IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

Lafal Shalawat Ibrahimiyah dan Keutamaannya

Rabu 24 Oktober 2018 20:0 WIB
Share:
Lafal Shalawat Ibrahimiyah dan Keutamaannya
Ilustrasi (ibtimes.co.uk)
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Limpahkan pula keberkahan bagi Nabi Muhammad dan bagi keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan keberkahan bagi Nabi Ibrahim dan bagi keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya di alam semesta Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Di atas adalah bacaan sebuah shalawat yang dikenal dengan sebutan Shalawat Ibrahimiyah. Setiap Muslim pasti mengenal dan bahkan hafal shalawat tersebut. Karena shalawat ini selalu dibaca pada saat duduk tasyahud di dalam shalat.

Menurut Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani shalawat Ibrahimiyah adalah shalawat yang paling sempurna shighatnya dibanding shalawat-shalawat yang lain, baik yang ma’tsûrah (diriwayatkan dari Nabi) maupun yang tidak ma’tsûrah. Karena kesempurnaannya ini maka para ulama menentukannya sebagai shalawat yang dibaca ketika seorang Muslim melakukan shalat, di samping karena adanya kesepakatan perihal kesahihan haditsnya. (Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Afdlalus Shalawât ‘alâ Sayyidis Sâdât, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah], 2004, hal. 57)

Ada banyak perawi hadits yang meriwayatkan shalawat Ibrahimiyah. Mereka di antaranya Imam Malik di dalam kitab Muwaththa’, Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kedua kitab shahihnya, serta para imam lainnya seperti Abu Dawud, Nasai, dan Turmudzi. Imam Al-Iraqi dan Imam As-Sakhawi menuturkan bahwa haditsnya muttafaq ‘alaih.

Banyaknya periwayatan hadits tentang shalawat Ibrahimiyah ini juga menjadikan pula banyaknya redaksi shalawat ini yang berbeda-beda. Yang ditulis di atas—sebagaimana dituturkan An-Nabhani—adalah salah satu redaksi shalawat Ibrahimiyah yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi.

Imam Ahmad As-Shawi menyebutkan sebuah hadits riwayat Imam Bukhari di mana Rasulullah bersabda:

من قال هذه الصلاة شهدت له يوم القيامة بالشهادة وشفعت له

Artinya: “Barangsiapa yang membaca shalawat ini maka aku bersaksi baginya di hari kiamat dengan kesaksian dan aku memberi syafaat baginya.”

Sementara itu sebagian ulama mengatakan bahwa membaca shalawat Ibrahimiyah sebanyak seribu kali dapat menjadikan pembacanya melihat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Ada satu pertanyaan menarik perihal shalawat Ibrahimiyah ini. Bila di dalam haditsnya shalawat Ibrahimiyah tanpa menggunakan kata sayyidinâ (tuanku, baginda), mengapa dalam pengamalannya para guru mengajarkan untuk menggunakan kata tersebut?

Menjawab pertanyaan ini Imam Syamsudin Ar-Ramli di dalam kitab Nihâyatul Muhtâj Syarh Al-Minhâj mengatakan bahwa yang utama adalah membacanya dengan menggunakan kata sayyidinâ. Karena di dalam penggunaan kata ini ada pemenuhan terhadap perintah (di mana haditsnya tidak menggunakan kata tersebut, pen.) sekaligus juga tata krama terhadap pangkat beliau yang semestinya. Maka menggunakan kata sayyidinâ ketika membaca shalawat Ibrahimiyah lebih utama dari pada tidak menggunakannya. (Syamsudin Ar-Ramli, Nihâyatul Muhtâj ilâ Syarhil Minhâj, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2009], Jil. I, hal. 334)

Sementara Imam Ahmad bin Hajar menuturkan bahwa penambahan kata sayyidinâ sebelum kata Muhammad tidaklah mengapa. Bahkan ini merupakan tata krama terhadap hak Rasulullah meskipun diucapkan di dalam shalat fardlu.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Tags:
Share:
Ahad 21 Oktober 2018 16:30 WIB
Beginilah Cara Kita Mengenalkan Diri kepada Rasulullah
Beginilah Cara Kita Mengenalkan Diri kepada Rasulullah
Dalam beberapa hari ini viral di media sosial sebuah video cuplikan film tentang Sultan Abdul Hamid II yang mendapat teguran dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam lewat seorang rakyatnya. Dalam video berdurasi kurang dari lima menit itu diceritakan seorang pedagang bangkrut dan selalu berdoa kepada Allah. Hingga pada satu malam ia bermimpi bertemu Rasulullah. Kepadanya beliau berpesan agar menyampaikan pesan kepada Sultan Hamid bahwa satu malam ia telah melupakan shalawat yang biasa ia baca setiap malam. Rasul juga memerintahkan pedagang yang bangkrut itu untuk meminta kebutuhannya kepada sang sultan.

Ketika pedagang itu menghadap dan menceritakan ihwal mimpinya kepada Sultan Hamid sang sultan tertegun, ia merasa bersalah telah lalai tidak bershalawat kepada Rasulullah pada satu malam karena kesibukan pekerjaan yang ia lakukan pada malam itu. Maka ia sedekahkan banyak harta kepada si pedagang dengan harapan Allah berkenan mengampuni kelalaiannya itu.

Kisah ini cukup menarik dan mengetuk hati setiap mukmin. Satu pertanyaan yang lahir dari kisah itu adalah bagaimana Rasulullah mengenal nama Sultan Abdul Hamid? Apakah ia hidup semasa dan termasuk salah satu sahabat Rasul? Tentu tidak. Sultan Hamid hidup jauh beratus tahun lama setelah Rasulullah wafat. Lalu bagaimana bisa beliau mengenalinya dan bahkan tahu kelalaiannya tidak bershalawat satu malam, yang juga itu berarti Rasul mengetahui bahwa sang sultan selalu bershalawat kepadanya setiap malam?

Kiranya ini bukanlah sesuatu yang musykil. Bahwa Rasulullah mengetahui siapa yang bershalawat kepadanya adalah bukan sesuatu yang mustahil. Ada banyak riwayat hadits yang darinya bisa digambarkan bagaimana Rasulullah mengenali orang yang bershalawat kepadanya. 

Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud menuturkan:

وعن أوس بن أوس - رضي الله عنه -، قَالَ: قَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم -: إنَّ مِنْ أفْضَلِ أيَّامِكُمْ يَومَ الجُمُعَةِ، فَأكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاةِ فِيهِ، فَإنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ. قَالَ: قالوا: يَا رسول الله، وَكَيفَ تُعْرَضُ صَلاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ (قَالَ: يقولُ بَلِيتَ) قَالَ: إنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلَى الأرْضِ أَجْسَادَ الأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Dari Aus bin Aus radliyallâhu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya termasuk hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat. Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat kalian dilaporkan kepadaku. Aus berkata, para sahabat berkata, “Rasul, bagaimana shalawat kami dilaporkan kepadamu sedang engkau telah hancur?” Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi (menghancurkan) jasad para nabi.” (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Riyâdlus Shâlihîn, Semarang: Toha Putra, tt., hal. 533 – 534)

Dari hadits inilah—dan juga beberapa hadits semisal lainnya—diketahui bagaimana Rasulullah mengenali orang yang membaca shalawat kepadanya. Beliau mengenalinya karena setiap shalawat yang dibaca oleh umatnya selalu dilaporkan kepadanya. Lalu siapakah yang melaporkan? Bagaimana pula shalawat itu dilaporkan sementara Rasulullah telah meninggal dunia dan berada di kuburnya?

Muhammad bin Alan As-Shidiqi dalam kitab Dalîlul Fâlihîn menjelaskan bahwa yang menyampaikan kepada Rasul perihal shalawat yang dibaca oleh umatnya adalah para malaikat yang ditugaskan oleh Allah untuk melaksanakan itu.  Apa yang dijelaskan oleh Ibnu Alan ini didasarkan pada sebuah hadits:

أن لله ملائكة سياحين في الأرض يبلغوني من أمتي السلام

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang mengelilingi bumi, mereka menyampaikan salam dari umatku kepadaku.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Baihaqi)

Penyampaian laporan perihal shalawat ini apabila orang yang membacanya berada jauh dari kubur Rasulullah. Sedangkan bila ia berada di dekat kubur beliau maka beliau sendiri mendengar shalawat dan salam yang dibaca umat kepadanya. Berdasarkan sebuah hadits riwayat Imam Baihaqi:

من صلى علي عند قبري سمعته ومن صلى علي نائياً بلغته

Artinya: “Barangsiapa yang bershalawat kepadaku di dekat kuburku maka aku mendengarnya. Dan barangsiapa yang bershalawat kepadaku di tempat yang jauh maka disampaikan kepadaku shalawatnya.”

Demikian penjelasan Muhammad bin Alan As-Shidiqi dalam Dalîlul Fâlihîn (Kairo: Darul Hadits, 1998, Juz IV, hal. 156).

Lebih lanjut, bagaimana Rasulullah bisa menerima laporan shalawat dari umatnya sementara beliau telah wafat dan berada di dalam kuburnya? Hadits di atas telah menjelaskan bahwa Allah mengharamkan bumi menghancurkan jasad para nabi. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa ketika ada orang yang bersalam kepada Rasulullah maka Allah akan mengembalikan ruh beliau ke jasadnya untuk membalas salam tersebut. Namun kiranya tidak di sini tempatnya untuk membahas perihal pengembalian ruh ini.

Dari penjelasan di atas maka kiranya bisa dimengerti bahwa Rasulullah akan mengenali setiap umatnya yang bershalawat kepadanya melalui laporan malaikat yang ditugaskan untuk itu. Maka bila seseorang banyak membaca shalawat dan istiqamah melakukannya ia akan secara terus-menerus sering dilaporkan oleh malaikat kepada beliau. Dari inilah seorang umat mengenalkan diri kepada Rasulullah, dari inilah Rasulullah mengenali umatnya.

Dapat dibayangkan, betapa senangnya seseorang ketika dirinya ditanyakan oleh seorang tokoh yang disegani dan dihormati oleh banyak orang. Itu pertanda sang tokoh mengenali dan memberikan perhatian lebih kepadanya.

Lalu bagaimana bila tokoh yang mengenali dan memperhatikan kita adalah Baginda Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, makhluk terbaik yang diutus sebagai rahmat bagi semesta?

Cukuplah hadits-hadits di atas sebagai motivasi untuk memperbanyak membaca shalawat dan melanggengkannya. Hingga diri kita dikenal beliau dan beliau mengenal diri kita. Hingga ketika kita lupa sehari saja tak membacanya Rasulullah berkenan menegur kita, menanyakan kita, sebagai tanda cinta dan perhatian beliau kepada kita.

Tentu sebuah kesedihan dan kerugian, bila seorang umat di dunia dan di akherat kelak tak dikenal oleh nabinya, tak diperhatikan oleh junjungannya, karena tak banyak bershalawat memuliakannya. Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alâ sayyidinâ wa maulânâ Muhammad.

Wallâhu a’lam. (Yazid Muttaqin)

Senin 8 Oktober 2018 18:45 WIB
Enam Kejelekan Orang yang Enggan Bershalawat saat Nama Nabi Disebut
Enam Kejelekan Orang yang Enggan Bershalawat saat Nama Nabi Disebut
Ilustrasi (via Pinterest)
Di dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 Allah subhânahû wa ta’âlâ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad. Wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sungguh-sungguh.”

Berangkat dari ayat ini para ulama sepakat bahwa hukum membaca shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah wajib bagi setiap orang mukmin. Ibnu Abdil Barr sebagaimana dikutip oleh Syekh Yusuf bin Ismail An-Nabhani menuturkan:

أجمع العلماء على أن الصلاة على النبي ﷺ فرض على كل مؤمن بقوله تعالى يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: “Para ulama telah sepakat bahwa bershalawat kepada Nabi ﷺ adalah wajib bagi setiap orang mukmin berdasarkan firman Allah: wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan bersalamlah dengan sebenar-benarnya salam.” (Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Afdlalus Shalawât ‘alâ Sayyidis Sâdât, [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2004], hal. 12)

Namun demikian para ulama berbeda pendapat tentang kapan waktu kewajiban membaca shalawat tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kewajiban membaca shalawat kepada Nabi adalah sekali dalam seumur hidup. Ada juga yang menyatakan bahwa kewajiban bershalawat adalah setiap kali melakukan shalat yakni pada saat tasyahud akhir. Sementara ulama yang lain menyebutkan bahwa kewajiban seorang muslim bershalawat kepada Nabi adalah manakala ia mendengar nama Rasulullah disebut baik oleh dirinya sendiri ataupun oleh orang lain.

Pendapat yang terakhir ini didasarkan pada beberapa hadits yang menunjukkan wajibnya bershalawat ketika nama Rasulullah disebut. Tidak hanya menunjukkan hukum bershalawat, di dalam hadits-hadits tersebut juga terdapat banyak redaksi berbeda yang menggambarkan jeleknya orang yang tak mau bershalawat ketika mendengar nama Rasulullah disebut.

Di antara kejelekan-kejelekan yang dituturkan Rasul dalam berbagai hadits bagi orang yang enggan bershalawat ketika nama beliau disebut adalah sebagai berikut:

1. Dijauhkan dari rahmat Allah

Ada banyak hadits dengan redaksi yang berbeda-beda yang menuturkan tentang kejelekan ini, bahwa orang yang enggan bershalawat ketika mendengar nama Rasul disebut akan dijauhkan dari rahmat Allah.

Salah satunya hadits dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa satu ketika Rasulullah naik ke atas mimbar lalu beliau mengucapkan kata aamin hingga tiga kali. Saat ditanyakan perihal tersebut beliau menuturkan bahwa malaikat Jibril baru saja mendatanginya. Ia berkata, “Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan namun dosanya tidak terampuni maka ia masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya dari rahmat. Katakan âmîn, wahai Muhammad!” Maka kemudian Rasulullah menjawab, “Âmîn.” Kemudian Jibril berkata lagi, “Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya lanjut usia lalu ia tidak berbakti kepadanya dan ia meninggal dunia, maka ia masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya dari rahmat. Katakan âmîn!” Maka Rasulullah menjawab, “Âmîn.” Kemudian malaikat Jibril berkata lagi, “Orang yang disebutkan namamu namun ia tak bershalawat kepadamu lalu ia meninggal dunia, maka ia masuk neraka. Semoga Allah menjauhkannya dari rahmat. Katakan âmîn!” Maka Rasulullah menjawab, “Âmîn.”

2. “Hidungnya berdebu”

Orang yang tidak mau membaca shalawat saat mendengar nama Rasulullah disebut digambarkan oleh Rasulullah sebagai orang yang yang hidungnya yang berdebu.

Hadits tentang ini banyak diriwayatkan dalam beragai kitab hadits di antaranya oleh Imam Turmudi:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: “Berdebu hidung seseorang yang namaku disebut di sisinya namun ia tak mau bershalawat kepadaku.”

Kalimat raghima anfu (hidungnya berdebu) dimaknai oleh sementara ulama sebagai kerendahan dan kehinaan. Imam Qurtubi menjelaskan bahwa kalimat itu bisa bermakna bahwa Allah membanting orang tersebut hingga jatuh pada hidungnya dan menghancurkannya. Atau itu bermakna bahwa Allah merendahkan orang tersebut. Hidung merupakan anggota badan yang mulia dan tanah merupakan tempat berpijaknya kaki, maka orang yang hidungnya ditempelkan ke tanah berarti ia telah direndahkan dan dihinakan sedemikian rupa. (Abdullah Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtu ‘alan Naby, [Damaskus: Darul Falah, 1990], hal. 47)

Dengan demikian dapat dipahami bahwa orang yang enggan membaca shalawat ketika mendengar nama Rasulullah disebut ia adalah orang yang rendah dan hina di hadapan Allah subhânahu wa ta’âla.

3. Orang yang celaka

Orang yang enggan bershalawat kepada Nabi ketika nama beliau disebutkan ia disebut oleh Rasulullah sebagai orang yang celaka. Rasulullah ﷺ  bersabda:

مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ فَقَدْ شَقِيَ

Artinya: “Barangsiapa yang aku disebut di sisinya lalu ia tak bershalawat kepadaku maka ia telah celaka.”

Celaka di sini berarti terhalang dari kebaikan dan jatuh ke dalam keburukan. Orang yang enggan bershalawat ketika nama Rasulullah disebut ia telah menghalangi diri sendiri dari mendapatkan kebaikan dan keutamaan bershalawat yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari siksaan api neraka. Maka dengan enggannya bershalawat ia telah mendekatkan dirinya kepada neraka karena ia tidak mendekatkannya kepada surga.

4. Orang yang bakhil

Orang yang enggan bershalawat kepada Nabi ketika ia mendnegar nama beliau disebut ia dianggap sebagai orag yang bakhil, orang pelit. Bahkan dalam satu riwayat Rasulullah menyebutnya sebagai orang yang paling pelit.

Imam An-Nasa’i meriwayat satu hadits:

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Artinya: “Orang yang bakhil adalah orang yang ketika aku disebut di sisinya lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. An-Nasai)

Orang yang bakhil adalah yang tidak mau memenuhi hak orang lain yang menjadi kewajibannya. Sebaliknya orang yang mau memenuhi kewajibannya secara sempurna tidak disebut sebagai orang bakhil.

Rasulullah adalah orang yang menjadi sebab didapatkannya kebahagiaan dunia dan akherat. Beliau datang sebagai orang yang memberi petunjuk dan rahmat bagi alam semesta. Beliau juga penyelamat bagi manusia dari kejelekan dan kerusakan dunia dan penyelamat di akherat dari segala hal yang tidak disukai dan dari siksaan apai neraka. Bila demikian adanya, tidakkah beliau berhak untuk diagungkan? Tidakkah beliau berhak untuk dihormati ketika namanya dituturkan?

Rasulullah adalah orang yang paling berhak untuk diagungkan dan dihormati dengan sebaik-baik pengagungan dan penghormatan. Maka bila seorang yang mendengar nama beliau disebut lalu ia enggan mengagungkannya dengan bershalawat, tidakkah ia pantas disebut sebagai orang yang pelit, bahkan orang yang paling pelit?

5. Salah jalan ke surga

Imam At-Thabrani di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabîr meriwayatkan sebuah hadits:

مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَخَطِئَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ؛ خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ

Artinya: “Barangsiapa yang aku disebut di sisinya lalu luput ia tak bershalawat kepadaku maka ia telah salah jalan ke surga.”

Tidak diragukan bahwa orang yang salah jalan menuju surga maka ia tidak mendapatkan petunjuk jalan menujunya. Yang terpampang di depannya adalah jalan menuju neraka. Karena di akherat kelak tak ada jalan lain selain dua jalan yang menuju ke surga dan yang ke neraka.

6. Orang yang kasar perangainya

Abdur Razaq As-Shan’ani di dalam kitab Mushannaf-nya meriwayatkan sebuah hadits:

مِنَ الْجَفَاءِ أَنْ أُذْكَرَ عِنْدَ الرَّجُلِ فَلَا يُصَلِّي عَلَيَّ

Artinya: “Termasuk kasarnya perangai adalah ketika aku disebut di sisi seseorang lalu ia tidak bershalawat kepadaku.”

As-Sakhawi mengartikan kata Al-Jafâ’ sebagai meninggalkan kebaikan dan silaturahmi. Kata Al-Jafâ’ secara mutlak juga berarti kerasnya perangai. Orang yang keras perangainya, yang meninggalkan kebaikan dan silaturahmi, jauh dari dari Rasulullah Muhammad ﷺ.

Dari berbagai hadits di atas yang menuturkan berbagai kejelekan bagi orang yang enggan bershalawat kepada Nabi saat nama beliau disebut para ulama mengambil satu kesimpulan bahwa adalah wajib hukumnya membaca shalawat kepada Nabi manakala nama beliau disebutkan.

Wallâhu a’lam(Yazid Muttaqin)

Ahad 30 September 2018 5:0 WIB
Ini Lafal Shalawat dan Salam untuk Nabi dan Rasul
Ini Lafal Shalawat dan Salam untuk Nabi dan Rasul
Ulama mengajarkan kita untuk beradab kepada para nabi dan rasul. Untuk itu, mereka mengingatkan kita agar tidak sembarangan menggunakan lafal doa untuk para nabi dan rasul. Mereka membatasi shalawat dan salam sebagai lafal doa yang layak bagi para nabi dan rasul sebagai bentuk adab atau penghormatan untuk mereka.

Kita dapat menggunakan lafal shalawat dan salam dengan fi’il madhi atau fi’il amr. Dengan fi’il madhi, kita dapat membaca shalawat dan salam sebagai berikut:

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama

Dengan fi’il amr, kita dapat membaca shalawat dan salam sebagai berikut:

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī

Struktur ini memang tidak baku. Sebagian orang membaca shalawat, salam, dan juga lafal berkah. Sebagian orang tidak menggunakannya. Ada orang yang menempatkan kata salam di awal. Sementara sebagian orang meletakannya di akhir.

Lafal shalawat dan salam memang kemudian banyak diperkenalkan oleh para ulama. Tetapi yang jelas dalam berdoa, kita hanya boleh menggunakan shalawat dan salam dalam hal dua’iyyah bagi para nabi dan rasul. Kita tidak boleh menggunakan “rahimahullāh atau rahimahumullāh”, “radhiyallāh ‘anhu atau ‘anhum”, atau “karramallāhu wajhahū atau ‘anhum.” 

ولا يجوز الدعاء للنبي صلى الله عليه وسلم بغير الوارد كرحمه الله بل المناسب واللائق في حق الأنبياء الدعاء بالصلاة والسلام 

Artinya, “Tidak boleh mendoakan Nabi Muhammad SAW dengan lafal yang tidak warid seperti lafal ‘Rahimahullāhu’. Tetapi lafal yang sesuai dan layak untuk para nabi dan rasul adalah lafal shalawat dan salam,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Adapun warid adalah lafal atau wirid yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)