IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Perjanjian Nabi Muhammad dan Orang-orang Kristen

Rabu 21 Agustus 2019 15:45 WIB
Share:
Perjanjian Nabi Muhammad dan Orang-orang Kristen
Foto: NU Online
Nabi Muhammad pernah mengadakan perjanjian dengan beberapa kelompok umat Kristen pada zamannya. Perjanjian yang dibuat kedua belah pihak menyangkut banyak. Mulai dari masalah keamanan, perlindungan, hingga jaminan keselamatan. Menariknya, perjanjian Nabi Muhammad dengan orang-orang Kristen tersebut ‘berjalan dengan baik.’ Kedua belah pihak menepatinya dan tidak ada yang melanggarnya sampai Nabi wafat.

Merujuk buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), sepanjang hidupnya–terutama dua tahun terakhir dari kehidupannya–Nabi Muhammad mengadakan dengan tiga kelompok umat Kristen. Pertama, orang-orang Kristen Najran. Suatu ketika Nabi Muhammad mengundang kaum Najran untuk datang ke Madinah. Umat Kristen Najran kemudian mengirim 14 orang–riwayat lain menyebutkan 60 orang dan 45 di antaranya sarjana Kristen–untuk berdiskusi dan berdebat dengan Nabi Muhammad. Rombongan umat Kristen Najran itu dipimpin tiga orang; Al-Aqib sebagai pemimpin rombongan. As-Sayyid sebagai pengatur perjalanan, dan Abul Harits sebagai penanggung jawab urusan keagamaan.

Setiba di Madinah, delegasi Kristen Najran disambut baik Nabi Muhammad dan umat Islam. Nabi mengajak mereka untuk memeluk Islam. Rombongan Kristen Najran menolaknya. Mereka kemudian terlibat dalam perdebatan. Temanya pun bervariasi, mulai dari persoalan teologi, definisi Muslim, status Nabi Isa AS hingga politik dan pemerintahan.

Dalam hal-hal tertentu mereka bertemu dalam satu titik temu, namun dalam hal-hal tertentu lainnya–seperti persoalan teologi–mereka tidak ketemu. Tidak ada kesepakatan di antara mereka mengenai hal itu. Di akhir dialog, Nabi Muhammad menjalin perjanjian damai dengan rombongan Kristen Najran. Sebetulnya, Nabi Muhammad bisa saja ‘menghabisi’ delegasi Najran mengingat mereka tidak memiliki kekuatan saat itu. Namun, Nabi memilih untuk membuat perjanjian damai dengan mereka. Melalui perjanjian ini, Nabi Muhammad ingin menanamkan fondasi perdamaian, toleransi, dan moderasi antara umat Islam dengan umat non-Muslim.

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad sebagai Nabi kepada Uskup Abul Harits, uskup-uskup Najran, para pendeta, para rahib, dan semua orang yang ada di bawah kuasa mereka sedikit maupun banyak. Perlindungan Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada seorang pun uskup, rahib, atau pendeta yang diganti, dan juga tidak ada satu pun hak dan kekuasaan mereka yang akan diganti, dan tidak juga yang sudah menjadi kebiasaan mereka. Perlindungan Allah dan rasul-Nya selamanya, selama mereka berdamai dan jujur serta tidak berlaku zalim.” Demikian isi perjanjian Nabi Muhammad dengan orang-orang Kristen Najran.

Kedua, orang-orang Kristen Jarba dan Adzruh. Nabi Muhammad juga mengadakan perjanjian dengan umat Kristen Jarba dan Adzruh untuk membayar jizyah. Melalui perjanjian itu, Nabi Muhammad berupaya memberikan perlindungan kepada kabilah-kabilah lemah dan minoritas seperti Jarba dan Azdruh. Juga untuk menciptakan perdamaian di sekitar wilayah kaum Muslim.

Maklum, pada saat itu perang antarkabilah begitu marak sehingga banyak kabilah lemah menjadi korbannya. Jika dibandingkan dengan keamaan dan perlindungan yang diberikan Nabi Muhammad dan umat Islam, maka biaya yang dikeluarkan kabilah Jarba dan Azdruh–100 dinar setiap tahunnya–menjadi begitu sedikit.

“Ini adalah surat dari Muhammad sebagai Nabi untuk penduduk Adzruh bahwa mereka akan aman dengan keamanan dari Allah dan Muhammad, dan mereka harus membayar 100 dinar setiap bulan Rajab sebagai pemenuhan yang baik. Allah lah yang menjadi penanggung mereka dengan kejujuran dan perbuatan baik bagi kaum Muslimin,” kata Nabi Muhammad dalam perjanjiannya dengan orang-orang Kristen Jarba dan Adzruh.

Ketiga, orang-orang Kristen Ailah. Suatu ketika Raja Ailah, Yuhannah bin Rub’ah, dengan mengenakan salib mendatangi Nabi Muhammad. Setelah terjadi obrolan, akhirnya Nabi Muhammad dan Yuhannah bersepakat untuk menjalin perjanjian damai. Dalam perjanjian itu, Nabi Muhammad menjamin keamanan penduduk Ailah, baik di darat maupun di laut. Maklum, Ailah terletak di pesisir pantai Laut Merah. Maka sudah barang tentu penduduk Ailah banyak yang menjadi nelayan.

“Kapal-kapal laut mereka (penduduk Ailah) dan kendaraan-kendaraan mereka di darat dan di laut mendapatkan pengamanan dari Allah dan Muhammad an-Nabi,” kata Nabi dalam suratnya.

Tidak hanya itu, Nabi Muhammad juga menjamin penduduk Ailah untuk mendapatkan air dan melewati jalan-jalan yang selama ini mereka lalui, baik di darat maupun di laut. Nabi dan umat Islam akan memerangi siapa saja yang menghalangi penduduk Ailah untuk mendapatkan apa yang dijanjikan Nabi Muhammad tersebut. Tidak lain, ini dilakukan Nabi Muhammad untuk mewujudkan perdamaian di wilayah tersebut.
 
 
Pewarta: Muchlishon
Editor: Alhafiz Kurniawan
Share:

Baca Juga

Jumat 16 Agustus 2019 15:0 WIB
Kisah Nabi Muhammad dan Sahabat Disabilitas Amr bin Al-Jamuh
Kisah Nabi Muhammad dan Sahabat Disabilitas Amr bin Al-Jamuh
Ilustrasi.
“Demi Dzat yang diriku yang ada pada tangan-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada orang yang jika ia bersumpah, ia pasti melakukannya. Di antara mereka adalah Amr al-Jamuh. Dan sungguh aku telah melihatnya menginjakkan kakinya yang pincang di surga,” kata Nabi Muhammad dalam hadits riwayat Ibnu Hibban.

Nabi Muhammad adalah suri teladan bagi umat Muslim dalam hal memperlakukan orang berkebutuhan khusus (disabilitas). Beliau memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sangat baik dan penuh hormat. Tidak membedakan mereka dengan sahabatnya yang normal secara fisik.

Hal ini terlihat dari sikap Nabi Muhammad kepada Amr bin al-Jamuh sebagaimana tertera dalam buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011). Amr adalah seorang sahabat yang pincang. Ia memiliki empat orang anak laki-laki yang mengikuti beberapa peperangan bersama Nabi Muhammad.  

Suatu ketika, menjelang Perang Uhud, Amr bin al-Jamuh mengutarakan keinginannya untuk ikut bergabung dengan pasukan umat Muslim melawan kaum musyrik Makkah. Namun keempat anaknya menghalanginya, mengingat kondisi bapaknya yang demikian. Tidak terima dengan itu, Amr bin al-Jamuh mendatangi Nabi Muhammad. Ia mengadu kepada Nabi bahwa alasan dirinya ingin berperang adalah agar kakinya yang pincang bisa menginjak surga.

“Sesungguhnya anak-anakku ingin menahanku untuk keluar bersamamu pada perang (Uhud) ini. Padahal demi Allah, aku benar-benar ingin kakiku yang pincang ini dapat menginjak surga,” kata Amr bin al-Jamuh kepada Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad merespons aduan Amr bin al-Jamuh tersebut dengan jawaban yang menarik. Jawaban yang diberikan kepada Amr berbeda dengan anaknya. Kepada Amr, Nabi mengatakan bahwa Allah sudah memaafkannya sehingga ia tidak memiliki  kewajiban lagi untuk ikut berperang. Sementara kepada anak-anaknya Amr, Nabi mengimbau agar tidak melarang bapaknya tersebut.

“Hendaklah kalian jangan menghalanginya, semoga Allah menganugerahinya mati syahid,” kata Nabi kepada anak-anak Amr bin al-Jamuh.

Amr bin al-Jamuh akhirnya ikut berperang bersama dengan Nabi Muhammad dan pasukan umat Muslim. Ia kemudian terbunuh dalam Perang Uhud. Setelah itu, Nabi bersabda bahwa dirinya melihat Amr bin al-Jamuh menginjakkan kakinya yang pincang di surga.

Nabi Muhammad juga begitu perhatian kepada sahabatnya yang sedang sakit, dengan mengunjungi dan mencurahkan kasih sayangya, sehingga mereka dan keluarganya merasa bahagia. Suatu ketika, Nabi Muhammad dan beberapa sahabatnya menjenguk Sa’ad bin Ubadah yang sedang sakit. Beliau mendapati banyak orang ketika memasuki rumah Sa’ad bin Ubadah. 

Nabi bertanya apakah Sa’ad bin Ubadah sudah meninggal. Keluarga Sa’ad menjawab bahwa Sa’ad bin Ubadah belum meninggal. Nabi kemudian menangis. Para sahabat yang ketika itu berada di rumah Sa’ad bin Ubadah juga ikut menangis setelah melihat Nabi menangis. 

Jika ada sahabatnya yang sakit, Nabi Muhammad selalu mendoakan dan memberikan kabar gembira kepada mereka. Kata Nabi, mereka yang sakit akan memperoleh pahala sebagai hasil dari penyakit yang dideritanya.

“Bergembiralah wahai Ummu al-‘Ala, karena sakitnya seorang Muslim, Allah jadikan penghapus kesalahan-kesalahannya sebagaimana api menghilangkan kotoran pada emas dan perak,” kata Nabi Muhammad menjenguk Ummu al-‘Ala yang tengah sakit. (Muchlishon Rochmat)
Senin 12 Agustus 2019 18:0 WIB
Mukjizat Nabi Muhammad Terkait Hal Ghaib
Mukjizat Nabi Muhammad Terkait Hal Ghaib
Ilustrasi Nabi Muhammad.
“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad)." (Ali Imran: 44)

Hanya Allah yang mengetahui perkara ghaib. Namun Allah memberikan informasi kabar ghaib atau sesuatu yang belum terjadi kepada mereka yang dikehendaki-Nya. Salah satunya adalah Nabi Muhammad. Mukjizat Nabi yang berkaitan dengan hal-hal ghaib dianggap sebagai bukti paling kuat bahwa beliau memang utusan Allah. 

Berikut beberapa kabar yang disampaikan Nabi Muhammad dan benar-benar terjadi, baik pada masa beliau ataupun beberapa tahun setelahnya, sebagaimana dikutip dari buku Rasulullah Teladan Untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011). Pertama, kematian an-Najasyi. Sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah, Nabi Muhammad mengumumkan kematian an-Najasyi pada hari saat Raja Negeri Habasyah itu wafat. 

Jarak antara Arab dengan Negeri Habasyah sangat jauh, membutuhkan waktu beberapa hari dan malam untuk perjalanan. Jika dinalar, tidak mungkin Nabi Muhammad tahu kabar kematian an-Najasyi pada hari itu juga, kecuali mendapatkan kabar langsung dari Allah.  

Kedua, penaklukkan Negeri Persia. Suatu ketika Nabi Muhammad mengatakan bahwa Negeri Persia akan ditaklukkan umat Muslim. Setelah itu, keamanan serta kedamaian di seperempat jazirah Arab terwujud. 

“Jika hidupmu panjang, engkau pasti melihat seorang perempuan di atas tandu unta menunggangi dari Hirah sampai ia berthawaf di Ka’bah, dimana ia tidak takut siapapun kecuali hanya kepada Allah,” kata Nabi Muhammad kepada Adi bin Hatim, mengumpamakan keadaan aman dan damai dari wilayah Persia hingga Makkah. Beberapa tahun setelahnya, Adi menyaksikan sendiri apa yang dikatakan Nabi Muhammad itu. 

Adi bin Hatim bertanya kepada Nabi perihal keberadaan penyamun Thayyi yang suka membuat kerusuhan di banyak negeri. Dijawab Nabi, harta-harta Kisra yang melimpah akan menguasai mereka. Tidak cukup sampai di situ, Adi kemudian menanyakan tentang Kisra bin Hurmuz.

“Kisra bin Hurmuz. Dan jika hidupmu panjang, engkau pasti melihat seorang laki-laki mengeluarkan emas atau perak sepenuh telapak tangannya. Ia mencari orang yang akan menerimanya, namun ia tidak mendapatkan seorang pun yang mau menerimanya,” jawab Nabi. Apa yang disabdakan Nabi Muhammad itu terjadi pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis. Dimana orang-orang hidup dalam berkecukupan. Tidak ada lagi yang mau menerima sedekah. 

Ketiga, penaklukkan Konstantinopel. Kata Nabi Muhammad, ibu kota Romawi Timur, Konstantinopel, akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin dan pasukan adalah pemimpin dan pasukan yang menaklukkan Konstantinopel. Kalau melihat kekuatan umat Islam ketika itu, maka apa yang dikatakan Nabi Muhammad itu menjadi ‘sesuatu yang meragukan.’ Karena pada saat itu, Romawi Timur merupakan salah satu imperium terbesar –selain Persia- yang menguasai dunia.

Apa yang disabdakan Nabi Muhammad itu menjadi pendorong umat Muslim setelahnya untuk berlomba-lomba menaklukkan Konstantinopel. Beberapa kali pasukan Muslim mencoba merebut Konstantinopel, namun gagal. Hingga akhirnya, Khalifah Turki Usmani, Muhammad al-Fatih, berhasil menaklukkan Konstantinopel pada 857 H/1453 M. (Muchlishon Rochmat)
Sabtu 10 Agustus 2019 17:0 WIB
Rangkaian Haji Wada' Nabi Muhammad (Bagian II-Selesai)
Rangkaian Haji Wada' Nabi Muhammad (Bagian II-Selesai)
Ilustrasi orang berhaji. (hd.clarin.com)
Ketika di Mina, Nabi Muhammad memotong rambutnya, mengganti pakaian, dan mengenakan wewangian. Nabi lantas menuju ke Makkah untuk melaksanakan thawaf ifadhah dan meminum air zamzam. Setelah itu, beliau kembali ke penginapannya di Mina. Nabi mengulangi sebagian khutbah yang pernah disampaikan di Arafah beberapa hari lalu ketika tiba di Mina. 

Pada saat Nabi berkhutbah di Mina, banyak sahabat yang bertanya seputar persoalan haji. Mulai dari persoalan lupa mengerjakan jumrah, thawaf, hingga mencukur rambut sebelum menyembelih (keliru melakukan ini sebelum itu). Sebagian besar pertanyaan sahabat dijawab dengan ‘tidak mengapa’. Jika mereka lupa melakukan ini dan itu, maka Nabi Muhammad meminta mereka untuk segera melaksanakannya. 

Nabi Muhammad cukup lama tinggal di Mina. Beliau berada di sana selama tiga malam, sejak hari kesepuluh (hari nahar) hingga tiga hari setelahnya (hari tasyrik). Setiap hari pada hari-hari tasyrik, Nabi Muhammad melontar 21 batu kerikil untuk masing-masing Jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah). Selama di Mina pula, Nabi Muhammad menjama’ Shalat Dzhuhr dengan Ashar dan Shalat Maghrib dengan Isya. Beliau juga meng-qashar shalat yang rakaatnya empat.

Beliau kembali ke Makkah untuk melaksanakan thawaf wada’, setelah tiga hari berada di Mina. Namun di tengah perjalanan, Nabi berhenti di al-Abthag –saat ini dikenal al-Muhashhab. Di sini, Nabi mengerjakan Shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Di sini pula, Nabi Muhammad mengumumkan untuk kembali ke Madinah, tentunya setelah beliau melaksanakan thawaf wada’ dan Shalat Shubuh di Masjidil Haram.

Bersamaan dengan itu, 300 pasukan berkuda pimpinan Ali bin Abi Thalib yang diutus Nabi Muhammad menaklukkan Yaman mendekati Makkah dari selatan –setelah mereka berhasil menjalankan misinya. Di sinilah terjadi ‘perselisihan’ di antara mereka. Merujuk buku Muhamamd Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik (Martin Lings, 2012), Ali bin Abi Thalib menegaskan tidak boleh ada yang menyentuh harta pampasan perang sebelum ghanimah itu diserahkan kepada Nabi Muhammad terlebih dahulu. 

Namun ketika Ali bin Abi Thalib tidak ada, penanggung jawab yang ditugaskan untuk menjaga ghanimah dibujuk agar memberikan baju dari ghanimah untuk pada pasukan. Memang, di antara seperlima bagian yang ditetapkan dari ghanimah terdapat baju yang cukup untuk para pasukan. Mereka ingin mengenakan baju yang pantas ketika memasuki Kota Makkah. Maklum, selama beberapa bulan mereka jauh dari rumah sehingga pakaiannya sudah tidak karuan. 

Ketika pasukan tiba di gerbang Kota Makkah, Ali bin Abi Thalib terkejut mendapati mereka mengenakan baju dari ghanimah tersebut. Ia kemudian menyuruh mereka untuk mengganti dengan bajunya yang lama. Sebagian pasukan tidak terima dan sebal dengan kebijakan Ali tersebut. Situasi ini berlangsung hingga mereka dalam perjalanan pulang ke Madinah, bersama dengan Nabi dan rombongan hajinya.

Ketika sampai di Ghadir Khum –sekitar 187 kilometer dari Makkah- pada Ahad, 18 Dzulhijjah, semua orang dikumpulkan bersama. Nabi Muhammad kemudian menyampaikan khutbah tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib dan menyangkal tududah Ali berlaku tidak adil dan kikir dalam pembagian ghanimah. Kata Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib adalah orang sangat berhati-hati di jalan Allah sehingga mengeluarkan kebijakan seperti itu.

“Barang siapa yang dekat denganku, maka ia juga dekat dengan Ali. Ya Allah, jadikanlah sahabat-Mu siapa saja yang menjadi sahabatnya, dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya,” kata Nabi Muhammad sambil memegang tangan Ali bin Abi Thalib. Maka setelah itu, keluhan kepada Ali bin Abi Thalib berhenti. (A Muchlishon Rochmat)