Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Kodifikasi Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan RA

Kodifikasi Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan RA
Ilustrasi: Kodifikasi Al-Qur’an era khalifah Utsman didorong banyaknya penaklukan kota-kota dan sebaran umat Islam di berbagai kota-kota yang jauh.
Ilustrasi: Kodifikasi Al-Qur’an era khalifah Utsman didorong banyaknya penaklukan kota-kota dan sebaran umat Islam di berbagai kota-kota yang jauh.

Kerja kodifikasi Al-Qur’an di masa khalifah Utsman bin Affan melahirkan produk Al-Qur’an beberapa mushaf yang sangat terbatas. Sejumlah mushaf versi resmi ini kemudian terkenal dengan sebutan Mushaf Utsmani atau Al-Imam. Mushaf Utsmani atau Al-Imam merupakan fase ketiga dalam sejarah kodifikasi Al-Qur’an. (Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Ilmi wal Iman: tanpa tahun], halaman 129).


Pada masa khalifah Abu Bakar RA, Sayyidina Umar RA tercatat sebagai orang yang mengusulkan kodifikasi Al-Qur’an kepada pemerintah. Sedangkan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, sahabat Hudzaifah ibnul Yaman adalah orang yang mengusulkan kodifikasi Al-Qur’an kepada pemerintah dengan sebab yang berbeda.


Imam Bukhari dalam Kitab Shahih-nya menceritakan dari sahabat Anas bin Malik RA, sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman datang menemui Utsman bin Affan RA. Hudzaifah yang bertugas dalam ekspedisi penaklukan Armenia dan Azirbaijan melaporkan kepada Utsman RA betapa terkejutnya ia atas keragaman versi bacaan Al-Qur’an (di mana mereka saling mengafirkan karena perbedaan versi bacaan).


"Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terpecah perihal bacaan seperti Yahudi dan Nasrani," kata Hudzaifah kepada Utsman.


Keresahan ini tidak hanya dirasakan oleh sahabat Hudzaifah. Riwayat Ibnu Jarir menunjukkan betapa banyaknya sahabat yang mengalami keresahan yang sama di mana banyak masyarakat membaca Al-Qur’an dengan berbagai versi dan bahkan sebagian membaca dengan salah.


Satu sama lain saling mengafirkan karenanya. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 125) dan (Syekh Ali As-Shabuni, At-Tibyan fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Mawahib Al-Islamiyyah: 2016], halaman 60).


Kodifikasi Al-Qur’an era khalifah Utsman didorong oleh situasi yang berbeda dari situasi yang dihadapi khalifah Abu Bakar, yaitu banyaknya penaklukan kota-kota dan sebaran umat Islam di berbagai kota-kota yang jauh. (As-Shabuni, 2016: 60).


Selain itu, kebutuhan umat Islam yang telah menyebar di berbagai penjuru negeri terhadap kajian Al-Qur’an mengharuskan kerja-kerja kodifikasi Al-Qur’an di era Utsman bin Affan RA. Sedangkan setiap penduduk mengambil qiraah dari sahabat rasul yang cukup terkenal di daerah tersebut dan sering kali telah mengalami kekeliruan karena faktor geografis.


Penduduk Syam membaca Al-Qur’an dengan qiraah Ubay bin Ka’ab. Penduduk Kufah membaca Al-Qur’an dengan qiraah Abdullah bin Mas’ud. Selain mereka membaca Al-Qur’an dengan qiraah Abu Musa Al-Asy’ari. Perbedaan versi ini membawa konflik di tengah masyarakat. (M Abdul Azhim Az-Zarqani, Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2017 M/1438 H], halaman 205).


Kondisi darurat mendorong Khalifah Utsman bin Affan RA untuk mengatasi situasi sosial yang semakin memburuk. Dengan Mushaf Utsmani, khalifah Utsman RA mengatasi konflik sosial, menyudahi pertikaian, dan melakukan perlindungan terhadap orisinalitas dan otentisitas Al-Qur’an dari penambahan dan penyimpangan seiring dengan peralihan zaman dan pergantian waktu. (Al-Qaththan 128). Adapun konflik sosial ini harus dicarikan solusinya. (Al-Qaththan, tanpa tahun: 123).


Solusi yang diambil Sayyidina Utsman RA berangkat dari kecerdasan pikiran dan keluasan pandangannya untuk mengatasi konflik sosial sebelum memuncak. Ia kemudian memanggil para sahabat terkemuka ahli Al-Qur’an untuk mencari akar masalah dan mencoba mengatasinya.  (As-Shabuni, 2016: 61).


Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan, kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan khalifah Utsman bin Affan RA terjadi pada tahun 25 H meski ada sebagian orang yang menduga tanpa sanad bahwa hal itu terjadi pada tahun 30 H. (As-Suyuthi, Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, [Kairo, Darul Hadits: 2006 M/1427 H], juz I, halaman 191) dan (Al-Qaththan, tanpa tahun: 129).


Ibnu Asytah dari Abu Qilabah meriwayatkan bahwa Anas bin Malik meriwayatkan, merebaknya perpecahan di tengah masyarakat perihal versi bacaan Al-Qur’an sehingga anak-anak remaja pelajar dan para guru Al-Qur’an terlibat pertikaian karenanya. Merebaknya gejolak sosial yang mengarah pada konflik ini sampai juga telinga Sayyidina Utsman RA.


"Di depanku kalian berani berdusta dan salah membaca. Niscaya orang yang jauh dari jangkauanku akan lebih berdusta dan lebih salah baca lagi tentunya. Wahai para sahabat rasul, bersatuah kalian. Catatlah satu mushaf sebagai imam atau pedoman bagi masyarakat," kata Sayyidina Utsman RA. (As-Suyuthi, 2006: 191). 


Kerja kodifikasi Al-Qur’an yang melahirkan Mushaf Utsmani atau Al-Imam di era sahabat Utsman bin Affan ini menarik simpati dan apresiasi dari kalangan sahabat. Berikut ini pengakuan Sayyidina Ali RA atas kerja kodifikasi Al-Qur’an yang dilakukan Utsman bin Affan RA. 


"Kalau aku penguasanya, niscaya aku akan melakukan hal yang sama dengan Sayyidina Utsman RA," kata Sayyidina Ali RA mengapresiasi kerja kodifikasi Al-Qur’an Utsman melalui Mushaf Utsmani. (As-Suyuthi, 2006: 192-193). Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

Posisi Bawah | Youtube NU Online