IMG-LOGO
Jenazah

Tahapan Perjalanan Ruh Orang Kufur dan Zalim hingga ke Alam Barzakh

Ahad 25 Agustus 2019 09:00 WIB
Tahapan Perjalanan Ruh Orang Kufur dan Zalim hingga ke Alam Barzakh
Ruh orang kufur dan zalim menghadapi pengalaman mengerikan sejak sakaratul maut. (Ilustrasi: NU Online/Mahbib)
Tak seorang pun di antara kita yang mengetahui apa yang terjadi saat ajal menjemputnya. Sebab kematian merupakan peristiwa gaib yang hanya diketahui Allah kecuali yang dibocorkan melalui ayat-ayat-Nya, hadits qudsi, atau hadits-hadits sahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Salah satunya hadits sahih yang bercerita tentang kematian seorang penzalim di bawah ini. 
 
Ia diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Nasa’i, Ahmad al-Hakim, dan al-Thayalisi. Dikomentari oleh al-Hakim, “Hadits ini memenuhi kriteria al-Bukhari dan Muslim.” Pendapat ini pun diakui oleh al-Dzahabi. (Lihat: Dr. Sulaiman al-Asyqar, Al-Qishash al-Ghaib fi Shahih al-Hadits al-Nabawi, [Oman: Daru al-Nafa’is], 2007, cet. pertama, hal. 224). 
 
Baca juga:
 
Di dalamnya dikisahkan bahwa pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pergi bersama para sahabat mengantarkan jenazah seorang sahabat Anshar. Setibanya mereka di pemakaman, penggalian liang lahat belum usai. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun duduk di atas tanah sambil menghadap kiblat. Sementara para sahabat duduk di sekitarnya dengan tenang. 
 
Sambil menungggu penggalian liang lahat usai, beliau kemudian bercerita kepada para sahabat bagaimana keadaan seorang hamba yang zalim dan kufur saat ditemui kematiannya sampai dimasukkan ke liang lahat, lalu ditinggalkan oleh keluarga, kolega, dan para sahabat. Lantas apa saja yang menimpa hamba tersebut setelah itu? 
 
Sesungguhnya, seorang hamba yang kufur dan zalim, ketika akan meninggalkan dunia fana dan memasuki alam baqa, turunlah para malaikat langit dalam rupa yang menakutkan dan menyeramkan. Mereka berlaku kasar dan keras, serta wajah yang hitam legam. Setibanya, mereka duduk di dekatnya sejauh mata memandang. Mereka membawa kain kafan dan minyak dari neraka. Tak lama malaikat maut datang kepadanya dan duduk dekat kepala, lantas membentak, “Wahai jiwa yang kotor, keluarlah kepada murka Allah!”
 
Tak lama kemudian, ruh hamba kufur itu dicabut dan dipisahkan dari jasadnya. Ruh itu sempat mau kabur dan bersembunyi. Namun, malaikat maut segera mencabutnya dengan kasar bagaikan menarik besi berduri dari daging panggang. Kita pun bisa membayangkan, jika menarik tusukan besi berduri dari daging panggang tidak mungkin dilakukan kecuali dengan susah payah. Sebab, jika tidak, daging yang ditariknya akan tersisa pada tusukan. Ini adalah gambaran bagaimana kasar dan kerasnya proses pencabutan ruh dari jasad orang-orang kafir di saat kematian mereka. 
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menggambarkan dalam haditsnya bagaimana keadaan orang kafir dan orang zalim saat dicabut ruhnya, “Maka terputuslah seluruh urat dan saraf-sarafnya.” Di samping itu, seluruh malaikat mengutuk mereka, baik malaikat yang ada di antara langit dan bumi, maupun para malaikat langit. Pintu-pintu langit ditutup untuk ruh hamba yang kotor tersebut. Semua penduduk pintu langit yang dilewatinya menakut-nakuti dan mendoakan agar Allah menjauhkan ruh tadi dari mereka. 
 
Para malaikat yang turut menghadiri kematian sang hamba segera mengambil si ruh kotor yang itu. Setelah diletakkan di atas kain kafan yang mereka bawa dari neraka, ruh pun bertambah kotor. Lebih parah lagi, ruh tersebut mengeluarkan aroma bau yang tak sedap, akibat kekufuran dan amalan-amalan buruknya. Sampai-sampai para malaikat yang dilewati ruh tersebut merasa terganggu. Setelah ditanyakan, satu malaikat yang bertugas menjaganya menjawab, “Ini adalah ruh fulan bin fulan.” Dia menyebutnya dengan nama terburuk yang pernah dipergunakan di dunia. 
 
Begitu sampai di langit dunia, ruh itu tak diizinkan masuk. Sebab, langit tidak pernah dimasuki siapa pun kecuali makhluk-makhluk suci ahli keimanan dan ketakwaan. Sementara makhluk-makhluk yang kufur dan zalim tidak pantas mendapat kemuliaan itu. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melantunkan firman Allah, "Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan," (QS al-A‘raf [7]: 40). 
 
Dalam pada itu, Allah memerintah mereka untuk mencatat nama hamba tersebut dalam sijjin yang ada di lapisan bumi ketujuh. Ini artinya, mereka diperintah untuk menjauhkannya dari bahan mereka diciptakan (bumi). Namun, Allah akan mengembalikan mereka kepada bumi dan mengeluarkannya lagi dari bumi pada hari Kiamat. Demikian yang janjikan-Nya dalam Al-Qur’an. 
 
مِنْها خَلَقْناكُمْ وَفِيها نُعِيدُكُمْ وَمِنْها نُخْرِجُكُمْ تارَةً أُخْرى
 
"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kalian dan kepadanya Kami akan mengembalikan kalian dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kalian pada kali yang lain," (QS Thaha [20]: 55). 
 
Maka dilemparkanlah ruh itu dari langit. Pasalnya, ia tak layak mendapat kemuliaan dan penghormatan. Bagaimana tidak, karena semasa di dunia, ruh tersebut telah melemparkan agama Allah dan menghempaskan syariatnya. Sehingga pantaslah jika ruh seperti itu dibawa dalam keadaan hina dan tidak dimuliakan. Malahan dilemparkan dari langit ketinggian. Ini pula yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya, Barangsiapa menyekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh, (QS al-Hajj [22]: 31). 
 
Ruh pun dikembalikan kepada jasadnya, sehingga ia bisa mendengar jelas suara sandal-sandal orang-orang yang semula menjadi sahabatnya. Mereka pulang ke rumah dan pergi meninggalkan dirinya menyendiri menghadapi nasib yang memprihatinkan. Tidak ada seorang pun yang mampu menolong dirinya dari bahaya. Tidak ada satu pun yang mampu membebaskan dirinya dari prahara yang mengelilinginya. Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara para raja dengan rakyat jelata. Para penguasa telah meninggalkan kekuasaan mereka. Kekayaan telah menelantarkan mereka. Begitu pun keluarga, kawan, dan sahabat. Semuanya telah meninggalkan mereka menghadapi nasib tragis seorang diri. 
 
Tak lama kemudian, malaikat Munkar dan Nakir datang dan menguji mereka dengan sejumlah pertanyaan. Pertanyaannya adalah siapa Tuhan yang mereka sembah, apa agama yang mereka anut, siapa rasul yang mereka teladani. Namun, mereka bungkam tak mampu menjawab. Jawaban mereka hanya, “Hah… hah… tidak tahu… tidak kenal… dan seterusnya.” 
 
Dalam pada itu, terdengar suara panggilan dari langit, “Hambaku itu bohong. Maka hamparkanlah sebuah taman dari neraka untuknya. Bukalah sebuah pintu neraka untuknya. Datangkanlah panas dan aroma neraka untuknya.” Saat itu pula, kuburan disempitkan untuknya sampai tulang-tulang rusuknya menyatu. 
 
Kemudian, diserupakanlah amal buruk hamba itu dalam wujud seorang laki-laki yang berwajah buruk, berpakaian jelek, dan beraroma tak sedap. Laki-laki buruk rupa itu pun menyampaikan, “Ini adalah harimu dimana engkau dijanjikan.” Maksudnya, hari yang telah dijanjikan Allah kepada orang-orang kufur dan zalim dalam kitab-Nya melalui lisan rasul-Nya. 
 
Begitu sang hamba menanyakan identitas laki-laki yang membawa kabar buruk untuk dirinya, dia menjawab, “Aku adalah amal burukmu. Demi Allah aku tidak tahu engkau kecuali lamban menaati Allah dan cepat bermaksiat pada-Nya. Semoga Allah membalas keburukanmu.” 
 
Maka Allah pun menyiapkan para petugas yang akan menyiksa di kuburnya. Petugas itu tunanetra, tunarungu, dan tunawicara. Di tangannya terdapat gagang besi yang apabila dipukulkan pada gunung, ia akan hancur lebur menjadi tanah. Dengan besi itulah sang hamba yang kufur itu dipukuli, sampai hancur menjadi tanah. Setelah hancur, Allah mengembalikannya lagi seperti semula untuk dipukuli. Begitu seterusnya. Setiap kali dipukul teriakannya terdengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. 
 
Selanjutnya, dia melihat kediamannya di surga seandainya dirinya dulu beriman, serta kediamannya di neraka yang akan ditempatinya akibat kekufuran dan kesesatannya. Begitu melihat azab yang telah menantinya, dia lalu berdoa kepada Tuhannya agar tidak didirikan dulu Kiamat. Azab itu pula yang telah membuat dirinya disiksa di alam kubur. Padahal, siksa yang diberikan pada dirinya di alam kubur lebih ringan daripada siksa yang telah menantinya kelak di neraka. Bagaimana tidak, baginya kuburan menjadi salah satu taman neraka. Naudzubillah, mari kita berlindung kepada Allah agar selamat dari siksa neraka, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
 
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ عَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ
 
Artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa api nereka, dari fitnah neraka, dari fitnah kubur, dari azab kubur, dari keburukan fitnah al-Masih Dajjal, dari keburukan fitnah kekayaan, dan dari fitnah kefakiran,” (HR Ahmad). 
 
Walhasil, jika perjalanan orang-orang baik dan orang-orang zalim di dunia saja berbeda, maka apalagi termpat kepulangan masing-masing mereka di akhirat. Setiap dari mereka akan menempuh jalan masing-masing, sebagaimana yang telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari mulai menghadapi kematian sampai orang-orang mukmin mengambil bagiannya di surga dan orang-orang kafir mengambil bagiannya di neraka. Berbahagialah orang yang dinasihati, lalu mengambil nasihat itu. Beruntunglah orang yang tahu lalu belajar. Bergembiralah orang yang sadar lalu menyadari. Dia tidak larut dalam kezaliman. Tidak lalai kepada akhiratnya. Tidak lupa terhadap dirinya. Sampai datang keyakinan (kematian) padanya. Semoga saja kita mendapat pelajaran dari kisah ini. Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
 
Share:

Baca Juga