IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Rasulullah Menangis Mendengar Cerita Orang Ini

Senin 20 Agustus 2018 6:0 WIB
Share:
Rasulullah Menangis Mendengar Cerita Orang Ini
Pada masa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, terdapat seorang sahabat bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah shalat berjamaah shubuh bersama Baginda Nabi, Abu Dujanah selalu tidak sabar. Ia terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa yang dipanjatkan Rasulullah selesai.

Ada satu kesempatan, Rasulullah mencoba meminta klarifikasi pada pria tersebut. 

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi. 

Abu Dujanah menjawab, “Anu Rasulullah, kami punya satu alasan.”

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” perintah Baginda Nabi. 

“Begini,” kata Abu Dujanah memulai menguraikan jawabannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.” 

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anakku sering kelaparan, kurang makan. Saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, kami bergegas segera pulang sebelum anak-anak kami tersebut terbangun dari tidurnya. Kami kumpulkan kurma-kurma milik tetangga kami tersebut yang berceceran di rumah, lalu kami haturkan kepada pemiliknya. 

Satu saat, kami agak terlambat pulang. Ada anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuan. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya. Ia habis memungut kurma yang telah jatuh di rumah kami semalam.” 

Mengetahui itu, lalu jari-jari tangan kami masukkan ke mulut anakku itu. Kami keluarkan apa pun yang ada di sana. Kami katakan, ‘Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak.’ Anakku menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan. 

Wahai Baginda Nabi, kami katakan kembali kepada anakku itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak’.” 

Pandangan mata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sontak berkaca-kaca, lalu butiran air mata mulianya berderai begitu deras.

Baginda Rasulullah Muhammad shallahu alaihi wa sallam mencoba mencari tahu siapa sebenarnya pemilik pohon kurma yang dimaksud Abu Dujanah dalam kisah yang ia sampaikan di atas. Abu Dujanah pun kemudian menjelaskan, pohon kurma tersebut adalah milik seorang laki-laki munafik. 

Tanpa basa-basi, Baginda Nabi mengundang pemilik pohon kurma. Rasul lalu mengatakan, “Bisakah tidak jika aku minta kamu menjual pohon kurma yang kamu miliki itu? Aku akan membelinya dengan sepuluh kali lipat dari pohon kurma itu sendiri. Pohonnya terbuat dari batu zamrud berwarna biru. Disirami dengan emas merah, tangkainya dari mutiara putih. Di situ tersedia bidadari yang cantik jelita sesuai dengan hitungan buah kurma yang ada.” Begitu tawar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.  

Pria yang dikenal sebagai orang munafik ini lantas menjawab dengan tegas, “Saya tak pernah berdagang dengan memakai sistem jatuh tempo. Saya tidak mau menjual apa pun kecuali dengan uang kontan dan tidak pakai janji kapan-kapan.” 

Tiba-tiba Abu Bakar as-Shiddiq radliyallahu 'anh datang. Lantas berkata, “Ya sudah, aku beli dengan sepuluh kali lipat dari tumbuhan kurma milik Pak Fulan yang varietasnya tidak ada di kota ini (lebih bagus jenisnya).” 

Si munafik berkata kegirangan, “Oke, ya sudah, aku jual.”

Abu Bakar menyahut, “Bagus, aku beli.” Setelah sepakat, Abu Bakar menyerahkan pohon kurma kepada Abu Dujanah seketika. 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Hai Abu Bakar, aku yang menanggung gantinya untukmu.”

Mendengar sabda Nabi ini, Abu Bakar bergembira bukan main. Begitu pula Abu Dujanah. Sedangkan si munafik berlalu. Ia berjalan mendatangi istrinya. Lalu mengisahkan kisah yang baru saja terjadi. “Aku telah mendapat untung banyak hari ini. Aku dapat sepuluh pohon kurma yang lebih bagus. Padahal kurma yang aku jual itu masih tetap berada di pekarangan rumahku. Aku tetap yang akan memakannya lebih dahulu dan buah-buahnya pun tidak akan pernah aku berikan kepada tetangga kita itu sedikit pun.”

Malamnya, saat si munafik tidur, dan bangun di pagi harinya, tiba-tiba pohon kurma yang ia miliki berpindah posisi, menjadi berdiri di atas tanah milik Abu Dujanah. Dan seolah-olah tak pernah sekalipun tampak pohon tersebut tumbuh di atas tanah si munafik. Tempat asal pohon itu tumbuh, rata dengan tanah. Ia keheranan tiada tara. 

Dalam kisah ini, dapat kita ambil pelajaran, betapa hati-hatinya sahabat Rasulullah tersebut dalam menjaga diri dan keuarganya dari makanan harta haram. Sesulit apa pun hidup, seberat apa pun hidup, seseorang tidak boleh memberikan makanan untuk dirinya sendiri dan keluarganya dari barang haram. 

Setiap kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah subhânahu wa ta’âla sepuluh kali lipat sebagaimana janji Baginda Nabi Muhammad. Adapun panen dari pada janji itu bukankan kontan sekarang, namun di akhirat kelak. Karena dunia ini adalah dâruz zar‘i (tempat bercocok tanam), bukan dârul hashâd (tempat memanen). 

Kisah di atas disarikan dari kitab I’anatuth Thâlibîn (Beirut, Lebanon, cet I, 1997, juz 3, halaman 293) karya Abu Bakar bin Muhammad Syathâ ad Dimyatîy (w. 1302 H). (Ahmad Mundzir) 

Tags:
Share:
Ahad 19 Agustus 2018 17:45 WIB
Delapan Fakta dan Keistimewaan Hajar Aswad
Delapan Fakta dan Keistimewaan Hajar Aswad
Ilustrasi (via aboutIslam.net)
Hajar Aswad merupakan batu hitam yang awal mulanya berasal dari surga. Sebelum berwarna hitam seperti yang dapat kita saksikan sekarang, Hajar Aswad berwarna putih. Namun karena dosa-dosa manusia, batu ini kemudian berubah menjadi hitam.
 
Ada beberapa fakta tentang kelebihan yang dimiliki Hajar Aswad sebagaimana diungkapkan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dalam karyanya Al-Hajj Fadlail wa Ahkam, halaman 263 sebagai berikut:

Pertama, agama mensyariatkan mencium serta mengusapkan tangan pada batu hitam ini. Hal tersebut sesuai dengan kisah Sayyidina Umar radliyallahu anh, yang suatu saat mendatangi Hajar Aswad lalu menciumnya. Umar berkata:

إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ، لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ

Artinya: “Sungguh, aku tahu, kamu hanya batu. Tidak bisa memberi manfaat atau bahaya apa pun. Andai saja aku ini tak pernah sekalipun melihat Rasulullah shallahu alaihi  wa sallam menciummu, aku pun enggan menciummu.” (HR Bukhari) 

Hadits di atas dapat kita pahami, Umar telah menyaksikan Rasul mencium Hajar Aswad dengan mata kepalanya sendiri, sehingga menjadikannya ingin meniru perilaku Nabi sebagaimana di atas. 

Meski secara kasat mata batu itu tidak bisa memberi manfaat dan bahaya sama sekali, menurut Musthafa Dib al-Bagha, Hajar Aswad tetap bisa memberi manfaat dari sisi mendatangkan pahala menciumnya. Sunnah Nabi-lah  yang mengakibatkan pahala itu bisa didapatkan. Bukan semata-mata Karena batu itu bertuah.

Kedua, Hajar Aswad menduduki tempat paling mulia di muka bumi ini. Terletak tepat di pojok Ka’bah pada bagian timur laut Ka’bah. Sudut ini yang dibangun pertama kalinya oleh Nabi Ibrahim bersama Ismail. 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan Kami terimalah dari kami (amalan kami). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah: 127) 

Ketiga, Hajar Aswad berada di tempat di mana posisinya selalu menjadi permulaan tawaf, yaitu terletak pada bagian sudut timur laut dari bangunan Ka’bah. Sedangkan semua orang tawaf selalu memulai tawafnya dari situ. 

Keempat, sebagaimana yang diriwayatkan Abu Ubaid, Baginda Rasulullah mengkiaskan Hajar Aswad sebagai ‘tangan Allah’ di bumi. Barangsiapa yang mengusap Hajar Aswad, seolah-olah sedang bersalaman dengan Allah subhânahu wa ta’âlâ. Selain itu, ia dianggap seperti sedang berbaiat kepada Allah dan Nabi Muhammad shallallahu ‘allaihi wa sallam. Sesuai dengan sabda Baginda Nabi Muhammad: 

مَنْ فَاوَضَهُ، فَإِنَّمَا يُفَاوِضُ يَدَ الرَّحْمَنِ

Artinya: “Barangsiapa bersalaman dengannya (Hajar Aswad), seolah-olah ia sedang bersalaman dengan Allah yang maha pengasih.” (HR Ibnu Mâjah: 2957)

Kelima, Hajar Aswad mempunyai cahaya yang memancar besar. Namun Allah subhânahu wa ta’âla menutupnya sebagaimana dalam riwayat Ahmad, at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân. 

Keenam, pada hari kiamat, Hajar Aswad akan menjadi saksi bagi siapa saja yang pernah menyentuhnya dengan sungguh-sungguh sebagaimana hadits yang diriwayatkan dalam kitab as-Sunan karya at-Tirmidzi dan al-Ausath karya at-Thabrany. 

Ketujuh, Hajar Aswad akan memberikan syafaat dan syafaatnya diterima Allah subhânahû wa ta’âlâ sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat at-Thabrany. Meskipun hadits ini ada banyak tinjauan-tinjauan di sana.

Kedelapan, Hajar Aswad seolah-olah merupakan tangan Allah yang ada di muka bumi ini. Hadits berikut ini saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga menjadi hadits hasan:

إِنَّ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَمِينُ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ، فَمَنْ لَمْ يُدْرِكْ بَيْعَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ الْحَجَرَ، فَقَدْ بَايَعَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ»

Artinya: “Sesungguhnya Hajar Aswad merupakan (seolah) tangan Allah di muka bumi. Barangsiapa yang tidak bisa berbaiat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, kemudian mengusap Hajar Aswad, maka ia sedang berbaiat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Muhammad al-Azraqi, Akhbaru Makkah wa Mâ Jâa minal Âtsâr, Beirut, juz 1, halaman 325).

(Ahmad Mundzir)

Ahad 19 Agustus 2018 6:0 WIB
Kala Sumber Mata Air Zamzam Hilang
Kala Sumber Mata Air Zamzam Hilang
Foto: kapl-hajj.org
“Air zamzam adalah panglima dari segala air, yang di dalamnya tersimpan kemuliaan, disukai setiap jiwa, tidak terbayarkan dan karenanya dicari setiap insan.” (Ibnu Qayyim al-Jawziyah)

Sumur zamzam berjarak 21 meter dari Ka'bah. Sementara lubang sumur berada di bawah Mataf (daerah sekeliling sekitar Ka'bah) di dekat hajar aswad (batu hitam). Air di sumur zamzam mengalir dari dua sisi: sisi Ka'bah dan sisi gunung Abu Kubais dan al-Safa.

Dewasa ini, air yang dipompa dari sumur zamzam mencapai 11 hingga 18 liter per detik. Ada dua pompa yang beroperasi selama 24 jam penuh. Selama hari-hari biasa, air zamzam yang dipompa sekitar 150 ribu liter. Sementara pada musim haji naik mencapai 450 liter. Air tersebut lalu dipindahkan ke Pusat Distribusi Air Raja Abdullah Zamzam di Kudy. Lalu kemudian didistribusikan ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan kerajaan Saudi.

Seperti yang dikatakan Ibnu Qayyim bahwa air zamzam adalah air yang sangat istimewa. Sehingga setiap orang yang datang ke Makkah, pasti mencari air zamzam. Tidak lain, hal itu datang dari sebuah keyakinan bahwa air zamzam mengandung banyak khasiat. Dengan meminumnya, mereka berharap akan mendapatkan tuahnya. 

Air zamzam memiliki sejarah yang panjang. Memang, ada beberapa versi tentang sejarah eksistensi mata air zamzam. Namun yang masyhur adalah cerita Ismail dan Hajar, istri Nabi Ibrahim as. 

Mata air zamzam adalah anugerah Allah untuk Ismail dan Hajar manakala mereka berada dalam krisis persediaan makanan dan air usai ditinggalkan Nabi Ibrahim saw. Dikisahkan, Hajar berlari-lari kecil dari bukit Shafa ke Marwah untuk mencari makanan dan minuman. Ia juga berdoa kepada Tuhan untuk menolong mereka. Pada saat itu, Allah mengutus Jibril untuk menyelamatkan keduanya. Hingga akhirnya kaki Ismail yang masih kecil menggerak-gerakkan ke tanah dan keluar lah air. 

Sumber mata air hasil injakan kaki Ismail as. itu kemudian dikenal dengan mata air zamzam. Sebuah mata air yang tidak pernah kering hingga hari ini. Ia menjadi sumber kehidupan masyarakat Arab dan masyarakat luar yang datang ke Ka’bah untuk menunaikan haji atau umrah. 

Namun, tahukah kamu kalau mata air zamzam pernah hilang –ada yang mengatakan sengaja dihilangkan atau ditutupi? 

Ada banyak pandangan mengapa mata air zamzam bisa hilang. Pertama, faktor geografis. Pandangan ini menyebutkan kalau mata air zamzam hilang karena tertutup saat hujan. Kedua, faktor teologis. Kabilah Jurhum berbuat maksiat dan melakukan kedzaliman sehingga Allah mengazab mereka dengan menghilangkan air zamzam, sumber kehidupan masyarakat Arab. 
Pandangan lain mengatakan kalau mata air zamzam hilang karena musuh kabilah Jurhum sengaja menutupi mata air zamzam dengan barang bawaan mereka yang sangat banyak. Disebutkan bahwa mata air zamzam hilang tidak hanya setahun dua tahun, tapi sampai tiga tahun.  

Hilangnya mata air zamzam menyebabkan krisis di tengah masyarakat Makkah, utamanya para jamaah haji. Tidak sedikit pula dari mereka yang meninggalkan Makkah dan mengungsi ke Yaman. 

Masyarakat Makkah mulai menggali dan mencari mata air baru untuk memenuhi kebutuhan mereka dan para jamaah haji yang datang. Mereka memang akhirnya menemukan sumber mata air baru seperti mata air Maimun Hadhari, mata air Murrah, mata air al-Ghamr, dan lainnya. Namun, mata air tersebut berada di luar Makkah. Mereka harus membawa air tersebut ke Makkah untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji. Ini menjadi kesulitan yang amat. Ditambah datangnya musim kemarau panjang yang membuat mata air tersebut kering.

Menurut buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim, adalah  Abdul Muthalib yang akhirnya menemukan kembali sumber mata air zamzam. Di saat masyarakat Makkah mengalami krisis air yang panjang, Abdul Muthalib mengajak para pimpinan kabilah rapat untuk mengatasi persoalan itu. Forum rapat tersebut menyatakan kalau seandainya sumber mata air zamzam ditemukan, maka persoalan krisis air akan berakhir.

Singkat cerita, Abdul Muthalib menerima pesan dari langit untuk menggali sumber mata air zamzam saat tidur. Ia bermimpi dan mendapatkan perintah untuk menggali sumber mata air zamzam yang hilang bertahun-tahun itu. Bersama anaknya, Harits, Abdul Muthalib menggali sebidang tanah yang di atasnya berdiri berhala. 

Ia yakin, itulah tempat yang ada dalam mimpinya. Ia dan anaknya terus menggali hingga akhirnya menemukan banyak perkakas seperti emas, pedang, baju perang, dan benda lainnya. Setelah barang-barang itu diangkut, maka keluarlah air. Dan sumber mata air zamzam telah ditemukan kembali. (A Muchlishon Rochmat) 
Sabtu 18 Agustus 2018 21:30 WIB
Hadiah dari Nabi Muhammad untuk Umatnya
Hadiah dari Nabi Muhammad untuk Umatnya
Rasa cinta Nabi Muhammad ﷺ untuk umatnya tak perlu dipertanyakan lagi. Kesabaran hati beliau dalam membimbing para sahabat dengan rasa cinta selalu menjadi teladan bagi umatnya. Cukuplah kita mendengar bahwa Baginda Nabi di penghujung waktu menuju ke haribaan Tuhan semesta alam sangat mengkhawatirkan umatnya. 

Saat detik-detik kewafatannya, Rasulullah ﷺ sangat peduli terhadap umatnya, beliau bertanya kepada malaikat, “Bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa pun, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” tegas malaikat Jibril kepada Nabi. 

Dalam kitab Sunan an-Nasa’i disebutkan suatu hadits yang berbunyi:

عَنْ أَبِي لَيْلَى قَالَ: قَالَ لِي كَعْبُ بْنُ عُجْرَةَ أَلَا أُهْدِي لَكَ هَدِيَّةً؟ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ قَدْ عَرَفْنَا كَيْفَ السَّلَامُ عَلَيْكَ فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ؟ قَالَ: قُوْلُوا اّللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى الِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى ال مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى الِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Dari Ibnu Abi Laila, berkata, Ka'ab bin ‘Ujrah berkata padaku, "Maukah kau aku beri hadiah?” (Ka’ab pun menceritakan kisahnya ketika bersama Nabi), “Kami berkata, ‘Sungguh kami telah mengetahui bagaimana mengucapkan salam kepadamu, tapi bagaimana bershalawat kepadamu?’ Rasulullah bersabda, ‘Katakanlah, 'Allâhumma shalli 'alâ Muhammad wa 'alâ âli Muhammad, kamâ shallaita 'alâ âli Ibrâhîm innaKa Hamîdun Majîd, Allâhumma bârik 'alâ Muhamad wa ‘alâ âli Muhamad kamâ bârakta 'alâ âli Ibrâhîm innKa Hamîdun Majîd (Ya Allah, berilah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau memberi shalawat atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha-Terpuji dan Maha-Mulia. Ya Allah, berilah berkah kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Engkau Maha-Terpuji dan Maha-Mulia.” (HR Nasa`i)

Hadits di atas mengindikasikan hadiah yang berbentuk shalawat untuk diamalkan oleh para Sahabat. Memang hadits ini bertema tentang shalawat yang dibaca ketika tahiyyat akhir. Dan shalawat ini sangat masyhur bagi kita, yaitu shalawat Ibrahimiyyah.

Kendati demikian, kita perlu renungi makna hadiah tersebut. Hadiah yang ditawarkan bukanlah berbentuk materi, atau sesuatu yang mewah dalam kacamata dunia. Namun jika ditinjau dari sisi hikmah dan filosofinya, betapa berharganya nilai hadiah ini.

Dalam kitab Mar’âh al-Mafâtîh Syarah Misykâh al-Mashâbîh, Syekh al-Mubârakfûri menjelaskan makna hadits ini, khususnya makna kata hadiah, beliau mendefinisikannya dengan:

وَالْهَدِيَّةُ مَا يَتَقَرَّبُ بِهِ إِلَى الْمُهْدَى إِلَيْهِ تَوَدُّدًا وَإِكْرَاماً.

“Hadiah adalah sesuatu yang mendekatkan kepada seorang yang diberi sebagai tanda cinta dan penghormatan.” (Al-Mubârakfûri, Mar’âh al-Mafâtîh Syarah Misykâh al-Mashâbîh, Idârah al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa ad-Da’wah wa al-Ifta`, cetakan ke-3, juz ke-3, halaman 249)

Jika melihat definisi diatas, betapa luar biasanya hadiah tersebut. Seakan-akan baginda Nabi mengisyaratkan pada kita semua, “Amalkanlah shalawat ini, aku berharap dapat mendekatkan kalian kepadaku.”Ya, meski pun khitab atau lawan bicara yang dihadapkan ketika itu adalah para sahabat, namun tidak menafikan himbauan beliau kepada kita untuk mengamalkannya.

Adapun mengenai keutamaan shalawat, Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيْئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda.”Barangsiapa yang bershalawat satu kali kepadaku, maka Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, dan menghapus sepuluh kesalahan darinya, serta mengangkat derajatnya sepuluh kali.” (HR. an-Nasa`i)

Semoga kita dapat mengamalkan banyak shalawat setiap harinya, hingga menambahkan kedekatan kita kepada Rasulullah ﷺ, sehingga kita dapat menggapai syafa’at yang agung di hari kiamat nanti. Amiin. (Amien Nurhakim)