IMG-LOGO
Warisan

Tata Cara Pembagian Harta Warisan dalam Islam

Kamis 15 Maret 2018 16:0 WIB
Share:
Tata Cara Pembagian Harta Warisan dalam Islam
Sebelum membahas bagaimana cara menghitung pembagian harta warisan sebelumnya mesti diketahui lebih dahulu beberapa istilah yang biasa dipakai dalam pembagian warisan. Beberapa istilah itu antara lain adalah:

1. Asal Masalah (أصل المسألة)

Asal Masalah adalah:

أقل عدد يصح منه فرضها أو فروضها

Artinya: “Bilangan terkecil yang darinya bisa didapatkan bagian secara benar.” (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 339)

Adapun yang dikatakan “didapatkannya bagian secara benar” atau dalam ilmu faraidl disebut Tashhîhul Masalah adalah:

أقل عدد يتأتى منه نصيب كل واحد من الورثة صحيحا من غير كسر

Artinya: “Bilangan terkecil yang darinya bisa didapatkan bagian masing-masing ahli waris secara benar tanpa adanya pecahan.” (Musthafa Al-Khin, 2013:339)

Dalam ilmu aritmetika, Asal Masalah bisa disamakan dengan kelipatan persekutuan terkicil atau KPK yang dihasilkan dari semua bilangan penyebut dari masing-masing bagian pasti ahli waris yang ada. Asal Masalah atau KPK ini harus bisa dibagi habis oleh semua bilangan bulat penyebut yang membentuknya.

Lebih lanjut tentang Asal Masalah akan dibahas pada tulisan tersendiri, insyaallah.

2. ‘Adadur Ru’ûs (عدد الرؤوس)

Secara bahasa ‘Adadur Ru’ûs berarti bilangan kepala.

Asal Masalah sebagaimana dijelaskan di atas ditetapkan dan digunakan apabila ahli warisnya terdiri dari ahli waris yang memiliki bagian pasti atau dzawil furûdl. Sedangkan apabila para ahli waris terdiri dari kaum laki-laki yang kesemuanya menjadi ashabah maka Asal Masalah-nya dibentuk melalui jumlah kepala/orang yang menerima warisan.

3. Siham (سهام)

Siham adalah nilai yang dihasilkan dari perkalian antara Asal Masalah dan bagian pasti seorang ahli waris dzawil furûdl.

4. Majmu’ Siham (مجموع السهام)

Majmu’ Siham adalah jumlah keseluruhan siham.

Setelah mengenal istilah-istilah tersebut berikutnya kita pahami langkah-langkah dalam menghitung pembagian warisan:

1. Tentukan ahli waris yang ada dan berhak menerima warisan

2. Tentukan bagian masing-masing ahli waris, contoh istri 1/4, Ibu 1/6, anak laki-laki sisa (ashabah) dan seterusnya.

3. Tentukan Asal Masalah, contoh dari penyebut 4 dan 6 Asal Masalahnya 24

4. Tentukan Siham masing-masing ahli waris, contoh istri 24 x 1/4 = 6 dan seterusnya

Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan dalam sebuah kasus perhitungan waris sebagai berikut:

Kasus 1

Seorang laki-laki meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris seorang istri, seorang ibu dan seorang anak laki-laki. Maka perhitungan pembagian warisnya sebagai berikut:

 

Ahli Waris

Bagian

24

Istri

1/8

3

Ibu

1/6

4

Anak laki-laki

Sisa

17

Majmu’ Siham

24

 


Penjelasan:

a. 1/8, 1/6 dan sisa adaah bagian masing-masing ahli waris.

b. Angka 24 di atas adalah Asal Masalah yang merupakan bilangan terkecil yang bisa dibagi habis oleh bilangan 8 dan 6 sebagai penyebut dari bagian pasti yang dimiliki oleh ahli waris istri dan ibu.

c. Angka 3, 4 dan 17 adalah siham masing-masing ahli waris dengan rincian:
    - 3 untuk istri, hasil dari 24 x 1/8
    - 4 untuk ibu, hasil dari 24 x 1/6
    - 17 untuk anak laki-laki, sisa dari 24 – (3 + 4)

d. Angka 24 di bawah adalah Majmu’ Siham, jumlah dari seluruh siham semua ahli waris (3 + 4 + 17)

Catatan: Majmu’ Siham harus sama dengan Asal Masalah, tidak boleh lebih atau kurang.

Kasus 2

Seseorang meninggal dunia dengan ahli waris 3 orang anak laki. Maka perhitungan pembagian warisnya sebagai berikut:

 

Ahli Waris

Bagian

3

Anak laki-laki

Ashabah

1

Anak laki-laki

Ashabah

1

Anak laki-laki

Ashabah

1

Majmu’ Siham

3

 


Penjelasan:

a. Karena semua ahli waris adalah anak laki-laki maka semuanya menerima warisan sebagai ashabah, bukan dzawil furûdl.
b. Angka 3 di atas adalah Asal Masalah yang dihasilkan dari ‘Adadur Ru’ûs atau jumlah orang penerima warisan. Asal Masalah di sini tidak dihasilkan dari bilangan penyebut bagian pasti, tetapi dari jumlah orang yang menerima warisan.
c. Angka 1 adalah siham masing-masing ahli waris yang didapatkan dari Asal Masalah dibagi jumlah ahli waris yang ada. Karena semua ashabah dari pihak laki-laki maka Asal Masalah dibagi rata kepada mereka.
d. Angka 3 di bawah adalah Majmu’ Siham, jumlah dari seluruh siham semua ahli waris (1 + 1 + 1)

Bagaimana bila konsep di atas diaplikasikan pada pembagian harta waris dengan nominal tertentu?

Untuk mengaplikasikan tata cara pembagian waris di atas dengan nominal harta warisan tertentu sebelumnya mesti dipahami bahwa Asal Masalah yang didapat dalam setiap pembagian warisan juga digunakan untuk membagi harta yang ada menjadi sejumlah bagian sesuai dengan bilangan Asal Masalah tersebut.

Sebagai contoh bila harta yang ditinggalkan si mayit sejumlah Rp. 100.000.000 dan Asal Masalahnya adalah bilangan 8, maka harta waris Rp. 100.000.000 tersebut dibagi menjadi 8 bagian di mana masing-masing bagian senilai Rp. 12.500.000. Bila seorang anak perempuan mendapatkan siham 4 misalnya, maka ia mendapatkan nominal harta waris 4 x Rp. 12.500.000 = Rp. 50.000.000.

Untuk lebih jelasnya bisa digambarkan dalam beberapa contoh kasus sebagai berikut:

Kasus 1

Seorang perempuan meninggal dunia dengan ahli waris seorang suami, seorang ibu dan seorang anak laki-laki. Harta yang ditinggalkan sebesar Rp. 150.000.000. Maka pembagiannya adalah sebagai berikut:
 

Ahli Waris

Bagian

12

Suami

1/4

3

Ibu

1/6

2

Anak laki-laki

Ashabah / Sisa

7

Majmu’ Siham

12

 

Penjelasan:

a. Asal Masalah 12
b. Suami mendapat bagian 1/4 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 3
c. Ibu mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 2
d. Anak laki-laki mendapatkan bagian sisa, sihamnya 7
e. Nominal harta Rp. 150.000.000 dibagi 12 bagian, masing-masing bagian senilai Rp. 12.500.000

Bagian harta masing-masing ahli waris:

a. Suami : 3 x Rp. 12.500.000 = Rp. 37.500.000
b. Ibu         : 2 x Rp. 12.500.000 = Rp. 25.000.000
c. Anak laki-laki : 7 x Rp. 12.500.000 = Rp. 87.500.000
        Jumlah harta terbagi :             Rp. 150.000.000 (Habis terbagi)


Kasus 2
Seorang laki-laki meninggal dunia dengan ahli waris seorang istri, seorang anak perempuan, seorang ibu, dan seorang paman. Harta yang ditingalkan sejumlah Rp. 48.000.000. Maka pembagiannya sebagai berikut:
 

Ahli Waris

Bagian

24

Istri

1/8

3

Anak perempuan

1/2

12

Ibu

1/6

4

Paman

Ashabah / Sisa

5

Majmu’ Siham

24

 

Penjelasan:

a. Asal Masalah 24
b. Istri mendapat bagian 1/8 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 3
c. Anak perempuan mendapat bagian 1/2 karena sendirian dan tidak ada mu’ashshib, sihamnya 12
d. Ibu mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, sihamnya 4
e. Paman mendapatkan bagian sisa, sihamnya 5
f. Nominal harta Rp. 48.000.000 dibagi 24 bagian, masing-masing bagian senilai Rp. 2.000.000

Bagian harta masing-masing ahli waris:

a. Istri         :   3 x Rp. 2.000.000 = Rp. 6.000.000
b. Anak perempuan : 12 x Rp. 2.000.000 = Rp. 24.000.000
c. Ibu         :   4 x Rp. 2.000.000 = Rp. 8.000.000
d. Paman :   5 x Rp. 2.000.000 = Rp. 10.000.000
Jumlah harta terbagi :                      Rp. 24.000.000 (Habis terbagi)


Kasus 3
Seorang meninggal dunia dengan ahli waris seorang bapak, seorang ibu, seorang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. Nominal harta warisan sebesar Rp. 30.000.000. Perhitungan pembagian harta waris tersebut sebagai berikut:


Penjelasan:


a. Asal Masalah 6
b. Bapak mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, siham 1
c. Ibu mendapat bagian 1/6 karena ada anaknya si mayit, siham 1
d. Anak laki-laki dan 2 anak perempuan:
    - Secara keseluruhan mendapat bagian ashabah atau sisa, yakni 4 siham. 
    - Anak laki-laki sebagai ashabah bin nafsi, 2 anak perempuan sebagai ashabah bil ghair karena bersama dengan mu’ashshib.
    - Dalam hal ini berlaku hukum “laki-laki mendapat dua bagian anak perempuan.”
    - Karenanya meskipun anak laki-laki hanya 1 orang namun ia dihitung 2 orang. Maka penerima ashabah pada kasus ini seakan ada 4 orang yang terdiri dari 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. 
    - Maka sisa 4 siham dibagi menjadi 2 siham untuk satu anak laki-laki dan 2 siham untuk 2 anak perempuan di mana masing-masing anak perempuan mendapat 1 siham.
e. Nominal harta Rp. 30.000.000 dibagi 6 bagian, masing-masing bagian senilai Rp. 5.000.000.

Bagian harta masing-masing ahli waris:
a. Bapak : 1 x Rp. 5.000.000 = Rp.   5.000.000
b. Ibu         : 1 x Rp. 5.000.000 = Rp.   5.000.000
c. Anak laki-laki : 2 x Rp. 5.000.000 = Rp. 10.000.000
d. 2 Anak perempuan : 2 x Rp. 5.000.000 = Rp. 10.000.000
(Bagian masing-masing anak perempuan Rp. 10.000.000 : 2 = Rp.  5.000.000)
Jumlah harta terbagi                   Rp. 30.000.000 (Habis terbagi)



Wallâhu a’lam(Yazid Muttaqin)
Share:
Rabu 14 Maret 2018 18:30 WIB
Mengenal Bagian Ashabah dalam Warisan: Definisi dan Macamnya
Mengenal Bagian Ashabah dalam Warisan: Definisi dan Macamnya
Sebagaimana diketahui bahwa di dalam mendapatkan harta warisan seorang ahli waris bisa melalui salah satu dari dua cara, yakni dengan menjadi dzawil furudl yang mendapatkan bagian pasti sebagaimana yang telah ditentukan di dalam Al-Qur’an dan dengan menjadi ashabah untuk mendapatkan bagian sisa.

Di dalam ilmu faraidl (warisan) definisi ashabah sebagaimana disampaikan oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili di dalam kitab al-Mu’tamad adalah:

كل وارث ليس له سهم مقدر ويأخذ كل المال اذا انفرد ويأخذ الباقي بعد أصحاب الفروض

Artinya: “Setiap ahli waris yang tidak memiliki bagian yang telah ditentukan, ia mengambil semua harta waris bila ia seorang diri dan mengambil sisa harta waris setelah sebelumnya diambil oleh orang-orang yang memiliki bagian pasti.” (Wahbah Az-Zuhaili, al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’i, Damaskus, Darul Qalam, 2011, juz IV, halaman 383)

Disyari’atkannya pengambilan harta waris dengan ashabah didasarkan pada banyak ayat, hadis dan ijma’ para ulama. Di antaranya dalam surat An-Nisa ayat 11 Allah berfirman:

وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ

Artinya: “Bagi kedua orang tua masing-masing mendapatkan bagian seperenam dari harta yang ditinggalkan orang yang meningal apabila ia memiliki anak. Apabila orang yang meninggal tidak memiliki anak dan kedua orang tuanya mewarisinya maka bagi ibunya bagian seperttiga.”

Dari ayat di atas bisa dipahami bahwa bila si mayit memiliki anak maka bapak dan ibu masing-masing mendapat bagian 1/6 sebagaimana dinyatakan ayat tersebut. Namun bila si mayit tidak memiliki anak sementara yang mewarisi adalah kedua orang tua, maka—sesuai kalimat ayat tersebut—sang ibu mendapatkan bagian 1/3. Lalu berapa bagian untuk sang bapak? Ayat tersebut tak menyebutkannya. Lalu untuk siapa sisa harta setelah diambil 1/3 oleh ibu? Dari sini para ulama memahami bahwa sisa harta waris tersebut adalah bagian sang bapak. Dari sinilah adanya bagian ashabah.

Macam-macam Ashabah

Ada 2 (dua) macam ashabah di dalam ilmu faraidl, yakni ashabah sababiyah dan ashabah nasabiyah.

Ashabah sababiyah adalah ashabah karena adanya sebab, yaitu sebab memerdekakan budak. Ketika seorang budak yang telah dimerdekakan meninggal dunia dan tak memiliki kerabat secara nasab maka sang tuan yang memerdekakannya bisa mewarisi harta peninggalannya secara ashabah, sebagai balasan atas kebaikannya yang telah memerdekakan sang budak (Wahbah Az-Zuhaili, 2011: 385).

Sedangkan ashabah nasabiyah adalah ashabah karena adanya hubungan nasab dengan si mayit. Mereka yang masuk dalam kategori ini adalah semua orang laki-laki yang telah disebutkan dalam pembahasan para penerima waris dari pihak laki-laki selain suami dan saudara laki-laki seibu, keduanya hanya menerima dari bagian pasti saja (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 298).

Dengan demikian maka yang termasuk dalam ashabah nasabiyah adalah bapak, kakek, anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak, paman sekandung, paman sebapak, anak laki-lakinya paman sekandung, dan anak laki-lakinya paman sebapak. Mereka semua adalah para ahli waris yang bisa mendapatkan warisan secara ashabah. Meskipun bapak dan kakek terkadang bisa mengambil warisan melalui bagian pasti.

Macam-macam Ashabah Nasabiyah

Para ulama membagi Ashabah Nasabiyah menjadi 3 (tiga) macam, yakni:

1. Ashabah bin nafsi
2. Ashabah bil ghair
3. Ashabah ma’al ghair

Adapun penjelasan ketiga macam ashabah tersebut adalah sebagai berikut:

Ashabah bin Nafsi 

Ashabah bin nafsi adalah mereka yang memiliki nasab dengan si mayit tanpa ada unsur perempuan (Musthafa Al-Khin, 2013:299).

Yang termasuk dalam kategori ashabah ini adalah semua ahli waris laki-laki sebagaimana telah disebut di atas. Sesuai dengan namanya mereka bisa mendapatkan bagian ashabah dengan sendirinya, bukan karena dijadikan ashabah oleh ahli waris lain dan juga bukan karena bersamaan dengan ahli waris yang lain. Kerabat-kerabat sang mayit dari golongan perempuan (ibu, anak perempuan, cucu perempuan dan sebagainya) dan siapa saja yang memiliki hubungan nasab dengan si mayit dengan adanya unsur perempuan (seperti cucu laki-laki dari anak perempuan, anak laki-laki dari saudara perempuan dan sebagainya) tidak masuk dalam kategori ashabah bin nafsi, mereka tidak bisa mendapatkan sisa harta waris dengan sendirinya.

Berikutnya dilihat dari sisi nasab mereka yang masuk dalam ashabah bin nafsi diklasifikasi dalam 4 (empat) sisi:

1. Sisi keanakan (jihhatul bunuwwah), terdiri dari anak keturunannya si mayit, seperti anak laki-laki dan cucu laki-laki dari anak laki-laki, terus kebawah.

2. Sisi kebapakan (jihhatul ubuwwah), terdiri dari orang tuanya si mayit, seperti bapak dan kakek dari bapak.

3. Sisi kesaudaraan (jihhatul ukhuwwah), terdiri dari anak keturunan bapaknya si mayit yang hubungan nasabnya dengan si mayit tidak ada unsur perempuannya, seperti saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki sebapak, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, dan anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak.

4. Sisi kepamanan (jihhatul ‘umûmah), terdiri dari keturunan kakeknya si mayit yang berupa orang laki-laki yang hubungan antaranya dengan si mayit tidak diperantarai unsur perempuan, seperti paman sekandung, paman sebapak, anak laki-lakinya paman sekandung, dan anak laki-lakinya paman sebapak.

Dari sekian banyak pihak laki-laki yang masuk dalam kategori ashabah bin nafsi tentunya tidak semuanya bisa mendapatkan bagian waris. Sebagaimana pernah disinggung pada pembahasan sebelumnya bahwa apabila semua ahli waris berkumpul maka hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menerima warisan, selainnya terhalang. Begitu pula dengan mereka yang mendapatkan bagian ashabah, bila semua berkumpul maka sebagiannya terhalang oleh sebagian yang lain.

Para ulama faraidl membuat beberapa kaidah untuk menentukan siapa saja para penerima ashabah yang bisa tetap menerima warisan dan siapa saja yang terhalang menerima warisan bila semua berkumpul. Dalam kaidah-kaidah tersebut para ulama menjelaskan:

1. Ahli waris ashabah yang masuk pada kategori yang lebih akhir tidak bisa mendapat warisan bila ia bersamaan dengan ahli waris ashabah yang masuk pada kategori sebelumnya.

Sebagai contoh, seorang bapak tidak bisa menerima warisan secara ashabah bila ia bersamaan dengan seorang anak laki-laki atau cucu laki-laki dari anak laki-laki. Ia hanya akan menerima bagian 1/6, bukan ashabah. Saudara laki-laki sekandung tidak bisa menerima warisan (mahjûb) bila ia bersamaan dengan bapaknya si mayit. Demikian pula seorang paman terhalang mendapat warisan (mahjûb) bila ia bersamaan dengan saudara laki-laki.

2. Bila ahli waris ashabah dengan kategori yang sama berkumpul maka ahli waris yang lebih jauh dari mayit tidak bisa menerima warisan karena terhalang oleh ahli waris yang lebih dekat ke mayit. 

Sebagai contoh kakek terhalang mendapat warisan bila bersama dengan bapak, cucu laki-laki terhalang bila bersama dengan anak laki-laki, dan seterusnya.

Dengan kata lain ahli waris yang bernasab ke mayit melalui perantara tidak bisa menerima warisan bila bersamaan dengan si perantara tersebut. Pada contoh di atas, seorang cucu laki-laki itu berhubungan nasab dengan si mayit melalui perantara anak laki-lakinya si mayit, maka sang cucu terhalang mendapat waris karena bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit. Seorang kakek berhubungan nasab dengan si mayit melalui perantara bapaknya si mayit yang juga merupakan anaknya si kakek. Maka ia terhalang mendapat warisan bila bersamaan dengan bapaknya si mayit yang merupakan perantara antara dirinya dengan si mayit.

3. Bila ada kesamaan sisi kekerabatan dan setara pula derajat para ashabah namun berbeda kekuatan kekerabatannya dengan si mayit, maka ahli waris yang lebih kuat kekerabatannya dengan si mayit lebih didahulukan dari pada ahli waris yang lebih lemah kekerabatannya dengan si mayit. Sebagai contoh, saudara laki-laki sekandung lebih kuat kekerabatannya dengan si mayit dibanding saudara laki-laki sebapak. Karenanya saudara sekandung lebih didahulukan dari pada saudara laki-laki sebapak. Demikian pula paman sekandung lebih didahulukan dari pada paman sebapak, dan seterusnya.

4. Bila ada kesamaan para ahli waris dalam sisi kekerabatan, derajat, dan kekuatan maka semuanya berhak untuk mendapatkan harta warisan. Harta waris yang ada dibagi sama rata di antara mereka. Seperti ahli waris yang terdiri dari tiga orang anak laki-laki, atau terdiri dari empat orang saudara laki-laki sekandung, dan seterusnya.

Ashabah bil Ghair

Ashabah bil ghair adalah setiap ahli waris perempuan yang memiliki bagian pasti bila berbarengan dengan saudara laki-lakinya maka ahli waris perempuan tersebut menjadi ahli waris ashabah karena adanya saudara laki-laki tersebut.

Dalam hal ini seorang anak perempuan menjadi ashabah bila bersamaan dengan anak laki-laki, cucu perempuan menjadi ashabah bila bersamaan dengan cucu laki-laki, saudara perempuan sekandung menjadi ashabah bila bersamaan dengan saudara laki-laki sekandung, dan saudara perempuan sebapak menjadi ashabah bila besamaan dengan sauadara laki-laki sebapak.

Dengan demikian maka bisa disimpulkan ada 4 (empat) ahli waris yang masuk dalam kategori ashabah bil ghair di mana keempatnya adalah ahli waris perempuan yang terdiri dari anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, saudara perempuan sekandung, dan saudara perempuan sebapak bila masing-masing bersamaan dengan orang yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya. Bisa dipahami pula keempat ahli waris tersebut adalah orang-orang perempuan yang mendapatkan bagian pasti 1/2 dan 2/3 bila bersamaan dengan mu’ashshib-nya.

Hanya saja dalam hal ini ada pengecualiaan bagi waladul umm. Bahwa saudara perempuan seibu bila bersamaan dengan saudara laki-laki seibu maka saudara laki-laki seibu tidak bisa menjadikan saudara perempuan seibu sebagai ashabah. Karena saudara laki-laki seibu bukanlah termasuk ashabah bin nafsi maka ia tidak bisa mengashabahkan saudara perempuan seibu. Mesti diingat pula bahwa dalam ilmu faraidl saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu derajatnya adalah sama. Bila keduanya berkumpul tidak berlaku ketentuan laki-laki mendapat dua bagian perempuan. Karenanya pula dalam ilmu faraidl kedua ahli waris ini sering disebut dalam satu istilah waladul umm (anaknya ibu) tanpa membedakan jenis kelamin.

Tentang ashabah bil ghair ini Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi menulis:

والأبن والأخ مع الإناث ... يعصبانهن في الميراث 

Artinya:
Anak laki-laki dan saudara laki-laki bersama para perempuan
Keduanya mengashabahkan mereka dalam warisan
(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 38)

Penjelasan dari para ulama faraidl di atas didasarkan pada firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Artinya: “Allah berwasiat kepada kalian di dalam anak-anak kalian bagi anak laki-laki dua bagian anak perempuan.”

Juga firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 176:

وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ

Artinya: “Apabila para saudara terdiri dari laki-laki dan perempuan maka bagi saudara laki-laki dua bagian saudara perempuan.”

Para ulama menyamakan cucu perempuan dari anak laki-laki dengan anak perempuan, sedangkan saudara laki-laki dan  perempuan termasuk di dalamnya adalah saudara sekandung dan saudara sebapak. 

Ashabah ma’al Ghair

Ashabah ma’al ghair adalah bagian ashabahnya saudara perempuan sekandung dan saudara perempuan sebapak bila bersamaan dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

Untuk contoh sebagai berikut:

Contoh 1

Bila seorang meninggal dunia dengan ahli waris terdiri dari seorang anak perempuan dan seorang saudara perempuan sekandung atau sebapak, maka pembagian harta warisnya adalah:

a. Anak perempuan mendapatkan bagian 1/2 karena ia sendirian, tidak lebih dari satu orang dan tidak ada mu’ashshib-nya.

b. Saudara perempuan sekandung atau sebapak menjadi ashabah, mendapat sisa harta setelah diambil lebih dulu oleh anak perempuan. Bila saudara perempuan ini lebih dari satu maka harta sisa tersebut dibagi rata kepada semua saudara perempuan yang ada.

Contoh 2

Bila seorang meninggal dunia dengan ahli waris 2 orang cucu perempuan dan 3 orang saudara perempuan sekandung atau sebapak, maka pembagian harta warisnya adalah:

a. 2 orang cucu perempuan mendapat bagian 2/3 karena lebih dari satu orang dan tidak ada mu’ashshib-nya.

b. 3 orang saudara perempuan sekandung atau sebapak menjadi ashabah, mendapat sisa harta setelah diambil lebih dulu oleh cucu perempuan di atas. Sisa harta tersebut kemudian dibagi rata kepada 3 orang saudara perempuan yang ada.

Demikian Musthafa Al-Khin menjelaskan. 

Tentang ashabah ma’al ghair ini Imam Muhammad bin Ali menyatakan:

والأخوات إن تكن بنات ... فهن معهن معصبات 

Artinya:
Saudara-saudara perempuan bila ada anak-anak perempuan
Mereka bersama anak-anak perempuan menjadi ashabah

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Selasa 13 Maret 2018 20:30 WIB
Tujuh Penerima Bagian Pasti Seperenam dalam Warisan dan Syaratnya
Tujuh Penerima Bagian Pasti Seperenam dalam Warisan dan Syaratnya
Dalam hal siapa saja ahli waris yang bisa mendapatkan bagian pasti 1/6 (seperenam) Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam kitab Matnur Rahabiyyah-nya menuturkan:

والسدس فرض سبعة من العدد ... أب وام ثم بنت ابن وجد
والأخت بنت الأب ثــم الجـــده ... وولد الام تمام العده

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang, Toha Putra, tanpa tahun, halaman 24-25)

Dari kedua bait di atas dapat diambil satu pemahaman bahwa bagian pasti 1/6 (seperenam) diberikan kepada 7 (tujuh) orang ahli waris, yakni:

1. Bapak
2. Ibu
3. Cucu perempuan dari anak laki-laki
4. Kakek (bapaknya bapak)
5. Saudara perempuan seayah
6. Nenek
7. Saudara seibu

Baca juga: Penjelasan tentang Bagian Pasti dan Ashabah dalam Warisan
Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitabnya al-Fiqhul Manhaji menjabarkan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh ketujuh ahli waris di atas untuk bisa mendapatkanbagian 1/6. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Bapaknya si mayit bisa mendapatkan bagian 1/6 dengan satu syarat adanya anak atau cucunya si mayit, baik laki-laki maupun perempuan, baik satu orang atau lebih.

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ

Artinya: “dan bagi kedua orang tuanya si mayit masing-masing mendapatkan seperenam dari apa yang ditinggalkannya apabila ia memiliki anak.”

Hanya saja bila bapak bersamaan dengan anak perempuan atau cucu perempuan maka ia disamping mendapatkan bagian pasti 1/6 juga mendapatkan sisa harta waris (ashabah) bila masih ada sisa setelah diambil oleh para ahli waris yang mendapatkan bagian pasti (Musthafa Al-Khin, al-Fiqhul Manhaji, Damaskus, Darul Qalam, 2013, jilid II, halaman 291).

2. Ibu si mayit bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi salah satu dari 2 syarat, yakni:

a. Adanya anak atau cucunya si mayit sebagaimana syaratnya bapak di atas.

Syarat ini didasarkan pada firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11 sebagaimana tersebut pada persyaratan bapak di atas.

b. Bersamaan dengan adanya saudaranya si mayit lebih dari satu orang, baik saudara sekandung, saudara sebapak, ataupun saudara seibu atau gabungan dari ketiganya.

Berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ

Artinya: “Jika orang yang meninggal memiliki beberapa saudara maka bagi ibunya bagian seperenam.”

3. Kakek atau bapak dari bapaknya si mayit bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 2 syarat, yakni:

a. Adanya anak atau cucunya si mayit sebagaimana syaratnya bapak di atas.

b. Tidak adanya bapaknya si mayit.

Bila kakek menjadi ahli waris bersamaan dengan bapaknya si mayit maka ia terhalang oleh bapak untuk mendapatkan warisan (mahjûb). Ini dikarenakan bapak lebih dekat kepada si mayit dari pada kakek sehingga ia menjadi penghalang (hâjib) bagi kakeknya si mayit.

4. Nenek, baik ibu dari ibunya si mayit atau ibu dari bapaknya si mayit, baik berjumlah satu orang atau lebih, bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 2 syarat:

a. Tidak adanya ibunya si mayit. 

Bila nenek menjadi ahli waris berbarengan dengan adanya ibunya si mayit maka ia terhalang (mahjûb) untuk mendapatkan warisan. Ini dikarenakan seorang nenek menempati posisinya ibu. Bila sang ibu ada maka nenek terhalangi oleh ibu.

b. Tidak adanya orang yang menghalanginya untuk mendapatkan warisan.

Misalnya bapak bisa menghalangi ibunya bapak, kakek bisa menghalangi ibunya kakek, nenek yang lebih dekat ke mayit (jaddah qurbâ, misalnya buyut) bisa menghalangi nenek yang lebih jauh ke mayit (jaddah bu’dâ, misalnya canggah).

5. Cucu perempuan dari anak laki-lakinya si mayit, baik satu orang atau lebih, bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 3 syarat:

a. Bersamaan dengan satu orang anak perempuannya si mayit

b. Tidak bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit

c. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni cucu laki-laki dari anak laki-lakinya si mayit.

Bila cucu peremuan ini bersamaan dengan anak perempuannya si mayit lebih dari satu atau bersamaan dengan anak laki-lakinya si mayit maka ia terhalang mendapatkan warisan (mahjûb).

Sedangkan bila ia bersamaan dengan mu’ashshibnya maka ia tidak mendapatkan bagian 1/6, tapi mendapatkan bagian sisa (ashabah) bersama dengan mu’ahshibnya, di mana pembagiannya cucu laki-laki mendapat dua kali bagian cucu perempuan.

6. Saudara perempuan sebapak, baik satu orang atau lebih, bisa mendapatkan bagian 1/6 dengan 3 syarat:

a. Tidak adanya anak (laki-laki atau perempuan) dan cucu (laki-laki atau perempuan) dari anak laki-lakinya si mayit.

b. Tidak ada orang tua laki-lakinya si mayit, yakni bapak dan kakek dari pihak bapaknya si mayit.

c. Tidak bersamaan dengan saudara laki-laki sekandungnya si mayit.

d. Bersamaan dengan satu orang saudara perempuan sekandungnya mayit

e. Tidak bersamaan dengan ahli waris laki-laki yang mengashabahkan (mu’ashshib)-nya, yakni saudara laki-laki sebapaknya si mayit

Bila saudara perempuan sebapak, baik satu orang atau lebih, memenuhi syarat-syarat tersebut di atas maka ia bisa mendapatkan bagian 1/6 dari harta warisan yang ditinggalkan saudaranya.

Dari syarat-syarat itu pula bisa dipahami bahwa saudara perempuan sebapak, baik satu orang atau lebih, benar-benar bisa mendapatkan bagian 1/6 bila ia bersamaan dengan saudara perempuan sekandungnya si mayit 1 orang saja, dan tidak ada ahli waris lain sebagimana disebutkan di atas.

Bila ia bersamaan dengan ahli waris lainnya maka ia tidak bisa mendapatkan bagian 1/6, namun bisa jadi ia mendapatkan bagian sisa (ashabah) atau bahkan tidak mendapat warisan apapun (mahjûb).

7. Saudara seibu, baik laki-laki atau perempuan, atau yang biasa disebut waladul umm bisa mendapatkan bagian 1/6 bila memenuhi 2 (dua) syarat:

a. Hanya satu orang.

Bila saudara seibu yang mewarisi berjumlah lebih dari satu orang maka mendapatkan bagian 1/3, bukan 1/6.

b. Tidak bersamaan dengan orang yang menghalanginya mendapatkan warisan. Orang-orang yang bisa menghalanginya adalah: bapak, kakek, anak laki-laki atau perempuan, dan cucu laki-laki atau perempuan.

Bila bersamaan dengan salah satu orang-orang tersebut maka saudara seibu tidak mendapatkan bagian warisan berapapun alias mahjûb.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Sabtu 10 Maret 2018 19:0 WIB
Dua Penerima Bagian Pasti Sepertiga dalam Warisan dan Syaratnya
Dua Penerima Bagian Pasti Sepertiga dalam Warisan dan Syaratnya
Dalam pembagian warisan, bagian pasti 1/3 (sepertiga) diberikan kepada 2 (dua) orang ahli waris, yakni ibu dan saudara seibu. Ini sebagaimana disampaikan oleh Imam Muhammad bin Ali Ar-Rahabi dalam kitab Matnur Rahabiyyah:

والثلث فرض الأم حيث لاولد ... ولا من الإخوة جمع ذوالعدد
وهــــو لــلإثنــين أواثـــنـــتين ... من ولد الام بغير مين

Artinya:
"Sepertiga itu bagiannya ibu bila tak ada anak
Juga bila tak ada saudara yang berbilangan banyak
Sepertiga juga bagi dua orang laki-laki atau perempuan
Dari anaknya ibu tanpa kebohongan."

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, Matnur Rahabiyyah dalam ar-Rabahiyyatud Dîniyyah, Semarang: Toha Putra, tanpa tahun, halaman 21–22)
Tentunya kedua ahli waris tersebut bisa mendapatakan bagian 1/3 bila memenuhi syarat-syarat tertentu. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam kitabnya al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’iy menjelaskan syarat-syarat tersebut sebagai berikut:

1. Seorang ibu bisa mendapatkan bagian 1/3 bila memenuhi dua syarat:

a. Tidak bersamaan dengan anaknya si mayit atau cucu dari anak laki-lakinya si mayit, baik laki-laki maupun perempuan, baik satu orang atau lebih.

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ

Artinya: “Apabila orang yang meninggal tidak memiliki anak dan yang mewarisinya adalah kedua orang tuanya maka bagi ibunya bagian sepertiga.”

Bila seorang ibu bersamaan dengan anak atau cucunya si mayit maka ia hanya mendapatkan bagian 1/6, bukan 1/3.

b. Tidak bersamaan dengan saudaranya si mayit lebih dari satu orang, baik saudara si mayit itu laki-laki maupun perempuan, baik saudara sekandung, sebapak, ataupun seibu.

Bila bersamaan dengan saudaranya si mayit lebih dari satu orang maka ibu hanya mendapat bagian 1/6, bukan 1/3 (Wahbah Az-Zuhaili, al-Mu’tamad fil Fiqhis Syâfi’iy, Damaskus, Darul Qalam, 2011, juz IV, halaman 374).

Berdasarkan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 11:

فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ

Artinya: “Apabila orang yang meninggal memiliki beberapa saudara maka bagi ibunya bagian seperenam.”

2. Saudara seibu.

Yang dimaksud saudara seibu di sini adalah saudaranya si mayit yang satu ibu namun beda bapak. Dalam hal warisan saudara seibu antara laki-laki dan perempuan dianggap sama, tidak dibedakan, sehingga ketika berkumpul saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu semuanya mendapat bagian yang sama rata, tidak berlaku hukum “laki-laki mendapat dua bagian perempuan”.

Sebagaimana disebutkan Imam Ar-Rahabi dalam baitnya:

وتستوى الإناث والذكور ... فيه كما قد أوضح المسطور

Artinya:
Dan sepadan (saudara seibu) perempuan dan laki-laki
Di dalam bagian seperenam sebagaimana telah dijelaskan Al-Qur’an yang tertulis

(Muhammad bin Ali Ar-Rahabi, tt: 24)

Firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 12:

فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ

Artinya: “Bila saudara seibu itu lebih dari satu orang maka mereka bersekutu dalam mendapat bagian sepertiga.”

Dr. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa saudara seibu atau yang dalam ilmu faraidl disebut dengan waladul umm bisa mendapatkan bagian 1/3 bila memenuhi dua syarat, yakni:

a. Lebih dari satu orang. Baik berupa laki-laki semua, perempuan semua, atau gabungan laki-laki dan perempuan, hukum mereka sama saja.

Bila saudara seibu hanya terdiri dari satu orang saja maka ia hanya mendapatkan bagian 1/6, bukan 1/3.

b. Tidak adanya orang-orang yang menghalanginya mendapatkan warisan, yakni orang tua laki-lakinya si mayit (bapak dan kakek) dan anak dan cucunya si mayit (anak laki-laki, cucu laki-laki dari anak laki-laki, anak perempuan, dan cucu perempuan dari anak laki-laki terus ke bawah) (Wahbah Az-Zuhaili, 2011: 373).

Bila saudara seibu bersamaan dengan salah satu dari orang-orang tersebut maka ia tidak mendapatkan apapun dari harta waris (mahjûb). Hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada Bab Hijab, insya Allah.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)