IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Pengertian Hijrah dalam Kajian Tasawuf

Sabtu 7 Juli 2018 16:0 WIB
Share:
Pengertian Hijrah dalam Kajian Tasawuf
null
Hijrah merupakan fase penting seseorang untuk memperbaiki diri. Hijrah yang secara harfiah berarti “meninggalkan” merupakan roh yang menjiwai gerakan seorang Muslim. Hijrah kemudian sering kali dimaknai sebagai perpindahan atau peralihan dari satu ke lain kondisi.

Hijrah sendiri sering diambil dari hadits terkenal. Esensi hadits hijrah ini ditangkap oleh ulama fiqih sebagai pesan penting Rasulullah SAW perihal niat seseorang dalam berbuat baik. Hal ini tidak jauh dari pemahaman kalangan sufi yang menempatkan hijrah sebagai kebulatan tekad untuk Allah dan rasul-Nya sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkut ini:

وانظر إلى قوله صلى الله عليه وسلم فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه فافهم قوله عليه الصلاة والسلام وتأمل هذا الأمر إن كنت ذا فهم

Artinya, “Perhatiknlah sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.’ Pahamilah sabda Rasulullah SAW ini. Renungkan perihal ini bila kau termasuk orang yang memiliki daya paham.”

Syekh Ibnu Abbad mengatakan bahwa hijrah kepada Allah dan rasul-Nya adalah tuntutan secara eksplisit terhadap manusia untuk membulatkan hati semata-mata untuk Allah dan larangan secara implisit untuk memberikan hati untuk segala hal duniawi.

فقوله فهجرته إلى الله ورسوله هو معنى الارتحال من الأكوان الى المكون وهو المطلوب من العبد وهو مصرح به غاية التصريح وقوله فهجرته إلى ما هاجر إليه هو البقاء مع الأكوان والتنقل فيها وهو الذي نهى عنه وهو مشار به غير مصرح. فليكن المريد عالي الهمة والنية حتى لا يكون له التفات إلى غير ولا كون ألبتة

Artinya, “Kata ‘maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya’ mengandung pengertian berpindah dari alam kepada Penciptanya. Inilah yang dituntut dari seorang hamba. Tuntutan ini diungkapkan dengan sangat eksplisit. Sedangkan kata ‘maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya’ mengandung pengertian kebersamaan dengan alam dan hanya berpindah-pindah di dalamnya. Ini yang dilarang dari seorang hamba. Larangan ini diisyaratkan secara implisit. Oleh karena itu, seorang murid hendaknya memiliki semangat dan cita-cita yang muia sehingga tidak lagi berpaling sama sekali kepada yang lain dan alam,” (Lihat Ibnu Abbad, Gayatul Mawahibil Aliyyah, [Indonesia, Al-Haramain Jaya: 2012], juz I, halaman 37).

Pemahaman ulama fiqih dan para sufi terhadap hadits ini tidak berbeda jauh. Niat menjadi landasan perbuatan baik. Bahkan para sufi mengingatkan untuk tidak terpedaya dengan sesuatu yang secara kasatmata adalah nikmat dan syariat Allah.

وقال الشبلي رضي الله تعالى عنه احذر مكره ولو في قوله كُلُوا وَاشْرَبُوا يريد لا تستغرق في الحظ ولتكن في شيئ به لا بنفسك فقوله كُلُوا وَاشْرَبُوا وإن كان ظاهره إكراما وإنعاما فإن في بطنه ابتلاء واختبارا حتى ينظر من هو معه ومن هو مع الحظ

Artinya, “As-Syibli RA berpesan, waspadalah dengan tipu daya-Nya meskipun dalam firman-Nya dikatakan ‘Makan dan minumlah kalian,’ (Al-Baqarah ayat 60). Ini maksudnya adalah pesan ‘Janganlah kalian tenggelam di dalam keinginan. Hendaklah kalian tetap bersama-Nya dalam setiap hal, bukan bersama nafsumu.’ Perintah ‘makan dan minumlah,’ meskipun secara kasatmata adalah bentuk penghormatan dan pemberian nikmat, tetapi secara batin adalah ujian dan cobaan sehingga seseorang dapat melihat siapakah dirinya ketika bersama Allah dan siapakah dirinya saat bersama nafsu,” (Lihat Ibnu Abbad, Gayatul Mawahibil Aliyyah, [Indonesia, Al-Haramain Jaya: 2012], juz I, halaman 37).

Dapat dikatakan bahwa hijrah bagi para sufi adalah upaya keras untuk memberikan hati semata kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Ini yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam dengan mengutip Surat An-Najm ayat 42:

لا ترحل من كون إلى كون فتكون كحمار الرحى يسير والمكان الذي ارتحل إليه هو الذي ارتحل منه ولكن ارحل من الأكوان إلى المكون (وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

Artinya, “Janganlah kau berpindah dari alam ke alam karena kau akan seperti keledai pengilingan, di mana tujuan yang sedang ditempuhnya adalah titik mula ia berjalan. Tetapi berpindahlah dari alam kepada Penciptanya. Allah berfirman, ‘Hanya kepada Tuhanmu titik akhir tujuan,’ (Surat An-Najm ayat 42).”

Dengan demikian, hijran tidak dimaknai perpindahan dalam arti fisik, geografis, atau perilaku yang kasatmata. Hijrah bagi para sufi dan juga ulama fiqih sebagai kekuatan batin dalam menyisihkan segala sesuatu selain Allah dari dalam hatinya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Kamis 21 Juni 2018 12:1 WIB
Rasulullah SAW Larang Takbir dengan Teriak
Rasulullah SAW Larang Takbir dengan Teriak
(Foto: islamcity.org)
Rasulullah SAW pernah menegur rombongan sahabat yang ikut seperjalanan dengannya karena bertakbir terlalu keras serupa teriak. Rombongan Rasulullah SAW ini biasa bertakbir saat melintasi jalan mendaki dan bertasbih ketika melalui jalan menurun.

روينا في "صحيح البخاري" عن جابر رضي الله عنه قال: كنا إذا صعدنا كبرنا، وإذا نزلنا سبحنا

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dari Jabir RA, ia berkata, ‘Bila melintasi jalan menanjak, kami bertakbir. Ketika melewati jalan menurun, kami bertasbih,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190).

Ketika tiba di sebuah lembah, sebagian sahabat bertakbir dengan keras seperti teriak. Hal ini menuai teguran Rasulullah SAW. Menurut Rasulullah SAW, Allah yang diseru itu bukan Tuhan yang tuli dan jauh. Dia adalah Tuhan yang maha mendengar dan maha dekat sebagaimana riwayat Bukhari dan Muslim yang dikutip Imam An-Nawawi berikut ini:

وروينا في "صحيحيهما" عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال: كنا مع النبي صلى الله عليه وسلم، فكنا إذا أشرفنا على واد هللنا وكبرنا وارتفعت أصواتنا، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: "يا أيها الناس اربعوا على أنفسكم، فإنكم لا تدعون أصم ولا غائبا، إنه معكم، إنه سميع قريب"

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Sahabat Abu Musa Al-Asy’ari, ia bercerita bahwa bila melewati sebuah lembah, kami saat bersama Rasulullah SAW membaca tahlil dan takbir. Dan suara kami meninggi, lalu Rasulullah SAW mengingatkan, ‘Wahai manusia, bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian karena kalian semua tidak sedang menyeru tuhan yang tuli dan ghaib. Dia bersama kalian. Dia maha mendengar, lagi dekat,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 190-191).

Ibnu Alan dalam Syarah Al-Adzkar mengatakan bahwa seseorang tidak perlu berteriak dalam melafalkan takbir dan lafal zikir lainnya. Pasalnya, takbir dan zikir secara umum dengan suara yang wajar tanpa teriak menunjukkan adab terhadap Allah atau bahkan makrifat seseorang sebagai keterangan berikut ini:

معناه ارفقوا بأنفسكم واخفضوا أصواتكم فإن رفع الصوات يحتاج إليه الإنسان لبعد من يخاطبه ليسمعه وأنتم تدعون الله وليس هو بأصم ولا غائب بل هو سميع قريب وهو معكم أينما كنتم بالعلم والإحاطة ففيه الندب إلى خفض الصوت بالذكر إذا لم تدع حاجة إلى رفعه فإذا خفضه كان أبلغ في توقيره وتعظيمه فإن دعت الحاجة إلى الرفع رفع كما جاءت به الأحاديث ذكره المصنف في شرح مسلم

Artinya, “Pengertian ‘bersikaplah yang lembut terhadap diri kalian dan rendahkan suara kalian’ karena mengeraskan suara dibutuhkan seseorang untuk mengajak bicara orang yang jauh agar ia mendengar. Sedangkan kalian menyeru Allah, Tuhan yang tidak tuli dan tidak lenyap. Dia maha mendengar dan dekat. Dia (ilmu dan cakupan-Nya) bersama kalian di mana pun kalian berada. Hadits ini merupakan anjuran untuk merendahkan suara dalam berzikir bila tidak diperlukan mengeraskannya. Bila seseorang merendahkan suaranya, maka itu sangat menunjukkan kerendahan hati dan takzimnya kepada Allah. Tetapi bila diperlukan suara untuk mengeraskannya, maka perlu dikeraskan sebagaimana keterangan sejumlah hadits yang disebutkan oleh penulis (Imam An-Nawawi) dalam Syarah Muslim,” (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, [Beirut: Daru Ihyait Al-Arabi, tanpa catatan tahun], juz V, halaman 144-145).

Riwayat ini bukan berarti melarang seseorang mengeluarkan suara dalam bertakbir atau zikir secara umum. Takbir boleh dilafalkan dengan suara tinggi, serupa teriak, atau dengan dengan bantuan pengeras suara bila ada hajat syar‘i. Hajat syar‘i antara lain adalah takbiran pada malam Id atau takbir dalam adzan dan iqamah. Tanpa ada hajat syar’i, takbir cukup dilafalkan dengan level suara yang wajar, tanpa teriakan atau suara tinggi. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 21 Juni 2018 10:3 WIB
Sikap Rasulullah Atasi Ujaran Kebencian dan Cemburu Buta
Sikap Rasulullah Atasi Ujaran Kebencian dan Cemburu Buta
Persaingan dan cemburu merupakan sikap wajar yang tidak perlu dikhawatirkan. Keduanya merupakan sikap manusiawi. Yang tidak boleh adalah tindakan berlebihan dan melewati batas seperti ujaran kebencian karena keduanya. Rasulullah juga pernah menghadapi salah seorang yang dilanda cemburu berlebihan.

Siti Aisyah RA secara jujur menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah menegur dirinya karena melontarkan perkataan yang menyangkut fisik istri Rasulullah SAW lainnya. Rasulullah SAW tidak segan menegur sebuah tindakan seseorang di luar batas dalam mengekpresikan perasaan cemburu atau kecewa sebagaimana riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi berikut ini:

وروينا في سنن أبي داود والترمذي عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت للنبي (صلى الله عليه وسلم): حسبك من صفية كذا وكذا" قال بعض الرواة: تعني قصيرة، فقال: "لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته"، قالت: وحكيت له إنسانا فقال: "ما أحب أني حكيت إنسانا وأن لي كذا وكذا" قال الترمذي: حديث حسن صحيح

Artinya, “Diriwayatkan kepada kami dalam Sunan Abbu Dawud dan At-Tirmidzi dari Aisyah RA, ia berkata, ‘Aku pernah mengatakan kepada Rasulullah SAW, ‘Cukup bagimu perihal kekurangan Shafiyyah yang ini dan itu,’–sebagian perawi mengatakan bahwa yang dimaksud Aisyah adalah soal tinggi badan Shafiyah yang rendah.–Rasul menegurku, ‘Kau telah melontarkan sebuah kalimat luar biasa, yang bila dilemparkan ke laut, niscaya ia akan bercampur (mengubah rasa air) laut tersebut.’ Aku juga pernah menceritakan (keburukan) seseorang kepadanya. Lalu Rasul menanggapi, ‘Aku tidak suka bercerita perihal seseorang dan aku mendapatkan (keuntungan) ini dan itu.’’ At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 289).

Imam An-Nawawi yang mengutip hadits ini dalam Kitab Al-Adzkar mengatakan bahwa kalau saja ucapan ghibah itu berujud fisik lalu dilemparkan ke laut, niscaya ucapan keji itu mengubah rasa dan aroma air laut tersebut menjadi busuk dan pahit.

Menurut Imam An-Nawawi, ia belum pernah menemukan hadits lain di mana Rasulullah SAW berbicara sekeras ini menanggapi masalah ghibah. Ia juga berdoa kepada Allah agar melindungi kita semua dari tindakan yang dibenci oleh Allah itu sebagaimana keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

قلت: مزجته: أي خالطته مخالطة يتغير بها طعمه أو ريحه لشدة نتنها وقبحها، وهذا الحديث من أعظم الزواجر عن الغيبة أو أعظمها، وما أعلم شيئا من الأحاديث يبلغ في الذم لها هذا المبلغ (وما ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى) [ النجم : 3 ] نسأل الله الكريم لطفه والعافية من كل مكروه

Artinya, “Menurutku (kata Imam An-Nawawi), maksud ‘bercampur’ adalah percampuran yang dapat mengubah rasa dan bau air laut karena sangat bau busuk dan keburukan kalimat tersebut. Hadits ini merupakan salah satu larangan terkuat perihal ghibah atau bahkan larangan paling kuat. Saya tidak menemukan hadits lain yang mengecam keburukan ghibah melebihi hadits ini. Allah berfirman, ‘Tidaklah ia (Nabi Muhammad SAW) berbicara berdasarkan hawa nafsu. Ucapannya itu adalah wahyu yang diturunkan kepadanya belaka,’ (An-Najm). Kita memohon kelembutan dan pemeliharaan dari segala yang perbuatan yang dibenci kepada Allah yang murah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 289-290).

Imam An-Nawawi tampak sekali menjaga diri dari ghibah. Ia menunjukkan hal ini ketika ditanya pandangannya soal paham kontroversial Ibnul Arabi yang hidup seabad sebelumnya sebagaimana didokumentasikan oleh Syekh Ibnu Ajibah berikut ini:

وأما احترام الماضى فالمراد من تقدم من الصحابة والتابعين والأولياء والصالحين والعلماء العاملين واحترامهم ألا يذكروا إلا بإحسان وأن يلتمس لهم أحسن المذاهب ويرحم الله النواوى لما سئل عن ابن العربى الحاتمى فقال الكلام كلام صوفى تلك أمة قد خلت لها ما كسبت ولكم ما كسبتم ولا تسئلون عما كانوا يعملون ومن احترامهم الاستغفار والترضى عنهم قال تعالى وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya, “Adapun bentuk penghormatan (kita) terhadap orang terdahulu–mereka yang  dimaksud adalah para sahabat rasul, tabi‘in, para wali, orang-orang saleh, dan ulama–adalah hanya menyebut kebaikan mereka dan mengambil madzhab (jalan atau pandangan) terbaik dari mereka. Imam An-Nawawi–Allah yarhamuh–ketika ditanya sikapnya terhadap pandangan Ibnul Arabi (yang wafat lebih dulu) menjawab dengan bijak, ‘Perkataan (Ibnul Arabi) adalah perkataan kalangan sufi. Ia termasuk umat terdahulu. Mereka akan menerima jerih payah mereka. Begitu juga kalian. Kalian akan menerima jerih payah kalian. Kalian takkan diminta pertanggungjawaban atas jerih payah mereka.’ Salah satu bentuk penghormatan (kita) untuk mereka adalah permohonan ampunan dan ridha Allah untuk mereka. Allah berfirman, ‘Orang-orang beriman yang datang sepeninggal mereka berdoa, ‘Tuhan kami, ampunilah kami dan orang-orang beriman yang telah mendahului kami,’’” (Lihat Syekh Ibnu Ajibah Al-Hasani, Al-Futuhatul Ilahiyyah fi Syarhil Mabahitsil Ashliyyah, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 263).

Menceritakan atau membuat sebuah narasi tentang seseorang atau lembaga tertentu yang dapat menguntungkan diri secara duniawi sekalipun sebaiknya dihindari. Pasalnya, dosa ghibahnya lebih besar daripada keuntungan duniawi tersebut sebagaimana keterangan Syekh Ibnu Alan perihal keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:

إشارة إلى عظم إثم الغيبة وإنه لا يقاومها ما أعطيه من غيرها أي وإن كان كثيرا كما يدل عليه كذا وكذا إذ هي كناية عن الأعداد الكثيرة وإنما كذلك لأن ترك الاغتياب سلامة وعمل البر غنيمة والسلامة مقدمة على الغنيمة كما تقدم والله إعلم

Artinya, “Ini merupakan isyarat atas besarnya dosa ghibah. Sementara keuntungan–meskipun banyak–yang didapat dari ghibah itu tidak sebanding dengan dosa ghibah tersebut sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah SAW dengan ‘ini dan itu’. Kata ini merupakan kiasan yang mengilustrasikan kuantitas yang demikian banyak. Meninggalkan ghibah adalah jalan keselamatan. Sedangkan aktivitas (dengan niat) baik itu membawa keuntungan. Tetapi jalan keselamatan harus didahulukan dibandingkan keuntungan sebagaimana keterangan telah lalu. Wallahu a‘lam,” (Lihat Muhammad bin Alan As-Shiddiqi, Al-Futuhatur Rabbaniyyah, [Beirut: Daru Ihyait Al-Arabi, tanpa catatan tahun], juz VI, halaman 390).

Dari pelbagai catatan di atas, kita dapat menarik simpulan bahwa warna-warni batin yang kita rasakan termasuk marah, bahagia, cemburu, sedih, kecewa, dan perasaan lainnya adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita mengendalikan perasaan itu agar tidak melahirkan ucapan (ujaran kebencian) atau tindakan yang melewati batas-batas baik hukum syariat maupun hukum positif yang berlaku di Indonesia, termasuk salah satunya adalah menyerang kekurangan fisik orang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 22 Mei 2018 23:30 WIB
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (2)
Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (2)
Ilustrasi (najva12.ir)
Kata ihsân atau hasan di dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan kata “baik”. Di dalam bahasa Arab ada banyak kata yang sering kali bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia maka akan diartikan dengan arti yang sama. Padahal di dalam bahasa aslinya sejatinya masing-masing kata itu memiliki makna sendiri yang spesifik sehingga berbeda dengan makna kata yang lain yang sama arti ketika diterjemahkan.

Di antara kata yang demikian itu adalah kata khair, ma’rûf, hasan atau ihsân, shâlih dan birr. Umumnya kata-kata itu diterjemahkan dan dipahami dalam bahasa Indonesia dalam arti “baik”. Padahal masing-masing di dalam bahasa Arabnya memiliki spesifikasi makna yang berbeda. “Baik”-nya kata khair tidak sama dengan “baik”-nya kata ma’rûf, juga tidak sama dengan “baik”-nya ihsân dan sebagainya.

Baca: Bagaimana Memahami Makna Ihsan? (1)
Banyak para ulama yang mengungkapkan makna “baik” yang terkandung di dalam kata ihsân dengan mengambil kalimat dari Nabi Isa ‘alaihis salâm yang menyatakan:

ليس الإحسان أن تحسن إلى من أحسن إليك ذلك مكافأة، إنما الإحسان أن تحسن إلى من أساء إليك

Artinya: “Ihsan bukanlah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, itu namanya berbalasan. Hanya dikatakan ihsan bila engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepadamu.” (Syekh Nawawi Banten, Tafsîr Marâh Labîd, Beirut: Darul Fikr, juz I, hal. )

Ungkapan tentang ihsan sebagaimana disebut di atas dapat dipahami dengan penggambaran sebagai berikut:

Ketika tetangga Anda memberikan semangkok opor ayam lalu keesokan harinya Anda membalas dengan juga memberinya semangkok opor ayam, maka apa yang Anda lakukan itu adalah perbuatan baik namun tidak pada makna ihsan. Kebaikan yang Anda lakukan itu hanyalah kebaikan sepadan untuk membalas kebaikan yang Anda terima. Namun bila Anda membalas pemberian itu dengan opor ayam seekor utuh maka itulah yang disebut kebaikan dalam makna ihsan.

Contoh yang lain, ketika seorang teman sedang sakit Anda dengan senang hati membesuknya dengan membawa buah tangan yang disenangi teman itu. Namun ketika Anda sakit sang teman tidak membesuk Anda meski ia tahu keadaan Anda. Ketika kemudian sang teman sakit lagi Anda tetap membesuk dengan membawa buah tangan kegemarannya. Dan satu saat Anda kembali sakit sang teman tak juga membesuk Anda meski ia tahu Anda sedang sakit. Ketika untuk yang ketiga kalinya teman Anda sakit lagi dan Anda mengetahui itu, akankah Anda tetap dengan senang hati membesuknya seraya membawa buah tangan kesukaannya?

Bila Anda tak lagi membesuknya karena kebaikan Anda selama ini tak pernah dibalas, maka kebaikan membesuk yang selama ini Anda lakukan kepada sang teman bukanlah kebaikan dalam makna ihsan. Namun bila Anda tetap berkenan membesuknya sebagaimana sebelumnya, maka Anda telah melakukan sebuah kebaikan dalam makna ihsan.

Di dalam A-Qur’an surat Ali Imron ayat 134 ada tiga golongan orang yang disebut Allah sebagai orang yang berbuat ihsan (muhsin). Pertama, orang-orang yang selalu berinfak baik dalam keadaan senang maupun susah, ketika kaya atau miskin, dan baik diberikan kepada orang yang ia sukai maupun yang tak ia sukai.

Kedua, orang yang mampu menahan amarahnya meskipun ia memiliki kesempatan dan kemampuan untuk melampiaskannya kepada orang yang membuatnya emosi.

Ketiga, orang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, menghapus kesalahannya sehingga tak lagi dibicarakan dengan siapapun, serta tanpa menyimpan dendam kepada yang berbuat salah itu.

Ketiga golongan tersebut disebut Allah sebagai orang-orang yang berlaku ihsan. Mereka yang suka berinfak disebut berlaku ihsan karena memberi manfaat bagi orang lain, meski dirinya sendiri sedang membutuhkan, atau bahkan meski yang diberi orang yang tak ia sukai. Mereka yang menahan amarahnya disebut berlaku ihsan karena semestinya ia mampu untuk membalas kejahatan yang ia terima, namun ia lebih memilih meredam kemarahannya sehingga orang yang berbuat jelek kepadanya tak menerima kejelekannya dalam bentuk amarah. Mereka yang memaafkan orang yang berbuat salah disebut berlaku ihsan karena pemaafannya telah menghindar orang yang bersalah dari tuntutan di hari kiamat kelak.

Kepada orang-orang yang demikian, kepada orang-orang yang berlaku ihsan dengan melakukan kebaikan lebih dari yang semestinya, Allah dengan tegas menyatakan rasa cintanya. Wallâhu yuhibbul muhsinîn. Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)