IMG-LOGO
Ekonomi Syariah

Jual Beli Kredit, Apakah Sama dengan Riba?

Senin 16 April 2018 20:30 WIB
Share:
Jual Beli Kredit, Apakah Sama dengan Riba?
Allah subhanahu wata’ala menghalalkan seorang hamba untuk melakukan transaksi jual beli. Segala bentuk jual beli asal memenuhi tuntunan yang sudah disyariatkan oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagaimana sudah dijabarkan oleh para ulama dalam kitab-kitab turats fiqih, adalah boleh dipraktikkan. Wajah jual beli adalah mendapatkan keuntungan. Antara keuntungan jual beli kontan dan jual beli kredit, bertempo, adalah sama-sama diperbolehkan oleh syariat. 

Khusus jual beli kredit, keserupaan keuntungan yang didapat lewat jual beli secara kredit ini sering diwacanakan secara salah oleh sekelompok masyarakat. Banyak orang yang beranggapan bahwa jual beli kredit adalah sama dengan “nganakne duit” (riba). Padahal, sama sekali hal itu bukan sebagaimana yang dimaksudkan. Penyerupaan jual beli secara kredit ini pernah juga dilakukan oleh orang-orang kafir jahiliyah pada masa risalah kenabian Baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, namun hal itu secara tegas dibantah oleh Allah lewat Surat al-Baqarah ayat 275. Lewat ayat itu, Allah juga mengancam bahwa orang-orang yang menyerupakan antara “keuntungan jual beli yang diperoleh secara kredit” dengan “keuntungan yang didapat dari riba”, dengan: 

1. Kelak ia akan dibangkitkan dari kubur dalam keadaan seperti orang yang gila
2. Tempat kembali orang yang demikian itu adalah neraka, sebagai seburuk-buruk tempat kembali (QS. Al-Baqarah 275)

Betapa Allah sangat memperhatikan kehidupan niaga ini dengan sampai memberikan ancaman bagi kaum yang hendak mengaburkan pandangan antara jual beli dan riba. Padahal, sekilas memang antara keduanya–yakni praktik jual beli dan riba–adalah hampir sama, bahkan ada kemiripan. Letak perbedaan utamanya adalah pada proses akad yang dipergunakan dan praktiknya. Mungkin, di sinilah alasan mengapa Allah SWT memberikan penekanan khusus terhadap jual beli ini di dalam Al-Qur’an, adalah karena sebagian besar kebutuhan manusia itu harus dipenuhi dengan jalan melakukan transaksi jual beli dan muamalah lainnya yang sejenis termasuk di dalamnya harus diperoleh dengan jalan kredit. 

Baca juga: Hukum Mengonsumsi Uang Deposito Bank
Jual beli kredit dalam istilah fiqih disebut dengan بيع تقسيط (dibaca: bai‘ taqsîth). Adapun jual beli dengan bertempo disebut dengan istilah بيع بالثمن الآجل (dibaca: bai’ bi al-tsamani al-âjil). Jual beli bertempo atau taqsîth yang disertai dengan uang muka, disebut dengan istilah بيع عربان (dibaca: bai’ urbân). Ketiga-tiganya merupakan jual beli dengan harga tidak tunai (harga tunda). Apakah jual beli ini sama dengan riba?

Dalam literatur fiqih kontemporer, bai’ taqsîth (jual beli kredit) ini didefinisikan sebagai berikut:

البيع بالتقسيط بيع بثمن مؤجل يدفع إلى البائع في أقساط متفق عليها، فيدفع البائع البضاعة المبيعة إلى المشتري حالة، ويدفع المشتري الثمن في أقساط مؤجلة، وإن اسم " البيع بالتقسيط " يشمل كل بيع بهذه الصفة سواء كان الثمن المتفق عليه مساويًا لسعر السوق، أو أكثر منه، أو أقل، ولكن المعمول به في الغالب أن الثمن في " البيع بالتقسيط " يكون أكثر من سعر تلك البضاعة في السوق، فلو أراد رجل أن يشتريها نقدًا، أمكن له أن يجدها في السوق بسعر أقل ولكنه حينما يشتريها بثمن مؤجل بالتقسيط، فإن البائع لا يرضى بذلك إلا أن يكون ثمنه أكثر من ثمن النقد، فلا ينعقد البيع بالتقسيط عادة إلا بأكثر من سعر السوق في بيع الحال.

Artinya: “Bai’ taqsîth adalah praktik jual beli dengan harga bertempo yang dibayarkan kepada penjual dalam bentuk cicilan yang disepakati. Sementara itu, penjual menyerahkan barang dagangan (bidla’ah) yang dijualnya kepada pembeli seketika itu juga pada waktu terjadinya aqad. Kewajiban pembeli adalah menyerahkan harga untuk barang yang dibeli dalam bentuk cicilan berjangka. Disebut dengan istilah bai’ taqsîth adalah karena memuatnya ia kepada sebuah bentuk transaksi jual beli dengan ciri harga yang disepakati:1) sama dengan harga pasar, atau 2) lebih tinggi dari harga pasar, atau sebaliknya 3) lebih rendah dari harga pasar. Akan tetapi yang umum berlaku adalah pada umumnya harga dari barang bai’ taqsîth adalah lebih tinggi dibanding harga jual pasar.” (Lihat: Al-Qadli Muhammad Taqi al-Utsmâny, Ahkamu al Bai’ al-Taqsîth dalam Majalah Majma’ al-Fiqhu al-Islamy, tt, Juz 7, hal. 596)

Memperhatikan sisi definisi di atas, maka apabila ada skema penjualan seperti berikut ini, maka ia bisa dikelompokkan ke dalam bai’ taqsîth (jual beli kredit). 

Skema Kredit Mobil
  

Lama Angsuran

Besar Angsuran/Bulan

Total Angsuran

Cash

-

Rp 100.000.000

1 tahun

Rp 9.166.667

Rp 110.000.000

18 bulan

Rp 6.666.667

Rp 120.000.000

24 bulan

Rp 5.416.667

Rp 130.000.000

30 bulan

Rp 4.666.667

Rp 140.000.000

  
Bagaimana hukumnya membeli mobil dengan skema jual beli kredit sedemikian itu? 

Imam Nawawi menyatakan di dalam kitab Raudlatu al-Thalibin, bahwasannya jual kredit hukumnya adalah “boleh.”

أما لو قال بعتك بألف نقداً وبألفين نسيئة... فيصح العقد

Artinya: “Andai ada seorang penjual berkata kepada seorang pembeli: “Aku jual ke kamu (suatu barang), bila kontan dengan 1.000 dirham, dan bila kredit sebesar 2.000 dirham, maka aqad jual beli seperti ini adalah sah.” (Abu Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Raudlatu al-Thâlibîn, Maktabah Kairo, Juz 3, hal 397)

Sampai di sini, maka bisa diambil kesimpulan, bahwasannya jual beli kredit adalah boleh. Orang yang menyerupakan jual beli kredit dengan riba, adalah kelak mendapat ancaman dari Allah, sebagaimana tertuang di dalam QS. Al-Baqarah 275, yaitu:

1. Kelak akan bangkit dari kubur dalam keadaan seperti orang yang gila
2. Tempat kembali orang-orang yang sedemikian itu adalah neraka, dan ia adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Wallahu a’lam


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Tags:
Share:
Senin 16 April 2018 15:15 WIB
Ancaman bagi Orang yang Menyamakan Jual Beli dengan Riba
Ancaman bagi Orang yang Menyamakan Jual Beli dengan Riba
Banyak orang yang beranggapan bahwa ekonomi yang dibangun di atas landasan sistem ekonomi syariah adalah sama dengan sistem ekonomi riba. Padahal keduanya jauh berbeda dalam pelaksanaannya. Ekonomi syariah klasik dibangun di atas landasan “halalnya jual beli dan mengambil keuntungan”. Sementara ekonomi ribawi dibangun di atas fondasi “anda juga harus memberikan keuntungan pada saya yang telah berjasa memberimu pertolongan.” Konsep ekonomi syariah modern dibangun di atas landasan “saya dan anda sama-sama berhak mendapatkan keuntungan.” Setidaknya ketiga konsep ini yang untuk sementara waktu kita catat sebagai satu sisi kajian.

Baca juga: Pengertian Riba dalam Tafsir at-Thabari
Masih bergelut pada penafsiran Syeikh Abu Ja’far at-Thabari tentang riba, kali ini kita akan mengupas kelanjutan ayat dari Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, yang berbunyi: 

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Demikian itu (orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur seperti orang gila), adalah disebabkan sesungguhnya dulu mereka telah berkata bahwa jual beli adalah sama dengan riba. Sementara Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Ayat ini diturunkan dengan latar belakang tradisi masyarakat jahiliyah pada waktu itu yang apabila melepaskan harta yang menjadi haknya kepada orang yang berutang, lalu terjadi penundaan pembayaran dari orang yang meminjam, maka si peminjam menyertainya dengan ucapan: 

زدني في الأجل وأزيدك في مالك

Artinya: “Beri aku tempo lagi, nanti aku beri (konsekuensi penundaan) berupa tambahan lagi kembaliannyakepadamu”(Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo, Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38)

Awal prosesnya terjadinya transaksi jual beli yang disertai tambahan keuntungan. Namun seiring perjalanan waktu saat pelunasan, ternyata pihak yang berutang belum bisa melunasinya. Akhirnya, pihak yang berutang menyampaikan ucapan seperti di atas. Ketika keduanya ditegur, bahwa apa yang mereka lakukan adalah riba dan tidak halal, lalu mereka mengatakan:
 
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا

Artinya: “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba” (QS. Al-Baqarah: 275)

Maksud mereka dengan perkataan ini adalah bahwa konsekuensi tambahan karena faktor penundaan adalah dianggap sah-sah saja. Mereka beralasan bahwa mau disampaikan di awal transaksi jual beli atau disampaikan di akhir masa pelunasan, konsekuensi penundaan tersebut adalah sama saja.

Padahal, menurut syariat, kedua hal ini adalah berbeda. Jika disampaikan di awal transaksi jual beli, maka ini adalah keuntungan dan hukumnya adalah halal. Jika disampaikan di akhir masa jatuh tempo pelunasan—yang diakibatkan adanya penundaan lagi – maka ini tidak sah dan masuk kategori riba. Oleh karena itu, Allah subhanahu wata’ala membantah dengan kelanjutan ayat:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Allah menghalalkan jual beli, dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Maksud dari ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh at-Thabari adalah:

وأحلّ الله الأرباح في التجارة والشراء والبيع "وحرّم الربا" يعني الزيادةَ التي يزاد رب المال بسبب زيادته غريمه في الأجل، وتأخيره دَيْنه عليه

Artinya: “Allah menghalalkan keuntungan dalam niaga dan jual beli, dan mengharamkan riba, yakni tambahan yang ditambahkan ke pemilik asal harta (rabbu al-maal) disebabkan adanya tambahan waktu penundaan tempo pembayaran orang yang berutang kepadanya, atau penundaan pelunasan utangnya.” (Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38)

Maksud dari ayat adalah bahwa jual beli dengan tempo itu boleh-boleh saja dan halal. Yang tidak halal adalah apabila terjadi penundaan, kemudian dilakukan adanya penambahan harta sebagai konsekuensi dari penundaan tersebut. Tentu dalam hal ini, sifat dari tambahan antara proses jual beli dan riba adalah jauh berbeda dari segi dampaknya. Oleh karena itu, menurut at-Thabari, seolah dalam ayat ini, Allah berfirman: 

فليست الزيادتان اللتان إحداهما من وَجه البيع،والأخرى من وجه تأخير المال والزيادة في الأجل، سواء. وذلك أنِّي حرّمت إحدى الزيادتين = وهي التي من وجه تأخير المال والزيادة في الأجل = وأحللتُ الأخرى منهما، وهي التي من وجه الزيادة على رأس المال الذي ابتاع به البائع سلعته التي يبيعها، فيستفضلُ فَضْلها

Artinya: “Tiada antara dua tambahan yang salah satunya diperoleh dari jalan jual beli dan yang lain dari akibat penundaan utang dan konsekuensi tempo adalah sama. Salah satu dari kedua tambahan ini Aku haramkan, yaitu yang berasal dari akibat penundaan utang dan konsekuensi tempo (denda). Namun Aku menghalalkan yang lain yang diperoleh dari tambahan terhadap “harga pokok” (ra’sul mâl) dagangan yang dijual oleh penjual, lalu ia mengambil kelebihannya.” (Abu Ja’fa Al-Thabary, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, juz 5, halaman 38)

Yang dimaksud sebagai kelebihan dari harga pokok adalah keuntungan hasil jual beli. Yang dimaksud sebagai harga pokok barang adalah “harga dasar” saat penjual membelinya dari pasar tengkulak/grosir. Keuntungan penjualan yang dihalalkan adalah diperoleh dengan jalan menaikkan harga lalu dijual ke konsumen. Selisih antara harga pokok dengan harga jual adalah besar nilai keuntungan. Baik dijual secara kontan atau kredit, keduanya adalah sah dan halal, asalkan ada ketentuan yang jelas dalam aqad di awal sebelum berpisah majelis. Misalnya pembeli memutuskan membeli secara kredit. Atau misalnya, pembeli memutuskan secara kontan. Yang tidak boleh adalah apabila pembeli dan penjual tidak memutuskan cara belinya, dengan kontankah, atau dengan cara kreditkah. Ini yang dilarang. 

Sementara itu, kelebihan yang didapat dari riba, adalah berbasis waktu tunda dan denda (الزيادة في الأجل). Misalnya, karena seorang pembeli tidak bisa melunasi pada waktu yang telah disepakati, maka ia dikenai kompensasi (denda) akibat penundaan waktu pembayaran. Transaksi seperti ini yang diindikasikan sebagai riba. 

Kesimpulan dari tulisan ini adalah, bahwa keuntungan yang diperoleh dari hasil jual beli adalah tidak sama dengan tambahan yang ditetapkan dengan cara riba, semisal lewat denda. Kembali pada pokok ayat bahwa lewat QS al-Baqarah 275 ini, Allah subhanahu wata’ala menghalalkan jual beli, yang berarti menghalalkan pula dalam mengambil untung dari hasil jual beli. Sementara itu, Allah mengharamkan riba yang berarti pula mengharamkan mengambil kompensasi tambahan akibat penundaan waktu pelunasan (denda). 

Kedudukan orang menyamakan keuntungan jual beli dengan kompensasi denda pelunasan, atau menyamakan jual beli dengan riba, sama dengan orang yang kelak akan dibangkitkan dari kubur dalam kondisi gila, sebagaimana permulaan Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 275 ini. Oleh karena itu, marilah kita terus dan terus belajar mu’amalah agar tidak terjebak di dalam kajian lain yang tanpa landasan dasar pendapat ulama salaf sehingga berani mengharamkan transaksi murabahah ekonomi syariah! Semoga bermanfaat! 

Wallahu A’lam


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Sabtu 14 April 2018 20:30 WIB
Siapakah Pelaku Riba yang Diharamkan itu?
Siapakah Pelaku Riba yang Diharamkan itu?
Ilustrasi (shutterstock)
Syekh Abu Ja’far at-Thabari menafsirkan ayat bahwa pelaku riba dikaitkan keberadaannya dengan sifat gila adalah terjadi kelak di akhirat, yaitu ketika manusia dibangkitkan dari kuburnya sehingga ia berjalan kebingungan seperti orang gila. Riwayat sanad pentakwilan oleh Abu Ja’far at-Thabari ini disandarkan pada Muhammad bin ‘Amru dan Al-Mutsanna dari Mujahid. Al-Mutsanna juga meriwayatkan dari jalur lain yaitu dari Abu Hudzaifah, dari Ibnu Abbas, dari Sa’id bin Jubair yang menukil dari Ibnu Abbas. Ibnu Humaid juga meriwayatkan dari jalur Sa’id bin Jubair, yang berarti merupakan sanad mursal, tapi memiliki syahid dari jalur riwayat Al-Mutsanna yang juga mendapatkan dari jalur Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas. Dan masih banyak lagi riwayat yang lain yang berasal dari jalur sanad Qatadah, Al-Rabi’, Al-Dlahak, Ibnu Zaid dan Al-Sidi yang seluruhnya merupakan generasi mufassir masa sahabat. 

Semua mufassir sahabat ini sepakat mentafsir penggalan ayat كما يقوم الذي يتخبطه الشيطان من المس sebagai orang yang akan dibangkitkan dari kuburnya di akhirat kelak sebagai layaknya orang gila.

Yang menjadi soal kemudian adalah, siapakah yang dimaksud dengan pelaku riba yang diancam kelak akan dibangkitkan seperti orang yang gila di sini?  Apakah termasuk orang yang memakan harta hasil riba, atau ada maksud lain?

Baca: Hukum Transaksi Jual Beli secara Kredit
Syekh Abu Ja’far at-Thabari menjelaskan dalam kitab tafsirnya:

فإن قال لنا قائل: أفرأيت من عمل ما نهى الله عنه من الرِّبا في تجارته ولم يأكله، أيستحقّ هذا الوعيدَ من الله؟
قيل: نعم، وليس المقصود من الربا في هذه الآية الأكلُ، إلا أنّ الذين نـزلت فيهم هذه الآيات يوم نـزلت، كانت طُعمتهم ومأكلُهم من الربا، فذكرهم بصفتهم، معظّمًا بذلك عليهم أمرَ الرّبا، ومقبِّحًا إليهم الحال التي هم عليها في مطاعمهم، وفي قوله جل ثناؤه: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ 

Artinya: “Jika ada yang bertanya kepada saya: Adakah (bagaimanakah) pandangan tuan tentang orang yang melakukan pekerjaan yang dilarang oleh Allah berupa praktik riba di dalam niaganya, akan tetapi ia tidak memakannya. Apakah ia termasuk juga yang diancam oleh Allah sebagaimana ayat ini dimaksudkan? Jawab: Iya. Maksud dari riba pada ayat ini bukan hanya sebatas makan saja, melainkan konteks ayat ini diturunkan adalah adanya kaum yang sumber makanan pokok dan mata pencahariannya berasal dari riba. Oleh karenanya, Allah sebutkan sifat-sifat mereka dengan penekanan pada perkara ribanya, dan mencela kondisi mereka terkait dengan sumber konsumsinya. Oleh karenanya, Allah berfirman dalam ayat lain:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ * فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ 

(wahai orang-orang yang beriman, takutlah kalian kepada Allah dan tinggalkan hal yang berkaitan dari riba, jika kalian beriman. Maka, jika kalian tidak melakukannya, maka umumkanlah perang dengan Allah dan Rasulnya (Q.S. Al-Baqarah: 278-279)) (Lihat: Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, halaman 38).

Maksud dari ayat yang dinukil dari Q.S. Al-Baqarah ayat 278-279 di atas, adalah mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan riba. Status pengharaman ini berhubungan dengan وأنّ التحريم من الله في ذلك كان لكل معاني الرّبا، وأنّ سواءً العملُ به وأكلُه وأخذُه وإعطاؤُه, yaitu semua pihak baik pelaku, pemakan hasil riba, penarik riba dan pemberi riba. Tafsir ini didasarkan pada konteks sabda Nabi SAW dalam sebuah hadits:

لعن الله آكلَ الرّبا، وُموكِلَه، وكاتبَه، وشاهدَيْه إذا علموا به

Artinya: “Allah melaknatipemakan riba, orang yang mewakilkan, penulisnya dan orang-orang yang menyaksikannya, padahal ia mengetahui.”(Abu Ja’fa At-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wîli ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, Juz 5, hal: 38!). Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, Al-Baihaqi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Tirmidzy, Al-Darimy, Al-Nasaiy, dan juga tertuang dalam Kitab Musnad Abdullah bin Mas’ud.

Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, dalam kitabnya yang berjudul Syurûhu al-Hadîts Mirqâtu al-Mafâtîhi Syarah Mishkatu al-Mashâbîhi, beliau memberikan penejelasan hadits di atas bahwa yang dimaksud dengan آكل الربا, adalah: 

آخذه وإن لم يأكل ، وإنما خص بالأكل لأنه أعظم أنواع الانتفاع كما قال – تعالى: إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما

Artinya: “Orang yang memungut riba dan meskipun tidak memakannya. Hanya saja Rasulullah SAW menetapkan sifat kekhususan di sini dengan lafadh ‘memakan’, disebabkan karena aktifitas makan merupakan sebesar-besarnya aktifitas pemanfaatan. Sebagaimana Allah SWT (menunjukkan pengkhususan ini dalam firman-Nya) : “Sesungguhnya orang yang “memakan” harta anak yatim secara dhalim,...” (Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915). 

Adapun yang dimaksud dengan orang yang mewakilkan riba (الموكل), Syekh Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari menjelaskan:

معطيه لمن يأخذه ، وإن لم يأكل منه نظرا إلى أن الأكل هو الأغلب أو الأعظم كما تقدم

Artinya: “Orang yang memberikan riba kepada orang yang memungut meskipun ia sendiri tidak memakannya, dengan fokus kepada makan karena ia yang paling umum dan paling sering terjadi sebagaimana telah disampaikan terdahulu.” (Lihat: Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).

Antara آكل  dan موكل keduanya bersekutu dalam dosa, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: هما شريكان في الإثم yang artinya: keduanya bersekutu di dalam dosa. 

Selain kedua person di atas, ada juga yang masuk unsur diancam oleh Rasulullah SAW, yaitu:

وكاتبه وشاهديه ) : قال النووي : فيه تصريح بتحريم كتابة المترابيين والشهادة عليهما وبتحريم الإعانة على الباطل)

Artinya: “Katib dan Syahid. Imam Nawawi rahimahullah berkata bahwa dalam hadits ini terdapat penjelasan haramnya mencatat transaksi dua orang yang beraqad riba, bersaksi atas keduanya dan haramnya membantu kebathilan.”(Ali bin Sulthan Muhammad al-Qari, Shurûhu al-Hadits Mirqâtu al-Mafâtîhi Sharah Mishkatul al-Mashâbîhi, Daru al-Fikr, 2002, Juz 5, hal: 1915).

Baca: Hukum Mengonsumsi Uang Deposito Bank
Sebagai kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa seiring haramnya riba, maka semua pihak yang berhubungan dengannya dihukumi sebagai haram dan berdosa. Tidak hanya pemakannya, orang yang mewakilkan, saksi dan penulisnya juga dihukumi sebagai haram disebabkan unsur ta’âwun (tolong menolong) dalam perkara batil.


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Jumat 13 April 2018 19:45 WIB
Al-Qur’an Sebut Pelaku Riba Seperti Benda Mati?
Al-Qur’an Sebut Pelaku Riba Seperti Benda Mati?
Masih berbicara tentang riba, Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275, yang berbunyi:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Arti tekstual: “(Perumpamaan) orang-orang yang memakan riba, tiada mereka berdiri kecuali seperti barang yang berdiri yang kemudian dibanting oleh syaithan dengan suatu timpaan (barang yang dirasuki oleh setan).” (QS al-Baqarah: 275)

Di dalam ayat ini, Imam Abu Ja’far at-Thabari menyampaikan bahwasanya yang dimaksud dengan “orang-orang yang memakan riba” adalah mereka para pelaku riba (الذين يربون). Seolah, Allah SWT berfirman dalam ayat ini:

 .....الذين يُرْبون الربا الذي وصفنا صفته في الدنيا "لا يقومون إِلَّا كَمَا يَقُومُ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang pelaku riba - yang kami tunjukkan cirinya di dunia – adalah, seperti kaum yang tiada berdiri kecuali seperti “barang” (ما) yang berdiri........”

Baca: Pengertian Riba dalam Tafsir at-Thabari
Yang menarik dari ayat di atas, adalah perumpamaan yang dipergunakan oleh Al-Qur’an. Di dalam ayat tersebut, para “pelaku riba” adalah diumpamakan seperti berdirinya “barang” (ما). Menurut qaidah nahwiyah dan balaghah, ما merupakan isim maushul yang bermanfaat untuk menunjuk “sesuatu yang tidak berakal” atau “sesuatu yang tidak bernyawa”. Ia bisa berarti benda mati, atau juga bermakna benda hidup akan tetapi tidak berakal. Dengan demikian, ada dua kemungkinan penafsiran ayat dalam hal ini, yaitu: (1) pelaku riba diumpamakan sebagai seperti benda mati yang berdiri, atau (2) pelaku riba diumpamakan sebagai benda hidup, akan tetapi tidak berakal. 

Pelaku Riba Seperti Benda Mati

Merujuk pada penafsiran yang pertama - yaitu pelaku riba diumpamakan sebagai benda mati - maka sekokoh-kokohnya benda mati yang berdiri, ia akan mudah roboh karena diterpa oleh apa saja yang bisa merobohkannya. Bisa roboh oleh angin dan bisa juga roboh oleh goncangan, misalnya seperti akibat gempa bumi, tanah longsor, dan lain sebagainya. 

Melihat dari asalnya benda mati, ada kemungkinan bahwa benda mati itu asalnya memang mati. Namun, ada juga benda mati itu berawal dari sesuatu yang asalnya adalah hidup, kemudian mati. Benda mati yang terakhir bisa disebut sebagai bangkai, mayit, dan lain sebagainya. Meskipun berbeda-beda asal-muasalnya, namun sifat dari benda mati tetaplah sama. Ia tidak memiliki daya atas dirinya. Ia bisa digerakkan namun tidak bisa menggerakkan. Ia bisa dibentuk, namun tidak bisa membentuk. 

Jika ayat di atas dimaknai sebagai “perumpamaan para pengambil riba adalah seperti benda mati”, maka ini berarti bahwa di dalam riba, para pelaku riba suatu saat memang pernah akan mengalami “berhasil” yang diumpamakan sebagai “berdiri” di atas. Namun keberhasilannya ini tidak berdaya upaya menahan kediriannya. Pendiriannya akan mudah roboh oleh goncangan dan gangguan yang tak terduga. Sebagaimana diisyaratkan oleh ayat sebagai “benda mati,” yang bisa roboh akibat goncangan, terpaan angin dan badai yang bisa terjadi kapan saja. Secara fisiknya kelihatan sukses, namun secara bathinnya ia rapuh karena tidak memiliki kendali atas dirinya. 

Pelaku Riba Seperti Benda Hidup namun Tak Berakal

Ada dua kemungkinan makhluk disebut sebagai benda hidup namun tidak berakal. Pertama, ia asalnya adalah makhluk berakal, namun belum masuk kategori berakal atau asalnya berakal kemudian kehilangan akalnya. Untuk contoh yang pertama adalah anak baligh yang belum mencapai usia mumayyiz (bisa membedakan). Adapun contoh yang kedua adalah orang gila. Kedua contoh ini adalah sama-sama disebut belum berakal, disebabkan karena tidak berakal, atau karena kehilangan akalnya. Adapun yang kedua, ia disebut barang yang berupa “makhluk hidup tidak berakal”. Contoh dalam hal ini adalah hewan dan tumbuhan serta hewan melata lainnya. Sifat dari masing-masing hewan dan tumbuhan ini adalah dikendalikan dan dijinakkan sehingga menjadi penurut kepada tuannya. 

Jika mengikuti kategori ini, maka yang dimaksud oleh ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 275 sebagai perumpamaan bagi pelaku riba, adalah ibarat hewan, ibarat tumbuhan, ibarat orang yang gila, atau ibarat anak kecil. Semua dari keempat sifat ini memiliki unsur kesamaan, yaitu sama-sama dikendalikan oleh sesuatu kekuatan. Mereka adalah pasif dan tidak mengendalikan. Pemberontakannya adalah sebatas kekuatan fisik. Sementara akal dan nuraninya tidak berfungsi. 

Melihat dua versi perumpamaan di atas, masing-masing bisa masuk dalam penafsiran ayat. Misalnya seperti Imam Abu Ja’far al-Thabary memberikan penekanan ta’wil ayat Q.S. Al-Baqarah 275 adalah sebagai berikut:

قال أبو جعفر: فقال جل ثناؤه: الذين يُرْبون الربا الذي وصفنا صفته في الدنيا "لا يقومون" في الآخرة من قبورهم "إلا كما يقوم الذي يتخبَّطه الشيطانُ من المس" يعني بذلك: يتخبَّله الشيطان في الدنيا, وهو الذي يخنقه فيصرعه "من المس" يعني: من الجنون

Artinya: “Abu Ja’far berkata:Maka, (seolah) Allah SWT berfirman: “Para pelaku riba - sebagaimana yang telah Aku tunjukkan cirinya di dunia ini - adalah “mereka tiada dapat berdiri/bangkit” di akhirat kelak dari kuburnya, kecuali seperti berdirinya mayit yang dirasuki oleh syetan”, dibingungkan oleh syetan semasa di dunia, mencekiknya lalu membantingnya “dengan suatu wabah” berupa kegilaan.” (Abu Ja’fa at-Thabari, Jâmi’u al-Bayân ‘an Ta’wili ayi al-Qur’ân, Kairo: Daru Hijr, 2001, juz 5, hal: 37)

Dengan mengikuti alur penta’wilan ini, maka makna penggalan ayat di atas, akan menjadi sebagai berikut:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

Artinya: “Orang-orang yang melakukan riba,tiada mereka dapat berdiri melainkan layaknya berdirinya orang yang dirasuki setan lantaran penyakit gila.” (Q.S Al-Baqarah: 275).

Wallahu A’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim