكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ
 
“Sahabat ‘Umar bertakbir mulai shalat subuh pada hari Arafah sampai shalat Dhuhur dari akhir hari tasyriq, beliau takbir pada shalat ashar dengan mengucapkan 'Allâhu akbar Allâhu akbar  ilâha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillâhi-l-hamd” (HR. Ibnu Mundzir).
 
Pada dua hadits di atas, kalimat Allâhu akbar hanya diucapkan sebanyak dua kali. Berpijak pada hadits tersebut, mestinya pengucapan takbir yang dianjurkan dalam menyambut hari raya adalah sebanyak dua kali, bukan tiga kali.
 
Sedangkan kelompok yang melafalkan takbir “Allâhu akbar” sebanyak tiga kali, seperti yang banyak dianut oleh mayoritas Muslim di Indonesia, berpijak pada hadits marfu berikut:
 

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ إِذَا صَلَّى الصُبْحَ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ يَقْبَلُ عَلَى أَصْحَابِهِ فَيَقُوْلُ عَلَى مَكَانِكُمْ وَيَقُوْلُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ فَيُكَبِّرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى صَلَاةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ
 
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika usai shalat subuh pada hari arafah, beliau menghadap para sahabat, lalu bersabda: 'Tetaplah dalam posisi kalian' dan beliau berkata: “Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar  ilâha illallâhu wallâhu akbarAllâhu akbar wa lillâhi-l-hamd” beliau bertakbir mulai dari usai shalat subuh pada hari arafah sampai setelah shalat ashar dari akhir hari tasyriq” (HR. Daruqutni)
 
Hadits di atas secara gamblang menjelaskan pelafalan takbir dengan mengucapkan kata Allâhu akbar sebanyak tiga kali. Melihat berbagai redaksi hadits-hadits di atas yang sepintas tampak berlawanan dalam pelafalan jumlah takbir, sebenarnya menakah yang paling benar untuk di amalkan?
 
Perbedaan pandangan mengenai jumlah penyebutan kata Allâhu akbar ini sebenarnya juga terjadi dalam beberapa pendapat yang diungkapkan oleh Imam Asy-Syafi’i. Pendapat yang masyhur dari Imam Asy-Syafi’i adalah mengucapkan takbir sebanyak tiga kali. Sedangkan pendapat Imam Asy-Syafi’i yang lain, yakni dalam qaul qadim beliau yang dikutip oleh Abu Sa’d al-Mutawali menjelaskan bahwa kata takbir hanya diucapkan dua kali. Hal demikian seperti yang disampaikan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

(فرع) صفة التكبير المستحبة الله أكبر الله أكبر الله أكبر هذا هو المشهور من نصوص الشافعي في الأم والمختصر وغيرهما وبه قطع الأصحاب وحكى صاحب التتمة وغيره قولا قديما للشافعي أنه يكبر مرتين ويقول الله أكبر الله أكبر والصواب الأول ثلاثا نسقا قال الشافعي في المختصر وما زاد من ذكر الله فحسن وقال في الأم أحب أن تكون زيادته الله كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وهزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله والله أكبر واحتجوا له بأن النبي صلى الله عليه وسلم " قاله على الصفا " وهذا الحديث رواه مسلم في صحيحه من رواية جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أخصر من هذا اللفظ 
“Cabang permasalahan. Sifat lafal takbir adalah Allâhu akbar Allâhu akbar Allâhu akbar. Lafal ini merupakan lafal yang masyhur dari nash Imam Asy-Syafi’i di kitab al-Um, al-Mukhtashar, dan kitab lainnya, serta yang dipastikan (kebenarannya) oleh al-Ashab (para santri Imam Asy-Syafi’i). Sedangkan pengarang kitab at-Tatimmah (Abu Sa’d al-Mutawali) menceritakan qaul qadim (pendapat lama) dari Imam Syafi’i yang berpandangan bahwa lafal takbir diucapkan hanya dua kali, yakni Allâhu akbar Allâhu akbar. Namun pendapat yang benar adalah yang pertama, yakni mengucapkan takbir tiga kali. 
 
Imam Asy-Syafi’i dalam kitab al-Mukhtashar berkata: “Menambah dzikir (dalam takbir) adalah hal yang baik”. Dalam kitab al-Um beliau menjelaskan: “Aku lebih suka menambahkan lafal Allâhu akbar kabîran wal hamdu lillâhi katsîra wa subhânallâhi bukratan wa ashîla, lâ ilâha illallâhu wa lâ na’budu illâ iyyâh, mukhlishîna lahuddîna wa law karihal kâfirun, lâ ilâha illallâhu wahdahu shadaqa wa’dahu  wa nashara ‘abdahu wa hazama al-ahzâba wahdahu, lâ ilâha illallâhu wallâhu akbar” para ulama menjadikan hujjah pada lafal tersebut bahwasannya Nabi mengucapkannya di atas bukit shafa. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya dari riwayat Sahabat Jabir bin Abdillah radliyallahu ‘anhuma dengan redaksi yang lebih ringkas dari lafal di atas” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 5, hal. 39)
 
Dalam referensi di atas, secara tegas disampaikan bahwa pendapat yang benar adalah mengucapkan takbir sebanyak tiga kali. Berdasarkan hal ini dapat dipahami bahwa hal yang paling baik untuk diamalkan dalam melafalkan takbir hari raya adalah mengucapkan kata Allâhu akbar sebanyak tiga kali. 
 
Meski begitu, mengucapkan kata takbir sebanyak dua kali, seperti yang diamalkan sebagian orang tidak lantas menjadi hal yang dilarang dan menyalahi kesunnahan, sebab hal tersebut juga berdasarkan dalil-dalil yang dapat dipertimbangkan. Meski hal yang lebih utama untuk diamalkan adalah membaca takbir sebanyak tiga kali. 
 
Kajian hadits—seperti halnya pada persoalan jumlah lafal takbir hari raya ini—tak sesederhana mengutip, menerjemahkan, lalu menjadikannya dasar. Kompleksitas studi hadits seringkali mesti berurusan dengan hadits-hadits lain yang bisa jadi memiliki konteks, redaksi, atau perawi yang berbeda. Karena itulah mengacu pada pandangan para ulama fiqih yang kompeten penting dilakukan. Sufyan bin Uyainah pernah berkata, “al-Hadîts madlallatun illâ lil fuqaha (hadits adalah tempat orang tersesat, kecuali bagi para fuqaha [pakar]).”
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember
Share:

Baca Juga

Sabtu 3 Agustus 2019 20:0 WIB
Rahasia Angka 7 dan 24 dalam Kalimat Tahlil
Rahasia Angka 7 dan 24 dalam Kalimat Tahlil
Ilustrasi
Apalah arti sebuah angka jika berdiri sendiri. Angka hanyalah sebuah simbol digunakan pada bilangan untuk menggambarkan nomor pada posisional di sistem bilangan (Wikipedia). Belajar angka-angka menjadi penting dalam kehidupan manusia, termasuk dalam menjalankan agamnya. Dengan memahami angka, umat Islam dapat mengetahui berapa jumlah shalat fardhu, jumlah rakaat, kapan masuk waktu shalat, memulai puasa, kapan hari raya Idul Adha, Idul Fithri, dan sebagainya.

Selain sebagai simbol, terkadang ada angka yang dianggap sebagai angka keberuntungan dan angka sial oleh sebagaian masyarakat. Padahal segala keberuntungan bukanlah datang dari angka-angka yang dibuat oleh manusia. Keberuntungan adalah mutlak atas karunia Allah kepada hamba-Nya.

فَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (٦٤)

“Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmatNya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.” (QS Al-Baqarah[2]: 64).

Namun demikian, bukan berarti angka selalu tak memiliki makna sama sekali, apalagi bila ia terkait dengan sesuatu yang agung. Syekh Muhammad Syatha Dimyathi dalam Kifâyatul Atqiyâ wa Minhâjul Ashfiyâ mengungkap makna angka 7 dan 24 di balik lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah. Angka-angkat itu sendiri sebenarnya cuma angka biasa. Hanya saja, 7 dan 24 di tangan Syekh Muhammad Syatha Dimyathi bisa menjadi alat bantu menemukan keistimewaan dalam sebuah kalimat.

Pertama, angka tujuh. Syekh Muhammad Syatha Dimyathi mengatakan:

وَيُقَالُ لَا اِلَهَ اِلَّا الله مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ سَبْعُ كَلِمَاتٍ وَلِلْعَبْدِ سَبْعَةُ اَعْضَاءٍ وَلِلنَّارِ سَبْعَةُ اَبْوَابٍ 
فَكُلُّ كَلِمَةٍ مِنْ هَذِهِ الْكَلِمَاتِ السَبْعِ تُغْلِقُ بَابًا مِنْ اَبْوَابِ النَّارِ السَبْعَةِ عَنْ كُلِّ عُضْوٍ مِنَ الْاَعْضَاءِ السَبْعَةِ 

“Dikatakan, lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah terdiri dari tujuh kata. Pada diri hamba pun terdapat tujuh anggota badan. Neraka juga memiliki tujuh pintu. Barangsiapa membaca tujuh kata ini, maka dapat mengunci pintu-pintu neraka dari setiap anggota badan yang tujuh.” (Syekh Muhammad Syatha Dimyathi, Kifâyatul Atqiyâ wa Minhâjul Ashfiyâ (Indonesia: Daru Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah, hal. 109)
  
Tujuh anggota badan manusia merupakan sumber terjadinya kemaksiatan. Mata, lidah, telinga, tangan, perut, alat kelamin, dan kaki. Dengan membaca lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah yang berjumlah tujuh kata, harapannya Allah akan mengampuni dosa-dosa dari ketujuh anggota badan tersebut. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, riwayat al-Qurtubi: 

Rasulullah bersabda, “Malaikat maut mendatangi seorang laki-laki dan memeriksa seluruh anggota badannya. Namun tidak ditemukan satupun kebaikan di dalamnya. maka kemudian membelah hatinya, disanapun tidak ditemukan adanya kebaikan. Sampai akhirnya ia merobek mulutnya dan ditemukanlah pada ujung lidahnya ada lafal Lâ ilâha illa-Llâhu. Maka ditetapkan baginya surga.” (HR. Al-Qurtubi).

Kedua, angka 24 (dua puluh empat). Setelah menjelaskan hubungan antara tujuh kata Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah, tujuh anggota badan, dan tujuh pintu neraka, Ibnu Abbas menambahkan dengan angka 24 yang menunjukkan jumlah jam dalam sehari semalam. Jumlah ini sama dengan jumlah huruf pada lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah. maka barangsiapa membaca kalimat tersebut maka setiap hurufnya dapat melebur dosa selama satu jam. 

Dari kedua penjelasan di atas dapat ditarik pada satu pemahaman adanya keutamaan bagi setiap yang membaca Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah, sebagaimana sabda Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ كَانَ اَخِرَ كَلَامِهِ مِنَ الدُّنْيَا لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menutup perkataannya (ketika meninggal dunia) dengan lafal Lâ ilâha illa-Llâhu maka masuk surga,” (HR Abu Dawud dan Hakim).

Surga adalah milik Allah, siapa pun yang akan menghuninya pastilah atas kuasa dan rahmat dari Allah. Lafal Lâ ilâha illa-Llâhu Muhammad Rasuulullah menjadi salah satu ikhtiar manusia dalam menggapainya. Membacanya tentu dibarengi dengan keimanan dan ketakwaan serta amal shalih. Tidak cukup membaca kemudian mengharap surga Allah tanpa menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Wallahu a’lam.
 

Jaenuri, Pengajar di Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Surakarta
 
Sabtu 27 Juli 2019 20:15 WIB
Na'udzubillah, Ini Sebab-sebab Su’ul Khatimah
Na'udzubillah, Ini Sebab-sebab Su’ul Khatimah
Yang lebih dari hidup yang baik adalah meninggal dunia dalam keadaan baik, "husnul khatimah".

Dalam Al-Qur’an, pesan kepada tiap orang mukmin agar teguh berislam hingga akhir hayat sangatlah tegas. Seruan tersebut dimulai dengan perintah agar mereka bertakwa semaksimal mungkin. Allah berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam” (QS. Ali Imran [3]: 102).

 

Pada penggalan akhir ayat tersebut (wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn) Allah memerintahkan kepada kita agar mati dalam keadaan beragama Islam. Manusia sendiri tidak akan mampu menjadikan dirinya tetap dalam agama Islam karena pada hakikatnya husnul khatimah ataupun su’ul khatimah (baik atau buruknya akhir hidup manusia) adalah kuasa Allah subhanahu wata’ala. Oleh karenanya Allah memberikan jalan kepada manusia sebagai ikhtiar memperoleh predikat mati husnul khatimah/membawa agama Islam.

 

Disebutkan dalam kitab karya

 

Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam karyanya, Nashaihu Ad-Diniyah, menjelaskan beberapa hal yang sering menjadi sebab seseorang memungkasi kehidupan di dunia dengan keburukan (su’ul khatimah). Beliau berkata:

 

 

 

(واعلم) اَنَّه ُكَثِيْرًا مَا يُخْتَمُ بِالسُّوْءِ لِلَّذِيْنَ يَتَهَاوَنُوْنَ بِالصَّلَاةِ الْمَفْرُوْضَةِ وَالزَّكَاةِ الْوَاجِبَةِ وَالَّذِيْنَ يَتَتَبَّعُوْنَ عَوْرَاتِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالَّذِيْنَ يَنْقُصُوْنَ الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ وَالَّذِيْنَ يَخْدَعُوْنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَيَغْشَوْنَهُمْ وَيَلْبَسُوْنَ عَلَيْهِمْ فِيْ اُمُوْرِ الدِّيْنِ وَالدُنْيَا وَالَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ اَوْلِيَاءَ اللهِ وَيَنْكِرُوْنَ عَلَيْهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ وَالَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ اَحْوَالَ الْاَوْلِيَاءِ وَمَقَامَاتِهِمْ مِنْ غَيْرِ صِدْقٍ وَاَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْاُمُوْرِ الشَّنِيْعَةِ

 

 

“Ketahuilah bahwa kebanyakan su’ul khatimah adalah bagi orang-orang yang meremehkan shalat fardhu dan kewajiban zakat, mencari-cari aib Muslimin yang lain, mengurangi takaran dan timbangan, orang-orang yang menipu Muslim dan menutupi atas mereka dalam masalah agama dan dunia, menganggap bohong pada kekasih-kekasih Allah dan mengingkarinya, mengaku dirinya berada pada derajat kewalian (kekasih Allah) tanpa adanya pembenaran, dan sebagainya,” (Syekh Abdullah bin Alawi al-Haddad, Nashaihu Ad-Diniyah, Haramain, hal. 7).

 

Pertama, meremehkan kewajiban shalat dan zakat.

 

Shalat lima waktu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang baligh dan berakal. Perintah shalat menjadi kewajiban pertama yang harus dijalankan sekaligus amal manusia pertama yang akan dihisab. Jika meremehkannya saja adalah sebuah dosa apalagi dengan sengaja meninggalkan. Sebagaimana firman Allah:

 

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (٤) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ (٥)

 

“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,” (QS. Al-Ma’un[107]: 4-5).

 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ (٦)الَّذِينَ لا يُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ (٧)

 

“Katakanlah bahwa ‘Aku (Nabi Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha-Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan celaka besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat,” (QS Fushilat[41]: 6-7).

 

Pada ayat tersebut di atas terdapat kata “wail” yang artinya celakalah. Ini menunjukkan bahwa siapa saja yang dengan sadar meremehkan atau bahkan meninggalkan shalat dan zakat baginya adalah kerugian. Dan kerugian bagi seorang muslim adalah ketika mendapatkan siksaan dari Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana tertuang dalam artikel sebelumnya, ada 15 siksaan bagi orang-orang yang meninggalkan shalat. Tiga di antaranya adalah siksaan ketika meninggal dunia. Hal ini menguatkan pendapat Syekh Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad bahwa meremehkan kewajiban shalat dan zakat adalah salah satu sebab akhir kehidupan yang tidak baik (su’ul khatimah).

 

Kedua, suka mencari-cari aib muslimin.

 

Biasanya orang-orang yang sibuk dengan urusan orang lain akan lupa dengan urusannya sendiri. Begitu juga ketika sibuk mencari keburukan orang lain maka keburukannya sendiri pun terlupakan. Ia tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam maksiat dan dosa, hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan tidak bertobat. Naudzu billah min dzâlik. Larangan ini terdapat dalam firman Allah subhanahu wata’la.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ (١٢)

 

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha-Penerima tobat lagi Maha-Penyayang,” (QS. Al-Hujarat[49]: 12).

 

Ketiga, mengurangi takaran dan timbangan.

 

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Semua saling membutuhkan dalam segala hal. Perdagangan merupakan salah satu bentuk kerja sama agar manusia bisa bertahan hidup. Dalam transaksi tersebut ada kondisi saling memberi keuntungan. Oleh karenanya Islam melarang adanya kecurangan dan penipuan dalam berdagang.

 

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣)

 

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi,” (QS. Al-Muthaffifin [83]: 1-3).

 

Jika kecurangan terus-menerus dilakukan maka selama hidupnya pula ia makan dari hasil yang tidak halal. Dengan demikian ia akan mati dalam keadaan membawa harta benda yang haram dan beban dosa terhadap saudaranya.

 

Keempat, menipu Muslim dan menutupi atas mereka dalam masalah agama dan dunia.

 

Seringkali kepentingan duniawi melenakan banyak orang di mana saja. Hanya karena dunia, kadang seseorang rela menempuh segala cara, termasuk melalui jalur yang batil. Kecurangan dan penipuan merupakan hal yang biasa terjadi dengan latar yang sama, yakni kepentingan duniawi. Bahkan, bagi mereka yang sudah dibutakan, agama pun bisa berubah sekadar alat untuk memperoleh keuntungan, baik berupa harta, pujian, ketenaran, maupun pangkat.

 

Sebagaimana disebutkan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim pada bab niat, “Banyak amal akhirat menjadi amal dunia dikarenakan niat yang jelek.” Jika hal ini terus-menerus dikerjakan hingga ajal menjemput maka ia tidak hanya dosa atas kezaliman terhadap orang lain, lebih jauh ia berdosa atas nama agama.

 

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (١٨)

 

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir,” (QS. Al-Isra[17]: 18).

 

Kelima, menganggap bohong pada kekasih-kekasih Allah dan mengingkarinya.

 

Jika melihat sejarah Islam, perjuangan para utusan selalu dihadapkan dengan para penolak ajarannya, baik perseorangan maupun golongan. Hal ini tidak berhenti di zaman Rasul, sahabat, tabi’in, hingga para ulama kekasih Allah yang datang belakangan. Hingga saat ini tantangan demi tantangan silih berganti terjadi pada pejuang di jalan Allah mulai dari tingkat kepercayaan, fitnah, iri, dengki, sampai pada penolakan dan perlawanan.

 

Orang yang mengingkari utusan Allah berarti ia menyakitinya. Siapa yang menyakiti utusan Allah sama juga ia menyakiti Allah subhanahu wata’ala. Maka lakanat Allah-lah yang lebih pantas untuk mereka.

 

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (٥٧) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (٥٨)

 

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat. Maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata,” (QS. Al-Isra[17]: 18).

Jika mereka mati sebelum bertobat, maka mereka mati dalam keadaan terlaknat. Semoga kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang dijaga dari mati su’ul khatimah.

 

 

Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam UNU Surakarta

Ahad 14 Juli 2019 19:30 WIB
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Sudah Meninggal
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Sudah Meninggal
Ilustrasi (via saudigazette.com.sa)
Setiap anak utang budi sangat besar pada orang tuanya. Ibu merupakan makhluk Allah yang diciptakan untuk bisa mengandung, melahirkan, dan menumbuhkembangkan anaknya masing-masing. Cinta ibu melebihi kecintaannya kepada pribadinya sendiri. Bagi ibu, ibarat tidak makan tidak masalah yang penting anaknya bisa makan karena saking cintanya seorang ibu kepada anak. Setelah ibu, ada orang lain yang juga mempunyai kasih sayang besar kepada seorang anak, yaitu sosok ayah walaupun levelnya masih di bawah ibu. 

Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari kakeknya Bahz, ia memerintahkan untuk menghormati ibu sebanyak tiga kali lipat dibanding ayah. Hadits ini tidak berarti ayah tidak terhormat. Hormat kepada ayah tetap wajib, sedangkan kewajiban hormat kepada ibu tiga kali lipat daripada hormat kepada ayah, baru kemudian kerabat paling dekat, dekat, dan mulai yang lebih jauh. 

 حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا بَهْزٌ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: " أُمَّكَ "، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: " أُمَّكَ "، قَالَ: قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: " أُمَّكَ، ثُمَّ أَبَاكَ، ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ " 

Artinya: “Saya tanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Ya Rasul, siapa yang paling berhak saya sikapi dengan sebaik mungkin?’ Jawab Rasul, ‘Ibumu’, ‘Lalu siapa lagi, Ya Rasul?’ ‘Ibumu’, ‘Siapa lagi, Ya Rasul?’ ‘Ibumu’. 'Lalu siapa lagi?' ‘Baru kemudian bapakmu, keluarga terdekat, dekat, dan seterusnya’.” (Musnad Ahmad: 20048)

Dalam hadits lain, ada seorang sahabat yang sudah bersusah payah sepenuh tenaga mencurahkan keringatnya untuk membahagiakan ibunya. Saat lelaki itu melaporkan kebaikannya kepada Baginda Nabi, Rasulullah menyatakan bahwa hal tersebut tidak bisa membalas secara seimbang dengan jerih payah yang dilakukan ibu walau satu tarikan napas panjangnya. Sebab, lazimnya seorang ibu melayani anak dengan harapan akan panjang umurnya, tapi seorang anak merawat ibu dengan harapan pendek umurnya supaya tidak merepotkan. 

ﺍَﻥَّ ﺭَﺟُﻼً ﺍَﺗَﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺹ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍِﻥَّ ﻟِﻰْ ﺍُﻣًّﺎ، ﺍَﻧَﺎ ﻣَﻄِﻴَّﺘُﻬَﺎ ﺍُﻗْﻌِﺪُﻫَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻇَﻬْﺮِﻯ ﻭَ ﻻَ ﺍَﺻْﺮِﻑُ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﻭَﺟْﻬِﻰ ﻭَ ﺍَﺭُﺩُّ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﻛَﺴْﺒِﻰ، ﻓَﻬَﻞْ ﺟَﺰَﻳْﺘُﻬَﺎ؟ ﻗَﺎﻝَ : ﻻَ، ﻭَ ﻻَ ﺑِﺰَﻓْﺮَﺓٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ . ﻗَﺎﻝَ : ﻭَ ﻟِﻢَ؟ ﻗَﺎﻝَ : ِﻻَﻧَّﻬَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺗَﺨْﺪُﻣُﻚَ ﻭَ ﻫِﻲَ ﺗُﺤِﺐُّ ﺣَﻴَﺎﺗَﻚَ . ﻭَ ﺍَﻧْﺖَ ﺗَﺨْﺪُﻣُﻬَﺎ ﺗُﺤِﺐُّ ﻣَﻮْﺗَﻬَﺎ .

Artinya: “Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ, lalu bertanya ‘Sesungguhnya saya mempunyai seorang ibu, dia saya gendong di punggung saya. Saya tidak pernah bermuka masam kepadanya. Upah kerja saya kasihkan kepada dia. Apakah yang demikian itu saya telah membalas budinya?’ Rasulullah ﷺ menjawab ‘Belum, walau satu tarikan napas panjangnya’. 

Orang tersebut kemudian bertanya lagi ‘Mengapa demikian ya Rasulullah?’ Jawab Rasul, ‘Karena ibumu memelihara kamu dengan berharap agar kamu panjang umur, sedangkan kamu memeliharanya itu dengan berharap ia lekas mati’.” (HR Abul Hasan al-Mawardi) 

Abu Umamah pernah bercerita dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah. Ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah:  

يَا رَسُولَ اللهِ، مَا حَقُّ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِمَا؟ قَالَ: هُمَا جَنَّتُكَ وَنَارُكَ

Artinya: “Ya Rasulallah, apa hak yang semestinya diterima oleh kedua orang tua dan harus dipikul oleh anaknya?, jawab Rasul ‘Mereka adalah surga dan nerakamu’.” (HR Ibnu Majah: 3662) 

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa kedua orang tua adalah di antara faktor seorang anak bisa masuk surga atau neraka. Apabila anak patuh kepada orang tua, berarti bisa masuk surga. Jika anak tidak patuh, berarti neraka. Maksud kepatuhan di sini selama tidak sampai melanggar norma agama. Jika melanggar norma, tidak boleh diikuti petunjuknya karena aturannya adalah tidak ada ketaatan untuk maksiat kepada Tuhan. 

Baca:
Cara Berbakti pada Orang Tua yang Masih Hidup
Tata Krama terhadap Orang Tua Menurut al-Ghazali
Masih banyak lagi hadits-hadits yang menjelaskan tentang hubungan orang tua terhadap anak maupun sebaliknya. Namun sehebat apa pun orang yang hidup di alam dunia ini, pastilah akan merasakan kematian. Ibu dan ayah masing-masing merupakan makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang sudah digariskan oleh Allah pasti akan mengalami kematian. Sebagai balas budi anak kepada kedua orang tua, bagaimana sikap anak kepada orang tua ketika mereka sudah meninggal dunia?

Abu Usaid pernah menceritakan sebuah hadits berikut:

بَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ بَقِيَ عَلَيَّ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ بَعْدَ مَوْتِهِمَا أَبَرُّهُمَا بِهِ؟ قَالَ: " نَعَمْ خِصَالٌ أَرْبَعَةٌ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا رَحِمَ لَكَ إِلَّا مِنْ قِبَلِهِمَا، فَهُوَ الَّذِي بَقِيَ عَلَيْكَ مِنْ بِرِّهِمَا بَعْدَ مَوْتِهِمَا 

Artinya: “Suatu ketika saya sedang duduk-duduk bersama Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba ada seorang laki-laki dari sahabat Anshar sowan. Ia bertanya kepada Rasul, ‘Ya Rasul, apakah saya bisa berbaik budi kepada kedua orang tua saya yang sudah meninggal?’ Rasul lalu menjawab, ‘Iya, ada empat hal, yaitu (1) mendoakan mereka, (2) memohonkan ampunan untuk keduanya, (3) menunaikan janji mereka dan memuliakan teman mereka, dan (4) menjalin silaturahim dengan orang-orang yang tidak akan menjadi saudaramu kecuali melalui perantara ayah-ibumu. Itulah budi baik yang harus kamu lakukan setelah mereka meninggal’.” (Musnad Ahmad: 16059) 

Hadits di atas dapat dipahami bahwa memintakan ampun kepada orang yang sudah meninggal adalah bermanfaat sebab Rasulullah memerintahkan untuk mendoakan kedua orang tua yang meninggal. Rasul tidak pernah menyuruh kepada orang dengan kegiatan yang sia-sia (mulghah). Semua perkataan Nabi Muhammad adalah wahyu. Dia tidak pernah berbicara sesuai keinginan hawa nafsuya. Selain itu, istighfar atau memohonkan ampunan bagi orang tua yang meninggal juga diperintahkan. 

Baca juga:
Lafal Doa untuk Kedua Orang Tua yang Telah Meninggal
Kisah Doa Sang Anak untuk Orang Tua di Alam Kubur
Pelajaran yang bisa dipetik lagi dari hadits di atas dan hal ini banyak dilupakan oleh generasi saat ini adalah memuliakan teman-temannya orang tua dan menyambung persaudaraan baik dari jalur ayah maupun jalur ibu. Keduanya sangat penting supaya orang-orang di sekeliling mereka akan selalu terjaga hubungannya. Istilah lain dalam bahasa Jawa, supaya tidak kepaten obor  (api silaturahim padam begitu saja).

Dengan demikian, berbakti kepada kedua orang tua tidak berhenti saat mereka masih hidup, namun sampai mereka meninggal pun, anak tetap harus berbakti kepada mereka dengan cara-cara yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ. Wallahu a’lam.


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang