IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Napak Tilas Para Nabi dalam Ibadah Haji

Rabu 30 Agustus 2017 15:0 WIB
Share:
Napak Tilas Para Nabi dalam Ibadah Haji
Ilustrasi (Reuters)
Dalam ibadah haji terdapat beberapa kegiatan yang erat hubungannya dengan mengenang kembali dan memerankan apa yang pernah dilakukan para nabi dan orang-orang shaleh di masa lalu. Ibadah Sa’i misalnya, yaitu berjalan kaki antara bukit Shafa dan Marwah pulang pergi sebanyak tujuh kali, menurut sebagian riwayat, hal seperti itu pernah dilakukan oleh Siti Hajar, ketika ia berusaha mencari air untuk anaknya, Ismail, yang hampir mati karena kehausan.

Hajar dan putranya Ismail yang masih bayi itu, ditempatkan oleh Nabi Ibrahim di suatu daerah, yang sekarang di seputar Masjidil Haram, Makkah. Nabi Ibrahim kemudian kembali ke Palestina setelah menempatkan istri dan anak tunggal-nya di daerah itu. Tempat tersebut dulunya berupa dataran rendah atau lembah gersang yang dikelilingi bukit-bukit berbatu yang disebut “Bakkah”. Di sana tidak ada sumber air, tumbuh-tumbuhan, tidak ada tempat untuk bernaung dan tidak berpenghuni.

Nabi Ibrahim merasa sedih meninggalkan istri dan putra tunggal yang amat dicintainya di daerah yang amat gersang itu sehingga beliau mengadu kepada Allah Tuhan Yang Maha-Pengasih dan Maha-Penyayang, yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya. Ia berkata:

“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati, wahai Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14]:37).

Tidak berapa lama setelah Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya Hajar dan anak tunggalnya Ismail, persediaan air yang mereka bawa telah habis. Namun Hajar masih dapat membahagiakan anaknya yang masih bayi itu dengan air susunya yang murni, tetapi karena ia sendiri tidak minum, lama-kelamaan air susunya tidak keluar lagi. Kini ia menatap anak bayinya yang amat dicintainya itu, anak bayi itu berkedip berkali-kali dan mengatupkan matanya hampir mati kehausan. Sebagai seorang ibu, ia merasakan kesedihan yang luar biasa, hatinya merasa tersayat-sayat dengan sembilu, ia tidak tahan, ia tidak kuat dan tidak rela melihat anak bayinya yang masih suci itu mengalami kehausan yang amat sangat.

Ia kemudian berikhtiar mencari air, berlari antara bukit Shafa dan Marfah sampai tujuh kali. Ketika di bukit Marwah dan ia tidak berhasil memperoleh air, ia kembali kepada anaknya, baru kemudian ia mendapati air bening mengalir dekat kaki anaknya. Air itu kemudian ia bendung dengan pasir dan segera diambilnya sebagian untuk anaknya. Dengan kasih sayang Allah, selamatlah ia dan anaknya dari kehausan. Sumber air tersebut menurut salah satu riwayat kemudian menjadi sumber air zamzam. Air itu amat terkenal, sampai saat ini sumber air Zamzam itu dapat memasok puluhan ribu liter air setiap jam, untuk memenuhi kebutuhan para jamaah haji. Air zamzam itu pula merupakan oleh-oleh yang paling penting bagi para jamaah haji. Setiap kali jamaah haji tiba di tanah airnya, mereka selalu ditanya oleh penduduk di kampungnya tentang oleh-oleh, berupa air zamzam itu.

Mereka yang melakukan ibadah Sa’i dengan mengibaratkan melakukan napak tilas perjalanan yang dilakukan Siti Hajar, akan dapat menghayati ibadah itu dengan baik. Ia akan merasa terharu, sedih, bahagia, ikhlas dan terbayang padanya keagungan Allah yang senantiasa melimpahkan karunia dan rahmat-Nya bagi semua makhluk-Nya. Nikmat dan karunia-Nya sungguh amat luas tidak terbatas dan tidak terhenti. Setiap jamaah haji atau jamaah umrah yang memerankan dirinya seperti Hajar, Ismail, Ibrahim dan sebagainya, ibadahnya menjadi bermakna dan berisi. Sebaliknya mereka yang tidak memahami hal itu dengan baik, tidak akan mampu menghayati keagungan ibadah itu sehingga apa yang dilakukannya menjadi kurang bermakna.

Pemahaman dan penghayatan seperti itu hendaknya diterapkan juga saat kita melempar jumrah, wukuf di Arafah, tawaf, bermalam di Mina dan kegiatan-kegiatan lainnya dalam ibadah haji. Pada waktu jamaah haji melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah, seperti ke Gua Hira, gua Tsur, Dar Maulud Nabi, Dar Siti Khadijah dan tempat bersejarah lainnya juga hendaknya dihayati dengan baik. Hendaknya direnungi apa yang terjadi di tempat-tempat itu pada masa-masa yang lalu. Dengan demikian ziarah yang dilakukan tidak sia-sia, tetapi akan mengarahkan kita menuju pemahaman sejarah dari kehidupan para nabi dan para sahabat. Mereka telah berjuang selama bertahun-tahun tanpa mengenal putus asa bagi kemuliaan umat manusia di dunia dan akhirat.

Agar setiap jamaah haji bisa melakukan kegiatan tersebut di atas, hendaknya ia rajin mempelajari buku Manasik Haji, petunjuk tempat-tempat bersejarah. Sejarah hidup Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wasallam. dan sejarah para sahabat Nabi. Para jamaah bisa lakukan hal itu sebelum berangkat haji, atau pada waktu mereka berhaji, sambil mengisi waktu-waktu luang di sekitar kegiatan ibadah.

“Sesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk tempat beribadah manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS Ali-Imran 3:96)

Selain memperhatikan dan memahami peristiwa masa lalu, dalam ibadah haji diperlukan juga bekal yang cukup. Bekal itu adalah persiapan mental dan fisik serta pemahaman yang baik mengenai ibadah haji. Beberapa ayat al-Qur’an berikut ini, merupakan tuntunan yang sangat baik bagi setiap jamaah, semoga kita bisa memahaminya sehingga memperoleh bekal yang cukup dalam beribadah.

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 197).

Ayat ini menegaskan bahwa bekal ibadah haji sangat penting, yaitu kesiapan mental agar tidak melakukan rafats. Rafats adalah segala aktivitas refleksi dan perenungan terhadap hal yang bersifat pornografi dan porno-aksi. Termasuk perbuatan rafats adalah hubungan suami istri dan pengantar ke arah itu waktu melakukan ihram. Fasik adalah tindakan, perbuatan, perilaku yang tercela dan merugikan orang lain. Termasuk dalam perilaku fasik adalah mengambil milik orang lain, mencela dan menyakiti sesamanya. Sedangkan jidal adalah perdebatan yang keras dan menyebabkan permusuhan diantara para jemaah haji.

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu, maka apabila kamu Telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha-Pengampun lagi Maha-Penyayang”. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 197-199).

Beberapa tuntunan yang disebutkan di atas, mengantarkan para jamaah haji agar dapat melaksanakan ibadahnya dengan baik, sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan al-Sunnah. Dengan kegiatan tersebut, maka setiap jamaah akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga bagi kehidupan masa depannya, terutama dalam memberikan manfaat terhadap sesama umat manusia. Mereka dapat memberikan apa yang dimilikinya kepada orang lain yang amat membutuhkan.


KH Zakky Mubarak, Penulis adalah Rais Syuriah PBNU

Share:
Rabu 30 Agustus 2017 6:2 WIB
Keutamaan Ziarah Kubur Nabi bagi Jamaah Haji
Keutamaan Ziarah Kubur Nabi bagi Jamaah Haji
Ilustrasi (via muslisms.com)
Ziarah kubur sudah membudaya dalam masyarakat Indonesia dan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Nusantara. Mereka sudah terbiasa menziarahi keluarga, kerabat terdekat, dan para ulama yang sudah meninggal. Mereka menziarahi kuburannya sembari berdoa serta mengambil hikmah dari ziarah kubur tersebut bahwa kelak siapapun itu pasti akan meninggal.

Ziarah kubur termasuk sunah Nabi SAW dan bukan sesuatu terlarang. Rasulullah SAW berkata, “Dahulu saya melarang kalian ziarah kubur, tetapi sekarang ziarahlah,” (HR Muslim). Selain mengunjungi kubur keluarga terdekat dan para ulama, tentu berziarah ke makam Rasulullah SAW lebih utama.

Sebab itu, para ulama menganjurkan jamaah haji dan umrah menyempatkan dan menyediakan waktu untuk ziarah ke makam Rasulullah. Imam An-Nawawi dalam Al-Idhah fil Manasik mengatakan.

إذا انصرف الحجاج والمعتمرون من مكة، فليتوجهوا إلى مدينة رسول الله صلى الله عليه وسلم، لزيارة تربته صلى الله عليه وسلم، فإنها من أهم القربات وأنجح المساعي. وقد روي البزار والدارقطني باسنادهما عن ابن عمر رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من زار قبري وجبت له شفاعتي

Artinya, “Apabila jamaah haji dan umrah pergi dari Mekkah, hendaklah mereka menuju kota Rasulullah SAW (Madinah), untuk mengunjungi makam Rasulullah SAW. Karena ziarah makam Rasulullah termasuk ibadah penting dan perbuatan terpuji. Al-Bazar dan Ad-Daraquthni meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW berkata, ‘Orang yang berziarah ke kuburanku, maka dia mendapatkan syafaatku.’”

Ziarah ke makam Rasul termasuk perbuatan mulia dan bentuk dari kecintaan terhadap Rasulullah. Bahkan dalam hadits riwayat Al-Bazar dan Ad-Daraquthni ditegaskan, orang yang berziarah ke makam Rasul, kelak dia akan mendapatkan syafaatnya. Pada saat ziarah kubur dianjurkan memperbanyak salawat dan berdoa kepada Allah agar mendapatkan manfaat dari ziarah tersebut. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Selasa 29 Agustus 2017 18:3 WIB
Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf
Ini Penjelasan Lengkap Seputar Tawaf
Saudara-saudara seiman, di bulan Zulhijjah ini kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah haji bagi mereka yang melaksanakan. Sebagaimana kita maklumi bersama, tawaf adalah ibadah mengelilingi Ka‘bah sebanyak 7 kali putaran sebagaimana tertuang dalam ayat Al-Qur’an.

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ [الحج: 29

Artinya, “Hendaknya mereka melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah),” (Surat Al-Hajj ayat 29).

Syarat Tawaf
Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi ketika melakukan tawaf, Musthafa Said Al-Khin dan Musthafa Diyeb Al-Bugha dalam Al-Fiqhul Manhaji ‘ala Madzhabil Imamis Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), juz I, halaman 396 menjelaskan syarat-syarat tersebut.

1. Melaksanakan semua syarat sah shalat, yaitu suci, niat, menutup aurat, dan lain-lain, kecuali dalam tawaf, kita masih diperkenankan berkomunikasi dengan orang lain, sebagaimana hadits Nabi.

الطواف بالبيت صلاة إلا أن الله تعالى أباح فيه الكلام

Artinya, “Tawaf mengelilingi Baitullah itu sama seperti shalat, hanya saja, Allah memperbolehkan berbicara di dalam tawaf.”

2. Pundak kiri lurus terus ke arah kiblat, tidak menoleh ke arah lainnya. Hal ini ditegaskan oleh Imam Abu Ishak As-Syirazi dalam Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i (Damaskus: Darul Qalam, 1992), juz I, halaman 403.

وقال في الجديد يجب أن يحاذيه بجميع البدن لأن ما وجب فيه محاذاة البيت وجبت محاذاته بجميع البدن كالاستقبال في الصلاة

Artinya, “Imam Syafi’i dalam pendapat terbaru berkata, ‘Wajib menolehkan sekujur badan, karena yang diwajibkan dalam hal ini adalah menolehkan badan ke arah Baitullah, maka wajib menolehkannya sekujur badan sebagaimana kewajiban menghadap Ka‘bah dalam shalat.’”

3. Putaran berlawanan arah jarum jam, dan dimulai dari titik hajar aswad

4. Putaran dilakukan sebanyak 7 kali.

Jenis Tawaf
Selanjutnya, dalam tawaf, kita mengenal ada jenis tawaf yang hukum dan waktu pelaksanaannya berbeda-beda, yakni,

1. Tawaf Qudum (tawaf kedatangan), yakni tawaf yang dilakukan oleh pelaksana haji ifrad atau qarin saat memasuki Mekkah, sebelum melaksanakan wuquf. Bagi pelaksana haji tamattu’, tawaf ini tercakup ke dalam tawaf umrah. Hukum melaksanakan tawaf qudum ini ialah wajib sehingga jika tidak dilaksanakan, maka wajib membayar dam.

2. Tawaf Ifadhah. Tawaf ini merupakan rukun haji sehingga jika tidak dilaksanakan akan dapat membatalkan haji. Waktu pelaksanaan tawaf ini, yang utama ialah pada tanggal 10 Dzulhijjah sesudah melempar jumrah aqabah dan tahallul. Sedangkan waktu lainnya ialah sesudah tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah terbitnya fajar di tanggal 10 Dzulhijjah, atau sesudah keluarnya matahari di tanggal 10 Dzulhijjah. Tidak ada batasan waktu untuk akhir pelaksanaan tawaf ini, tetapi sebaiknya dilaksanakan sebelum berakhirnya hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

3. Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Tawaf ini dilaksanakan sebelum jamaah haji meninggalkan kota Mekkah. Hukumnya wajib.

Selebihnya, bagi siapa saja yang menginginkan untuk melaksanakan tawaf, maka hukumnya adalah sunah sepanjang waktu.

Kesunahan dalam Tawaf
Pada saat melaksanakan tawaf, kita disunahkan melakukan hal-hal berikut.

1. Sebaiknya tawaf dilakukan dengan berjalan kaki, kecuali bagi mereka yang lemah.

2. Mencium hajar aswad, atau isyarat mencium hajar aswad setiap kali melintasinya.

3. Berjalan cepat saat putaran 1-3 dan berjalan biasa saat putaran 4-7.

4. Shalat sunah dua rakaat sesudah tawaf di belakang makam Ibrahim.

Demikian penjelasan singkat tawaf pada kesempatan ini. Semoga bermanfaat. Wallahu a‘lam. (Muhammad Ibnu Sahroji)
Selasa 29 Agustus 2017 6:5 WIB
Amalan Paling Disunahkan saat Wukuf di Arafah
Amalan Paling Disunahkan saat Wukuf di Arafah
Ilustrasi (alrai.com)
Wukuf Arafah termasuk rukun paling utama dalam ibadah haji. Inilah yang menjadi pembeda antara haji dan umrah. Kalau dalam ibadah umrah tidak ada kewajiban wukuf di Arafah, sementara dalam ibadah haji wajib wukuf di Arafah. Bahkan dalam hadis ditegaskan, haji adalah Arafah.

Ketika wukuf di Arafah disunahkan memperbanyak doa dan zikir. Rasulullah SAW mengatakan, “Doa paling utama ialah doa hari Arafah,” (HR Malik). Al-Mawardi dalam Al-Hawil Kabir menjelaskan, di antara doa yang sering dibaca Rasul saat wukuf di Arafah ialah.

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي قَلْبِي نُورًا اللَّهُمَّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَسَاوِسِ الصَّدْرِ وَمِنْ سَيِّئَاتِ الْأُمُورِ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا يَلِجُ فِي اللَّيْلِ وَشَرِّ مَا يَلِجُ فِي النَّهَارِ وَمِنْ شَرِّ مَا تَهُبُّ بِهِ الرِّيَاحُ، وَشَرِّ بَوَائِقِ الدَّهْرِ

Lâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîkalah. Lahul mulku walahul hamdu wa hua alâ kulli syai’in qadîr. Allâhummaj‘al fî sam‘î nûrâ, wa fî basharî nûrâ, wa fî qalbî nûrâ. Allâhummasyrah lî shadrî, wa yassir lî amrî. Allâhumma innî a‘ûdzu bika min wasâwisis shadri, wa min saayi’âtil umûr, wa min adzâbil qabri. Allâhumma innî a‘ûdzu bika min syarri mâ yaliju fil lail, wa syarri mâ yaliju fin nahâr, wa syarri mâ tahubbu bihir rîhu, wa syarri bawâ’iqid dahri.

Artinya, “Tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia memiliki kekuasaan dan berhak atas setiap pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Wahai Tuhanku, jadikanlah pendengaranku, penglihatanku, dan hatiku bercahaya. lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku. Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan hati, perkara yang buruk, dan dari azab kubur. Aku juga berlindung dari kejahatan yang datang di malam hari dan siang hari. Aku berlindung dari kejahatan yang dibawa angin dan kejelekan zaman”

Selain memperbanyak doa dan zikir, jamaah dianjurkan pula membaca Surat Al-Hasyr sebanyak-banyaknya. Al-Mawardi dalam Al-Hawi mengatakan.

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ الْحَشْرِ فَقَدْ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

Artinya, “Disunahkan membaca Surat Al-Hasyr sebanyak-banyaknya karena ada riwayat dari Ali bin Abu Thalib tentang hal itu.”

Al-Mawardi menambahkan.

وَيَجْتَهِدُ فِي الدُّعَاءِ لِأَنَّهُ أَعْظَمُ الْأَيَّامِ الَّتِي تُرْجَى فِيهَا الْإِجَابَةُ، وَرَوَى ابْنُ الْمُسَيِّبِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ - قَالَ: " مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ أَنْ يَعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَدَدًا مِنَ النَارِ مِنْ يَوْمِ عرفة

Artinya, “Hendaklah bersungguh-sungguh dalam doa, sebab hari itu termasuk hari paling utama yang diharapkan terkabulnya doa. Ibnu Musayyab meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW berkata, ‘Tidak ada hari di mana Allah SWT membebaskan hamba-Nya dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah.”

Berdasarkan penjelasan Al-Mawardi di atas, setidaknya ada tiga hal yang dianjurkan memperbanyaknya ketika wukuf di Arafah: pertama, memperbanyak doa, khususnya doa yang telah dikutip di atas; kedua, memperbanyak membaca Surat Al-Hasyr merujuk pada riwayat Ali bin Abu Thalib; ketiga, bersungguh-sungguh dalam berdoa sebab Allah SWT mengabulkan doa hamba-Nya di hari Arafah. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)