IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Allah di Puncak Gunung?

Jumat 16 Agustus 2013 9:1 WIB
Share:
Allah di Puncak Gunung?

Sebagai pembawa risalah, Nabi Muhamad SAW dipertemukan dengan kenyataan masyarakat yang tidak tunggal. Meski demikian, Nabi berusaha menanggapi semua permasalahan yang hadir, baik dari para penggede suku, raja-raja mancanegara, hingga kaum budak dan rakyat jelata.
<>
Karena yang dihadapi beragam, cara menyikapinya pun berbeda. Seperti dalam kasus perjumpaan Rasulullah dengan seorang Badui gunung. Anggota suku yang gemar mengembara itu mengaku telah memeluk agama Islam. Ibadah pun telah dikerjakan.

Rasulullah mengiyakan. Lalu melempar pertanyaan, “Jadi engkau beriman bahwa tiada Tuhan selain Allah?”

“Aku percaya,” sahut orang Badui.

“Engkau tahu, di manakah Allah bertempat tinggal?” tanya Rasulullah menguji.

“Tahu!”

“Di mana?”

“Di sana, di puncak gunung,” ujar si Badui mantab.

Kehidupan gurun pasir yang keras dan lingkungan yang jauh dari peradaban kota saat itu membuat jawaban si Badui amat sederhana. Tapi Rasulullah hanya diam. Tak sedikit pun menyanggah pernyataan orang A’rabi berperawakan hitam ini. 

Nabi menghormati jawaban tersebut karena beliau mengerti betul batas kemampuan akal orang Badui. Sikap ini pula yang menyebabkan jawaban yang disampaikan Nabi bisa berbeda meskipun dari pertanyaan yang sama. Selain berkepribadian tegas, dalam berdakwah Rasulullah sangat mempertimbangkan psikologi masyarakat, relevansi dan konteks yang dihadapi. (Mahbib Khoiron)

Share:
Jumat 9 Agustus 2013 9:0 WIB
Bertakbirlah 4 Kali atas Kematian Orang Tak Mau Belajar
Bertakbirlah 4 Kali atas Kematian Orang Tak Mau Belajar

Dalam sebuah  halaqoh, terjadilah diskusi antara guru dan para muridnya mengenai kemuliaan ilmu. Salah seorang murid mengajukan pertanyaan kepada sang guru, “Wahai guru, berikanlah alasan kenapa ilmu bisa memuliakan seseorang yang memilikinya?”
<>
Sang guru tersenyum lirih seraya menjawab, “Dari dirimu sendiri, engkau bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu dan membuktikan bahwa ilmu dapat memuliakan pemiliknya. Pada hakikatnya, engkau akan senang ketika ada seseorang yang memujimu karena keluasan ilmu yang engkau miliki. Demikian sebaliknya, engkau akan sedih dan marah ketika ada seseorang mencela keterbatasan ilmu yang ada dalam dirimu”.

Mendengar jawaban sang guru, murid itu akhirnya dapat memahami bahwa ilmu dapat mengangkat derajat seseorang. Artinya, orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya beberapa tingkat daripada orang yang tidak berilmu.

Perlu diketahui bahwa tokoh sang guru dalam penggalan cerita di atas adalah Imam Syafi’i, seorang ulama kenamaan yang benar-benar alim dan  mafhum mengenai substansi ilmu. Tentunya ini bukan hal yang mengherankan karena jika kita telusuri sejarah hidupnya, maka kita akan tahu bahwa beliau ini adalah seorang manusia yang menjalankan “thalabul ‘ilmi minal mahdi ilal lahdi” (menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat). 

Sehingga, dari beliau kita dapat menelusuri tentang sebab kemuliaan ilmu. Dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, beliau pernah berkata:

“Belajarlah! Karena tak seorang pun yang terlahir sebagai ilmuwan. Seorang yang berilmu, tak sama dengan orang yang bodoh. Pembesar suatu kaum jika bodoh, akan menjadi kecil saat pembesar berkumpul. Orang kecil jika pandai, akan tampak besar saat berada dalam perkumpulan.”

Sungguh dalam nasihat di atas yang telah dikemukakan oleh Imam Syafi’i, menggambarkan bahwa kemuliaan ilmu tidak serta merta diraih secara mudah dan singkat. Tapi, perlu adanya usaha dari sang pendamba ilmu itu. Usaha yang dimaksud adalah belajar dengan giat dan tekun. Sejalan dengan sabda Nabi:  Uthlubul ‘ilma walau bis shin (tuntutlah ilmu sampai ke negeri China).

Pada masa itu, China dianggap sebagai negeri yang paling jauh, sehingga pesan yang dapat kita serap dari hadits Nabi di atas adalah “belajarlah setinggi-tingginya, jangan kamu jadikan jarak suatu negeri dan negeri lain yang berjauhan sebagai alasan yang membuatmu menyerah dalam menuntut ilmu”.

Terkadang dalam upaya mencari ilmu, ditemukan kesulitan, rintangan, serta “kegalauan” yang mengiringi para penuntut ilmu. Jika dikaitkan dengan penyakit “galau” yang melanda anak muda jaman sekarang, kegalauan yang sering dialami para pemuda di bangku sekolah adalah menerima sikap yang tidak mengenakkan dari guru.

Mungkin, bagi mereka guru terlalu keras dalam mengajar, otoriter, tidak demokratis, seenak’e dhewe, pilih kasih, dan lain sebagainya. Tapi, janganlah semua itu dijadikan sebagai penghambat. Sebaliknya, jadikanlah semua itu sebagai motivasi. Imam Syafi’i dalam kitab Diwannya berkata:

“Bersabarlah atas pahitnya sikap kurang mengenakkan dari guru, Karena sesungguhnya endapan ilmu adalah dengan menyertainya. Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat, Maka akan menahan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya, bertakbirlah 4 kali atas kematiannya. Eksistensi seorang pemuda – Demi Allah – adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya.”

Dari nasihat Imam Syafi’i di atas, ketika menghadapi sikap yang kurang mengenakkan dari guru, kuncinya adalah sabar. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan “man shabara dhafira” (barangsiapa bersabar, beruntunglah dia), ini juga sejalan dengan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 45: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya keduanya itu sulit untuk dilakukan, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”. 

Shalat di sini, maksudnya adalah do’a. Dalam menunjukkan shalat dan sabar dalam ayat tersebut, digunakan kata ganti tunggal  fainnaha bukan  fainnahuma. Ini menunjukkan keharusan menggerakkan shalat dan sabar dalam satu gerakan kesatuan, tidak memisahkan diantara keduanya.

Kemudian, untuk menjadikan ilmu yang kita punya itu bernilai penuh kemuliaan, maka amalkanlah ilmu itu sehingga bermanfaat bagi orang lain. Nabi s.a.w pernah bersabda: “Khairun naas anfa’uhum lin naas. Sebaik-baik manusia adalah yang memiliki manfaat kepada manusia lain.”

Sehingga dengan ilmu, kita dapat memetik manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain yang ada di sekitar kita, sebagaimana pepatah Arab mengatakan bahwa “al-‘ilmu bilaa ‘amalin kas syajari bilaa tsamarin”, artinya adalah: ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tidak berbuah.

Selain belajar, bersabar dan berdoa, ada indikator lain yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu, yakni ikhlas. Sebagaimana Imam Ghazali dalam  Ihya Ulumuddin-nya pernah berkata: “Manusia pada hakikatnya mati, kecuali orang yang alim. Orang yang alim walaupun hidup pada hakikatnya tidur, kecuali orang yang mengamalkan ilmunya. Orang yang mengamalkan ilmunya banyak yang tertipu, kecuali orang yang ikhlas”.

Tepat apa yang dikatakan oleh Imam Ghazali, ikhlas adalah kunci utama dalam menuntut ilmu dan menjadi tolak ukur seberapa tinggi kemuliaan ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Tanpa ikhlas, upaya belajar, bersabar, dan berdoa yang telah dilakukan tidak akan ada artinya. Ikhlas juga merupakan sebab kemuliaan ilmu yang dimiliki manusia di mata Allah. Wallahu a’lam bis shawab. (Saekhudin Nurseha*)

 


* Mahasiswa semester 7 Prodi Pendidikan Agama Islam STAIN Kudus

Rabu 7 Agustus 2013 20:2 WIB
Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat
Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat

Sewaktu Sahabat Abu Bakar menjadi khalifah menggantikan Rasulullah SAW, maka ia adalah seorang yang sangat tegas dalam menarik zakat kepada para saudagar dan orang-orang kaya yang telah memiliki banyak kelebihan harta.<>

Khalifah Abu bakar tercatat senantiasa bertindak tegas kepada siapa pun yang membangkang membayar zakat. Pada zaman itu, negara bertindak sebagai satu-satunya pihak yang berhak mendistribusikan dana zakat yang diperoleh dari para penyetor zakat. Pada waktu itu belum tersedia jasa swasta untuk menyalurkan zakat. Karenanya, jika tidak dibagikan sendiri secara langsung kepada orang-orang yang berhak, tentu negara lah yang akan mengambil alih pengelolaannya.

Sahabat Abu Bakar RA selalu bertintak sesuai prosedur yang telah disepakati oleh nagara, pertama-tama dikirimkanlah surat kepada setiap gubernur yang membawahi daerah-daerah kekuasaan Islam untuk menyiapkan perangkat-perangkat penarik zakat. Mulai dari personil, perlengkapan hingga patung hukum yang dapat membantu pelaksanaan penarikan zakat tersebut.

Dalam surat-suratnya tersebut, Abu Bakar menyatakan bahwa zakat adalah ibadah wajib (fardhu) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum muslimin yang telah memenuhi kualifikasi.

Termasuk surat-surat Abu Bakar selalu menyebut bahwa zakat harus diberikan menurut kadar kebutuhan seseorang. Abu Bakar melarang keras untuk memberikan zakat melebihi ketentuan semestinya. Ia melarang setiap amil zakat untuk memberikan jatah zakat diluar ketentuan, meskipun mereka memintta lebih. (HR. Ahmad, Nasa’i, Abu Daud, Al-Bukhari dan ad-Daraquthni)

Ketika sepeningal Rasulullah ternyata orang-orang Arab, kembali menolak membayar zakat, maka Abu Bakar segera berunding dengan sahabat Umar RA. Tentang tindakan apa yang harus mereka ambil terhadap para pembangkang tersebut. Apakah mereka dapat diperangi karena menolak membayar zakat?

Karena dimintai pendapat oleh Khalifah, maka Umar pun angkat bicara, “Demi Allah, tiada lain yang aku lihat selain Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku pun tahu bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang benar.” (HR. Abu Daud, shahih)

Anam

Jumat 2 Agustus 2013 8:0 WIB
Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing
Kisah Sayyidina Umar dan Bocah Penggembala Kambing

Alkisah, suatu hari Sayyidina Umar bin Khattab berkeliling meninjau wilayah perkampungannya. Di tengah perjalanan, Umar melihat seorang budak kecil yang sedang menggembala puluhan kambing.
<>
Dalam benaknya, Umar ingin menguji kepintaran budak kecil si penggembala kambing tersebut. Umar lalu mendekati budak itu dan mengutarakan niatnya untuk membeli sebuah kambing yang digembala si bocah.

“Nak, kambingmu saya beli satu boleh?” tanya Umar mengawali perbincangannya.

“Saya ini budak, saya tidak memiliki kewenangan untuk menjual kambing ini. Semua kambing milik majikan saya tuan,”jawab si penggembala dengan kejujurannya.

“Meski milik majikanmu, kalau saya beli satu nanti kamu laporan kepada majikan bahwa kambing yang kamu gembala dimakan macan satu ekor,” timpal Umar menguji dengan pura-pura mengajari sikap berbohong.

Dalam pikiran umar, si budak ini pasti akan melepaskan satu ekor untuk dijual kepadanya. Namun tak diduga si Budak kecil ini memberikan jawaban lain.

“Saya tidak mau melakukan itu tuan, karena semuanya nanti bisa kelihatan. Meski juragan (pemilikkambing) tidak tahu tetapi Allah akan mengerti dan mengetahui yang saya lakukan,” jawab si budak tegas.

Mendengar jawaban itu, Sayyidina Umar seketika menangis seraya menepuk-nepuk bangga di pundak punggung si budak. Dari peristiwa ini, Sayyidina Umar mendapat ilmu dari bocah penggembala.

Hikmah kisah ini adalah bahwa Allah itu Maha Tahu. Jadi manusia berbuat apapun meskipun tidak diketahui siapapun namun Allah tetap akan mengerti. Maka berbuatlah yang baik-baik supaya dicatat dan mendapat balasan kebaikan dari Allah di hari akhir kelak. (Qomarul Adib)



* Kisah ini disampaikan Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi yang menerangkan surat Al-Hadid dalam pengajian rutin Tafsir Al-Qur’an di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, Ahad (21/7).