IMG-LOGO
Trending Now:
Ekonomi Syariah

Kemiripan Margin Jual Beli 'Inah dengan Bunga Flat Akad Perkreditan

Ahad 25 Agustus 2019 13:00 WIB
Kemiripan Margin Jual Beli 'Inah dengan Bunga Flat Akad Perkreditan
(Ilustrasi: via azertag.az)
Bai’ul-’inah merupakan akad jual beli yang mana pihak penjual membawa barang ke pembeli, kemudian ia membeli lagi barang tersebut secara kredit (taqshith). Syekh Wahbah al-Zuhaili mendefinisikannya sebagai:
 
بيع سلعة بثمن مؤجل إلى مدة بمئة درهم، ثم شراؤها من المشتري في الحال بمئة وعشرة
 
Artinya: "Bai’ul-’inah adalah jual beli barang dengan harga diangsur sampai suatu masa, misalnya seharga 100 dirham, kemudian dibeli kembali dari pembelinya secara cash dengan harga 110 dirham" (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhû, Beirut: Dâru al-Fikr, tt.: 4/203).
 
Lebih lanjut, Syekh Wahbah memberikan contoh praktiknya sebagai berikut:
 
وبيع العينة: أن يقول شخص لآخر: اشتر سلعة بعشرة نقدا، وأنا آخذها منك باثني عشر لأجل
 
Artinya: "Bai’ul-’inah adalah seperti jika seseorang berkata kepada pihak lain: 'Belilah barang ini dengan harga cash 10 dirham, dan aku akan membelinya darimu dengan harga 12 dirham secara tempo," (al-Zuhaili, al-Wajîz fi Ushûl al-Fiqh, Beirut: Dâru al-Fikr, tt.: 111).
 
Adapun tentang kejelasan hukum dari bai’ul-’inah ini, Syekh Wahbah menyebutkan:
 
فيكون بيع العينة ممنوعا غير جائز عند مالك وأبي حنيفة وأحمد والهادوية من الزيدية. وجوز ذلك الشافعي وأصحابه مستدلين على الجواز في الظاهر بما وقع من ألفاظ البيع التي لايراد بها حصول مضمونه
 
Artinya: "Jual beli 'inah adalah dilarang serta tidak bolej menurut Imam Malik, Abu Hanifah, Imam Ahmad, kalangan ulama' Hadawiyah pengikut Mazhab Zaidiyah. Akan tetapi, Imam Syafii beserta para pengikut mazhabnya membolehkan praktik ini dengan beristidlal atas kebolehannya berdasar bunyi literal teks yang menunjukkan konsekuensi lafadh, berupa tidak ditolaknya tercapainya maksud tertanggungnya barang," (al-Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhû, Beirut: Dâru al-Fikr, tt.: 4/541).
 
 
Dengan berpatokan pada istidlal yang membolehkan praktik bai’ul-’inah ini, maka jual beli yang sah menurut mazhab Syafii adalah bila harganya ma'lûm (diketahui). Jika suatu misal, ditetapkan harga beli kembali secara tempo adalah sebesar 120 dirham dari asalnya 100 dirham secara cash, dengan tempo selama 1 tahun, maka itu menandakan bahwa pokok harga adalah 100 dirham. Selisih sebesar 20 dirham dibagi selama 12 bulan, maka setiap bulannya cicilan keuntungan itu adalah sebesar 1.67 dirham. Adapun pokok utang dibagi 12 bulan, adalah setara dengan 8.33 dirham. Dengan demikian, total angsuran setiap bulan yang menjadi kewajiban nasabah adalah sebesar, 8.33 dirham ditambah 1.67 dirham, sama dengan 10 dirham. 
 
Sekarang mari bandingkan dengan konsepsi bunga flat. Bunga flat (flat interest) merupakan bunga yang diambil dengan mendasarkan diri pada pembagian tetap selama setiap bulannya. Misalnya, bunga kredit itu ditetapkan sebesar 12% dari bunga pokok pinjaman, maka nilai bunga selama 1 bulannya dalam 1 tahun adalah sebesar 1% dari pokok pinjaman. Jika pinjaman pokok ke bank adalah senilai 100 dirham, maka besaran bunganya per bulan adalah senilai 1 dirham (1% x 100 dirham). Nilai 1 dirham ini dibayarkan setiap bulannya secara tetap ditambah pokok pinjaman dibagi 12 bulan, sama dengan 8.33 dirham. Dengan demikian, nilai total cicilan kredit per bulan menjadi sebesar 8.33 dirham ditambah 1 dirham, sama dengan 9.33 dirham. Dengan demikian total pengembalian kredit ini berdasar ketetapan bunga flat, adalah sebesar 9.33 dikalikan 12 bulan, sama dengan 111.96 dirham. 
 
Jika suku bunga flat ditetapkan sebesar 20%, maka total pengembalian kredit dalam satu tahun adalah senilai 120 dirham. Selisih 20 dirham apabila dibagi 12 bulan, maka total pembagian selisih 20 dirham dalam 1 tahun, akan menemui angka yang sama dengan perhitungan sebelumnya, yaitu senilai 1.67 dirham per bulan. Dengan demikian, perhitungan cicilan kredit per bulan, menjadi senilai 8.33 dirham ditambah 1.67 dirham, sama dengan 120 dirham. 
 
Jadi, nilai akhir dari kredit yang harus dibayarkan ternyata memiliki kesamaan nilai total margin yang ditetapkan dari hasil jual beli 'inah. Yang membedakan keduanya, adalah soal kejelasan harga (harga diketahui/ma‘lûm). Kejelasan harga jual beli 'inah ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara dua pihak, yakni 20 dirham. Sementara itu, pada bunga kredit perbankan, ketetapan senilai 12% atau 20% ditetapkan oleh pihak bank itu sendiri, dan diridhai nasabah. Relanya nasabah tercantum dalam klausul akad. Sampai di sini, yang sering mengundang tanda tanya adalah, apakah persentase bunga ini masih belum memenuhi syarat kejelasan harga?
 
Padahal, seandainya dikalkulasi, segi kejelasan harga ini sejatinya sudah dapat diketahui secara pasti berdasar ketetapan bunganya. Sebut misalnya, pinjaman pokok adalah 100 dirham, kemudian suku bunga yang ditetapkan selama satu tahun adalah 12%, maka bukankah hal ini sama dengan harga barang secara kredit adalah senilai 100 ditambah 12 dirham (berasal dari perhitungan 12% x 100 dirham)? Jadi, total harga kredit menjadi senilai 112 dirham yang diangsur selama 1 tahun. Bagaimana menurut anda? Wallahu a'lam bish shawâb.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
 
Share:

Baca Juga