IMG-LOGO
Hikmah

Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar

Rabu 5 April 2017 19:49 WIB
Share:
Belajar dari Kisah Nabi Nuh: Manfaat Istighfar
Ketika kaum Nabi Nuh 'alaihissalam tidak mau menaati ajakan beliau untuk beriman kepada Allah mereka diberi azab oleh Allah berupa kekeringan dan mandulnya kaum perempuan selama empat puluh tahun. Hal itu menjadikan hancurnya ternak dan tanaman mereka. Setelah keadaan ini berlangsung lama mereka mendatangi Nabi Nuh untuk meminta pertolongan.

Oleh Nabi Nuh mereka diminta untuk beristighfar, meminta ampun dari dosa kekufuran dan kemusyrikan, kepada Allah. Bila mereka mau beristighfar, Nabi Nuh menjanjikan bahwa Allah akan menurunkan hujan yang deras dari langit, memberi limpahan harta dan keturunan, serta menjadikan kebun-kebun dan sungai-sungai yang dpat menghidupi mereka.

Penjelasan di atas disampaikan oleh para ulama mufassir dalam berbagai kitab tafsir ketika mereka menafsirkan ayat 10–12 dari Surat Nuh.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku (Nabi Nuh) katakan, ‘minta ampunlah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Ia maha pengampun. Maka Dia akan menurunkan hujan yang deras dari langit kepada kalian. Dan Ia akan menganugerahkan kepada kalian harta dan anak-anak, serta menjadikan bagi kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.”

Atas dasar ayat ini para ulama menyimpulkan bahwa istighfar merupakan sebab terbesar diturunkannya hujan dan diperolehnya berbagai macam rezeki serta bertambah dan berkembangnya keberkahan.

Suatu ketika ada orang yang mengadu kepada Imam Hasan al-Bashri perihal kegersangan yang melanda daerahnya. Orang yang lain mengadu perihal sedikitnya hasil bumi yang ia peroleh. Yang lain lagi mengadu perihal sulitnya mendapat keturunan. Dan yang lainnya mengadu perihal kefakirannya. Kepada semua orang ini Imam Hasan menganjurkan untuk memperbanyak beristighfar kepada Allah. Ia ditanya, “Orang-orang datang kepadamu dengan berbagai hajat, mengapa engkau perintahkan mereka semua untuk beristighfar?” Imam Hasan al-Bashri menjawabnya dengan membaca ayat di atas. (Yazid Muttaqin)


Sumber: Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili dan kitab tafsir lainnya.

Share:
Senin 3 April 2017 13:16 WIB
Kisah Suami Beristri Super Galak
Kisah Suami Beristri Super Galak
Foto: ilustrasi
Ada seorang sahabat yang bernasib malang. Ya, ia ditakdirkan berjodoh dengan wanita yang sangat galak. Hampir setiap hari, ia pun menuai hujatan-hujatan dari sang istri. Baik itu disebabkan hal sepele, maupun hal yang memang patut diributkan. 

Mulai dari sesuatu yang memang kesalahan suami, hingga sesuatu yang sebenarnya salah sang istri, namun menjadi salah suami kembali ketika ia kalah argumentasi.

Waktu terus berjalan. Hari-hari masih ia jumpai dengan hujatan istri. Tak tahan dengan hal itu, ia lalu bermaksud untuk mengadukannya kepada Sayidina Umar Radiyallahu 'anhu. Meminta petuah, kira-kira istri yang macam ini patut untuk diberi ganjaran apa.

Dengan langkah gontai ia menuju ke rumah Sayidina Umar. Sembari menjaga perasaan agar tidak terlalu emosional dan menata kata untuk diadukan kepada Sang Khalifah.

Sesampainya diambang pintu, ia mulai mengetuk dan mengucap salam. Beberapa kali ia lakukan, namun tak ada jawaban yang ia terima. Namun, sayup-sayup ia mendengar keributan di dalam rumah. Ternyata, apa yang didapati sahabat tersebut?

Sayidina Umar, Sang Khalifah, sedang duduk terpekur. Sedang istrinya menghujat sejadi-jadinya. Ia pun juga sedang dimarahi oleh sang istri. Merasa sungkan, sahabat itupun bergegas membalikkan badan dan mengurungkan niat untuk mengadu.

Belum sampai sepuluh langkah, tiba-tiba terdengar suara yang sangat lantang.

"Wahai fulan, kemarilah!" Sayidina Umar ternyata memanggilnya.

"Mengapa engkau tidak jadi masuk ke rumahku? Bukankah engkau tadi sudah mengetuk pintu dan mengucap salam yang belum sempat ku balas."

"Sayidina Umar, saya mengurungkan niatku untuk mengadukan suatu hal kepadamu," jelas sahabat itu.

"Mengapa engkau mengurungkannya?" tanya Sayidina Umar.

" Tak apa, sekarang aku telah menyadarinya,"

"Sekali-kali tidak. Apa sebenarnya hal itu. Katakanlah padaku!"

"Tidak, Aku sungkan terhadapmu,"

"Katakanlah!" perintah Sayidina Umar dengan nada meninggi.

Akhirnya, sang sahabat pun memulai pengaduannya.

"Begini, awalnya saya berniat untuk mengadukan istri saya kepada anda. Ia sangatlah galak. Setiap hari, saya selalu saja mendapat hujatan darinya. Saya sudah tidak tahan lagi. Bermaksud untuk meminta solusi kepada anda."

Sayidina Umar hanya mengangguk-angguk.

"Sesampainya di sini dan melihat anda pun ternyata juga sedang dimarahi oleh sang istri. Saya tersadar, betapa sama nasib dan perjuangan kita. Betapa setiap pasangan pasti juga memiliki masalah tersendiri."

Sayidina Umar pun menimpali.

"Dan yang terpenting adalah. Bahwa kita harus menyadari, pasangan kita adalah seorang manusia. Jika manusia, maka sudah pasti ia memiliki kekurangan. Tidak bisa sempurna. Karena jika kita mencari yang sempurna, maka sampai kapanpun tidak akan kita menemuinya. Karena tujuan kita diciptakan berpasangan tak lain adalah supaya kita saling menyempurnakan."

"Dengan begitu, jika sedari dini kita menyadari bahwa pasangan kita hanyalah manusia biasa. Kita akan mulai berlaku lembut, fleksibel, dan tidak suka menuntut pasangan kita untuk menjadi seperti ini dan itu. Karena kita sadar, bahwa manusia pasti memiliki kekurangan," imbuh Sayidina Umar.

Ya, memang benar. Manusia adalah makhluk yang tidak mungkin sempurna. Karena memang, kesempurnaan hanya dimiliki oleh Allah semata. Teringat sebuah maqolah arab mengatakan:

لَيْسَ النَّاسُ كَامِلًا

Tidak ada manusia yang sempurna.

Akhirnya, sahabat pun pulang dengan hati yang mulai lapang. Dengan hati yang mulai tertata dan menyadari, bahwa istrinya hanyalah manusia biasa. Yang tentu, memiliki kekurangan di setiap sisinya. 

(Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari Mauidhah Hasanah oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubarok dalam acara pernikahan salah satu Santriwati Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah.

Ahad 2 April 2017 14:30 WIB
Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas
Kisah Ulama Diselamatkan dari Maut oleh Binatang Buas
Ilustrasi (st-takla.org)
Kasus mati karena binatang buas sudah banyak dijumpai. Cerita selamat dari keganasan binatang  berbahaya juga kerap kita dengar. Namun, bagaimana dengan kasus lepas dari maut justru karena pertolongan binatang mematikan? Yang terakhir ini kedengarannya aneh tapi betul-betul dialami Abu Hamzah al-Khurasani, ulama sufi pada abad pertengahan.

Dalam sebuah perjalanan ibadah haji, entah bagaimana, ia tiba-tiba terperosok ke lubang sumur. Tentu saja ia kewalahan kembali ke atas. Di tengah ancaman keselamatan jiwanya itu, Abu Hamzah al-Khurasani sempat akan berteriak minta tolong tapi urung. "Tidak. Demi Allah aku tak akan berteriak minta tolong."

Belum habis gumam batinnya itu berujar, tiba-tiba ada dua orang melintas di bibir sumur. Tahu ada lubang di dekat mereka, salah seorang di antara keduanya bertutur, "Mari kita tutup bibir sumur ini agar tak ada orang jatuh ke dalamnya."

Bibir sumur pun ditutupi rerimbunan pohon tebu hingga penuh. Ingin sekali Al-Khurasani berteriak. Namun lagi-lagi hatinya melarang. "Aku akan berteriak kepada yang lebih dekat ketimbang mereka berdua (yakni Allah)," gumamnya.

Al-Khurasani akhirnya cuma bisa diam. Tak disangka, beberapa saat kemudian bibir sumur terbuka kembali. Lalu ada yang menurunkan kakinya dan seperti menyuruh al-Khurasani untuk memegangnya. Al-Khurasani pun bergelayutan dengan kaki itu dan keluar dari sumur dengan selamat.

Ia baru sadar bahwa kaki yang menolongnya itu adalah kaki seekor binatang buas (sabu'). Sabu' juga bisa berarti singa. Kemudian terdengarlah suara, "Wahai Abu Hamzah, bukankah ini lebih baik? Kami selamatkan kami dari kematian dengan hewan mematikan."

Kisah ini bisa kita baca dalam kitab an-Nawadir karya Syekh Ahmad Syihabuddin bin Salamah al-Qalyubi. Cerita tersebut menggambarkan betapa kuatnya keyakinan al-Khurasani terhadap pertolongan Allah. Ia tak berteriak minta tolong karena sedang membersihkan hati dari ketergantungan kepada selain-Nya, bukan lantaran menolak ikhtiar, apalagi bermalas-malasan. Ia sedang menampilkan sikap tawakal yang total, di saat bersamaan meyakini bulat-bulat akan kehadiran Allah setiap saat.

Kasus pertolongan oleh binatang buas yang tak lazim tersebut bisa dilihat sebagai kemuliaan (karomah) dari Tuhan atas kesungguhan Abu Hamzah al-Khurasani dalam bersabar dan berpasrah diri secara penuh kepada-Nya. (Mahbib)

Sabtu 1 April 2017 20:0 WIB
Ketika Istri Minta Pahala di Dunia
Ketika Istri Minta Pahala di Dunia
Alkisah, hiduplah sepasang suami istri dengan kehidupan yang memprihatinkan. Sang suami, hanyalah seorang pengangguran. Sedangkan istri, pekerjaannya hanya satu, menjadi ibu rumah tangga.

Namun, sisi keagamaan mereka pantas diacungi jempol. Rumahnya yang berdekatan masjid, semakin mendukung proses beribadah kepada Allah Ta’ala. Shalat wajib lima waktu, shalat rawatib yang menggiringnya, pun dengan shalat mustahab yang lainnya, shalat-shalat yang disunahkan mereka lakukan juga.

Apalagi dengan sang suami, dengan pekerjaannya sebagai “pengangguran saleh”. Intensitas pertemuannya dengan Sang Maha Esa semakin padat. Sepanjang waktu hanya ia gunakan untuk beribadah kepadaNya. Selesai subuh, ia tak akan beranjak dari masjid sebelum mentari terbit. Pun setelahnya, ketika tiba waktu dhuha maka ia bergegas untuk kembali shalat sunah. Begitu seterusnya dengan ashar, maghrib, dan isya’. Ia habiskan untuk beribadah kepada Allah.

Tapi inilah dunia, segalanya harus berperantara perkara dunia pula. Kita beribadah, maka kita perlu makan sebagai sumber kekuatan. Kita shalat, maka kita butuh pakaian sebagai penutup aurat. Ya, namanya saja makhluk dunia, ya pasti akan membutuhkan sarana dan prasarana  dunia. 

Kira-kira, begitulah isi benak sang istri. Hingga suatu saat ia merajuk pada sang suami,

“Wahai suamiku, engkau begitu taat terhadap Tuhanmu. Hari-hari engkau habiskan untuk beribadah kepadaNya. Dari pagi hingga malam, bahkan hingga terbit fajar lagi, engkau persembahkan hanya untukNya. Hingga aku pun, terkadang merasa terabaikan,”

“Wahai istriku, ada maksud apakah engkau berkata seperti itu. Bukankah manusia memang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Gerangan apa yang membuatmu bersedu-sedan seperti demikian?” tanya suami keheranan.

“Bukan apa suamiku, namun lihatlah baju gamisku yang mulai lapuk ini. Tidakkah engkau sadar, dari hari pertama perkawinan kita, tak sehelaipun kain lagi yang mampu kau berikan melainkan gamis yang mulai lapuk ini. Tak pernah sekalipun aku meminta sesuatu darimu salama ini. Namun, tegakah engkau melihat istrimu hanya berbalut sehelai kain lapuk yang telah usang?” adu sang istri pada suaminya.
Merasa iba, sang suami balik bertanya, “Lalu apakah yang kau inginkan wahai istriku?”

“Wahai suamiku, kita telah begitu taat kepada Allah subhanahu wata’ala. Seluruh perintahnya, telah kita usahakan utuk ditunaikan. Segala larangan pun juga sekuat tenaga telah kita jauhi. Oleh karena itu, kiranya engkau sudi memintakan ganjaran, pahala balasan kepada Tuhanmu atas ketaatan kita selama ini,” pinta sang istri.

Lantas, sang suami pun berbalik arah menuju ambang pintu rumah mereka. Melangkahkan kaki menapaki jalan setapak menuju masjid yang biasa ia gunakan untuk beribadah. Sesampainya di sana, sang suami pun mulai bermunajat kepada Allah,

“Ya Allah, sungguh… hamba ikhlas akan segala takdirmu. Selama bertahun-tahun hamba dirundung kefakiran, hamba tetap berusaha taat kepadaMu. Karena hamba yakin, segala qadha dan qadarMu adalah yang terbaik. Namun, izinkan hamba untuk mengadu kepadamu ya Allah. Bahwasannya istri hamba meminta sedikit saja harta sebagai pahala balasan bagi kami untuk kami jadikan bekal di dunia ini.”

Syahdan, tiba-tiba terdengar suara berdebam dari arah belakang. Mendengar suara itu, sang suami lantas keheranan dan mencoba untuk menengok suara apakah itu. 

Ternyata, itu adalah sebuah sandal. Ya, hanya sebelah saja. “Sandal siapakah ini?” batin sang suami keheranan. 

Setelah dilihat secara seksama, keheranannya semakin menjadi-jadi. Betapa tidak, sandal yang hanya sebelah saja itu ternyata terbuat dari emas bertabur berlian di bagian atasnya. Ia heran, siapakah pemilik sandal ini. Ia merasa, tak mungkin tetangganya memiliki sandal semewah ini. Kalaupun ada, pastilah itu milik orang yang sangat kaya raya.
Ia lalu bergumam, “Ya Allah, sandal siapakah ini?”

Sontak terdengar hatif (suara tanpa rupa) berujar kepadanya,  

“Wahai fulan, sesungguhnya itu adalah sandal istrimu kelak di surga. Tuhanmu telah menyegerakannya di dunia sebagai pahala balasan akan ketaatanmu. Dan akitbat itu pula, tak kan ada lagi sandal pengganti bagi istrimu kelak di surga. Itu disebabkan karena engkau telah memintanya di dunia.”

Mendengar suara tersebut, sang suami lalu tertegun. Membayangkan tentang betapa anehnya istrinya kelak di surga dengan memakai sandal ghanya sebelah saja. 

Menyadari hal itu, sang suami pun berujar, “Ya Allah, ampunilah hambamu yang tak sabar akan pahala balasan ini ya Allah. Hamba terlalu gegabah akan perkara duniawi. Hamba tidak ikhlas dalam beribadah. Seakan, hamba adalah pekerja yang meminta gaji dalam hal beribadah. Ampuni hamba ya Allah.”

Seketika ia lalu melemparkan sandal emas tersebut ke langit. Dan benar, sandal tersebut hilang dan tak jatuh kembali. Ia pun pulang dengan wajah tertunduk.

Sesampainya di rumah, sang suamipun mulai bercerita tentang kejadian yang baru saja ia alami. Tentang munajatnya, tentang sandal emas, pun dengan hatif yang menerangkan ihwal jatuhnya sandal emas. 

Mendengar hal tersebut, pasutri ini kemudian menangis tersipu malu. Mereka lalu tersadar betapa hinanya seorang hamba yang meminta pahala di dunia atas ibadahnya yang tak seberapa. Sungguh, tanpa mereka sadari pun ibadah yang mereka lakukan tak lain adalah sebab rahmat yang diberikan Allah. (Ulin Nuha Karim)

Disarikan dari tausiah KH Munif Zuhri Girikusumo dalam acara pembacaan Maulid ad diba’I  di Dalem Ageng, Girikusumo, Mranggen, Demak.