IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri

Senin 1 Januari 2018 15:0 WIB
Share:
Nasihat Seorang Kiai Sepuh kepada Para Santri
Ilustrasi (jawapos).
Di suatu malam yang ditumpahi cahaya bulan, seorang kiai sepuh dari Jawa Timur bertutur. Ratusan santrinya menyimak kalimat demi kalimat yang keluar laksana mutiara. Dengan nada pelan dan santai, sang kiai memberi nasehat yang kurang lebih demikian:

***
Saya ini dulu sudah mengaji lebih dari tiga puluh tahun, tapi perasaan saya tak dapat ilmu,  kecuali hanya sedikit saja. Namun, saya selalu setia dengan proses ini, proses belajar ala pesantren, taat pada metode pembelajaran para kiai dan ulama salaf.

Pernah, ketika dulu mengaji Kitab Ihya Ulumuddin baru beberapa lembar saja, kiai saya sakit, sampai dua tahun, mendekati tiga tahun. Selama itu pula saya setia menunggu beliau. Setelah beliau sembuh, saya baru dapat melanjutkan mengaji Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Saya juga mengaji kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.

Alhamdulillah, seletelah tiga puluh tahun lebih mengaji, saya dapat membaca kitab-kitab (kuning) apa saja yang telah diajarkan oleh kiai saya. Namun, seakan itu hanya di lidah saya saja, tak sampai tenggorokan. Belum menancap di hati saya. 

Kemudian, tanpa saya duga, kiai saya meminta saya untuk menikahi putri beliau. Saya kaget: kenapa mesti saya? Saya itu  kan tidtak punya apa-apa? Saya juga bukan kategori orang yang bisa bekerja. Usut punya usut, ternyata kiai saya menikahkan putrinya kepada saya justru karena ketidakpunyaan saya. Karena saya tidak punya harta benda. Ini, lho, berkah saya tidak punya apa-apa, saya malah menjadi menantu kiai saya.

Saudara saya membanyol: kiai memilih kamu (yang tidak punya apa-apa) agar kamu tidak berani mempoligaminya! Haha, banyolan saudara saya ini ada-ada saja. Mana mungkin saya berani menduakan putri kiai saya sendiri.

Kemudian saya membantu mengajar di pesantren kiai saya, sampai kemudian ayah saya meninggal dunia. Karena dirumah ayah saya punya pesantren, saya mesti kembali. Saya pamit kepada kiai saya:

Kiai, saya pamit, saya harus pulang, ayah saya meninggal dunia, kata saya. 

Kiai menjawab, oh iya betul, kamu harus pulang. Punya tinggalan pesantren harus terus dilestarikan.
Namun kiai, ada satu hal yang ingin saya minta: saya ini tidak punya apa-apa. Mohon minta doa amalan kepada kiai, agar saya mudah mendapat rejeki, pinta saya.

Bukannya diberi amalan doa, saya malah dimarahi: Huuussss!!! Kamu ini gimana, seperti tak percaya kepada Allah saja!!!

Sontak saya tercekat kaget, tak karu-karuan rasanya. Marah betul beliau.

Namun di situlah, di akhir-akhir dengan kiai saya itu, hanya pertemuan sekitar lima menit, ilmu kiai saya tertancap ke dalam hati. Karena marahnya kiai itu, saya jadi ingat semua apa-apa yang di dalam Al-Quran, Hadits dan kitab-kitab, termasuk yang ada di Ihya’ dan Hikam.

Saya jadi ingat ayat Al-Quran: Wa ma min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha; dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya (QS. Hud [11]: 6). Saya jadi ingat: 

...Wamayyattaqillaaha yaj ‘allahu mahrajan. Wayarzuqhu minhaitsu laayahtasib, wamayya tawaqal ‘alallaahi fahuwa hasbuhu, inalallaha balighu amrihi  qad ja ‘alallaahu liqulli syai in qodron.”. ...Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rejeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS. At-Thalaq: 65, 2-3)

Lima menit itu benar-benar mengubah saya. Yang tadinya ilmu hanya di lidah, sepertinya masuk ke hati saya. Hati saya jadi tawakkal, pasrah kepada Allah. Apa yang selama ini saya kaji di kitab-kitab itu, baru saya rasakan setelah kiai memarahi dalam tempo lima menitan itu. Saya jadi mantap menjalani hidup.

Kemudian saya bertanya kepada istri saya: Dik, kita akan pindah. Namun rumah ayah saya kini diwarisi adik saya. Saya sudah tidak punya rumah. Apa jawaban istri saya? 

"Saya tidak menikah dengan rumahmu, Mas." Begitulah jawabannya. Saya jadi lega.

Memang benar Hadis Nabi: memilih istri itu yang terpenting adalah karena faktor agamanya... fadzfarbidzaatitdieni, taribatyadaka.

Nabi Muhammad juga demikian: menjodohkan putrinya dengan Sayyidina Ali kw, salah seorang yang miskin (secara duniawi, namun pandai ilmu agamanya). Padahal, banyak sahabat Nabi yang kaya raya.

Juga demikian salah satu sahabat beliau, Abu Hurairah. Ketika beliau mendapati putrinya yang sudah berumur untuk menikah, beliau bertanya: lelaki seperti apa yang engkau mau? Sang putri menjawab: dua syarat. Pertama pandai dalam ilmu, dan kedua miskin. Abu Hurairah membalas balik: syarat pertama bisa kumengerti. Tapi, untuk apa syarat yang kedua? Sang putri menjawab: agar dia tidak berani nikah lagi. 

Begitulah. Orang-orang dulu begitu hati-hati dalam urusan harta. Maka saya minta, jika anda sekalian menuntut ilmu, niatnya jangan karena ingin harta. Jangan karena ingin jabatan atau kedudukan. Jangan karena ingin dipuji orang lain. Jangan karena dunia. Tapi niatilah menuntut ilmu untuk mencari ridla Allah semata. Insya Allah nanti Allah yang menjamin.

Itulah salah satu kandungan yang ada dalam kitab Ihya dan Kitab Hikam. Ini kitab tasawuf, yang kadang agak bertentangan dengan (pendpat ulama) fiqih. Namun, kitab ini ampuh, sudah diakui keramatnya.

Dulu, setelah jadi, kitab Ihya ini akan dilarang oleh seseorang yang alim.  Orang itu menyuruh murid-muridnya agar kitab itu dimusnahkan, karena isinya dianggap bertentangan. Sebelum sempat memusnahkan, orang itu mimpi bertemu dengan Rasulullah,  Abu Bakar dan Umar bin Khattab ra. Ia melihat Imam Ghazali bersamanya dan mengadukan perihal kitab ini yang ingin dibakar. Ternyata rasulullah mengatakan kitab itu baik. Rasulullah kemudian mencambuk orang yang alim itu. Meski dalam mimpi, ketika bangun tidur, bekas pukulan membekas dalam tubuh, sampai waktu yang lama. Setelah itu orang alim itu bertaubat, mau mempelajari kitab Ihya’ dan bahkan ditemui Rasulullah dalam mimpi. (Kisah lengkapnya dalam Kitab Awariful Ma'arif karya Imam Syaikh Syahrowardi, ed.)

Imam Ghazali - sang Hujjatul Islam, pengarang kitab itu – ternyata tak sembarangan dalam menulis hadits. Tiap kali menulis hadis untuk dimasukkan ke kitab Ihya, beliau berwudlu, kemudian shalat sunnah, kemudian istikharah terlebih dahulu. Pasca itu, sepertinya beliau dibimbing Nabi dalam mimpi, ataupun melalui peristiwa lain. Misalnya, setelah itu, hadis yang ditulis itu dicium, apakah baunya wamgi atau tidak? Kalau baunya wangi, ini berarti benar-benar dari nabi. Kalau tidak wangi beliu tinggalkan hadits itu, tidak dimasukkan dalam kitabnya.

Inilah, kehebatan para ulama salaf. Mengapa di pesantren kitab-kitab para ulama salaf masih kita kaji. Apa maksud dari kitab ulama salaf itu? Yaitu kitab-kitab yang dibikin oleh para ulama yang tulus, bersih, jujur, wira’i, dan hanya berharap ridha dari Allah. Bukan untuk mendapat ganti cetak (royalti) yang melebihi harga cetaknya. Beliau-beliau menulis bukan karena uang, ketenaran, jabatan atau yang lainnya, tapi karena mengharap Ridla Allah semata.

Maka, anda yang belajar di pesantren dan membelajari kitab karya ulama-ulama terdahulu harus bersyukur. Dan banggalah, jangan minder. Dan jangan berhenti belajar. Usahakan apa yang anda pelajari menjadi laku dan menancap dalam hati. Karena soal hatilah yang paling sulit di dunia ini. Kalau soal ilmu dunia, skill, itu mudah. Tapi soal hati ini sulit.

Banggalah jadi santri. Kiai Mahrus Ali, guru saya, itu ya cuma mengaji di pesantren seperti ini, tapi beliau bisa mencari solusi problem-problem kebangsaan, dan sering dengan Bung Karno dan tokoh bangsa lainnya. Mbah Hasyim Asy’ari dulu juga begitu, dengan mempelajari kitab-kitab para ulama salaf. Toh beliau mampu berkontribusi banyak untuk bangsa dan negara.

Jangan minder jadi santri. Bila perlu, pakailah identitasnya, seperti sarung dan peci misalnya. Mbah Mahrus Ali dulu pakai sarung, tak pernah pakai celana. Toh beliau diterima oleh segenap tokoh bangsa. Pula Kiai Hasyim Asy’ari, yang oleh Jepang dianggap Bapak Umat Islam Indonesia, kemana-mana sering pakai sarung. Dan beliau-beliau mampu menjadi rujukan persolan agama, bangsa dan negara.

Dan para kiai hari ini juga sebenarnya bukan tidak mengerti persoalan bangsa. Hanya karena memang ada yang sementara diam. Karena memang, dari kitab ulama salaf yang diajarkan di pesantren itu, bisa untuk apa-apa. Maka, banggalah jadi santri. Jangan pernah merasa minder. Nanti bangsa dan negara ini akan butuh kalian. Butuh orang-orang yang jujur dan berakhlak.

Kita bisa lihat, bagaimana kondisi negara ini hancur ditangan orang terdidik. BLBI belum selesai, ada Century. Century belum selesai, ada lagi dan lagi. Terus begitu, saking ruwetnya. Mereka tak akan kuat terus menerus seperti itu. Masalah belum ketemu solusi, sudah masalah lagi. Ini persoalan utama ada pada manusianya.

Nah, dalam beberapa tahun kedepan, bangsa dan negara akan butuh kalian, butuh orang orang yang jujur, bisa dipercaya. Orang-orang akan datang ke kita, ketika ketidakjujuran dan saling-tipu sudah membabi buta dimana-mana.

Mantapkanlah ilmu sampai kedalam hati. Meski kelak kamu jadi apa saja, dan melanglangbuana ke Eropa misalnya, hati kalian masih berpijak pada pesantren ini, memegang apa yang diajarkan para kiai dan ulama salaf.

Dan jangan lupa, untuk senantiasa shalat di awal waktu, dan lebih-lebih dilakukan secara berjamaah. Jika sudah beristri kelak, jadilah imam istri kalian dalam shalat berjamaah. Jika anda sekalian memenuhi kewajiban kalian, Insya Allah nanti Allah sendiri yang menata kalian.

Kadang kita ini malu. Bahkan, Ibnu Athaillah sendiri heran: kenapa untuk disuruh masuk surga saja harus “dipaksakan”. Ini kan mengherankan. Coba saja: shalat subuh berjamaah, misalnya, itu jelas sangat utama, jalan menuju syurga, tapi sulit orang menjalankannya. Padahal itu jalan menuju kebahagiaan.  Hal-hal yang wajib, lebih-lebih yang sunnah, itu kan dari Allah agar kita menuju ke kebahagiaan, tapi seringkali sulit orang melaksanakan.

Demikian, mudah-mudahan ini semua bermanfaat untuk kita semua. Amin Allahumma Amin.

***
Nasihat-nasihat itu, kurekam dalam kepala. Kuolah dengan penangkapanku, kemudian kusarikan dalam tulisan ini dengan caraku sendiri, yang jelas tak persis seluruhnya. Kuambil yang ingat-ingat saja, kutambahkan dan kurangi apa yang menurutku membantu pemahaman. Nasehati itu disampaikan oleh sang kiai sepuh ketika mengisi ceramah pada khataman Kitab Ihya dan Al-Hikam. Meski hanya sebentar, nasehat Kiai Sepuh itu begitu bermakna, dan mengingatkan kembali nilai-nilai islami dan kesantrian.

Kuketahui kemudian, kiai sepuh itu adalah almarhum KH. Abdul Aziz Mansyur, Pimpinan Pesantren Paculgowang. Mbah Aziz, begitu beliau bisa disapa, kemudian banyak menelurkan dan menyunting buku. Bahkan beliau menjadi pimpinan tertinggi (Ketua Dewan Syuro) PKB, dikenal kealimannya, serta menjadi tokoh nasional. Beliau bercerita semasa nyanti di Pesantren Lirboyo, Kediri. Dan ceramah itu, ditayangkan di TV9 malam jumat (28/12) lalu. Untuk beliau, al-Faatihah. (Ahmad Naufa)
Tags:
Share:
Ahad 31 Desember 2017 0:2 WIB
Cara Rasulullah Lindungi Non-Muslim
Cara Rasulullah Lindungi Non-Muslim
Rasulullah mampir di sebuah lembah ketika beliau bersama para sahabatnya pulang dari perang Dzatur Riqa'. Rombongan singgah sejenak di bawah rindangnya pepohonan, melepas penat, hingga ramai-ramai tidur di tempat itu.

Saat itu Rasulullah menggantungkan pedangnya di atas pohon, dan turut beristirahat sebagaimana peserta perjalanan yang lain. Kala semua orang terlelap itulah, kejadian tak terduga muncul.

Seorang pria dari golongan musuh tiba-tiba datang, mencabut pedang Nabi yang bertengger di pohon, lalu mengacungkannya ke leher Rasulullah. Dengan tegas, anggota kaum Musyrikin ini menggertak, "Kau takut padaku?"

Rasulullah menjawab dengan tenang, "Tidak."

"Siapa yang melindungimu dari perbuatanku?"

"Allah," sahut Nabi.

Jawaban singkat Nabi itu ternyata membawa kekuatan luar biasa. Pedang si musuh jatuh hingga giliran Nabi mengambil pedang itu.

Selanjutnya Rasulullah bertanya, "Siapa yang melindungimu dari perbuatanku?"

Bisa dibayangkan, betapa kalutnya mental si musuh. Setelah ia merasa gagah menenteng senjata hendak menghabisi nyawa Nabi, kini tiba-tiba situasi berbalik. Bayang-bayang kematian ada di depan mata.

"Jadilah engkau sebaik-baik orang yang melindungi," jawab musuh itu, memohon simpati dari Nabi.

"Maukah kau bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah?" Nabi menawarkan.

"Tidak. Tapi aku berjanji tidak akan memerangimu, juga tidak bersekutu lagi dengan kubu yang memerangimu."

Orang musyrik ini beruntung berhadapan dengan Rasulullah, manusia pilihan yang bersih dari kotoran benci dan dendam. Orang tersebut dibebaskan begitu saja oleh Nabi.

Cerita ini bisa kita baca di kitab Riyâdlus Shâlihîn, yang memaparkan jalur riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim. 

Mengapa Rasulullah melepaskan orang yang hampir saja menggorok lehernya? Jika diamati, hadits tersebut mengungkap adanya janji dari orang yang tak mau masuk Islam itu untuk benar-benar menghentikan permusuhan dengan kaum Muslimin. Komitmen ini bisa dibaca sebagai kontrak sosial, dan Nabi sangat menghormati sebuah janji meski potensi dikhianati tetap ada.

Hal ini pula yang tampak ketika Rasulullah mentransformasi kota Yatsrib menjadi Madinah. Secara bahasa madînah berarti tempat beradab. Makna ini dicerminkan oleh Nabi dari keputusannya membangun konstitusi yang menjamin kehidupan secara aman dan damai pluralitas penduduk di sana.

Konstitusi itulah yang dikenal sebagai "Piagam Madinah" (Mîtsaq Madînah). Piagam ini dibangun dari kesepakatan bersama (mu’âhadah) atau dalam bahasa modern dikenal dengan kontrak sosial yang menjamin kesamaan hak dan perlindungan terhadap seluruh anggota kesepakatan. Artinya, konstitusi yang diagung-agungkan modernitas sebagai penanda sistem politik yang maju dan rasional, telah dilakukan Nabi belasan abad lalu.

Saat itu Madinah dihuni oleh penduduk yang cukup plural. Ada kaum Muslim Muhajirin dan Ansor, suku Aus dan Khajraj, serta suku-suku lain. Juga pemeluk agama Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Nabi sengaja membangun sistem berdasar perjanjian kolektif demi terlindunginya hak-hak dasar seluruh warga tanpa terkecuali, mulai dari hak hidup, hak kepemilikan, hingga hak diperlakukan adil tanpa diskriminasi. Sebagaimana lazimnya konstitusi, para pelanggar dianggap sebagai pengkhianat dan mendapat sanksi tertentu.

Rasulullah bersabda:

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيْحَهَا تُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Artinya: “Barangsiapa yang membunuh orang yang terikat perjanjian, maka ia tak akan mencium bau surga. Sungguh bau surga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR al-Bukhari)

Dalam riwayat lain, Nabi mengatakan:

أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهَدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيْبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيْجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: “Ingatlah, siapa yang sewenang-wenang terhadap orang yang terikat perjanjian, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan darinya (merampas), maka aku adalah lawan bertikainya pada Hari Kiamat. (HR Abu Dawud)

Dua hadits tersebut menunjukkan betapa seriusnya Rasulullah dalam menanggapi perjanjian atau kesepakatan, apalagi yang melibatkan banyak orang. Meski secara politik berada di puncak kepemimpinan, Nabi tidak menggunakan kekuasaannya itu untuk memaksa orang lain berbondong masuk Islam, mendiskriminasi minoritas, atau kezaliman lainnya. Beliau lebih suka tampil sebagai pemimpin dan pengayom ketimbang sebagai penguasa, dan dengan segenap kearifannya membangun peradaban secara cerdas dan bermartabat. Wallahu a’lam. (Mahbib)

Sabtu 30 Desember 2017 17:0 WIB
Kisah Mbah Syifa’ Kacuk Membimbing Istri Istiqamah Shalat Malam
Kisah Mbah Syifa’ Kacuk Membimbing Istri Istiqamah Shalat Malam
KH M Syifa’ Harun merupakan tokoh agama kenamaan di daerah Kacuk, Kebonsari, Kota Malang, Jawa Timur. Pengaruh beliau disegani masyarakat sekitar daerah tersebut. Sosok yang kerap disapa Mbah Syifa’ ini disebutkan pernah nyantri di Sidoarjo, serta berguru kepada banyak kiai kharismatik khususnya di daerah Malang Raya. Beliau wafat pada tahun 1955 dan dimakamkan di Pemakaman Umum Kebonsari.

Kisah ini disampaikan turun-temurun dalam berbagai kesempatan pengajian di Pondok Nurul Ulum, terutama untuk motivasi para santri. Tak jarang juga dibacakan sebagai manakib dalam pagelaran Haul. Mbah Syifa’ ini adalah istri pendiri pondok Kacuk, almarhumah Nyai Hj Rohmah Noor. Keduanya dikaruniai dua anak, Nyai Kholifatuz Zahro dan Gus Fauzi Syifa’, pengasuh Pesantren Nurul Ulum saat ini.

Pondok Nurul Ulum Malang saat ini berkembang pesat, tidak lepas dari perjuangan awal Nyai Rohmah Noor. Menurut Gus Fauzi, pengasuh Pondok Nurul Ulum yang merupakan putra beliau dalam berbagai kesempatan pengajian, salah satu amalan yang tak lepas dilakukan oleh Nyai Rohmah selama hidupnya adalah istiqamah dalam shalat tahajud dan qiyamul lail.

Keistiqamahan ini tak lepas dari bimbingan suami beliau, Mbah Syifa’, saat keduanya masih belum lama menikah. Pada masa dahulu, perbedaan usia yang jauh antarmempelai dalam pernikahan masih dipandang lumrah. Karena itulah Mbah Syifa’ yang sudah cukup berumur, terpaut cukup jauh dengan usia Mbah Nyai Rohmah yang beranjak dewasa.

Cara Mbah Syifa’ membimbing istri beliau untuk istiqamah qiyamul lail ini tidak dengan langsung menyuruh untuk melakukan shalat malam seperti beliau. Keluar malam hari di daerah Malang masa itu, adalah salah satu tantangan tersendiri untuk masyarakat. Selain belum ada lampu, serta jika bermaksud hendak berwudu, perlu pergi ke sungai terdekat. Agak seram tentunya. Dan Anda tahu, udara Malang masa itu masih tergolong dingin, terlebih di malam menjelang pagi.

Nyai Rohmah dibangunkan oleh Mbah Syifa’ untuk menemaninya pergi ke sungai pada dini hari, hitung-hitung membawa lampu cempluk. Hanya menemani saja, tidak lebih. Setelah kembali ke rumah, Mbah Rohmah diizinkan Mbah Syifa’ untuk tidur kembali. Dan hal ini terjadi sekian waktu lamanya.

Lambat laun karena nyaris setiap hari diajak menemani berwudhu ke sungai, Mbah Nyai juga merasa ingin ikut berwudhu juga. Hal ini tidak dipermasalahkan oleh suaminya. Akhirnya, Mbah Nyai ikut wudhu, sesekali mengikuti shalat sang suami.

Hal ini berjalan terus seiring waktu, hingga akhirnya Mbah Nyai Rohmah mengikuti amalan yang dilakukan Mbah Syifa’ setiap harinya. Shalat malam menjadi keistiqamahan beliau hingga akhir hayat. Amalan ini juga hingga saat ini menjadi rutinitas santri di Pondok Nurul Ulum.

Dari kisah di atas, perlu kita hikmahi bahwa cara mengajarkan agama pun tidak harus dengan cara yang memerintah, melainkan bisa dengan bertahap dan tanpa paksaan, bahkan dalam lingkup keluarga. Dengan demikian, ajaran agama yang ramah mampu menjadi pondasi keluarga,serta menebar kebaikan untuk masyarakat sekitarnya. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Jumat 29 Desember 2017 17:0 WIB
Cara Mbah Umar Solo Tepis Hoaks ketika Diisukan Bid’ahkan Bedug
Cara Mbah Umar Solo Tepis Hoaks ketika Diisukan Bid’ahkan Bedug
Pada tahun 1978, atau sekitar tahun itu, beredar kabar bohong alias hoax di Solo bahwa Mbah Kiai Ahmad Umar bin Abdul Mannan membid’ahkan penggunaan bedug di masjid. Isu itu juga menyatakan bagi yang tidak percaya dipersilakan datang ke Pondok Pesantren Al-Muyyad Mangkuyudan guna membuktikan kebenarannya. 

Di Masjid Al-Muayyad memang sejak awal didirikan tidak ada bedug. Yang ada hanyalah sebuah kenthongan untuk menandakan waktu shalat fardhu telah tiba atau iqamah segera dilakukan. Hal ini berbeda dengan di Masjid Tegalsari Surakarta sebagai masjid jami’ dan Masjid Agung Surakarta yang selain terdapat kenthongan juga ada bedug. Ketiadaan bedug di Mangkuyudan telah dijadikan dalil oleh penyebar hoax bahwa Mbah Kiai Umar tidak kersa bedug dengan alasan bid’ah.

Mendengar isu itu Mbah Kiai Umar tidak mengundang wartawan untuk konferensi pers, atau melakukan press release ke berbagai media, atau pula melakukan sumpah di depan publik untuk melakukan penyangkalan. Hal yang segera dilakukan Mbah Kiai Umar adalah melakukan tindakan nyata dengan membeli sebuah bedug berukuran cukup besar untuk ditempatkan di masjid.

Sejak itu setiap hari suara bedug terdengar menggelegar dari mana-mana di sekitar Pondok Pesantren Al-Muayyad yang dulu lebih dikenal dengan nama Pondok Mangkuyudan. Keberadaan bedug beserta suaranya yang cukup keras itu merupakan jawaban empiris dari Mbah Kiai Umar atas hoax yang menimpa beliau. 

Dengan jawaban empiris berupa bedug di masjid tersebut Mbah Kiai Umar berharap masyarakat bisa kritis menyikapi hoax atau isu bid’ah dengan cara meragukan dan bukan langsung mempercayainya untuk kemudian membuktikan hal yang sebenarnya guna memperoleh kebenaran yang meyakinan bahwa Mbah Kiai Umar tidak membid’ahkan bedug.

Cara Mbah Kiai Umar merespon hoax seperti itu sejalan dengan metode keraguan (syak minhaji) yang diperkenalkan oleh Imam al-Ghazali sebagaimana dapat ditemukan dalam risalah beliau berjudul al-Munqidz min ad-Dhalal (Pembebas dari Kesesatan) yang ditulisnya pada sekitar tahun 1097.

Metode keraguan Imam Ghazali pada intinya merekomendasikan agar kita bersikap ragu atau tidak membenarkan atau meyakini begitu saja apa yang ada dalam pikiran seperti anggapan-anggapan, dugaan-dugaan, atau bahkan apa yang telah ditangkap oleh indera seperti mendengar suatu berita atau melihat sesuatu, sebelum melakukan pembuktian. Tentu saja metode ini berkaitan dengan hal-hal di luar masalah keimanan. 

Bagaimanapun, meragukan adalah sikap tengah-tengah atau moderat. Ia berada di antara dua sikap yang saling bertolak belakang, yakni antara percaya dan mengingkarinya. Karena posisinya di tengah, maka tidak sulit untuk beralih ke posisi mempercayai atau mengingkari setelah ada dalil-dalil atau bukti-bukti yang valid.


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta