IMG-LOGO
Ilmu Hadits

Cara Menyikapi Hadits Keutamaan Rajab

Selasa 3 April 2018 7:1 WIB
Share:
Cara Menyikapi Hadits Keutamaan Rajab
Salah satu fenomena menarik yang mungkin tidak ditemukan pada beberapa tahun sebelumnya adalah banyaknya orang-orang yang menyebarkan informasi keagamaan secara sukarela. Informasi itu disebar secara luas melalui media sosial, yaitu facebook, twitter, grup WA, dan media lainnya. Orang menyebar keutamaan puasa Rajab.

Di antara informasi yang sering disebar menjelang bulan Ramadhan ini adalah seputar keutamaan bulan Rajab. Ada banyak hadits disebarkan dengan tujuan untuk memotivasi orang memperbanyak ibadah puasa pada bulan Rajab.

Meskipun tujuan penyebaran informasi itu bagus, tapi sebagian orang ada juga yang mempermasalahkan hal itu karena memang kebanyakan hadits yang disebarkan melalui media sosial soal keutamaan Rajab adalah hadits yang bermasalah.

Hadits seputar keutamaan bulan Rajab ini sudah pernah dikaji oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Hasil kajiannya itu ditulis dalam kitab berjudul Tabyinul ‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab. Dalam kitab itu ia berkata:

لم يرد في فضل شهر رجب، ولا في صيامه ولا في صيام شيئ منه معين، ولا في قيام ليلة مخصوصة فيه حديث صحيح يصلح للحجة. وقد سبقني إلى الجزم بذلك الإمام أبو إسما عيل الهروي الحافظ.....ولكن اشتهر أن أهل العلم يتسمحون في إيرد الأحاديث في الفضائل وإن كان فيها ضعيف، ما لم تكن موضوعة

Artinya, “Tidak ada hadits shahih yang bisa dijadikan hujjah terkait keutamaan Rajab, puasa Rajab, atau puasa di hari tertentu di bulan Rajab, serta beribadah pada malam tertentu di bulan Rajab. Sebelumnya sudah ada yang melakukan kajian ini, yaitu Imam Abu Ismail Al-Harawi Al-Hafidz. Meskipun demikian, sesungguhnya para ulama membolehkan mengamalkan hadits tentang fadhilah amal, walaupun kualitasnya lemah, selama tidak maudhu’.”

Ibnu Hajar mengakui bahwa belum ditemukan dalil shahih dan spesifik terkait keutamaan bulan Rajab atau dalil khusus yang menyatakan keutamaan puasa di bulan Rajab. Namun dengan tidak adanya dalil shahih yang spesifik itu bukan berati puasa Rajab tidak boleh. Maksudnya bukan demikian.

Sebab dalam kajian hadits sendiri, beramal dengan hadits dhaif dibolehkan selama tidak berkaitan dengan akidah dan kualitas haditsnya tidak terlalu lemah. Apalagi dalam persoalan puasa Rajab, sebetulnya ada hadits shahih yang menjadi landasan kebolehan puasa Rajab.

Misalnya, dalam hadits riwayat Muslim disebutkan bahwa ada sahabat yang bertanya kepada Sa’id Ibnu Jubair terkait puasa Rajab. Said menjawab, “Saya mendengar Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW berpuasa (berturut-turut) hingga kami menduga Rasulullah SAW selalu berpuasa, dan ia tidak puasa (berturut-turut) sampai kami menduga ia tidak  puasa,” (HR Muslim).

Kemudian dalam riwayat lain adalah hadits riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Al-Baihaqai, dan lain-lain yang menyebutkan bahwa Nabi memerintahkan salah seorang sahabatnya untuk berpuasa pada bulan-bulan mulia (asyhurul hurum). Sementara salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam adalah bulan Rajab.

Jadi dengan banyaknya beredar hadits dhaif tentang keutamaan Rajab bukan berati memperbanyak amalan pada bulan itu tidak dibolehkan, karena hadits dhaif itu sendiri masih boleh diamalkan dengan syarat tidak berkaitan dengan akidah dan kelemahannya tidak terlalu parah.

Selain itu juga masih ada riwayat lain yang shahih menyebut Nabi pernah mengerjakan puasa di bulan Rajab dan memerintahkan sahabat puasa di bulan yang mulia. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)
Share:
Rabu 28 Maret 2018 16:30 WIB
MUSTHALAH HADITS
Mengapa dan Kapan Muncul Hadits-hadits Palsu?
Mengapa dan Kapan Muncul Hadits-hadits Palsu?
(Foto: ss.lv)
Akhir-akhir ini kita sering menemukan hadits-hadits yang bertebaran di dunia maya. Beberapa bahkan divonis sebagai hadits palsu. Hadits-hadits palsu tersebut muncul dalam berbagai hal, mulai saat terjadinya kejadian-kejadian keagamaan tertentu, seperti Rajab, Ramadhan, dan lain sebagainya hingga karena kepentingan-kepentingan politik tertentu.

Muhammad ‘Ajjaj Al-Khatib dalam As-Sunnah Qablat Tadwin-nya menceritakan secara rinci kronologi munculnya hadits-hadits palsu pada zaman itu. Bermula pada peristiwa terbunuhnya Usman bin Affan yang berdampak pada mengkristalnya instabilitas politik antara kedua golongan, yakni Ali bin Abi Thalib yang didukung penuh oleh masyarakat Hijaz dan Irak serta Muawiyah yang didukung oleh masyarakat Mesir dan Syam.

Ketegangan antara kedua termanifestasi dalam Perang Siffin yang berujung pada peristiwa arbitrase (tahkim). Kesepakatan dilaksanakannya tahkim sendiri telah menimbulkan perpecahan dalam kelompok-kelompok Islam. Mulai munculnya Khawarij, Syiah (pro-Ali), dan golongan Pro-Muawiyah.

Hal ini juga dijelaskan oleh Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dalam Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif.

ظهر الوضع في السنة 41 من الهجرة حين تفرق المسلمون سياسيا وافترقوا إلى شيعة وخوارج وجمهور. وظهرت البدع والأهواء، فكان أهل الأهواء يختلقون أحاديث لتأييد مذاهبهم وترويج مابتدعوا

Artinya, “Pemalsuan hadits tampak sejak tahun 41 H, ketika terjadi perpecahan kaum Muslimin menjadi beberapa golongan secara politik, yaitu Syiah, Khawarij, dan jumhur shingga muncul para ahli bidah dan orang yang mengikuti hawa nafsunya. Mereka membuat-buat beberapa hadits untuk mendukung golongan mereka serta untuk menyebarkan perbuatan bidah mereka,” (Lihat Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif, [Madinah: Maktabah Malik Fahd, 2000], halaman 149).

Dipercaya atau tidak, ketiga golongan ini sebenarnya muncul atas landasan politik. Hal ini terbukti dari asal muasal berdirinya, yakni peristiwa tahkim antara Muawiyah dan Ali yang merupakan proses perebutan hak-hak politik.

Kemunculan tiga golongan inilah yang menjadi asal muasal munculnya hadits-hadits palsu yang digunakan untuk membela kepentingan-kepentingan mereka. Muncullah hadits-hadits palsu tentang kelebihan dan keutamaan khulafa’u rasyidin, kelebihan-kelebihan kelompok tertentu, kelebihan-kelebihan ketua-ketua partai, bahkan muncul pula hadits-hadits yang secara tegas mendukung aliran-aliran politik dan kelompok-kelompok agama tertentu.

Masa-masa instabilitas politik saat itu sebenarnya disebabkan adanya hoaks berupa hadits-hadits palsu yang telah terdistribusikan dengan sangat masif. Baik melalui mulut ke mulut, maupun dari mimbar-mimbar ceramah. Jika bisa dikategorikan, penyebaran hoaks berupa hadits-hadits palsu tersebut bisa dilakukan oleh per orangan atau per kelompok.

Dalam karyanya yang berjudul Al-Manhalul Lathif fi Ushulil Hadits As-Syarif, Sayyid Alawi Al-Maliki menjelaskan beberapa faktor dibuatnya hadits-hadits palsu: pertama, mempertahankan kepentingan pribadi; kedua, mendekatkan diri kepada pejabat tertentu (orang-orang yang berkepentingan); ketiga, mencari rizki; keempat, membela pendapat tertentu walaupun salah; kelima, menarik simpati orang untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, termasuk mengajarkan anak-anak tentang agama.

Di sisi lain, Ajaj Al-Khatib menambahkan beberapa tujuan penggunaan hadits palsu, di antaranya: politik, diskriminasi etnis dan kabilah, serta kepentingan mengunggulkan mazhab fiqih atau kalam.

Ajaj Al-Khatib dan Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki sendiri memiliki pandangan sama terkait orang-orang yang melakukan pemalsuan hadits untuk mengajak kepada kebaikan. Namun, bagaimanapun juga yang dilakukan tetap tidak benar karena menghalalkan segala cara termasuk berbohong atas nama nabi. Hal ini sebagaimana penyebaran berita hoaks yang sering kita temukan untuk memotivasi spirit keagamaan seseorang. Tentu cara-cara seperti ini tidaklah benar.

Setelah muncul beberapa fitnah disebabkan adanya penyebaran hadits palsu tersebut, para ulama melakukan seleksi ketat untuk memilah-memilih “hadits” yang memang benar-benar hadits. Mujahadah para ulama menelurkan karya keilmuan yang luar biasa dan bisa kita pelajari hingga sekarang. Wallahu a‘lam. (M Alvin Nur Choironi)
Kamis 22 Maret 2018 12:0 WIB
Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Siapakah yang Disebut ‘Sahabat Nabi’ Itu?
Hadits dan sejarah terkait Nabi Muhammad, tentu tak lepas dari keterangan para sahabat beliau. Kebanyakan kita kenal sahabat Nabi yang populer, seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Aisyah atau setidaknya yang kerap disebut dalam pelbagai kisah seperti Abu Hurairah dan Bilal bin Rabah. Namun ketika diminta menyebutkan lebih banyak nama, tentu pengetahuan kita terbatas.

Nabi Muhammad dalam sebuah riwayat hadits menyatakan bahwa kaum terbaik adalah kaum yang berada semasa dengan beliau, kemudian berturut-turut kaum setelahnya. Secara sederhana, sahabat kita pahami sebagai orang-orang yang pernah berjumpa dengan Nabi. Karena kedekatan dan pengetahuan mereka terhadap Nabi, peran sahabat begitu istimewa, khususnya dalam kajian hadits. 

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Ishâbah fi Tamyîzis Shahâbah menyebutkan bahwa sahabat Nabi adalah “orang-orang yang berjumpa dengan Nabi dalam keadaan beragama Islam, dan meninggal juga dalam keadaan Islam.”

Dalam rangkaian sanad hadits, penyebutan sahabat berada di urutan setelah Nabi. Peran mereka baik sebagai orang yang melaksanakan suatu hal di depan Nabi, atau menjadi orang yang menyampaikan apa yang didengar dan dilihat dari pribadi Rasulullah SAW.

Sebagaimana disebutkan di awal, umumnya sahabat Nabi adalah yang populer dikisahkan, semisal sepuluh orang yang dikabarkan Nabi masuk surga (al-mubasysyarun bil jannah). Selain itu, sosok sahabat juga diketahui dari penyebutan dalam hadits, seperti kaum yang bersama Nabi saat perang Badar, lalu tokoh seperti Abdullah bin Ummi Maktum, Ukasyah, Dhimam bin Tsa’labah, Kaab bin Malik dan banyak lainnya.

Sebagian ulama menambahkan kriteria lebih detail untuk menggolongkan peran dan posisi sahabat. Ada yang menyebutkan bahwa sahabat Nabi yang lebih utama adalah orang yang dalam waktu lama bergaul bersama Rasulullah (thûlul mujâlasah atau thûlus shuhbah), atau pernah berperang bersama beliau. Dalam hal ini, keterangan sahabat tentang sejawatnya, atau pengakuan pernah berjumpa Nabi semasa beliau hidup menjadi cara kita mengetahui sosok sahabat, yang bisa ditelaah dalam kitab biografi perawi hadits.

Mengetahui bahwa pengertian sahabat adalah “orang-orang yang pernah berjumpa dengan Nabi”, tentu jumlahnya sangat banyak sekali, tidak terbatas pada sosok yang populer dikisahkan saja. Beberapa ulama hadits, seperti Abu Zur’ah Ar Razi, mengemukakan bahwa jumlah sahabat tak kurang dari 100.000 orang. Jumlah ini tentu dengan mempertimbangkan luasnya perjalanan Nabi dan interaksi beliau dengan masyarakat di berbagai daerah.

Demikian pengertian sahabat menurut kalangan ahli hadits, dan tentu berkat peran dan keteguhan hati dalam mendakwahkan dan memperjuangkan ajaran Islam, mereka menjadi wasilah kita di masa sekarang kepada teladan Rasulullah Muhammad SAW. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Senin 19 Maret 2018 17:15 WIB
MUSTHALAH HADITS
Ini Pengertian Hadits Shahih Muttashil
Ini Pengertian Hadits Shahih Muttashil
(Foto: ibtimes)
Sebuah hadits bisa dikatakan shahih jika memenuhi lima syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama hadits. Lima syarat bisa kita jumpai dalam rangkuman syair yang digubah oleh Imam Al-Bayquni dalam Nadham Bayquni berikut ini:

أولها الصحيح وهو ما اتصل # إسناده ولم يشد أويعل

يرويه عدل ضابط عن مثله # معتمد في ضبطه ونقله

Artinya, “Pembagian hadits yang pertama adalah shahih, yaitu sanadnya bersambung serta tidak terdapat syadz atau illat, diriwayatkan oleh perawi yang adil serta dhabit serta kuat dhabit dan periwayatannya.”

Syarat pertama adalah ittishalus sanad, yakni sanadnya harus bersambung. An-Nawawi mengutip pendapat Imam Ibnu Shalah bahwa muttasil adalah hadits yang sanadnya bersambung baik itu marfu‘ (sampai Rasulullah SAW) atau mauquf (sampai sahabat) saja.

Imam As-Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi menjelaskan bahwa syarat muttashil adalah semua perawi harus mendengar hadits tersebut dari gurunya.

قال ابن الصلاح بسماع كل واحد من رواته ممن فوقه.

Artinya, “Ibnu Shalah berpendapat bahwa muttashil adalah dengan mendengarnya setiap perawi atas orang sebelumnya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Tadribur Rawi fi Syarhi Taqrib An-Nawawi, [t.k.: Dar Taybah, t.t.], halaman 201).

Untuk memastikan ketersambungan sebuah sanad dan untuk memastikan bahwa seorang perawi benar-benar mendengarkan sebuah haditst dari gurunya, maka para ulama menetapkan beberapa syarat dan kriteria agar sebuah sanad dinyatakan muttashil.

Abdul Mahdi Abdul Qadir dalam kitabnya Thuruqul Hukum alal Hadits bis Sihhah wa Dhaif menjelaskan delapan syarat ittishal sanad. (Lihat Abdul Mahdi Abdul Qadir, Thuruqul Hukum alal Hadits bis Sihhah wa Dhaif, [Jeddah: Maktabah Iman, 2008], halaman 223-224).

Berikut delapan syarat tersebut:
Pertama, perawi tersebut harus semasa dengan gurunya. Cara untuk mengetahui bahwa perawi tersebut semasa atau tidak adalah dengan memeriksa tahun wafatnya di kitab tarajim. Jika seorang perawi tersebut lahir sebelum gurunya wafat, maka bisa dipastikan bahwa dia semasa.

Kedua, setelah memastikan bahwa seorang perawi satu masa dengan gurunya, selanjutnya adalah memastikan bahwa rawi tersebut bertemu dengan gurunya. Karena ada beberapa perawi yang satu masa tapi tidak pernah bertemu.

Caranya adalah dengan memeriksa makanur rihlah (tempat-tempat yang pernah dikunjungi) untuk mencari hadits. Jika salah satu tempat rihlahnya sesuai dengan tempat rihlah gurunya, atau tempat rihlah tersebut dilewati oleh gurunya, maka perawi tersebut dimungkinkan bertemu.

Ketiga, perawi mendengarkan langsung dari gurunya. Bisa jadi ada rawi yang pernah bertemu dengan gurunya, tetapi tidak pernah meriwayatkan hadits dari guru tersebut. Hal inilah yang disebut dalam musthalah hadits sebagai mursal khafi.

Keempat, menggunakan sighat ada’ yang pasti (jazm) seperti: سمعت" أو "حدثنا". Bukan menggunakan sighat tamridl (ruwiya an, hukiya an, atau kalimat lain yang mabni majhul).

Kelima, perawi tersebut masuk dalam daftar murid gurunya di kitab tarajim. Ini bisa kita periksa dari nama-nama orang yang pernah meriwayatkan dari gurunya. Biasanya dalam kitab tarajim, nama-nama tersebut disebutkan setelah kata rawa anhu (روى عنه) dalam biografi gurunya.

Keenam, guru tersebut masuk dalam daftar guru perawi. Hal ini juga bisa kita periksa sebagaimana poin kelima. Biasanya nama tersebut tercantum setelah kata rawa an (روى عن).

Ketujuh, tidak adanya ketetapan dari para imam hadits bahwa periwayatan rawi dari gurunya tersebut tidak muttashil. Misalnya sering kita temui dalam kitab tarajim, ungkapan para ulama bahwa rawi tersebut mudallis dari fulan. Seperti: Qâla Ibnu Hatim, fulan mudallis an fulan, dan lain sebagainya.

Kedelapan, tidak adanya ketetapan dari para Imam bahwa periwayatan seorang rawi dari gurunya mursal. Ini juga bisa kita jumpai di kitab tarajim sebagaimana dalam poin tujuh di atas.

Untuk itu perlu ada pemeriksaan terkait kesesuaian sebuah sanad hadits dan syarat-syarat di atas. Jika tidak sesuai, maka sanad tersebut munqathi’ (walaupun ada istilah khusus dalam beberapa kasus munqathi’), konsekuensinya adalah sanad tersebut divonis dhaif. Jika sesuai, maka sanad tersebut muttashil. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)