IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Abdullah bin Salam, Rasulullah, dan '3 Pertanyaan Langit'

Ahad 9 September 2018 21:0 WIB
Share:
Abdullah bin Salam, Rasulullah, dan '3 Pertanyaan Langit'
Ilustrasi: Shutterstock.com
Nama aslinya Husain bin Salam. Ia adalah Kepala Rabi Yahudi terkemuka dari Bani Qainuqo’ Madinah. Ia dikenal sebagai seorang yang alim. Ia sehari-hari membaca, merenungi, dan mengajarkan ajaran Taurat kepada Yahudi Madinah kala itu. Ia juga terkenal jujur, baik hati, dan istiqamah. Oleh sebab itu, masyarakat Madinah umumnya dan umat Yahudi khususnya sangat menghormati dan segan kepada Husain bin Salam.

Husain bin Salam juga orang yang tahu bahwa akan ada seorang nabi baru. Informasi itu didapatkannya dari kitab Taurat. Ia sangat tertarik dengan kabar kedatangan nabi baru tersebut. Sehingga ia mempelajari berbagai hal tentang sang nabi baru. Mulai dari ciri, sifat, dan pengetahuan sang nabi baru akan hal-hal yang bersifat ilahiyah. Di samping itu, Husain bin Salam selalu berdoa kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan  sehingga bisa bertemu dengan nabi baru tersebut.

Ibarat peribahasa pucuk dicinta ulam pun tiba. Apa yang menjadi harapan Husain bin Salam seolah menjadi kenyataan. Kabar tentang kedatangan nabi Allah dan Rasulullah Muhammad saw. ke Madinah sampai di telinga Husain bin Salam. Husain bin Salam kemudian mencari informasi tentang siapa Muhammad. Mencocokkan sifat-sifat dan ciri-ciri, serta melihat wajah Muhammad dengan informasi yang ada di Taurat. Benar saja, apapun yang ada pada Muhammad sesuai dengan keterangan yang ada pada Taurat.

Namun demikian, keyakinan Husain bin Salam bahwa Muhammad adalah nabi baru belum seratus persen. Merujuk buku Kisah-kisah Romantis Rasulullah, untuk membuktikkan kebenaran bahwa Muhammad adalah seorang nabi baru maka Husain bin Salam mengajukan tiga pertanyaan kepadanya. Pertama, apa tanda pertama hari kiamat? Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh nabi atau orang yang mendapatkan wahyu dari langit saja. 

“Wahai saudaraku, penanda pertama akan terjadinya hari kiamat adalah adanya api yang menggiring manusia dari timur ke barat,” kata Muhammad saw. yang mengaku mendapatkan informasi itu dari malaikat Jibril.

Kedua, apa menu makanan yang pertama kali dinikmati penghuni surga? Rasulullah pun menjawab bahwa cuping hati ikan adalah makanan pertama yang dinikmati penghuni surga. Tidak puas dengan dua pertanyaan di atas, Husain bin Salam kembali melontarkan sebuah pertanyaan terakhir untuk menguji kenabian Muhammad. 

Ketiga, mengapa seorang anak mirip dengan bapaknya? Dan mengapa seorang anak mirip dengan ibunya? Jika kedua pertanyaan sebelumnya bernuansa ‘ghaib’ karena belum terjadi, maka pertanyaan yang ketiga ini lebih bernuansa ‘ilmiah-akademik.’ Rasulullah menjawab, seorang anak akan mirip bapaknya jika bapaknya yang mencapai orgasme dulu pada saat berhubungan badan, dari pada ibunya. Sebaliknya, jika orgasme ibunya mendahului suami maka sang anak akan mirip ibunya.

Setelah mendengar jawaban Rasulullah, seketika itu juga Husain bin Salam langsung berikrar menyatakan diri masuk Islam. Ia juga mengakui kalau Muhammad adalah benar-benar utusan Allah. Atas kesaksiannya tersebut, Allah mengabadikan Husain bin Salam dalam Al-Qur’an Surat al-Ahqaf ayat 10. 

Rasulullah lalu mengganti nama Husain dengan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam pun senang dengan nama baru pemberian Rasulullah itu. Ia lalu mengajak keluarga dekatnya untuk memeluk Islam. Mereka menyambut baik ajakan Abdullah bin Salam. Namun, kabar keislaman Abdullah bin Salam itu membuat berang umat Yahudi Madinah. Mereka tidak lagi respect dengan Abdullah bin Salam, bahkan menentangnya. Seolah mereka tidak terima kalau salah satu tokoh mereka menjadi pengikut Muhammad saw. (A Muchlishon Rochmat) 
Share:
Kamis 6 September 2018 19:0 WIB
Alasan Halimah Berhenti Mengasuh Muhammad
Alasan Halimah Berhenti Mengasuh Muhammad
Pada suatu hari, Halimah dari Bani Sa’d bersama suaminya ikut dalam sebuah rombongan untuk menawarkan jasa menyusui. Memang pada saat itu tradisi jasa menyusui adalah suatu yang lazim di Arab. Utamanya, masyarakat kota Arab yang meminta agar anak-anaknya diasuh dan disusui wanita-wanita dari desa dalam jangka waktu tertentu. 

Hingga akhirnya Halimah dan rombongan sampai ke kota Makkah. Setelah beberapa hari, semua yang ada dalam rombongan telah mendapatkan anak untuk disusui, kecuali Halimah. Lalu, Halimah mendapatkan tawaran untuk menyusui Muhammad. Awalnya tawaran tersebut ditolak mengingat Muhammad adalah anak yatim atau tidak memiliki bapak. Pada saat itu, Halimah berpikiran secara praktis saja: Muhammad yatim, jadi siapa yang bertanggung jawab untuk membayar jasa menyusuinya. 

Namun akhirnya dengan 'terpaksa' Halimah bersedia untuk menjadi ibu asuh Muhammad. Pertimbangannya pun sederhana sekali. Halimah hanya berharap akan mendapatkan berkah manakala mengasuh anak yatim. Tidak lebih. Karena kalau mengharapkan upah, Muhammad sendiri sudah tidak memiliki seorang bapak.  

Betul saja, keberkahan yang diharapkan Halimah langsung muncul manakala ia baru pertama kali menggendong Muhammad. Sebelumnya, payudara Halimah tidak mengeluarkan air susu. Namun ketika Muhammad menyusu, payudara Halimah langsung kembali mengeluarkan susu. Muhammad kecil mulai menyusu hingga tertidur nyenyak. 

Unta betina Halimah yang dibawa dalam rombongan juga mendadak penuh dengan susu. Halimah dan rombongan meminum susu dari untanya itu hingga kenyang. Bahkan, keledai yang dikendarai Halimah berjalan begitu cepat ketika pulang ke kampung Bani Sa’d. Halimah menjadi yang pertama yang sampai di kampung halamannya itu, padahal sebelumnya keledai itu jalannya lambat sekali.

Orang-orang juga mulai mempercayakan kambing-kambingnya untuk digembala Halimah. Mengapa? Karena kambing-kambing yang digembala Halimah selalu gemuk dan penuh susunya, tidak seperti kambing yang digembala yang lainnya. 

Keberkahan demi keberkahan didapat Halimah setelah mengasuh dan menyusui Muhammad kecil. Kehidupannya menjadi sejahtera dan serba kecukupan. Berbanding terbalik dengan kondisinya sebelum ada Muhammad kecil. Maka tidak heran jika Halimah selalu meminta Aminah, ibunda Muhammad, agar bisa lebih lama lagi mengasuh Muhammad kecil. Aminah setuju-setuju saja dengan permintaan Halimah tersebut

Umumnya, pada waktu itu anak-anak tinggal bersama ibu asuhnya selama dua tahun. Akan tetapi, Muhammad tinggal di kampung Bani Sa’d bersama Halimah hingga lima tahun. Tidak lain, itu karena ‘keinginan’ Halimah agar Muhammad yang membawa berkah selalu ada di dekatnya. 

Namun, semangat dan keinginan Halimah untuk terus mengasuh Muhammad tiba-tiba padam. Halimah akhirnya menyerahkan Muhammad kepada Aminah setelah mengasuhnya selama lima tahun. Hal itu membuat Aminah terkaget-kaget. Apa sebetulnya yang membuat Halimah sampai rela hati berhenti mengasuh Muhammad kecil? Bukan kah sebelum-sebelumnya ia terus meminta izin agar bisa lebih lama lagi mengasuh Muhammad.  

Dalam bukunya Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, Nizar Abazhah mengungkapkan bahwa ada peristiwa aneh yang terjadi pada Muhammad yang membuat Halimah berhenti mengasuhnya. Diceritakan bahwa suatu ketika Muhammad bermain dengan teman-temannya yang lain. Tiba-tiba ada dua orang berpakaian putih yang menghampiri Muhammad. Kedua orang tersebut membelah dada Muhammad dan membersihkannya. 

Teman-teman se-permainan Muhammad lari terbirit-birit. Mereka mengadu kepada orang tuanya perihal apa yang terjadi pada Muhammad. Lalu, orang tua mereka dan Halimah mendatangi tempat dimana Muhammad berada. Ketika sampai di tempat Muhammad, Halimah langsung memeluk erat tubuh anak asuhnya yang menggigil ketakutan dan wajahnya yang pucat. 

Muhammad menceritakan apa yang terjadi kepadanya semuanya setelah Halimah menanyainya. Halimah akhirnya mengembalikan Muhammad kepada ibundanya, Aminah, usai kejadian itu. Sebuah ‘Kejadian aneh’ yang membuat Halimah takjub dan terkejut, tapi tidak dengan Aminah. Sedari awal, Aminah tahu kalau anaknya istimewa, tidak seperti anak-anak yang lainnya. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 26 Agustus 2018 6:0 WIB
Keberkahan Nabi Muhammad Saat Kecil
Keberkahan Nabi Muhammad Saat Kecil
Meski dewasanya diangkat menjadi seorang utusan Allah (rasulullah) dan nabi terakhir, kegiatan dan aktivitas Muhammad saat kecil tidak jauh berbeda dengan anak-anak lain seuisianya. Ia bergaul dan bermain bersama teman-temannya yang lain. Bahkan ia tidak segan menggembala kambing agar mendapatkan upah untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari yang notabennya yatim-piatu.

Akan tetapi, sejak kecil di dalam diri Muhammad ada sesuatu 'yang berbeda’ dengan yang lainnya. Ada hal-hal istimewa yang terjadi hanya pada Muhammad kecil, tapi tidak pada anak-anak lainnya. Diantaranya adalah keberkahan atau penambahan kebaikan dan kecukupan.

Sejak kecil, Muhammad sudah diliputi keberkahan. Tidak hanya itu, orang-orang yang ada di sekelilingnya pun ‘kecipratan’ keberkahannya. Sebagaimana yang diceritakan Nizar Abazhah dalam bukunya Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah, setidaknya ada dua cerita keberkahan Nabi Muhammad saw. saat beliau masih kecil.

Pertama, cerita Halimah as-Sa’diyah. Suatu ketika Halimah bersama suaminya ikut rombongan untuk menawarkan jasa menyusui. pada saat itu sedang musim paceklik. Tidak ada hujan. Tidak ada makanan. Bahkan, unta yang ada bersama mereka juga tidak mengeluarkan susu. Sesampai di Makkah, mereka yang ada di rombongan sudah mendapatkan anak untuk disusui, kecuali Halimah. 

Halimah akhirnya mendapatkan tawaran untuk menyusui Muhammad. Tapi, awalnya ia menolak karena mengetahui kalau Muhammad yatim. Halimah membatin siapa yang akan menjamin upah menyusui kalau Muhammad tidak memiliki bapak. Lalu, akhirnya ia menerima Muhammad karena tidak mendapatkan anak yang lainnya. Ia hanya berharap akan mendapatkan berkah manakala mengasuh anak yatim.

Benar saja, anak kecil Muhammad memang betul-betul membawa berkah bagi Halimah. Payudara Halimah kembali mengeluarkan susu. Muhammad kecil mulai menyusu hingga tertidur nyenyak. Unta betina Halimah juga mendadak penuh dengan susu. Keledai yang dinaiki Halimah dan Muhammad juga berlari sangat kencang hingga akhirnya mereka menjadi yang pertama yang sampai di Bani Sa’d, daerah Halimah.

Orang-orang juga mulai mempercayai Halimah untuk menggembalakan kambingnya. Anehnya, kambing-kambing gembalaan Halimah selalu penuh susunya, tidak seperti kambing yang digembala yang lainnya. Sejak ada Muhammad, kehidupan Halimah menjadi sejahtera. Maka tidak heran jika Halimah selalu meminta Aminah agar bisa mengasuh Muhammad kecil lebih lama lagi.

Kedua, cerita Abu Thalib. Hal sama juga dialami Abu Thalib. Setelah sang kakek Abdul Mutholib wafat, Muhammad kecil diasuh Abu Thalib –seorang paman yang hidupnya begitu sederhana bahkan tak berkecukupan. Bahkan, untuk memberi makan anak-anakanya kadang kurang. Namun anehnya, jika Muhammad kecil ikut makan maka makanannya menjadi cukup. Oleh sebab itu, Abu Thalib kerap kali menunggu Muhammad manakala ia, istri, dan anak-anaknya hendak makan.

Begitu pun dengan urusan minuman. Abu Thalib juga akan meminta Muhammad untuk minum susu terlebih dahulu sebelum anak-anaknya. Alasannya, jika Muhammad yang minum dulu maka susu tersebut akan cukup diminum anak-anaknya hingga puas. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 19 Agustus 2018 19:0 WIB
Khasiat Air Zamzam Menurut Hadits Nabi Muhammad
Khasiat Air Zamzam Menurut Hadits Nabi Muhammad
Ilustrasi: vottle.com
“Air zamzam adalah sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.” Kata Nabi Muhammad saw. dalam sebuah hadits riwayat Ahmad

Zamzam merupakan kata dari bahasa Arab yang memiliki makna melimpah atau yang banyak. Nama zamzam selalu merujuk pada sumber mata air yang memancar 'akibat injakan' Nabi Ismail as. Mata air tersebut berada di sekitar Ka’bah dan tidak pernah kering. Ia menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. 

Namun dalam beberapa literatur klasik, sumber mata air tersebut juga memiliki nama-nama lain, bukan hanya zamzam. Diantaranya hafirat Abdul Muthalib, suqya, al-ruwa’, hamzah Jibril,  syuba’ah, tha’amu tha’im, maktumah, rakdhah Jibril, madhnunah, dan lainnya. Nama-nama tersebut mengacu pada manfaat, khasiat, dan latar sejarah mata air itu.

Umat Islam  meyakini bahwa air zamzam berbeda dengan air lainnya. Air zamzam memiliki keistimewaan dan khasiat yang tidak dimiliki air lainnya. Untuk membuktikan hal itu, banyak orang yang tertarik untuk meneliti air zamzam. 

Diantaranya Masaru Emoto. Di dalam The True Power of Water, Emoto mengungkapkan bahwa air zamzam memiliki molekul yang beraturan. Molekul air zamzam berbentuk kristal indah yang berkilauan dan teratur. Emoto menyatakan bahwa selama meneliti molekul, hanya molekul air zamzam lah yang teratur.

Dalam buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an juga mengungkap keistimewaan air zamzam. Di situ disebutkan kalau air zamzam tidak mengandung satu pun bakteri. Air zamzam dinilai sebagai air yang sangat bersih dan suci. Di samping itu, air zamzam adalah air yang kaya akan kalsium (jenis mineral yang sangat penting untuk gigi dan tulang), bikarbonat (membantu pencernaan), magnesium (menjaga badan sehat), potassium (mineral yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga kesehatan), dan sodium (menjaga metabolisme).  

Demikian beberapa penelitian ilmiah tentang air zamzam. Namun, jauh sebelum ada penelitian-penelitian itu, Nabi Muhammad saw. sudah menjelaskan keistimewaan dan khasiat air zamzam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, Nabi Muhammad saw. bersabda: Air yang paling baik di muka bumi adalah air zamzam. Ia dapat menjadi makanan yang mengenyangkan dan obat yang menyembuhkan penyakit. 

Dari keterangan hadits di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa ada dua khasiat air zamzam. Pertama, menjadi makanan yang mengenyangkan. Air zamzam dapat berfungsi sebagai makanan yang mengenyangkan, di samping minuman yang menyegarkan. Terkait hal ini, ada beberapa kisah yang ‘mengamininya.’ Salah satunya cerita Abu Dzar.

Suatu ketika Nabi Muhammad saw. bertanya kepada Abu Dzar perihal keberadaannya di Makkah dan siapa yang memberinya makan. Abu Dzar menjawab bahwa ia sudah sebulan tinggal di Makkah. Selama itu pula, ia mengaku tidak memiliki makanan, kecuali air zamzam. Namun demikian, Abu Dzar tidak merasakan lapar.

“Sesungguhnya air zamzam itu diberkati, sesungguhnya ia adalah makanan yang bergizi,” kata Nabi Muhammad saw. merespons Abu Dzar sebagaimana yang tertera dalam hadits riwayat Muslim. (Shahih Muslim: 6513)

Kedua, menjadi obat yang menyembuhkan penyakit. Air zamzam juga memiliki khasiat sebagai obat yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit seperti pusing, demam, gangguan penglihatan, dan lainnya.  

Dalam buku Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim diceritakan bahwa seorang ulama besar Ibnu Qayyim al-Jawziyah mengaku sembuh dari penyakitnya usai meminum air zamzam. Di situ, al-Jawziyah juga memberikan testimoni kalau orang-orang yang meminum air zamzam di sekitarnya memiliki kekuatan fisik yang besar, utamanya saat mengelilingi Ka’bah untuk tawaf.

Di samping dua khasiat yang disebutkan Nabi Muhammad saw. di atas, ada keyakinan yang berkembang di tengah-tengah umat Islam perihal air zamzam. Ada yang meyakini bahwa air zamzam bisa membuat otak menjadi cerdas, pandai, dan encer. Ada pula yang memiliki keyakinan bahwa dengan meminum air zamzam maka akan mendapatkan kemudahan dalam menghafal, terutama materi pelajaran atau Al-Qur’an. Maka tidak heran jika umat Islam memiliki ghirah yang tinggi untuk meminum air zamzam. Wallahu ‘alam. (A Muchlishon Rochmat)