IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Para Sahabat Nabi Berharap Menjadi Kaya

Senin 19 Maret 2018 13:45 WIB
Share:
Ketika Para Sahabat Nabi Berharap Menjadi Kaya
Sekelompok sahabat datang menemui Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah para sahabat yang secara ekonomi tidak tergolong mampu. Kepada beliau mereka menyampaikan, betapa enaknya menjadi orang yang kaya raya, bisa mendapatkan begitu banyak pahala.

“Orang-orang yang punya banyak harta shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka bisa bersedekah dengan limpahan harta yang mereka miliki, sedang kami yang miskin tak bisa melakukan itu.” Demikian mereka mengadu.

Atas keluhan mereka ini Rasulullah kemudian menyampaikan solusi bagaimana mereka bisa mendapatkan banyak pahala dengan melakukan beberapa amalan yang pahalanya sama dengan pahala sedekah yang dilakukan oleh orang-orang kaya.

Kisah di atas direkam oleh para ulama hadits dalam kitab-kitab hadits mereka di antaranya oleh Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya dari Abu Dzar:

أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ، قَالَ: " أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَّدَّقُونَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: «أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

Artinya: “Ada beberapa sahabat Nabi berkata kepada beliau, ‘Ya Rasulullah, orang-orang kaya mendapat banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.’ Rasul bersabda, ‘Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang bisa kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah kemunkaran adalah sedekah, dan dalam kemaluan kalian ada sedekah.’ Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasul, apakah bila salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya ia mendapatkan pahala?’ Rasul menjawab, ‘Apa pendapat kalian, bila ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram bukankah ia mendapat dosa? Maka demikian pula bila ia melampiaskannya pada yang halal ia mendapat pahala.’ (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahîh Muslim, Kairo: Darul Ghad Al-Jadid, 2008, jilid IV, juz. 7, halaman 83).

Dari hadits di atas dapat diambil pelajaran penting dan pendidikan luhur yang bisa menjadi teladan bagi kaum muslimin saat ini. Darinya diketahui bahwa keinginan para sahabat rasul untuk memiliki banyak harta bukanlah untuk bersenang-senang menikmatinya, agar dengan banyaknya uang mereka bisa memiliki rumah yang megah, membeli perabot rumah tangga yang mahal dan berkualitas, memiliki kendaraan yang nyaman, bisa berwisata ke negeri-negeri seberang yang indah, dan kemewahan duniawi lainnya. Bukan yang demikian motivasi keinginan mereka untuk memiliki banyak harta.

Yang mendorong mereka berkeinginan menjadi kaya hingga memberanikan diri mengadu kepada Rasulullah adalah keinginan untuk bisa mendulang sebanyak mungkin pahala. Bagi mereka dengan melimpahnya harta mereka bisa bersedekah sebanyak dan sesuka hati sehingga didapatlah banyak pahala yang pada akhirnya berharap mendapat surga dan keridhan Allah ta’ala.

Kondisi ekonomi yang lemah tidak menghilangkan keridhan mereka atas apa yang telah ditetapkan Allah. Sedikitnya harta tidak menjadikan mereka berkeluh kesah tentang sulitnya menjalani kehidupan di dunia. Namun keinginan kehidupan di akherat yang lebih baik begitu kuat mendorong mereka untuk memiliki banyak harta agar dengannya bisa digunakan untuk sebanyak mungkin mendulang pahala.

Bagi para sahabat nabi kekayaan yang mereka dambakan bukanlah tujuan, namun sarana untuk meraih tujuan hidup yang sebenarnya; ridha Allah ta’ala.

Dari hadits itu pula dapat diambil satu pelajaran bahwa sedekah tidak selamanya harus dengan harta. Ada banyak cara bagi seorang muslim untuk mendapat pahala sedekah tanpa harus memiliki banyak harta. Di dalam banyak hadits dituturkan banyak hal yang bisa dijadikan sarana mendapat pahala sedekah. Membaca kalimat-kalimat thayibah, menyingkirkan duri di jalanan, membantu orang lain menaikkan barang bawaannya ke atas kendaraan, hingga persetubuhan yang dilakukan sepasang suami istri adalah sebagian dari sekian banyak cara untuk mendapat kemuliaan itu.

Tentunya banyaknya cara untuk mendapatkan pahala sedekah itu tidak menggugurkan cara bersedekah yang semestinya dilakukan oleh orang yang mampu secara ekonomi. Mereka yang diberi kelebihan harta oleh Allah tentunya bersedekah dengan harta yang ia miliki, tidak memilih bersedekah dengan cara termudah dan termurah saja lalu meninggalkan bersedekah dengan harta yang dimampuinya seraya berkata, “saya sudah bersedekah dengan membaca kalimat thayibah.”

Pun orang yang memiliki kemampuan untuk bersedekah dengan harta bukan pula berarti ia tidak boleh bersedekah dengan amalan-amalan kecil sebagaimana dilakukan oleh mereka yang tak mampu bersedekah dengan harta.

Ibnu Rajab dalam kitabnya Jâmi’ul Ulûm wal Hikam (Beirut, Muassasah Ar-Risalah, 1999, juz II, halaman 59) menuturkan bahwa setelah para sahabat yang fakir itu menerima amalan-amalan dari Rasulullah yang bernilai sebagaimana sedekah, mereka kembali menghadap kepada Rasul dan melaporkan, “Saudara-saudara kami yang kaya raya mengetahui amalan yang kami lakukan, maka mereka pun ikut mengamalkannya.” Atas laporan ini Rasulullah menyatakan, “Itu adalah anugerah Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Ibnu Rajab juga menuliskan sebuah riwayat dari Ibnu Mardawaih dari Ibnu Umar sebagai hadits marfu’:

مَنْ كَانَ لَهُ مَالٌ، فَلْيَتَصَدَّقْ مِنْ مَالِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ قُوَّةٌ، فَلْيَتَصَدَّقْ مِنْ قُوَّتِهِ، وَمَنْ كَانَ لَهُ عِلْمٌ، فَلْيَتَصَدَّقْ مِنْ عِلْمِهِ

Artinya: “Barang siapa yang memiliki harta maka bersedekahlah dengan hartanya, barang siapa yang memiliki kekuatan maka bersedekahlah dengan kekuatannya, dan barang siapa memiliki ilmu maka bersedekahlah dengan ilmunya.”

Dari sini dapat dipahami bahwa anjuran bersedekah itu disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing orang, bukan dengan kemauan setiap orang. Bersedekah itu semampunya, bukan semaunya. Karena Allah memberi potensi yang berbeda bagi setiap hamba-Nya, maka Allah memberikan pula kesempatan bersedekah dengan cara berbeda sesuai dengan potensinya, meski hanya dengan menyingkirkan duri dari jalanan atau sekedar bermuka ceria ketika bertemu sesama.

Sebagai contoh, ketika di sebuah masyarakat ada gotong royong pembangunan sebuah masjid maka mereka yang berduit bersedekah dengan uangnya. Yang memiliki ilmu pembangunan bersedekah dengan memberikan masukan dan pertimbangan tentang bagaimana bagusnya konstruksi bangunan masjid didirikan. Yang memiliki keahlian sebagai arsitek bersedekah dengan gambarnya. Yang memiliki tenaga bersedekah dengan tenaganya, dan seterusnya.

Di kehidupan nyata banyak dijumpai orang-orang yang tulus bersedekah dengan potensi yang mereka punyai. Meski tak seberapa namun itu dilakukan secara istiqamah. Ada penjual beras kecil-kecilan yang diam-diam selalu menambahkan segenggam beras setiap kali ada orang kampung yang membeli berasnya, dengan niat sebagai sedekah. Ada pemilik warung yang selalu menambahkan sesendok gula pasir setiap kali ia menimbang melayani pembelinya, untuk sedekah niatnya. Ada pula yang menawarkan diri untuk membersihkan mushala setiap minggu sekali tanpa mau dibayar sedikitpun. Ia beralasan, ini yang bisa saya sedekahkan.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Share:
Jumat 16 Maret 2018 5:30 WIB
Di Balik Keramat Kiai Siroj Payaman
Di Balik Keramat Kiai Siroj Payaman
KH Siroj Payaman berdiri di belakang KH Dalhar Watucongol (depan)
Kiai Siroj, Payaman, Magelang yang oleh masyarakat masyhur dengan panggilan Romo Agung merupakan orang yang dikenal kewaliannya. Namun, di balik keramat yang ia miliki, ada ibadah yang sangat kuat, di luar kebiasaan orang pada umumnya. 

Satu ketika, Kiai Siroj berkunjung ke rumah salah satu temannya, KH Dardiri dari Tingkir, Kota Shalatiga. Waktu itu, desa ini masih mengikuti wilayah Kabupaten Semarang.

Di rumah Kiai Dardiri ini, selain Kiai Siroj, Payaman, ada Kiai Munajat yang turut hadir di sana. Ketiga kiai yang berkumpul dalam satu majelis tersebut mempunyai hubungan yang akrab.

Sesaat sebelum melaksanakan shalat Isya', Kiai Siroj tahu bahwa tuan rumah sedang memasak, mempersiapkan jamuan. Diperkirakan, nanti jamuan akan disajikan setelah shalat Isya' dilaksanakan sehingga pas. 

Usai shalat isya', Kiai Siroj ternyata tidak lekas beranjak dari tempat sujudnya. Ia tidak hanya shalat beberapa rakaat ba'diyah atau shalat witir. Ia menyambung dengan shalat-shalat sunah. Dua kiai lain, Kiai Dardiri dan Kiai Munajat hanya menunggu sambil berbincang bersama di luar.

Pukul 02.00 dini hari, Kiai Siroj baru selesai melaksanakan shalat-shalatnya. Ia bertanya kepada tuan rumah, "Lha, masakannya apa sudah matang?"

Sangat tampak, Kiai Siroj seperti orang yang baru melaksanakan shalat lima atau sepuluh menit. Tidak heran jika ia bertanya masakannya sudah matang apa belum. Padahal, dua kawannya yang lain sudah menunggu berjam-berjam. Oleh Kiai Siroj dikira baru beberapa menit. 

Karena Kiai Siroj sudah mencapai maqam kelezatan dalam beribadah, mencapai ekstase tinggi, shalat yang begitu lama dikira baru sebentar saja.

Tidak cukup di situ. Untuk membuktikan kewalian dan kedekatannya kepada Allah dan jauhnya hati dengan dunia, Kiai Dardiri mencoba berbisik kepada Kiai Munajat. 

"Mbah, anda ingin membuktikan nggak bagaimana cara membedakan wali atau tidak?" tanya Kiai Dardiri. 

Sejurus, Kiai Munajat menjawab, "Iya."

Habis itu, Kiai Dardiri tanya langsung kepada Kiai Siroj tadi. 

"Mbah, wedangnya sudah manis apa belum?"

Kiai Siroj tidak lekas menjawab. Padahal ia baru beberapa detik yang lalu meminumnya. Kiai Siroj mengambil gelas, diminum, seketika itu, gelas masih dalam genggaman, Kiai Siroj baru menjawab, "Oh ya, sudah manis"   

Artinya, Kiai Siroj, dalam urusan dunia seperti manisnya gula, selang beberapa detik saja sudah terlupakan. Ia tidak ingat lagi. Karena hatinya penuh dengan ingat Allah. Semua benda dunia tidak mendapat tempat di hatinya. Sebaliknya, shalat yang berjam-jam, oleh Kiai Siroj, dikira baru beberapa menit.

Jadi, di luar keramat yang dikenal masyarakat luas kala itu, ada dzikir dan ibadah yang  perlu kita teladani. Kita tidak boleh hanya takjub dengan keramatnya, namun abai terhadap amalan di balik keramat yang tampak pada seorang wali.

Cerita tersebut juga memberikan visualisasi, bagaimana Baginda Nabi Muhammad shallahu alaihi wa sallam dulu sampai bisa shalat 100 rakaat dalam semalam. Ya, bagaimanapun kalau landasannya adalah cinta yang mendominasi, yang berat terasa ringan. 

Kerja di sawah, menjadi tukang becak, tukang bangunan atau apa saja, rata-rata susah payah secara fisik. Namun  karena dilandasi cinta, tidak begitu terasa. Capeknya adalah nikmat. Seperti pengantin baru yang dicubit pasangannya, sesakit apa pun, ia tidak memandang itu sakit, tapi nikmat karena dilandasi cinta yang kuat. 

Demikian orang yang cinta kepada Allah, capeknya shalat tidak terasa. Adapun yang shalat hanya dua menit setengah sudah merasa capek atau justru malas melakukan, cintanya kepada Allah perlu dipertanyakan. (Ahmad Mundzir) 


* Cerita penulis peroleh dari penuturan seorang kiai sepuh di kota Salatiga yang enggan dipopulerkan namanya.
Kamis 15 Maret 2018 22:45 WIB
Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?
Sudahkah Kita Meresapi dan Mengamalkan Makna Basmalah?
Bila ada yang beniat mengamalkan Al-Qur’an, mulailah dengan mengamalkan ayat pertamanya, yaitu basmallah dalam setiap aktivitas. Tanpa fondasi basmalah, maka ayat-ayat selanjutnya akan susah diamalkan. Ibarat akan membangun rumah, kuatkan dulu fondasinya. Untuk itu, kuatkanlah pemahaman dan pengamalan bismi-Llâhir rahmânir rahîm.

Di antara sekian nama-Nya yang agung, Allah tidak memilih al-Mâlik (Yang Maha Merajai), al-‘Azîz (Yang Maha Perkasa), al-Mutakabbir (Yang Maha Memiliki Kebesaran), dan lain-lain sebagai "kartu nama" untuk disebut hamba-Nya terus-menerus dalam setiap memulai aktivitas, tapi Dia memilih ar-Rahmân, ar-Rahîm (Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

Ternyata yang pertama disebut dalam ayat Al-Qur’an adalah sifat pengasih dan penyayang. Sudahkah kita meniru sifat Allah ini? Dengan mengamalkan basmillah, maka kita belajar menyayangi orang lain, baik yang berbuat baik maupun berbuat buruk kepada kita. Wali Allah Rabi‘atul Adawiyah tidak memiliki rasa benci kepada iblis karena semua hatinya dipenuhi rasa kasih sayang. 

Bila ada setitik saja kebencian kepada manusia, mungkin karena kita belum mengenal dengan baik siapa pencipta manusia dan belum mengamalkan secara maksimal kandungan basmillah. Jika pun harus menghukum seseorang, hukumlah karena kasih sayang kita kepadanya, bukan karena benci. Sebagaimana hadits nabi yang kurang lebih maknanya, sayangilah siapa pun yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu (irhamû man fil ardli yarhamkum man fis samâ’).

Selanjutnya, saya membayangkan kedahsyatan basmalah kurang lebih seperti ini. Seorang preman di pasar, ketika menyuruh anak buahnya yang baru gabung, mungkin akan berkata, "Ambil jatah kita dari orang-orang, bilang aja lo anak buah gue". Maka pungli pun dengan mudah didapat oleh sang anak buah yang baru meskipun badannya kerempeng.

Seorang pelanggar lalu lintas, ketika akan ditilang, bisa jadi akan berkata, "Saya saudaranya pejabat A." Maka polisi yang hendak menilang, yang tidak mau urusan jadi panjang, mungkin akan melepas pelanggar lalu lintas tadi.

Seorang oknum pejabat yang ingin saudaranya menang tender, mungkin akan berkata ke saudaranya "Sebut saja nama saya, panitia tendernya kenal baik dengan saya. Bahkan dulu ada yang anak buah saya." Maka urusan tender pun bisa jadi akan beres.

Baru menyebut nama orang-orang biasa saja, urusan bisa lancar, meski sebagian mungkin melanggar hukum dan bukan contoh yang baik. Apalagi bila kita menyebut nama Allah pemilik alam semesta. Bahkan istana Ratu Bilqis pun bisa pindah dengan perantaraan ahli ilmu yang mengucap basmalah. Dengan mengucap basmalah dalam setiap aktivitas, maka seolah kita berkata ke alam semesta, "Wahai alam semesta, saya hamba Allah. Maka tunduklah kepadaku atas nama Allah." Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menundukkan alam semesta itu untuk hambaNya. Allahu a'lam.

Roziqin, Dosen Hukum Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Kamis 15 Maret 2018 8:0 WIB
Cara Stephen Hawking Dukung Perjuangan Palestina
Cara Stephen Hawking Dukung Perjuangan Palestina
Fisikawan terkemuka di dunia Stephen Hawking meninggal dunia hari ini, Rabu (14/3), pada usia 76 tahun. Berita meninggalnya Hawking menghebohkan dunia. Pasalnya, dia dianggap sebagai orang yang memiliki kontribusi dan terobosan besar dalam bidang fisika dan kosmologi. Diantara teori yang dicetuskannya dan menjadi perhatian besar di jagat dunia sains adalah Teori Big Bang, Teori Gravitasi Kuantum, dan Radiasi Hawking.   

Selain sebagai seorang ilmuan yang cemerlang, Hawking juga dikenal sebagai orang yang mendukung perjuangan Palestina. Pada bulan Mei 2013, nama dan foto Hawking menjadi berita utama di banyak media internasional. Pasalnya, dia menolak hadir dan menjadi pembicara dalam sebuah acara konferensi yang diselenggarakan oleh Presiden pada saat itu Israel Shimon Peres di Yerusalem. 

Alasannya, Hawking menggap kebijakan pemerintah Israel terhadap Palestina cenderung menimbulkan bencana. Sebelumnya Hawking menerima sejumlah email dari akademisi Palestina. Mereka berharap Hawking untuk memboikot acara tersebut. Dan Hawking menyetujui hal itu. 

Dalam sebuah surat, Hawking menyatakan bahwa kalau seandainya jadi hadir dalam konferensi, ia akan menyampaikan apa yang dilakukan pemerintah Israel itu akan menyebabkan bencana. 

Keputusan Hawking untuk memboikot acara konferensi kepresidenan Israel tersebut disambut suka cita oleh para akademisi dan aktivis Palestina. 

Dukungan Hawking untuk bangsa Palestina tidak hanya itu. Tahun 2017 lalu, ia melakukan penggalangan dana di akun Facebooknya untuk disumbangkan ke Sekolah Tinggi Fisika Palestina (Palestinian Advanced Physics School). Dengan menggalang dana, Hawking juga berupaya untuk mendirikan sekolah-sekolah fisika lainnya di Palestina. 

Stephen Hawking lahir pada 8 Januari 1942 di Inggris. Ia belajar fisika di University College dan meneliti kosmologi di Cambridge University. Saat usianya menginjak 21 tahun, ia terkena penyakit amyotrophic lateral sclerosis (ALS) atau penyakit Lou Gehrig. Semenjak itu, ia divonis hanya bisa bertahan hidup selama dua tahun saja. Namun nasib berkata lain, ia terus hidup hingga usia 76 tahun.

A Brief History of Time, bukunya yang ditulis pada 1988  menjadi salah satu buku yang paling populer di dunia setelah terjual lebih dari 10 juta eksemplar. (A Muchlishon Rochmat)