IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak
Al-HIKAM

Kenapa Harus Ada Kewajiban Ibadah untuk Manusia?

Ahad 12 Agustus 2018 12:0 WIB
Share:
Kenapa Harus Ada Kewajiban Ibadah untuk Manusia?
(Foto: zozu)
Sekali waktu muncul pertanyaan di pikiran kita perihal kewajiban ibadah untuk manusia. Pertanyaan kenapa Allah mewajibkan sesuatu kepada manusia memang tampak konyol dan mungkin kurang ajar. Tetapi pertanyaan itu wajar saja muncul karena Allah memang menganugerahkan kita akal pikiran yang dapat bertanya.

Syekh Ibnu Athaillah mencoba menjawab kenapa Allah mewajibkan ibadah kepada manusia dalam Al-Hikam-nya berikut ini:

علم قلة نهوض العباد إلى معاملته فأوجب عليهم وجود طاعته فساقهم إليه بسلاسل الإيجاب

Artinya, “Allah memaklumi rendahnya semangat hamba-Nya untuk berinteraksi dengan-Nya, maka dari itu Dia mewajibkan adanya ketaatan untuk mereka sehingga Dia menggiring mereka kepada-Nya dengan belenggu kewajiban.”

Menerangkan hikmah ini, Syekh Syarqawi mengatakan bahwa manusia cukup berat untuk melakukan ibadah secara sukarela dan berdasarkan inisiatif sendiri karena kelemahan kemauan dan kemalasan merupakan watak pembawaan manusia.

علم قلة نهوض العباد إلى معاملته) أي الإقبال عليه بطاعته والقيام بحقوق ربوبيته طوعا منهم لما هم عليه من وجود الضعف ولما في نفوسهم من وجود الكسل

Artinya, “(Allah memaklumi rendahnya semangat hamba-Nya untuk berinteraksi dengan-Nya) maksudnya untuk menghadap-Nya melalui ibadah dan menunaikan hak ketuhanan lainnya secara sukarela karena adanya kelemahan semangat dan ada kemalasan di dalam diri mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia, Al-Haramain: 2012 M], juz II, halaman 31).

Dari pembawaan manusia tersebut, Allah memutuskan kewajiban ibadah bagi para hamba-Nya sehingga dengan sejenis paksaan itu manusia dapat berkhidmah kepada-Nya.

فأوجب عليهم وجود طاعته) أي ألزمهم بذلك قهرا عنهم وخوفهم بدخول النار إن لم يفعلوا (فساقهم إليه) أي الإقبال عليه بطاعته (بسلاسل الإيجاب

Artinya, “(Maka dari itu Dia mewajibkan adanya ketaatan untuk mereka) Allah mewajibkan ibadah itu secara paksa untuk mereka dan Dia menakuti mereka dengan ancaman msuk neraka jika mereka tidak melaksanakan kewajiban tersebut. (sehingga Dia menggiring mereka kepada-Nya) untuk menghadap-Nya melalui ketaatan (dengan belenggu kewajiban),” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia, Al-Haramain: 2012 M], juz II, halaman 31).

Syekh Syarqawi mengatakan bahwa kewajiban ibadah itu seakan belenggu yang menggiring paksa tawanan untuk melakukan sesuatu yang manfaatnya di kemudian hari berpulang kepada mereka sendiri.

Hal ini serupa dengan kewajiban ibadah yang sekali lagi manfaat serta kebahagiaan kelak di kemudian hari kembali kepada makhluk-Nya. Syekh Syarqawi menyebut sikap seorang wali terhadap anak kecilnya sebagai ilustrasi kewajiban ibadah.

Menurutnya, seorang wali mendidik dan memberikan aturan bagi anak kecil yang mana itu berat dan tidak disukai oleh si kecil ketika itu. Tetapi aturan tersebut mengandung manfaat di kemudian hari bagi si kecil yang akan disadari maslahatnya kelak ketika ia telah dewasa.

Dengan kata lain, maslahat dan manfaat kewajiban ibadah itu akan disadari oleh manusia kelak di akhirat. Semua maslahat itu berpulang kepada manusia, bukan kepada Allah karena Allah tidak butuh pada ibadah hamba-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Kamis 9 Agustus 2018 12:0 WIB
Al-HIKAM
Ini Rahasia Allah di Balik Jadwal Ibadah
Ini Rahasia Allah di Balik Jadwal Ibadah
(Foto: pixabay)
Allah bukan tanpa tujuan dalam menentukan waktu ibadah wajib. Dengan pentntuan waktu ibadah wajib, Allah bertujuan untuk memberikan kemaslahatan dan manfaat bagi hamba-Nya. Dengan penetapan jadwal ibadah wajib yaitu shalat, puasa, zakat, atau haji, mereka diberi kesempatan untuk melakukannya dan dengan sempurna.

Masalah ini pernah disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berikut ini:

قيد الطاعات بأعيان الأوقات كي لا يمنعك عنها وجود التسويف ووسع عليك الوقت كي تبقى لك حصة الاختيار

Artinya, “Allah membatasi ibadah pada waktu-waktu tertentu agar sikap menunda-nunda tidak menghalangimu darinya. Ia juga meluaskan bagimu waktu ibadah agar kau tetap mempunyai andil untuk memilih.”

Syekh Syarqawi yang menjelaskan bahwa penentuan jadwal ibadah wajib dimaksudkan agar orang tidak lagi punya alasan menunda dengan mengatakan, “Aku akan shalat setelah urusanku selesai,” karena waktu ibadah sendiri terbatas.

قيد) الله (الطاعات) الواجبة عليك كالصلوات الخمس (بأعيان الأوقات) بأوقات معينة ولم يطلق وقتها (كي لا يمنعك عنها وجود التسويف) فإنه تعالى لو أطلقها ولم يعين لها أوقاتا لحملك التسويف على تركها فإنك تتكاسل وتقول حتى أفرغ من حاجتي أصلي لاتساع وقتها فربما مضى يومك أو ليلتك ولم تفعلها بخلاف تقييدها بأوقات معينة فإن ذلك يلجئك إلى تحصيلها ويحجزك عن تفويتها

Artinya, “(Allah membatasi ibadah) wajib, yaitu sembahyang lima waktu, dan ibadah wajib lainnya (pada waktu-waktu tertentu) dengan waktu yang sudah ditentukan. Allah tidak membebaskan waktu ibadah wajib itu (agar sikap menunda-nunda tidak menghalangimu darinya). Seandainya Allah membebaskan waktu ibadah dan tidak menentukan waktunya, niscaya penundaan menyebabkanmu lalai dari ibadah wajib tersebut. Kau merasa segan dan berkata, ‘Nanti, sampai selesai urusanku, baru aku shalat’ karena waktunya yang begitu luas. Boleh jadi siang dan malam berlalu sementara kau belum mengerjakan ibadah wajib tersebut. Lain halnya jika ibadah wajib itu ditentukan waktunya. Penentuan waktu itu yang menyebabkan kau untuk berusaha menunaikannya dan menghalangimu dari luputnya,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia, Al-Haramain: 2012 M], juz II, halaman 31).

Meski jadwal ibadah wajib itu ditentukan, Allah melapangkan waktu ibadah tersebut. Allah memberikan kelapangan waktu agar hamba-Nya memiliki pilihan untuk mengerjakan di awal atau di akhir waktu.

Kecuali itu, kelapangan waktu sebuah ibadah wajib itu memungkinkan seseorang bukan sekadar melaksanakannya, tetapi juga menunaikan ibadah itu sebaik-baiknya. Dengan waktu yang memadai, seseorang dapat menyiapkan segala sesuatunya, berusaha membulatkan pikiran dan mengupayakan diri menjadi sadar sedang bersaman-Nya sebagaimana dikatakan Syekh Syarqawi berikut ini.

ووسع عليك الوقت) أي وسع أوقاتها عليك ولم يضيقها (كي تبقى لك حصة الاختيار) فيمكنك فعلها في أول وقتها أو وسطه أو آخره ولا تعد من المضيعين لها إذا أتيت بها في آخر وقتها مثلا ولتتمكن أيضا من الإتيان بها على الوجه الأكمل

Artinya, “(Allah juga meluaskan bagimu waktu ibadah), dalam arti Allah memanjangkan waktu ibadah wajib itu, tidak mempersempitnya (agar kau tetap mempunyai andil untuk memilih). Ini yang memungkinkanmu untuk mengerjakan ibadah wajib itu di awal waktu, di tengah, atau di akhir waktu. Kau tidak dianggap sebagai orang yang menyia-nyiakan ibadah ketika kau mengerjakannya di akhir waktu misalnya. Keluasan waktu juga memantapkanmu untuk mengerjakan ibadah wajib itu dengan jalan sempurna,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, [Indonesia, Al-Haramain: 2012 M], juz II, halaman 31).

Jadi, penentuan waktu ibadah wajib oleh Allah mengandung maslahat dan manfaat yang berpulang bukan kepada Allah, tetapi kepada hamba-Nya. Penentuan waktu ibadah wajib itu sendiri jangan diartikan sebagai sebuah kekejaman Allah, tetapi justru karena kasih dan sayang-Nya kepada para hamba-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 4 Agustus 2018 15:45 WIB
Tiga Golongan Manusia dalam Hubungan Sosial Menurut Imam al-Ghazali
Tiga Golongan Manusia dalam Hubungan Sosial Menurut Imam al-Ghazali
Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Tentu hal ini merupakan fitrah dari Allah ﷻ. Tidak ada yang sama, termasuk dalam hal hubungan mereka dengan sesama manusia.

Namun, perbedaan itu bukanlah suatu masalah jika memiliki hati yang baik dan takwa, tentunya tidak hanya secara vertikal, yakni antara manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga secara horizontal, yakni antara manusia dengan manusia yang lain.

Imam al-Ghazali, dalam kitab Bidâyatul Hidâyah menjelaskan bahwa ada tiga kategori golongan manusia, dilihat dari cara mereka bergaul dan bersosialisasi dengan sesama manusia.

Al-Ghazali menyebutkan bahwa dalam hubungan sesamanya, manusia terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama, manusia yang tergolong dalam derajat yang mulia sebagaimana derajatnya para malaikat.

Menurut Imam al-Ghazali, orang-orang yang termasuk dalam kategori ini senantiasa berbuat baik dengan sesama manusia, tidak hanya berbuat baik, mereka juga senantiasa memberikan kebahagian kepada sesama. Tidak hobi menyakiti orang lain, juga tidak suka berperilaku menyimpang kepada orang lain.

Golongan manusia seperti inilah yang disebut Imam al-Ghazali sebagai golongan yang termasuk “Manzilatul kirâm al-bararah minal malâikah”, yakni golongan manusia yang sikapnya setara dengan golongan malaikat yang saleh.

Kedua, manusia yang setara dan sederajat dengan hewan dan benda-benda mati. Oleh al-Ghazali disebut setara dengan hewan dan benda mati, karena keberadaannya tidak memberikan dampak dan manfaat bagi orang lain, tetapi malah memberikan madharat dan bahaya bagi orang lain.

Sebagaimana benda-benda mati, ia hanya stagnan, tidak bergerak, dan pula tidak memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia yang lain.

Sedangkan golongan yang terakhir adalah golongan yang sama dengan golongan hewan-hewan buas, seperti ular, kalajengking dan hewan-hewan berbahaya yang lain.

Menurut penulis Ihyâ’ Ulûmiddin ini, manusia yang termasuk golongan ini menjadi momok bagi manusia lain. Tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan, dampak bahayanya sangat dikhawatirkan.

Diakui atau tidak, dalam kehidupan bermasyarakat, pasti kita temukan orang-orang yang seperti ini, baik golongan pertama kedua maupun ketiga. Imam al-Ghazali menyarankan agar kita bergaul dan berinteraksi dengan golongan yang pertama, agar kita tidak mendapatkan bahaya.

Imam al-Ghazali juga menyarankan agar kita senantiasa berusaha untuk menjadi bagian kelompok pertama. Jika kita tidak mampu, berusahalah agar tidak menjadi golongan kedua maupun ketiga. Wallahu a’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Sabtu 28 Juli 2018 1:15 WIB
Ini Pesan Penting Rasulullah dalam Khutbah Gerhana
Ini Pesan Penting Rasulullah dalam Khutbah Gerhana
(Foto: national geographic)
Ketika terjadi gerhana, Rasulullah SAW melakukan shalat sunnah gerhana dua rakaat. Setelah itu Rasulullah SAW berdiri dan berkhotbah di hadapan para sahabatnya. Pada khutbah gerhana, Rasulullah SAW mengingatkan para sahabatnya untuk sembahyang sunnah, berdoa, dan sedekah karena mengagungkan Allah SWT.

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ

Artinya, “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bagian dari kekuasaan Allah. Gerhana bulan atau matahari terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, takbirlah, berdoalah kepada Allah, kerjakan shalat dan bersedekalah wahai umat Muhammad,” (HR Muslim).

Riwayat serupa terdapat juga dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim berikut ini:

إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم ذلك فصلوا وادعوا الله تعالى رواه الشيخان وفي رواية مسلم ادعوا الله وصلوا حتى ينكشف بكم

Artinya, “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan terjadi bukan karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka shalat dan berdoalah kepada Allah,” (HR Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Imam Muslim, terdapat “Berdoalah kepada Allah dan hendaklah shalat sunnah hingga kembali terang padamu,” (HR Muslim).

Syekh Taqiyuddin Al-Hishni dalam Kifayatul Akhyar mengutip pesan penting Rasulullah SAW untuk umatnya dalam khutbah gerhana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah SAW mengingatkan umatnya untuk menjauhi dosa besar zina.

ويسن أن يخطب بعد الصلاة خطبتين كخطبتي الجمعة لفعله صلى الله عليه وسلم رواه مسلم وفيه (قام فخطب فأثنى على الله تعالى) إلى أن قال (يا أمة محمد هل من أحد أغير من الله أن يرى عبده أو أمته يزنيان يا أمة محمد والله لو تعلمون ما أعلم لبكيتم كثيرا ولضحكتم قليلا ألا هل بلغت

Artinya, “Dianjurkan menyampaikan dua khutbah gerhana seperti khutbah Jumat setelah shalat sunnah gerhana sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Muslim. Di dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW berdiri lalu berkhutbah, memuji Allah SWT (sampai gilirannya beliau mengatakan) ‘Wahai ummat Muhammad, apakah ada yang lebih cemburu daripada Allah ketika melihat hamba laki-laki dan hamba perempuan-Nya berzina? Wahai ummat Muhammad, demi Allah, kalau sekiranya kalian mengetahui apa yang kuketahui, niscaya kalian lebih banyak menangis dan lebih sedikit tertawa. Ketahuilah, sudahkah kusampaikan?’” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128).

Pesan penting Rasulullah SAW dalam khutbah gerhana ini diriwayatkan oleh banyak sahabatnya. Oleh karena itu, orang yang melakukan shalat sunnah gerhana berjamaah dianjurkan untuk berkhutbah gerhana seusai shalat dan menyampaikan pesan-pesan Rasulullah SAW untuk beramal saleh serta tidak lalai dan terpedaya.

وروى الخطبة جمع من الصحابة في الصحيح وينبغي أن يحرضهم على الإعتاق والصدقة ويحذرهم الغفلة والاغترار وفي صحيح البخاري أنه عليه الصلاة والسلام أمر بالعتاقة في كسوف القمر

Artinya, “Khutbah gerhana ini diriwayatkan oleh sejumlah orang sahabat dalam Sahih Muslim. Khatib seyogianya menganjurkan jamaah shalat sunnah gerhana untuk memerdekakan budak dan bersedekah, serta mengingatkan mereka agar tidak lalai dan terpedaya. Dalam shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya untuk memerdekakan budak dalam khutbah shalat gerhana bulan,” (Lihat Taqiyyiddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 128). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)