IMG-LOGO
Ekonomi Syariah

Cara Gampang Mengenal Bursa Saham dalam Tinjauan Fiqih

Ahad 17 Juni 2018 8:0 WIB
Share:
Cara Gampang Mengenal Bursa Saham dalam Tinjauan Fiqih
Ilustrasi (© iStock)
Efek adalah surat berharga yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan. Efek ini berisi pernyataan atas suatu kepemilikan aset. Misalnya, Anda memiliki perusahaan dengan total aset sebesar 10 triliun rupiah. Total aset ini dinyatakan sebagai harga total perusahaan bila perusahaan itu dijual seluruhnya kepada pihak lain (investor). Karena tidak semua pembeli memiliki total kekayaan yang sebesar itu, maka total aset tersebut dipecah menjadi serpihan-serpihan efek dengan harga kecil dan terjangkau.

Misalkan lagi, bila total kekayaan ini dipecah menjadi 1 juta serpihan kecil efek, maka harga per efeknya adalah setara 10 juta rupiah. Bila dipecah menjadi 10 juta lembar efek, maka harga per efeknya adalah setara 1 juta rupiah. Demikian seterusnya, bila efek dipecah menjadi 100 juta lembar efek, maka harga per efeknya menjadi 100 ribu rupiah. Nah, efek-efek inilah selanjutnya disebut sebagai saham.

Baca: Fiqih Transaksi: Mengapa Aset Harus Dirupakan Efek?
Karena yang dijual adalah surat berharga, maka tempat penjualannya tentu harus di tempat yang berharga, bukan? Bayangkan, apa jadinya Anda menjual barang berharga di toko kelontong atau di pasar loak. Seberharga apa pun barang yang Anda jual, pasti akan ditawar dengan harga murah, bukan? Nah, inilah sedikit latar belakang terbitnya pasar bursa yang diwadahi dalam bentuk bursa efek, yang berfungsi sebagai tempat menjual surat berharga (saham).

Sebenarnya, filosofi jual beli efek di pasaran bursa ini tidak jauh-jauh amat dari pola perdagangan tradisional. Ada penjual, ada pula pembeli. Bila penjual tidak bisa melakukan jual beli sendiri, maka ia bisa menyuruh orang untuk mewakilinya. Jadilah kemudian orang suruhan tersebut sebagai wakil dari penjual. Demikian juga dengan pembeli, bila tidak bisa melakukan pembelian sendiri, maka ia bisa menyuruh orang untuk membelikan apa yang dia mau. 

Baca juga: Fiqih Transaksi: Sertifikat sebagai Jaminan Transaksi dan Efek
Suatu ketika pengkaji pernah diminta oleh seseorang untuk menjadi saksi transaksi jual beli sebuah rumah. Ia berminat hendak pindah tempat ke lokasi lain tempat ia bekerja. Sore itu, telah berkumpul Pak Kepala Dusun, Pak RT, pihak pembeli, penjual (tuan rumah), dan salah satu orang tetangga kami yang diminta menyediakan kertas pernyataan telah berlangsungnya jual beli. Selaku saksi, pengkaji tidak sendirian. Waktu itu ada salah seorang tetangga kami yang juga turut diminta menyaksikan transaksi tersebut. Saudara pembaca bisa membayangkan, apa peran masing-masing dari pihak-pihak yang pengkaji sebutkan di atas, bukan? Nah, itulah yang terjadi juga di dunia pasaran bursa efek.

Mari kita masuk pada mengenal unsur yang terlibat dalam pasar saham atau bursa efek. Ada beberapa unsur yang terlibat secara langsung di sana, antara lain:

a. Pihak yang menawarkan sahamnya (emiten). Istilah sederhana dari emiten ini adalah penjual saham. Dalam ilustrasi contoh sederhana di atas, ia adalah tuan rumah yang hendak menjual rumahnya.

b. Perantara emisi (akuntan publik), sebagai wakil dari pihak penawar (emiten)

c. Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) yang memiliki fungsi sebagai pengawas sekaligus sebagai pelaksana pasar modal. Kita sebut saja fungsi Bapepam ini adalah sebagai hakim dalam pasar modal. Dalam ilustrasi contoh di atas, ia diperankan oleh Kepala Dusun.

d. Bursa Efek sebagai pihak yang menyediakan sistem pasar yang mempertemukan antara pihak penawar (emiten) dan perusahaan pemilik efek. Kita sebut saja sebagai majelis pasar. 

e. Perantara Pedagang Efek (PPE), yang berperan sebagai wakil dari investor.

f. Investor, yang berperan sebagai pihak yang berkepentingan berdagang saham dan mendapatkan keuntungan (deviden) dari hasil jual belinya. Jika investor ini terdiri dari orang asing, maka sudah bisa ditebak bahwa aset perusahaan yang menjual sahamnya kelak bisa saja diakuisisi oleh asing. Namun, bila investor ini terdiri atas investor domestik, maka sudah bisa dipastikan bahwa aset perusahaan yang terjual sahamnya akan tetap dimiliki oleh pengusaha domestik itu sendiri. Jadi, agar sebuah aset perusahaan domestik tidak jatuh ke tangan asing, maka kehadiran investor domestik di pasaran bursa sangat diharapkan. Dalam contoh sederhana di atas, pihak ini diperankan oleh Si Pembeli. 

g. Perusahaan Efek, yang berperan sebagai saksi transaksi antara wakil emiten dan wakil investor. Selaku “saksi bersertifikat” (berijin/terpercaya), ia berperan dominan dalam menjamin kebenaran harga efek (saham) yang ditawarkan emiten kepada investor. Dalam contoh sederhana di atas, pihak ini diperankan oleh Pak RT.

h. Pihak pencatat transaksi (Katib) yang berperan sahnya transaksi di atas kertas. Fungsi ini dimainkan oleh Biro Administrasi Efek (BAE). 

i. Bank Kustodian, yang berperan selaku “pihak yang dititipi efek” yang terjual atau terbeli.

j. Jika perdagangan itu dilakukan dalam bentuk surat hutang (obligasi), maka peran PPE digantikan oleh peran Wali Amanat. 

Nah, sekarang Anda paham bukan, bagaimana keberadaan pasar bursa itu? Mudah kok memahaminya. Hanya diperlukan sedikit langkah imajinatif saja. Dengan begitu, maka secara sistem, hukum pasar bursa ini diperbolehkan sebagaimana cara orang hendak membeli sebuah rumah milik tuan rumah yang hendak menjual rumah miliknya. Tentu dalam hal ini tidak serta merta boleh begitu saja. Apa saja catatan itu, insyaallah akan disampaikan dalam tulisan bagian kedua dari mengenal pasar bursa efek. Tunggu ya!

Wallahu a’lam bish shawab

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Gresik, Jatim

Tags:
Share:
Sabtu 12 Mei 2018 22:0 WIB
Tafsir Ayat Terakhir tentang Riba, al-Baqarah 278-280
Tafsir Ayat Terakhir tentang Riba, al-Baqarah 278-280
Jika kita mengamati Surat al-Baqarah ayat 278, Allah ﷻ memerintahkan orang-orang yang beriman agar meninggalkan memungut sisa riba transaksi pada masa jahiliyah. Syekh Abu Ja’far ibnu Jarir at-Thabari (w. 923 M), yang merupakan seorang mufasir generasi tabi’in menjelaskan tafsir dari ayat tersebut sebagai berikut:

قال أبو جعفر: يعني جل ثناؤه بذلك (يا أيها الذين آمنوا) صدّقوا بالله وبرسوله (اتقوا الله) يقول: خافوا الله على أنفسكم، فاتقوه بطاعته فيما أمركم به، والانتهاء عما نهاكم عنه (وذروا) يعني: ودعوا (ما بقي من الربا)، يقول: اتركوا طلب ما بقي لكم من فَضْل على رءوس أموالكم التي كانت لكم قبل أن تُربوا عليها (إن كنتم مؤمنين) يقول: إن كنتم محققين إيمانكم قولا وتصديقكم بألسنتكم، بأفعالكم

Artinya: “Berkata Abu Ja’far: Allah ﷻ bermaksud dalam ayat ini (يا أيها الذين آمنوا) yang mempercayai Allah dan rasul-Nya (اتقوا الله), yakni takutlah kalian terhadap Allah ﷻ atas diri kalian, dengan jalan mentaati apa yang diperintahkan dan meninggalkan apa yang dilarang atas diri kalian, (وذروا), yakni tinggalkanlah, (ما بقي من الربا), yakni: tinggalkanlah dari menagih apa yang tersisa dari transaksi kalian berupa hal yang melebihi pokok harta kalian sebelum kalian naikkan dengan jalan riba, (إن كنتم مؤمنين), yaitu: jika kalian orang yang nyata-nyata beriman, baik dalam kata dan lewat lisan kalian, serta perbuatan kalian.” (Abu Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, Tafsīr at-Thabari, Daru al-Ma’arif, tt., Juz 6, halaman 23)

Baca: Tahapan-tahapan Turunnya Ayat tentang Riba
Berdasarkan keterangan di atas diketahui bahwa beliau Baginda Nabi Muhammad ﷺ memerintahkan agar para sahabat saat itu meninggalkan sisa pungutan transaksi riba yang sebelumnya pernah dilakukan sampai diturunkannya ayat terakhir ini. Makanya di dalam ayat tersebut disinggung ما بقي من الربا (sisa transaksi riba sebelumnya). Hal ini sebagaimana dikuatkan oleh Abu Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari dalam Tafsirnya yang berbicara tentang asbabun nuzul dari ayat ini, antara lain:

قال أبو جعفر : وذكر أن هذه الآية نزلت في قوم أسلموا ولهم على قوم أموال من ربا كانوا أربوه عليهم ، فكانوا قد قبضوا بعضه منهم ، وبقي بعض ، فعفا الله - جل ثناؤه - لهم عما كانوا قد قبضوه قبل نزول هذه الآية ، وحرم عليهم اقتضاء ما بقي منه

Artinya: “Bercerita Abu Ja’far: Disebutkan bahwa sesungguhnya ayat ini diturunkan berbicara soal kaum yang masuk Islam sementara sebelumnya ia memiliki sisa transaksi riba yang belum diambilnya. Mereka sudah menagih sebagiannya, sementara sebagian yang lain belum sempat ditagih, lalu Allah ﷻ mengampuni hal tersebut yang sudah terlanjur dilakukan sebelumnya dan mengharamkan mengambil sisanya.” (Abu Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, Tafsīr at-Thabari, Daru al-Ma’arif, tt., Juz 6, halaman 23)

Ditinjau dari sisi asbabun nuzul ayat, Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 278-280 ini bercerita tentang pengamalan paman Nabi Muhammad ﷺ, yakni Abbas bin Abdi al-Muthalib yang bekerja sama dengan Khalid bin Walid di dalam meminjamkan uang kepada Tsaqif bin ‘Amr sehingga keduanya memiliki harta yang melimpah saat Islam datang. Dalam beberapa kitab tafsir lainnya, disebutkan bahwa Bani Amr mengambil riba dari Bani Mughirah. Apabila telah jatuh tempo pembayaran sebagaimana dijanjikan, maka diutuslah seorang utusan untuk datang kepada Bani Mughirah dalam rangka melakukan tagihan.

Suatu ketika, Bani Mughirah menolak untuk melakukan pembayaran terhadap tagihan tersebut. akhirnya, berita ini sampai ke telinga Rasulillah ﷺ, lalu beliau bersabda: “Ikhlaskanlah atau siksa Allah ﷻ akan kalian terima!” Sementara itu pada  Al-Qur’an Surat Ali Imran 130-131, menurut riwayat dari Atha’, memiliki asbabun nuzul berupa Bani Tsaqif yang datang kepada Bani Mughirah untuk memungut riba. Apabila telah sampai jatuh tempo, lalu dikatakan jika tidak mampu membayar, maka Bani Mughirah meminta penundaan dan kelak ia harus melunasinya dengan memberikan tambahan sebesar yang disyaratkan. 

Mujahid, seorang ahli tafsir Tabi’in, juga menyampaikan bahwasanya seseorang di zaman jahiliyah berhutang kepada orang lain. Apabila telah jatuh tempo masa pelunasan, maka pihak yang berhutang (kreditur) berkata kepada pemberi hutang (debitur): “Akan saya tambah sekian apabila kamu beri tempo lagi pelunasan kepadaku.” Lalu pihak debitur memberikan tempo kepada krediturnya. Tradisi ini sudah lazim di masa masyarakat pra-Islam, sehingga mereka terbiasa melakukan menggandakan pinjaman kepada orang yang sangat membutuhkan dan lagi kesusahan. Dengan pinjaman tersebut, pihak kreditur tidak hanya memiliki kewajiban sejumlah pokok harta yang dipinjamnya, melainkan ia juga harus mengembalikan sejumlah tambahan harta sesuai dengan lamanya masa pinjaman. Adapun besaran kembaliannya akibat penundaan adalah bisa dua kali lipat atau lebih dari pokok harta ditambah tambahan harta sebelumnya. 

Dengan demikian, sebagai kesimpulan kajian kali ini adalah, bahwa konsepsi riba di dalam Al-Qur’an adalah tidak bisa terlepas dari kondisi sosial ekonomi masyarakat Arab kala itu. Buktinya adalah sampai akhir ayat riba diturunkan, Nabi ﷺ masih memberi toleransi pada diperbolehkannya pelaksanaan riba tersebut sehingga kemudian muncul isyarat ketimpangan, yaitu berbuat aniaya dan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak baik. Bagaimana tinjauan sosio-ekonomi masyarakat Islam kala itu? Insyaallah akan disampaikan pada kajian berikutnya. Wallahu A’lam.


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Ponpes Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim

Jumat 11 Mei 2018 13:30 WIB
Tahapan-tahapan Turunnya Ayat tentang Riba
Tahapan-tahapan Turunnya Ayat tentang Riba
Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitabnya, al-Itqân fi UlûmiL Qurân (Kairo, Mathba’ah Al-Azhār, 1318H, halaman 114), menukil sebuah hadits riwayat Imam Bukhari, mengatakan bahwa ayat terakhir yang diturunkan oleh Allah ﷻ adalah ayat tentang keharaman riba. Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Imam Baihaqi dengan menyandarkan sanad pada Umar bin Khathab radliyallahu ‘anhu.

Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan hadits dengan sanad dari Abu Saīd al-Khudri, dan dari Said bin Jubair dan dari Ibnu ‘Abbâs. Sementara an-Nasai meriwayatkan hadits dari dua jalur sanad yaitu dari Ikrimah dan dari Ibnu ‘Abbâs radliyallahu ‘anhum. Semua riwayat hadits ini sepakat bahwa ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat tentang riba, yaitu Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 278. Allah ﷻ berfirman:

ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله وذروا مابقي من الربا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba!” (QS Al-Baqarah: 278)

Ayat ini berisikan perintah meninggalkan riba. Yang artinya Allah ﷻ secara tegas menyatakan keharaman riba. Sayangnya, ayat ini belum sempat mendapatkan penjelasan secara rinci dari Nabi ﷺ hingga beliau wafat. Karena ketiadaan penjelasan secara detail dari beliau, maka isi dari ayat ini memiliki pengertian mutlak. Untuk itu, memerlukan nadhrun (penelitian) dari para ulama dan ahli fiqih tentang bentuk riba yang dimaksud. 

Perlu diketahui bahwa, tahapan ayat yang berbicara soal hukum riba adalah menyerupai tahapan pengharaman khamr. Menurut Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghî dalam Tafsîr al-Marâghî (Kairo, Musthafa Bab al-Halabi, 1946, jilid III, halaman 49), ada empat tahapan pengharaman riba. Tahap pertama, Allah ﷻ hanya menunjukkan sisi negatif dari riba, sebagaimana dalam tafsir Surat ar-Rûm ayat 39 pada tulisan sebelumnya

Tahap kedua, Allah ﷻ menunjukkan isyarat keharaman riba. Pada tahap ini Allah ﷻ mengecam praktik riba yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Asal-usul kecaman adalah ditekankan pada aspek kezaliman yang terjadi akibat praktik riba tersebut. Hal ini sebagaimana diungkap dalam QS An-Nisa’ ayat 160-161:

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًاوَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ ۚ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Artinya: “Maka disebabkan kedhaliman orang Yahudi, maka kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Dan Kami telah menjadikan untuk orang-orang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.” (QS an-Nisa: 160-161)

Selanjutnya setelah mengecam praktik orang Yahudi ini, Allah ﷻ berfirman yang mengandung isyarat keharaman riba. Tahap ini merupakan tahap ketiga dari proses evolusi riba dalam Al-Qur’an. Ayat yang turun di dalam tahap ketiga ini adalah Surat Ali Imran ayat 130, sebagaimana telah diuraikan dalam tulisan terdahulu. Pada tahap terakhir dinyatakan keharaman riba secara mutlak, yaitu melalui firman Allah ﷻ pada Surat al-Baqarah ayat 278-280. Sekarang mari kita perhatikan bunyi dari Surat al-Baqarah ayat 278-280 secara lengkap. Allah ﷻ berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَاإِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَفَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَوَإِن كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَن تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, tinggalkanlah apa yang tersisa dari riba, jika kalian adalah orang-orang yang beriman. Maka jika kalian tidak meninggalkan, maka umumkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka jika kalian bertaubat, maka bagi kalian adalah pokok harta kalian. Tidak berbuat dhalim lagi terdhalimi. Dan jika terdapat orang yang kesulitan, maka tundalah sampai datang kemudahan. Dan bila kalian bersedekah, maka itu baik bagi kalian, bila kalian mengetahui.” (QS al-Baqarah: 278-280).

Ada beberapa pokok isi kandungan dari ayat ini, yaitu:

1. Allah ﷻ memerintahkan kaum mukmin agar meninggalkan apa yang tersisa dari transaksi riba. Maksud dari apa yang tersisa di sini adalah sisa tagihan yang belum terlunasi dan awalnya dilakukan dengan jalan ribawi. 

2. Jika tidak mau meninggalkan menagih sisa transaksi riba itu, maka dikobarkanlah perang dengan Allah dan Rasul-Nya. 

3. Perintah mengambil pokok harta yang dipinjamkan sehingga tidak boleh saling berbuat dhalim antara yang menghutangi dan yang dihutangi.

4. Bershadaqah adalah lebih baik dari memungut sisa riba dan mengambil harta orang lain dengan jalan dhalim.

Yang menarik dan perlu dikaji dari ayat ini adalah, berarti Surat Ali Imran ayat 130 tidak berbicara soal pengharaman riba. Ayat ini hanya menunjukkan bahwa ada bagian dari mengambil ziyadah (tambahan harta) itu yang tidak mutlak haram. Faktanya, QS al-Baqarah ayat 278-280 sebagai ayat terakhir yang diturunkan, masih berbicara soal sedekah. Sedekah dalam beberapa tempat di Al-Qur’an memiliki arti yang sama dengan zakat. Dalam ayat tentang riba ini, maka makna sedekah memiliki arti yang sama dengan makna zakat pada QS. ar-Rûm: 39 sebagaimana telah dibahas pada waktu yang lalu. 

Inilah sebabnya, para ulama dari kalangan madzahib al-arba’ah (mazhab empat) meneliti kembali, pengertian riba yang dilarang dan riba yang diperbolehkan itu. Insyaallah kita akan bahas kelak hal ini dalam tulisan mendatang.

Sebagai akhir dari tulisan ini, maka kita tarik kesimpulan sementara bahwa ada beberapa tahapan turunnya ayat tentang riba, antara lain adalah sebagai berikut: 

1. Riba dicela disebabkan karena keberadaan unsur negatif yang dikandungnya (QS ar-Rûm: 39)

2. Selanjutnya riba dicela disebabkan karena adanya unsur zalim (aniaya) di dalam praktik riba orang yahudi (QS an-Nisa’: 160-161)

3. Selanjutnya riba dicela disebabkan karena keberadaan ziyadah yang berlipat-lipat dalam praktik riba masyarakat jahiliyah (QS Ali Imran: 130-132)

4. Terakhir, riba mutlak diharamkan, namun ‘illah (alasan dasar) keharamannya belum disebutkan secara rinci oleh Rasulullah ﷺ (QS. Al-Baqarah: 278-280).

Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Ponpes Hasan Jufri Putri P. Bawean, JATIM

Rabu 9 Mei 2018 14:45 WIB
Kapan Lebihan Pengembalian Utang Bisa Tak Disebut Riba?
Kapan Lebihan Pengembalian Utang Bisa Tak Disebut Riba?
Seorang mufassir Indonesia, Prof Quraish Shihab menyatakan, kata riba dari segi bahasa bermakna “kelebihan”. Jika kita berhenti memaknainya sampai di sini, maka logika sebagaimana yang dikemukakan para penentang riba pada masa Nabi menjadi dapat dibenarkan. Setiap kelebihan akan dimaknai sebagai riba. Akhirnya, muncul kesimpulan, bahwa “jual beli adalah sama saja dengan riba” (QS Al Baqarah: 275). Padahal, hal ini adalah mustahil. Karena keuntungan adalah juga merupakan sesuatu yang lebih dari pokok harta. Lantas kelebihan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh ayat tersebut?

Beberapa ahli tafsir menyatakan bahwa penggunaan akar kata ربو di dalam Al-Qur’an digunakan sebanyak 20 kali. Dari kedua puluh itu, penggunaan istilah riba dipergunakan sebanyak delapan kali. Akar kata ربو memiliki makna tumbuh (QS al-Hajj: 5), menyuburkan (QS al-Baqarah: 276), mengembang (QS ar-Ra’du: 17), dan mengasuh (al-Isra’: 24), menjadi besar dan banyak (QS an-Nahl: 92). Arti kata ربو juga digunakan untuk menyebut “dataran tinggi” (QS al-Baqarah: 265). Seluruh arti akar kata ini merujuk kepada makna adanya pertambahan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.

Sementara itu, ayat yang menggunakan kata riba diulang sebanyak 8 kali, antara lain pada QS al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa’ dan ar-Rum. Tiga surat pertama adalah ayat Madaniyah, sementara surat terakhir, yaitu ar-Rum, adalah Makkiyah. Perlu diketahui bahwa Surat Madaniyah merupakan kelompok surat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ pasca hijrah. Sementara Surat Makkiyah adalah kelompok surat dalam Al-Qur’an  yang diturunkan sebelum beliau hijrah. Secara tidak langsung ini memperkuat kajian sebelumnya, bahwa sebab turunnya ayat dari ayat-ayat riba adalah tradisi masyarakat Mekah jahiliyah saat itu sebelum Islam. Akan tetapi, penjelasan yang mengandung celaan sekaligus pelarangan riba, disampaikan beliau Baginda Nabi ﷺ melakukan hijrah ke Kota Madinah. 

Secara tidak langsung, hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ayat pertama, yakni yang pertama kali diturunkan menyatakan soal riba adalah QS ar-Rum: 39. Allah ﷻ berfirman:

وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ رِبًا لِيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِنْدَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Artinya: “Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)” (QS Al-Rum: 39). 

Bagaimana para ulama tafsir melakukan penafsiran terhadap ayat ini? Mari kita kaji bersama! Kita masih memakai instrumen kajian dari kitab Tafsir at-Thabari karya dari Abu Muhammad ibnu Jarir at-Thabari. Di dalam kitab tafsirnya beliau menyatakan bahwa:

يقول - تعالى ذكره - : وما أعطيتم أيها الناس ، بعضكم بعضا من عطية ؛ لتزداد فيأموال الناس برجوع ثوابها إليه ، ممن أعطاه ذلك ،(فلا يربو عند الله) يقول : فلا يزداد ذلك عند الله ، لأن صاحبه لم يعطه من أعطاه مبتغيا به وجهه (وما آتيتم من زكاة) يقول : وما أعطيتم من صدقة تريدون بها وجه الله ، ( فأولئك ) يعني الذين يتصدقون بأموالهم ، ملتمسين بذلك وجه الله (هم المضعفون) يقول : هم الذين لهم الضعف من الأجر والثواب . من قول العرب : أصبح القوم مسمنين معطشين ، إذا سمنت إبلهم وعطشت. 

Artinya: “Allah ﷻ seolah berfirman: Wahai insan, apa-apa yang kalian berikan sebagai pemberian antara satu sama lain, dengan tujuan menambah harta sebagai bentuk kembalian upah atas apa yang kalian berikan sebelumnya kepada mereka, maka (فلا يربو عند الله), maksudnya, maka jangan kalian menambah dengan cara itu di sisi Allah, karena sesungguhnya pemilik harta tidak memberi orang yang diber utang sebagai bentuk pembangkangan terhadap-Nya. Akan tetapi, (وما آتيتم من زكاة), yakni apa-apa yang kalian berikan sebagai bentuk shadaqah karena Allah, maka (أولئك), yakni: kaum yang menghendaki melakukan shadaqah dengan hartanya, yang semata-mata dilakukan karena Allah ﷻ, maka baginya (هم المضعفون = pahala yang berlipat ganda), yakni: kaum yang baginya pahala dan tsawab yang berlibatganda. Perkataan ini senada dengan sebuah pepatah Arab: “أصبح القوم مسمنين معطشين ، إذا سمنت إبلهم وعطشت”, artinya: Jadilah kaum penduduknya berlomba-lomba (mempertahankan) kegemukan hewannya dan memberinya minum manakala onta mereka gemuk lagi kehausan (Penerjemah: Kata kiasan balas budi terhadap orang yang sudah menolongnya memberi pinjaman).” (Syeikh Abu Muhammad Ibnu Jarir At-Thabari, Tafsīr at-Thabāri, Daru al-Ma’arif, tt., Juz 20, hal: 104). 

Maksud dari penafsiran at-Thabari di atas adalah, pemberian dari seseorang yang pernah ditolong kepada orang yang telah memberikan pertolongan, dalam bentuk suatu ‘athiyah (pemberian sukarela), adalah boleh, namun harus memperhatikan tata caranya. Allah ﷻ menyinggungnya agar cara memberinya tidak selayaknya adanya tekanan atau kewajiban, melainkan harus dengan jalan semata karena Allah (tabarru’). Dan manakala pemberian ini dilakukan karena Allah ﷻ, maka pahala yang berlipat ganda yang dijanjikan oleh Allah ﷻ terhadap  mereka. Namun, bila hal itu bukan karena Allah, melainkan akibat dari suatu keharusan sebagaimana tradisi masyarakat jahiliyah saat itu dalam menentukan kewajiban balasan bagi orang yang ditolongnya, maka hal tersebut, berdasarkan ayat ini merupakan perkara yang diminta untuk dijauhi oleh syara’ agama kita. 

Kesimpulan dari penafsiran ayat ini adalah bahwasanya pemberian seseorang kepada orang yang menolongnya dalam bentuk utang, ada kalanya diperbolehkan, dan ada kalanya tidak diperbolehkan. Untuk yang diperbolehkan, maka disebut sebagai ‘athiyah atau shadaqah. Sementara untuk yang dilarang, maka disebut sebagai riba dengan asal kata adanya ziyadah, yakni tambahan yang diberikan bukan karena Allah ﷻ. 


Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh Ponpes Hasan Jufri Putri, P. Bawean, Jatim