IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Tiga Orang yang Diseret ke Neraka

Ahad 1 September 2019 21:15 WIB
Share:
Kisah Tiga Orang yang Diseret ke Neraka
Allah akan melindungi dan menjaga orang yang senantiasa memohon perlindungan-Nya. (Ilustrasi: NU Online)
Bagi seorang mukmin, berprasangka baik (husnudh dhann) kepada Allah amatlah besar faedahnya, bahkan mampu menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Contohnya seperti yang dikisahkan dalam salah satu hadits sahih. 
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan mauqûf sampai Ibnu ‘Abbas. Ibnu Katsir berkomentar bahwa sanadnya sahih (lihat: Tafsîr Ibn Katsîr, jilid 6, hal. 97, Surat al-Furqan, ayat 12; al-Nihâyah fî al-Fitan wa al-Malâhim, hal. 221). Meski statusnya mauqûf sampai Ibnu ‘Abbas, tetapi dihukumi marfû‘. Sebab Ibnu ‘Abbas tidak mungkin menyampaikannya berdasarkan akal dan logika nalar semata. Ia menuturkan:
 
إِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَرُّ إِلَى النَّارِ، فَتَنْزَوِي وَيَنْقَبِضُ بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، فَيَقُولُ لَهَا الرَّحْمَنُ: مَا لَكِ؟ فَتَقُولُ: إِنَّهُ لَيَسْتَجِيرُ مِنِّي فَيَقُولُ: أَرْسِلُوا عَبْدِي وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَرُّ إِلَى النَّارِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ مَا كَانَ هَذَا الظَّنَّ بِكَ فَيَقُولُ: فَمَا كَانَ ظَنُّكَ؟ فَيَقُولُ: أَنْ تَسَعَنِيَ رَحْمَتُكَ قَالَ: فَيَقُولُ أَرْسِلُوا عَبْدِي وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُجَرُّ إِلَى النَّارِ فَتَشْهَقُ إِلَيْهِ النَّارُ شُهُوقَ الْبَغْلَةِ إِلَى الشَّعِيرِ, وَتَزْفَرُ زَفْرَةً لَا يَبْقَى أحَدٌ إِلَّا خَافَ
 
Artinya: “Ada seorang laki-laki yang diseret ke dalam neraka. Namun, nereka malah menjauhkan diri dan bagian-bagiannya menciut satu sama lain. Allah Yang Maha-Rahman bertanya kepada neraka, ‘Apa yang terjadi padamu?’ Nereka menjawab, ‘Laki-laki itu selalu memohon perlindungan (pada-Mu) agar selamat dariku.’ Kemudian, Allah berfirman kepada para malaikat, ‘Bebaskanlah hamba-Ku itu.’ Selanjutnya, ada lagi laki-laki yang tengah diseret ke neraka. Saat diseret, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, bukankah ini prasangka (baik) pada-Mu.’ Allah lalu bertanya, ‘Apa prasangka baikmu?’ Dia menjawab, ‘Rahmat-Mu akan meliputiku.’ Maka Allah kembali berfirman kepada para malaikat, ‘Bebaskanlah hamba-Ku.’ Terakhir, ada lagi laki-laki yang diseret ke dalam neraka, tapi nereka malah berteriak melengking kepadanya tak beda dengan seperti tarikan bigal saat melihat gandum, lalu meringkik dengan keras tatkala semua orang di sana ketakutan.”
 
Hadits di atas mengabarkan kepada kita tentang keadaan tiga orang laki-laki yang diseret ke dalam neraka pada hari Kiamat. Namun, yang dua orang berhasil selamat. Yang pertama selamat karena selalu memohon perlindungan kepada Allah. Yang kedua selamat karena prasangka baiknya kepada Allah. Dan yang ketiga celaka karena dibinasakan oleh dosa dan kemaksiatannya sendiri. 
 
Saat laki-laki pertama diseret, neraka justru menjauhkan diri dan menciut. Maka Allah bertanya kepada neraka mengapa ia menjauhkan diri dan menciut dari laki-laki itu. Tentu, Allah maha tahu tentang alasannya. Maka neraka menjawab, “Karena dia senantiasa memohon perlindungan pada-Mu dariku.” 
 
Melihat keadaan itu, Allah berfirman kepada para malaikat, “Bebaskan saja hamba-Ku itu.” Akhirnya laki-laki yang pertama selamat dari neraka. 
 
Kemudian laki-laki yang kedua saat diseret para malaikat ke dalam neraka, berdoa, “Ya Tuhanku, bukankah ini prasangka baik pada-Mu?” Maka Allah menjawab, “Apa prasangkia baikmu?” Si laki-laki menjawab, “Rahmat-Mu akan meliputiku.” 
 
Mendengar demikian, Allah berfirman lagi kepada para malaikat, “Lepaskanlah hamba-Ku.” Sungguh hamba itu telah ditunjukkan kepada jawaban yang baik. Sehingga berkat jawaban dan prasangka baiknya kepada Allah, dia diselamatkan dan selamat dari neraka. 
 
Sementara pada saat diseret malaikat, laki-laki yang ketiga tidak melakukan seperti yang dilakukan dua orang laki-laki lainnya. Begitu melihat laki-laki itu didekatkan kepadanya, neraka malah melengking dan meringkik tak ubahnya teriakan seekor keledai saat melihat pakan, sampai-sampai teriakan dan ringkikannya nyaris mencopotkan jantung siapa pun yang mendengarnya. Kondisi itu seperti yang telah dibenarkan dalam Al-Qur'an: "Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya," (QS al-Furqan [25]: 12). 
 
Baca juga:
 
Dari kisah hadits di atas, dapat ditarik beberapa beberapa pesan dan perlajaran. 
 
Pertama, orang-orang mukmin yang bermaksiat akan dijebloskan ke dalam neraka. Namun, sebagian dari mereka ada yang selamat dan tidak jadi dimasukkan ke dalamnya. Contohnya seperti kedua laki-laki yang dikisahkan di atas. 
 
Kedua, memohon perlindungan dan pertolongan kepada Allah sangat berguna di dunia dan di akhirat. Allah akan melindungi dan menjaga orang yang senantiasa memohon perlindungan-Nya. 
 
Ketiga, berbaik sangka kepada Allah termasuk perkara yang akan menyelamatkan seorang hamba dari kesengsaraan dan kebinasaan, terutama pada saat-saat yang genting ketika ia tak lagi punya pilihan kecuali berbaik sangka pada-Nya, seperti pada saat kematian dan hari Kiamat. 
 
Keempat, nash hadits di atas mengindikasikan bahwa neraka senantiasa melihat dan memperhatikan sedari jauh para penghuni yang datang kepadanya. Neraka juga memiliki lisan untuk bicara. Bahkan, neraka juga bisa geram dan sangat menantikan para penghuninya. 
 
Dalam Sunan al-Tirmidzi dengan sanad sahih dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Pada hari Kiamat leher neraka akan keluar. Ia memiliki dua mata yang bisa melihat, dua telinga yang bisa mendengar, dan lisan yang bisa bicara. Lisan itu berkata, 'Aku dipercaya menghadapi tiga golongan: penguasa semena-mena dan menentang, orang yang berdoa bersama tuhan lain (muyrik), dan orang yang suka menggambar (patung)',” (HR al-Tirmidzi). 
 
Naudzu billah. Marilah kita berlindung kepada Allah dari siksa neraka yang amat pedih. Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
Share:

Baca Juga

Jumat 30 Agustus 2019 5:0 WIB
Asal Mula Gelar 'Raja Para Wali' untuk Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Asal Mula Gelar 'Raja Para Wali' untuk Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Syekh Abdul Qadir Jailani (Ilustrasi: NU Online)
Kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah (Yaman: Dar al-Ilmi wa ad-Da`wah, 2018) karya Habib Ali Hasan Baharun merupakan bunga rampai dari perkataan-perkataan gurunya, yaitu Habib Zain bin Ibrahim bin Smith. Kitab tersebut berisi tentang wejangan-wejangan para ulama, wali, habaib, dan termasuk kisah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam perjalanannya memperoleh gelar sulthanul auliya (raja dari seluruh para wali).

Di waktu menimba ilmu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berteman dengan dua orang yang bisa dibilang cukup cerdas dan pandai yaitu Ibnu Saqa dan Ibnu Abi `Asrun. Pertemanan itu berlanjut hingga mereka bertiga ingin mengunjungi seorang wali berpangkat wali al-ghouts, rumah wali tersebut cukup jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Mungkin lebih tepatnya bisa dikatakan pelosok banget. Tapi, keinginan mereka untuk bertemu sang wali tidak terhalang walau jarak yang demikian jauh dan sudah barang tentu kunjungan mereka tak lepas dari maksud dan tujuan.

Dalam perjalanan, mereka saling bertanya satu sama lain terkait tujuan dan niat masing-masing. Dengan polosnya Ibnu Abi `Usrun memulai pertanyaan kepada Ibnu Saqa.

“Hei Saqa, kamu mau ngapain bertemu wali itu?” 

“Aku akan mengajukan sebuah pertanyaan yang begitu sulit, hingga ia bingung dan tidak mampu untuk menjawabnya, ha.. ha.. Aku ini kan orang cerdas, jadi, sudah sepatutnya menguji kedalaman ilmu seorang wali,” jawabnya. 

Tak menunggu lama Ibnu Abi `Asrun pun mengatakan maksudnya. 

“Kalau aku ingin bertanya tentang sesuatu yang aku yakin dia tidak mampu untuk menjawabnya,” tuturnya.

Pada hakikatnya tujuan dari keduanya sama yakni ingin menguji ketinggian ilmu dari seorang wali. Mungkin karena Syekh Abdul Qadir Al-Jailani tidak segera mengutarakan niatnya, akhirnya mereka berdua bertanya.

“Qadir, kamu mau mengajukan pertanyaan seperti kami atau ada hal lain?” 

“Saya tidak mau bertanya apa-apa?” jawabnya. 

Lalu mereka pun bertanya lagi. 

“Lho, terus kamu ini mau apa? Hanya mau mengikuti kami?” 

“Saya itu gak punya pertanyaan yang mau diajukan. Saya hanya ingin sowan saja dan mengharap berkah darinya. Itu saja cukup kok, karena orang seperti ini biasanya hanya disibukkan dengan kekasihnya yaitu Allah SWT,” jelas Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Dari dialog mereka, kita sudah bisa melihat sifat dan sikap mereka terhadap kekasih Allah SWT. Kesombongan dan rendah diri manusia, juga bisa diukur dengan sebuah perkataan. Kesombongan terhadap orang lain terjadi ketika kita memposisikan diri kita lebih tinggi atau lebih hebat daripada orang lain. Sementara, orang yang rendah hati tetap memposisikan dirinya sebagai penerima anugrah ilahi yang tidak sempurna dan lemah. Dia merasa memperoleh segala sesuatunya karena karunia Allah bukan karena kegagahan dan kehebatannya.

Sesampainya di kediaman wali al-ghouts, mereka mengetuk pintu rumahnya. Tapi, sang wali tak kunjung membuka pintu, malahan ia memperlambat jalannya. Kemudian, wali tersebut keluar dalam keadaan marah seraya bertanya. 

“Siapa di antara kalian yang bernama Ibnu Saqa?” 

“Saya, wahai Syekh,” jawab Ibnu Saqa. 

Tak banyak bicara, wali itu pun langsung menebak pertanyaan Ibnu Saqa dan langsung memberikan jawabannya secara detail, begitu pula dengan pertanyaan dan jawaban Ibnu Abi `Asrun dan langsung mengusir mereka berdua dari hadapannya. Sebelum mereka berdua beranjak dari kediamannya, wali itu  meng-kasyaf (membaca lewat batin) mereka berdua dengan karamahnya. 

“Hai Ibnu Saqa, dalam pandangan batinku, aku melihat ada api kekufuran yang menyala dalam tulang rusukmu. Dan kamu Ibnu Abi `Asrun, sesungguhnya aku melihat dunia berjatuhan menimpa tubuhmu.”

Sampai pada giliran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, wali al-ghouts hanya memandang sekujur tubuhnya, dan tak lama kemudian, ia pun berkata.

“Wahai anakku, Abdul Qadir, aku tahu tujuan kamu ke sini hanya ingin berkah dariku, dan insyaallah tujuan baikmu akan tercapai.” 

Sebelum menyuruh pergi Abdul Qadir, ia berkata, “Aku melihat kamu berkata padaku, ‘kakiku ini berada di leher seluruh para wali di dunia ini’, sekarang pergilah anakku!”

Selang beberapa hari dari kejadian aneh itu, Ibnu Saqa dipanggil oleh raja di negerinya dan diperintahkan untuk pergi menemui ulama Nasrani agar ia berdebat dengan para ulama pentolan-pentolan Nasrani. Dalam perjalanan menuju ulama Nasrani, ia bertemu dengan seorang gadis cantik keturunan Nasrani dan jatuh cinta kepadanya. Namun, hubungan cinta mereka berdua tidak direstui. Tanpa pikir panjang akhirnya dia menemui ayahnya dan menyampakan bahwa dia sungguh mencintainya dan siap berkorban apa pun. 

Akhirnya terbukti perkataan wali al-ghouts bahwa ada api yang menyala dalam tulang rusuknya dan benar, ia telah menggadaikan agamanya dengan agama Nasrani. 

Sedangkan Ibnu Abi `Asrun, diberi jabatan oleh raja di negerinya untuk mengurusi harta wakaf dan sedekah dan jabatan itu datang terus menerus dari seluruh penjuru kota tersebut. Kemudian dia sadar bahwa ini merupakan doa dari wali al-ghouts. 

Sementara Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mendapatkan maqam tertinggi dari Allah SWT berkat sikap rendah dirinya kepada seorang wali dan beliau diangkat menjadi raja dari seluruh para wali di muka bumi. 

Pada saat mengajar muridnya, dia pun berkata seperti apa yang dikatakan wali al-ghouts, “kakiku ini berada di atas lehernya seluruh para wali,” dan perkataannya didengar oleh seluruh wali di penjuru dunia, lalu mereka berikrar “sami`na wa atha`na.”

Ada sedikit hikmah yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian ini, bahwa siapa pun kita tidaklah pantas mengedepankan kelebihan karena di atas langit masih ada langit. Sikap rendah diri haruslah menjadi prioritas utama setiap manusia, mengingat ilmu tidak lebih diutamakan daripada akhlak. Sebagaimana perkataan Sayyid Muhammad Alwi Al- Maliki, “Al-Adab qabla al-`Ilmi (adab lebih didahulukan daripada ilmu).” Wallahu a’lamu bish-shawab.
 
 
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo
Jl. KHR. Syamsul Arifin, Sukorejo, Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur Email: hilmikamila241@gmail.com
Kamis 29 Agustus 2019 3:0 WIB
Kisah Kerinduan Seorang Ibu kepada Putrinya di Alam Kubur
Kisah Kerinduan Seorang Ibu kepada Putrinya di Alam Kubur
Kuburan (ilustrasi: NU Online)
Dikisahkan dalam kitab As’ad Arrofiq sarah dari Sulam At-Taufiq halaman 29, pada suatu masa ada seorang ibu yang ditinggal mati oleh anak perempuanya. Kesehariannya tiada yang menemani. Makan minumnya selalu dibayang-bayangi keadaaan sang putri.

Rasa kuatir akan keadaan putrinya di alam kubur semakin menyiksa. Hingga pada suatu hari sang ibu itu sowan kepada Imam Hasan yang pada masa itu adalah seorang alim.

“Wahai Imam Hasan, tolong berikan aku sebuah amalan agar aku bisa melihat keadaan putri ku di alam kubur sana,” pintanya.

“Apakah kamu benar-benar menginginkannnya?” jawab Imam Hasan memastikan.

“Benar,” ucap ibu tersebut dengan penuh keyakinan.

“Lakukanlah shalat 4 rakaat setelah shalat Isya. Pada setiap rakaat, selesai membaca Fatihah, bacalah surat At-Takasur. Setelah itu, menghadaplah ke arah barat laut dan bershalawatlah kepada Nabi Muhammad SAW hingga tertidur”

Ibu itu pun segera melaksanakan apa yang telah diberikan Imam Hasan. Dalam mimpinya ibu tersebut sungguh bertemu dengan sang putri, yang dimana keadaan putrinya sedang dalam keadaan disiksa. Tidak tega melihat kejadian itu, ibu itu pun terbangun dari mimpinya.

Keesokan harinya, sang ibu itu datang lagi kepada Imam Hasan dan menjelaskan apa yang menjadi hajatnya.

“Wahai Imam Hasan, kemarin saya sudah melaksanakan amalan yang engkau berikan. Dan saya benar-benar bertemu dengan putri saya dalam keadaan sedang disiksa. Tolong berikan saya amalan lagi agar putri saya terbebas dari siksanya.”

Lalu Imam Hasan menyuruh ibu tersebut untuk bersedekah yang pahalanya itu  di tujukan untuk sang putri.

Selang beberapa hari setelah sowannya ibu tersebut, Imam Hasan bermimpin dalam tidurnya. Dalam mimpi itu, Imam Hasan bertemu dengan seorang perempuan yang berada di sebuah singgasana yang dan di atas kepalanya terdapat mahkota yang berkilau. 

“Apakah engkau mengenalku wahai Imam Hasan?” tanya perempuan itu dalam mimpi Imam Hasan,

“Tidak. Lalu siapakah engkau?” tanya Imam Hasan.

“Aku adalah putri dari seorang ibu yang datang kepadamu,” jawabnya.  

“Tapi, apa yang diceritakan ibumu itu berbeda dengan yang sekarang aku lihat. Bagaimana itu bisa terjadi?” tanya Imam Hasan penasaran.

“Sesuai amalan yang engkau berikan kepada ibu saya, bersedekah yang pahalanya itu itu ditujukan kepadaku, dan amalan itulah yang membuatku terbebas dari siksa kubur. Tepat pada hari itu juga, ada seorang waliyullah yang bershalawat sebanyak 3 kali yang pahalanya itu ditujukan kepada ahli kubur, dan amalan itulah yang membuatku mulia seperti yang engkau lihat.” Cerita perempuan itu kepada Imam Hasan.

Lalu, Imam hasan-pun menceritakan mimpinya kepada ibu tersebut. Mendengar cerita Imam Hasan, ibu tersebut pun merasa lega dengan keadaan putrinya dialam kubur sana.
 
 
Riyan Hidayatulloh, santri Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, tanggungharjo, Grobogan
  

 
Senin 26 Agustus 2019 19:30 WIB
Kecerdasan Nabi Sulaiman dan Kisah Anak Diterkam Serigala
Kecerdasan Nabi Sulaiman dan Kisah Anak Diterkam Serigala
Menguji kepekaan perasaan kadang lebih akurat dalam memutuskan perkara sengketa. (Ilustrasi: NU Online/Mahbib)
Alkisah, ada dua orang wanita yang mengadukan perkara kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam. Perkara mereka bermula saat salah seorang anak mereka diterkam serigala. Keduanya pun terlibat perselisihan dan saling klaim bahwa anak yang masih hidup adalah anaknya.  
 
Wanita yang lebih tua berkata, “Anakmu telah dimakan serigala. Dan ini anakku.” 
 
Wanita yang lebih muda pun tak mau kalah, “Justru yang dimakan serigala adalah anakmu. Dan ini anakku.” 
 
Berdasarkan pengaduan mereka dan bukti-bukti yang ada, Nabi Dawud ‘alaihissalam pun memutuskan bahwa anak yang masih hidup adalah anak wanita yang lebih tua, sedangkan anak wanita yang lebih muda telah diterkam serigala. 
 
Atas putusan itu, wanita yang lebih tua segera mengambil anaknya dengan penuh rasa senang. Sementara wanita yang lebih muda pulang sambil menahan kesedihan dan meratapi nasib yang dialaminya. Rupanya keadaan mereka berdua terlihat oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Beliau kemudian memanggil dan menanyai mereka. Mereka pun bercerita apa yang telah menimpa, termasuk apa yang telah diputuskan Sang Ayah Nabi Dawud ‘alaihissalam.
 
Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memang dikenal seorang nabi yang memiliki pandangan tajam, diberi hikmah yang mendalam oleh Allah subhanahu wata’ala dan diajari bagaimana menjelaskan seruan-Nya. Dalam hati, beliau berpikir, “Yang dapat memutus perkara ini adalah perasaan yang lembut, bukan akal. Karena itu, aku akan meminta pandangan kedua wanita itu. Siapa yang kecintaannya lebih besar terhadap si anak, maka aku akan berikan anak itu padanya.” 
 
Kemudian, Nabi Sulaiman bertanya kepada mereka, “Masing-masing meyakini bahwa ini adalah anak kalian?” 
 
“Betul,” jawab mereka.   
 
“Dan kalian mengklaim itu adalah anak kalian?” 
 
“Betul sekali.”
 
“Sekarang berikanlah aku pisau tajam untuk membelah anak ini jadi dua!”
 
Sontak wanita yang lebih muda berteriak keras, “Jangan, jangan lakukan itu! Itu anak dia!” Sementara wanita yang lebih tua hanya diam. 
 
Akhirnya, wanita yang lebih muda merelakan anaknya diberikan kepada wanita yang lebih tua agar si anak bisa tumbuh bersamanya daripada harus dibelah dua. Dengan tumbuhnya si anak itu, walaupun bukan dalam asuhan dirinya, si wanita muda merasa lebih tenang. Memang, ibu mana yang tega melihat anaknya dibelah dua? Dari situ saja Nabi ‘alaihissalam bisa melihat, hingga kemudian beliau melirik kepada wanita yang lebih muda dan berkata, “Berarti itu adalah anakmu, ambillah!”
 
Demikian kisah yang disarikan dari hadits sahih yang diriwayatkan al-Bukhari dalam Shahîh-nya, tepatnya dalam Kitâb Ahâdîts al-AnbiyâBâb Tarjamah Sulaimân, jilid 6, hal. 458, nomor hadits 3427, juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitâb al-Aqdhiyah, Bâb Ikhtilâf al-Mujtahidîn, jilid 3, hal. 1344, nomor hadits 1720. 
 
Dari kisah hadits di atas dapat dipetik beberapa kesimpulan dan pelajaran bagi kita, di antaranya:  
 
1. Hadits di atas menyebutkan keutamaan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sekaligus kekuatan pemahaman yang diberikan Allah kepadanya, serta kemampuan dalam melahirkan keputusan hukum yang tepat atas perkara-perkara yang samar dan memiliki kemiripan satu sama lain. 
 
2. Seorang hakim diperbolehkan menunjukkan suatu perbuatan yang sesungguhnya tidak ingin dilakukannya, seperti halnya Nabi Sulaiman meminta orang-orang di sekitarnya membawa pisau untuk membelah dua anak dari kedua wanita yang sedang berperkara. Sejatinya, Nabi Sulaiman tidak ingin membelah anak itu. Hanya saja, ia ingin menegakkan kebenaran. Bahkan, Imam al-Nasa’ memberi judul hadits ini dengan “Usaha hakim dengan mengatakan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya, ‘Maka lakukanlah demi mengetahui kebenaran.’” (HR al-Nasai).        
 
3. Hadits ini boleh dijadikan dalil oleh seorang wanita untuk membatalkan keputusan hakim atau memilih keputusan hakim lain yang lebih unggul. 
 
4. Mencari bukti perkara yang diperselisihkan dengan sejumlah indikasi atau tanda, dianjurkan manakala tidak ada bukti-bukti yang jelas.
 
5. Kisah ini menunjukkan bahwa seorang hakim yang alim akan mendapatkan pahala, baik benar maupun salah. Allah sendiri telah mengakui Nabi Sulaiman sebagai hakim yang memahami hakikat dan substansi hukum. Meski demikian, Allah tetap memuji Nabi Dawud dan Nabi Sualaiman, tidak pula menyalahkan Nabi Dawud yang terbukti bersalah dalam menetapkan keputusan hukum. Simaklah firman-Nya berikut ini, Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya, (Q.S. al-Anbiyâ [21]: 79). 
 
6. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga telah menegaskan bahwa hakim yang benar dalam keputusan hukumnya akan mendapatkan dua pahala, sedangkan hakim yang salah akan mendapatkan satu pahala.  
 
7. Dengan ijtihad masing-masing, para nabi terbiasa mengadili perkara yang diajukan kepada mereka. Karena itu, tak mengherankan jika Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman berbeda dalam keputusan hukumnya. Andai mereka menetapkan dengan wahyu, tentu tidak akan terjadi perbedaan amar putusan. 
 
8. Kecerdasan dan pemahaman terhadap hukum tidak bergantung pada usia. Orang yang masih muda adakalanya lebih paham dan lebih menguasai masalah dibanding orang yang lebih sepuh. Contohnya, Nabi Sulaiman yang merupakan seorang anak lebih memahami perkara dibanding Nabi Dawud sebagai ayahnya. Begitu pula ‘Abdullah ibn ‘Umar lebih mampu menjawab pertanyaan yang diajukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibanding para sahabat senior. Padahal, di tengah para sahabat senior ada Abu Bakar al-Shidiq dan ‘Umar ibn al-Khathab. Demikian yang diriwayatkan oleh al-Bukhari.  (Lihat: Dr. Sulaiman al-Asyqar, Shahîh al-Qashash al-Nabawî, [Oman: Daru al-Nafa’is], 1997, cet. pertama, hal. 156). Walllahu a’lam.     
 
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.