IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Hukum dan Tata Laksana Shalat Idul Fitri

Ahad 27 Juli 2014 7:8 WIB
Share:
Hukum dan Tata Laksana Shalat Idul Fitri
Ilustrasi (Pinterest)

Hukum shalat id, baik idul fitri maupun idul adha adalah sunnah muakkadah dan sangat dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Hukum ini berlaku untuk semua muslim dan muslimah baik yang modis maupun yang sederhana. Demikian diterangkan dengan jelas dalam kitab "Fathul Qarib".<>


وصلاة العيدين سنة مؤكدة وتشرع جماعة ولمنفرد ومسافر وحر وعبد وحنثى وامرأة لاجميلة ولاذات هيئة

Shalat dua hari raya (idul fitri dan idul adha) adalah sunnah muakkadah bagi orang yang ada di rumah maupun diperjalanan, merdeka maupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan baik yang cantik maupun yang tidak modis.

Adapun bacaan niatnya adalah:

أصلى سنة لعيد الفطر ركعتين مأموما لله تعالى

Aku niat shalat idul fitri dua rakaat (ma’mum) karena Allah.

Untuk rakaat pertama bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Dan di setiap takbir membaca:

سبحان الله والحمد لله ولااله الا الله والله أكبر

Dan dilanjutkan dengan surat al-fatihah dan membaca surat. Kemudian bertakbir lagi lima kali pada rakaat kedua selain takbiratul qiyam.

Perbedaan shalat id engan shalat lainnya adalah adanya khotbah setelah pelaksanaan shalat dua rakaat, dan dalam shalat id ini tidak diperlukan adzan maupun iqamat. Demikian keterangan dari Jabir sesuai yang dilihatnya pada zaman Rasulullah saw.

Sahabat Jabir berkata “saya pernah melaksanakan shalat id bersama Rasulullah saw, beliau melaksanakan shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan iqamat.

(Ulil Hadrawi)

Tags:
Share:
Ahad 27 Juli 2014 16:0 WIB
Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah
Tata Laksana Shalat Id Menurut Rasulullah
Ilustrasi (Pinterest)

Tulisan ini akan menjabarkan tatacaa Rasulullah saw dalam mempersiapkan diri menuju shalat id. Karena hari idul fitri adalah hari istimewa, maka tatacaranyapun berbeda. sebagaimana perbedaan shalat idul fitri dengan shalat lainnya.<>

Hal pertama yang diterangkan oleh para ulama tentang uswah hasanah Rasulullah saw yang berhubungan dengan idul fitri adalah bahwa beliau menyempatkan diri makan terlebih dahulu sebelum shalat id.  Sebagaimana sabdanya

عن صفوان بن سليم ان النبي صلى الله عليه وسلم كان يطعم قبل ان يخرج الى الجبان يوم الفطر ويأمر به  

Hal ini menurut Ibnul Musayyab untuk membedakan antara pagi hari sebelumnya yang masih berpuasa dan hari idul fitri yang telah berbuka. Juga sebagai pembeda dengan idul adha, karena shalat idul adha sebaiknya tidak didahului makan terlebih dahulu. Begitu teksnya

كان المسلمون يأكلون فى يوم الفطر ولايفعلون ذلك يوم النحر

Demikian pula Rasulullah saw berangkat menuju masjid dengan berjalan kaki. Artinya tidak naik kendaraan sebagaimana yang beliau lakukan ketika mengantar jenazah.

بلغنا ان الزهري قال ماركب رسول الله صلى الله عليه وسلم فى عيد ولا جنازة

Imam Syafi’I menerangkan juga bahwa beliau selalu mengambil jalan pulang yang berbeda sekembali dari shalat id. Dan hendaklah sunnah Rasulullah saw yang seperti ini diikuti oeh semua orang.

بلغنا ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يغدو من طريق ويرجع من اخرى فاحب ذلك للامام والعامة

Telah sampai kepada kita suatu berita bahwa Rasulullah saw kalau pagi-pagi berangkat shalat id melewati suatu jalan, dan apabila pulang melewati jalan yang lain. Dan saya senang yang seperti itu, begitu pula bagi pemimpin maupun orang umum.

Dan satu hal lagi yang terpenting, bahwa selama perjalanan dai rumah hingga tempat shalat Rasulullah saw tidak-hnti-hentinya, membaca bertakbir.

كان النبي ان النبي صلى الله عليه وسلم يخرج يوم الفطر فيكبر من حين يخرج من بيته حتى يأتي المصلى  

Bahwasannya Nabi saw membaca takbir ketika keluar di hari raya idul fitri dari rumahnya hingga tempat shalat

(red. Ulil H)

Sabtu 26 Juli 2014 7:0 WIB
Perintah, Hukum, Macam dan Bacaan Takbir
Perintah, Hukum, Macam dan Bacaan Takbir

Pada dasarnya membaca takbir adalah sebagain dari dzikir. Karena dengan bertakbir itu seseorang akan ingat kepada keagungan Allah Sang Pencipta. Oleh karena itu tidak ada larangan dalam bertakbir selama masih dalam batas kewajaran.

Sesuai petunjuk aturan pembacaan takbir, terbagi dua macam takbir mursal dan takbir muqayyad. Takbir mursal adalah pembacaan takbir yang tidak terikat waktu, karena dianjurkan sepanjang malam. Seperti takbir di malam Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun takbir muqayyad adalah takbiran yang terbatas pada waktu, seperti pembacaan takbir setiap selesai sahalat lima waktu selama hari raya Idul adha dan hari tasyrik, 11.12 dan 13 Dzulhijjah.

Anjuran pembacaan takbir ini berlandaskan pada Surat al-Baqarah ayat 185:

ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ماهداكم ولعلكم تشكرون

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Begitu juga anjuran Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam haditsnya yang berbunyi:

زينوا اعيادكم بالتكبير

"Hiasilah hari raya kalian dengan memperbanyak membaca takbir."

Anjuran memperbanyak takbir ini sepadan dengan imbalan yang dijanjikan karena sabda Rasulullah:

اكثروا من التكبير ليلة العيدين فانهم يهدم الذنوب هدما

"Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa."

Dari berbagai dalil di atas para faqih menghukumi pembacaan takbir sebagai sebuah kesunnahan. Sebagaimana yang ditrangkan dalam kitab Fathul Qarib

ويكبر ندبا كل من ذكر وانثى وحاضر ومسافر فى المنازل والطرق والمساجد والاسواق من غروب ليلة العيد (اي عيد الفطر) الى ان يدخل الامام فى الصلاة

"Disunnahkan membaca takbir bagi lagi-laki dan perempuan, di rumah maupun di perjalanan, di mana saja, di jalanan, di masjid juga di pasar-pasar mulai dari terbenarmnya matahari malam idul fitri hingga Imam melakukan shalat id."

Adapun bacaan takbir secara lengkap adalah

اللهُ اكبَرْ كبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا، لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن، وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون، وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن، لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَق ُوَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه، لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُ وَِللهِ الحَمْ

"Allah Maha Besar dengan segala kebesaran, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-sebanyak puji, dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore, tiada Tuhan(yang wajib disembah) kecuali Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya, dengan memurnikan agama Islam, meskipun orang-orang kafir, orang-orang munafiq, orang-orang musyrik membencinya. Tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dengan ke Esa anNya, Dia dzat yang menepati janji, dzat yang menolong hambaNya dan memuliakan bala tentaraNya dan menyiksa musuh dengan ke Esa anNya. tiada Tuhan (yang wajib disembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dan segala puji hanya untuk Allah."

Namun sering juga pembacaan takbir secara singkat dan lebih umum.

اللهُ اكبَرْ، اللهُ اكبَرْ اللهُ اكبَرْ لاالٰهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر، اللهُ اكبَرُوَِللهِ الحَمْد

 

Jumat 20 Juni 2014 7:23 WIB
Mendalami Makna Doa Iftitah
Mendalami Makna Doa Iftitah
Ilustrasi (wikipedia)

Secara bahasa kata iftitah bermakna pembukaan, serumpun dengan kata miftah yang secara bahasa bermakna alat pembuka atau kunci. Maka, doa iftitah bisa dimaksudkan dengan doa kunci yang berfungsi sebagai alat pembuka dalam setiap shalat. Karena itu kandungan isinya semacam laporan akan kehadiran diri memenuhi panggilan Allah swt.

وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمآوَاتِ وَالأَرْضَ

"Kuhadapkan mukaku kepada Dzat yang menjadikan langit dan bumi."

Yang dimaksud dengan ‘muka’ bukanlah muka dzahir yang sama arti dengan wajah yang secara fisik menghadap ke arah kiblat . Tetapi muka bathin yang menghadap ke Allah swt. Karena pada hakikatnya yang memiliki kemampuan melihat Allah dan mengenalnya bukanlah mata dzahir, tetapi mata bathin. Setelah melapor atas kehadirannya (sebagaimana tertuang dalam doa di atas), orang yang shalat kemudian melakukan pengakuan akan kelemahan dan kepasrahan yang berbunyi:

حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

 "…dengan condong  dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang musyrik."

Dalam bagian pertama doa iftitah ini terlihat sekali proses pengakuan seorang hamba akan kebesaran-Nya, yang secara otomatis memposisikan diri lebih kecil dari-Nya. Barang siapa terbersit dalam hatinya akan adanya kekuasaan yang lebih besar dari Allah swt. sungguh orang itu telah terjerumus dalam kemusyrikan. Begitu pula, jika terbersit kesombongan dalam hati akan ke-Aku’annya, sungguh orang itu telah terjerumus dalam syirik kecil. Jika demikian keadaannya, maka hendaklah orang itu menata hati terlebih dahulu sebelum mengucapkan doa iftitah.

Setelah melaporkan kehadiran dan pangakuan dirinya, barulah seseorang berikrar akan posisi berbagai laku ibadahnya sebagaimana terucap dalam lanjutan doa iftitah:


 إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، لاَشَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya milik Allah Rabbil Alamin, tiada sekutu bagi-Nya. Demikianlah aku diperintah, dan aku termasuk orang Muslim."

Inilah bentuk kepasrahan total seseorang, tidak ada kemampuan dan kepemilikan dalam dirinya. Jangankan hidup dan mati, ibadah dan segala amal yang dikerjakannya-pun semua dikembalikan kepada Allah Yang Maha Kuasa.  

Pengakuan akan kepasrahan total dari seorang hamba kepada Allah swt merupakan adalah kandungan inti dalam doa iftitah, karena itulah doa iftitah juga dapat dimaknai sebagai doa pembuka, tidak hanya pembuka shalat tetapi juga pembuka pintu langit. Karena doa ini sekonyong-konyong membukakan pintu komunikasi antara hamba dan Tuhannya. (Red: Ulil Hadrawi)