IMG-LOGO
Jumat

Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (II-Habis)

Ahad 12 Agustus 2018 15:0 WIB
Share:
Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (II-Habis)
Di tulisan sebelumnya telah kami sampaikan bahwa syarat sah pelaksanaan khutbah Jumat ada 12. Pada tulisan tersebut, telah kami jelaskan enam syarat. Pada tulisan ini akan kami lanjutkan syarat berikutnya hingga syarat ke dua belas. Berikut ini penjelasannya.

Baca: Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)
Syarat ketujuh, khutbah harus dilakukan dengan berdiri.

Khutbah Jumat harus dilakukan dengan berdiri bagi orang yang mampu. Tidak sah dilakukan dengan duduk. Bila tidak mampu berdiri, misalkan karena sakit atau faktor usia, maka boleh dilakukan dengan duduk. Bila tidak mampu duduk, maka boleh dengan cara tidur miring.

Bagi khatib yang tidak mampu berdiri, tetap sah bertindak sebagai khatib meski ditemukan orang lain yang mampu melaksanakan khutbah dengan berdiri. Namun yang lebih utama adalah digantikan orang lain yang mampu berdiri.

Syekh Nawawi Banten mengatakan:

 وقيام قادر ) فيهما جميعا فإن عجز عنه خطب جالسا ولو مع وجود القادر والأولى للعاجز الاستنابة

“Dan disyaratkan berdiri bagi yang mampu di keseluruhan kedua khutbah, jika tidak mampu berdiri, maka cukup berkhutbah dengan duduk, meski ditemukan orang yang mampu berdiri. Dan yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menggantikannya dengan orang yang mampu berdiri”. (Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain, juz 1 hal. 141).

Syekh Habin Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

فإن عجز خطب جالسا فإن عجز اضطجع والأولى له الاستخلاف

“Jika tidak mampu berdiri, maka cukup berkhutbah dengan duduk, jika tidak mampu duduk, maka berkhutbah dengan posisi tidur miring. Yang lebih utama bagi yang tidak mampu adalah menggantikan dirinya dengan orang yang mampu berdiri”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 241).

Syarat kedelapan, disertai duduk di antara dua khutbah.

Khutbah jumat yang dilaksanakan sebanyak dua kali, di antara kedua khutbahnya harus dipisah dengan duduk. Standar minimal duduk di antara dua khutbah adalah kadar minimal thuma’ninah dalam shalat, yaitu diam sekira cukup untuk membaca subhanallah.

Bagi khatib yang tidak mampu berdiri, memisah dua khutbah baginya adalah dengan cara diam sejenak melebihi durasi diam untuk mengambil nafas dan tersengal-sengal. Demikian pula bagi khatib yang mampu berdiri, namun tidak mampu duduk untuk memisah di antara dua khutbahnya.

Disunnahkan kadar pemisah di antara dua khutbah, sekiranya cukup membaca surat al-Ikhlash. Demikian pula dianjurkan bagi khatib membacanya saat duduk atau berhenti sejenak (bagi yang tidak mampu) untuk memisah dua khutbah jumat.

Syekh Nawawi Banten mengatakan:

 وجلوس بينهما ) بطمأنينة في جلوسه وجوبا ومن خطب قاعدا لعذر أو قائما وعجز عن الجلوس أو مضطجعا للعجز فصل بينهما بسكتة وجوبا فوق سكتة التنفس والعي ويسن أن تكون الجلسة أو السكوت بقدر سورة الإخلاص وأن يقرأها في ذلك

“Dan disyaratkan duduk di antara dua khutbah disertai thumaininah. Orang yang berkhutbah duduk karena uzur, atau mampu berdiri namun tidak mampu duduk, atau berkhutbah dalam posisi tidur miring karena tidak mampu, ia memisah di antara dua khutbahnya dengan diam sejenak melebihi durasi diam untuk mengambil nafas dan tersengal-sengal. Disunnahkan duduk atau diam sejenak tersebut dengan kadar durasi membaca surat al-ikhlas dan bagi khatib disunnahkan membacanya saat kondisi tersebut”. (Syekh Nawai Banten, Nihayah al-Zain juz 1 hal. 141).

Syarat kesembilan, terus-menerus di antara rukun-rukun khutbah.

Rukun-rukun khutbah harus dibaca secara berkesinambungan, tidak boleh ada jeda atau pemisah berupa pembicaraan lain yang menyimpang dari isi khutbah. Tidak termasuk pemisah yang merusak keabsahan khutbah, materi yang masih berkaitan dengan khutbah, meski panjang dan lama, karena hal tersebut tergolong kemashlahatannya khutbah.

Syekh Sulaiman al-Bujairimi mengatakan:

  وولاء ) بينهما وبين أركانهما وبينهما وبين الصلاة
 قوله وبين أركانهما ) ولا يقطعها الوعظ وإن طال لأنه من مصالح الخطبة فالخطبة الطويلة صحيحة كما قرره شيخنا

“Dan disyaratkan terus menerus di antara dua khutbah, di antara rukun-rukunnya dan di antara dua khutbah dan shalat jumat. Ucapan di antara rukun-rukunnya, maksudnya tidak dapat memutus syarat berkesinambungan, mauizhah khutbah meski panjang karena termasuk kemashlahatan khutbah, maka khutbah yang panjang hukumnya sah sebagaimana ditegaskan oleh guru kami”. (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, Hasyiyah al-Bujairami ‘ala Fath al-Wahhab, juz 4, hal. 94).

Syarat kesepuluh, terus menerus antara khutbah dan shalat Jumat

Yang dimaksud terus menerus di sini adalah jarak antara khutbah dan shalat Jumat tidak boleh terlalu lama, sekiranya setelah khutbah kedua selesai, takbiratul ihramnya shalat jumat dilakukan sebelum melewati masa yang cukup untuk melakukan shalat dua rakaat dengan standar umum yang paling ringan (tidak terlalu panjang dan lama). 

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

والموالاة بينهما وبين الصلاة بأن يحرم بالصلاة قبل أن يمضي بعد انتهاء الثانية ما يسع ركعتين بأخف ممكن 

“Dan disyaratkan terus menerus antara kedua khutbah dan shalat jumat, dengan sekira takbiratul ihram shalat jumat dilaksanakan sebelum melewati masa yang cukup untuk melakukan dua rakaat shalat dengan standar umum yang paling ringan”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal. 242).

Syarat kesebelas, khutbah harus berbahasa Arab.

Yang dimaksud dengan syarat berbahas Arab di sini adalah hanya rukun-rukun khutbah saja, meliputi bacaan hamdalah, shalawat, pesan bertakwa, bacaan ayat suci al-Quran dan bacaan doa untuk kaum muslimin muslimat.

Sedangkan untuk selainnya, diperbolehkan menggunakan bahasa non Arab, seperti yang terlaku di Negara kita, penjelasan isi khutbah biasanya menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut diperbolehkan dan tidak termasuk memutus kewajiban muwalah (terus menerus) di antara rukun-rukun khutbah.

Al-Syaikh Abu Bakr bin Syatha’ mengatakan:

  و ) شرط فيهما ( عربية ) لاتباع السلف والخلف
 ( قوله وشرط فيهما ) أي في الخطبتين والمراد أركانهما كما في التحفة الى أن قال وكتب سم ما نصه قوله دون ما عداها يفيد أن كون ما عدا الأركان من توابعها بغير العربية لا يكون مانعا من الموالاة اه قال ع ش ويفرق بينه وبين السكوت بأن في السكوت إعراضا عن الخطبة بالكلية بخلاف غير العربي فإن فيه وعظا في الجملة فلا يخرج بذلك عن كونه في الخطبة اه

“Disyaratkan dalam dua khutbah memakai bahasa Arab, maksudnya hanya rukun-rukunnya saja seperti keterangan dalam kitab al-Tuhfah, karena mengikuti ulama salaf dan khalaf. Syaikh Ibnu Qasim menulis, kewajiban memakai bahasa Arab terbatas untuk rukun-rukun khutbah memberi kesimpulan bahwa selain rukun-rukun khutbah yaitu beberapa materi yang masih berkaitan dengan khutbah yang diucapkan dengan selain bahasa Arab tidak dapat mencegah kewajiban muwalah di antara rukun-rukun khutbah. Syaikh Ali Syibramalisi mengatakan, Hal ini dibedakan dengan diam yang lama yang dapat memutus muwalah karena di dalamnya terdapat unsur berpaling dari khutbah secara keseluruhan. Berbeda dengan isi khutbah dengan selain bahasa Arab yang di dalamnya terdapat sisi mau’izhah secara umum, sehingga tidak mengeluarkannya dari bagian khutbah”. (Syaikh Abu Bakr bin Syatha, I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 117, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cetakan ketiga, tahun 2007).

Syarat keduabelas, khutbah dilakukan di waktu zhuhur.

Khutbah harus dilaksanakan di waktu zhuhur, sebagaimana keberadaan shalat jumat sendiri. Karena posisinya khutbah menempati tempatnya dua rakaat shalat.

Demikian penjelasan terkait syarat sah pelaksanaan khutbah Jumat. Semoga bermanfaat dan dipahami dengan baik. Kami terbuka untuk menerima saran dan kritik. (M. Mubasysyarum Bih)

Tags:
Share:
Sabtu 4 Agustus 2018 17:30 WIB
Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)
Syarat-syarat Khutbah dan Penjelasannya (I)
Khutbah Jumat merupakan salah satu ibadah yang menentukan keabsahan prosesi shalat Jumat. Karenanya, rukun, syarat dan segala ketentuannya harus terpenuhi agar pelaksanaan Jumat sah. Khutbah Jumat dilakukan dua kali, di antara khutbah pertama dan kedua dipisah dengan duduk. Khutbah Jumat memiliki lima rukun yang harus dipenuhi. Membaca hamdalah, shalawat Nabi dan wasiat bertakwa di kedua khutbah, membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah serta membaca doa untuk umat Islam di khutbah kedua.

Baca juga: Rukun-rukun Khutbah dan Penjelasannya
Khutbah Jumat memiliki 12 syarat yang harus terpenuhi sebagai berikut:

Syarat pertama, khatib harus laki-laki.

Syarat ini–sebagaimana syarat diperdengarkan dan didengar jamaah serta berbahasa Arab- juga berlaku untuk selain khutbah Jumat, seperti khutbah shalat hari raya dan shalat gerhana. Sehingga tidak sah khutbah dilakukan oleh perempuan.

Syekh al-Qalyubi mengatakan:

ويشترط كون الخطيب ذكرا أو كونه تصح إمامته للقوم كما قاله شيخنا الرملي واعتمده شيخنا الزيادي الى ان قال وشرط الذكورة جار في سائر الخطب كالإسماع والسماع وكون الخطبة عربية

“Disyaratkan khathib seorang laki-laki atau orang yang sah menjadi imam bagi jamaah sebagaimana yang dikatakan Syekh al-Ramli dan dibuat pegangan oleh guru kami Syekh al-Zayadi. Syarat ini berlaku juga di selain khutbah Jumat sebagaimana syarat khutbah harus diperdengarkan dan didengar oleh jamaah serta syarat harus berbahasa Arab.” (Syekh al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, juz 1, hal. 322).

Syarat kedua, khutbah harus diperdengarkan dan didengar oleh jamaah Jumat yang mengesahkan Jumat.

Khutbah disyaratkan harus dengan suara yang keras. Sekiranya dapat didengar oleh jama’ah jumat yang mengesahkan pelaksanaan Jumat, yaitu setiap muslim yang baligh, berakal, merdeka, berjenis kelamin laki-laki dan bertempat tinggal tetap (muqim mustauthin). 

Ulama berbeda pendapat mengenai standart memperdengarkan khutbah kepada Jamaah. Versi Imam Ibnu Hajar harus diperdengarkan secara nyata, sehingga andaikan ada suara-suara yang menghambat pendengaran jamaah kepada khutbah seperti ramai-ramai, maka tidak cukup, bahkan khatib harus lebih mengeraskan suaranya lagi sampai didengar oleh Jamaah.

Sedangkan menurut Imam al-Ramli, cukup memperdengarkan secara hukum saja, maksudnya khatib cukup membaca khutbah sekira didengar jamaah, meskipun mereka tidak mendengar karena ada keramaian yang menghambat pendengaran jamaah, namun andaikan tidak ada penghalang, jamaah tetap dapat mendengar isi khutbah. 

Menurut keduanya, tidak cukup penyampaian khutbah disertai dengan tidur atau tulinya jamaah.

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri mengatakan:

ومن شروط الخطبتين أن يسمعهما أربعون ممن تنعقد بهم الجمعة واختلف ابن حجر والرملي حول الإسماع هل يلزم بالفعل أو بالقوة؟ ابن حجر يقول لا بد من الإسماع بالفعل معناه لو كان هناك ضجة أو طبول تضرب أو صياح وجب على الخطيب أن يرفع صوته حتى يسمعوا بالفعل. أما الرملي فيقول السماع بالقوة فقط يرفع الخطيب صوته بحيث لو زال المشوش لسمعوا. ولو نام واحد منهم أو كان أصم ولم يزل العدد عن أربعين بطلت الجمعة.

“Di antara syarat dua khutbah adalah didengar oleh 40 orang yang mengesahkan Jumat. Imam Ibnu Hajar dan Imam al-Ramli berbeda pendapat mengenai standar memperdengarkan kutba, apakah wajib diperdengarkan secara nyata atau cukup dengan hukum saja?. Imam Ibnu Hajar berkata harus diperdengarkan secara nyata. Maksudnya, bila ada kegaduhan, gendang yang ditabuh atau jeritan, wajib bagi khatib mengeraskan suaranya sampai mereka mendengar secara nyata. Sedangkan imam al-Ramli berkata cukup memperdengarkan secara hukum saja, khatib cukup mengeraskan suaranya, sekira apabila hilang perkara yang mengganggu, jamaah dapat mendengarnya. Apabila di antara jamaah ada yang tidur atau tuli, dan jamaah jumat tidak mencapai 40 orang, maka jumat batal. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, hal 242).

Khatib atau jamaah tidak disyaratkan faham makna khutbah yang disampaikan, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Nawawi sebagai berikut:

ولا يضر عدم فهم معناهما حتى في حق الخطيب كمن يؤم القوم ولا يعرف معنى الفاتحة

“Tidak bermasalah ketidakfahaman kepada makan dua khutbah, sekalipun khatibnya sendiri, sebagaimana orang yang mengimami kaum dan ia tidak faham makna al-Fatihah. (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, juz 1, hal.140).

Syarat ketiga, khutbah dibaca di kawasan bangunan rumah penduduk desa.

Penyampaian khutbah harus berada di kawasan tempat pelaksanaan Jumat. Maksudnya, posisi khatib harus berada di titik yang masih tergolong wilayah desa pelaksanaan Jumat. Meski Jamaah Jumat mendengarkan khutbah di luar kawasan Jumat, khutbah tetap sah, asalkan khatib menyampaikannya di kawasan pelaksanaan Jumat.

Syarat keempat, khatib harus suci dari dua hadats.

Syarat kelima, khatib harus suci dari najis.

Syarat keenam, khatib harus menutup aurat.

Syarat keempat, kelima dan keenam ini ditetapkan karena mempertimbangkan bahwa khutbah Jumat menempati posisi dua rakaat shalat. Sehingga syarat-syarat ini diperlukan sebagaimana menjadi syarat sah pelaksanaan shalat. Maka, tidak sah khutbah dilakukan oleh khatib yang berhadas, terbuka auratnya dan terkena najis pakaian, tempat atau sesuatu yang dibawanya.

Khatib yang batal (misalkan kentut) saat menyampaikan khutbahnya, diperbolehkan untuk mengganti dirinya dengan salah satu jamaah yang hadir. Dan pengganti khatib tersebut boleh meneruskan bacaan khatib yang awal asalkan tidak ada masa pemisah yang lama menurut standar ‘urf (keumuman) antara bacaan khatib pertama dan kedua. Namun jika melewati pemisah yang lama, maka khatib pengganti tersebut harus memulai khutbah dari awal.

Namun apabila tidak bermaksud menggantinya dengan khatib lain, maka setelah kembali bersuci, khatib tersebut harus mengulang khutbahnya dari awal, meskipun ia kembali dalam waktu yang singkat. Sebab khutbah merupakan satu bentuk kesatuan ibadah, sehingga tidak dapat dilakukan dengan dua kali bersuci seperti halnya shalat.

Syekh Sayyid Muhammad Abdullah al-Jordani mengatakan:

ومن أحدث في أثناء الخطبة أو بعدها واستخلف قبل طول الفصل من يبني على فعله ممن حضر جاز

“Khatib yang berhadas di pertengahan khutbah atau setelahnya dan menggantinya dengan jama’ah yang hadir dan ia meneruskan bacaan khutbahnya sebelum melewati pemisah yang lama, maka diperbolehkan.” (Syekh Sayyid Muhammad Abdullah al-Jordani, Fath al-‘Alam, juz.3, hal. 63, cetakan Dar al-Salam-Kairo, cetakan keempat tahun 1990).

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani mengatakan:

فلو أحدث في أثناء الخطبة استأنفها وإن سبقه الحدث وقصر الفصل لأنها عبادة واحدة فلا تؤدى بطهارتين كالصلاة

“Apabila khatib berhadas di pertengahan khutbah, ia wajib mengulangi khutbahnya (setelah ia bersuci), meskipun tidak sengaja berhadas dan pemisahnya sebentar, sebab khutbah adalah satu bentuk kesatuan ibadah, maka tidak dapat dilakukan dengan dua kali bersuci seperti halnya shalat.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah al-Zain, juz 1, hal. 141).

(M. Mubasysyarum Bih)

Bersambung...

Sabtu 14 Juli 2018 12:0 WIB
Hukum Melaksanakan Shalat Zhuhur setelah Shalat Jumat
Hukum Melaksanakan Shalat Zhuhur setelah Shalat Jumat
(Foto: worldbulletin.net)
Jumat adalah ibadah yang dilakukan secara rutin sebanyak satu kali dalam sepekan, tepatnya saat waktu zhuhur hari Jumat. Pada dasarnya, seseorang yang telah melaksanakan Jumat tidak perlu lagi mengulang shalat zhuhur karena Jumat telah memadai.

Dalam kondisi tertentu, mengulang shalat zhuhur hukumnya dianjurkan bahkan bisa wajib. Mengulang shalat zhuhur disebut dengan shalat mu‘adah (shalat yang diulang). Di beberapa masjid di kampung, ditemukan ritual shalat i‘adah zhuhur selepas Jumatan. Bagaimana sebenarnya hukum mengulang shalat zhuhur setelah shalat Jumat?

Hukum mengulangi shalat zhuhur setelah pelaksanaan shalat Jumat diperinci sebagai berikut:

Pertama, wajib.
Hukum ini berlaku dalam kondisi tidak terpenuhinya syarat keabsahan Jumat. Contohnya adalah ditemukan dua jumatan dalam satu desa tanpa ada hajat. Sementara diragukan mana yang terlebih dahulu melaksanakan takbiratul ihram dari dua jumatan tersebut. Maka, masing-masing jamaah di kedua tempat tersebut wajib untuk mengulangi shalat zhuhur. Kewajiban mengulangi zhuhur ini dikarenakan shalat Jumat yang dilakukan di kedua tempat sama-sama tidak sah.

Sedangkan apabila yang dahulu melakukan takbiratul iharam adalah salah satunya, maka yang wajib mengulang shalat zhuhur adalah Jumat yang lebih akhir takbirnya. Sebab, dalam kondisi tersebut, Jumat yang dinyatakan sah adalah hanya jumatan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram.

Kedua, haram.
Hukum ini berlaku saat syarat-syarat sah jumat sudah terpenuhi dan hanya dilakukan di satu tempat dalam satu desa. Dalam kondisi tersebut, haram hukumnya mendirikan shalat i‘adah zhuhur setelah shalat Jumat. Sebab Jumat sudah mewakili kewajiban zhuhur dan tidak ada tuntutan melakukannya. Ketika ibadah tidak ada anjuran dari syari’at, maka hukumnya haram dan tidak sah, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah:

العبادة حيث لم تطلب لم تنعقد

Artinya, “Ibadah ketika tidak dituntut, maka tidak sah.”

Ketiga, sunnah.
Perincian hukum ini berlaku saat terjadi pelaksanaan dua Jumat dalam satu desa karena ada hajat, misalkan disebabkan daya tampung masjid yang tidak memadai. Pada kondisi tersebut, masyarakat diperbolehkan menyelenggarakan dua jumatan dan keduanya sah, baik yang lebih dahulu takbiratul ihramnya maupun yang lebih akhir. Selepas pelaksanaan Jumat, jamaah disunnahkan untuk mengulangi shalat zhuhur.

Sebagian pendapat dari kalangan Syafi’iyyah tidak membolehkan berbilangnya jumatan dalam satu desa secara mutlak, meski ada hajat. Oleh karena itu, dalam kondisi dibutuhkan berbilangnya jumatan, jamaah dianjurkan untuk mengulangi shalat zhuhur setelah pelaksanaan Jumat untuk menjaga perbedaan pendapat ini, sebagai pengamalan dari sebuah kaidah fiqih berikut ini:

الخروج من الخلاف مستحب

Artinya, “Keluar dari ikhtilaf (perbedaan) ulama adalah dianjurkan.”

Ketiga perincian di atas berlandaskan pada sebuah keterangan yang disampaikan Syekh Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha sebagai berikut:

والحاصل أن صلاة الظهر بعد الجمعة إما واجبة أو مستحبة أو ممنوعة فالواجبة كما في مسألة الشك والمستحبة فيما إذا تعددت بقدر الحاجة من غير زيادة والممتنعة فيما إذا أقيمت جمعة واحدة بالبلد فيمتنع فعل الظهر. والله سبحانه وتعالى أعلم

Artinya, “Kesimpulannya, shalat zhuhur setelah jumat adakalanya wajib, sunnah, dan haram. Yang wajib sebagaimana dalam persoalan diragukan (mana yang lebih dahulu melaksanakan takbiratul ihram saat terdapat berbilangnya jumatan tanpa ada hajat). Yang sunnah dalam persoalan berbilangnya Jumat dengan sebatas kebutuhan tanpa melebihi batas tersebut. Yang haram dalam permasalahan dilaksanakannya satu Jumat dalam satu desa, maka tercegah untuk melakukan shalat zhuhur. Wallahu a‘lam,” (Lihat Syekh Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha, Jam’ur Risalatain fi Ta’ddudil Jum’atain, halaman 9).

Demikian penjelasan hukum pelaksanaan shalat zhuhur setelah shalat Jumat. Semoga dapat dipahami dengan baik dan bermanfaat. Kami terbuka untuk menerima kritik dan saran. (M Mubasysyarum Bih)
Selasa 15 Mei 2018 15:0 WIB
Seberapa Jauh Jarak yang Membolehkah Dua Jumatan dalam Satu Desa?
Seberapa Jauh Jarak yang Membolehkah Dua Jumatan dalam Satu Desa?
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
Menurut pendapat kuat dalam madzhab Syafi’i, tidak diperbolehkan mendirikan dua Jumatan atau lebih dalam satu desa tanpa ada hajat (kebutuhan). Oleh karenanya, bila terdapat dua jum’atan dalam satu desa, maka yang sah adalah jum’atan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram, sedangkan jum’atan kedua tidak sah. Dan apabila takbiratul ihramnya bersamaan, maka kedua jum’atan tersebut tidak sah. 

Ditemukan di beberapa daerah, jarak rumah sebagian penduduknya dengan tempat pelaksanaan Jumat terlampau jauh, karena luasnya daerah tersebut. Hal ini menimbulkan masyaqqah (keberatan) bagi mereka andaikan mereka dituntut untuk melakukan Jumat di satu tempat. Pertanyaannya kemudian, bolehkah bagi sebagian penduduk tersebut mendirikan Jumat kedua karena alasan jarak yang jauh?

Ulama menegaskan bahwa salah satu hajat yang memperbolehkan berdirinya lebih dari satu Jumat dalam satu daerah adalah jauhnya jarak menuju tempat Jumatan. Faktor jauhnya tempat adakalanya disebabkan seseorang berada pada sebuah tempat yang tidak dapat terdengar azan Jumat di tempat tersebut, atau berada pada tempat yang seandainya ia berangkat dari tempat tersebut setelah terbit fajar, maka tidak dapat menemui Jumat.

Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur menegaskan:

والحاصل من كلام الأئمة أن أسباب جواز تعددها ثلاثة ضيق محل الصلاة بحيث لا يسع المجتمعين لها غالباً، والقتال بين الفئتين بشرطه، وبعد أطراف البلد بأن كان بمحل لا يسمع منه النداء، أو بمحل لو خرج منه بعد الفجر لم يدركها، إذ لا يلزمه السعي إليها إلا بعد الفجر اهـ

“Kesimpulan dari statemen para imam, sebab-sebab diperbolehkannya berbilangnya Jumat ada tiga. Pertama, sempitnya tempat shalat, dengan sekira tidak dapat menampung jamaah Jumat menurut keumumannya. Kedua, pertikaian di antara kedua kubu sesuai dengan syaratnya. Ketiga, jauhnya sisi desa, dengan sekira berada pada tempat yang tidak terdengar azan atau di tempat yang seandainya seseorang keluar dari tempat tersebut setelah fajar, ia tidak akan menemui Jumat, sebab tidak wajib baginya menuju tempat Jumat, kecuali setelah terbit fajar subuh.” (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, Beirut-Dar al-Fikr, 1995, halaman 51)

Lantas berapakah batasan jauh tersebut jika dikonversikan dalam bentuk kilo meter? Dalam keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-6 di Pekalongan 27 Agustus 1931 M disebutkan batasan jauhnya tempat tinggal penduduk dengan masjid yang membolehkan bagi mereka untuk mendirikan Jumat kedua adalah 1 mil syar’i, yaitu jarak 24 menit dengan jalan kaki biasa, atau jarak 1,666 KM.

Berikut bunyi keputusannya:

Masyaqah ialah kesukaran berkumpulnya penduduk yang berkewajiban shalat Jumat dalam suatu tempat karena berjauhan tempat tinggal mereka dari masjid dengan jarak 1 mil syar’i, yaitu jarak 24 menit dengan jalan kaki biasa atau jarak 1666,667 meter”. (Ahkam al-Fuqaha’ Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Nomor 118, Surabaya, Khalista, 2011, halaman 113)
Simpulannya, diperbolehkan bagi penduduk yang rumahnya jauh dengan masjid, minimal sejauh 1,666 km, untuk mendirikan Jumatan kedua di daerah tersebut. Jika tidak memenuhi standar jauh tersebut, maka tidak diperkenankan mendirikan Jumat kedua kecuali ada hajat lain selain alasan jauhnya tempat, seperti daya tampung masjid yang terbatas atau konflik internal yang menuntut mereka mendirikan Jumatan di tempat lain.

Demikian semoga bisa dipahami dengan baik dan bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)