Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Nama-nama Negara dan Tempat yang Diabadikan dalam Al-Qur’an (2-Habis)

Nama-nama Negara dan Tempat yang Diabadikan dalam Al-Qur’an (2-Habis)
Kawasan gua Syu'aib, situs bersejarah yang dipercaya menjadi tempat tinggal Nabi Musa sebelum menikahi putri Nabi Syu'aib. (Foto: Saudi Gazette)
Kawasan gua Syu'aib, situs bersejarah yang dipercaya menjadi tempat tinggal Nabi Musa sebelum menikahi putri Nabi Syu'aib. (Foto: Saudi Gazette)

Al-Qur’an, selain mengabadikan nama wilayah di suatu negara, juga mengabadikan  wilayah yang ditempati oleh pengikut para Nabi. Nama-nama wilayah ini adakalanya berasal dari nama pembesar Kabilah, yang kemudian dijadikan nama sebuah tempat; adakalanya berasal dari nama sebuah lembah atau bukit yang ditempati oleh kaum tertentu. 
 


Terdapat beberapa nama tempat atau wilayah pengikut para nabi terdahulu yang diabadikan dalam Al-Qur’an, antara lain:


1. Al-Aikah & Madyan


Al-Aikah merupakan sebidang tanah yang ditumbuhi banyak pohon dan terdapat hunian penduduk, letaknya berdekatan dengan Madyan. Ashab al-Aikah adalah kaum Nabi Syuaib. Menurut jumhur ulama, penduduk al-Aikah dan Madyan berasal dari satu kabilah yang sama. Kedua tempat ini terletak di Ma’an (sekarang merupakan salah satu kota di Yordania Selatan) perbatasan antara Syam dan Hijaz. Masa kedua kabilah ini berdekatan dengan masa kaum Nabi Luth.


Dalam Al-Qur’an, kata al-Aikah disebut 4 kali, yaitu pada surat Al-Hijr 78, al-Syu’ara 176, Shad 13 dan Qaf 14. 


 وَإِنْ كَانَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ لَظَالِمِينَ (78)


كَذَّبَ أَصْحَابُ الْأَيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ (176)


 وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ أُولَئِكَ الْأَحْزَاب (13)


 وَأَصْحَابُ الْأَيْكَةِ وَقَوْمُ تُبَّعٍ كُلٌّ كَذَّبَ الرُّسُلَ فَحَقَّ وَعِيدِ  (14 )


Sementara kata Madyan disebut hingga 10 kali, pada surat al-A’raf 85, at-Taubah 70, Hud 84 dan 95, Taha 40, al-Hajj 44, al-Qashas 22, 23 dan 45, dan al-Ankabut 36.


وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (85)


  أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُون (70)


وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ وَلَا تَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِنِّي أَرَاكُمْ بِخَيْرٍ وَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ مُحِيطٍ  (84)


كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا أَلَا بُعْدًا لِمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُودُ (95)


فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَى قَدَرٍ يَا مُوسَى (40)


وَأَصْحَابُ مَدْيَنَ وَكُذِّبَ مُوسَى فَأَمْلَيْتُ لِلْكَافِرِينَ ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِير (44)


وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ (22) وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ (23)


وَمَا كُنْتَ ثَاوِيًا فِي أَهْلِ مَدْيَنَ تَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَلَكِنَّا كُنَّا مُرْسِلِين (45)


وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الْآخِرَ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (36 )


2. Al-Hijr


Al-Hijr merupakan wilayah kaum Tsamud. Menurut Imam Qatadah, ia sebuah kota yang terletak di antara Mekkah dan Tabuk, yaitu sebuah lembah yang ditempati oleh kaum Tsamud yang mengingkari kerasulan Nabi Shaleh. Menurut Al-Thabari, al-Hijr adalah sebuah kota yang berada di antara Hijaz dan Syam. Wilayah ini diabadikan menjadi salah satu nama surat dan sebutkan satu kali, yaitu pada ayat 80.  


وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ   (80) 


3. Al-Judiy


Al-Judiy adalah gunung utara di Iraq yang dekat dengan kota Mosul. Riwayat lain mengatakan bahwa ia adalah gunung yang terdapat di Syam. Gunung ini merupakan tempat berlabuhnya perahu yang naiki oleh Nuh dan kaumnya yang beriman. Nama gunung ini diabadikan dalam Al-Qur’an pada surat Hud 44.


 وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ  (44)


4. Al-Kahf dan al-Raqim


Merupakan nama gua yang ditempati oleh para pemuda beriman yang lari dari kejaran raja yang zalim. Para pemuda ini tinggal di dalam gua selama tiga ratus sembilan tahun dalam keadaan tidur. Menurut para sejarawan, tempat ini berada di kota ar-Rajib, sebuah kota di Oman, Yordania. Gua ini sampai sekarang masih terawat dengan baik sebagai “atsar” peninggalan zaman dahulu.


Al-Kahfi disebutkan sebanyak enam kali dalam Al-Qur’an, semuanya tertera dalam surat al-Kahfi. Terdapat dua redaksi untuk menyebutkan tempat ini; pertama, dua redaksi tanpa alif dan lam (كَهْفِهِمْ) terdapat pada ayat ke 17 dan 25. Kedua, empat redaksi disertai alif dan lam (الْكَهْفِ) terdapat pada ayat 9, 10, 11 dan 16. 


Sementara al-Raqim, terdapat perbedaan pendapat; sebagian ulama mengatakan bahwa al-Raqim adalah nama anjing milik pemuda ashhabu al-Kahfi, sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ia adalah nama gunung atau lembah yang ditempati oleh pemuda ashhab al-Kahfi, dan sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa ia adalah nama desa yang ditinggalkan oleh para pemuda tersebut. Menurut Syekh Thanthawi dalam tafsirnya mengatakan bahwa pendapat yang mendekati kebenaran adalah bahwa al-Raqim merupakan papan tulis yang mencatat nama, nasab dan kisah mereka. (Tafsir al-Wasith li Al-Qur’an al-Karim/8/474). 


Pendapat di atas sesuai dengan pendapat Said bin Jubair yang menyatakan bahwa ia adalah papan yang terbuat dari batu, tempat mencatat kisah para pemuda tersebut, yang kemudian diletakkan di atas pintu gua. (Tafsir Ibnu Katsir/5/139).


5. Iram


Iram adalah nama sebuah kabilah kaum Aad, yang kemudian dikenang sebagai nama tempat. Menurut al-Suddi, Iram adalah hunian kerajaan kaum Aad yang memiliki bangunan yang sangat besar berlapis emas dan perak. Tidak pernah dijumpai di negara manapun yang mampu menyamai kemegahan bangunan ini. Sebagian ulama mengatakan bahwa wilayah ini berada di Damaskus, sebagian yang lain mengatakan berada di Iskandariyah/Alexandria Mesir. Menurut Ibnu Katsir, ayat tentang Iram ini hanya mengisahkan tentang kehancuran wilayah kaum Aad tersebut, sebagai pelajaran bagi umat Islam. 


Mengenai kaum Aad, kisahnya telah termaktub sangat rapi dalam beberapa surat Al-Qur’an, namun nama wilayahnya hanya disebutkan satu kali dalam surat al-Fajr, ayat 7.


 إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ (7 )


6. Rass


Rass merupakan nama sebuah sumur yang menurut Ibnu Abbas berada di negara Azarbaijan. Menurut Ikrimah, Rass adalah sumur tempat penguburan para Nabi kaum Rass. Menurut Sayyid Thanthawi, sumur ini berada di Turki, tepatnya di Antakya. Nama tempat ini disebutkan dua kali dalam Al-Qur’an, keduanya selalu bersamaan dengan penyebutan Aad dan Tsamud.


 وَعَادًا وَثَمُودَ وَأَصْحَابَ الرَّسِّ وَقُرُونًا بَيْنَ ذَلِكَ كَثِيرًا (38)


كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَأَصْحَابُ الرَّسِّ وَثَمُودُ (12) وَعَادٌ


Menurut Ibnu Jarir al-Thabari antara kaum Rass dan kaum Ukhdud adalah sama. Ukhdud adalah nama sebuah galian bulat besar di tanah yang digunakan untuk mengubur para Nabi dan kaum yang berimana kepada Allah Swt.


Nama-nama tempat atau wilayah yang tersebut di atas diabadikan dalam Al-Qur’an karena memiliki peristiwa yang penting untuk dapat diambil pelajaran (ibrah) bagi generasi setelahnya. Jika sejarah kaum tersebut memiliki peristiwa yang kelam, maka kita dapat mengambil pelajarann untuk menjauhi keburukan yang dilakukan. Mengetahui sisi kelam sejarah suatu kaum, bukan untuk diikuti tapi untuk menjaga diri. Sebaliknya, jika sejarah tersebut memiliki peristiwa yang baik, maka seyogyanya kita contoh dan teladani dalam kehidupan.


Sejarah adalah cerminan untuk menatap masa depan yang lebih baik. Jangan lupakan sejarah.

 

Ustadz Moh. Fathurrozi, Pengurus Jam’iyatul Qurra’ wal Huffadz NU Surabaya; Pembina Tahfidz Al-Qur’an Pondok Pesantren Darussalam Keputih

BNI Mobile