IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Cara Rasulullah Memperlakukan Anak-anak Tirinya

Ahad 27 Mei 2018 21:0 WIB
Share:
Cara Rasulullah Memperlakukan Anak-anak Tirinya
Rasulullah memiliki tujuh anak kandung. Enam diantaranya –Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah,dan Abdullah- dilahirkan oleh Khadijah. Sementara yang satu –Ibrahim- berasal dari Mariah Al-Qibthiyah. 

Semua putra Rasulullah wafat saat masih kecil. Sedangkan semua putrinya sempat masuk Islam dan ikut hijrah ke Madinah, meski mereka semua meninggal ketika masih muda, kecuali Fatimah. Anak Rasulullah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib ini meninggal enam bulan setelah Rasulullah wafat. 

Setelah Khadijah mangkat, Rasulullah menikahi beberapa janda. Sebagian ada yang memiliki anak, dan sebagian yang lain tidak. Dengan demikian ‘status’ Rasulullah bertambah. Bukan hanya menjadi suami, tapi juga menjadi ayah tiri. Lalu bagaimana Rasulullah memperlakukan anak-anak tirinya itu?

Terkait hal ini, ada beberapa kisah yang menceritakan bagaimana hubungan Rasulullah dengan anak-anak tirinya. Pertama, Umar bin Ummu Salamah. Suami Ummu Salamah sebelumnya adalah Abu Salamah. Dia ditinggal mati suaminya lalu kemudian dinikahi Rasulullah. 

Diriwayatkan bahwa pada saat pindah ke kediaman Rasulullah, Ummu Salamah membawa serta empat orang anaknya. Salah satunya adalah Umar bin Ummu Salamah. Umar mengatakan bahwa Rasulullah senantiasa memberinya bimbingan dan menganggapnya seperti anak sendiri.

“Waktu muda di biliki Rasulullah aku pernah ceroboh memegang piring. “Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kanan, makanlah yang dekat dengamu.” Begitu beliau menegurku,” cerita Umat bin Ummu Salamah dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad karya Nizar Abazhah.

Kedua, Rasulullah juga mencurahkan kasih sayang dan kelembutan kepada Zainab, anak Ummu Salamah yang paling kecil. Suatu ketika Rasulullah masuk ke kamar Ummu Salamah, namun pada saat itu Zainab sedang menyusu kepada ibunya. Melihat hal itu Rasulullah membiarkan Zaibab terus menyusu dan mengurungkan niatnya kepada Ummu Salamah. Lalu ia kemudian meninggalkannya. Kejadian seperti ini terjadi berulang kali.

Ketiga, perlakuan kasih dan lembut Rasulullah juga dirasakan Hindun bin Abu Halah, anak Khadijah dengan suami sebelumnya. Hindun menilai bahwa Rasulullah adalah ayah yang terbaik yang sangat mencintai dan memberikan pengaruh yang besar terhadap hidupnya.  

“Ayahku Muhammad, ibuku Khadijah, saudaraku Qasim, dan saudariku Fatimah. Siapa yang mempunyai nasab seperti ini,” kata Hindun bangga karena memiliki ayah Rasulullah.

Rasulullah juga sangat menyayangi anak-anak tirinya yang lain. Beliau memandang semua anak tirinya tanpa jarak. Baginya, mereka adalah seperti anak kandung sendiri yang harus diperlakukan dan dibimbing dengan sebaik-baik. 

Maka tidak heran jika Ummu Habibah dan Saudah, dua istri Rasulullah yang memiliki anak dengan suami sebelumnya, sangat memuji dan menghormati Rasulullah karena sang suami sangat menyukai bagi anak-anaknya dan menjadi pengayom bagi mereka. Cinta kasih dan kelembutan Rasulullah tidak hanya terbatas pada ‘hubungan darah.’  (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Sabtu 19 Mei 2018 21:15 WIB
Rasulullah Pun ‘Mudik’ pada Bulan Ramadhan
Rasulullah Pun ‘Mudik’ pada Bulan Ramadhan
Mudik atau pulang kampung menjadi tradisi tahunan (annual tradition) masyarakat Muslim di Indonesia setiap akhir bulan Ramadhan. Mereka ‘bergerak’ dari kota ke desa atau dari kota ke kota lainnya. Tujuannya pun beragam, mulai dari mengunjungi orang tua, menjalin silaturahim dengan sanak saudara  hingga ‘napak tilas’ masa kecil. 

Mudik sudah menjadi tradisi yang mengurat dan mengakar bagi masyarakat Muslim Indonesia. Setiap menjelang hari raya Idul Fitri, mereka meninggalkan rutinitasnya di tanah perantauan dan berbondong-bondong menuju kampung halamannya. Tradisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, di Indonesia. Entah siapa yang memulainya.

Akan tetapi, Rasulullah dan para sahabatnya ternyata dulu juga pernah ‘mudik’, jauh sebelum masyarakat Muslim Indonesia melaksanakannya. Rasulullah pulang kampung ke Makkah setelah delapan tahun meninggalkan kampung halamannya itu pada tanggal 10 Ramadhan abad ke-8 Hijriyah atau bertepatan dengan 8 Juni 632 M. 

Memang, konteks dan misi mudik yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya dengan masyarakat masyarakat Muslim saat ini agak sedikit berbeda. Rasulullah dan sahabatnya mudik untuk melakukan penaklukkan Makkah (Fathu Makkah), bukan hanya sekedar pulang kampung biasa.

Di dalam bukunya Pengantin Ramadhan, Muchlis Hanafi menyebutkan bahwa Rasulullah ‘mudik’ ke Makkah selama 19 hari. Dengan demikian Rasulullah dan para sahabatnya merayakan hari raya Idul Fitri  ke-6 (puasa Ramadhan diwajibkan kepada umat Islam mulai abad ke-2 Hijriyah) di Makkah, di kampung halamannya. 

Ketika ‘mudik’ tersebut, Rasulullah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Beliau memaafkan semua musuh-musuh yang dulu menentang dakwah Islam. Beliau juga menghancurkan semua berhala di area Ka’bah yang menjadi sesembahan warga Makkah. Total, ada 360 berhala yang dimusnahkan Rasulullah dan para sahabatnya. Termasuk tiga berhala yang paling terkenal dan paling besar; Hubal, al-Latta, dan al-Uzza. 

“Nabi mengumumkan bahwa setiap orang di seluruh kota yang memiliki berhala di rumahnya agar segera dihancurkan,” kata Marting Ling di dalam bukunya Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik.

Setelah selesai dengan semua urusannya di Makkah, Rasulullah kembali ke kampung halamannya yang kedua, Madinah.  

“Tidak ada lagi hijrah ke Madinah sejak kemenangan di Makkah, yang ada tinggal niat tulus (melakukan kebajikan) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya),” kata Rasulullah dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Demikian lah ketika seseorang mudik ke kampung halamannya, maka hendaknya mereka menebarkan kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian –sebagaimana yang Rasulullah lakukan pada saat ‘mudik’ di Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah, bukan malah menyebarkan virus keburukan dan hal negatif lainnya. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 30 April 2018 18:0 WIB
Kala Rasulullah Bertengkar dengan Istrinya
Kala Rasulullah Bertengkar dengan Istrinya
Rasulullah adalah manusia, namun tidak seperti manusia biasa. Dia makan, minum, tidur, berumah tangga, dan melakukan hal-hal lainnya layaknya manusia pada umumnya. Bedanya, Rasulullah adalah orang yang maksum (terjaga dari perbuatan dosa). Segala tindak tanduknya terbebas dari kemaksiatan karena dijaga oleh Allah.   

Sebagai seorang suami misalnya. Rasulullah juga mengalami hiruk pikuk persoalan rumah tangga sebagaimana suami-suami lainnya. Mulai dari berselisih, berdebat hingga bertengkar dengan sang istri. Terkait hal ini, ada beberapa riwayat yang menceritakan momen Rasulullah kala bertengkar dengan sang istri. 

Salah satunya adalah yang dikisahkan buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah. Suatu ketika Aisyah berbicara dengan keras dan lantang kepada Rasulullah dari bilik kamar. Abu Bakar as-Siddiq yang saat itu bertamu di rumah Rasulullah segera mengetahui kalau anaknya (Aisyah) dan menantunya (Rasulullah) sedang bertikai.

Mendapati hal itu, Abu Bakar meminta izin Rasulullah untuk menemui putrinya. Ketika sudah berhadapan dengan Aisyah, Abu Bakar langsung mengangkat tangannya hendak memukul Aisyah karena telah berbicara keras dengan Rasulullah. Namun kemudian Rasulullah mencegahnya. 

Di hari berikutnya, Abu Bakar berkunjung ke rumah Rasulullah. Dia menyaksikan kalau anak dan menantunya telah baikan dan tidak bertengkar lagi pada hari itu.

Diceritakan juga bahwa suatu ketika Rasulullah marah kepada Aisyah karena satu dua hal. Lalu kemudian Rasulullah meminta Aisyah untuk menutup mata dan mendekat. Seketika itu Aisyah merasa cemas karena mengira akan dimarahi Rasulullah. Apa yang dibayangkan Aisyah ternyata meleset. 

Khumaira ku (panggilan sayang Rasulullah untuk Aisyah) telah pergi rasa marahku setelah memelukmu,” kata Rasulullah. 

Dari cerita Rasulullah di atas, ada dua hikmah yang bisa dipetik. Terutama bagaimana seharusnya sikap seorang suami kepada istri ketika mereka cekcok.

Pertama, tidak melibatkan orang lain. Persoalan rumah tangga sebaiknya diselesaikan sendiri, tidak perlu melibatkan orang lain meskipun itu orang tua sendiri atau mertua. Rasulullah pun mencegah Abu Bakar yang notabennya mertuanya sendiri untuk ‘ikut campur’ dalam permasalahan rumah tangganya. 

Kedua, menghilangkan kemarahan terhadap istri dengan mendekapnya. Seperti yang dilakukan Rasulullah, ketika seorang suami atau istri marah atau berselisih dengan pasangannya maka hendaknya ia langsung memeluk pasangannya. Jangan malah menampar atau memukulnya. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 22 April 2018 22:30 WIB
Duel Maut Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf
Duel Maut Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf
Foto: Istimewa
Rasulullah memimpin langsung 27 peperangan yang terjadi pada masanya. Namun, hanya sembilan peperangan saja yang berakhir dengan pertempuran karena selebihnya musuh menyerah secara damai. Perang Waddan (al-Abwa’) merupakan perang pertama yang diikuti Rasulullah. Perang ini terjadi pada bulan Shafar tahun ke-2 Hijriyah. Sementara perang Tabuk (al-Usrah) yang meletus pada bulan Rajab tahun ke-12 Hijriyah menjadi perang terakhir yang diikuti oleh Rasulullah. 

Mengutip dari buku Perang Muhammad: Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah, ada tiga alasan yang menyebabkan Rasulullah berperang. Pertama, meladeni serangan musuh untuk mempertahankan diri. Seperti dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq. 

Kedua, menghukum mereka yang mengkhianati kerja sama atau perjanjian damai. Seperti perang Khaibar, Quraizhah, dan lainnya. Ketiga, menyerang sebelum diserang. Rasulullah juga melancarkan peperangan dengan musuh yang mengancam kaum Muslim seperti perang Tabuk. Terlepas dari itu semua, Rasulullah tidak pernah menyulut peperangan dengan siapapun. 

Diriwayatkan bahwa Rasulullah juga ikut bertempur langsung dalam tujuh medan peperangan. Yaitu perang Badar, Uhud, Muraisi’, Khandaq, Quraizhah, Khaibar, Penaklukan Makkah (Fathu Makkah), Hunain, dan Thaif. Semua peperangan berhasil dimenangkan kaum Muslim, kecuali perang Uhud.

Pada perang Uhud, kaum Muslim yang awalnya hendak menang menjadi kalah karena pasukan pemanah Muslim tidak mematuhi pesan Rasulullah. Mereka meninggalkan pos-posnya sebelum perang benar-benar berakhir untuk mengambil ghanimah (harta rampasan perang). 

Perang Uhud juga menyisakan cerita yang menarik. Salah satunya adalah duel maut antara Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf. Merujuk buku Para Penentang Muhammad saw., duel maut antara Rasulullah dengan Ubay bin Khalaf menjadi tidak terelakkan dalam perang Uhud. Dengan menaiki kuda, Ubay menghampiri Rasulullah untuk membunuhnya. Melihat kejadian itu, para sahabat yang ada di samping Rasulullah berupaya untuk menghalau Ubay bin Khalaf namun kemudian dicegah oleh Rasulullah. 

Rasulullah yang sedari tadi sudah siap langsung melemparkan tombaknya ke arah Ubay bin Khalaf yang semakin mendekat. Ubay jatuh dari kudanya setelah tombak lemparan Rasulullah tepat mengenai tulang rusuknya. Setelah perang usai, Ubay bin Khalaf ditandu karena tidak bisa berdiri setelah terkena tombak Rasulullah. Ubay bin Khalaf tewas di tengah perjalanan ketika pasukan Quraisy hendak membawanya kembali ke Makkah. 

Ubay bin Khalaf merupakan salah satu anggota dari kelompok Syu’bah al-Syak, sebuah komunitas elit Quraisy yang sangat membenci Rasulullah. Semua anggota kelompok Syu’bah al-Syak -Abu Jahal bin Hisyam, Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah, Umayyah bin Khalaf- tewas dalam perang Uhud kecuali Ubay bin Khalaf.  

Iya, Ubay dikenal sebagai seorang petarung yang hebat. Dia bisa saja lolos dari maut pada saat perang Badar, namun tidak pada saat perang Uhud. (A Muchlishon Rochmat)