Penjelasan Puasa Enam Hari Syawal seperti Puasa Setahun

Penjelasan Puasa Enam Hari Syawal seperti Puasa Setahun
Rumus populer sebagaimana dijelaskan hadits Nabi bahwa pahala satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.
Rumus populer sebagaimana dijelaskan hadits Nabi bahwa pahala satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali.

Ramadhan telah berakhir. Umat muslim dengan suka cita menyambut hari kemenangan setelah sebulan lamanya berpuasa. Ulama menjelaskan, hari raya Idul Fitri disebut-sebut sebagai hari kemenangan bagi umat Muslim karena mengisyaratkan banyaknya jiwa yang dimerdekakan di bulan Ramadhan, sebagaimana hari raya Idul Adha/Nahar disebut juga sebagai hari kemenangan sebab sehari sebelumnya, tepatnya di hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah Allah memerdekakan banyak jiwa manusia dari api neraka. Maka, barang siapa yang jiwanya dimerdekakan, sungguh ia merasakan kemenangan yang sesungguhnya. Sebaliknya, bagi yang belum mendapat anugerah tersebut, ia telah merugi dan dijauhkan dari kebaikan (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Tuhfah al-Habib, juz 2, hal. 218).

 

Ramadhan mengajarkan kepada umat Islam untuk membiasakan diri berbuat kebajikan. Demikian pula melatih diri untuk menahan nafsu dan amarah. Momentum Ramadhan yang positif tersebut hendaknya dapat dipertahankan di bulan-bulan setelahnya. Sungguh sangat beruntung orang yang menganggap seluruh hari-harinya sebagai Ramadhan. Oleh sebab itu, setelah jeda satu hari pada tanggal 1 Syawal, agama menganjurkan untuk berpuasa selama enam hari di bulan Syawal. Menurut mazhab Syafi’i, berpuasa enam hari Syawal hukumnya sunnah.

 

Nabi menyebut pahala orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan disambung dengan enam hari bulan Syawal seperti pahala berpuasa selama setahun. Nabi bersabda:

 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعُهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 

“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan enam hari dari Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR. Muslim).

 

 

Bagaimana penjelasan hadits tersebut?

 

Hadits tersebut dapat dipahami secara utuh dengan menggabungkan riwayat lain. Disebutkan dalam hadits riwayat al-Nasa’i bahwa pahala berpuasa Ramadhan sebanding dengan berpuasa selama sepuluh bulan, dengan perhitungan per hari puasa pahalanya sebanding dengan 10 berpuasa. Hal ini sebagaimana rumus yang populer dalam hadits Nabi bahwa pahala satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Sedangkan puasa enam hari Syawal pahalanya sebanding dengan 60 hari (dua bulan). Dengan demikian, gabungan puasa Ramadhan dan enam hari Syawal pahalanya genap satu tahun (10 bulan + 2 bulan).

 

Syekh Khatib al-Syarbini menjelaskan:

 

وَرَوَى النَّسَائِيُّ خَبَرَ «صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ، وَصِيَامُ سِتَّةِ أَيَّامٍ بِشَهْرَيْنِ، فَذَلِكَ صِيَامُ السَّنَةِ» أَيْ كَصِيَامِهَا فَرْضًا، وَإِلَّا فَلَا يَخْتَصُّ ذَلِكَ بِرَمَضَانَ وَسِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ؛ لِأَنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.

 

“Imam al-Nasa’i meriwayatkan hadits; pahala puasa bulan Ramadhan sebanding dengan berpuasa sepuluh bulan, pahala berpuasa enam hari Syawal sebanding dengan berpuasa dua bulan, maka yang demikian itu adalah puasa satu tahun. Maksudnya seperti berpuasa wajib selama setahun, sebab jika tidak demikian maka tidak terkhusus dengan Ramadhan dan enam hari Syawal, sebab satu kebaikan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat” (Syekh Khatib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, hal. 184).

 

Dalam referensi yang lain disebutkan:

 

قال أصحابنا وهذا صحيح في الحساب؛ لأن الحسنة بعشر أمثالها، وصوم شهر رمضان يقوم مقام ثلاثمائة يوم، وهو عشرة أشهر، فإذا صام ستة أيام بعده قامت مقام ستين يوماً، وذلك شهران، وذلك كله عدد أيام السنة.

 

“Para pengikut kami berkata; yang demikian ini benar dalam hitungan matematika. Sebab satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Puasa Ramadhan sebanding dengan berpuasa selama 300 hari (sepuluh bulan). Maka bila seseorang berpuasa enam hari setelahnya, sebanding dengan berpuasa 60 hari (dua bulan). Demikian ini adalah hitungan hari selama setahun” (Syekh al-‘Umrani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i, juz 3, hal. 548).

 

Pahala puasa Syawal yang sebanding dengan pahala berpuasa dua bulan maksudnya adalah dua bulan puasa wajib. Sebab, jika tidak dipahami demikian maka tidak ada arti khusus dalam penyebutan puasa Syawal dalam hadits Nabi. Misalnya bila dipahami bahwa enam hari puasa Syawal sebanding dengan dua bulan puasa Sunnah, ini tidak ada yang spesial karena semua pahala kebaikan memang demikian, pahalanya dilipatgandakan menjadi sepuluh kali. Dengan demikian, konteks perbandingan pahala tersebut harus dipahami dengan puasa wajib agar berbeda antara puasa Syawal dengan lainnya.

 

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan:

 

والمراد ثواب الفرض وإلا لم يكن لخصوصية ستة شوال معنى؛ إذ من صام مع رمضان ستة غيرها يحصل له ثواب الدهر لما تقرر فلا تتميز تلك إلا بذلك

 

“Yang dikehendaki adalah pahala puasa fardlu, jika tidak demikian, maka tidak ada makna pengkhususan Syawal dalam hadits Nabi, karena orang yang berpuasa beserta Ramadalan, selama enam hari maka mendapat pahala puasa setahun seperti keterangan yang sudah ditetapkan, maka pahala puasa enam hari Syawal tidak dapat dianggap spesial kecuali dengan penafsiran tersebut (sebanding dengan pahala puasa fardlu dua bulan)”. (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 456).

 

Walhasil, orang yang berpuasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan kemudian dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, pahalanya seperti orang yang berpuasa wajib selama setahun.

 

 

Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

BNI Mobile