IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid

Rabu 14 Februari 2018 20:15 WIB
Share:
Perihal Kewajiban Mempelajari Ilmu Tauhid
Definisi Tauhid

Makna dasar tauhid adalah pengetahuan bahwa sesuatu itu satu. Adapun dalam kaca pandang agama, tauhid ialah ilmu yang mengaji tentang penetapan aqidah keagamaan dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan.

Syekh Ibrahim ibn Muhammad al-Baijuri dalam Tuhfatul Murid ‘ala Jawharatit Tauhid mendefinisikannya sebagai:

هُوَ عِلْمٌ يقتدر بهِ عَنْ إِثْبَابِ الْعَقَائِدِ الدِّيْنِيَّةِ مُكْتَسَب مِنْ أَدِلَّتِهَا الْيَقِيْنِيَّةِ

Artinya: “Ilmu Tauhid adalah ilmu yang dengannya mampu menetapkan aqidah-aqidah keagamaan yang diperoleh dari dalil-dalil meyakinkan.” 

Dinamakan ilmu tauhid karena bagian utama ilmu ini adalah mengenai keesaan Allah yang menjadi dasar ajaran Islam. Ilmu ini disebut juga sebagai ilmu ushul (fundamen agama) atau ilmu aqidah. Terkait penggunaan dalil aqliyah (akal) dan dalil naqliyah (Al-Quran dan Hadits), ilmu ini juga disebut dengan ilmu kalam.

Kewajiban Mempelajarinya

Tujuan mempelajari ilmu tauhid adalah mengenal Allah dan rasul-Nya dengan dalil dalil yang pasti, dan menetapkan sesuatu yang wajib bagi Allah—sifat-sifat yang sempurna; dan menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan yang dimiliki makhluk, serta dan membenarkan risalah seluruh rasul-rasul-Nya. 

Dengan ilmu Tauhid kita terhindar dari pengaruh aqidah-aqidah yang menyeleweng dari kebenaran. Dan dengan demikian semakin mengukuhkan paham aqidah mayoritas umat Islam di dunia, yakni Ahlussunnah wal Jamaah, dengan dua imamnya yang utama, Imam Abul Hasan Al-Asyari (w. 324 H), dan Imam Abu Manshur Al-Maturidy (w. 333 H). 

Adapun hal yang dibicarakan atau objek pembahasan dalam ilmu tauhid adalah dzat Allah dan dzat para rasul-Nya, dilihat dari segi apa yang wajib (harus) untuk Allah dan Rasul-Nya, apa yang mungkin, dan apa yang jaiz (bisa atau tidak bisa).

Kemuliaan ilmu dinilai dari materi yang dibahas. Ilmu tauhid memiliki kedudukan istimewa daripada ilmu lainnya karena pembahasan ilmu ini berkaitan dengan dzat Allah dan Rasul-Nya.

Hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang mukallaf, meskipun hanya mengetahuinya dengan dalil-dalilnya yang global. Adapun mempelajari ilmu tauhid dengan dalil yang terperinci hukumnya adalah fardhu kifayah.

Apabila ilmu tauhid sudah meresap ke dalam jiwa, maka akan tumbuh perasaan puas, rela, dan bahagia atas pemberian dan ketentuan Allah, sehingga jiwa menjadi tenang dan tenteram. Jiwa juga memiliki harga diri dan menghargai orang lain, dan memiliki rasa kasih sayang kepada sesama manusia.
Aqidah Warisan Rasulullah

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ إِنِّي عِنْدَ النَّبِيِّ إِذْ جَاءَهُ قَوْمٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا فَدَخَلَ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَبِلْنَا جِئْنَاكَ لِنَتَفَقَّهَ فِي الدِّينِ وَلِنَسْأَلَكَ عَنْ أَوَّلِ هَذَا اْلأَمْرِ مَا كَانَ قَالَ كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ

Dari Imran bin Hushain, berkata: "Aku bersama Nabi, tiba-tiba datanglah kaum dari golongan Bani Tamim (penduduk Najd). Nabi berkata kepada mereka: "Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim!" Mereka menjawab: "Engkau telah memberi kami kabar gembira kepada kami, oleh karena itu berilah kami [harta benda]!" Lalu datanglah orang-orang dari penduduk Yaman. Nabi berkata kepada mereka: "Terimalah kabar gembira wahai penduduk Yaman, karena Bani Tamim tidak mau menerimanya!" Penduduk Yaman menjawab: "Kami menerima kabar gembira itu wahai Rasulullah dengan senang hati. Kami datang kemari untuk mempelajari ilmu agama dan untuk menanyakan perihal permulaan apa yang ada di dunia ini!" Nabi menjawab: "Allah itu ada, pada saat sesuatu apa pun belum ada. Arasynya Allah itu ada di atas air. Kemudian Allah menciptakan langit dan bumi dan mencatat segala sesuatu dalam lauh mahfuzh." (HR. al-Bukhari [6868]).

Teks hadits di atas memberikan gambaran yang sangat jelas kepada kita, bahwa para sahabat nabi (dalam hadits itu direpresentasi oleh Penduduk Yaman) memiliki kemauan yang keras untuk mengetahui dan menanyakan persoalan penting dalam pandangan agama, yaitu seputar keesaan Allah yang bersifat qadim (tidak ada permulaannya) dan eksistensi alam yang bersifat baru (huduts) yang merupakan materi penting dalam pembahasan ilmu tauhid. 

Berdasarkan hadits tersebut, para ulama ahli hadits seperti al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi dan lain-lain berpandangan, bahwa karakter al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari yang gemar mendalami ilmu tauhid atau aqidah dan mengantarnya menjadi pemimpin Ahlussunnah wal Jama'ah dalam bidang aqidah, merupakan karakter bawaan dari leluhurnya yang memiliki cita-cita yang luhur untuk menguasai ilmu pengetahuan dan mendalami persoalan aqidah yang sangat penting dengan bertanya secara langsung kepada Nabi. Dalam hal ini al-Imam al-Hafizh al-Baihaqi berkata:

قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ: وَفِيْ سُؤَالِهِمْ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ الْكَلاَمَ فِيْ عِلْمِ اْلأُصُوْلِ وَحَدَثِ الْعَالَمِ مِيْرَاثٌ ِلأَوْلاَدِهِمْ عَنْ أَجْدَادِهِمْ. 

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata: "Pertanyaan penduduk Yaman kepada Nabi tersebut, menjadi bukti bahwa kajian tentang ilmu aqidah dan barunya alam telah menjadi warisan keluarga al-Asy'ari dari leluhur mereka secara turun temurun." (Al-Hafizh Ibn Asakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, [Damaskus: Percetakan al-Taufiq, 1347 H], halaman 66).

Berdasarkan keterangan di atas, tidak aneh apabila di kemudian hari, dari kalangan suku al-Asy'ari lahir seorang ulama yang menjadi pemimpin Ahlussunnah wal Jama'ah dalam memahami dan mempertahankan aqidah yang diajarkan oleh Nabi dan sahabatnya, yaitu al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari.

Tauhid atau aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah tiada lain adalah aqidah Islam itu sendiri, yaitu aqidah yang diyakini oleh Rasulullah, para sahabat, ulama penerusnya hingga sekarang, yang terhindar dari berbagai macam bid'ah aqidah yang menyimpang darinya. Meskipun dalam lingkungan Ahlussunnah wal Jama'ah terkenal dua ulama yang dijadikan panutan dalam aqidah, yaitu Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 H/874-936 M) dan Abu Manshur al-Maturidi (238-333 H/852-944 M), bukan berarti keduanya merupakan penggagas aqidah baru dalam Islam, tetapi merupakan ulama yang telah berjasa besar menjaga aqidah sesuai tantangan zamannya, sebagaimana penjelasan Tajuddin bin Ali as-Subki (727-771 H/1327-1370 M) dan Muhammad Zahid al-Kautsari (1296-1371 H/1879-1952 M) secara berurutan berikut ini:

اِعْلَمْ أَنَّ أَبَا الْحَسَنِ لَمْ يُبْدِعْ رَأْيًا وَلَمْ يُنْشِ مَذْهَبًا. وَإِنَّمَا هُوَ مُقَرِّرٌ لِمَذَاهِبِ السَّلَفِ مُنَاضِلٌ عَمَّا كَانَتْ عَلَيْهِ صَحَابَةُ رَسُولِ اللهِ. فَالْاِنْتِسَابُ إِلَيْهِ إِنَّمَا هُوَ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُ عَقَدَ عَلَى طَرِيقِ السَّلَفِ نِطَاقًا وَتَمَسَّكَ بِهِ وَأَقَامَ الْحُجَّجَ وَالْبَرَاهِينِ عَلَيْهِ، فَصَارَ الْمُقْتَدِى بِهِ فِي ذَلِكَ السَّالِكُ سَبِيلَهُ فِي الدَّلَائِلِ يُسَمَّى أَشْعَرِيًّا

“Ketahuilah, sungguh Abu al-Hasan al-Asy'ari tidak menyampaikan pendapat baru dan membuat mazhab. Beliau hanya menetapkan pendapat-pendapat ulama salaf dan membela aqidah yang dipedomani para sahabat Rasulullah, maka penisbatan kepadanya hanyalah karena mempertimbangkan beliau berperan mengokohkan kajiannya, memedomaninya, dan menetapkan hujjah dan argumentasinya, sehingga orang yang mengikutinya dan menempuh metodenya dalam dalil-dalil aqidah disebut orang yang bermazhab Asy’ari.” 

وَإِمَامُ الْهُدَى أَبُو مَنْصُورِ الْمَاتُرِيدِيُّ وَعَنْ سَائِرِ الْأَئِمَّةِ بَنَى تَوْضِيحَ الدَّلَائِلِ عَلَى تِلْكَ الرَّسَائِلِ كَمَا جَرَى عَلَى ذَلِكَ الْإِمَامُ الْمُجْتَهِدِ أَبُو جَعْفَرِ الطَّحَاوِيُّ فِي كِتَابِ بَيَانِ الْاِعْتِقَادِ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ عَلَى مَذْهَبِ فُقَهَاءِ الْمِلَّةِ: أَبِي حَنِيفَةَ وَ أَبِي يُوسُفَ وَمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ الْمَعْرُوفُ بِعَقِيدَةِ الطَّحَاوِيَّةِ.

“Imam al-Huda Abu Manshur al-Maturidi radhiyallahu 'anhu wa 'an sairil aimmah membangun penjelasan dalil-dalil aqidah berdasarkan risalah-risalah karya Abu Hanifah tersebut, seperti halnya yang dilakukan Imam Abu Ja'far at-Thahawi dalam kitabnya Bayan al-I'tiqad Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah 'ala Mazhab Fuqaha al-Millah, Abi Hanifah wa Abi Yusuf wa Muhammad bin al-Hasan yang terkenal dengan judul 'aqidah at-thahawiyyah.”

Dari keterangan ini menjadi jelas, aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah merupakan aqidah Islam yang diwarisi dari Rasulullah, para sahabat, dan ulama penerusnya.

Dalam ranah keimanan kepada Allah secara umum setiap mukallaf wajib meyakini sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi-Nya. Para ulama dalam kitab-kitabnya secara global menyebutkan beberapa kewajiban keimanan seorang muslim sebagai berikut:

• Meyakini secara mantap tanpa keraguan bahwa Allah pasti bersifat dengan segala kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya.

• Meyakini secara mantap tanpa keraguan bahwa Allah mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

• Meyakini secara mantap tanpa keraguan bahwa Allah boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin), seperti menghidupkan manusia dan membinasakannya.


Yusuf Suharto, Dewan Pakar Aswaja NU Center Jombang; anggota tim penulis buku "Khazanah Aswaja"
Tags:
Share:
Kamis 7 September 2017 3:2 WIB
Melihat Allah, Mungkinkah? (2-Habis)
Melihat Allah, Mungkinkah? (2-Habis)
Melihat Allah di akhirat

Pada dasarnya permasalahan ini dapat dikelompokkan menjadi dua pembahasan: Pertama, Kelompok yang menetapkan ru’yatullah fil akhirat Imam Asy’ari di dalam kitabnya Maqalaat al-Islamiyyin mengatakan bahwa: 

جملة ما عليه اهل الحديث والسنة الاقرار بالله وملائكته....الى ان قال.. ويقولون اِن الله سبحانه وتعالى يرى بالابصار يوم القيامة كما يرى القمر ليلة البدر يراه المؤمنون ولا يراه الكافرون لانهم عن الله محجوبون فال الله عز وجل "كلا انهم عن ربهم يومئذ لمحجوبون"

Di antara pendapat Ahlussunnah adalah orang mukmin kelak di akhirat dapat melihat Allah SWT dengan mata, sebagaimana dapat melihat bulan purnama dengan mata (artinya, tidak ada kesamaran dan keraguan dalam melihat-penulis), dan hal ini tidak berlaku bagi orang kafir seperti dalam firman-Nya (QS. Al-Tathfif 15);

Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka.

Bahkan Imam Syafi’I saking begitu yakinnya bahwa kelak di akhirat Allah SWT dapat dilihat ia berani mengatakan: 

امَا والله ِ لَوْ لَمْ ُيوقِنْ محمد بن ادريس بِاَنَّه يَرَى رَبَّه فِى المَعاد لمّا عَبِدَه فى الدنيا

Ingatlah, aku bersumpah atas nama Allah SWT, andaikan Muhammad bin Idris tidak yakin bahwa ia kelak akan meliat Tuhannya di akhirat, niscaya ia tidak akan menyembah-Nya di dunia.

Banyak teks-teks baik al-kitab, maupun al-sunnah mengenai masalah ru’yah (melihat Allah). Di samping al-kitab dan al-sunnah, terjadinya ru’yah di akhirat juga telah menjadi konsensus di antara para sahabat (Al-Bajuri, tt; 71). Adapun dalil-dalil mengenai ru’yatullah fil akhirat antara lain;

QS.Al-Qiyamah 22-23,

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.

Kata النظر  pada ayat di atas menurut Al-Juba’i (W 303 H) seorang tokoh Mu’tazilah yang menafikan ru’yah adalah الانتظار (menunggu) di samping itu kata الى menurutnya adalah kalimat isim yang mempunyai arti النعمة (nikmat) sehingga makna ayat di atas menurutnya adalah منتظرة نعمة ربها (menunggu nikmat Tuhannya). (Al-Bajuri, tt : 71).

Apa yang di katakan oleh Al-Jubai di atas, menurut Al-Bajuri, tidak dapat dibenarkan, karena kata النظر mempunyai beberapa penggunaan sesuai dengan rangkain dan ke-muta’addi-annya (transitif). Jika ia muta’addi dengan sendirinya, maka bermakna التوقف والانتظار (berhenti dan menunggu) seperti dalam firman-Nya, QS Al-Hadid 13. Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.

Jika muta’addi menggunakan فى mananya adalah التفكروالاعتبار (berpikir dan mengambil pelajaran) seperti dalam firman-Nya, QS Al-A’raf 185, Dan apakah mereka tidak berpikir dan mengambil pelajaran (terhadap) kerajaan langit dan bumi?

Jika muta’addi menggunakan الى maka maknanya adalah المعاينة بالابصار (pengamatan dengan mata) seperti dalam firman-Nya QS. Al-An’am 99. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. 

Dengan demikian, bahwa kata النظر ketika disandarkan pada الوجه yang mana الوجه adalah termasuk tempatnya mata, maknanya adalah “melihat”, dan ini merupakan pendapat semua mufassir, dari golongan ahlussunnah dan ahlul hadist tegas Abu al-‘Izz dalam tulisannya (Al-Qadli ‘Iyadh, Vol I : 209).

QS. Yunus, 26:

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Kata al-husna pada ayat di atas adalah surga, sedangkan kata wa ziyadah, menurut jumhur al-mufassirin adalah melihat Allah (Al-Bajuri, tt: 71).

QS. Al-Muthaffifin 15:

Sekali-kali tidak sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari Tuhan mereka.

Menurut Al-Zujaj, ayat di atas menunjukkan bahwa kelak Allah SWT dapat dilihat di hari kiamat. Jika tidak, maka ayat di atas tidak ada faidahnya, dan juga “ketidakdapatan melihat Allah SWT” bagi orang kafir juga bukan sesuatu yang hina, dan Allah telah memberitahukan (QS Al-Qiyamah 22-23) bahwa orang mukmin akan melihat-Nya dan orang kafir akan terhalang dari (melihat)-Nya (Al-Qurthubi, 2002, Vol X : 216).

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Jarir (Al-Bukhari nomor 7435), 

قال النبي صلى الله عليه وسلم انكم سترون ربكم عِيانا

Nabi bersabda sesungguhnya kalian akan melihat Tuhanmu dengan jelas. 

Meskipun Ahlussunnah menetapkan adanya ru’yah, namun perlu digarisbawahi bahwa ru’yah tersebut tanpa adanya takayyuf (cara melihat objek) sebagaimana berlaku pada sesuatu yang hadist (baru), seperti muqobalah (berhadapan), jihah (adanya arah tertentu), tahayyuz (bertempat) dan sebagainya karena ru’yah di sini merupakan suatu kekuatan yang dijadikan oleh Allah bagi makhluk-Nya tanpa adanya sarat muqobalah, tahayyuz dan lain sebagainya (Al-Bajuri, tt : 71-72).

Kedua, kelompok yang menafikan ru’yatullah fil akhirat
Di antara kelompok-kelompok yang menafikan hal ini adalah Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, dan Imamiyah (Abi al-‘Izz, Vol I; 207). Adapun dalil yang digunakan oleh kelompok Mu’tazilah sebagaimana dijelaskan Imam Fahruddin Al-Razi (W 606 H) antara lain adalah sebagai berikut (Al-Razi, tt, Vol I : 295-296):

QS. Al-An’am 103;

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Menurut Al-Razi, berdasarkan ayat di atas mereka berpegang teguh pada dua hal; pertama, tiada seorang pun yang dapat melihat Allah, kedua, ayat di atas mencegah seseorang dapat melihat-Nya.

Adapun penjelasan tentang keduanya menurut Al-Razi adalah sebagai berikut:

Persoalan:

Idrak jika disandarkan pada al-bashar adalah al-ru’yah wal ibshar (melihat dengan mata) dengan alasan bahwa tidak sah menetapkan salah satunya (ru’yah atau idrak) lantas menafikan satunya lagi, maka tidak sah apabila dikatakan رأيته وما ادركته بعيني (saya melihatnya dan saya tidak dapat mencapainya dengan mata saya), begitu pula ادركته بعيني وما رايته (saya dapat mencapainya dengan mata saya, dan saya tidak melihatnya). Hal ini menunjukkan bahwa idrak al-bashar dan ru’yah adalah satu. Jika demikian, (menurut mereka) Allah menafikan bahwa tiada seorang pun yang dapat melihat Allah dengan mata kepala kapan pun itu.

Bantahan:

Argumen ini dipatahkan oleh Imam Fahruddin Al-Razi sebagai berikut :

“Kita tidak bisa menerima bahwa idrak adalah ungkapan dari ru’yah, idrak adalah ungkapan dari kata al-wusul (sampai / mencapai ), seperti ungkapan ادرك الغلام اذا صار بالغا  seorang pemuda telah (mencapai) menginjak remaja ketika ia baligh ادركت الثمرة اذا وصلت الى حد النَّضْجِ buah telah masak ketika sampai (pada batas) matang. 

Allah berfirman dalam QS. Al-Syu’ara 61,

Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul."

Selanjutnya Al-Razi berkata, jika engkau telah mengetahui (akan hal) ini, maka kami katakan “sesungguhnya seseorang ketika melihat sesuatu dan ia melihatnya dari ujung hingga akhirnya, maka kepadanya dikatakan انه ادركه (sesunguhnya ia telah mencapainya) dengan ketentuan bahwa ia telah meliputi semua yang ia lihat. Dan tentunya hal ini hanya berlaku bagi sesuatu yang ada ujung dan akhirnya, sedangkan Allah Maha Suci dari hal ini. Dengan demikian menafikan idrak belum tentu menafikan ru’yah.

Persoalan: 

Dalam ayat tersebut Allah memuji dirinya bahwasannya tiada sesuatu pun pandangan mata yang dapat melihatnya, dan “setiap sesuatu yang ketiadaanya adalah madh (terpuji) maka keberadaannya adalah naqsu (tercela)” dan hal ini (naqsu) muhal bagi Allah. Dengan demikian, ru’yah adalah sesuatu yang dicegah atau dilarang.

Bantahan:

Konteks ayat لا تدركه الابصار adalah tamadduh (pujian) yang menunjukkan bahwa ru’yatullah adalah sesuatu yang jaiz. Jika ru’yatullah tidak jaiz, maka tidak ada tamadduh dalam ayat tersebut. Secara logis bahwa substansi sesuatu yang ma’dum (tidak ada) itu tidak terlihat, dan sesuatu yang dirinya sendiri tidak terlihat maka “ketidakkelihatannya” tersebut tidak akan menetapkan madh (pujian) atau ta’dzim (pengagungan). Berbeda jika pada diri sesuatu tersebut jaiz terlihat, lalu sesuatu tersebut mempunyai kemampuan (qudroh) untuk menghalangi penglihatan sehingga ia tidak tercapai oleh penglihatan maka dengan kemampuan yang dimiliki inilah menunjukkan adanya madh (pujian) dan ta’dzim (pengagungan). Dengan demikian, ayat لا تدركه الابصار  menunjukkan bahwa Allah Ta’ala ‘wenang” terlihat (Abdul Al-Rumi, 1985: 71-72).

Disamping itu, menurut Al-Razi, tentang apa yang mereka katakan كل ماكان عدمه مدحا كان وجوده ممتنعا setiap sesuatu yang ketiadaanya adalah madh (terpuji) maka keberadaannya adalah terlarang” kontradiktif dengan pendapat mereka sendiri yang mengatakan bahwa Allah memuji dengan menafikan kezaliman pada diri-Nya seperti dalam QS Fussilat 46, "Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya." Begitu pula dalam QS. Shad 27, Allah memuji dengan menafikan ‘abats (sia-sia) pada diri-Nya,"Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah (sia-sia)."

Namun, pada satu sisi mereka berpendapat bahwa Allah SWT mampu melakukan kezaliman dan melakukan sesuatu yang sia-sia (al-Razi, Vol I, tt 300). Mestinya jika mereka konsisten dengan pendapat mereka yang mengatakan “كل ماكان عدمه مدحا كان وجوده ممتنعا setiap sesuatu yang ketiadaanya adalah madh (terpuji) maka keberadaannya adalah terlarang” tentu mereka akan mengatakan bahwa muhal (terlarang) jika Allah berbuat kezaliman.

Persoalan:

QS. Al-A’raf 143 ...لن تراني... sekali-kali kamu (Musa) tidak akan dapat melihat-Ku.

Menurut mereka kalimat di atas menunjukkan litta’bid, (selamanya) sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Fath 15: Katakanlah: "Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti Kami.”

Jika demikian, berarti Nabi Musa tidak (akan) pernah melihat Allah sama sekali, dan hal ini juga berlaku bagi orang lain tegas Al-Razi.

Bantahan:

Menurut Imam Al-Razi, bahwa kalimat “لن “ tidak menunjukkan litta’bid dengan dalil firman Allah SWT QS. Al-Baqarah 95, ولن يتمنوه ابدا (dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya) karena sesungguhnya mereka mengharapkan kematian di akhirat seperti dalam QS. Al-Zukhruf 77, ونادوا يامَالِكُ لِيَقْضِ علينا رَبُّكَ قال اِنكم مَّاكِثُون mereka berseru “ Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab “kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).

Hal yang sama (لن bukan litta’bid) juga ditegaskan oleh Syekh Jamaluddin bin Malik seperti dikutip oleh Al-Qadli Ali bin Ali bin Muhammad bin Abi Al-‘Izz al-Dimasyqi sebagai berikut (Abi Al-‘Izz, tt: 214);

ومَن رَأى النَّفْيَ بِ لنْ مُؤَبَّدا  فقَوْلَهُ ارْدُدْ وَسِوَاهُ فَاعْضُدَا

Barangsiapa berpendapat bahwa kata “lan” adalah penafian selama-lamanya, maka tolaklah pendapatnya dan ambillah pendapat selainnya.

Persoalan:

QS. Al-Syura 51: Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir.

Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa orang yang berbicara dengan Allah SWT, sesungguhnya orang tersebut tidak melihat-Nya. Jika waktu kalam (berbicara) orang tersebut tidak melihat-Nya secara otomatis selain waktu kalam juga tidak melihat-Nya. Hal ini tidak ada yang menselisihinya (Al-Razi, tt: 296).

Bantahan:

Wahyu adalah mendengarkan kalam dengan cepat, dan bukan mengenai terhalangnya ru’yah atau tidak. Oleh karena itu mana yang menunjukkan tentang kenafiannya ru’yah?

Persoalan:

Allah Ta’ala tidak menyebut ru’yah dalam Al-Qur’an kecuali mengingkarinya (tidak membenarkan), hal itu terdapat pada tiga ayat, 

Pertama : QS. Al-baqarah 55,

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya

Kedua: QS. An-Nisa’ 153.

Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka Telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: "Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata". Maka mereka disambar petir Karena kezalimannya, 

Ketiga : QS. Al-Furqon 21

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar Telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman".

Pengingkaran (ru’yah) pada ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa ru’yatullah adalah sesuatu yang terlarang.

Bantahan:
Isti’dzam atau pengingkaran (tidak membenarkan) permintaan ru’yatullah karena semata-mata bentuk kedurhakaan dan keras kepala mereka, seperti permintaan mereka agar diturunkan malaikat (Al-Furqon 21), padahal menurut Al-Razi turunnya malaikat adalah sesuatu yang jawaz dan tidak ada yang menentangnya, karena permintaan mereka (agar diturunkan malaikat) adalah bentuk kedurhakaan mereka, maka Allah pun tidak membenarkan permintaanya (Al-Razi, tt: 300).

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa ru’yatullah (melihat Allah) di dunia merupakan sesuatu yang jaiz aqlan, namun yang mendapat kesempatan hanyalah Rasulullah SAW semata, dan itu pun beliau dapat melihat-Nya dengan kedua mata. Pendapat ini menurut Imam An-Nawawi adalah pendapat yang kuat dari kalanngan mayoritas ulama. Namun perlu diketahui, bahwa hal ini bukan berarti Rasulullah mengetahui hakikat Allah, akan tetapi bertambahnya idrak (memahami dan mengenal) kepada Allah pada diri Rasulullah, dan idrak ini pun tidak sampai pada batas ihathah (meliputi) terhadap kesempurnaan Allah SWT.

Sedangkan ru’yatullah dengan kedua mata, di akhirat menurut Ahlussunnah wal Jama’ah sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Asy’ari adalah sesuatu yang nyata bagi orang mukmin. Sedangkan kelompok Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, dan Imamiyah, mereka menafikan hal ini.

Wallahu a’lam.


Khifni Nasif, Sekretaris Aswaja Center GP Ansor Kudus, Pengajar di Madrasah Diniyah Darul Ulum Ngembalrejo Kudus

Selasa 5 September 2017 3:0 WIB
Melihat Allah di Dunia, Mungkinkah? (1)
Melihat Allah di Dunia, Mungkinkah? (1)
Kehidupan surga merupakan suatu harapan yang didamba-dambakan oleh setiap manusia. Bayang-bayang kenikmatan surga banyak digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an sebagai balasan bagi siapa saja yang iman dan patuh kepada-Nya. Namun, ada sebagian kecil manusia yang cinta dan patuh kepada-Nya tidak lagi mendambakan surga, melainkan suatu nikmat yang lebih besar dari itu, yaitu “melihat Allah” (ru’yatullah). 

Salah satunya adalah Rabi’ah al-Adawiyah (W 135 H), seorang wanita yang terkenal taat dalam beribadah, dalam syairnya ia berkata : 

أُحِبُّكَ حُبَّينِ حُبَّ الهوَى ... وَحُبًّا لأنَّكَ أَهْلٌ ِلذاكا  
 فأمَّا الذى هُو حُبُّ الهوى ... فَشُغْلِى بذكرِك عَمَّنْ سِواكا  
 وأما الذى أنْتَ أهْلٌ لَهُ ... فَكَشْفُكَ لى الحُجْبَ حتَّى أَراكا 
فَلا اْلحَمْدُ في ذا ولا ذاكَ لِى ... ولَكِنْ لَكَ الحَمْدُ فِي ذَا وذاكا 

Aku mencintai-Mu dengan dua cinta, cinta karena rindu dan cinta karena diri-Mu 
Cinta karena rindu adalah kesibukanku yang senantiasa mengingati-Mu 
Dan cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu menyingkap tabir hingga kulihat-Mu. 
(Pujianku) ini-itu, bukanlah untukku, melainkan semua pujian tersanjung untuk-Mu 

Bait ketiga dari syair di atas, Rabiah Al-Adawiyah mengungkapkan cintanya kepada Allah SWT karena (kelak) ia akan melihat Allah, dan cinta seperti inilah yang paling tinggi derajatnya di antara kedua cinta di atas, tegas Imam Al-Ghazali. Lalu pertanyaannya apakah orang mukmin dapat melihat Allah, baik di dunia maupun akhirat? 

Ru’yatullah (melihat Allah) di Dunia 

Menurut Qadli Iyadh (w. 544H) melihat Allah di dunia adalah sesuatu yang jaiz menurut akal. Menurutnya hal ini tidak ada dalil syara’ secara pasti yang melarang akan hal ini, selain itu Allah adalah dzat yang wujud dan setiap yang wujud hukumnya jawaz dilihat (Al-Qadli ‘Iyadh, 2013: 249-250). Ia berargumen berdasarkan permintaan Nabi Musa AS kepada Allah agar ia bisa melihat-Nya, seperti dalam QS, Al-A’raf 143:

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. 

Merupakan suatu yang muhal bagi nabi apabila ia tidak tahu tentang sesuatu yang jaiz atau tidak bagi Allah. Oleh karena itu, permintaan Nabi Musa (melihat) kepada Allah adalah termasuk sesuatu yang ja’z bagi Allah dan bukan hal yang mustahil. Akan tetapi, permintaan Nabi Musa tersebut merupakan suatu permintaan yang gaib dan tiada yang mampu mngetahuinya melainkan bagi orang yang benar-benar telah diberi pengetahuan oleh-Nya. Maka Allah pun berkata kepada Nabi Musa (لن تراني) bahwa kamu tidak akan mampu (kuat) melihat-Ku. Lalu Allah mencontohkan sebuah gunung yang lebih kuat daripada Nabi Musa (dan gunung tersebut pun hancur). 

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Syekh Ibrahim Al-laqqoni dalam nadzam Jauharatu Al-Tauhid


وَمِنْهُ اَنْ يُنظَرَ بِاْلاَبْصار  #  لَكِنْ بِلَا كَيْفٍ ولا انْحِصار 
للمؤمنين اِذْ بجائزْ علّقت # هذا ولِلمُخْتار دُنْيًا ثبتَتْ 

Termasuk jaiz aqli adalah melihat Allah melalui mata kepala bagi orang mukmin, akan tetapi hal itu tanpa kaifiyah dan tanpa batas ata. Hal ini (melihat Allah di dunia) berlaku bagi orang terpilih (Rasulullah).  

Mengenai nadzam di atas, Syekh Ibrahim Al-Baiuri menjelaskan bahwa melihat Allah baik di dunia maupun di akhirat termasuk sesuatu yang jaiz aqli, karena Allah adalah dzat yang maujud dan setiap yang maujud sah untuk dilihat, maka Allah sah untuk dilihat. Namun di dunia hanya berlaku bagi Rasulullah SAW saja. (Al-Bajuri, tt: 71). Selanjutnya mengenai khususiyah Rasulullah melihat Allah dengan kedua mata, dalam hal ini terdapat perbedaan di kalangan para ulama:  

Pertama, menguatkan pendapat yang menafikan ru’yah bil ‘ain bagi Rasulullah di dunia  

Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya, seperti berikut ini : 


وَأَمَّا " الرُّؤْيَةُ " فَاَلَّذِي ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ : " رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ بِفُؤَادِهِ مَرَّتَيْنِ " وَعَائِشَةُ أَنْكَرَتْ الرُّؤْيَةَ . فَمِنْ النَّاسِ مَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَالَ : عَائِشَةُ أَنْكَرَتْ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ وَابْنُ عَبَّاسٍ أَثْبَتَ رُؤْيَةَ الْفُؤَادِ . وَالْأَلْفَاظُ الثَّابِتَةُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ هِيَ مُطْلَقَةٌ أَوْ مُقَيَّدَةٌ بِالْفُؤَادِ تَارَةً يَقُولُ : رَأَى مُحَمَّدٌ رَبَّهُ وَتَارَةً يَقُولُ رَآهُ مُحَمَّدٌ ؛ وَلَمْ يَثْبُتْ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ لَفْظٌ صَرِيحٌ بِأَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ . وَكَذَلِكَ " الْإِمَامُ أَحْمَد " تَارَةً يُطْلِقُ الرُّؤْيَةَ ؛ وَتَارَةً يَقُولُ : رَآهُ بِفُؤَادِهِ ؛ وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ إنَّهُ سَمِعَ أَحْمَد يَقُولُ رَآهُ بِعَيْنِهِ ؛ لَكِنَّ طَائِفَةً مِنْ أَصْحَابِهِ سَمِعُوا بَعْضَ كَلَامِهِ الْمُطْلَقِ فَفَهِمُوا مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ ؛ كَمَا سَمِعَ بَعْضُ النَّاسِ مُطْلَقَ كَلَامِ ابْنِ عَبَّاسٍ فَفَهِمَ مِنْهُ رُؤْيَةَ الْعَيْنِ . وَلَيْسَ فِي الْأَدِلَّةِ مَا يَقْتَضِي أَنَّهُ رَآهُ بِعَيْنِهِ وَلَا ثَبَتَ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَلَا فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مَا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ ؛ بَلْ النُّصُوصُ الصَّحِيحَةُ عَلَى نَفْيِهِ أَدَلُّ ؛ كَمَا فِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ { عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ : سَأَلْت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ رَأَيْت رَبَّك ؟ فَقَالَ : نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ } 

Ibarat di atas dapat dipahami bahwa Ibnu Taimiyah menafikan ru’yah bil ain bagi Rasulullah (di dunia) dengan dasar: 

- Keterangan yang sahih dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa “Rasulullah SAW, telah melihat tuhannya dua kali dengan hatinya”. Sedangkan Aisyah menafikan adanya ru’yah. Sehingga kedua keterangan tersebut jika dijam’u (dikompromikan) adalah “Aisyah mengingkari adanya ru’yah dengan mata, sedangkan Ibnu Abbas menetapkan adanya ru’yah dengan hati.” 

- Keterangan-keterangan dari Ibnu Abbas tidak ada satu pun redaksi yang sharih yang menunjukkan bahwa Rasulullah pernah melihat Allah dengan mata kepala, melainkan redaksinya bersifat mutlaq ( رأى محمد ربه) atau ada yang di-qayyidi dengan kata bi fu’adihi (dengan hatinya). Begitu pula keterangan yang diambil dari Imam Ahmad. 

Dengan demikian, menurut Ibnu Taimiyah, tidak ada dalil yang menuntut adanya ru’yah bil ain bagi Rasulullah (di dunia), baik Al-kitab Al-sunnah, maupun keterangan dari sahabat. Namun justru yang ada adalah adanya hadis sahih yang menafikan hal itu, seperti hadis yang diriwayatkan dari Abi Dzar;  

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ « نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ ». 

Dari Abi Dzar berkata, aku bertanya Rasulullah, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu? Rasulullah menjawab “Cahaya, bagaimana aku bisa melihat-Nya.” 

Kedua, menguatkan pendapat yang menetapkan adanya ru’yah bil ain bagi Rasulullah di dunia 

Di antara yang berpendapat tentang hal ini adalah Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim-nya, setelah  ia memaparkan penjelasan Al-Qadli ‘Iyadh dan Sahibu At-Tahrir tentang ru’yah, bahwa pendapat yang kuat menurut mayoritas ulama, ia berkata;
  
فَالْحَاصِل أَنَّ الرَّاجِح عِنْد أَكْثَر الْعُلَمَاء : أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ بِعَيْنَيْ رَأْسه لَيْلَة الْإِسْرَاء لِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره مِمَّا تَقَدَّمَ . وَإِثْبَات هَذَا لَا يَأْخُذُونَهُ إِلَّا بِالسَّمَاعِ مِنْ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا مِمَّا لَا يَنْبَغِي أَنْ يُتَشَكَّك فِيهِ 

Kesimpulannya: bahwa pendapat yang kuat menurut mayoritas ulama adalah sesungguhnya Rasulullah SAW, melihat Tuhannya dengan dua mata kepala pada malam Isra’ berdasarkan hadis Ibnu Abbas dan lainya seperti yang telah disampaikan. Dan mereka (mayoritas ulama)dalam menetapkan hal ini tiada lain kecuali berdasarkan (keterangan) yang didengar dari Rasulullah SAW, ini merupakan hal yang tidak pantas untuk diragukan. 

Selain Imam An-Nawawi, Ibnu Abbas (menurut keterangan yang mashur darinya), Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dan sebagainya juga menetapkan ru’yah bil ain bagi Rasulullah (di dunia) seperti diutarakan oleh Al-Qurtubi dalam  Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, Vol VII, hlm 52, sebagai berikut :
 
وعن ابن عباس أنه رآه بعينه، هذا هو المشهور عنه. وحجته قوله تعالى:" ما كَذَبَ الْفُؤادُ ما رَأى ". وقال عبد الله بن الحارث: أجتمع ابن عباس وأبي بن كعب، فقال ابن عباس: أما نحن بنو هاشم فنقول إن محمدا رأى ربه مرتين. ثم قال ابن عباس: أتعجبون أن الخلة تكون لإبراهيم والكلام لموسى، والرؤية لمحمد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وعليهم أجمعين. قال: فكبر كعب حتى جاوبته الجبال، ثم قال: إن الله قسم رؤيته وكلامه بين محمد وموسى عليهما السلام، فكلم موسى ورآه محمد صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. وحكى عبد الرزاق أن الحسن كان يحلف بالله لقد رأى محمد ربه. وحكاه أبو عمر الطلمنكي عن عكرمة، وحكاه بعض المتكلمين عن ابن مسعود، والأول عنه أشهر. وحكى ابن إسحاق أن مروان سأل أبا هريرة: هل رأى محمد ربه؟ فقال نعم وحكى النقاش عن أحمد بن حنبل أنه قال: أنا أقول بحديث ابن عباس: بعينه رآه رآه! حتى انقطع نفسه، يعني نفس أحمد. وإلى هذا ذهب الشيخ أبو الحسن الأشعري وجماعة من أصحابه (أن «3» محمدا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) رأى الله ببصره وعيني رأسه 

Keterangan dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah SAW melihat Tuhannya dengan kedua matanya, ini merupakan keterangan yang masyhur darinya, ia berhujjah dengan fiman Allah QS, Al-Najm 11, 

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.’’ 

Abdullah bin Harist berkata; telah berkumpul Ibnu Abbas dan Ubay bin ka’ab, kemudian Ibnu Abbas berkata: adapun kami Bani Hasyim berkata sesungguhnya Muhammad Saw telah melihat Tuhannya dua kali, lalu Ibnu Abbas berkata lagi: tidakkah kalian kagum sesungguhnya (gelar) al-khalil bagi Nabi Ibrahim, dan al-kalim bagi Nabi Musa sedangkan melihat Allah diperoleh Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Kharist berkata: maka bertakbirlah Ka’ab, lalu ia berkata; sesungguhnya Allah telah membagi ru’yah dan kalam-Nya antara Nabi Muhammad SAW dan Nabi Musa AS, Allah berbicara kepada Nabi Musa AS dan memperlihatkan Nabi Muhammad SAW kepada-Nya. 

Abdul Rozaq telah bercerita sesungguhnya Al-Hasan telah bersumpah atas nama Allah sesungguhnya Muhammad telah melihat Tuhannya. Dan Abu Umar Al-Tholamankiy telah meriwayatkannya dari Ikrimah, dan sebagian mutakallimin meriwayatkannya dari Ibnu Mas’ud, sedangkan riwayat pertama lebih mashur. 

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan sesungguhnya Marwan bertanya kepada Abu Hurairah “Apakah Muhammad telah melihat tuhannya?” Abu hurairah menjawab “ya”. 

An-Naqqosyi telah meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal, sesungguhnya ia berkata; aku berkata berdasarkan hadisnya Ibnu Abbas “dengan matanya ia (Muhammad) telah melihat Tuhannya” sampai-sampai napas-napas (Imam Ahmad) terputus (ketika mengatakannya). 

Dan sesuai pendapat inilah pendapatnya Imam Abu Hasan Al-Asy’ari beserta sekelompok sahabatnya sesungguhnya Nabi Muhammad SAW telah melihat Allah dengan penglihatan melalui kedua mata kepalanya. 

Namun, bagi yang menetapkan adanya ru’yah, menurut Said Faudah, bukan berarti Rasulullah mengetahui hakikat Allah, akan tetapi bertambahnya idrak (memahami dan mengenal) kepada Allah pada diri Rasulullah, dan idrak ini pun tidak sampai pada batas ihathah (meliputi) terhadap kesempurnaan Allah SWT (Said Faudah, tt: 632). Di samping itu ihktilaf di antara para sahabat hanya terhadap “terjadinya ru’yah pada diri Rasulullah di dunia” bukan mengenai ke “jawaz”an ru’yah di dunia, karena tidak ada keterangan sahih yang menjelaskan adanya ikhtilaf di antara sahabat mengenai “kejawazan” ru’yah di dunia, tegas Said Faudah. 

Ketiga, tawaqquf di antara keduanya 

Di antara ulama yang menguatkan hal ini, menurut Ibnu Hajar adalah Imam Al-Qurtubi di dalam kitabnya Al-Mufham karena menurutnya tidak ada dalil pasti yang menjelaskan masalah ini, di samping itu, masalah ini  adalah masalah “keyakinan” maka dibutuhkan adanya dalil qat’i (Ibnu Hajar, Vol VIII : 608).


Khifni Nasif, Sekretaris Aswaja Center GP Ansor Kudus, Pengajar di Madrasah Diniyah Darul Ulum Ngembalrejo Kudus