IMG-LOGO
Ubudiyah

Ciri-ciri Ahli Surga di Dunia

Ahad 22 April 2018 21:0 WIB
Share:
Ciri-ciri Ahli Surga di Dunia
Ilustrasi (© Reuters)
Selama di dunia kita tidak mengetahui siapa saja di antara kita yang ahli surga maupun ahli neraka kecuali orang-orang yang mendapatkan nash jaminan masuk surga, seperti sepuluh orang yang telah dijanjikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Di antara mereka adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Sa'ad bin Abi Waqash, Abdurrahman bin Auf dan lain sebagainya. Di luar orang yang mendapat jaminan, tidak ada makhluk manapun yang bisa memastikan orang ini masuk ke surga atau neraka. 

Namun setidaknya, Abdullah bin Zaid radliyallahu anh sebagaimana dikutip oleh Abdul Wahab as-Sya'rani dalam Mukhtashar at-Tadzkirah lil Qurthubi (Kairo, Dâru Ihya' al-Kutub al-Arabiyyah, halaman 93) memberikan gambaran ciri-ciri orang ahli surga yang dapat ditelisik saat mereka masih di dunia sesuai dengan sifat yang telah difirmankan dalam Al-Qur'an.

Di antara mereka ciri ahli surga yang dapat dilihat di dunia ini adalah orang yang hidupnya penuh dengan kesedihan, galau, menangis, dan takut akan adzab Allah. Kesedihan dan galau di sini bukan sebab memikirkan masalah dunia, namun sedih tentang bagaimana hubungannya dengan Allah, nasibnya di akhirat kelak dan seterusnya. Dengan kesedihan yang mendalam tersebut, Allah subhânahu wa ta'âlâ menggantinya dengan hidup penuh kebahagiaan di akhirat kelak. 

قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ، فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ 

Artinya: "Mereka berkata 'Sesungguhnya kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga kami merasa takut (akan diazab). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka'." (QS At-Thȗr: 26-27)

Baca juga: Cerita Rasulullah tentang Ahli Ibadah yang Masuk Neraka
Demikian berlaku sebaliknya. Allah juga memberikan ciri-ciri orang yang kelak akan menghuni neraka. Yaitu orang yang di dunia selalu bergembira ria dan tertawa-tawa (melupakan akhirat, red).

إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا 

Artinya: “Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya." (QS Al-Insyiqaq: 13)

Dalam tafsir al-Jalalain dikatakan, maksud bergembira di sini adalah dengan mengikuti hawa nafsunya. 

Baca juga: Dua Kisah Calon Ahli Neraka yang Masuk Surga
Dengan demikian kita dapat mengambil pelajaran, betapa pentingnya memikirkan nasib kita di akhirat. Kata Buya Hamka, “kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup. Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja." Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita tidak boleh sekadar makan, bekerja dan bercanda. 

Islam tidak  menentang kemajuan. Islam tidak anti terhadap inovasi. Tapi terobosan-terobosan manusia Muslim tetap berdasar keimanan dan ketakwaan. Umat Islam perlu memikirkan kehidupan setelah mati secara serius supaya tidak terbuai dengan rayuan dunia yang bisa menjadikan orang lalai, korupsi, dan lain sebagainya. Wallahu a'lam.  (Ahmad Mundzir) 
Tags:
Share:
Ahad 22 April 2018 17:0 WIB
Kiat-kiat bagi Mereka yang Susah Menerima Nasihat dan Beramal Baik
Kiat-kiat bagi Mereka yang Susah Menerima Nasihat dan Beramal Baik
Ilustrasi (via pinterest.co.uk)
Terdapat perbedaan yang mencolok pada orang yang hatinya keras dengan yang lembut. Hati lembut mudah menerima nasihat-nasihat baik, mudah melakukan amal kebaikan dan serangkaian ibadah maupun kebaikan lain. Hati yang keras tidak mudah menerima nasihat-nasihat, tidak bisa khusyu' dan jauh dari Allah subhânahȗ wa ta'âlâ.

Baca juga: Tips Rasulullah untuk Melunakkan Hati yang Keras
Setidaknya ada tiga tips untuk melunakkan hati yang keras. Pertama, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dengan mengganti kegiatan yang bernilai positif seperti menghadiri majelis-majelis ilmu, diskusi keilmuan, mendengarkan nasihat-nasihat yang baik, dzikir, mengkaji hal yang membuat suka melakukan ibadah, menyimak petuah yang dapat menakutkan orang melakukan maksiat serta mendengarkan atau membaca kisah-kisah orang shalih. 

Kedua, mengingat kematian. Ada seorang wanita datang kepada istri Rasulullah, Sayyidah Aisyah, seraya mengadukan hatinya yang mengeras. Kemudian Aisyah memberikan saran wanita tersebut untuk selalu mengingat kematian.

Petuah Aisyah terbuti. Di kemudian hari, wanita yang kemarin datang mengeluh itu pun datang sembari mengutarakan untaian kata terima kasih kepada Aisyah atas saran yang diberikan. 

Menurut Abu Muhammad Abdul Haq dalam bukunya al-Aqibah halaman 40, mengingat kematian dapat mencegah manusia berbuat maksiat, melembutkan hati yang keras, menghilangkan kesukaan terhadap dunia serta meringankan ujian dan halang-rintang yang ada di dunia ini. 

Baca juga: Sabda Rasulullah tentang Orang Mati yang Bisa Melembutkan Hati
Ketiga, menyaksikan orang yang sekarat (akan mati). Melihat proses orang dicabut nyawanya, mengamatinya saat nyawa sudah lepas, melihatnya berbaring dalam tidur yang tidak akan bangun kembali, kemudian berpikir bahwa kelak ia akan dibangkitkan dengan mempertanggungjawabkan amal perbuatan yang telah ia lakukan. Hal tersebut akan memudahkan hati orang menjadi lembut. 

Satu saat, Hasan al-Bashri pernah menjenguk orang sakit yang bertepatan dengan proses lepasnya nyawa dari sekujur tubuh. Ia mengamati bagaimana susah dan sakitnya proses itu. Usai meninggal, Hasan al-Bashri pulang ke rumah namun dengan rona wajah yang tidak sama saat ia berangkat tadi. 

Keluarganya mencoba menawari makan, namun hanya dijawab, "Makan dan minumlah makanan punya kalian. Baru saja aku melihat orang meninggal. Aku akan selalu beramal baik hingga aku menjumpai kematian itu."

Jika kita kesulitan mendapati tiga macam hal di atas, semuanya bisa terangkum dalam satu kegiatan berupa ziarah kubur. Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

زُوْرُوْا الْقُبُوْرَ فَإِنَّهَا تٌذَكِّرُ الْمَوْتَ وَالْآخِرَةَ وَتُزْهِدُ فِى الدُّنْيَا

Artinya: "Berziarahlah kalian ke kuburan-kuburan. Karena hal tersebut dapat mengingatkan kematian dan akhirat serta menjadikan hati zuhud (menjaga jarak) dengan dunia.                     

Sebaiknya orang yang ingin hatinya lembut melalui ziarah kubur di sini tetap memakai adab dan tata cara ziarah yang baik supaya misi tersebut bisa tercapai. Di antaranya niat ikhlas karena Allah, mengucapkan salam saat hendak memasuki areal pemakaman, melepaskan alas kaki, tidak berjalan di atas makam, dan lain sebagainya. Wallahu a'lam. (Ahmad Mundzir)

(Disarikan dari Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad, Kitâbut Tadzkirah bi Ahwâlil Mautâ wa Umȗril Akhirah, Maktabah Dârul Minhâj, Riyadh, 1425, Jilid I, halaman 132-133)

Rabu 18 April 2018 21:30 WIB
Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan
Perbuatan Zalim Pasti Dapat Balasan
Ilustrasi (via Pinterest)
Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa tidak akan selalu berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Dalam berinteraksi ini tak jarang terjadi gesekan satu sama lain sehingga menimbulkan kerugian pada salah satu pihak, baik kerugian yang mengancam jiwa, harta, maupun kehormatannya.

Seringkali terjadi di masyarakat seseorang diperlakukan secara zalim oleh lainnya tanpa ia mampu membalas dan membela diri sendiri. Kondisi ini kerap membuat ia semakin tak berdaya dan hanya bisa pasrah dengan keadaan. Seorang muslim dan mukmin yang mengalami hal demikian semestinya tak perlu merasa sedemikian susah karena Allah subhânahu wa ta’âla telah menjanjikan keadilan atas setiap perilaku zalim yang dilakukan para hamba-Nya. Keimanan yang dimiliki semestinya mampu menguatkan hatinya untuk tetap tegar dengan harapan keadilan yang dijanjikan itu.

Sebaliknya seorang muslim dan mukmin semestinya tidak berlaku zalim kepada sesama makhluk Allah baik berupa tindakan ataupun ucapan, karena sekecil apa pun tindak kezaliman pasti akan terbalaskan.

Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Artinya: “Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”

Dari ayat tersebut jelas dinyatakan bahwa Allah akan memberikan balasan kepada setiap pelaku kezaliman kelak di hari kiamat di mana setap mata manusia akan terbelalak menyaksikan berbagai hal yang terjadi di hari kiamat.

Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya Marâh Labîd menjelaskan bahwa apabila Allah tidak membalaskan bagi orang yang dizalimi atas kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba-Nya yang menzalimi, maka ada salah satu kemungkinan yang terjadi pada dzat Allah namun hal itu mustahil terjadi pada-Nya. Ketiga kemunginan itu adalah:

Pertama, bisa jadi Allah lalai dan lupa akan orang yang bertindak zalim tersebut. Jelas hal ini tidak mungkin terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah memiliki sifat lalai atau lupa pada apa dan siapa pun.

Kedua, bisa jadi Allah lemah tak mampu untuk melakukan pembalasan. Hal ini juga jelas mustahil terjadi pada dzat Allah. Tak mungkin Allah tidak mampu melakukan pembalasan kepada hamba-Nya sendiri.

Ketiga, Allah ridlo dengan tindak kezaliman yang dilakukan sang hamba. Ini juga tidak mungkin mengingat Allah sendiri yang mengharamkan para hamba-Nya melakukan tindak kezaliman di antara sesama hamba. Bahkan dalam berbagai ayat Allah juga menyatakan tidak akan berbuat zalim kepada para hamba-Nya. Karenanya tidak mungkin bila Allah ridlo terhadap suatu kezaliman sehingga tak melakukan pembalasan.

Ketiga kemungkinan tersebut semuanya adalah hal yang tak mungkin terjadi pada dzat Allah. Karena ketiga hal itu mustahil bagi Allah maka bisa dipastikan setiap tindak kezaliman yang dilakukan oleh seorang hamba kelak akan dibalas oleh Allah. Hanya saja balasan tersebut tidak segera dilakukan di dunia. Allah menangguhkannya sampai kelak datangnya hari kiamat di mana setiap mata akan terbelalak menyaksikan kedahsyatan yang terjadi di sana.

Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi di dalam kitab tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl menuturkan bahwa ayat di atas merupakan pelipur bagi orang-orang yang dizalimi dan juga ancaman bagi siapa saja yang berbuat zalim. 

Mereka yang menerima perlakuan yang tidak semestinya tak perlu risau karena pada hari kiamat kelak Allah akan memberikan pahala berlipat baginya dan membalas pelakunya dengan balasan setimpal. Sementara setiap orang yang berlaku zalim mesti segera meminta maaf kepada yang dizaliminya karena balasan dari Allah pasti adanya.

Di era digital sekarang ini ayat ini juga menjadi alarm bagi kita untuk berhati-hati dalam berinteraksi melalui dunia maya. Menggunakan media sosial secara baik, benar dan cerdas adalah satu pilihan yang menjadkan kita bisa terhindar dari ancaman ayat tersebut. 

Sebaliknya postingan yang menebar kebohongan dan kebencian, yang menjadikan pihak tertentu merasa dirugikan dan terancam baik jiwa, harta maupun kehormatannya, adalah perilaku zalim yang menjadikan pelakunya sulit menghindar dari balasan Allah yang dinyatakan pada ayat tersebut. Wallîahu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Rabu 18 April 2018 16:0 WIB
Resep Rasulullah, Cara Mudah Menjadi Kaya
Resep Rasulullah, Cara Mudah Menjadi Kaya
Anda dalam kesusahan karena beban hidup yang cukup berat? Ekonomi Anda sedang ada pada posisi terendah? Singkat kata, hidup Anda sedang dalam kefakiran? Sebagai Muslim dan Mukmin yang memiliki sandaran hidup kepada Allah dan pegangan hidup pada ajaran Rasulullah tak perlu risau dan galau. Sejak jauh-jauh hari Rasulullah telah memberikan resep mujarab untuk mengatasi kesulitan hidup yang demikian.

Satu ketika seorang sahabat datang menghadap Rasulullah SAW. Kepadanya, sahabat itu mengeluhkan perihal kefakiran dan kesulitan hidup yang dihadapinya. Kiranya dengan mengadukan permasalahannya kepada Rasulullah ia berharap akan mendapat jalan keluar agar ekonomi keluarganya dapat lebih baik di kemudian hari.

Mendengar aduan seperti itu Rasulullah lalu menyarankan kepada sahabatnya untuk melakukan satu amalan. “Ketika engkau masuk ke dalam rumah ucapkanlah salam bila di dalamnya ada orang. Bila tak ada maka ucapkanlah salam untuk dirimu sendiri. Setelah itu bacalah surat Al-Ikhlas satu kali.”

Mendapat amalan demikian sahabat ini melakukannya dengan penuh semangat. Setiap kali ia memasuki rumahnya ia beruluk salam lalu membaca surat Al-Ikhlas satu kali. Demikian ia lakukan terus menerus. Pada akhirnya Allah melimpahkan banyak harta kepadanya. Sahabat itu kini terbebas dari kefakiran. Keluarganya kini hidup dalam gelimang harta. Begitu banyaknya harta yang dianugerahkan oleh Allah. Tidak hanya keluarganya, tetangga di sekitar rumahnya juga ikut menikmati kelebihannya.

Kisah di atas banyak ditulis oleh para ulama dalam berbagai kitabnya, di antaranya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marâh Labîd atau lebih dikenal dengan nama Tasîr Al-Munîr. Dalam penafsiran Surat Al-Ikhlas Syekh Nawawi menuturkan kisah tersebut sebagai berikut:

عن سهل بن سعد جاء رجل إلى النبي صلّى الله عليه وسلّم وشكا إليه الفقر فقال: «إذا دخلت بيتك فسلم إن كان فيه أحد وإن لم يكن فيه أحد فسلم على نفسك واقرأ قل هو الله أحد مرة واحدة. ففعل الرجل فأدر الله عليه رزقا حتى أفاض على جيرانه

Artinya, “Dari Sahl bin Sa’d, seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan mengadu kepadanya perihal kefakiran. Rasul bersabda, ‘Bila engkau memasuki rumahmu, ucapkanlah salam bila di dalamnya ada seseorang. Bila tidak ada seorang di dalamnya, maka bersalamlah untuk dirimu dan bacalah surat qul huwallâhu ahad sekali.’ Lelaki itu mengamalkannya. Allah melimpahkan kepadanya rezeki hingga meluber kepada para tetangganya.”

Ucapan salam kepada penghuni rumah sudah maklum. Setiap Muslim pasti bisa mengucapkannya. Lalu bagaimana mengucapkan salam kepada diri sendiri saat penghuni rumah sedang tidak ada?

Apa yang disampaikan oleh Syekh Nawawi dalam penafsiran ayat ke-61 Surat An-Nur menjadi jawabannya. Dalam kitab tersebut ia menuturkan ajaran dari Ibnu Abbas dan Qatadah sebagai berikut:

وقال ابن عباس: إن لم يكن في البيت أحد فليقل: السلام علينا من قبل ربنا

Artinya, “Ibnu Abbas berkata, ‘Bila tak ada siapapun di dalam rumah, maka ucapkanlah ‘assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ’ (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami).”

وقال قتادة: إذا دخلت بيتك فسلم على أهلك فهم أحق بالسلام ممن سلمت عليهم، وإذا دخلت بيتا لا أحد فيه فقل: السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

Artinya, “Qatadah berkata, ‘Bila engkau memasuki rumahmu, maka ucapkanlah salam kepada keluargamu. Mereka lebih berhak mendapatkan salam daripada orang lain yang engkau salami. Bila engkau memasuki sebuah rumah yang tak ada seorang pun di dalamnya, ucapkanlah, ‘assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn,’ (keselamatan bagiku dan bagi hamba-hamba Allah yang saleh).”

Dari keterangan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa kita bisa mengucapkan salam bagi diri sendiri salah satunya dengan kalimat “Assalâmu ‘alainâ min qibali rabbinâ” (keselamatan bagi kami dari Tuhan kami) atau “Assalâmu ‘alainâ wa ‘alâ ‘ibâdillâhis shâlihîn” (keselamatan bagi kami dan bagi hamba-hamba yang saleh).

Kami berharap semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalankan amalan ini dengan istiqamah. Semoga Allah membukakan pintu rahmat-Nya untuk kita semua. Wallahu a‘lam. (Yazid Muttaqin)