IMG-LOGO
Hikmah

Kagumnya Setan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Sabtu 14 September 2019 7:0 WIB
Share:
Kagumnya Setan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Kedalaman ilmu dan ketajaman batinlah yang membuat Syekh Abdul Qadir al-Jailani tak mempan oleh berbagai godaan. (Ilustrasi: mokashfiya.net)
Seperti yang telah diceritakan sebelumnya bahwa Syekh Abdul Qadir al-Jailani mendapatkan gelar ‘Raja Para Wali’ dengan sikap tunduk dan rendah diri. Begitu beliau sudah mendapatkan gelarnya, justru malah tidak mudah menjaga gelar itu dari godaan-godaan setan. Karena semakin tinggi kedudukan seseorang di hadapan Allah ﷻ, maka ia harus siap menanggung ujian yang lebih berat lagi dari Tuhannya. Setan terus menggoda manusia dan para kekasih Allah ﷻ hingga hari kiamat agar terjerumus dalam api neraka, tak terkecuali Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Dalam satu kisah, ketika Syekh Abdul Qadir al-Jailani lagi menyendiri beliau dikagetkan dengan datangnya sebuah cahaya besar yang memenuhi penjuru langit. Lalu bayangan itu datang dan memanggil beliau.
 
“Wahai Abdul Qadir aku ini Tuhanmu. Kamu adalah kekasihku, aku akan meringankan syariat untukmu. Apa yang aku haramkan sebelumnya, sekarang aku halalkan untukmu,” kata bayangan itu.
 
“Wahai yang terlaknat, pergi kamu sekarang dari hadapanku. Kalau tidak, akan aku hancurkan kamu,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Begitulah setan menggoda para kekasih-Nya, ia mengaku dirinya sebagai Tuhan, agar Syekh Abdul Qadir al-Jailani percaya dan mengikuti perintah-Nya. Namun, Allah ﷻ tidak akan membiarkan kekasih-Nya terjerumus ke dalam jalan yang salah. Setan diberikan kebebasan oleh Allah ﷻ untuk menggoda manusia, sebagai manifestasi keadilan kepada seluruh makhluk-Nya.
 
Sesaat setelah kejadian dialog tersebut, tiba-tiba cahaya itu padam dan sedikit demi sedikit hilang dari pandangan Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau terus menyendiri menikmati keindahan alam sebagai bukti kebesaran Allah ﷻ. Tak lama kemudian, bayangan yang tadi menghilang, kembali memanggil Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam wujud kabut dan berkata;
 
“Kamu selamat dari godaanku wahai Abdul Qadir karena dua alasan; pertama karena ilmumu (fiqih) yang telah melekat dalam jiwamu, engkau mampu membedakan mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah). Kedua karena kondisi spiritualmu dan ibadahmu, Allah ﷻ membukakan hatimu dan membimbingmu menuju jalan yang benar,” tegas kabut tersebut.
 
“Apa yang aku miliki saat ini, semuanya hanya milik Sang Pencipta. Aku selamat darimu berkat Tuhanku,” jelas Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
“Perlu kamu ketahui Abdul Qadir, aku telah menyesatkan sebanyak 70 orang ahli ibadah dengan cara seperti ini dan hanya kamu yang selamat. Dari mana kamu tau bahwa aku ini Setan?” tanya kabut itu.
 
“Semua karena fadilah Allah ﷻ, aku diberi petunjuk oleh-Nya melalui perkataanmu ‘Apa yang aku haramkan sebelumnya, sekarang aku halalkan untukmu’ dan saat itu aku yakin kamu adalah Setan. Karena kalau memang Allah ﷻ ingin menghapus syariatnya, tentulah orang yang pertama kali akan terlepas dari syariat-Nya adalah para nabi, dan itu sangat mustahil,” jawab Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
 
Melihat percakapan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan Setan, sudah jelas bahwa keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhannya begitu mendalam. Hal itu sudah barang tentu tidak lepas dari ilmu yang dimiliki beliau. Begitu pentingnya ilmu, tak heran jika Rasulullah ﷺ selalu memohon tambahan ilmu kepada-Nya; 
 
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِيْ عِلْماً
 
“Dan katakanlah Muhammad; ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu pengetahuan.”
 
Ada hikmah menarik dari kisah di atas, bahwa kita harus selalu menimba ilmu. Karena dengan ilmu itu kita akan selamat dari godaan setan. Perlu di ingat bahwa setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia hingga kiamat. Sebagai manusia yang tidak lepas dari salah dan keliru, sudah sepatutnya terus belajar menempa diri dengan ilmu Allah ﷻ. Sudah banyak di dalam Hadist maupun Al-Qur`an penjelasan akan pentingnya mencari ilmu.
 
Salah satu perbedaan antara manusia dengan yang lain adalah aspek akal. Dengan kelebihan itu, manusia dapat menerima ilmu. Sebagaimana Allah ﷻ mengajarkan Nabi Adam a.s akan nama-nama benda yang ada di muka bumi ini, dalam surat al-Baqarah ayat 31, Allah ﷻ berfirman, “Dan dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman; sebutkan kepada-Ku nama semua benda ini, jika kamu yang benar.”
 
Melihat firman Allah ﷻ di atas, telah mafhum bahwa manusia memiliki kelebihan daripada makhluk yang lain. Namun, itu semua kembali kepada manusia itu sendiri bisakah manusia tersebut mempergunakan kelebihan itu sebaik mungkin? Perlu diketahui bahwa posisi manusia berada diantara setan dan malaikat. Jika manusia tidak mampu menguasai hawa nafsunya, maka ia lebih buruk daripada setan. Sebaliknya, jika manusia mampu menguasai hawa nafsunya dan mengikuti perintah-Nya, maka derajatnya lebih tinggi dari malaikat. Wallahu a’lamu bish-shawab.
 
 
Hilmi Ridho, santri Ma`had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah Sukorejo
 
 
Kisah ini disadur dari kitab al-Fawâid al-Mukhtârah li Sâliki Ṭarîq al-Âkhirah karya Habib Ali bin Hasan Baharun.
 
Share:

Baca Juga

Rabu 11 September 2019 5:47 WIB
Kisah Husein, Cucu Nabi yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram
Kisah Husein, Cucu Nabi yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram
Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. (Ilustrasi: NU Online)
Lelaki itu berusia sekitar 58 tahun. Pada hari kesepuluh bulan Muharram, di tahun 61 H, selepas menunaikan shalat subuh, dia bergegas keluar tenda dan menaiki kuda kesayangannya. Pria itu menatap pasukan yang tengah mengepungnya. Mulailah dia berpidato yang begitu indah dan menyentuh hati:

قال:
أما بعد، فانسبوني فانظروا من أنا، ثم ارجعوا إلى أنفسكم وعاتبوها، فانظروا، هل يحل لكم قتلي وانتهاك حرمتي؟ ألست ابن بنت نبيكم ص وابن وصيه وابن عمه، وأول المؤمنين بالله والمصدق لرسوله بما جاء به من عند ربه! او ليس حمزة سيد الشهداء عم أبي! أوليس جعفر الشهيد الطيار
ذو الجناحين عمى! [او لم يبلغكم قول مستفيض فيكم: إن رسول الله ص قال لي ولأخي: هذان سيدا شباب أهل الجنة!] فإن صدقتموني بما أقول- وهو الحق- فو الله ما تعمدت كذبا مذ علمت أن الله يمقت عليه أهله، ويضر به من اختلقه، وإن كذبتموني فإن فيكم من إن سألتموه عن ذلك أخبركم، سلوا جابر بن عبد الله الأنصاري، أو أبا سعيد الخدري، أو سهل بن سعد الساعدي، أو زيد بن أرقم، أو أنس بن مالك، يخبروكم أنهم سمعوا هذه المقاله من رسول الله ص لي ولأخي.
أفما في هذا حاجز لكم عن سفك دمي!

“Lihat nasabku. Pandangilah siapa aku ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku.

“Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu?

“Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah Pamanku? Bukankah Ja’far, yang akan terbang dengan dua sayap di surga, itu Pamanku?

“Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berkata tentang saudaraku dan aku: “keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga”?

“Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyalah Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang akan memberitahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku.

“Tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Kata-kata yang begitu eloknya itu direkam oleh Tarikh at-Thabari (5/425) dan Al-Bidayah wan Nihayah (8/193).

Namun mereka yang telah terkunci hatinya tidak akan tersadar. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidullah bin Ziyad itu memaksa pria yang bernama Husein bin Ali itu untuk mengakui kekuasaan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah.

Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa pertarungan di masa Khilafah dulu itu sampai mengorbankan nyawa seorang Cucu Nabi SAW. Apa masih mau bilang khilafah itu satu-satunya solusi umat?

Simak pula bagaimana Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah bercerita bagaimana Sayidina Husein terbunuh di Karbala pada 10 Muharram (asyura).

Pasukan memukul kepala Husein dengan pedang hingga berdarah. Husein membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya. Dan dengan cepat balutan kain terlihat penuh dengan darah Husein. Ada yang kemudian melepaskan panah dan mengenai leher Husein. Namun beliau masih hidup sambil memegangi lehernya menuju ke arah sungai karena kehausan. Shamir bin Dzil Jawsan memerintahkan pasukannya menyerbu Husein. Mereka menyerang dari segala penjuru. Mereka tak memberinya kesempatan untuk minum.

Ibn Katsir menulis: “Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah, 8/204).

Anas melaporkan bahwa ketika kepala Husein yang dipenggal itu dibawa ke Ubaidullah bin Ziyad, yang kemudian memainkan ujung tongkatnya menyentuh mulut dan hidung Husein, Anas berkata: “Demi Allah! sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini.”

Ibn Katsir mencatat 72 orang pengikut Husein yang terbunuh hari itu. Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa mencata 4 ribu pasukan yang mengepung Husein, dibawah kendali Umar bin Sa’d bin Abi Waqash.

Pada hari terbunuhnya Husein, Imam Suyuthi mengatakan dunia seakan berhenti selama tujuh hari. Mentari merapat laksana kain yang menguning. Terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit terlihat memerah selama 6 bulan.

Imam Suyuthi juga mengutip dari Imam Tirmidzi yang meriwayatkan kisah dari Salma yang menemui Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad, yang saat itu masih hidup (Ummu Salamah wafat pada tahun 64 H, sementara Husein terbunuh tahun 61 H).

Salma bertanya: “Mengapa engkau menangis?”

Ummu Salamah menjawab: “Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu. Saya tanya ‘mengapa engkau wahai Rasul?’

Rasulullah menjawab: “saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein.’”

Begitulah dahsyatnya pertarungan kekuasaan di masa khilafah dulu. Mereka tidak segan membunuh cucu Nabi demi kursi khalifah. Apa mereka sangka Rasulullah tidak akan tahu peristiwa ini? Lantas apakah mereka yang telah membunuh Sayidina Husein kelak masih berharap mendapat syafaat datuknya Rasulullah di padang mahsyar?

Dalam kisah yang memilukan ini sungguh ada pelajaran untuk kita semua. Al-Fatihah...

Tabik,

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School Australia
Kamis 5 September 2019 18:30 WIB
Kisah Orang Meninggal yang Kembali Dihidupkan
Kisah Orang Meninggal yang Kembali Dihidupkan
Kisah Allah menghidupkan orang mati tertuang dalam hadits shahih. (Ilustrasi: NU Online)
Dikisahkan, pada zaman dahulu ada sekelompok orang dari kaum Bani Israil yang ingin sekali mengetahui perihal kematian dan rasanya sakaratul maut. Karenanya, mereka memohon agar Alah menghidupkan kembali satu mayat yang ada di kompleks pemakaman mereka. Allah pun mengabulkannya. Mayat di salah satu kuburan dihidupkan kemudian bercerita kepada mereka tentang panasnya kematian yang belum juga hilang rasanya hingga hari itu. Padahal, kematian yang dialaminya sudah berlangsung seratus tahun. 
 
Berikut adalah hadits shahih yang menyampaikan kisah tersebut.
 
خَرَجَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ حَتَّى أَتَوْا مَقْبَرَةً مِنْ مَقَابِرِهِمْ فَقَالُوا: لَوْ صَلَّيْنَا وَدَعَوْنَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُخْرِجُ لَنَا رَجُلًا مِمَّنْ قَدْ مَاتَ، فَنُسَائِلَهُ عَنِ الْمَوْتِ فَفَعَلُوا، فَبَيْنَاهُمْ كَذَلِكَ إِذْ طَلَعَ رَجُلٌ رَأْسَهُ مِنْ قَبْرٍ مِنْ تِلْكَ الْمَقَابِرِ حُلَاسِيُّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ فَقَالَ: يَا هَؤُلَاءِ مَا أَرَدْتُمْ إِلَيَّ لَقَدْ مُتُّ مِنْ مِائَةِ عَامٍ، فَمَا سَكَتَ عَنِّي حَرَارَةُ الْمَوْتِ إِلَّا الْآنَ، فَادْعُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرُدَّنِيَ لِمَا كُنْتُ
 
“Suatu ketika ada sekelompok orang dari Bani Israil yang datang ke sebuah kuburan. Mereka berkata, ‘Andai kita shalat dan berdoa kepada Allah agar mengeluarkan seorang yang sudah meninggal kepada kita, kemudian kita bertanya kepadanya tentang kematian.” Akhirnya, mereka shalat dan berdoa. Dalam pada itu, tiba-tiba ada satu mayat mengeluarkan kepalanya dari dalam kubur. Tampak di antara kedua matanya ada bekas sujud. Ia lalu bertanya, ‘Wahai orang-orang, apa yang kalian inginkan? Aku meninggal seratus tahun yang lalu. Namun, panasnya kematian belum hilang hingga sekarang. Maka berdoalah kalian agar mengembalikanku kepada keadaanku semula’.” 
 
Dari hadits di atas, kita tahu bahwa Allah pernah menghidupkan mayat atas permohonan sejumlah orang dari kalangan Bani Israil. Mereka meminta hal itu karena ingin bertanya kepada si mayat perihal kematian dan sakaratul maut. 
 
Allah pun mengeluarkan kepala si mayat dari kuburnya. Bahkan, seperti yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mayat tersebut tak ada bedanya dengan orang hidup di hadapan mereka. Dan di antara kedua matanya terlihat bekas sujud. Uniknya lagi, ia bisa berbincang dan mengingkari apa yang mereka lakukan terhadap dirinya. Ia mengaku telah meninggal seratus tahun yang lalu. Dan hingga Allah menghidupkan kembali dirinya, panasnya kematian masih dirasakannya. Kemudian, sang mayat meminta mereka berdoa kepada Allah agar dirinya dikembalikan seperti semula. 
 
Sesungguhnya apa yang disampaikan sang mayat itu menunjukkan betapa beratnya yang dirasakan seorang hamba pada saat kematian, termasuk oleh orang saleh sekalipun. Sebab, berdasarkan informasi hadits, mayat yang dihidupkan itu termasuk orang yang rajin beribadah. Buktinya, ada bekas sujud di antara kedua matanya.
 
Kisah serupa juga pernah terjadi pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau diminta memperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan orang yang sudah meninggal. Maka Allah pun memerintahnya untuk memotong-motong empat ekor burung yang telah disembelih. Keempatnya lalu dipisahkan di puncak-puncak gunung. Setelah itu, semuanya dipanggil. Uniknya, bagian dari burung-burung tersebut kembali berkumpul dan membentuk lagi tubuhnya. Ruh-ruhnya juga kembali datang, hingga burung-burung itu terbang lagi seraya bertasbih kepada Tuhannya.
 
Pada zaman Nabi Isa, orang-orang Bani Israil juga pernah menyaksikan bagaimana Allah menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari kampung mereka dengan ribuan jumlahnya karena takut kematian. 
 
Bahkan, kekuasaan Allah subhanahu wata’ala untuk menghidupkan kembali hamba yang telah meninggal ini juga dikisahkan dalam Al-Qur’an, Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS al-Baqarah [2]: 259.
 
Dari kisah di atas, dapat dipetik beberapa pelajaran penting bagi kita: 
 
Pertama, Allah Mahakuasa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Contohnya seperti yang diceritakan dalam beberapa kisah di atas. Salah satunya mayat yang berbicara tentang kematian kepada orang-orang Bani Israil. Begitu pun mudah dan kuasanya Allah membangkitkan seluruh makhluk pada hari Kiamat untuk dikumpulkan di padang mahsyar dan dihisab seluruh amal perbuatannya. 
 
Kedua, betapa berat dan panasnya kematian yang dialami seorang hamba. Seorang hamba mukmin dan ahli sujud saja merasakan betapa berat dan panasnya kematian tersebut. Padahal, ia meninggal sudah seratus tahun yang lain. Bagaimana yang dirasakan oleh seorang hamba yang kufur dan zalim? 
 
Ketiga, terbuktilah bahwa karamah orang-orang saleh itu ada. Salah satunya Allah menghidupkan orang yang sudah meninggal dan berbicara kematian kepada mereka. 
 
Keempat, Allah senantiasa mengabulkan doanya orang-orang saleh walaupun bentuknya bertentangan dengan adat dan kebiasaan manusia. 
 
Kelima, seorang yang ingin memohon perkara besar dianjurkan menunaikan shalat dua rakaat terlebih dahulu, sebagaimana orang-orang yang dikisahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
 
Keenam, kita diperbolehkan menyampaikan informasi atau kisah yang berhubungan dengan orang-orang Bani Israil selama itu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits sahih. Namun bila tidak, seperti bersumber dari kitab, buku, atau cerita rakyat, sebaiknya diperiksa kembali. Jika kandungannya bertentangan dengan apa yang sudah menjadi hak Allah dan rasul-Nya, maka tidak boleh disampaikan, kecuali jika tujuannya untuk menunjukkan penyimpangan di dalamnya sambil dijelaskan kemaslahatannya. (Lihat: Dr. Sulaiman al-Asyqar, Shahîh al-Qashash al-Nabawî, [Oman: Daru al-Nafa’is], 1997, cet. pertama, hal. 183).
 
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, (lihat: Sunan-nya, jilid 2, hal. 126); Imam Ahmad (lihat: al-Zuhd, hal. 16-17); Imam Ibnu Abi Syaibah (lihat: al-Mushannaf, jilid 9, hal. 62); Imam al-Bazar (lihat: Musnad-nya, jilid 1, hal. 108 dan 192); Imam ‘Abdu ibn Humaid (lihat: al-Muntakhab min al-Musnad, jilid 1, hal. 152); Imam Ibnu Abi Dawud (lihat: al-Ba‘ts, jilid 5, hal. 30). Walllahu a’lam. 
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni Pondok Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
Kamis 5 September 2019 10:30 WIB
Cara Kiai Umar Menjaga Hati Orang Lain agar Tak Terluka (2)
Cara Kiai Umar Menjaga Hati Orang Lain agar Tak Terluka (2)
Kiai Umar Abdul Manan merupakan teladan utuh tentang cara menghargai tamu-tamunya
Sebagai makhluk sosial, setiap manusia ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa hidup sendirian. Mereka saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik. Semuanya memerlukan interaksi sosial yang baik antara satu sama lain. Dengan demikian, ada dua hubungan yang perlu diperhatikan yaitu hubungan vertikal (hablun minallah) dan horizontal (hablun minannas). 
 
Kiai Umar bin Abdul Mannan, pengasuh Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah merupakan tokoh agama yang cukup terkenal. Hubungannya dengan Allah sudah jelas. Menurut Kiai Mubasyir Mundzir asal Kediri, Kiai Umar termasuk wali autad. Kiai Umar rajin berjamaah, hafal Al-Qur’an melalui sanad Kiai Munawir, Krapyak, Yogyakarta; dan ia juga menjadi pengajar Al-Qur’an.
 
Kiai Umar memang dikenal banyak orang. Namun, beliau mempunyai keterbatasan dalam menghafalkan semua orang yang pernah berkenalan dengannya. Hal ini tentu manusiawi dan sangat wajar. Nyaris mustahil seseorang menghafal nama satu per satu orang yang bertatap muka dengannya, apalagi dalam jumlah yang banyak.
Suatu ketika ada orang yang wajahnya sudah tidak asing lagi di mata Kiai Umar sowan  kepada Kiai Umar. Kiai Umar hafal betul wajah orang itu. Sayangnya, ia tidak kunjung menemukan rekaman memori tentang siapa nama dan di mana alamat rumahnya. Yang menarik, Kiai Umar tidak lantas menemui kemudian menanyakan ulang siapa namanya dengan dibumbui kalimat “mohon maaf, saya lupa.” Walaupun sebagian tamu akan memaklumi kelupaan Kiai karena saking banyaknya tamu yang ia hadapi dan selalu bergilir silih berganti. Tapi, siapa yang bisa memastikan setiap orang memaklumi kondisi tersebut? 
 
Mengatasi tamunya supaya tidak tersinggung, sesaat sebelum menemui tamunya, Kiai Umar memanggil khadimnya (santri yang bertugas melayani kiai). “Kang, itu ada tamu, tampaknya aku kenal betul dengan wajahnya, namun aku kok lupa siapa namanya dan di mana rumahnya. Coba kamu temui dia. Ajaklah ngobrol. Tanyakan nama dan alamatnya. Nanti saya akan mendengarkan percakapan dari balik pintu.” Demikian perintah Kiai Umar kepada santri ndalem yang biasa melayaninya. 
 
Setelah sedikit berbincang, Kiai Umar seolah tiba-tiba keluar dari dalam rumah sembari menyapa nama dan alamatnya sekaligus dengan wajah ramah, senyuman tersungging lebar, misalnya “Asslamualaikum…. Wah, Pak Zaid. Dari Pekalongan jam berapa tadi?”

Dengan basa-basi yang seolah remeh-temeh dan tidak penting ini, tamunya menjadi bangga. Mereka pasti akan merasa dekat dan dihafal nama alamatnya oleh tokoh besar yang terkenal. Walhasil, dengan trik ini, para tamu tidak ada yang merasa tersinggung ihwal mempertanyakan nama dan alamat yang berulang. Wallahu a’lam
 
 
(Ahmad Mundzir) 
 
 
Kisah di atas diceritakan KH. Muhammad Shofi Al-Mubarok Baedlowie. Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan kepada NU Online.