IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Salah Kaprah Memaknai Al-Wala wal Bara

Selasa 8 Oktober 2019 12:15 WIB
Salah Kaprah Memaknai Al-Wala wal Bara
Ilustrasi: Kalimat thayyibah. Foto: shof.co.il
Al-wala secara harfiah adalah loyalitas. Sementara arti al-bara adalah berlepas diri. Islam memerintahkan umat Islam untuk loyal kepada sesama Muslim dan melarang mereka untuk loyal kepada orang kafir. Islam juga memerintahkan umat Islam untuk berlepas diri dari kekufuran, kesesatan, dan kezaliman orang kafir.

Banyak dalil agama yang menunjukkan al-wala wal bara sebagai ajaran Islam. Namun demikian, al-wala wal bara sering diterjemahkan secara berlebihan atau ekstrem dalam praktik kehidupan sosial dan politik yang pada titik tertentu melewati batas.

Dalil atas ajaran al-wala wal bara yang kerap dikemukakan adalah Surat Al-Ma’idah ayat 51 dan Al-Mujadalah ayat 22.

Surat Al-Ma’idah ayat 51 berbunyi sebaga berikut:

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Al-Mujadalah ayat 22

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya, “Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Mereka kelak dimasukan oleh-Nya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sungguh hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Pengamalan ajaran secara berlebihan al-wala wal bara mengambil dua bentuk ekstrem yang saling bertentangan. Praktik yang berlebihan dan melewati batas ini berasal dari kekeliruan kalau bukan kesalahan dalam memaknai ajaran al-wala wal bara.

Satu sisi ajaran al-wala wal bara dimengerti secara berlebihan sebagai sikap sosial dan politik yang eksklusif dan intoleran umat Islam (ifrath), bahkan pada titik tertentu menjadi terorisme, ekstremisme, radikalisme, yang berbentuk aksi teror, kekerasan, dan pembunuhan.

Pada sisi lain yang berseberangan, ajaran al-wala wal bara juga dimengerti secara berlebihan sebagai sikap inklusif tanpa batas (tafrith) yang pada titik tertentu menjadi liberalisme dan sekulerisme. Kedua pemaknaan ekstrem atas al-wala wal bara dan sikap sosial-politik ini terjebak pada absolutisme yang sama-sama tidak moderat dan tercela dalam agama, meski keduanya memiliki dalil agama yang sangat kuat.

Al-Wala wal Bara dan Politik Identitas Islam
Al-wala secara singkat diartikan sebagai loyalitas terlarang terhadap orang kafir, yaitu pertolongan dan pembelaan, minimal simpati. Sementara al-bara adalah antiloyalitas terhadap orang kafir.

Al-wala wal bara dipahami oleh sebagian kalangan sebagai pengertian yang mengacu pada pembentukan identitas sosial-politik seorang Muslim yang berbasis aqidah. Pembentukan identitas yang cenderung eksklusif ini belakangan di Indonesia tumbuh, bahkan menguat dalam bentuk politik identitas, yaitu gelombang aksi bela umat Islam dan tampak pada Pilpres 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, belakangan Pilpres 2019, dan entah gelombang aksi apa lagi.

Politisasi ayat-ayat dalam kitab suci, politisasi rumah ibadah, politisasi mimbar khutbah dan ceramah agama, bahkan pada titik tertentu mengafirkan pendukung kontestan pemilu dan mengharamkan pemandian jenazah yang hidupnya mendukung calon pemimpin non-Muslim, atau melakukan persekusi atas pendukung pasangan calon yang tidak didukung oleh “umat Islam” menjadi bentuk solidaritas umat Islam atas nama al-wala wal bara. Tetapi tidak sedikit pembunuhan dan aksi teror terhadap non-Muslim atas nama al-wala wal bara.

Al-wala wal bara menuntut seseorang berada pada situasi mencekam dan bersaing atas dasar aqidah. Al-wala wal bara memosisikan seseorang Muslim seolah dalam situasi darurat perang yang meminta kewaspadaan untuk melihat orang lain dalam dua kategori, kolega dan musuh.

Gampang kata, kita mesti paham siapa lawan dan siapa kawan. Al-wala wal bara meminta seorang Muslim untuk loyal kepada komunitas Muslim dan persaudaraan umat Islam di mana pun berada, dan menuntut seorang Muslim untuk memusuhi, membenci, dan menjauhi orang-orang kafir.

Al-wala secara harfiah menjadikan orang lain sebagai wali, teman dekat, panutan, dan mungkin pemimpin. Dalam Islam, beberapa ayat Al-Qur’an melarang umat Islam untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, saudara, atau sahabat akrab. Beberapa ayat Al-Qur’an hanya memperkenankan persaudaraan sesama Muslim.

Adapun al-bara adalah tuntutan pada beberapa ayat Al-Qur’an terhadap umat Islam untuk berlepas diri dari kekufuran, kesesatan, dan kemaksiatan, dan juga dari mereka yang melakukannya. Al-bara merupakan perintah agama terhadap umat Islam untuk memusuhi, membenci, dan menjauhi kekafiran dan kemusyrikan, serta orang-orang kafir dan orang yang sesat, atau bahkan umat Islam yang bersahabat dekat dengan non-Muslim.

Demikian salah satu bentuk kekeliruan dalam memahami al-wala wal bara oleh sekelompok umat Islam. Sikap solidaritas sesama muslim al-wala wal bara oleh sebagian kalangan dijadikan alat ukur dalam menilai keimanan orang lain. Hal ini dapat dimaklumi karena sebagian orang memasukkan al-wala wal bara ke dalam keimanan atau aqidah. Wallahu a'lam.
 

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Share:

Baca Juga